cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kespro@gmail.com
Editorial Address
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Gedung 5 lt. 4 Jl. Percetakan Negara no. 29 Jakarta 10560 Indonesia 
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2087703X     EISSN : 23548762     DOI : https://doi.org/10.22435
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Reproduksi (Journal of Reproductive Health) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the reproductive health field among practitioners as well as academics in public health and researchers. Coverage includes a vast range of reproductive health issues, such as: 1.Woman and child’s health 2.Male reproductive health 3.Youth and elderly health 4.Family planning 5.Sexually transmitted infections and HIV-AIDS 6.Prevention and control of abortion 7.Gender issues 8.Infertility 9.Other reproductive health issues in terms of clinical and public health.
Articles 57 Documents
USIA MENARCHE PEREMPUAN INDONESIA SEMAKIN MUDA: HASIL ANALISIS RISKESDAS 2010 sudikno sudikno; Sandjaja Sandjaja
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.931 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2568

Abstract

Abstract Background: A downward trend in age at menarche (AAM) has been leveling-off in industrialized countries. However, downward trends were still observed in developing countries. Objective: The aim was to verify secular trend of AAM among Indonesian women and its associated factors. Methods: Data used were from Baseline Health Research (Riskesdas) 2010, a cross-sectional nationwide survey. Samples included were 79,026 women aged 10-59 years. History of menarche, socio-demographic variables, weight, height were taken. Descriptive and bivariate analysis were applied to measure proportion, central tendency measures. Results: Among adolescent 10-19years, overall proportion of menarche was 78.6%, ranging from 42.8%, 96.2%, 99.6% at age 12, 15, 18 years respectively. The overall mean AAM was 12.96 years. AAM was significantly younger in urban than rural areas. BMI was significantly lower among adolescense not experienced menarche yet than experienced menarche. AAM was younger in urban areas, higher socio-economic status, and varied among seven regions. Conclusions: Nutritional status was a significant factor associated with AAM. A downward trend in AAM was observed in Indonesian women. Key words: menarche, secular trend, body mass index, Indonesian woman Abstrak Latar belakang: Tren penurunan usia pada menarche telah meningkat di negara-negara industri. Namun, tren penurunan masih diamati di negara-negara berkembang. Tujuan: untuk memverifikasi tren sekuler usia menarche di kalangan perempuan Indonesia dan faktor-faktor terkaitnya. Metode: Data yang digunakan berasal dari Riskesdas 2010, survei nasional dengan desain cross-sectional. Sampel yang dianalisis adalah 79.026 perempuan berumur 10-59 tahun. Variabel yang dikumpulkan meliputi: riwayat menarche, sosio-demografis, berat badan, tinggi badan. Analisis deskriptif dan bivariat digunakan untuk mengukur proporsi, ukuran kecenderungan sentral. Hasil: Di antara remaja 10-19 tahun, proporsi keseluruhan menarche adalah 78,6 persen, mulai dari 42,8 persen, 96,2 persen, 99,6 persen pada masing-masing umur 12, 15, dan 18 tahun. Rata-rata keseluruhan usia menarche adalah 12,96 tahun. Usia menarche secara signifikan lebih muda di daerah perkotaan daripada pedesaan. IMT secara signifikan lebih rendah di antara remaja yang belum mengalami menarche dibandingkan dengan remaja yang sudah mengalami menarche. Usia menarche lebih muda di daerah perkotaan, status sosial ekonomi yang lebih tinggi, dan bervariasi di antara tujuh daerah. Kesimpulan: Status gizi adalah faktor signifikan yang terkait dengan usia menarche. Terjadi Tren penurunan usia menarche pada perempuan di Indonesia. Kata kunci: menarche, tren sekuler, indeks massa tubuh, perempuan Indonesia
PENINGKATAN KUNJUNGAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS SEBAGAI EFEK DIGUNAKANNYA ULTRASOUND PADA PEMERIKSAAN KEHAMILAN Ingan Tarigan; Tita Rosita; Tin Afifah; Soewarta Kosen
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 2 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.043 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i2.2586

