cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
Eksistensi Konsepsi Kiwa-Tengen pada Tata Ruang Umah Dadia di Desa Sukawana, Kintamani, Bangli Made Chryselia Dwiantari; I Nyoman Widya Paramadhyaksa; Tri Anggraini Prajnawrdhi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1666.235 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i01.p08

Abstract

Sukawana Village is a village patterned in the Bali Aga culture located in the highland region of Kintamani District, Bangli Regency, Bali. The village's residential area is surrounded by hilly areas, ravines, and fields belonging to the residents. Within this village area there is a parent settlement complex that is the forerunner of the village. The settlements are in four banjar areas, namely in Munduk Lampah, Banjar Tanah Daha, Banjar Sukawana, and Banjar Desa. Each of these banjars is also composed of several umah dadia units in the form of a series of residential buildings in one natah or shared yard which is inhabited by a group of people who still have family ties. The pattern of building a house in one house unit is described as following the left lane pattern (kiwa) and the right lane (tengen). This pattern is formed in such a way based on many conceptual foundations that have been passed down from generation to generation. This study aims to determine the manifestation of the implementation of the concept of kiwa-tengen known in the cultural order in the village of Sukawana. The study was focused on spatial phenomena in umah dadia by applying rationalistic research methods. Findings found that the existence and application of the kiwa-tengen conception in Sukawana Village culture is related to the observer's point of view, the dichotomic conception of hulu-teben, brotherly relations between siblings and siblings, and the existence of imaginary axes in the umah dadia. Keywords: conception, kiwa-tengen, umah dadia, Sukawana Village, hulu-teben Abstrak Desa Sukawana adalah sebuah desa bercorak kultur Bali Aga yang berlokasi di wilayah dataran tinggi Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Wilayah permukiman desa ini dikelilingi oleh daerah perbukitan, jurang, serta area ladang milik para penduduk. Dalam wilayah desa ini terdapat suatu kompleks permukiman induk yang menjadi cikal bakal desa. Permukiman tersebut berada di empat wilayah banjar, yaitu di Banjar Munduk Lampah, Banjar Tanah Daha, Banjar Sukawana, dan Banjar Desa. Masing-masing banjar ini juga tersusun atas beberapa unit umah dadia yang berwujud sederetan bangunan rumah tinggal dalam satu natah atau pekarangan bersama yang dihuni oleh sekelompok orang yang masih mempunyai hubungan ikatan keluarga. Pola bangunan rumah dalam satu unit umah dadia digambarkan menganut pola lajur kiri (kiwa) dan lajur kanan (tengen). Pola ini terbentuk sedemikian rupa berdasarkan banyak dasar konsepsual yang sudah berlaku secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran wujud implementasi dari konsepsi kiwa-tengen yang dikenal dalam tatanan budaya di Desa Sukawana. Kajian yang dilakukan terfokus pada fenomena keruangan dalam umah dadia dengan menerapkan metode penelitian rasionalistik. Temuan yang didapatkan bahwa keberadaan dan penerapan konsepsi kiwa-tengen dalam kultur Desa Sukawana adalah terkait dengan sudut pandang pengamat, konsepsi dikotomik hulu-teben, serta keberadaan sumbu aksis imajiner dalam pekarangan umah dadia. Kata kunci: konsepsi, kiwa-tengen, umah dadia, Desa Sukawana, hulu-teben
Strategi Penataan Kawasan Pemukiman Kumuh dengan Penerapan Kampung Warna di Bantaran Krueng Dhoe Dyah Erti Idawati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (900.321 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i01.p03

