cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kespro@gmail.com
Editorial Address
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Gedung 5 lt. 4 Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta 10560 Indonesia 
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2087703X     EISSN : 23548762     DOI : https://doi.org/10.22435
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Reproduksi (Journal of Reproductive Health) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the reproductive health field among practitioners as well as academics in public health and researchers. Coverage includes a vast range of reproductive health issues, such as: 1.Woman and child’s health 2.Male reproductive health 3.Youth and elderly health 4.Family planning 5.Sexually transmitted infections and HIV-AIDS 6.Prevention and control of abortion 7.Gender issues 8.Infertility 9.Other reproductive health issues in terms of clinical and public health.
Articles 57 Documents
HUBUNGAN PERSONAL REMAJA DENGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER OLEH ORANG TUA DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH DI KABUPATEN JEMBER Iis Rahmawati; Dewi Retno Suminar; Oedoyo Soedirham; Pinky Saptandari
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 9 No 2 (2018): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 9 NO. 2 TAHUN 2018
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.42 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v9i2.2028.149 - 157

Abstract

Latar belakang: Secara global, kasus seksual pranikah di kalangan remaja meningkat pesat, sehingga perlu segera ditangani lebih awal dalam lingkup keluarga (orang tua), apabila tidak segera ditangani akan mengarah ke masalah lain, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual, HIV dan AIDS. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh personal remaja terhadap pelaksanaan pendidikan karakter oleh orang tua dalam pencegahan perilaku seksual pranikah di Kabupaten Jember. Metode:Desain Penelitian cross-sectional dilakukan pada 229 remaja berusia 16-17 tahun dengan multistage random sampling. Kuisioner digunakan untuk mengukur personal remaja dan pelaksanaan pendidikan karakter oleh orang tua dengan menggunakan teori dan telah dimodifikasi oleh peneliti. Variable karakter remaja meliputi indikator biologis, akademik, pemahaman sosial, teman sebaya, dan pengalaman seksual dan variabel pelaksanaan pendidikan karakter oleh orang tua meliputi pengajaran, pemotivasian, peneladanan, pembiasaan dan penegakan aturan. Analisis data menggunakan SEM menggunakan software (Analysis of Moment Structures (AMOS) version 21). Hasil: pengaruh faktor personal remaja terhadap pelaksanaan pendidikan karakter oleh keluarga (orang tua) dalam pencegahan seksual pranikah oleh remaja dengan nilai P-value 0,857 ini menunjukkan bahwa faktor personal remaja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pelaksanaan pendidikan karakter oleh keluarga (orang tua) dalam pencegahan seksual pranikah oleh remaja. Kesimpulan: Perilaku seksual pranikah pada remaja tetap dilakukan, walaupun orang tua sudah melakukan pendidikan karakter pada remaja dalam pencegahan seksual pranikah, hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh akademik (upaya untuk mendapatkan pengetahuan mengenai pengetahuan pendidikan seksual) dan remaja mencari informasi sendiri melalui internet, media masa dan lain sebagainya, sehingga apabila informasi yang didapatkan negatif akan berdampak buruk terhadap kesehatan seksual remaja.
PELUANG MENGGUNAKAN METODE SESAR PADA PERSALINAN DI INDONESIA Andi Rispah Sulistianingsih; Krisnawati Bantas
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 9 No 2 (2018): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 9 NO. 2 TAHUN 2018
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.662 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v9i2.2046.125 - 133