Abstract

Abstract Background: Maternal and neonatal mortality rates are still a problem in Indonesia. Various efforts have been made, such as training and placing midwives in villages, increasing the number of deliveries performed in health facilities. There is a consensus that an important intervention is to provide appropriate health facilities managed by trained health workers who assist in childbirth, including midwives and doctors. One of the means of infrastructure that needs to be considered available at the community health center (puskesmas) is an ultrasound device to detect pregnancy complications. Objective: The purpose of this study was to determine the effect of the use of ultrasound devices to increase antenatal care (ANC) to health centers. Method: the study design was a quasi-experiment conducted at 20 puskesmas in Bogor district. Analyses was conducted in descriptive, the total sample participating in the study was 4,049 cases, but only 3,314 cases were analysed. Result: The results of the study prove that the availability of USG at the puskesmas increases ANC visits to the puskesmas. The availability of ultrasound and the use of ultrasound affect the number of ANC visits to health facilities, especially to puskesmas. As an attraction for screening and ANC during pregnancy, the government needs to provide an ultrasound device at puskesmas. Key words: Ultrasoundgraphic, antenatal care, Puskesmas, midwives, pregnancy complication Abstrak Latar belakang: Angka kematian ibu dan neonatal masih merupakan masalah di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti melatih dan menempatkan bidan di desa, meningkatkan jumlah persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan. Ada konsensus yang menyatakan bahwa intervensi yang penting dilakukan adalah memberikan fasilitas kesehatan yang layak dikelola oleh tenaga kesehatan terlatih yang menolong persalinan, antara lain bidan dan dokter. Salah satu sarana prasarana yang perlu dipertimbangkan tersedia di puskesmas adalah alat ultrasound untuk mendeteksi komplikasi kehamilan. Tujuan: mengetahui pengaruh penggunaan alat USG terhadap peningkatan antenatal care (ANC) ke puskesmas. Metode: disain penelitian adalah quasi eksperimen yang dilakukan pada 20 puskesmas di kabupaten Bogor. Analisis dilakukan secara deskriptif, total sampel yang berpatisipasi dalam penelitian 4.049 kasus, namun yang di analisis hanya 3.314 kasus. Hasil: Ketersedian USG di puskesmas meningkatkan kunjungan ANC ke puskesmas. Ketersediaan USG dan penggunaan USG mempengaruhi jumlah kunjungan ANC ke fasilitas kesehatan, khususnya ke puskesmas. Sebagai daya Tarik untuk melakukanskrining dan ANC pada saat kehamilan, maka pemerintah perlu menyediakan alat USG di puskesmas. Kata kunci: Ultrasound, Antenatal Care, Puskesmas, Bidan, Komplikasi Kehamilan
FACTORS AFFECTING SCHOOL ABSENCE AMONG SCHOOLGIRLS IN SOUTH TANGERANG, INDONESIA Hoirun Nisa
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.1497

