cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kespro@gmail.com
Editorial Address
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Gedung 5 lt. 4 Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta 10560 Indonesia 
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2087703X     EISSN : 23548762     DOI : https://doi.org/10.22435
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Reproduksi (Journal of Reproductive Health) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the reproductive health field among practitioners as well as academics in public health and researchers. Coverage includes a vast range of reproductive health issues, such as: 1.Woman and child’s health 2.Male reproductive health 3.Youth and elderly health 4.Family planning 5.Sexually transmitted infections and HIV-AIDS 6.Prevention and control of abortion 7.Gender issues 8.Infertility 9.Other reproductive health issues in terms of clinical and public health.
Articles 57 Documents
HUBUNGAN PEMANFAATAN DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN TERHADAP PENINGKATAN CAKUPAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN DI FASILITAS KESEHATAN Suparmi Suparmi; Iram Barida Maisya; Anissa Rizkianti; Ika Saptarini; Ario Baskoro
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.3317

Abstract

Abstract Background: Health Operational Assistance (BOK) is a central government fund allocation to support the operation of Health Center (Puskesmas) to increase promotive and preventive activities related to public health, including maternal health. Objective: This study aims to determine the relationship of BOK utilization on maternal health service coverage. Method: The study used secondary data from the Ministry of Health e-Renggar Planning and Budget Bureau, Statistics Indonesia, the Ministry of Finance and the 2018 Public Health Development Index (IPKM) report. The unit of analysis is districts. Bivariate analysis was performed by Pearson correlation test, while multivariate analysis was performed by linear regression using SPSS software version 15. Results: The result of Pearson correlation test showed that BOK utilization was positively correlated with an increase in the antenatal care coverage (r = 0.294; p-value = 0,000) and coverage of deliveries by health workers in health facilities (r = 0.227; p-value = 0,000). The results of linear regression analysis showed BOK utilization, the percentage of poverty and the adequacy of posyandu have a significant relationship with antenatal care coverage and coverage of delivery assisted by health workers in health facilities. Conclusion: The health operational fund utilization increase antenatal care coverage and coverage of delivery assisted by health workers in health facilities. Therefore, it is necessary to optimize the use of BOK for the achievement of priority public health programs, especially for innovative activities that have a high degree of leverage towards the achievement of SDGs so that the target in reducing Maternal Mortality Rate (MMR) can be achieved. Keywords: health operational fund, maternal health, coverage, services Abstrak Latar Belakang: Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan salah satu sumber pembiayaan dari pemerintah pusat untuk menunjang operasional Puskesmas dalam meningkatkan upaya promotif dan preventif terkait kesehatan masyarakat, salah satunya kesehatan ibu. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemanfaatan BOK terhadap cakupan pelayanan kesehatan ibu. Metode: Studi ini menggunakan data sekunder dari laporan e-renggar Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Kesehatan, Badan Pusat Statistik, Kementerian Keuangan dan laporan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2018. Unit analisis adalah Kabupaten/Kota. Analisis bivariate dilakukan dengan uji korelasi pearson, sedangkan analisis multivariate dilakukan dengan regresi linier menggunakan software SPSS versi 15. Hasil: Hasil analisis uji korelasi pearson menunjukkan bahwa persentase realisasi BOK berkorelasi positif dengan peningkatan cakupan pemeriksaan kehamilan K4 (r=0,294; p-value=0,000) dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (r=0,227; p-value=0,000). Hasil analisis regresi linier menunjukkan pemanfaatan BOK, persentase penduduk miskin dan kecukupan posyandu mempunyai hubungan bermakna dengan cakupan K4 dan cakupan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kesimpulan: Pemanfaatan BOK berhubungan dengan peningkatan cakupan K4 dan cakupan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Optimalisasi pemanfaatan BOK untuk pencapaian program prioritas kesehatan masyarakat diperlukan, terutama untuk kegiatan-kegiatan inovatif yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap pencapaian SDGs sehingga target dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dapat tercapai. Kata kunci: bantuan operasional kesehatan, kesehatan ibu, cakupan, pelayanan
GAMBARAN KEINGINAN KELOMPOK LELAKI SEKS LELAKI DALAM MEMANFAATKAN KLINIK VOLUNTARY COUNSELLING AND TESTING DI PUSKESMAS CIPUTAT Kamila Rahmadiah; Fajar Ariyanti
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.3373

