cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
Editorial: Tahun ke-2 bersama Covid-19, Belajar dari Pandemi dalam Merencanakan Lingkungan Terbangun Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.845 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p01

Abstract

-
Transformasi Elemen Rancang Bangun Tradisional dalam Tampilan Arsitektur Bangunan Kekinian Sylvia Agustine Maharani; Gusti Ayu Made Suartika; Kadek Edi Saputra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.547 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p06

Abstract

It is undeniable to express that architectural designs have a defining role in developing an identity, impression, and finally sense of a place. Traditional architecture which grows and develops along with the course of culture, natural conditions, geography, topography, and the social system, has characterized the existence of vernacular architecture of certain localities. The idea of embracing traditional architectural principles and forms into the current design of a built form has always been a real challenge. This encounter is even intensified when design in architecture is understood as a process of addressing needs, ideas, inspiration, conformance to a set of guidelines, as well as an embedded message an architect would like to convey through her/his design. This article discusses the approaches and efforts made by Grounds Kent Arsitek Indonesia (GKAI) in embracing traditional Balinese architecture in designing The Alantara Resort Sanur. This is a study that applies a qualitative approach, implementing interviews and in-depth design observations as its methods in data collection. By focusing on the building style, the results of this study show that there was a great deal of re-interpretation process of Balinese traditional architecture taking place, including 1) adaptation in the application of the Tri Angga concept; 2) domination in the use of local building materials; 3) adjustment in techniques as to how traditional building decorative elements are produced and used; 4) modification in the spatial hierarchy of certain structures; and 5) simplification in form of ornaments and decorative elements in use. Keywords: traditional architecture; the architecture of the current building; building style AbstrakTidak bisa dipungkiri jika karya arsitektur memiliki peran penting di dalam membangun identitas, rasa dan kesan dari sebuah tempat - sense of place. Disini peran arsitektur tradisional yang tumbuh dan berkembang seiring perjalanan budaya, kondisi alam, geografi, tofografi, beserta sistem sosial kemasyarakatan memberi ciri pada keberadaan arsitektur vernacular. Menjadi tantangan bagi para arsitek untuk mengakomodasi wujud tradisi rancang bangun ini ke dalam desain, sebelum memunculkan karya desain yang merupakan peleburan antara ide, tradisi, dan kaidah-kaidah karya kekinian, serta pesan yang ingin disajiikan. Artikel ini membicarakan tentang pendekatan serta upaya yang dilakukan oleh Grounds Kent Arsitek Indonesia dalam merangkul arsitektur tradisional Bali di dalam mendesain The Alantara Resort Sanur. Ini merupakan sebuah studi yang menerapkan pendekatan kualitatif, dengan metode interview dan observasi desain yang mendalam. Dengan berfokus pada tampilan bangunan, hasil penelitian menunjukan adanya reintrepetasi arsitektur tradisional yang mencakup 1) adaptasi penerapan konsep Tri Angga; 2) dominasi dalam pemanfaatan bahan bangunan lokal; 3) pengolahan teknik pemanfaatan ragam hias tradisional pada badan bangunan; 4) penyesuasian skala hierarkhi vertical bangunan; dan 5) penyederhanaan pada ornamen dan ragam hias.Kata kunci: arsitektur tradisional; arsitektur bangunan masa kini; tampilan bangunan
Kajian Townscape Koridor Jalan Pahlawan Tabanan I Gde Putu Esa Prakara Nayaka; Anak Agung Ayu Oka Saraswati; Ni Ketut Ayu Siwalatri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (932.69 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p02