Abstract

AbstrakLatar belakang: Remaja perempuan sering memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan reproduksi termasuk menstruasi, dan masalah menstruasi dapat mempengaruhi kehadiran siswi di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan ketidakhadiran siswi sekolah dasar selama masa menstruasi.Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan di sembilan sekolah dasar di Kota Tangerang Selatan. Informasi yang dikumpulkan antara lain karakteristik demografi, umur menarche, durasi menstruasi, dismenore, pengetahuan, dan sumber informasi mengenai menstruasi dari remaja siswi. Partisipan terdiri dari 133 siswi yang telah mengalami menstruasi. Uji chi-square dan regresi logistik digunakan dalam data analisis.Hasil: Frekuensi siswi yang tidak masuk sekolah saat menstruasi cukup tinggi (19%). Rata-rata ketidakhadiran sebanyak 2,4 hari setiap siklus menstruasi, dan alasan utama ketidakhadiran di sekolah antara lain takut tembus (69%), rasa sakit/tidak nyaman (62%), dan ejekan dari siswa laki-laki (19%). Pengetahuan yang buruk tentang menstruasi (AOR = 5,24; 95% CI = 1,69-16,30) dan dismenore (AOR = 6,05; 95% CI = 1,32-27,69) mempunyai hubungan positif yang signifikan dengan ketidakhadiran di sekolah (p<0,05), sementara pendidikan ibu secara signifikan dapat mencegah ketidakhadiran siswi pada masa menstruasi (p<0,05).Kesimpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakhadiran siswi di sekolah adalah pengetahuan tentang menstruasi, dismenore, dan status pendidikan ibu. Penelitian ini menunjukkan bahwa memberikan pengetahuan dan manajemen menstruasi dapat bermanfaat dalam mengurangi ketidakhadiran siswi akibat menstruasi di sekolah. Kata kunci: menstruasi, menarche, pengetahuan, ketidakhadiran di sekolah AbstractBackground: Adolescent girls often have limited knowledge regarding reproductive health including menstruation, and challenges associated with menstruation may affect girls’ school attendance. This study aimed to examine factors associated with school absence during menstruation among schoolgirls.Method: A cross-sectional study was conducted in nine elementary schools in the South Tangerang City. The information included the schoolgirls’ demographic background, menarche age, duration of menstrual, dysmenorrhea, knowledge about menstruation, and source of information related to menstruation. Participants were 133 schoolgirls who had experienced first menstruation. Chi-square test and logistic regression were used for data analysis.Results: The frequency of schoolgirls who missed school during menstruation was slightly high (19%). Absentee schoolgirls missed an average of 2.4 days each menstrual cycle, and main reasons for school absence were fear of leakage (69%), pain/discomfort (62%), and boys ridiculed (19%). Poor knowledge about menstruation (AOR = 5.24; 95 % CI = 1.69-16.30) and dysmenorrhea (AOR = 6.05; 95% CI: 1.32-27.69) revealed significant positive association with school absence during menstruation (p<0.05), while mother’s education had significantly prevented the schoolgirls from school absence during menstruation (p<0.05). Conclusion: Factors affecting school absence of schoolgirls included knowledge of menstruation, dysmenorrhea, and mother’s education status. The findings suggest that providing knowledge and menstrual management could benefit on reducing school absenteeism among schoolgirls due to menarche at school. Keywords: menstruation, menarche, knowledge, school absence
DETERMINAN WANITA UNTUK MELAKUKAN PEMERIKSAAN LANJUTAN SETELAH USG PAYUDARA Artika Dewi Amri; Ni Luh Putu Suariyani
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.2175

Abstract

Abstract Background: The further examination after breast ultrasound is needed because the ultrasound examination is not merely recommended for early detection of breast cancer; however by the combination of ultrasound and mammography, the disorder in the breast could be determined more accurately. Mammography method is a method that could detect breast cancer with an accuracy up to 90 percent. Objective: This study is aimed to identify the determinant of women to conduct further examination after breast ultrasound in Badung. Method: The study’s design used a descriptive observational study with cross-sectional design. The sampling technique used was simple random sampling with a sample of 100 people. The bivariate analysis used chi-square with α = 0.05. Result: The results of this study showed that, among the 100 respondents, there were 43 percent have done further examination. The proportion of women taking a further examination was 41 percent with high education, 38 percent with good knowledge, 18 percent stated the distance of health services were far, 43 percent were able to pay the further examination, 38 percent had ever received the information about breast cancer, 43 percent gained the support of health workers and 41 percent received good support from family. The results showed that there were four factors that had a relationship with the further examination after breast ultrasound, including the level of knowledge (OR = 8,65; 95% CI 3,19-23,86), affordability (p-value <0,0001), the support of health workers (p-value <0,0001) and the support of family (OR = 30,3; 95% CI 6,52-273,73). Conclusion: The conclusion of this study is that the determinant of women to undertake the further examination after breast ultrasound depends on the level of knowledge, affordability, the support of health workers and the support of family. There is a need of an increase in socialization about breast cancer to women and husband/family. In addition, to increase further examination there is a need of socialization regarding the utilization of BPJS. Keywords: breast cancer, advanced examination, breast ultrasound Abstrak Latar belakang: Pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara perlu dilakukan karena pemeriksaan USG saja tidak direkomendasikan untuk deteksi dini kanker payudara, tetapi dengan kombinasi USG dan mammografi kelainan pada payudara dapat ditentukan lebih akurat. Metode mammografi merupakan metode yang dapat mendeteksi kanker payudara dengan akurasi sampai 90 persen. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan wanita untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara di Kabupaten Badung. Metode: Desain penelitian menggunakan studi observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 100 orang. Analisis bivariat menggunakan chi-square dengan α=0,05. Hasil: Hasil penelitian ini menggambarkan dari 100 responden sebanyak 43 persen sudah melakukan pemeriksaan lanjutan. Proporsi wanita yang melakukan pemeriksaan lanjutan sebanyak 41 persen orang berpendidikan tinggi, 38 persen orang berpengetahuan baik, 18 persen orang menyatakan jarak pelayanan kesehatan jauh, 43 persen orang mampu untuk membiayai pemeriksaan lanjutan, 38 persen pernah memperoleh informasi tentang kanker payudara, 43 persen orang memperoleh dukungan petugas kesehatan, dan 41 persen memperoleh dukungan baik dari keluarga. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat faktor yang memiliki hubungan terhadap pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara yaitu tingkat pengetahuan (OR = 8,65; 95% CI 3,19-23,86), keterjangkauan biaya (p-value <0,0001), dukungan petugas kesehatan (p-value <0,0001) dan dukungan keluarga (OR = 30,3; 95% CI 6,52-273,73). Kesimpulan: Simpulan penelitian adalah determinan wanita untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara adalah tingkat pengetahuan, keterjangkauan biaya, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan keluarga. Perlu adanya peningkatan sosialiasasi mengenai kanker payudara kepada wanita dan suami/keluarga. Selain itu untuk meningkatkan pemeriksaan lanjutan perlu adanya sosialisasi mengenai pemanfaatan BPJS Kesehatan. Kata kunci: kanker payudara, pemeriksaan lanjutan, USG Payudara
GANGGUAN FUNGSI GINJAL PADA IBU HAMIL PREEKLAMPSIA BERAT DENGAN DISLIPIDEMIA DI RSUD KELAS B SERANG Muttia Amalia; Erna Harfiani; Aulia Chairani
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.2560

