cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN DENPASAR BARAT Desak Made Sukma Widiyani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.843 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p03

Abstract

Abstract The Mayor of Denpasar has designated 35 slum areas, nine being located in the most populous area of West Denpasar, with the provision of infrastructure remaining a critical issue. The following research had two objectives. First, to identify current conditions in existing problem areas. Second, to expose the underlying determinants affecting current provision. Three case studies are undertaken using qualitative research strategies in (i) Dauh Puri Kauh Village; (ii) Tegal Kertha Village; (iii) and Pemecutan Kelod Village. Four types of infrastructure require an urgent attention - road networks, fresh water, waste material, and latrine facilities. Natural, artificial, and social factors are identified that affect the condition and provision of infrastructure, with the potential to inform future government strategy in regard to slum environments. Key words: Slums, slums infrastructure Abstrak Sembilan dari 35 titik kumuh yang ditentukan oleh Bapak Walikota Denpasar beralokasikan di Denpasar Barat. Keterbatasan pengadaan infrastruktur merupakan permasalahan krusial bagi permukiman informal ini. Ada memiliki dua tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan studi ini. Pertama, mengkaji permasalahan yang ada. Kedua, menstudi faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pengadaannya. Dengan mengimplementasikan pendekatan serta metode penelitian kualitatif, tiga titik kumuh  telah dipilih sebagai studi kasus, termasuk yang berlokasikan di (i) Desa Dauh Puri Kauh; (ii) Desa Tegal Kertha; dan (iii) Desa Pemecutan Kelod. Terdapat empat wujud infrastruktur yang harus memperolah perhatikan secara cepat, yaitu: pembangunan jaringan jalan, pengadaan air bersih, penanganan limbah, dan keberadaan fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK). Kondisi ini dipengaruhi oleh beragam faktor yang dikategorisasikan menjadi faktor alam, buatan, dan sosial. Diharapkan agar hasil studi ini bisa dijadikan masukan bagi beragam usaha yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan permukiman kumuh. Kata kunci: Permukiman kumuh, infrastruktur permukiman kumuh
Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah sebagai Upaya Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) di Kota Denpasar I Gusti Agung Adi Wiraguna; Ngakan Putu Sueca; I Made Adhika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.812 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p07

Abstract

An escalating need for space in a growing city has placed urban agricultural land a target for conversion. This is often done to accommodate the need for housing and commercial development. Many cities in Asia agricultural land comes in the form of rice paddy field and is treated as the main component of urban open space. In this position, the paddy field possesses important environmental, aesthetical, social, and economical values. Realizing this conditin, Local Government for Denpasar for instance, requires 30% of its total area dedicated for urban open space. But a statistical data for this city shows a average decrease of 31.86% of farming land annually. A record for year 2010 demonstrates 2.632 hectare of farmed land available accross the city. This figure droped into 2.409 hectare in 2017. This study aims to determine fundamental factors determining the conversion of agricultural land in Denpasar. It is conducted using a mixed of qualitative and quantitative method. The study reveals the important roles held by various parties involved including government, community, private sector and social institutions, in directing the conversion of agricultural land. This involves a three stages decision making process: planning, organization, and incentive provision. Planning stage is excecuted by stipulating a spatial planning that protects the sustainability of the agricultural zone. Management method is done by developing a Subak Lestari Zone. On top of these two stages, owners of agriclutural lands will also be given incentives in the forms of subsidized fertilizers to ease the cost of farming activities. The proposed methods are to be excecuted based on community participation concept. Keywords: spatial conversion, urban open space, land use control Abstrak Perkembangan suatu kota memberikan implikasi pada tingginya pemanfaatan ruang kota. Kebutuhan lahan yang meningkat berdampak terhadap munculnnya alih fungsi lahan terutama lahan sawah. Luas lahan sawah yang terus menurun berpengaruh terhadap proses penataan ruang kota. Lahan sawah merupakan salah satu bagian ruang terbuka hijau skala kota. Proporsi ruang terbuka hijau minimum adalah 30% dari luas wilayah kota. Luas lahan sawah di Kota Denpasar mengalami penurunan rata-rata sebesar 31,86 Ha setiap tahunnya. Luas lahan sawah tahun 2010 yaitu 2.632 Ha mengalami penyusutan menjadi 2.409 Ha di tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengendalian alih fungsi lahan sawah di Kota Denpasar. Penelitian ini mengunakan metode penelitian yang menggabungkan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menyimpulkan pentingnya eksistensi pemerintah, masyarakat, sektor swasta dan lembaga sosial melakukan intervensi terhadap faktor-faktor penyebab terjadinya alih fungsi lahan sawah. Pengambilan kebijakan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu peraturan, pengelolaan dan pemberian insentif. Pendekatan melalui peraturan secara umum diterapkan pemerintah melalui penetapan rencana tata ruang wilayah. Pendekatan melalui pengelolaan dilakukan dengan pembentukan kawasan subak lestari sebagai bagian dari lahan pertanian pangan berkelanjutan. Pendekatan melalui pemberian insentif dilakukan dengan salah satunya melalui pemberian subsisi pupuk kepada para petani. Bentuk pengendalian lainnya dilakukan dengan pendekatan yang berbasis partisipasi masyarakat. Kata kunci: alih fungsi lahan sawah, pengendalian, ruang terbuka hijau kota
Evaluasi Prinsip Smart Mobility dan Smart Living pada Kampung Jetisharjo Yogyakarta Sita Yuliastuti Amijaya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.468 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p08