Abstract

Abstract Background: Men Who Have Sex with Men (MSM) is a high-risk group of people getting infected with HIV/AIDS due to their multiple sexual partner behaviour and their anal intercourse practices. The MSM group is the highest risk factor for HIV new cases in Indonesia. The VCT (Voluntary Counselling and Testing) clinic is the main entrance to HIV/AIDS prevention, maintenance, support, and treatment services. However, the MSM group that utilizes VCT clinic in Ciputat subdistrict decreased from the previous year. Objective: The purpose of this research was to thorouglhly identify about the overview of the intention of men who have sex with men groups in utilizing voluntary counselling and testing clinic in Ciputat public health center. Method: This research was a descriptive qualitative research using the case study method, which was conducted in February-November 2019 in the working area of ​​the Ciputat public health center. The main informants were homosexual or bisexual groups, who were selected by purposive sampling. Data validation used source triangulation, and data were analyzed by content analysis. Result: The results showed that most of the informant had no intention to utilize the VCT clinic in Ciputat public health center, low knowledge of HIV/AIDS and VCT clinic, low susceptibility of perception and self-efficacy. All informants had barriers, high perception of severity, perception of good benefit, and quite large cues to act. Conclusion: The majority of informants had no intention to utilize the VCT clinic due to low knowledge of HIV/AIDS and VCT clinic. Public health center and NGOs are recommended to collaborate in increasing knowledge of community on HIV/AIDS and VCT clinic. Keywords: men who have sex with men, VCT clinic, HIV/AIDS Abstrak Latar belakang: Lelaki Seks Lelaki (LSL) merupakan kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS dikarenakan kecenderungannya berganti pasangan dan melakukan seks anal. Kelompok LSL merupakan faktor risiko tertinggi kasus baru HIV di Indonesia. Klinik VCT (Voluntary Counselling and Testing) merupakan pintu masuk utama pada layanan pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan HIV/AIDS. Namun LSL yang memanfaatkan klinik VCT di Kecamatan Ciputat mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam mengenai gambaran keinginan kelompok LSL dalam memanfaatkan klinik VCT di Puskesmas Ciputat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualititatif deskriptif dengan metode studi kasus, yang dilaksanakan pada Februari-November 2019 di wilayah kerja Puskesmas Ciputat. Informan utama adalah kelompok homoseksual maupun biseksual yang dipilih dengan cara purposive sampling. Validasi data menggunakan triangulasi sumber dan analisa data dilakukan dengan content analysis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar informan belum memiliki keinginan untuk memanfaatkan klinik VCT di Puskesmas Ciputat, berpengetahuan kurang mengenai HIV/AIDS maupun klinik VCT, serta memiliki persepsi kerentanan dan efikasi diri yang rendah. Semua informan memiliki hambatan, persepsi keparahan yang tinggi, persepsi manfaat yang baik, serta isyarat untuk bertindak cukup besar. Kesimpulan: Sebagian besar LSL belum memiliki keinginan untuk memanfaatkan klinik VCT. Hal ini karena informan memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS maupun klinik VCT. Puskesmas dan LSM diharapkan dapat bekerja sama untuk dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS dan klinik VCT. Kata kunci: lelaki seks lelaki, klinik VCT, HIV/AIDS
AKSES INTERNET DALAM KELUARGA HUBUNGANNYA DENGAN STATUS IMUNISASI DASAR LENGKAP ANAK BADUTA (ANALISIS DATA SDKI 2017) Olwin Nainggolan; Felly Philipus Senewe
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3554