Abstract

Abstract Background: Preeclampsia is one of the leading causes of maternal-fetal morbidity and mortality in developing countries. Dyslipidemia in severely preeclamptic women will develop end-organ damage due to endothelial dysfunction. Objective: The objective of this study was to evaluate the correlation between blood lipid profile and renal function in severely preeclamptic women at RSUD Class B Serang district, January-December 2018. Method: This study was an analytical observational study with a cross-sectional design. Conducted using total sampling technique, 103 pregnant women were included from medical records. Data were analyzed using correlation tests and logistic regression. Result: Correlation analysis indicates that HDL level (<60mg/dL) and LDL level (>160 mg/dL) had a significant impact in the alteration of urea and creatinine level in severe PE. Logistic regression analysis signifies that only decreased level of HDL had a significant partial impact on increasing creatinine levels (p=0,013 OR=1,107). Conclusion: The conclusion of this study was in severe PE women there was an increased level of TG and LDL, with a decreased level of HDL. Dyslipidemia in severe PE women will lead to oxidative stress and endothelial dysfunction, which further will cause alteration in glomerulus structure and disturbance of renal function. Keywords: dyslipidemia, creatinine, severe PE, urea Abstrak Latar Belakang: Preeklampsia (PE) merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian ibu dan bayi di negara berkembang. Dislipidemia pada ibu hamil dengan preeklampsia berat (PEB) akan menyebabkan end-organ damage akibat disfungsi endotel. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara profil lipid darah terhadap gangguan fungsi ginjal pada ibu hamil dengan preeklampsia berat di RSUD Kelas B Serang periode Januari – Desember 2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Menggunakan teknik total sampling, sebanyak 103 sampel diambil dari data rekam medik. Data dianalisis menggunakan uji korelasi dan regresi logistik. Hasil: Hasil korelasi menunjukkan bahwa kadar HDL yang lebih rendah (<60 mg/dL) dan kadar LDL yang lebih tinggi (>160 mg/dL) memiliki hubungan yang bermakna terhadap peningkatan kadar ureum dan kreatinin pada bumil dengan PEB. Analisis regresi logistik memperlihatkan bahwa hanya kadar HDL yang menurun memiliki hubungan parsial yang signifikan terhadap peningkatan kadar kreatinin (p=0,013 OR=1,107). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini bahwa telah ditemukan peningkatan kadar trigliserida (TG) dan LDL serta penurunan kadar HDL pada bumil dengan PEB. Dislipidemia pada PEB akan menyebabkan stres oksidasi dan disfungsi endotel yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan struktur glomerulus dan perubahan fungsi ginjal Kata kunci: dislipidemia, kreatinin, PEB, ureum
HUBUNGAN PAPARAN ASAP ROKOK DARI SUAMI PADA WANITA USIA 15-57 TAHUN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI INDONESIA (ANALISIS DATA LANJUTAN IFLS-5 TAHUN 2014) Stevy Elisabeth Dame Simamora; Sudarto Ronoatmodjo
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.2753