Abstract

The idea of a smart city is identical to put ICT as the key to success. However, the smart-city practice depends on some aspects which build the success of urban development. The smart infrastructure aims to provide services to citizens more effectively, efficiently, and affordably. This study examines smart- mobility and life criteria shown by an urban-village. Jetisharjo village is located in Yogyakarta City that is moving increasingly to respond to city development. A qualitative method with a descriptive approach was chosen in this study and aims to find out the efforts or strategies in applying the principle of smart city, specifically smart mobility and smart living; which was found in the life of a township in Yogyakarta. Findings show that smart mobility and living concepts in the urban-village context can be traced through innovations and strategies they made, such as providing green space, improving road access to respond to emergencies, self-managed clean water sources, and communal toilet. These efforts and strategies aim to improve the quality of its environment, community waste management, and security from a flood. The innovative strategies are developed to approach further steps in supporting the implementation of smart urban kampung in Jetisharjo Village. Keywords: smart city; urban village; environmental quality; smart mobility; smart living Abstrak Gagasan utama kota cerdas identik dengan memposisikan aspek TIK sebagai kunci keberhasilan, namun sebenarnya penerapan konsep kota cerdas sangat tergantung pada aspek-aspek lain yang turut membentuk keberhasilan pembangunan perkotaan. Pengembangan infrastruktur cerdas bertujuan untuk memberikan layanan kepada warga secara lebih efektif, efisien dan terjangkau. Penelitian ini mengkaji tentang kriteria kecerdasan mobilitas dan kehidupan cerdas yang ditunjukkan sebuah kampung. Kampung Jetisharjo merupakan salah satu kampung yang terletak di Kota Yogyakarta yang bergerak semakin aktif untuk merespon perkembangan kota. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dipilih pada penelitian ini dan bertujuan untuk mengetahui upaya atau strategi penerapan prinsip smart city, khususnya smart mobility dan smart living; yang ditemukan pada kehidupan perkampungan kota di Yogyakarta. Temuan menunjukkan bahwa konsep smart mobility dan living pada konteks kampung dapat dilacak jejak-jejaknya melalui inovasi dan strategi, seperti penyediaan ruang hijau, perbaikan akses jalan untuk merespon situasi kegawat daruratan, penyediaan mandiri sumber air bersih serta pengelolaan fasilitas kamar mandi dan wc komunitas. Kesimpulannya adalah upaya dan strategi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan, pengelolaan sampah komunitas serta meningkatkan keamanan permukiman dari banjir. Strategi-strategi lokal yang inovatif tersebut merupakan upaya pendekatan inisiatif lebih lanjut yang mendukung implementasi konsep kota cerdas di Kampung Jetisharjo. Kata kunci: kota cerdas; kampung kota; kualitas lingkungan; kecerdasan mobilitas; kehidupan yang cerdas
PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI SEKITAR PUSPEM BADUNG I Ketut Suartha Suartha
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.502 KB)