Abstract

Abstract Background:Internet access penetration in Indonesia is growing, all information can be obtained very easily, including how the child's immune system can be obtained against diseases that can be prevented by immunization. However, the internet can also have a bad impact, because it is very easy to use to spread false news or hoaxes. Objective: An analysis will be conducted to find the relationship between internet access in the family and the status of completeness of basic immunization for children under two years Method: The study will use data from the Indonesian Health Demographic Survey (IDHS) conducted in 2017. The unit of analysis is children under two years. The analysis of the relationship between internet access in the family and the completeness status of basic immunization for children under two years used logistic regression analysis with a complex sample mode. Result: The analysis shows that families in Indonesia who have internet access based on the 2017 IDHS data are 46.0 percent, and children under two years with complete basic immunization status is 65.3 percent. It can be seen that there is a relationship between internet access and the completeness status of basic immunization for children with OR 1.37 (1.14-1.66). Conclusion: The internet is like a double-edged sword, one side can be used to find various information that is beneficial to health, but can also be used to spread false information. Therefore it is important to educate all Indonesians to use internet access positively. Keywords: immunization, vaccine, IDHS, Indonesia. Abstrak Latar belakang: Penetrasi akses internet di Indonesia semakin berkembang, semua informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah, termasuk bagaimana diperolehnya kekebalan tubuh anak terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Akan tetapi, internet juga bisa memberikan dampak yang tidak baik karena sangat mudah dimanfaatkan untuk menyebarkan berita yang tidak benar atau hoax. Tujuan: Akan dilakukan analisis untuk mencari hubungan antara akses internet dalam keluarga terhadap status kelengkapan imunisasi dasar anak bawah dua tahun. Metode: Penelitian akan menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilakukan tahun 2017. Unit analisis adalah anak bawah dua tahun (baduta). Analisis hubungan antara akses internet dalam keluarga dengan status kelengkapan imunisasi dasar anak bawah dua tahun menggunakan analisis regresi logistik dengan mode kompleks sampel. Hasil: Analisis memperlihatkan bahwa keluarga di Indonesia yang memiliki akses internet berdasarkan data SDKI 2017 adalah sebesar 46,0 persen, dan baduta dengan status imunisasi dasar lengkap adalah sebesar 65,3 persen. Terlihat adanya hubungan antara akses internet dengan status kelengkapan imunisasi dasar anak dengan OR 1,37 (1,14-1,66). Kesimpulan: Internet bagai pedang bermata dua, satu sisi dapat digunakan untuk mencari berbagai informasi yang bermanfaat bagi kesehatan, akan tetapi bisa juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar. Oleh sebab itu, edukasi penting bagi seluruh penduduk Indonesia untuk menggunakan akses internet dengan positif. Kata kunci: imunisasi, vaksin, internet, SDKI, Indonesia
COMPLIANCE WITH ANTIRETROVIRAL THERAPY AMONG MSM AT CLINIC X, JAKARTA Lu'lu Nafisah
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3728.137-149

