cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2020): April 2020" : 11 Documents clear
Aspek Komunitas dan Institusi dalam Resiliensi Kampung Kota Yogyakarta Imelda I. Damanik; Bakti Setiawan; M. Sani Roychansyah; Sunyoto Usman
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.286 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p04

Abstract

Urban Kampung is an urban area with distinctive characters. The symbols as a poor, dense, and slum area, put the urban kampung as a high priority task for the government to solve. But besides that, the urban kampung demonstrates the capacity of the local community and institutions. Vulnerability aspects embedded with capacity aspects, build configuration that complements one to another, and build the distinctiveness in the context of resilience. As part of the urban area, urban kampung has to bring out its local resilience value to support urban resilience. This paper will provide an analysis of the resilience’s value by measuring the aspects of the communities and institutions of urban kampung in Yogyakarta. This research was conducted by distributing questionnaires that are compiled on a Likert scale in five urban kampungs in Yogyakarta City. The results are analyzed using the Principle Component Analysis (PCA), which will show the genetics distance and the relation between variables of the community aspects and the institutional aspects of the urban kampung. The PCA’s outcome of community and institutional aspects will be useful in designing public spaces in urban kampung as an effort to increase urban resiliency. Keywords: urban kampung; community; institution; resilience; principal component analysis Abstrak Kampung Kota adalah ruang perkotaan yang memiliki karakter yang khas. Simbol miskin, padat dan kumuh membentuk kampung kota menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah kota. Namun disamping itu, kampung kota hadir dengan kekuatan komunitas dan institusi lokalnya. Aspek-aspek pembentuk kerentanan (vulnerability) berdampingan dengan aspek-aspek pembentuk kapasitas (capacity), saling mengisi dan membentuk kekhasan dalam konteks resiliensi. Sebagai bagian dari wilayah perkotaan, kampung harus menunjukkan nilai seberapa resiliensi aspek-aspek tersebut. Tulisan ini akan memberikan telaah mengenai perhitungan nilai resiliensi aspek komunitas dan institusi kampung kota di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan menyebar kuestioner yang disusun dengan skala Likert di 5 kampung kota di Yogyakarta. Hasilnya kemudian akan dianalisis dengan Komponen Fundamental (Principal Component Analysis, PCA), yang akan menunjukkan jarak genetika dan relasi antara variabel aspek komunitas dan aspek institusi kampung kota. Temuan komponen fundamental aspek komunitas dan institusi akan bermanfaat dalam mendesain ruang publik dalam kampung kota dalam upaya peningkatan resiliensi kota. Kata kunci: kampung kota; komunitas; institusi; resiliensi; analisis komponen fundamental
Pengaruh Kegiatan Industri terhadap Spasial dan Sosial Ekonomi di Desa Tumbang Marikoi, Kec. Damang Batu, Kab. Gunung Mas Tari Budayanti Usop; Doddy Aditya Iskandar
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.215 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p09