Abstract

Jalan Pahlawan is the main road of Tabanan City, the center for government offices of Tabanan Regency in Bali. This road used to be dominated by buildings dedicated to offices. Over time, however, this is no longer the case. It has been decorated with other building types that eventually change its visual character. This study aims to analyze the visual character of 2 segments of the Jalan Pahlawan corridor. The study uses a qualitative descriptive method by applying the townscape theory, namely serial vision (place and content). The study limits its research by only investigating the first layer of buildings that exist on both sides of the Jalan Pahlawan. This study shows that 3 segments have focal points while the other segment does not. This is due to the low visual diversity created by building sited in this corridor. The largest viscosity is found in the Tabanan Regent's Office which has a 35-meter border of undeveloped area. Sidewalks for pedestrians are found on both the northern and southern parts of the corridor which are also well decorated by thick vegetation. Vegetation is important in creating shade, but it should be wisely selected so it will not omit visual character potentially created by a series of unique buildings that exist along the corridor.Keywords: building façade; serial vision; townscape; street corridor AbstrakJalan Pahlawan merupakan jalan protokol yang menjadi pusat pemerintahan di Kota Tabanan di Bali. Seiring berjalannya waktu, dominasi bangunan perkantoran mulai berkurang dengan munculnya berbagai jenis bangunan lain. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan karakter visual. Studi ini bertujuan untuk menganalisis karakter visual dari 2 segmen di sepanjang koridor Jalan Pahlawan untuk mengetahui perubahan karakter visual di sepanjang koridor tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menerapkan teori townscape, yaitu serial vision (place dan content). Batas penelitian berupa satu lapis deret bangunan yang saling berhadapan di sepanjang koridor Jalan Pahlawan. Penelitian ini menunjukkan bahwa 3 segmen memiliki focal point dan 1 segmen tidak punya. Ini disebabkan rendahnya keragaman visual pada wajah bangunan di koridor ini. Viscosity terbesar ditemukan pada Kantor Bupati Tabanan yang memiliki garis sempadan 35 meter. Trotoar untuk pejalan kaki ditemukan di bagian utara dan selatan dari koridor ini yang juga dipenuhi dengan pepohonan yang lebat. Vegetasi berperan penting dalam menciptakan keteduhan, namun harus dipilih secara bijaksana sehingga keberadaannya tidak menghilangkan visual karakter yang dimunculkan oleh bangunan-bangunan yang unik yang berada di sepanjang koridor.Kata kunci: fasad bangunan; serial vision; townscape; koridor jalan
Persepsi dan Motivasi Pemangku Kepentingan terhadap Pengembangan Ekowisata Tondok Bakaru Darmawan Risal; Harsani .; Harlina .; Hiskia Roynaldi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.742 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i01.p07

Abstract

Tondok Bakaru Village in Mamasa Regency was designated as a Desa Sadar Wisata in 2019, as an effort to increase the local economy. The purpose of this study to determine the perceptions and motivations of stakeholders towards the development of Tondok Bakaru ecotourism. The phenomenological approach is used to analyze correlations between the proposed development with the economic development, ecology, and socio-culture. Study results are classified based on class intervals listed on the assessment graphs completed with associated descriptions. Notable findings here are as follows. Stakeholder's perception of Tondok Bakaru ecotourism development is on a ‘very agreeable’ scale. This is due to a ‘high desire’ scale expressed by stakeholders to have active roles in the development of ecotourism in Mamasa. Stakeholder motivation towards economic development is also on a ‘high scale’. Many stakeholders also express that it is necessary to improve tourism infrastructures, provide support for orchid cultivation-related business, development of networks for food provision, and other supporting facilities. Aspiration for the development of ecology-based tourism is also on a rather ‘high’ scale, as the concept of Tondok Bakaru ecotourism has not been well-conceived that indeed has disrupted the hydrological system, land conservation, and preservation of flora and fauna. Moreover, aspiration for socio-cultural development is on a ‘very high’ scale. This is influenced by a great concern on the gradual extinction of Tondok Bakaru Village’s socio-cultural assets.Keywords: ecology; economy; ecotourism; stakeholder; socio-culture AbstrakDesa Tondok Bakaru di Kabupaten Mamasa ditetapkan menjadi Desa Sadar Wisata pada tahun 2019 sebagai upaya peningkatan daya tahan ekonomi lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan motivasi pemangku kepentingan terhadap pengembangan ekowisata Tondok Bakaru. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menganalisis persepsi dan motivasi terhadap pengembangan ekowisata yang berkaitan dengan ekonomi, ekologi dan sosial budaya di Tondok Bakaru. Hasil analisis dikelaskan berdasarkan interval kelas pada grafik penilaian dan pemaknaannya diuraikan secara deskriptif kualitatif. Persepsi terhadap pengembangan ekowisata Tondok Bakaru berada pada skala sangat setuju karena didasari oleh adanya keinginan yang tinggi dari pemangku kepentingan untuk berperan aktif pada pengembangan ekowisata di Kabupaten Mamasa. Motivasi pemangku kepentingan terhadap pengembangan ekonomi berada pada skala tinggi. Terbatasnya penunjang ekonomi ekowisata sehingga perlu dilakukan pembenahan infrastruktur, pengadaan inkubasi kelompok usaha budidaya tanaman anggrek, makanan dan penyewaan fasilitas penunjang. Motivasi pada pengembangan ekologi ekowisata pada skala agak tinggi karena konsep pengembangan ekowisata Tondok Bakaru belum tertata dengan baik yang memungkinkan terganggunya sistem hidrologi, konservasi lahan dan pelestarian flora fauna. Motivasi pada pengembangan sosial budaya berada pada skala sangat tinggi karena dipengaruhi oleh keprihatinan pada asset sosial budaya yang saat ini terancam punah.Kata kunci: ekologi, ekonomi; ekowisata; eemangku kepentingan; eosial budaya
Optimalisasi Pemanfaatan Kolam Retensi sebagai Elemen Lanskap Berkelanjutan pada Kawasan Pendidikan Perkotaan Arieska Avianda Rachmayanie; Suzanna Ratih Sari; M. Debby Rizani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.225 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p06