Abstract

Abstract The study suggests the major factors that play an important role in housing developments that surround the civic centre of Badung Regency. Four urban villages are involved: Sempidi, Sading, Lukluk, and Abianbase. Qualitative research analyses housing growth, whereas field data is processed with SPSS (Statistical Program for Social Science). The study evaluates private housing development prior to the availability of facilities and infrastructure. Field data are scored and analysed by the Likert Scale to refine determining factors. Results show that those factors are: (1) the availability of housing facilities and infrastructure as dominant (69.17%); (2) the availability of accessibility (58.06%); (3) economic value of land and housing (42.22%); and (4) social factors, including comfort and privacy of homes (39.72%). Keywords: housing development, significant factors, civic centre Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengetahui sejumlah faktor yang berperan pada pembangunan perumahan di sekitar kawasan yang meliputi meliputi Kelurahan Sempidi, Kelurahan Sading, Kelurahan Lukluk, dan Kelurahan Abianbase. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk memaparkan pertumbuhan wilayah dan kecenderungan pola pertumbuhan perumahan. Data juga diolah dengan program SPSS (Statistical Program for Social Science). Studi diawali dengan tahapan evaluasi perkembangan pembangunan perumahan yang dibangun oleh pengembang, dan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. Analisis data dilakukan dengan skoring dan pembobotan memakai skala Likert untuk mendapatkan faktor yang berpengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada pembangunan perumahan di kawasan tersebut adalah (1) faktor ketersediaan sarana dan prasarana perumahan menjadi pertimbangan utama atau faktor dominan (69,17%), (2) faktor ketersediaan aksesibilitas (58,06%), (3) faktor nilai ekonomis lahan dan perumahan (42,22 %), dan (4) faktor sosial berupa kenyamanan dan privasi perumahan (39,72 %). Kata kunci: pembangunan perumahan, faktor perkembangan, pusat pemerintahan.
Fenomena Media Periklanan terhadap Citra Kota Denpasar, Studi Kasus di Beberapa Persimpangan Jalan Utama Kota Denpasar I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Putra; Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.739 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i02.p03

Abstract

This study examines interferences brought by the placement of advertising elements on a public sphere. Since areas surrounding major road intersections are the most favored venues for advertisers and their advertisements, the study selects such areas exist across Denpasar City (Bali) as case studies. This research is designed to meet three goals. First is to pinpoint as to how intersections have been utilized as venues for advertising purposes. Second is to analyze various predicaments following the employment of a public spheres as a settings for advertisements. This analysis focuses on functional and regulatory concerns. Third is to develop alternative methods for future accommodation of advertisements, thus they will caused the least interruptions to the quality of spaces, the wider functions and roles of the public spheres, as well as having the slightest likelihood to ruin the image of a city as a whole. The study implements qualitative research approaches, supported by 22 sets of thorough photographic documentation recording advertisements surveyed at five different road intersections. The study construes that the consented acts to use intersections for advertising related purposes does not go in line with the formation of culturally friendly city, the image that Denpasar intends to be associated with. This message becomes the main consideration in instigating alternative methods for future accommodation of advertisements in an urban area, such as Denpasar. Keywords: advertisement, intersection, culture, public space
POLA PERKEMBANGAN PERMUKIMAN NELAYAN DI DUSUN UJUNG PESISI DESA TUMBU, KARANGASEM I Komang Dody Kastama Yasa
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.401 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i03.p06