Abstract

Krueng Aceh is the biggest river that divides Banda Aceh. Krueng Aceh has been contributed to the development of the city. Like many other rivers in Indonesia, the growth of illegal settlements along the riverbank has also been grown rapidly and been contributed to the slum condition in Banda Aceh. Settlements along the banks of Krueng Dhoe, Kerinci Hamlet, Seutui, Banda Aceh are included in the slum category. Therefore the “Kampung Warna” program can be a solution for managing the face of the Krueng Dhoe settlement. This activity uses the Quadruple Helix collaboration concept or known as ABCG elements (Academic, Business, Community and Government), namely Higher Education Institutions in Banda Aceh, the community, PKK Aceh Mobilization Team, Banda Aceh and Gampong City, Banda Aceh City Government, and KOTAKU (City Without Slums). This study aims to investigate the impact of environmental improvement on the quality of life of the community. It is expected that with this program, the impression of slums on the banks of Krueng Dhoe can be changed to become more beautiful, neat, and clean so that this location can become a tourist attraction that can generate income for the local community. This study utilized a qualitative approach with descriptive analysis. In this case, the method is more technical. Data collection techniques used are observation, interviews, and documents. Changes in the environment are becoming a more beautiful, neat, and organized community spirit to maintain the cleanliness of the house, the environment, and the river. The mutual self-help developed during the process of gampong’s improvement has been spread around and copied by the nearby neighborhoods. Keywords: slum; Krueng Dhoe riverbank; colorfully painted village Abstrak Krueng Aceh adalah sungai terbesar yang membelah Kota Banda Aceh. Krueng Aceh ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi tumbuh dan berkembangnya Kota Banda Aceh. Sebagaimana kondisi sungai di wilayah Indonesia, Krueng Aceh tidak luput dari tumbuhnya permukiman illegal di sepanjang bantarannya yang cenderung berkontribusi terhadap kekumuhan Kota Banda Aceh. Kampung warna dapat menjadi solusi untuk menata wajah permukiman Krueng Dhoe. Kegiatan ini menggunakan konsep kolaborasi Quadruple Helix atau yang dikenal dengan unsur ABCG (Academic, Business, Community dan Government) yaitu Institusi Perguruan Tinggi di Banda Aceh, masyarakat, Tim Penggerak PKK Aceh, Kota Banda Aceh maupun Gampong, Pemerintah Kota Banda Aceh, serta KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana pengaruh perubahan lingkungan permukiman di sepanjang sungai menjadi gampong warna-warni terhadap kualitas hidup masyarakat yang tinggal disana. Diharapkan dengan adanya program ini kesan kumuh di bantaran Krueng Dhoe dapat berubah menjadi lebih indah, rapi, dan bersih sehingga lokasi ini bisa menjadi objek wisata yang nantinya dapat mempengaruhi pendapatan masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan data secara deskriptif. Dalam hal ini metode lebih bersifat teknis pelaksanaan lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumen. Perubahan Lingkungan yang menjadi lebih indah, rapi dan tertata memicu semangat masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah, lingkungan dan sungainya. Perubahan lingkungan dengan cara gotong-royong juga memotivasi masyarakat di gampong lain untuk mempercantik gampong mereka. Kata Kunci: kawasan kumuh; bantaran Krueng Dhoe; gampong warna-warni
Detil Publikasi Made Swanendri
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.818 KB)

Abstract

Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik di Kawasan Pesisir Pantai Berawa Rangga Seta Ugrasena; Ni Ketut Ayu Siwalatri; Tri Anggraini Prajnawrdhi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1203.918 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p06