Abstract

Latar Belakang: World Health Organization (WHO) 2015 menargetkan rata-rata tindakan metode sesar antara 10% sampai 15% sebagai upaya intervensi penyelamatan ibu dan bayi pada persalinan yang tidak bisa dilakukan secara normal. Peningkatan angka persalinan dengan metode sesar di seluruh dunia termasuk Indonesia merupakan masalah yang sangat memprihatinkan mengingat konsekuensi kesehatan jangka pendek maupun panjang bagi ibu dan bayi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor dan besar peluang menggunakan metode sesar pada persalinan di Indonesia. Metode: penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder SDKI 2017. Variabel yang diteliti yaitu metode persalinan, faktor sosiodemografi, riwayat kehamilan dan riwayat persalinan ibu. Analisis menggunakan SPSS 20. Peluang pemilihan metode sesar pada persalinan di Indonesia diukur melalui persamaan regresi logistik. Hasil: faktor yang secara signifikan terkait dengan pemilihan metode sesar pada persalinan di Indonesia adalah usia ibu, pendidikan, indeks kekayaan, tempat tinggal, paritas, ukuran anak saat lahir, frekuensi anc, kehamilan anak kembar, dan komplikasi kehamilan. Peluang menggunakan metode sesar pada persalinan dengan kondisi usia ibu >35 tahun, pendidikan tinggi, tinggal di wilayah perkotaan dan mengalami komplikasi kehamilan adalah 65%. Sedangkan peluang menggunakan metode sesar berdasarkan indikasi medis dalam hal ini komplikasi kehamilan adalah 9.5%.
IDENTIFIKASI VARIABEL CONFOUNDING DENGAN PENERAPAN UJI CHI SQUARE MANTEL HAENSZEL PADA HUBUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) TERHADAP BBLR DI KOTA SAMARINDA Hasmawati Hasmawati; Ike Anggraeni; Rahmi Susanti
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.264 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i1.2069

Abstract

Abstract Background: Confounding is a very important issue to consider because its presence can affect the p-value and the magnitude of the risk that can cause errors in decision making. The Mantel Haenszel is used when there are one or more confounding variables, which can be applied to public health problems such as the incidence of LBW which has many risk factors such as antenatal care (ANC), maternal age, parity, and anaemia. Objective: To identify confounding variables in the ANC relationship with LBW. Method: Nonreactive research with a case-control design. The sample was 305 (61 cases; 244 controls), in 3 Samarinda City Health Centers and sourced from the 2016-2017 maternal cohort registered, East Kalimantan. Results: Maternal age was confounding in the relationship of ANC to LBW (ΛOR 12.29%) whereas parity (ΛOR 1.65%) and anaemia (ΛOR 0,64%) didn’t become confounding. Conclusion: ANC has a significant relationship with the incidence of LBW without or accompanied by confounding variables. Parity and anemia are not as confounding whereas maternal age is influential confounding which is marked by changes in OR before and after considering external variables. Thus, more intensive pregnancy care is needed more mothers who are it too young and or too old. Key words: Confounding, Mantel Haenszel, Low Birth Weight, Maternal age Abstrak Latar belakang: Confounding merupakan isu yang penting untuk diperhatikan, karena kehadirannya dapat mempengaruhi p value dan besaran risiko yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Mantel Haenszel digunakan bila terdapat satu atau lebih variabel confounding, yang dapat diterapkan pada permasalahan kesehatan masyarakat secara global seperti kejadian Berat Badan lahir Rendah (BBLR) yang banyak memiliki faktor risiko seperti ANC dan faktor risiko BBLR lain seperti usia ibu, paritas dan anemia Tujuan: Mengidentifikasi variabel confounding pada hubungan Antenatal Care dengan BBLR. Metode: Non reactive research dengan desain case control. Sampel berjumlah 305 (kasus 61; kontrol 244) di 3 Puskesmas Kota Samarinda dan bersumber dari register kohort ibu tahun 2016-2017. Penelitian ini menggunakan dua cara analisis yaitu analisis univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi Square dan dilanjut identifikasi variabel confounding dengan Chi Square Mantel Haenszel. Hasil: Usia ibu ( menjadi confounding dalam hubungan ANC terhadap BBLR, sedangkan paritas ( dan anemia ( bukan menjadi confounding. Kesimpulan: ANC memiliki hubungan bermakna dengan kejadian BBLR tanpa atau disertai variabel confounding. Paritas dan anemia bukan sebagai confounding, sedangkan usia ibu memberikan pengaruh (confounding). Dengan demikian, perlu perawatan kehamilan yang lebih intensif kepada ibu dengan usia terlalu muda/usia terlalu tua. Kata kunci: Confounding, Mantel Haenszel, BBLR, Usia Ibu
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) OLEH IBU RUMAH TANGGA DI NGANJUK, JAWA TIMUR Chahya Kharin Herbawani; Dadan Erwandi
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.576 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2085