Abstract

This is a study of a post natural disaster fishing settlement of Ujung Neighborhood in Karangasem Regency on the eastern coast of Bali Island. This settlement was badly hit by the eruption of Mount Agung in 1963. It was then also eroded by significant storms and resultant erosion abrasions over three years from 1997 up to 1999. The study is designed to comprehend the spatial changes that this fishing settlement has been through which have resulted in the development of a currently existing and unique spatial layout. Data used in this study represent spatial changes taking place from 1950 to 2015 when the field survey was conducted. The whole study was approached using qualitative research methods. Research findings have uncovered two prominent spatial patterns. The first is a linear settlement form stretching along the Ujung coastal line and the second a linear and clustered form of spatial pattern demonstrated by Ujung's mainland settlement. The linear part is oriented towards Seraya-Karangasem road and the clustered pattern takes place in the western part of the neighborhood where social infrastructures are concentrated. These include the facilities of an elementary school, madrasah (Muslim school), and mosque. The study concludes that the development of a post disaster village has followed a mixed spatial pattern for reasons predominantly generated from natural conditions. Keywords: spatial pattern; post-disaster development; fishing settlement Abstrak Studi ini merupakan suatu kajian pasca bencana pada permukiman nelayan di Dusun Ujung Pesisi, Kabupaten Karangsem. Ruang permukiman nelayan Dusun Ujung Pesisi berkembang sejak bencana meletusnya Gunung Agung tahun 1963 dan abrasi pantai pada tahun 1997 sampai 1999. Paper ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola perkembangan permukiman nelayan yang terjadi di Dusun Ujung Pesisi dari tahun 1950-2015. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui studi literatur, grandtour, observasi, wawancara, dan rekonstruksi. Hasil temuan yang ada dilapangan menunjukkan bahwa terdapat dua pola permukiman nelayan di Dusun Ujung Pesisi. Temuan pertama adalah terbentuknya pola linier di sepanjang garis pantai Ujung dan temuan kedua adalah pola linier dan pola cluster di sepanjang daratan Ujung. Pola linier berorientasi ke jalan raya Seraya-Karangasem dan pola cluster berada di sisi barat permukiman. Ini meliputi fasilitas-fasilitas sekolah dasar, madrasah, dan masjid. Kesimpulan dari studi adalah bahwa karena kondisi alam, pembangunan pasca bencana juga diikuti oleh pembentukan permukiman nelayan dengan kombinasi pola-pola ruang yang sudah ada sebelumnya.
SISTEM SPASIAL DAN TIPOLOGI RUMAH PANGGUNG DI DESA LOLOAN, JEMBRANA (BALI) Dinar Sukma Pramesti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.312 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i01.p06

Abstract

Abstract Loloan is one of many unique villages located across the Jembrana Regency (Bali). Historically this community is descended from the Bugis ethnicity who sailed from Celebes Island to Bali. It is believed they were the first Muslim missionaries to spread Islamic beliefs on the island. Their arrival was acknowledged by the King of Jembrana who then provided them with land to settle. They populated this newly formed settlement with Bugis style's stilt houses, an unfamiliar form of home to the Balinese. The community has over time developed a distinctive living environment, extending the Bugis traditions. Given different resources as well as other natural circumstances compared to those found back home in Bugis, the Loloan community developed a range of stilt houses. The objective of this paper is to study the typology of stilt houses existing in this community, and the underlying factors determining their physical forms. The study was conducted using qualitative methods. The analysis was carried out by examining the spatial structure and architectural forms at both macro (settlement) and micro (houses) levels. Data collection was done by carrying out a literature study, interviews and physical observation. Research findings show there are four types of stilt houses in the Loloan community. Determining factors behind the emergence of this typology include socio cultural aspects, economic conditions, activities of the inhabitants, communal interactions taking place in the domestic sphere, building age, land availability and preferences of individuals living in the house. Key words: typhology, stilt house, spatial structure, house form AbstrakLoloan merupakan salah satu dari beragam komunitas unik yang ada di Kabupaten Jembrana. Secara historis, Komunitas Loloan berasal dari Bugis yang berlayar dari Pulau Sulawesi ke Bali. Mereka dipercaya sebagai penyebar Agama Islam pertama yang datang ke Bali. Raja Jembrana pada waktu itu menyambut kedatangan mereka dengan memberi sebuah area untuk bermukim di Loloan. Mereka membangun beragam rumah panggung gaya Bugis, sebuah struktur yang tidak lazim ada di beragam permukiman di Bali. Seiring waktu, komunitas Loloan memunculkan sebuah permukiman yang berbeda. Karena adanya perbedaan sumber daya pendukung dan kondisi hidup dibanding dengan yang mereka temukan di Bugis, masyarakat Loloan telah memunculkan beragam bentuk rumah panggung. Tujuan artikel ini adalah menstudi tipologi wujud rumah panggung di Loloan beserta faktor-faktor yang menentukan keberadaannya. Studi ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisa dilakukan terhadap struktur spasial dan bentuk arsitektur, baik yang ada di leval makro (permukiman) maupun mikro (rumah). Data pendukung diperoleh melalui studi literatur, wawancara dan observasi fisik. Temuan studi menunjukan bahwa terdapat empat tipe rumah panggung di Loloan. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi kemunculan tipe rumah ini melingkup aspek sosial budaya, ekonomi, aktivitas penghuni, umur dan kondisi bangunan, interaksi komunal, ketersediaan lahan, dan preferensi individu yang tinggal di dalamnya. Kata kunci: tipologi, rumah panggung, struktur ruang, bentuk arsitektur
Identifikasi Kriteria Perancangan ‘Eks Palaguna’ di CBD Kota Bandung Berdasarkan Identitas Kota melalui Sense of Place Angela Upitya Paramitasari; Witanti Nur Utami; Aria Adrian
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1858.205 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p07