Abstract

Abstract Background: The results of Riskesdas (Basic Health Research) showed that the national proportion of low birth weight (LBW) in Indonesia was 10.2 percent in 2013 and 6.2 percent in 2018. Survey conducted by Global Adult Tobacco Survey in 2011 found that 67 percent of men in Indonesia smoke. Meanwhile in 2011-2015, the prevalence of second-hand smoking exposure at home was 78.4 percent and more than half of second-hand smoking are vulnerable groups such as women and under-five children. Objective: The aim of this study was to examine the association of husband’s cigarette smoking exposure to LBW among mothers aged 15-57. Method: This study used secondary data from 5th Indonesia Family Life Survey (IFLS-5) in 2014 with cross-sectional design. The sample of this study was 1.599 women aged 15-57. Multivariate analysis was conducted using cox regression and backward elimination procedure model methods. Results: This study showed that 73.5 percent of husbands were cigarette smokers and the proportion of LBW was 7.5 percent. The exposure of husband’s cigarette smoking didn’t increase the risk of LBW after controlling for antenatal care visit variable (PR 1,096; 95% CI 0.721-1.66). Conclusion: Despite of statistical insignificance, the proportion of LBW among mothers who exposed with husband’s cigarette smoking is slightly higher than mothers with non-smoker’s husbands. Keywords: IFLS, low birth weight, second-hand smoking Abstrak Latar belakang: Di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) pada tahun 2013 yaitu 10,2 persen dan pada tahun 2018 sebesar 6,2 persen. Survei yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey tahun 2011 diperoleh hasil bahwa 67 persen laki-laki di Indonesia merokok. Sementara itu pada tahun 2011-2015 prevalensi perokok pasif yang terpapar asap rokok di rumah sekitar 78.4 persen, lebih dari separuh perokok pasif adalah kelompok rentan seperti perempuan dan balita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan paparan asap rokok dari suami pada wanita usia 15-57 tahun dengan kejadian BBLR. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross- sectional dengan data sekunder 5th Indonesia Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014. Sampel adalah 1.599 wanita 15-57 tahun. Analisis data mulitvariat menggunakan cox regression dan metode backward elimination procedures model. Hasil: Sebanyak 73,5 persen suami adalah perokok aktif dan proporsi bayi dengan berat lahir rendah sebesar 7,5 persen. Paparan asap rokok suami tidak meningkatkan risiko kejadian BBLR setelah dikontrol variabel kunjungan pemeriksaan kehamilan (PR 1,096; 95% CI 0,721-1,66). Kesimpulan: Proporsi kejadian BBLR pada ibu yang mempunyai suami perokok aktif sedikit lebih tinggi dari pada ibu yang mempunyai suami tidak merokok, meskipun menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna. Kata kunci: IFLS, BBLR, merokok pasif
STUDI EKSPLORASI PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI ANAK JALANAN DI RUMAH SINGGAH BINAAN PKPR PUSKESMAS JAKARTA TIMUR Faika Rachmawati; Kenti Friskarini; Lilian Nova susanty; Hendrik Edison; Rachmalina Prasodjo; sahat Manalu
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.2819