Abstract

Abstrak Latar belakang: Kepatuhan terapeutik di Indonesia masih di bawah 80 persen dan dapat mengakibatkan peningkatan insidensi infeksi usus protozoanal, perkembangan AIDS yang lebih cepat, resistensi obat, kegagalan pengobatan, dan penularan virus ke orang lain. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kepatuhan terhadap terapi antiretroviral pada LSL yang mencari pengobatan di klinik swasta dan menyelidiki faktor pendukung dan hambatan untuk retensi ART. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis isi. Hasil: Informan berjumlah 7 orang, 4 ODHA, dan 3 petugas kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar ODHA patuh dalam menggunakan terapi ARV dan mengikuti saran dokter. Faktor-faktor yang mendukung kepatuhan terhadap terapi ARV meliputi tingkat pendidikan, akses informasi, motivasi internal, hubungan pasien dengan dokter, dan dukungan sosial. Hoax, faktor yang terkait dengan pekerjaan, dan stigma adalah hambatan bagi orang yang hidup dengan HIV dalam mempertahankan kepatuhan terhadap terapi ARV. Kesimpulan: Kepatuhan optimal terhadap terapi ARV perlu dipertahankan dan ditingkatkan karena dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Intervensi berbasis teknologi direkomendasikan dalam memantau kepatuhan ODHA dalam terapi ARV. Kata Kunci: kepatuhan, terapi antiretroviral, hambatan, LSL, ODHA. Abstract Background: Therapeutic compliance in Indonesia was still below 80 percent and may resulted in increased incidence of protozoanal intestinal infection, faster AIDS progression, drug resistance, treatment failure, and transmission of the virus to others. Objective: The purpose of this study was to describe adherence to antiretroviral therapy among MSM who seek treatment at private clinics and investigate facilitators and barriers to ART retention. Method: This study used qualitative research methods and data collected through in-depth interview. The study subjects were selected using a purposive sampling. Data were analyzed using content analysis. Results: The informants were 7 people include 4 PLWHA and 3 health workers. The results showed that most ODHA were compliant in taking ARV therapy and following doctor's advice. Factors supported adherence to ARV therapy include levels of education, access to information, internal motivation, patient relationships with doctors, and social support. Hoaxes, work related factors, and stigma are barriers to people living with HIV in sustaining ARV therapy adherence. Conclusion: Optimal adherence to ARV therapy needs to be maintained and improved because it is dynamic and influenced by various factors. Technological interventions are recommended in monitoring PLWHA compliance in ARV therapy Keywords: adherence, antiretroviral therapy, barriers, MSM, PLWHA.
META ANALISIS: PENGARUH ANEMIA IBU HAMIL TERHADAP BERAT BAYI LAHIR RENDAH Aditianti Aditianti; Sri Poedji Hastoety Djaiman
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3799.163-177

Abstract

Abstract Background: The prevalence of low birth weight (LBW) in Indonesia shows a decrease, but the risk factor for anemia in pregnant women has increased sharply and this has an impact on increasing the prevalence of LBW. Objective: This study aimed to determine the risk of anemia in pregnant women to the prevalence of LBW in several countries. Methods: This study was a meta-analysis using PRISMA. Eleven of the 122,000 studies met criteria for the analysis. Presentation of the data used a forest plot with a random effect statistical model. Results: The combined odds ratio (OR) showed that the effect of anemia in pregnant women on LBW was 1.49 times higher than that of non-anemia mothers (95% CI: 1.26-4.60; p <0.001). The variance was 53,7%. The results of the funnel plots from 11 studies were not evenly distributed so that the information obtained was homogeneous, focusing more on the middle value. Conclusion: There was an effect of anemia in pregnant women with the prevalence of LBW. Detection of anemia in pregnant women needs to be done as early as possible by involving the role of health workers and cadres. Outreach activities for young women at schools and Posyandu must be carried out regularly and continuously. Keywords: Anemia, LBW, Pregnancy Abstrak Latar belakang: Prevalensi berat bayi lahir rendah (BBLR ) di Indonesia menunjukkan penurunan namun faktor risiko anemia pada ibu hamil meningkat tajam dan hal ini berdampak pada peningkatan kejadian BBLR. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui besarnya risiko ibu hamil anemia terhadap kejadian BBLR di beberapa negara. Metode: Studi ini merupakan meta analisis menggunakan PRISMA. Sebelas dari 122.000 studi masuk dalam kriteria untuk dianalisis. Penyajian data menggunakan forest plot dengan model statistik random effect. Hasil: Besar odds ratio (OR) gabungan menunjukkan bahwa pengaruh ibu hamil anemia terhadap BBLR 1,49 kali lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak anemia (95%CI: 1,26-4,60; p<0,001). Besarnya varian 53,7 persen. Hasil funnel plot dari 11 studi ini tidak tersebar secara merata sehingga informasi yang diperoleh homogen, lebih fokus pada nilai tengah. Kesimpulan: Terdapat pengaruh anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR. Deteksi anemia pada ibu hamil perlu dilakukan sedini mungkin dengan melibatkan peran tenaga keseharan dan kader. Penyuluhan bagi remaja putri di sekolah dan posyandu harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan Kata kunci: Anemia, BBLR, Kehamilan
ABSTINENSI SEKSUAL REMAJA SMP DI KOTA TANGERANG SELATAN Mizna Sabilla; Nurfadhilah Nurfadhilah
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3814.125-136