Abstract

Explorative development produces various impacts that endanger the environment and human life. The impact occurred disturbed the awareness of the world community to be more sensitive and wise in their environmental management. Tumbang Marikoi village is one of the villages in Damang Batu sub-district, Gunung Mas regency. The condition of the village is in the upstream Kahayan river basin. The development of modernization and industrialization has led to changes in land use; the conversion of forest, bush, and swampland to oil palm plantations, and exploitation of gold mining land. This circumstance leads to the socio-economic changes in livelihoods and education levels, while aspects of environmental pollution occur in the river, air, and soil water. The purpose of this study is to examine the aspects of resilience and space in ecological principles due to the transformation that result from unsustainable development, so that the need for revitalization of living space values in Tumbang Marikoi Village, Damang Batu sub-district, Gunung Mas regency. A phenomenological qualitative research approach was employed in this research. Data collection used interviews and observations in the field. The results showed that spatial transformation affected the cultural life arrangements of the Dayak people, the occurrence of vulnerability towards the changes of where previously the forest was an “economic niche”, management, and the life cycle in the forest as a concept of resilience. Can Dayak people find and develop their cultural identity? Keywords: rural spatial; Dayak; resilience; identity Abstrak Pembangunan yang eksploratif menghasilkan berbagai dampak yang membahayakan lingkungan, dan kehidupan manusia. Dampak yang terjadi mengusik kesadaran masyarakat dunia untuk lebih peka, arif, bijak dalam tata kelola lingkungannya. Desa Tumbang Marikoi salah satu desa yang berada di Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, kondisi desa berada di daerah aliran Sungai Kahayan hulu. Adanya perkembangan modernisasi dan industrialisasi memberikan perubahan pada penggunaan lahan, yaitu adanya konversi lahan hutan, semak, dan rawa menjadi perkebunan kelapa sawit, dan eksploitasi lahan tambang emas. Kemudian secara sosial ekonomi perubahan mata pencaharian dan tingkat pendidikan, sedangkan aspek pencemaran lingkungan terjadinya pencemaran air sungai, udara, dan tanah. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji aspek kebertahanan (resilience) dan ruang dalam prinsip ekologi akibat transformasi yang terjadi sebagai dampak dari pembangunan yang tidak berkelanjutan, sehingga perlunya revitalisasi nilai-nilai ruang hidup di Desa Tumbang Marikoi Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas. Pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dengan menggunakan wawancara serta pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: transformasi ruang berpengaruh terhadap tata kehidupan budaya masyarakat Dayak, terjadinya kerentanan terhadap perubahan dimana sebelumnya hutan adalah “ceruk ekonomi”, manajemen, dan siklus hidup di hutan sebagai konsep ketahanan. Mampukah masyarakat Dayak menemukan dan mengembangkan jati diri budayanya? Kata kunci: tata ruang desa; Dayak; kebertahanan; jati diri
Detil Publikasi Made Swanendri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.548 KB)

Abstract

Perkembangan Tata Ruang Kota Juwana dan Peningkatan Ketahanan Budaya Lokal Menghadapi Globalisasi Naniek Widayati Priyomarsono; Rudy Surya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.39 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p05

Abstract

Juwana is a sub-district in the coastal area in the north of Java Island. It is a low land which traversed by Silugonggo, the biggest river in Pati Regency. Initially, the settlement and trading area were around the harbor and it was linear-shaped. Those events were the exodus of Chinese merchants who occupied the inland next to the focal point and the construction of Daendels’ post road from Anyer to Panarukan. The research method is qualitative with a grounded theory research strategy. The data was gained from observations and interviews with people who have roles in the community. The sociology perspective was comprehended using Giddens's Theory. This theory allowed the changes in Juwana’s urban space and considers this as local identity. In conclusion, the development pattern in the Juwana community created four types of urban space: 1) The initial urban space pattern which consisted the square as the focal point and the central power as well as the fishermen urban space pattern alongside Silugonggo and the harbor as the central business district; 2) The Chinese merchant's urban space pattern which located around the city center and linear with Pos/Pantura road; 3) The industrial urban space pattern; 4) Historical urban space pattern. Keywords: community development; urban space pattern; settlement Abstrak Juwana, kota kecamatan di pantai pesisir utara Pulau Jawa merupakan dataran rendah yang dilalui oleh sungai terbesar di Kabupaten Pati, yaitu Silugonggo. Pada awalnya permukiman dan perdagangan berada sepanjang Silugonggo sampai pelabuhan dengan bentuk linier. Kedatangan pedagang China yang menempati wilayah pedalaman berdampingan dengan pusat orientasi. Daendels membuat jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan. Perubahan tersebut mempengaruhi struktur dan pola ruang kota Juwana. Metode penelitian kualitatif dengan strategy grounded theory research. Data didapat dengan pengamatan dan wawancara terhadap aktor yang berperan dalam kehidupan masyarakat dalam kelompok tersebut. Pemahaman perspektif sosiologi masyarakat menggunakan Teori Giddens yang memungkinkan bisa mendapatkan perubahan pola tata ruang Kota Juwana sebagai suatu identitas dan kearifan lokal. Kesimpulan yang didapat adalah pola perkembangan masyarakat membentuk empat pola tata ruang Kota Juwana: 1) Pola tata ruang awal dengan pusat orientasi alun-alun sebagai pusat kekuasaan, serta pola tata ruang nelayan berada di sepanjang Silugonggo dan pelabuhan sebagai pusat orientasi bisnis, perkembangan berikut terjadi pola tata ruang yang mengelilingi pusat kekuasaan dan bisnis; 2) Pola permukiman China/pengusaha yang berada di sekeliling pusat kota dan linier dengan jalan Pos/Pantura; 3) Pola tata ruang industry; 4) Pola tata ruang yang memiliki nilai kesejarahan. Kata kunci: perkembangan masyarakat; pola tata ruang; permukiman
Menjaga Keberlanjutan Kampung Adat Melalui Pemberdayaan Penenun di Kampung Anajiaka, Kab. Sumba Tengah . Wiyatiningsih; Kristian Oentoro
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.75 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p10