Abstract

Abstract Background: Lack of information and basic knowledge of reproductive health cause street children vulnerable to complex problems, one of which is risky sexual behavior. Reproductive health education is an effort to reduce negative impacts and to protect adolescents from the risk of unwanted pregnancy, abortion, sexually transmitted infections (STIs), HIV/AIDS and sexual violence Objective: This study aimed to explore the implementation and barriers of reproductive health education among street children at shelters under the program of PKPR in East Jakarta public health centers in DKI Jakarta Method: This research used qualitative methods. Data were collected by in-depth interviews. There were 20 research informants consisting of program stakeholders for street children and school-aged children health program at the central level, health offices, social services, public health centers, managers of shelters and street children assisted by shelters in East Jakarta. Results: Knowledge of reproductive health among street children was still poor. The implementation of reproductive health education carried out by PKPR in public health centers was still not optimal because it has not reached all street children at the shelter as well as the lack of trained health resources implementing PKPR trained. Conclusion: Efforts are needed to optimize reproductive health education among street children by strengthening commitment and building networks Keywords: reproductive health education, knowledge, PKPR, street children Abstrak Latar belakang: Kurangnya informasi dan pengetahuan dasar mengenai kesehatan reproduksi menyebabkan anak jalanan rentan terhadap permasalahan yang kompleks, salah satunya adalah perilaku seks berisiko. Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif serta melindungi remaja dari risiko kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi, Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS dan kekerasan seksual. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggali pelaksanaan dan hambatan pendidikan kesehatan reproduksi pada anak jalanan di rumah singgah binaan PKPR puskesmas wilayah Jakarta Timur di DKI Jakarta Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam. Informan penelitian berjumlah 20 orang yang terdiri dari pemegang program anak jalanan dan kesehatan usia remaja dan sekolah di tingkat pusat, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, puskesmas, pengelola rumah singgah dan anak jalanan binaan rumah singgah di Jakarta Timur. Hasil: Pengetahuan anak jalanan tentang kesehatan reproduksi masih kurang. Pelaksanaan pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan melalui program PKPR puskesmas masih belum maksimal karena belum menjangkau seluruh anak jalanan di rumah singgah serta kurangnya SDM kesehatan pelaksana PKPR yang terlatih. Kesimpulan: Diperlukan upaya untuk memaksimalkan pendidikan kesehatan reproduksi pada anak jalanan dengan memperkuat komitmen dan membangun jejaring Kata kunci: pendidikan kesehatan reproduksi, pengetahuan, PKPR, anak jalanan
PENGETAHUAN HIV/AIDS PADA REMAJA MELALUI METODE BIBLIOTHERAPI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DI PUSKESMAS PUGER JEMBER iis Rahmawati; Dini Kurniawati; Murtaqib Murtaqib
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.2977

Abstract

Abstract Background: HIV/AIDS cases are developing very rapidly throughout the world. The increase in cases of HIV/AIDS among adolescents is still related to the lack of knowledge of adolescents on HIV/AIDS. Objective: This study aimed to describe the knowledge of adolescents on HIV/AIDS through bibliotherapy methods based on sex to contribute to program planners and decision makers in selecting methods in informing HIV/AIDS knowledge. Method: The study design was quasi experimental. The study location is in the working area of Puger Public Health Center. The study was conducted in July-September 2019. The sample in this study was 44 adolescents consisting of 22 respondents of male adolescents’ group and 22 respondents of female adolescents’ group using purposive sampling technique with inclusion criteria namely adolescents living in the work area of Puger Public Health Center, aged 16-17 years, adolescent boys and girls who are willing to be respondents, having no obstacle in reading and in good health. The study instrument used was questionnaire of knowledge. Data analysis used Wilcoxon and Mann Whitney test with p-value <0.05. Results: The results of analysis showed significant differences before and after the therapy in the group of adolescent girls (p-value = 0.002) and adolescent boys (p-value = 0.043). Adolescent boys and girls both have an influence although the influence occurred was not as significant as those occurred in the group of adolescent girls. Conclusion: The method of bibliotherapy had an influence on increasing knowledge in both groups of adolescent girls and boys, yet more emphasis was found on adolescent girls, thus the bibliotherapy method is more effective if given to the groups of adolescent girls. Therefore, it is recommended to find a more appropriate method for groups of adolescent boys. Keywords: bibliotherapy, HIV/AIDS, adolescent girls, adolescent boys Abstrak Latar Belakang: Kasus HIV/AIDS berkembang sangat cepat di seluruh dunia. Peningkatan kasus HIV/AIDS di kalangan remaja berkaitan dengan masih rendahnya pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS melalui metode biblioterapi ditinjau jenis kelamin untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi para perencana program dan pengambil keputusan dalam memilih metode penyampaian mengenai pengetahuan HIV/AIDS. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi experiment. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Puger. Penelitian dilakukan pada Bulan Juli-September 2019. Sampel dalam penelitian ini adalah 44 orang remaja yang terdiri dari 22 responden kelompok remaja laki-laki dan 22 responden kelompok remaja perempuan, dengan teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu remaja tinggal di wilayah kerja Puskesmas Puger, berusia 16-17 tahun, remaja laki-laki dan perempuan yang bersedia menjadi responden, tidak memiliki hambatan dalam membaca serta dalam keadaan sehat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar kuesioner pengetahuan. Analisa data menggunakan uji Wilcocon dan Mann Whitney dengan p value <0,05. Hasil: Hasil analisis menunjukan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah terapi pada kelompok remaja perempuan (p-value=0,002) dan kelompok remaja laki-laki (p-value=0,043). Remaja laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki pengaruh tetapi pengaruh yang terjadi tidaklah sesignifikan pada kelompok remaja perempuan. Kesimpulan: Metode biblioterapi memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan baik pada kelompok remaja perempuan maupun remaja laki-laki, tetapi yang lebih memiliki pengaruh yaitu terhadap remaja perempuan, maka metode biblioterapi ini lebih efektif jika diberikan kepada kelompok remaja perempuan. Untuk itu disarankan agar mencari metode yang lebih tepat untuk kelompok remaja laki-laki. Kata kunci: biblioterapi, HIV/AIDS, remaja perempuan, remaja laki-laki
PERAN DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU GURU DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KABUPATEN SUBANG TAHUN 2019 Juariah Juariah; joko irianto irianto
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 1 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i1.3092