Abstract

The development of tourism in Bali has given tourism potential in the community in the coastal areas. On the one hand, the coast has the potential to provide economic opportunity to the surrounding community. On the other, it is a public open space that is supposedly accessible to general community members. Taking this understanding forward and selecting Berawa Coastal Area of Tibubeneng Village, North Kuta District, Badung Regency-Bali as its case study, this research attempts to study the positive impacts brought by the tourist industry. It corresponds to the following findings that the industry has contributed to the: 1) enhancement of the economic welfare of Tibubeneng Community; 2) improvement of the overall visual quality of the coast; 3) improvement of environmental qualities, such as the overall cleanliness of Berawa Coast; and 4) image creation by preparing the coast as a living stage to conduct colossal cultural festival activities of Kecak dancers to be enjoyed by tourists who come to visit. This study uses qualitative methods. Primary data were obtained from physical observations, photographic documentation, and interview.Keywords: land use; public open space; the coastal area of Berawa Beach AbstrakPerkembangan pariwisata di Bali telah melahirkan potensi dalam masyarakat, khususnya pariwisata di kawasan pesisir. Satu sisi kawasan pesisir memiliki potensi untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, kawasan pesisir juga merupakan ruang terbuka publik, sehingga Kawasan Pesisir Pantai Berawa dapat dinikmati oleh semua orang. Fenomena yang terjadi saat ini adalah pemanfaatan ruang terbuka publik di Kawasan Pesisir Pantai Berawa yang dilakukan oleh berbagai pihak. Berdasarkan narasi tersebut, menjadi pertimbangan kemudian adalah bagaimana pengaruh pemanfaatan kawasan pesisir oleh berbagai pihak pada ruang terbuka publik di Pantai Berawa. Lokasi penelitian ini berada di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menunjukan pemanfaatan ruang terbuka publik di Kawasan Pesisir Pantai Berawa oleh berbagai pihak. Data primer diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi, dan data hasil wawancara untuk mendapatkan informasi yang mendukung hasil penelitian. Hasil penelitian ini berupa identifikasi pemanfaatan ruang terbuka publik di Kawasan Pesisir Pantai Berawa, yang memberikan dampak pengaruh positif baik dari segi: 1) kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Tibubeneng; 2) peningkatan visual; 3) peningkatan lingkungan, terjaganya kebersihan Kawasan Pesisir Pantai Berawa; dan 4) peningkatan kesan, adanya kegiatan festival budaya kolosal penari kecak diharapkan dapat memberikan kesan tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke Pantai Berawa.Kata kunci : pemanfaatan ruang; ruang terbuka publik; pesisir Pantai Berawa
Inklusivitas Jalur Pedestrian di Sekitar Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Studi Kasus Penggal Jln. A.Yani, Jln. Garuda Mas dan Jln. Menco Raya Kartasura, Jawa Tengah Dwi Ely Wardani; M. Sani Roychansyah
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.356 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p02

Abstract

The University Campus is a main provider of higher education services for the community. It has an impact on the growth of the surrounding area, and its influence is marked by changes in land use due to the concentration of proximal business and community activities. With the growing density of the residential population, activities around UMS campus area have also resulted in a higher level of community mobility. Therefore, it is necessary to design inclusive pedestrian pathways so that communities in this area may easily move about without having to depend on motor vehicles. In addition, an effort is being made to create a pedestrian-friendly environment for disabled persons in accordance with government policy. Using a qualitative deductive method and through the application of several theories dealing with pedestrian planning, the governing principle of inclusiveness is considered to be compatible with a heterogenic campus. Linda Nussbaumer in her book Inclusive Design A Universal Need, (2012) states that the concept of inclusivity consists of six variables, but after due consideration, only 3 variables are used in this study, namely: affordability, convenience, and security. These three variables are then elaborated and used as parameters to measure the level of inclusiveness of pedestrian pathways that accommodate the need of disabled people. Keywords: pedestrian pathway, inclusive, accessibility, convenience, safety
IMPLEMENTASI PERATURAN TENTANG TATA BANGUNAN DI JALAN TEUKU UMAR DENPASAR Putu Tony Marthana Wijaya
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 3 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.745 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2016.v03.i01.p07