Abstract

Abstract Background: Indonesia is projected to experience the peak of the demographic bonus in 2030. The demographic bonus can turn into a burden if adolescents who are successors are not qualified. Adolescent who are supposed to be 100% absent from sex actually showed an unsatisfactory proportion in several areas. Objective: This study aimed to describe abstinence behavior among adolescents at junior high school in South Tangerang City. Method: This study used a cross sectional design. The study population was junior high school students by selecting 25 junior high schools as the sample. The number of samples were 165 students who were taken incidentally. Data was collected from December 2019 to January 2020 by filling out a questionnaire through interviews. Result: The proportion of abstinence among junior high school students was 80%. The highest abstinence was occurred among adolescent boys and aged 12 years. Most of them carried out positive activities such as art, organization, regular worship, regular exercise, and courses. Most of them admitted that they did not feel seduced, coerced and threatened to have sexual activity. When a sensitive part of the body was touched, respondents acted assertively by refusing, shouting, and hitting. Conclusion: Sexual abstinence among adolescents at junior high school in South Tangerang needs to be increased. Understanding the importance of abstinence needs to be given to adolescents from the onset of puberty by parents, school environment (school organizations and PIKR) and community (religious organizations). Keywords: Sexual abstinence, Adolescent at Junior High School, South Tangerang Abstrak Latar belakang: Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030. Bonus demografi dapat berbalik menjadi beban apabila remaja yang menjadi penerus tidak berkualitas. Remaja yang seharusnya 100 persen absen seks justru menunjukkan proporsi yang tidak menggembirakan di beberapa wilayah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku abstinensi pada remaja usia SMP di Kota Tangerang Selatan. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah remaja usia SMP dengan memilih 25 SMP sebagai sampel. Jumlah sampel sebanyak 165 siswa/siswi yang diambil secara insidentil. Pengumpulan data dilakukan pada Desember 2019 sampai Januari 2020 dengan pengisian kuesioner melalui wawancara. Hasil: Proporsi abstinensi seksual remaja SMP sebesar 80 persen. Abstinensi tertinggi dialami oleh remaja laki-laki dan usia 12 tahun. Sebagian besar melakukan kegiatan positif seperti seni, berorganisasi, rutin beribadah, rutin berolahraga, dan mengikuti seminar/kursus. Sebagian besar responden mengaku tidak pernah merasa dirayu, dipaksa dan diancam untuk melakukan aktivitas seksual. Apabila bagian tubuh sensitifnya disentuh responden melakukan tindakan asertif dengan menolak, berteriak, dan memukul. Kesimpulan: Abstinensi seksual remaja SMP di Tangerang Selatan harus ditingkatkan. Orang tua perlu menjaga dan mengawasi pergaulan anaknya. Pemahaman agama dan pentingnya abstinensi perlu diberikan kepada remaja semenjak awal pubertas dari orang tua, lingkungan sekolah dan masyarakat melalui organisasi keagamaan dan PIKR Kata kunci: Abstinensi seksual, Remaja SMP, Tangerang Selatan
HUBUNGAN DEPRESI MATERNAL DENGAN FUNGSI KOGNISI ANAK USIA 7 – 14 TAHUN Ika Saptarini; Anissa Rizkianti; Prisca Petty Arfines; Suparmi Suparmi
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3824