Abstract

Abstract Background: Teachers have an important role in providing reproductive health education for adolescents. Objective: To analyze the relationship of characteristics, training, knowledge, attitude, identities and school supports with teacher behavior in providing adolescent reproductive health education. Method: This study was an analytical research with cross-sectional design. The number of sampel were 71 schools that was determined by systematic random sampling. The number of respondents were 421 teachers. The independent variables were characteristics, training, knowledge, attitudes, identities and school supports. The dependent variable was teachers behavior in providing reproductive health education. Data were collected through interviews. The data were analyzed using Chi Square Test and multiple logistic regression. Result: Factors related to teacher behavior in providing adolescent reproductive health education were gender (OR: 1.64; 95% CI: 1.105-2.437), employment status (OR: 1.55 ; 95% CI: 1.03-2.34 ), training participation (OR:1.78; 95% CI: 1.210-2.623), knowledge (p: 0.000), attitude (OR: 5,81 ; 95% CI: 4.412-7.650), facilities (OR: 1749.52 ; 95% CI: 457.670-6688.005) and implementation (OR: 2008.95; 95% CI: 512.397-7876.487). The most dominant factors related to the teachers’ behavior in providing reproductive health education were facilities (OR: 110.49; 95% CI: 22.21-549.52) and implementation (OR: 139.28; 95% CI: 28.56- 679.30). Conclusion: Adequate support of learning facilites and aspects of implementation had major contribution to the behavior of teachers in providing reproductive health education. Keywords: teacher behavior, education, adolescent reproductive health Abstrak Latar belakang: Guru memiliki peranan penting dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik, pelatihan, pengetahuan, sikap, identitas dan dukungan sekolah dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan keehatan reproduksi remaja. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain potong lintang. Sampel ditetapkan dengan systematic random sampling berjumlah 71 sekolah. Responden berjumlah 421 orang guru. Variabel independen adalah karakteristik, pelatihan, pengetahuan, sikap, identitas dan dukungan sekolah. Variabel dependen adalah perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Data dikumpulkan melalui wawancara. Data dianalisis dengan uji Chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja adalah jenis kelamin (OR:1,64; 95% CI: 1,105-2,437), status kepegawaian (OR: 1,55 ; 95% CI: 1,03-2,34 ), keikutsertaan pelatihan (OR:1,78; 95% CI: 1,210-2,623), pengetahuan (p: 0,000), sikap (OR: 5,81 ; 95% CI: 4,412-7,650), sarana (OR: 1749,52 ; 95% CI: 457,670-6688,005) dan pelaksanaan (OR: 2008,95; 95% CI: 512,397-7876,487). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi adalah sarana (OR: 110,49; 95% CI: 22,21-549,52) dan pelaksanaan (OR: 139,28; 95% CI: 28,56- 679,30). Kesimpulan: Dukungan sarana pembelajaran yang memadai dan aspek pelaksanaan memiliki kontribusi utama terhadap perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Kata kunci: perilaku guru, pendidikan, kesehatan reproduksi remaja
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL SISWA SMP DI JAKARTA BARAT Fransisca Theresia; Francisca Tjhay; Surilena Surilena; Nelly Tina Widjaja
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3142.101-113