Abstract

A retention pond is one of the flood control structures, which most is made for functional purposes, with no considerations for alternative objectives. Diponegoro University has a retention pond on its campus. However, it has not been used optimally. Its capacity to contain water has shrunk due to silting, and its surrounding environment has been long neglected. In its goal to enhance the use of this retention fond as an outdoor element, this study calculates and analyses the pertinent existing conditions of this retention pond. It aims to determine its potential as a long-term flood controller and to optimize its use as part of a sustainable landscape element in an urban educational setting. This study implements a mixed-method using a hydrological analysis and a rational approach. To optimize this pond’s attribute to be a sustainable landscape element, this study employs a qualitative method by conducting an analysis founded on several sustainability indicators. Based on hydrological calculations, this study finds that the current condition has not met the standard for sustainability. The pond’s capacity to contain potential rainwater runoff and drainage water in the future is also estimated insufficient. Its function as a sustainable landscape element is also not ideal. So, the pond needs to be optimized by taking ecological, economic, socio-cultural, and architectural aspects into consideration, as well as making sure that supporting facilities such as signage, parking facilities, and necessary structures to support outdoor activities of Diponogore University’s academic community, are well provided. Keywords: retention pond, flood control, sustainable landscape, architecture, urban education area. Abstrak Kolam retensi merupakan salah satu bangunan pengendali banjir, yang sebagian besar dibuat untuk tujuan fungsional saja, tanpa memperhatikan alternatif objektif lain. Keberadaan kolam retensi di Universitas Diponegoro belum dimanfaatkan secara optimal. Kapasitas tampungnya menyusut karena mengalami pendangkalan serta kondisi di sekitarnya belum tertata. Agar optimal, dilakukan perhitungan dan analisis kondisi eksisting untuk direkomendasikan solusi optimalisasi dalam penataan lanskap yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan kolam retensi sebagai pengendali banjir jangka panjang, dan bagaimana optimalisasi pemanfaatannya sebagai bagian dari elemen lanskap berkelanjutan pada kawasan pendidikan perkotaan. Metode yang digunakan adalah metode campuran, menggunakan analisis hidrologi dan pendekatan rasional. Untuk optimalisasi pemanfaatannya sebagai elemen lanskap digunakan metode kualitatif dengan analisis menggunakan indikator keberlanjutan. Dari perhitungan hidrologi, diketahui kondisi eksisting saat ini tidak cukup berkelanjutan. Daya dukungnya untuk potensi limpasan air hujan dan air drainase di masa depan diperkirakan tidak mencukupi. Fungsinya sebagai elemen lanskap juga belum optimal maka perlu dioptimalkan dengan memperhatikan aspek ekologis, ekonomi, sosial budaya dan arsitektural, serta memenuhi kelengkapan penunjang seperti signage, sarana parkir dan bangunan penunjang kegiatan outdoor bagi civitas akademika dari Universitas Diponogoro. Kata kunci: kolam retensi, pengendali banjir, lanskap berkelanjutan, arsitektur, kawasan pendidikan perkotaan.
Konsep Arsitektur Rumah Adat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi I Made Kriswikana Noor; Ni Ketut Ayu Siwalatri; Widiastuti .
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.822 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p02