Abstract

Abstract Background: Investing in early childhood growth and development is a strategy for preparing a better future generation. Ensuring maternal mental health, including maternal depression, is a significant effort to achieve responsive care. Objective: This study aims to analyse the association between maternal depression and cognitive function of children aged 7 – 14 years at two points, in 2007/2008 and 2014/2015. Methods: This study used IFLS-4 and IFLS-5 data. The unit of analysis were children aged 7 – 14 years and mothers who lived in the same household. Children's cognitive function was measured using the Raven method, while maternal depression was measured using CESD-10. The analysis was performed using linear regression. Results: From the IFLS-4 data, there was a significant association between maternal depression and cognitive function of children aged 7 – 14 years. Children aged 7 – 14 years with mothers with depression have a risk of having cognitive function 0.1 lower which measure with Z-score (SE: 0.05) than children with mothers without depression. However, in IFLS-5, there was no significant association between maternal depression and cognitive function. Conclusion: There were different results regarding the association between maternal depression and cognitive function of children aged 7 – 14 at the two points observed. Further studies need to be done to analyse the causality between maternal depression and cognitive function in children. Keywords: cognitive function, maternal depression. CESD-10, the raven test Abstrak Latar belakang: Investasi pada tumbuh kembang anak usia dini merupakan strategi menyiapkan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Menjaga kesehatan mental ibu termasuk depresi maternal merupakan upaya untuk mencapai pengasuhan yang responsif. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk melihat hubungan antara depresi maternal dengan fungsi kognisi anak usia 7 – 14 tahun pada dua titik yaitu tahun 2007/2008 dan tahun 2014/2015. Metode: Studi ini menggunakan data IFLS-4 dan IFLS-5. Unit analisis adalah anak usia 7 – 14 tahun dan ibu yang tinggal dalam satu rumah. Kognisi anak diukur menggunakan metode Raven, sedangkan depresi maternal diukur menggunakan CESD-10. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear. Hasil: Dari data IFLS-4 didapatkan hubungan yang bermakna antara depresi maternal dan fungsi kognisi anak usia 7 – 14 tahun. Anak usia 7 – 14 tahun dengan ibu mengalami depresi berisiko memiliki fungsi kognisi 0,1 lebih rendah yang dinilai menggunakan Z-score (SE:0,05) dibanding anak dengan ibu tanpa depresi. Namun pada IFLS-5 tidak terdapat hubungan yang bermakna antara depresi maternal dan fungsi kognisi. Kesimpulan: Terdapat hasil yang berbeda terkait hubungan depresi maternal dan fungsi kognisi anak usia 7 – 14 tahun pada dua titik tahun yang diamati. Perlu dilakukan studi lanjutan untuk melihat kausalitas antara depresi maternal dan fungsi kognisi anak. Kata kunci: fungsi kognisi, depresi maternal, CESD-10, tes raven
HUBUNGAN STATUS EKONOMI TERHADAP PERNIKAHAN DINI PADA PEREMPUAN DI PERDESAAN INDONESIA Ratna Dwi Wulandari; Agung Dwi Laksono
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3870.115-124