Abstract

Abstract Background: Inappropriate sexual behavior with negative attitudes and low knowledge can reduce the quality of life of adolescents. Risky sexual behavior increases the spread of sexually transmitted diseases and abortion. Objectives: To determine factors that influence sexual behavior of junior high school students in West Jakarta. Methods: The study design was a cross-sectional study in 541 junior high school students in West Jakarta. The study sample was junior high school students in West Jakarta who attend school from June to September 2019. The research instrument used was characteristic questionnaire, sexual knowledge questionnaire, sexual attitude questionnaire, sexual behavior questionnaire, Rosernberg Self-Esteem Scale questionnaire, and child care pattern questionnaire directly filled in by respondents. Data analysis performed was univariate, bivariate, and multivariate. The dependent variable of research is sexual behavior. Results: There were 48% of respondents with risky sexual behavior and 2% with unsafe risky sexual behavior, 79% of respondents have low sexual knowledge and 46% of respondents have negative sexual attitudes. There were 35% of respondents with low self-image and 26% with exposure parenting and 12% permissive parenting. Bivariate analysis showed that there was significant relationship between sexual behaviour and age, gender, class level, sexual knowledge, and sexual attitudes (p <0.05). Multivariate analysis showed a significant relationship between age, sex, class level, sexual knowledge, sexual attitudes and sexual behaviour (p <0.05). The dominant factor influencing sexual behavior was class level. Conclusion: Low knowledge, negative sexual attitudes, low self-image and exposure care patterns increase the risk of risky sexual behavior. Factors of sexual knowledge, sexual attitudes, age, sex, and class level can help to prevent risky sexual behaviour among junior high school adolescents. Keywords: Sexual knowledge, Sexual attitude, Sexual behavior, Self-image, Parenting. Abstrak Latar Belakang: Perilaku seksual yang tidak tepat dengan sikap negatif dan pengetahuan yang rendah dapat menurunkan kualitas hidup remaja. Perilaku seksual yang berisiko mengakibatkan peningkatkan penyebaran penyakit menular seksual dan aborsi. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual siswa SMP di Jakarta Barat. Metode: Desain penelitian ini adalah studi potong lintang pada 541 siswa SMP di Jakarta Barat. Sampel penelitian adalah siswa SMP Jakarta Barat yang bersekolah pada bulan Juni-September 2019. Instrumen penelitian yang digunakan merupakan kuesioner karakteristik, kuesioner pengetahuan seksual, kuesioner sikap seksual, kuesioner perilaku seksual, kuesioner Rosernberg Self-Esteem Scale, dan kuesioner pola asuh anak yang diisi langsung oleh responden. Analisis data yang dilakukan adalah secara univariat, bivariat, dan multivariat. Variabel dependen penelitian adalah perilaku seksual. Hasil: Empat puluh delapan persen responden memiliki perilaku seksual berisiko dan 2 persen berperilaku seksual berisiko tidak aman, 79 persen responden memiliki pengetahuan seksual rendah dan 46 persen responden memiliki sikap seksual negatif. Sebesar 35 persen responden memiliki citra diri rendah dan 26 persen memiliki tipe pola asuh exposure di antaranya 12 persen pola asuh tipe permisif. Analisis bivariat menunjukkan hubungan bermakna antara perilaku seksual dengan usia, jenis kelamin, tingkat kelas, pengetahuan seksual, dan sikap seksual (p£0,05). Analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara perilaku seksual dengan usia, jenis kelamin, tingkat kelas, pengetahuan seksual dan sikap seksual (p£0,05). Faktor dominan yang mempengaruhi perilaku seksual adalah tingkat kelas. Kesimpulan: Pengetahuan rendah, sikap seksual negatif, citra diri rendah dan pola asuh exposure meningkatkan risiko terjadinya perilaku seksual berisiko. Faktor pengetahuan seksual, sikap seksual, usia, jenis kelamin, dan tingkat kelas dapat membantu mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja SMP. Kata kunci: Pengetahuan seksual, Sikap-perilaku seksual negatif, Citra diri, Pola asuh, Remaja