Abstract

Osing Community of Kemiren Village, Gelagah District, Banyuwangi is an ethnic group of Java Island in Indonesia that still maintains and preserves its culture, especially of that pertains to its home. Osing’s traditional house has a unique concept that is different in comparison with traditional Javanese houses in general. This includes uniqueness in building orientation, spatial pattern, architectural forms, and the use of building materials. The purpose of this study is to conceptualize the architecture of Osing’s traditional house in terms of spatial patterns, forms, functions, structure, and building materials. This research uses qualitative research with an ethnographic approach. Study findings show that Osing traditional house is passed down from generation to generation. Its spatial layout has a cosmological orientation that rules a home should conform with a north-south axis forming a linear pattern and should not face a mountain. Home has 3 rooms, namely bale, jrumah, and pawon laid in a parallel and symmetrical spatial pattern. In this arrangement, jrumah is considered the center of the house as well as a private zone. In addition to this, a home is a representation of a binary concept - dark-light, male-female, public-private, left-right, and sacred-profane. Osing’s traditional house uses building materials that are locally available and adequately support its structure. The main considerations applied in selecting these materials are comfort and capacity to adapt to the surrounding environment. Keywords: traditional house, spatial pattern, form, and function, architectural concept, Osing ethnicity Abstrak Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Gelagah, Banyuwangi merupakan suku yang masih tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat dan budaya, yaitu pada rumah adatnya. Rumah adat Suku Osing memiliki konsep yang unik dan berbeda dari rumah adat Jawa pada umumnya, baik dalam orientasi bangunan, pola ruang, dan bentuk arsitektur, serta material bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsep arsitektur rumah adat yang ditinjau dari pola ruang, bentuk dan fungsi ruang, serta material dan struktur. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan etnografi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rumah adat Suku Osing mampu diwariskan secara turun-temurun. Tata letak rumah adat memiliki orientasi kosmologis yaitu cenderung ke arah utara-selatan dan rumah tidak boleh menghadap gunung. Dilihat dari skala makro, pola permukiman Suku Osing tersusun dengan pola linier. Pola ruang utama memiliki 3 ruang dengan fungsi masing-masing, yaitu bale, jrumah, dan pawon yang terbentuk dari pola ruang sejajar dan simetris. Jrumah merupakan sentral dan bersifat privat. Konsep ruang memperlihatkan unsur dualitas, yaitu gelap-terang, laki-laki-perempuan, publik-privat, kiri-kanan, dan sakral-profan. Material rumah adat merupakan material yang mudah didapati dan berada di sekitar desa dengan sistem struktur yang sederhana. Pemilihan material mengutamakan kenyamanan, dan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Kata kunci: rumah adat, pola ruang, bentuk dan fungsi, konsep arsitektur, Suku Osing
Prediksi Kebutuhan Area Permukiman di Kota Ternate Vrita Tri Aryuni; Ramdani Salam; Anif Farida
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.645 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p03