Abstract

Abstract Background: HIV/AIDS reports show an increasing number of AIDS cases and the cumulative number of AIDS among housewives at first rank. Objective: to determine factors related to HIV/AIDS prevention efforts for housewives in the Bagor Health Center area. Method: Quantitative research with cross-sectional design. Independent variable; age; education; family income; age at first sexual intercourse; knowledge of HIV/AIDS; risk perception; husband's work; history of VCT; access to condoms and information about HIV/AIDS. The dependent variable is HIV/AIDS prevention efforts. Total respondent were 150 housewives, data collection using a questionnaire that was adopted/modified from the Integrated Biological and Behavioral Surveillance questionnaire (STBP) 2011. Multivariate data analysis with multiple logistic regression Results: Factors related to HIV/AIDS prevention efforts in housewives were a history of VCT (p=0.028) and exposure to information about HIV/AIDS (p=0.014). History of VCT is the most influencing factor in HIV/AIDS prevention efforts in housewives (p value=0.040; OR=3.79 95% CI=1.06-13.537). Housewives who have done VCT are 3.79 times more likely to make HIV/AIDS prevention efforts than those who did not. Conclusion: Providing education and VCT testing can provide better HIV prevention behavior for housewives. Historical factors of VCT and information exposure play a role in HIV prevention behavior in housewives Key words: HIV/AIDS, reproductive health, VCT Abstrak Latar belakang: Laporan HIV/AIDS menunjukkan peningkatan jumlah kasus AIDS dan jumlah kumulatif AIDS pada ibu rumah tangga yang menempati urutan pertama Tujuan: mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga di wilayah Puskesmas Bagor. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Variabel independen; umur; pendidikan; penghasilan keluarga; umur pertama kali berhubungan seksual; pengetahuan HIV/AIDS; persepsi berisiko; pekerjaan suami; riwayat VCT; akses terhadap kondom dan keterpaparan informasi tentang HIV/AIDS. Variabel dependen adalah upaya pencegahan HIV/AIDS. Responden berjumlah 150 ibu rumah tangga, Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diadopsi/dimodifikasi dari kuesioner Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Tahun 2011. Analisis data multivariate dengan multiple logistic regression Hasil: Faktor yang berhubungan dengan upaya pencegahan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga adalah riwayat VCT (p=0,028) dan keterpaparan informasi tentang HIV/AIDS (p=0,014). Riwayat VCT merupakan faktor paling mempengaruhi upaya pencegahan HIV/AIDS pada ibu rumah tangga (p value=0,040; OR=3,79 95% CI=1,06-13,537). Ibu rumah tangga yang telah melakukan VCT 3,79 kali lebih cenderung untuk melakukan upaya pencegahan HIV/AIDS baik dibandingkan yang tidak melakukan VCT. Kesimpulan: Pemberian edukasi dan pemeriksaan VCT dapat memberikan perilaku pencegahan HIV yang lebih baik pada ibu rumah tangga. Faktor riwayat VCT dan keterpaparan informasi berperan dalam perilaku pencegahan HIV pada ibu rumah tangga. Kata kunci: HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, VCT
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SIKAP REMAJA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH DI KECAMATAN SIBERUT SELATAN, KEPULAUAN MENTAWAI TAHUN 2018 Rennie Yolanda; Angela Kurniadi; Tommy Nugroho Tanumihardja
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.696 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i1.2174