Abstract

Abstract Background: Early marriage practice in Indonesia is more often found in rural than in urban areas. Objective: The aim of this study is to examine the relationship of socioeconomic status and early marriage in rural areas in Indonesia. Method: This study used data from the 2017 Indonesian Demographic Health Survey. The sample was 2,252 of women aged 19 – 24 living in rural Indonesia. The variables included in the analysis were early marriage status, socioeconomic status, educational level, and working status. Analysis of collinearity, chi-square, and multiple logistic regressions were conducted in this study. Results: The socioeconomic status and educational level were significantly associated with early marriage among women aged 19 – 24 in rural Indonesia. The poorest socioeconomic women were 2.23 times more likely to experience early marriage than the richest women. Poorer women were 1.68 times more likely to experience early marriage than the richest women. Women who did not go to school, having primary to secondary level of education were more likely to experience early marriage than those having tertiary level, constituting for 10.34 times, 12.10 times and 4.52 times, respectively. Educational level was more dominant in relation to early marriage than socioeconomic status. Conclusion: Socioeconomic status and educational level are associated with early marriage. Poor young women with low educational level in rural areas should be the focus of the program target to reduce the coverage of early marriage in Indonesia. Keywords: rural area, women, early marriage, socioeconomic. Abstrak Latar belakang: Praktik pernikahan dini di Indonesia lebih sering ditemukan di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status sosioekonomi terhadap kejadian pernikahan dini di perdesaan di Indonesia. Metode: Studi ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017. Sampel yaitu 2.252 perempuan 19 – 24 tahun yang tinggal di perdesaan Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi pernikahan dini, status sosioekonomi, tingkat pendidikan, dan status bekerja. Analisis yang digunakan yaitu uji collinearity, chi-square, dan regresi logistik ganda. Hasil: Status sosioekonomi dan tingkat pendidikan berhubungan secara signifikan dengan pernikahan dini pada perempuan 19 – 24 tahun di perdesaan Indonesia. Perempuan paling miskin memiliki kemungkinan lebih tinggi 2,23 kali untuk mengalami pernikahan dini dibandingkan perempuan paling kaya. Perempuan miskin memiliki kemungkinan lebih tinggi 1,68 kali mengalami pernikahan dini dibandingkan perempuan paling kaya. Perempuan yang tidak sekolah, pendidikan SD-SLTP, dan SLTA memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami pernikahan dini dibandingkan lulusan perguruan tinggi, berturut-turut sebesar 10,34 kali, 12,10 kali, dan 4,52 kali. Faktor tingkat pendidikan lebih dominan hubungannya dengan pernikahan dini dibandingkankan dengan faktor status sosioekonomi. Kesimpulan: Status sosioekonomi dan tingkat pendidikan berhubungan dengan pernikahan dini. Remaja putri miskin dengan tingkat pendidikan rendah di perdesaan harus menjadi fokus sasaran program penurunan cakupan pernikahan dini di Indonesia. Kata Kunci: perdesaan, perempuan, pernikahan dini, sosioekonomi.
METODE PATH ANALYSIS: HUBUNGAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL REMAJA PUTRI DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KANKER SERVIKS Santy Irene Putri; Maria Paula Marla Nahak
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3987.151-161

Abstract

Abstract Background: Cancer is the leading cause of death in women. Cervical cancer ranks second after breast cancer, which is most often found in Indonesian women. Efforts to prevent cervical cancer in adolescents are still lacking, one of which is due to limited knowledge. Objective: This study aimed to analyze the relationship between internal and external factors of adolescents and the behavior of cervical cancer prevention. Methods: This study was an observational analytic study with a cross-sectional design. It was conducted in the Midwifery Study Program Unitri, Malang and the Faculty of Nursing, Universitas Citra Bangsa Kupang, East Nusa Tenggara. The dependent variable was cervical cancer prevention. The independent variables were the age of first sexual intercourse, parental support, peer-education, culture, attitudes, and knowledge. Results: The behavior of cervical cancer prevention was directly affected by knowledge (b=0.16; SE=0.07; p=0.019), attitude (b=0.23; SE=0.07; p=<0.001), parental support (b=0.12; SE=0.05; p=0.027), and culture (b= 0.15; SE=0.06; p=0.020). Knowledge was affected by peer-education (b=0.19; SE=0.07; p=0.008). Attitudes were affected by age of first sexual intercourse (b=-0.12; SE=0.06; p=0.053). Conclusion: Knowledge, attitude, parental support, and culture directly affected the behavior of cervical cancer prevention. Keywords: behavior, cervical cancer prevention, adolescent girls Abstrak Latar belakang: Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak pada perempuan. Kanker serviks menempati urutan kedua setelah kanker payudara yang paling banyak dijumpai pada perempuan Indonesia. Upaya pencegahan kanker serviks pada remaja putri masih kurang salah satunya disebabkan oleh pengetahuan yang masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal remaja putri dengan perilaku pencegahan kanker serviks. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain studi cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Prodi Kebidanan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan Fakultas Keperawatan Universitas Citra Bangsa Kupang Nusa Tenggara Timur. Variabel dependen yaitu perilaku pencegahan kanker serviks. Variabel independen yaitu usia pertama kali berhubungan seksual, dukungan orang tua, dukungan teman sebaya, budaya, sikap, dan pengetahuan. Hasil: Perilaku pencegahan kanker serviks dipengaruhi secara langsung oleh pengetahuan (b=0,16; SE=0,07; p=0,019), sikap (b=0,23; SE=0,07; p=<0,001), dukungan orang tua (b=0,12; SE=0,05; p=0,027), dan budaya (b=0,15; SE=0,06; p=0,020). Pengetahuan dipengaruhi oleh dukungan teman sebaya (b=0,19; SE=0,07; p=0,008). Sikap dipengaruhi oleh usia berhubungan seksual pertama kali (b=-0,12; SE=0,06; p=0,053). Kesimpulan: Penge­tahuan, sikap, dukungan orang tua, dan budaya mempengaruhi perilaku pencegahan kanker serviks secara langsung. Kata kunci: pencegahan kanker serviks, perilaku, remaja putri
A STUDY OF MISINFORMATION EXPOSURE OF COVID-19 VACCINE AND THE WILLINGNESS TO BE VACCINATED IN TANGERANG SELATAN CITY, INDONESIA Raihana Nadra Alkaff; Narila Mutia Nasir; Dela Aristi; Jihan Fadilah Faiz
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 12 No 1 (2021): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v12i1.4794