Abstract

The study discusses the effort to maintain the sustainability of a traditional kampung through empowering weavers in Kampung Anajiaka, Sumba Tengah Regency. The number of weavers is decreasing. This is in line with the lack of weaving skills which inhibits the development of weaving motifs as a local identity. Indeed, woven clothes have deep cultural meanings. They are not only used for everyday wear, but also for ritual ceremonies. With time, woven clothes making become a livelihood for the community of Kampung Anajiaka. This work replaces farming that is absolutely depending on the rain. Based on the problems, the study aims at mapping the potentials of weavers and their role in the sustainability of Kampung Anajiaka. The study applies a descriptive – qualitative research method collecting data through field observation and interviews with the weavers. The study was done in Kampung Anajiaka consisting of 14 Sumbanese traditional houses surrounding megalithic toms. The study result shows that empowering weavers improves living environment quality. This can be seen from the mutual relationship system in the development of weaving skills of the weavers and the providing of working space and types of equipment for weaving. The improvement of living environment quality will contribute to the sustainability of the traditional kampung. Keywords: empowering; Sumba Tengah Regency; sustainability; traditional kampung; the weaver Abstrak Studi ini membahas upaya untuk menjaga keberlanjutan kampung adat melalui pemberdayaan penenun di Kampung Anajiaka, Kabupaten Sumba Tengah. Jumlah penenun yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga semakin menurun saat ini. Sedikitnya jumlah penenun seiring dengan minimnya ketrampilan menenun yang menghalangi pengembangan motif tenun sebagai identitas lokal. Padahal, tenun memiliki makna kultural yang dalam bagi masyarakat Sumba. Tenun merupakan bagian dari perlengkapan budaya yang tidak hanya dipergunakan untuk pakaian sehari-hari, namun juga untuk upacara-upacara adat. Pada perkembangannya, menenun dapat menjadi sumber pendapatan keluarga bagi masyarakat Kampung Anajiaka. Pekerjaan ini menggantikan pekerjaan bertani yang sangat tergantung pada hujan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka studi ini bertujuan untuk memetakan potensi penenun dan perannya terhadap keberlanjutan kampung adat Anajiaka. Studi ini menerapkan metode penelitian deskriptif – kualitatif yang mengumpulkan data melalui observasi lapangan dan wawancara terhadap penenun. Studi dilakukan di Kampung Adat Anajiaka yang terdiri dari 14 rumah tradisional yang diletakkan mengelilingi batu kubur megalitik. Hasil studi menunjukkan bahwa pemberdayaan penenun berdampak pada peningkatan kualitas lingkungan hunian. Hal ini terlihat melalui sistem gotong royong dalam peningkatan ketrampilan menenun dari penenun dan penyediaan ruang kerja dan peralatan menenun. Meningkatnya kualitas lingkungan hunian akan berkontribusi terhadap keberlanjutan kampung adat. Kata kunci: pemberdayaan; Kabupaten Sumba Tengah; keberlanjutan; kampung adat; penenun
Editorial: Getting Arround Alexander R. Cuthbert
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.878 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p01