Abstract

Abstract Kota Denpasar Local Government has instigated a set of guidelines to regulate urban development. These focus on both space and building design. The objective is to create harmony within its projected cultural environment. The implementation of these regulations however raise serious concerns since current inconsistencies appear to suggest that few prevailing regulations are currently in force. This study has three goals: first to investigate developments that violate existing spatial planning and building design guidelines; second, to research factors that support underlines such violations; and third to suggest such actions as will promote compliance and enforcement of all regulatory practices, both current and future in order to promote the government’s own intention of creating a ‘cultural city in Denpasar. This study uses a qualitative research approach that focuses on hegemonic control and the commodification of space. These factors come into play when there is a clear difference between the issuance of a building permit and the final construct. Inconsistencies frequently appear in regard to the commodification of public space and building facades in general. This is encouraged by two dominant factors. First there is the lack of appropriate control and monitoring by relevant government agencies, and secondly, the absence of sanctions when violation takes place. Here the government can be seen to defeat its own objective of Denpasar as ‘a cultural city.’ This study suggests community participation and sanction constitute a necessary force in removing this contradiction currently prevailing in government policy. Keywords: regulation, violations, spatial plan, building design guidelines. Abstrak Pemerintah Kota Denpasar memandang sebagai keharusan untuk mengatur dan mengendalikan lajunya pembangunan yang berfokus pada keruangan dan desain bangunan. Tujuannya adalah menjaga keharmonisan serta keserasian wajah kota yang berwawasan budaya. Implementasi dari peraturan-peraturan tersebut menjadi pertanyaan dikarenakan adanya perbedaan antara harapan dengan kenyataan terhadap tata bangunan. Analisis ini akan diarahkan pada uraian deskriptif mengenai realita penyimpangan yang terjadi di lokasi, faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan itu tetap terjadi. Permasalahan tersebut dianalisis dengan teori hegemoni dan komodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penyimpangan antara dokumen IMB yang dimiliki dengan realita di lapangan. Adanya komodifikasi terhadap ruang terbuka/ sempadan dan tampak bangunan. Peraturan yang ada tidak dapat terimplementasi dengan baik di lapangan. Kurang konsistennya pengawasan dan penertiban yang dilakukan oleh instansi terkait dan rendahnya sanksi sebagai penyebabnya. Kesimpulan yang diperoleh perlu adanya peran serta masyarakat bersama pemerintah untuk konsisten terhadap penegakkan peraturan tata bangunan agar terciptanya wajah kota yang berwawasan budaya. Kata kunci: peraturan, penyimpangan, rencana tata ruang, tata bangunan.
Implikasi Pembangunan Fasilitas Pariwisata terhadap Lingkungan Fisik di Kawasan Sempadan Pantai Yeh Gangga Tabanan, Bali I Made Widiastra; I Gusti Ngurah Anom Rajendra; I Wayan Kastawan
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 6 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1488.101 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2019.v06.i02.p02

Abstract

Sempadan pantai (a waterfront setback which by law is reserved and in which development is restricted) of Yeh Gangga Beach at the Tabanan Regency-Bali has been increasingly well used. This area is supposedly protected and dedicated to public uses, as outlined by Local Government Regulation number 11, year 2012. Unfortunately, the government has not yet been effectively imposing this policy. There is a growing concern, if the uncontrolled used of sempadan pantai is perpetuated, it will affect the nature of this reserved area. This study aims to determine the impact of the construction of tourist facilities on the sempadan of Pantai Yeh Gangga. The analysis is grounded by conceptions offered by several literatures relevant to tourism development and environmental protection. This study uses a qualitative research method. Data is collected through observations, photographic documentation, and interviews with community leaders, government authorities, employers and tourists. The collected data is presented in the form of tables and narratives. Study results show that development of tourist facilities on Yeh Gangga's setback area has various negative impacts on the physical environment. This research strongly recommends local government to carry out a routine control over waterfront development. Alternatively, this can be done by empowering local communities and enforcing sanctions when violations over an enforced regulation take place. Local communities are strongly advised to preserve the natural state of their physical environment by not polluting it. Business owners should also participate in this move by conducting environmentally conscious business-practices and taking adequate premeditated protections of the environment in their hand at all chances. Keywords: coastal development, environment, law enforcement, Yeh Gangga Abstrak Sempadan Pantai - kawasan yang berfungsi utama sebagai kawasan lindung - di Pantai Yeh Gangga, Kabupaten Tabanan, Bali mengalami perkembangan pemanfaatan yang pesat. Area ini seharusnya dilindungi dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik seperti halnya yang diatur oleh Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2012. Akan tetapi Pemerintah Daerah Tabanan belum epektif memberlakukan kebijakan ini. Apabila ini terus berlangsung, maka akan tumbuh bangunan ilegal dan akan sulit ditertibkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pembangunan fasilitas pariwisata terhadap lingkungan fisik kawasan sempadan Pantai Yeh Gangga. Teori kepariwisataan dan lingkungan digunakan dalam pendekatan kajian ini. Dengan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi bertahap, dokumentasi langsung, wawancara dengan tokoh masyarakat, pemerintah, pengusaha. Penyajian data dilakukan dengan dokumentasi, dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan fasilitas pariwisata di kawasan sempadan Pantai Yeh Gangga Tabanan berdampak negatif terhadap aspek lingkungan fisik. Rekomendasi penelitian ini adalah pemerintah daerah harus melakukan pengawasan secara rutin dengan memberdayakan masyarakat setempat dan bertindak tegas terhadap pelanggaran. Masyarakat setempat agar memprioritaskan kelestarian lingkungan fisik dengan tidak mencemari lingkungan. Pengusaha dan industri pariwisata dalam menjalankan bisnis harus juga menjaga lingkungan. Kata kunci: pembangunan pesisir, lingkungan, penegakan aturan,Yeh Gangga
TATA BANGUNAN FASADE DI KORIDOR LEGIAN, KUTA Widiastuti Widiastuti; Syamsul Alam Paturusi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 1 No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.708 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2014.v01.i02.p04