Abstract

Abstract Background: Increasing percentage of adolescents who have had premarital sex from year to year and many factors that associated with adolescent attitudes towards premarital sexual behavior. Objective: Identifies factors associated with adolescent attitudes towards premarital sexual behaviour in South Siberut. Method: Observational analytic research with a cross-sectional study. Respondents were collected from all high schools in South Siberut using stratified random sampling with a total of 126 respondents. Variables included are gender, father’s education level, mother’s education level, parent income, HIV/AIDS knowledge, and attitude towards HIV/AIDS. Research instrument using questionnaires. Data were analyzed using Chi-square test. Result: 53,2 percent of adolescents had an attitude that didn’t support premarital sexual behaviour. The result of bivariate analysis showed that there was a relationship between adolescent attitudes towards premarital sexual behaviour with gender (p=0,003). There was no relationship between adolescent attitudes towards premarital sexual behaviour with father’s education level (p=0,161), mother’s education level (p=0,915), parent income (p=0,69), HIV/AIDS knowledge (p=0,257), and attitude towards HIV/AIDS (p=0,141). Conclusion: Factor that associated with adolescent attitudes towards premarital sexual behaviour is gender. Father’s education level, mother’s education level, parent income, HIV/AIDS knowledge, and attitude towards HIV/AIDS aren’t associated with adolescent attitudes towards premarital sexual behaviour. Keywords: premarital sexual behaviour, HIV/AIDS, adolescent, South Siberut. Abstrak Latar belakang: Meningkatnya persentase remaja yang telah melakukan hubungan seksual pranikah dari tahun ke tahun dan banyaknya faktor yang berhubungan dengan sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah. Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah di Kecamatan Siberut Selatan. Metode: Penelitian analitik observasional dengan studi potong lintang. Responden berasal dari seluruh SMA/sederajat di Kecamatan Siberut Selatan dengan pengambilan sampel acak berstrata sejumlah 126 responden. Variabel yang dicari meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, penghasilan orangtua, tingkat pengetahuan HIV/AIDS, dan sikap terhadap HIV/AIDS. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data dengan uji kai kuadrat. Hasil: Sebanyak 53,2 persen remaja memiliki sikap tidak mendukung perilaku seksual pranikah. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah dengan jenis kelamin (p=0,003). Tidak terdapat hubungan antara sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah dengan tingkat pendidikan ayah (p=0,161), tingkat pendidikan ibu (p=0,915), penghasilan orangtua (p=0,69), tingkat pengetahuan HIV/AIDS (p=0,257), dan sikap terhadap HIV/AIDS (p=0,141). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah adalah jenis kelamin. Tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, penghasilan orangtua, tingkat pengetahuan HIV/AIDS, dan sikap terhadap HIV/AIDS tidak berhubungan dengan sikap remaja terhadap perilaku seksual pranikah. Kata kunci: perilaku seksual pranikah, HIV/AIDS, Remaja, Siberut Selatan
FAKTOR IBU, JANIN DAN RIWAYAT PENYAKIT SEBAGAI RISIKO PREEKLAMPSIA DI ASIA DAN AFRIKA: SUATU META-ANALISIS Miranda Ayunani; Annisa Nurrachmawati; Rahmi Susanti
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.504 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2357