Abstract

-
Imah Panggung Arsitektur Sunda sebagai Model Desain Rumah Ramah Banjir di Jawa Barat . Nuryanto; R. Irawan Surasetja; Dadang Ahdiat
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1192.118 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p06

Abstract

West Java Province is one of the provinces in Indonesia which is very prone to flood. In its strategic plan, The Provincial Government with Ministry of Public Works has made a retention pool in Baleendah Sub-District, Bandung District. Since 2017, the pool with the total area of ??6.9 Ha turned out to be only 5.7 Ha of which are used to accommodate water runoff from The Citarum River, and the rest is used as restoration land. However, the retention pool has not been able to accommodate the overflowing water, as a result, the flood continued to occur and became an annual subscription for society in Baleendah. This condition is the background of this research. The research is conducted using the descriptive-qualitative approach, by observing and digging up information about the conditions of houses in the research location those are often flooded. This study found a model of flood-friendly houses with the concept of local wisdom of Sundanese traditional architecture. The results of the study are: 1) The concept of a flood-friendly house with a Sundanese traditional architecture approach in the form of imah panggung; 2) A flood-friendly house design which includes: house plan, house façade design, roof model design, and structure-construction design based on the local wisdom of Sundanese traditional architecture; 3) Maquette as a model of the flood-friendly house for The Cieunteung village society. These results of the study were proposed by the local government in the effort to anticipate the bigger impact of flood, beside the main response to the existence of a retention pool. Keywords: home design model; friendly to floods; Sundanese traditional architecture Abstrak Provinsi Jawa Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang sangat rawan terjadinya bencana banjir. Dalam rencana strategisnya, pemerintah provinsi bersama Kementerian Pekerjaan Umum telah membuat kolam retensi di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Sejak tahun 2017, kolam dengan luas total 6,9 Ha itu ternyata hanya 5,7 Ha diantaranya yang difungsikan untuk menampung limpasan air dari Sungai Citarum dan sisanya dimanfaatkan sebagai lahan restorasi. Kolam retensi tersebut ternyata tetap saja tidak mampu menampung luapan air yang banyak, akibatnya banjir tetap terjadi dan menjadi langganan tahunan bagi masyarakat di Baleendah. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini. Metoda penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, dengan cara mengobservasi dan menggali informasi tentang kondisi rumah-rumah penduduk di lokasi penelitian yang sering terendam banjir. Penelitian ini menemukan model rumah yang ramah terhadap banjir dengan konsep kearifan lokal arsitektur tradisional Sunda. Hasil penelitian berupa: 1) Konsep rumah ramah banjir dengan pendekatan arsitektur tradisional Sunda berupa imah panggung; 2) Desain rumah yang ramah terhadap banjir yang meliputi: rancangan denah lantai rumah, rancangan bentuk tampak rumah, rancangan model atap rumah, dan rancangan struktur-konstruksi rumah yang bersumber pada kearifan lokal arsitektur tradisional Sunda; 3) Maket sebagai model rumah ramah banjir bagi masyarakat Kampung Cieunteung. Hasi-hasil tersebut menjadi usulan bagi pemerintah setempat dalam upaya antisipasi dampak banjir yang lebih luas lagi, disamping keberadaan kolam retensi sebagai penanggulangan utamanya. Kata kunci: model desain rumah; ramah terhadap banjir; arsitektur tradisional Sunda
Teknik Tradisional pada Struktur Rumah Panggung di Kabupaten Bima untuk Ketahanan terhadap Gempa Agus Dwi Hariyanto; Sugeng Triyadi; Andry Widyowijatnoko
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.042 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p02