Abstract

Abstrak Studi ini mengambil lokasi di sepanjang Koridor Legian, Kuta-Bali. Penelitian ini dilaksanakan untuk mencapai dua tujuan utama. Pertama, mengindentifikasi wujud dari beragam fasade bangunan yang ada di sepanjang koridor ini. Kedua untuk mengevaluasi konformansi bangunan-bangunan yang ada. Adapun regulasi kunci yang dijadikan acuan adalah Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 tahun 2005 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung. Ketiga, di dalam prosesnya, penelitian ini juga menstudi ketidakefisienan dalam pemanfaatan lahan yang dilihat dari aspek ketinggian bangunan. Sehingga studi ini memfokuskan bahasannya pada bentuk dasar bangunan; langgam arsitektur; ketinggian bangunan; dan pemanfaatan material bangunan. Metoda kualitatif deskriptif telah diterapkan oleh penelitian ini, yang didukung oleh dokumentasi foto terkait 129 unit fasade yang disurvey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% bangunan tidak menerapkan langgam arsitektur Bali seperti yang disyaratkan; 61% menggunakan material fabrikasi (bukan alami); dan 65,8% merupakan bangunan berlantai tunggal. Kondisi tersebut mengindikasikan terjadinya pelangggaran terhadap tata aturan yang berlaku di seluruh Bali, dan ketidakefisiensian dalam pemanfaatan lahan pada Koridor Legian, dimana nilai ekonomis lahan tergolong relatif sangat tinggi.. Kata kunci: fasade, bahan bangunan, ketinngian & bentuk bangunan, efisiensi lahan Abstract This study, which takes place along Legian Corridor in Kuta-Bali, is conducted to achieve three main goals. The first is to identify forms of facade exhibited by various structures existing along this Corridor. Second, to evaluate the conformance of buildings. The key legislation here is Local Regulation No 5 year 2005 regarding Building Codes and Architectural Requirements. Third, in the process to investigate inefficiencies in land use based on building heights. So this study focuses on basic building forms, architectural styles, building heights, and the use of building materials. Descriptive qualitative research methods are used, supported with photographic documentation of all the 129 units being surveyed. Research findings demonstrate that 62 % of these building units do not incorporate Balinese architectural elements as is required; 61 % use various fabricated building materials; and 65.8 % of the units are single storey structures. These conditions indicate violations of building codes and regulations enforced across the Island, as well as inefficient land use within the Legian Corridor where land price is relatively very high. Keywords: facade, building materials, building height & form, land efficiency
Perkembangan Spasial di Desa Pengotan - Bangli A A Gde Djaja Bharuna S
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 4 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1406.294 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2017.v04.i01.p04