Abstract

Lahan ‘Eks Palaguna’ awalnya merupakan mall pertama di Kota Bandung, namun saat ini sudah tidak lagi menjadi fungsi mall diakibatkan tidak mampu bersaing dengan pusat kegiatan lain di Kota Bandung. Saat ini, mall tersebut sudah dihancurkan sejak akhir tahun 2014 dan aktivitas yang ada hanya sebagai lahan parkir kendaraan, berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya yang mana fungsi yang ada dapat memberikan gambaran ruang sekaligus identitas bagi setiap orang ketika sedang berada di pusat kota. Sebagai upaya untuk menciptakan kembali identitasnya sebagai bagian dari objek dan fungsi ruang pusat Kota Bandung, maka dilakukan penelitian ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum ditemukannya aspek dan kriteria yang seharusnya dipertimbangkan mengenai pembangunan ‘Eks Palaguna’ berdasarkan identitas kotanya. Tujuan penulisan ini adalah mencari aspek dan kriteria yang perlu dipertimbangkan bagi pengembangan lahan ‘Eks Palaguna’ sebagai dasar perencanaan dan perancangan ‘Eks Palaguna’ yang tepat fungsi dan penggunaanya, sesuai dengan identitas kota yang dimiliki melalui sense of place. Metode yang digunakan di dalam penulisan adalah metode kualitatif dengan analisis case study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kriteria dari masing-masing aspek perancangan sense of place pada lahan ‘Eks Palaguna’ yaitu berkaitan dengan aspek bentuk, aktivitas, dan gambaran ruang. Kata kunci: eks palaguna, mall, sense of place, identitas
TATA SPASIAL PERMUKIMAN TRADISIONAL MANGGARAI BERDASAR RITUAL PENTI DI KAMPUNG WAE REBO DI PULAU FLORES Mohammad Raditya Perdana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1110.741 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i02.p06

Abstract

In the Lesser Sunda Islands of the Indonesian Republic a Kampung is located in Flores Island. It is called Kampung Wae Rebo and constitutes the focus of this paper. Here the formation of traditional settlements with their ritual practices has a dominant role. Here, culture is the determining factor that shapes the living environment. The Manggarai ethnic group who live in Wae Rebo is well known for their enduring perpetuation of tradition. One such tradition is selected for in-depth study - that of the annual ceremony of penti. This takes the form of a giant ritual pertaining to the agricultural life of the community. Here a series of activities relating to this ritual have affected the spatial formation of the Wae Rebo settlement in unique ways. The study methodology deploys concepts derived from both structuralism and hermeneutics. In conclusion the following paper suggests that the existence of Wae Rebo settlement has been historically determined by five elements, namely; the social structure of the community; ritual practices; harmony with nature; defence from both internal and external forces; and the adaptive qualities of culture. Keywords: spatial arrangement; traditional settlement; Kampung Wae Rebo; ritual penti Abstrak Di Kepulauan Sunda Kecil, tepatnya di Pulau Flores, terdapat Kampung Wae Rebo dengan pola permukiman tradisional yang didominasi oleh praktek-praktek ritualnya. Dalam konteks ini, budaya merupakan faktor determinan dalam proses pembentukan permukimannya. Suku Manggarai merupakan sekelompok etnik di Kampung Wae Rebo yang mempertahankan tradisi ini secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang menjadi fokus penelitian ini adalah ritual tahunan penti. Ritual ini merupakan praktek budaya bertani yang dilakukan oleh masyarakatnya. Rangkaian ritual ini telah mempengaruhi keunikan pola permukiman kampung ini. Studi ini dilakukan melalui pendekatan structuralism dan hermeneutics. Pada akhirnya, eksistensi permukiman Kampung Wae Rebo secara kebersejarahannya ditentukan oleh lima element, diantaranya: struktur masyarakatnya; praktek-praktek ritual; keharmonisan dengan alam; pertahanan dari faktor eksternal dan internal; dan adaptasi budaya.
Detil Publikasi Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.003 KB)

Abstract