Abstract

This study aims to identify the structural system of stilt houses in Mbawa Village and their connection between elements that support earthquake resistance. Field observations were used to observe the system, form, and building materials. They were mainly conducted on local structural systems and construction as a critical part of the building to anticipate seismic force. The connections between post and beam and the logic of structural loading interpretation are carried out. The research found some unique detail and system to respond to the seismic load. The local technique of pa’a and ceko, which developed empirically by communities during centuries can reduce the vulnerability of their houses.. Keywords: structural system; wooden joint; stilt house; seismic load Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem struktural rumah panggung di Desa Mbawa dan hubungan antar elemen yang mendukung ketahanannya terhadap gempa. Observasi lapangan digunakan untuk mengamati sistem struktur dan konstruksi lokal, yaitu hubungan antar elemen sebagai bagian utama dari bangunan untuk mengantisipasi beban gempa. Interpretasi hubungan antar elemen struktur dan logika pembebanan struktur dilakukan. Beberapa hubungan elemen struktur yang unik untuk merespons beban gempa ditemukan. Teknik struktur lokal, yaitu pa’a dan ceko pada rumah panggung yang dikembangkan secara empiris oleh masyarakat selama bertahun-tahun dapat mengurangi kerentanan rumah mereka terhadap gempa. Kata kunci: sistem struktur; sambungan kayu; rumah panggung; beban gempa
Bentuk dan Makna Simbolik Ragam Hias pada Masjid Sunan Giri Rizal Wahyu Bagas Pradana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.906 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p07

Abstract

Sunan Giri Mosque is one of the ancient Javanese mosques which was built in the time of Walisongo. Sunan Giri Mosque building has its own uniqueness in its ornament. This uniqueness is rarely found in other mosques in general. This study aims to describe the various ornaments and symbolic meanings found in the Sunan Giri Mosque. This research uses descriptive qualitative research methods. Research data obtained through observation, interviews, documentation, and literature study. Data analysis with data reduction, data presentation, and concluding. Meanwhile, to obtain data validity, using data triangulation and review informants. The results showed the ornament at the Sunan Giri Mosque was influenced by Javanese, Hindu, and Islamic culture. The decoration in the Sunan Giri Mosque takes pre-Islamic elements and is processed, adjusted to the rules contained in the Islamic religion. The ornament in the Sunan Giri Mosque can be grouped into several motives: lung-lungan, patran, padma, tlacapan, saton, kebenan, garuda, praba and surya majapahit motifs. Aside from its role as building decoration, ornament in the Sunan Giri Mosque has symbolic meaning in it. The symbolic meaning is addressed to the Muslims who worship in the mosque. This symbolic meaning contains symbols about noble teachings in Islam, and hopes to Allah SWT. Keywords: architecture; ornament; symbolic meaning; Sunan Giri Mosque Abstrak Masjid Sunan Giri merupakan salah satu masjid kuno Jawa yang dibangun pada zaman walisongo. Bangunan Masjid Sunan Giri memiliki keunikan tersendiri pada ragam hiasnya. Keunikan tersebut jarang ditemui pada masjid-masjid lain pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ragam hias dan makna simboliknya yang terdapat di Masjid Sunan Giri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mendapatkan kevalidan data, menggunakan triangulasi data dan informan review. Hasil penelitian menunjukkan ragam hias di Masjid Sunan Giri dipengaruhi oleh budaya Jawa, Hindu, dan Islam. Ragam hias di Masjid Sunan Giri menggambil unsur-unsur pra Islam dan diolah, disesuaikan dengan aturan-aturan yang terdapat dalam agama Islam. Ragam hias di Masjid Sunan Giri dapat dikelompokkan menjadi beberapa motif: motif lung-lungan, patran, padma, tlacapan, saton, kebenan, garuda, praba dan surya majapahit. Selain berperan sebagai penghias bangunan, ragam hias di Masjid Sunan Giri memiliki makna simbolik di dalamnya. Makna simbolik tersebut ditujukkan kepada kaum muslimin yang beribadah di dalam masjid. Makna simbolik ini berisi simbol tentang ajaran-ajaran luhur dalam agama Islam, dan harapan-harapan kepada Allah SWT. Kata kunci: arsitektur; ragam hias; makna simbolik; Masjid Sunan Giri
Strategi Penataan Kawasan Pemukiman Kumuh dengan Penerapan Kampung Warna di Bantaran Krueng Dhoe Dyah Erti Idawati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.321 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p03