Abstract

Abstract Ternate City is a densely populated area and has high population growth in comparison with other cities of North Maluku, Indonesia. Consequently, Ternate needs more areas dedicated for settlement than it currently has. In addressing this condition, this study aims at examining the scale of land needed to accommodate the escalating number of houses required by Ternate’s urban dwellers in 2025, 2030, and 2035. It adopts a quantitative method supported by relevant and available secondary data. The increase in population number is calculated based on an exponential growth calculation. Discussion within is developed based on an assumption that every household needs a minimum of 100 m2 for its home. This study shows that each district of Ternate has its own need for houses and scale of area that differ from one district to another. The southern part of Ternate City demonstrates the highest figure of 27.992 unit houses with an area of 279,92 hectares in 2025; 36.345 units of houses and an area of 363,45 hectares in 2030; and 4.962 units of houses with an area of 49,62 hectares in 2035. On the other side, Ternate Island shows the least figure of 3.113 units of houses with an area of 31,13 hectares in 2025; 3.928 units of houses with an area of 39,28 hectares in 2030; and 4.962 units of houses with an area of 49,62 hectares in 2035. On top of these, this study further recommends that the escalating needs for urban settlement should be well addressed in the urban plan formulated by the Local Urban Planning Office of the Ternate City, thus uncontrolled land conversion will not take place in the near future. Keywords: population, land, settlement, needs projection Abstrak Kota Ternate merupakan daerah yang padat penduduk dan memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan kota-kota lain di Maluku Utara, sehingga membutuhkan lebih banyak permukiman. Tujuan penelitian yaitu untuk memprediksi kebutuhan lahan permukiman di Kota Ternate pada tahun 2025, 2030 dan 2035. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder. Prediksi populasi penduduk dihitung dengan pertumbuhan eksponensial. Kebutuhan permukiman penduduk diperoleh dengan asumsi setiap rumah tangga membutuhkan luas minimal 100 m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan permukiman berbeda pada tiap kecamatan. Ternate Selatan membutuhkan jumlah rumah mukim terbanyak dan lahan permukiman terluas yaitu 27.992 unit dengan luas 279,92 ha pada tahun 2025, 36.345 unit dengan luas 363,45 ha pada tahun 2030, dan 47.805 unit dengan luas 478,05 ha pada tahun 2035. Pulau Ternate yang paling sedikit membutuhkan rumah mukim dan lahan permukiman tersempit yaitu 3.113 unit dengan luas 31,13 ha pada tahun 2025, 3.928 unit dengan luas 39,28 ha pada tahun 2030 dan 4.962 unit dengan luas 49,62 ha pada tahun 2035. Meningkatnya kebutuhan akan lahan permukiman tersebut sebaiknya diiringi penataan kota oleh Pemerintah Daerah setempat, agar tidak terjadi konversi lahan yang tidak terkendali di masa depan. Kata kunci: populasi, lahan, area permukiman, prediksi kebutuhan
Editorial: Perubahan Iklim, Pemanasan Global, dan Kualitas Lingkungan Terbangun Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.58 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p01

Abstract

“Everyone must do their job. Developed countries and emerging economies must contribute,” (Antonio Guterres - United Nations Secretary-General, 20 September 2021). Dunia akan segera menggelar konferensi global penting di tahun 2021 yang dikenal dengan ‘Global Climate Talk - COP 26,’ yang akan menentukan keberlangsungan bentang alam serta kehidupan yang ada di muka bumi. Kegiatan ini akan diselenggarakan di Kota Glasgow, Inggris Raya dari akhir bulan oktober 2021 sampai dengan 12 November 2021. Konferensi ini akan melibatkan para delegasi dan pimpinan yang mewakili negara-negara di dunia, anggota masyarakat, para pemerhati lingkungan, pelaku bisnis dan tentu juga akan diliput oleh para awak media dari beragam kanal berita. Global Climate Talk merupakan kelanjutan dari rangkaian konferensi yang berkelanjutan, yang membicarakan komitmen semua pihak dalam dalam mengurangi laju pemanasan global dan menangani dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan di berbagai pelosok dunia.
Pengaruh Desain Fasilitas Halte terhadap Kepuasan Pengguna Bus Trans Metro Deli Aulia Malik Affif
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.194 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p05