Abstract

Abstract Latar Belakang: Vaksin COVID-19 sangat penting dalam upaya mengurangi penyebaran penularan. Namun, penolakan terhadap vaksin yang terjadi mungkin disebabkan oleh beredarnya misinformasi tentang vaksin COVID-19 melalui media sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji paparan misinformasi vaksin COVID-19 dan faktor-faktor yang terkait serta mengidentifikasi hubungan antara paparan misinformasi vaksin COVID-19 dengan keinginan untuk divaksinasi. Metode: Studi potong lintang dilakukan pada orang berusia 18-34 tahun di Kota Tangerang Selatan. Dengan menggunakan metode convenience sampling, kami merekrut 227 responden yang mengisi kuesioner secara online melalui google form. Data dianalisis menggunakan uji chi-square, uji Fisher, dan regresi logistik. Hasil: Responden yang tidak memiliki kuota internet cenderung 2,197 kali untuk terpapar misinformasi. Responden yang temannya tidak peduli jika mereka menyebarkan misinformasi memiliki kemungkinan 2.1 kali lebih besar untuk mendapatkan misinformasi. Responden yang memiliki teman yang menyebarkan misinformasi cenderung 1,9 kali lebih besar untuk terpapar misinformasi. Studi ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan misinformasi COVID-19 dan kesediaan untuk divaksinasi. Kesimpulan: Pengaruh teman sebaya terkait paparan misinformasi vaksin COVID-19 sangat penting. Pengembangan model pendidik sebaya sangat penting untuk mendorong kontribusi kaum muda dalam mengakhiri pandemi. Kata kunci: Misinformasi, Vaksin COVID-19, kaum muda, Teman Sebaya, Indonesia Abstrak Background: COVID-19 vaccine is important to reduce the spread of transmission. However, the objection occurred might be caused by the circulation of misinformation of COVID-19 vaccine through social media. Objective: This study aimed to assess the misinformation exposure of COVID-19 vaccine and its related factors and to identify the association between misinformation exposure of COVID-19 vaccine and the willingness to be vaccinated. Method: A cross-sectional study was conducted on people age 18-34 years in Tangerang Selatan City. Using convenience sampling, we recruited 227 respondents who filled an online questionnaire through a google form. Data were analyzed using the chi-square test, fisher’s exact test, and logistic regression. Result: Respondents who did not have sufficient internet balance were 2.197 more likely to have misinformation exposure. Respondents whose friends were ignorant if they spread misinformation were 2.1 times more likely to get misinformation. Respondents whose friends disseminated misinformation were 1.9 times more likely to get exposed to misinformation of the COVID-19. This study found no significant relationship between misinformation exposure of COVID-19 vaccine and willingness to be vaccinated. Conclusion: Peer influence regarding exposure to COVID-19 vaccine misinformation is very important. Developing a peer educator model is prominent to encourage the role of young people to end the pandemic. Keywords: Misinformation, COVID-19 Vaccine, Young People, Peer, Indonesia