Abstract

Krueng Aceh is the biggest river that divides Banda Aceh. Krueng Aceh has been contributed to the development of the city. Like many other rivers in Indonesia, the growth of illegal settlements along the riverbank has also been grown rapidly and been contributed to the slum condition in Banda Aceh. Settlements along the banks of Krueng Dhoe, Kerinci Hamlet, Seutui, Banda Aceh are included in the slum category. Therefore the “Kampung Warna” program can be a solution for managing the face of the Krueng Dhoe settlement. This activity uses the Quadruple Helix collaboration concept or known as ABCG elements (Academic, Business, Community and Government), namely Higher Education Institutions in Banda Aceh, the community, PKK Aceh Mobilization Team, Banda Aceh and Gampong City, Banda Aceh City Government, and KOTAKU (City Without Slums). This study aims to investigate the impact of environmental improvement on the quality of life of the community. It is expected that with this program, the impression of slums on the banks of Krueng Dhoe can be changed to become more beautiful, neat, and clean so that this location can become a tourist attraction that can generate income for the local community. This study utilized a qualitative approach with descriptive analysis. In this case, the method is more technical. Data collection techniques used are observation, interviews, and documents. Changes in the environment are becoming a more beautiful, neat, and organized community spirit to maintain the cleanliness of the house, the environment, and the river. The mutual self-help developed during the process of gampong’s improvement has been spread around and copied by the nearby neighborhoods. Keywords: slum; Krueng Dhoe riverbank; colorfully painted village Abstrak Krueng Aceh adalah sungai terbesar yang membelah Kota Banda Aceh. Krueng Aceh ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi tumbuh dan berkembangnya Kota Banda Aceh. Sebagaimana kondisi sungai di wilayah Indonesia, Krueng Aceh tidak luput dari tumbuhnya permukiman illegal di sepanjang bantarannya yang cenderung berkontribusi terhadap kekumuhan Kota Banda Aceh. Kampung warna dapat menjadi solusi untuk menata wajah permukiman Krueng Dhoe. Kegiatan ini menggunakan konsep kolaborasi Quadruple Helix atau yang dikenal dengan unsur ABCG (Academic, Business, Community dan Government) yaitu Institusi Perguruan Tinggi di Banda Aceh, masyarakat, Tim Penggerak PKK Aceh, Kota Banda Aceh maupun Gampong, Pemerintah Kota Banda Aceh, serta KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana pengaruh perubahan lingkungan permukiman di sepanjang sungai menjadi gampong warna-warni terhadap kualitas hidup masyarakat yang tinggal disana. Diharapkan dengan adanya program ini kesan kumuh di bantaran Krueng Dhoe dapat berubah menjadi lebih indah, rapi, dan bersih sehingga lokasi ini bisa menjadi objek wisata yang nantinya dapat mempengaruhi pendapatan masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan data secara deskriptif. Dalam hal ini metode lebih bersifat teknis pelaksanaan lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumen. Perubahan Lingkungan yang menjadi lebih indah, rapi dan tertata memicu semangat masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah, lingkungan dan sungainya. Perubahan lingkungan dengan cara gotong-royong juga memotivasi masyarakat di gampong lain untuk mempercantik gampong mereka. Kata Kunci: kawasan kumuh; bantaran Krueng Dhoe; gampong warna-warni

Page 1 of 2 | Total Record : 11