Abstract

In November 2020, the Trans Metro Deli Bus began its service in Medan. This is part of the Ministry of Transportation's “TEMAN BUS” Bus Rapid Transit (BRT) project. In just a month after its operation, the Trans Metro Deli Bus already carried over 80,000 passengers. It demonstrates that the community is keen to experience a more convenient mode of public transportation. The government has already built 20 of the 128 planned bus stops to be completed by January 2021. The purpose of this study is to determine the impact of a bus stop design on Trans Metro Deli Bus users’ satisfaction. This study employs a combination of qualitative and quantitative methods. The impact of bus stop design facilities on the Trans Metro Deli Bus users’ satisfaction is explored using a simple linear regression model. Data is gathered by conducting physical observations of bus stop design facilities, a literature review, and questionnaires distributed to Trans Metro Deli users. Results of this study inform that the design of a bus stop has a significant and positive impact on the Trans Metro Deli users’ satisfaction. It accounts for a staggering percentage of 46.4. Keywords: bus stop design, BRT, Trans Metro Deli, user satisfaction Abstrak Bus Trans Metro Deli diluncurkan di Kota Medan pada November 2020 sebagai program Bus Rapid Transit dari Kementerian Perhubungan bernama TEMAN BUS. Bus Trans Metro Deli telah mengangkut lebih dari 80.000 penumpang hanya dalam waktu satu bulan setelah peluncuran. Dapat terlihat bahwa tingginya minat masyarakat untuk mencoba transportasi publik yang lebih nyaman. Telah terdapat 20 halte dari 128 perhentian bus yang telah dibangun sampai dengan January 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui peran desain fasilitas halte bus terhadap kepuasan pengguna Bus Trans Metro Deli. Penelitian ini menggunakan metode gabungan kualitatif kuantitatif. Model regresi linear sederhana digunakan untuk mengungkap besaran dampak desain fasilitas halte bus terhadap kepuasan pengguna Bus Trans Metro Deli. Data dikumpulkan melalui observasi fisik dari desain halte bus, kajian pustaka dan kuesioner yang diberikan kepada pengguna Bus Trans Metro Deli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain fasilitas halte bus memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna Bus Trans Metro Deli. Sebesar 46,4% kepuasan pengguna Bus Trans Metro Deli ditentukan oleh desain fasilitas halte bus. Kata kunci: BRT, halte bus, Trans Metro Deli, kepuasan pengguna
Wilayah Pelayanan dan Aksesibilitas Taman Kota bagi Lansia di Kota Denpasar I Gede Bintang Nararya Sena; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; Tri Anggraini Prajnawrdhi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 8 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.917 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2021.v08.i02.p04

Abstract

The consistent annual increase in the number of mature population emphasizes the importance of humane and elderly-friendly urban planning. This type of planning requires an integrated approach that embraces three – but not limited – main urban elements, namely open space, settlement, and transportation. In its attempt to review available planning regulations and practices, this research studies elderly groups’ access to urban parks that are available across Denpasar City. Within, the service area is used as a tool to measure accessibility. The scale of this service area is analyzed based on a pareto distribution frequency of distance traveled before reaching a city park. This data is presented in a map using geospatial analysis which leads to the two categorizations of the primary and secondary service area. This study finds that Niti Mandala Renon City Park possesses the most extensive service area followed by Puputan Badung and Lumintang City Park. Mature park users go to these parks for both recreational and sport-related reasons. In doing so, they choose to travel by private modes of transportation. The elderly group also tends to visit with family member/s, especially when they aim for a park whose scale of the service area is extensive and that requires them to have a relatively long drive from home. This practice is frequently attributed to safety and cultural reasons. Keywords: urban planning, City parks, accessibility, elderly Abstrak Pertambahan jumlah lansia yang konsisten setiap tahunnya menimbulkan kepentingan perencanaan kota yang ramah lansia. Berdasarkan prinsip perencanaan kota ramah lansia dan humanis, perencanaan kota perlu memadukan aspek ruang terbuka hijau, permukiman dan transportasi. Untuk dapat melakukan tinjauan mengenai perencanaan tersebut dilakukan penelitian mengenai aksesibilitas ruang terbuka hijau publik bagi lansia di Kota Denpasar dalam konteks perencanaan kota ramah lansia. Wilayah pelayanan merupakan salah satu cara untuk mengukur aksesibilitas ruang terbuka hijau. Hal tersebut ditelaah menggunakan analisis distribusi pareto frekuensi jarak tempuh lansia menuju taman kota yang diterjemahkan kedalam peta menggunakan analisis geospasial. Wilayah pelayanan dibagi menjadi wilayah pelayanan primer dan sekunder berdasarkan frekuensi data jarak tempuh lansia menuju taman kota. Penelitian menemukan bahwa taman kota dengan wilayah pelayanan paling luas adalah Taman Kota Niti Mandala Renon disusul Taman Kota Puputan Badung dan Taman Kota Lumintang. Seluruh lansia pengunjung taman kota merupakan lansia yang bertujuan untuk melakukan kegiatan olahraga rekreasi, dan memilih untuk melakukan perjalanan menggunakan moda transportasi pribadi. Taman kota dengan wilayah pelayanan yang luas dan jarak perjalanan yang jauh, lansia melakukan perjalanan dengan keluarga. kecenderungan ini dapat dikaitkan dengan keamanan dan budaya komunalitas lansia. Kata kunci: perencanaan kota, taman kota, aksesibilitas, lansia