Abstract

Abstract Background: Preeclampsia accounts for nearly 10 percent of maternal deaths in Asia and Africa. Therefore, it is important to detect signs and symptoms early on by knowing the factors that are at risk for a mother experiencing preeclampsia. Objective: To determine the risk factors for preeclampsia in Asia and Africa through the application of meta-analysis. Method: A systematic review was carried out on 26 case-control and cohort studies related to risk factors for preeclampsia from four databases (PubMed, BioMed Central, ProQuest, and Google Scholar). The pooled odds ratio was calculated with the fixed-effect and random-effect model using Review Manager 5.3. Result: A total of 20 studies consisting of 2,954,769 women were included in the meta-analysis. Risk factors for preeclampsia based on maternal factors were chronic hypertension=9.74(95% CI 1.69-56.04), gestational diabetes=9.28(95% CI 4, 49-19.19), pre-pregnancy body mass index=2.70(95% CI 2.08-3.50), maternal age during pregnancy=2.37(95% CI 2.29-2.46) and nulliparity=2.08(95% CI 1.44-3.01). The fetal factor was multiple pregnancy=4.24(95% CI 3.14-5.73). Four disease history factors were family history of preeclampsia=13.99(95% CI 6.91-28.33), history of chronic hypertension=8.28(95% CI 5.92- 11.59), history of preeclampsia=OR 6.90(95% CI 3.58-13.31) and family history of hypertension=2.81(95% CI 1.75-4.50). Conclusion: The results of a meta-analysis of 10 risk factors for preeclampsia could be used as a screening tool to determine the magnitude of risk and early diagnosis of preeclampsia that allows timely intervention. Key words: Maternal Factors, Chronic Hypertension, Preeclampsia, Meta-Analysis. Abstrak Latar belakang: Preeklampsia menyumbang hampir 10 persen dari kematian ibu di Asia dan Afrika. Oleh karena itu, penting untuk menemukan tanda dan gejala sejak dini dengan mengetahui faktor-faktor yang berisiko untuk seorang ibu mengalami preeklampsia. Tujuan: Mengetahui faktor risiko preeklampsia di Asia dan Afrika melalui penerapan meta-analisis. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan pada 26 studi kasus kontrol dan kohort terkait faktor risiko preeklampsia di empat database, yaitu PubMed, BioMed Central, ProQuest, dan Google Scholar. Pooled Odds Ratio dihitung dengan model fixed-effect dan random effect menggunakan Review Manager 5.3. Hasil: Sebanyak 20 penelitian yang terdiri dari 2.954.769 wanita masuk dalam meta-analisis. Faktor risiko preeklampsia berdasarkan faktor ibu adalah hipertensi kronis=9,74(95% CI 1,69-56,04), diabetes gestasional=9,28(95% CI 4,49-19,19), indeks massa tubuh prakehamilan=2,70(95% CI 2,08-3,50), usia ibu saat kehamilan=2,37(95% CI 2,29-2,46) dan nuliparitas=2,08 (95% CI 1,44-3,01). Faktor janin yaitu kehamilan multipel=4,24(95% CI 3,14-5,73). Empat faktor riwayat penyakit yaitu riwayat keluarga preeklampsia=13,99(95% CI 6,91-28,33), riwayat hipertensi kronis=8,28(95% CI 5,92-11,59), riwayat preeklampsia= (95% CI 3,58-13,31) dan riwayat keluarga hipertensi=2,81(95% CI 1,75-4,50). Kesimpulan: Hasil meta-analisis dari 10 faktor risiko preeklampsia dapat digunakan sebagai alat skrining untuk mengetahui besarnya risiko dan diagnosis dini preeklampsia, yang memungkinkan intervensi tepat waktu. Kata kunci: Faktor Ibu, Hipertensi Kronis, Preeklampsia, Meta-analisis
DETERMINANTS OF CHRONIC ENERGY DEFICIENCY AND LOW BODY MASS INDEX OF PREGNANT WOMEN IN INDONESIA Teti Tejayanti
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.681 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2403