Abstract

Desa Pengotan, merupakan salah satu desa pegunungan di Kabupaten Bangli, yang telah ada sebelum masuknya pengaruh Majapahit ke Bali. Masyarakat Pengotan memiliki atribut-atribut unik yang membedakannya dengan desa-desa lain. Dalam mengeksplorasi fitur-fitur penting dari permukiman Bali Aga Pengotan, studi ini menginvestigasi elemen-elemen fisik dari rumah yang menjadi elemen utama komunitas ini, yaitu yang berkenaan dengan: 1). Bentuk; 2).Tata ukuran; 3). Bahan, warna dan tekstur; 4). Struktur/konstruksi; dan 5). Ragam hias. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung ke lapangan yang didukung dengan pendataan melalui proses interview. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa pola desa bertahan pada layout awal. Namun, banyak rumah yang tidak terurus dan mulai hancur, karena mereka tidak tinggal di dalamnya. Makna serta arti penting rumah ini bagi masyarakat Pengotan sangat diakui, khususnya ketika diselenggarakannya upacara ritual maupun beragam kegiatan kemasyarakatan lainnya. Perlu dilakukan studi khusus bagaimana keberadaan rumah ini bisa dilestarikan, yang merupakan tujuan akhir dari penulisan paper ini. Kata kunci: perkembangan, tatanan spasial, keunikan, morfologi desa, Bali Aga
Kualitas Ruang Terbuka Publik di Kawasan Taman Kota Tabanan I Putu Agus Jayendra Pratama; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra; Widiastuti .
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 7 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1379.54 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2020.v07.i02.p03

Abstract

This article is underlined by an understanding that a public urban park is expected to function optimally when it is strategically located, accessible to the public and community members both physically and visually, it is well provided with circulation paths and adequately equipped with park furniture. This study selects Taman Kota Tabanan – an urban park of Tabanan Regency-Bali - as its study locus. It is chosen as the park has failed to address the qualities listed above before it can well serve its urban community. This study is designed to learn from mistakes made by Taman Kota Tabanan before a quality guide for city park development for Tabanan Regency can be instigated. It employs a qualitative research method. Data collection is done by conducting in-depth interviews and field observations. This study also grounds its analyses by using a widely available theory pertaining to public space. These theoretical resources have enabled authors to build criteria as to how an urban park should be conceived, designed, and improved continuously. These criteria also embrace the capacity of an urban park to adapt to the dynamic needs of the urban community to whom its existence is dedicated to. Moving from here, this study presents a directive recommendation for future development of urban park both physically and non-physically.Keywords: public open space; city park; urban park of Tabanan AbstrakRuang terbuka publik dapat berfungsi optimal untuk kegiatan publik bagi komunitas maupun individu, serta terletak di lokasi yang sibuk atau strategis, mempunyai akses yang baik secara visual dan fisik, ruang yang merupakan bagian dari suatu jalur sirkulasi, mempunyai tempat duduk dan bangku taman. Kawasan Taman Kota Tabanan merupakan ruang terbuka publik yang memiliki permasalahan baik dari segi fisik maupun non fisik. Penelitian ini dilakukan dengan Langkah awal dengan mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana kualitas ruang terbuka publik di Kawasan Taman Kota Tabanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan kualitas Kawasan Taman Kota Tabanan sebagai ruang terbuka publik kedepannya. Metode yang digunakan yaitu kualitatif yang menekankan teknik wawancara secara langsung sehingga mendapatkan informasi yang akurat untuk menunjang kebutuhan penelitian. Teori yang digunakan yaitu teori ruang terbuka publik yang menjadi acuan dalam membangun kriteria tentang bagaimana taman kota harus dipahami, dirancang, dan ditingkatkan secara terus menerus, termasuk juga kapasitas taman kota untuk beradaptasi dengan kebutuhan dinamis masyarakat perkotaan yang menjadi tujuan keberadaannya. Sebagai hasil akhir, studi ini menyajikan rekomendasi-rekomendasi untuk pengembangan taman kota di masa depan baik secara fisik maupun non fisik.Kata kunci: ruang terbuka publik; taman kota; Taman Kota Tabanan

Page 11 of 20 | Total Record : 199