Abstract

Abstrak Latar belakang: Status gizi perempuan di Indonesia cenderung memburuk. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa kekurangan energi kronis (KEK) pada wanita usia reproduksi meningkat dari 13,6 persen pada 2007 menjadi 20,8 persen pada 2013. Ibu hamil yang kekurangan gizi akan berdampak buruk pada bayinya. Tujuan: Memperoleh determinan status gizi kurang yaitu KEK dan Indeks Massa Tubuh (IMT) rendah dari wanita hamil di Indonesia pada tahun 2013. Metode: Penelitian menggunakan data Riskesdas 2013. Analisis dilakukan dengan multivariat regresi logistik. Jumlah sampel adalah 7236 ibu hamil. Ibu hamil dikatakan KEK jika pertengahan lingkar lengan atas (LILA) < 23,5 cm dan IMT diukur dengan pendekatan metode Broca. Hasil: Determinan ibu hamil KEK dan IMT rendah adalah tinggal di perdesaan (AOR 1,20; 95% CI [1,11-1,13]), usia <20 tahun (AOR 1,62; 95% CI [1,60-1,65]), paritas 1 anak (AOR 2,04; 95% CI [2,02-2,06]), berpendidikan rendah (AOR 1,92; 95% CI [0,91-0,93]) dan status ekonomi rendah (AOR 3,36; 95% CI [3,31- 3,41]). Kesimpulan: Pendidikan harus ditingkatkan minimal hingga sekolah menengah atas sehingga pengetahuan gizi ibu meningkat dan kehamilan dini dapat dicegah. Ibu dengan status ekonomi rendah harus menjadi prioritas dalam pelayanan ibu dan upaya intervensi gizi. Kata kunci: Sosial ekonomi, lingkar lengan atas, KEK, BMI, gizi ibu hamil. Abstract Background: The nutritional status of women in Indonesia tends to worsen. Basic Health Research (Riskesdas) showed that chronic energy deficiency (CED) among women of reproductive age increased from 13.6 percent in 2007 to 20.8 percent in 2013. Pregnant women who are lack of nutrition will have an impact on their babies. Objective: To determine the determinants of poor nutritional status which are CED and low body mass index (BMI) of pregnant women in Indonesia. Method: This study used 2013 Riskesdas data. The analysis was done using multivariate logistic regression. The total sample was 7236 pregnant women. Pregnant women with CED are those who have mid-upper arm circumference (MUAC) of less than 23.5 cm and BMI was measured by the Broca method approach. Results: The determinants of pregnant women with CED and low BMI are living in rural area (AOR 1.20; 95% CI [1.11-1.13]), age of <20 years (AOR 1.62; 95% CI [1.60-1.65]), having 1 child (AOR 2.04; 95% CI [2.02- 2.06]), having low education (AOR 1.92; 95% CI [0.91-0.93]) and low economic status (AOR 3.36; 95% CI [3.31- 3.41]). Conclusion: Education must be improved to at least high school degree, so that the mother's nutritional knowledge will increase, and early pregnancy will be prevented. Mothers with low economic status must be priority in maternal cervices and nutrition interventions. Keywords: Socioeconomic, nutrition, mid-upper arm, CED, BMI, nutrition of pregnant women
PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL DAN OBESITAS PADA WANITA USIA SUBUR DI INDONESIA: ANALISIS DATA IFLS 5 TAHUN 2014 Yusri Kartika; Sudarto Ronoatmodjo
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.532 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2412

Abstract

Abstract Background: Prevalence of obesity in adult females in Indonesia is 32,9% in 2013. Hormonal contraceptives (pills, injections and implants) are widely used by reproductive-age women in Indonesia, and the prevalence is 45%. Objective: The aim of this study is to identify whether reproductive-age women who use hormonal contraceptives are at risk of developing obesity compared to WUS who do not use hormonal contraceptives. Method: The design of this study is a cross sectional study using secondary data (5th Indonesia Family Life Survey, and the sample is reproductive-age women (15-49 years old) consisting of 6045 respondents. The variables of this study are obesity, hormonal contraceptive use, age, education, occupation, and duration of contraceptive use. Data were analysed by using Cox Regression. Result: The results of bivariate analysis showed that hormonal contaceptive use, age, education, occupation, and duration of contraceptive use were associated with obesity among reproductive-age womenand statistically significant (P-Value <0,05). Multivariate analysis showed that hormonal contraceptive use did not increase the risk of obesity among reproductive-age women in Indonesia (PR 0.939; CI 95% 0.869 - 1.013). Conclusion: The use of hormonal contraception did not increase the risk of obesity among reproductive-age women. Key words: Hormonal Contraception; Obesity; Reproductive Age-Women Abstrak Latar belakang : Prevalensi obesitas pada perempuan dewasa di Indonesia sebesar 32,9 persen pada tahun 2013. Kontrasepsi hormonal (pil, suntikan dan implan) merupakan jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh wanita usia subur (WUS) di Indonesia, dengan prevalensi sebesar 45%. Tujuan : untuk mengetahui apakah wanita usia subur (WUS) yang menggunakan kontrasepsi hormonal berisiko mengalami obesitas dibandingkan WUS yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. Metode : Desain penelitian ini adalah studi cross- sectional dengan menggunakan data sekunder IFLS 5 tahun 2014. Sampel adalah WUS (15-49 tahun) sebanyak 6.045 responden. Variabel dalam penilitian ini adalah obesitas pada WUS, penggunaan kontrasepsi hormonal, umur, pendidikan, pekerjaan, serta lama penggunaan kontrasepsi. Analisis data yang digunakan adalah Cox Regression. Hasil : Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel penggunaan kontrasepsi hormonal, umur, pendidikan dan status pekerjaan, serta lama penggunaan kontrasepsi berhubungan dengan obesitas pada WUS (p-value <0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal tidak meningkatkan risiko obesitas secara bermakna pada WUS di Indonesia (PR 0,939; CI 95% 0,869 – 1,013). Kesimpulan: Penggunaan kontrasepsi hormonal tidak meningkatkan risiko WUS untuk mengalami obesitas. Kata kunci: Kontrasepsi Hormonal; Obesitas; Wanita Usia Subur
STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA ANAK DENGAN HIV AIDS (ADHA) DI SEPULUH KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA Sugiharti Sugiharti; Rini Sasanti Handayani; Heny Lestary; Mujiati Mujiati; Andi Leny Susyanti
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.082 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2459

Abstract

Abstract Background: Children with HIV are vulnerable groups that need to be protected, considering that their parents have often died of HIV/AIDS. Objective: The purpose is to find information about stigma and discrimination against children with HIV/AIDS in 10 districts in Indonesia. Method: The study was conducted in 2015 with a cross-sectional research design using quantitative and qualitative combined approaches (mixed methods approaches). Quantitative study respondents were parents/guardians of children with HIV/AIDS aged ≥18 months totaling 201 children with HIV/AIDS. The variables studied included: age, child status, children with HIV/AIDS companion and source of transmission), reasons for closing the ADHA status and reasons for opening status. The qualitative study informants were doctors, nurses, case managers, NGOs, and the Education Office Results: Quantitative results showed that 41.8% of children with HIV/AIDS were aged 4-9 years; 58.5% are in school; 61.7% of children with HIV/AIDS companions are biological parents; 91.5% of sources of transmission are from biological mothers; 57.5% of reasons for closing status because of shame/stigma/ discrimination, 45.9% of reasons for opening status because the family already knew. Qualitative results of stigma and discrimination occur in families, the environment, schools, and health services Conclusion: Children with HIV/AIDS are a vulnerable group that must be protected. They have the right to live properly and safely like other children. But the results of this study found that there was still stigma and discrimination for Children with HIV/AIDS, both in the home, school and health care facilities. Key words: Children with HIV/AIDS, Stigma and Discrimination, HIV/AIDS Abstrak Latar belakang: Anak dengan HIV merupakan kelompok rentan yang perlu dilindungi, mengingat orang tua mereka sering kali sudah meninggal karena HIV/AIDS. Tujuan: mengetahui gambaran stigma dan diskriminasi pada Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) pada 10 Kabupaten/Kota di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan tahun 2015 dengan disain potong lintang, menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods approaches). Responden studi kuantitatif adalah orangtua/wali dengan ADHA berusia ≥18 bulan sejumlah 201 ADHA yang diperoleh dari Dinas Kesehatan. Variabel yang diteliti meliputi: usia, status anak, pendamping ADHA dan sumber penularan), alasan menutup status ADHA dan alasan membuka status. Informan studi kualitatif adalah adalah dokter, perawat, manajer kasus, LSM, dan Dinas Pendidikan Hasil: Hasil kuantitatif menunjukkan 41,8% ADHA di usia 4–9 tahun; 58,5% berstatus sekolah; 61,7% pendamping ADHA adalah orangtua kandung; 91,5% sumber penularan berasal dari ibu kandung; 57,5% alasan menutup status karena malu/stigma/diskriminasi, 45,9% alasan membuka status karena keluarga sudah tahu. Hasil kualitatif bahwa stigma/ diskriminasi terjadi di keluarga, lingkungan sekitar, sekolah dan pelayanan kesehatan. Kesimpulan: ADHA merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi. Mereka berhak untuk dapat hidup dengan layak dan aman seperti anak – anak lainnya. Namun hasil penelitian ini menemukan masih terjadi stigma dan diskriminasi bagi ADHA, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun fasilitas pelayanan kesehatan. Kata kunci: ADHA, Stigma dan Diskriminasi, HIV-AIDS
DERAJAT KETERPAPARAN KONTEN PORNOGRAFI PADA SISWA SMP DAN SMA DI DKI JAKARTA DAN BANTEN INDONESIA Iram Barida Maisya; Siti Masitoh
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.731 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2463

Abstract

Abstract Background: Indonesia ranks third as the highest number of phornographic users. Pornography has many negative effects for adolescents such as the number of adolescents who engage in deviant behavior, the increasing number of adolescents who are sexually active, will also increase cases of unwanted pregnancy, abortion and brain damage. Objective: To determine the degree of pornographic exposure among junior and high school students in Jakarta and Banten Method: This research was conducted in DKI Jakarta and Banten on 1340 junior and senior high school students with cross sectional design. This study used an early detection instrument of pornographic content developed by the Education and Culture Policy Research Center Team, Ministry of Education and Culture in 2017 that has been validated. Result: The majority of adolescents (94.5%) have been exposed to pornographic content in grade 1 category, 3,7% in grade 2, and 0,1% in grade 3. Adolescents who were exposed in grade 1 were more likely to be girls (96.7%), but more boys were exposed to grade 2 (6.7%) and grade 3 (0.2%). More students from junior high school were exposed in grade 1 (95.1%), but more students from senior high school were exposed in grade 2 (4%), and grade 3 (0.1%). Conclusion: Most students have been exposed to pornographic content and intervention was needed according to the degree of exposure. Key words: early detection, pornography adiction, pornography Abstrak Latar belakang: Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah pengakses pornografi terbanyak. Pornografi memberikan banyak dampak negatif bagi remaja seperti banyaknya remaja yang melakukan perilaku menyimpang, meningkatnya jumlah remaja yang berperilaku seksual aktif, juga akan meningkatkan kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD), tindakan aborsi, dan kerusakan otak. Tujuan: Mengetahui gambaran derajat keterpaparan konten pornografi pada siswa SMP/MTs dan SMA/MA di DKI Jakarta dan Banten. Metode: Penelitian ini dilakukan di DKI Jakarta dan Banten pada 1340 siswa SMP/MTs dan SMA/MA dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan instrumen deteksi dini konten pornografi yang dikembangkan oleh Tim Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017 yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil: Sebagian besar siswa sudah terpapar pornografi derajat 1 (94,5%), ada 3,7 persen siswa yang terpapar derajat 2, dan 0,1 persen yang terpapar derajat 3. Remaja yang terpapar derajat 1 lebih banyak pada perempuan (96,7%), tetapi laki-laki justru lebih banyak yang terpapar pornografi derajat 2 (6,7%) dan derajat 3 (0,2%). Siswa SMP/MTs lebih banyak yang terpapar pornografi derajat 1 (96,1%), dan siswa SMA/MA lebih banyak yang terpapar derajat 2 (4%), dan derajat 3 (0,1%). Kesimpulan: Sebagian besar siswa sudah terpapar materi pornografi dan diperlukan intervensi sesuai dengan derajat keterpaparannya. Kata kunci: deteksi dini, adiksi pornografi, pornografi