cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
Detil Publikasi Jurnal Ruang-Space
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.321 KB)

Abstract

Peran Interaksi Sosial dari Nelayan di Pelabuhan Padangbai bagi Pembangunan Ekonomi I Gede Harimurti; Ni Ketut Agusintadewi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.545 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p02

Abstract

There are four groups of active fishermen in Padangbai Beach. Their members are part of a social network that actively interacts to meet social and economic needs. In 1999, a pier was built and named after Padangbai People's Port. This port has impacted the village economy, an essential means to maintain these fishermen's existence, activities, and social groups. This research examines the role of social interaction in developing this port and its contribution to the economic development of the Padangbai Village. This study uses a descriptive-qualitative method with a case study. Study results indicate that the Padangbai Port provides a place for fishermen and their groups to interact socially, where they can conduct various self-development activities that contribute to the economic development of the Padangbai Village. Most are done in manners where direct and intense social contacts and communications are profoundly chosen as a way to associate among fishermen.Keywords: social interaction; fisherman groups; economic development AbstrakTerdapat empat kelompok nelayan yang beraktifitas di Pantai Padangbai. Anggotanya merupakan bagian dari sebuah jejaring sosial yang aktif melakukan interaksi dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi. Tahun 1999 dibangun dermaga dengan nama Pelabuhan Rakyat Padangbai. Pelabuhan ini berdampak terhadap perekonomian desa sebagai sumberdaya penting dalam memelihara eksistensi para nelayan, aktivitas terkait yang lakukan, dan kelompok sosial yang dimiliki. Penelitian ini membahas tentang peran interaksi sosial dalam perkembangan pelabuhan dan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi Desa Padangbai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa Pelabuhan Padangbai menyediakan wadah bagi nelayan dan kelompoknya untuk berinteraksi sosial, dimana mereka bisa melakukan usaha-usaha pengembangan diri yang berdampak pada pembangunan ekonomi Desa Padangbai. Sebagian besar dilakukan dengan cara kontak sosial dan komunikasi secara langsung dan intensif yang dipilih sebagai cara berasosiasi diantara para nelayan.Kata kunci: interaksi sosial; kelompok nelayan; pembangunan ekonomi
Enhancing the Quality of Living Environment - the Utilization of Carbon Dioxide as a Green Industry Innovation Ida Umarul Mufidah
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.803 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p07

Abstract

The rapid growth in the productivity of the world's chemical industry has had adverse environmental impacts. One of the efforts to protect the environment is by reprocessing carbon dioxide. This research is an initiative to link the use of CO2 with the formation of green industrial innovation in the long term. A qualitative-descriptive approach is implemented to achieve this goal, aided by a literature review. The research results show that CO2 is not only produced from non-fossil energy residues but also from other fossil energy sources. The importance of campaigning for developing a carbon capture and storage technology that is actively supported by all parties is the key to the success of tackling the future climate change problem.Keywords: utilization; carbon dioxide (CO2); green industry; sustainable development AbstrakPesatnya pertumbuhan produktivitas industri kimia dunia telah menimbulkan dampak lingkungan yang merugikan. Salah satu upaya menjaga keberlanjutan lingkungan adalah melalui pengolahan kembali karbondioksida. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan penggunaan CO2 sebagai inovasi industri hijau untuk jangka panjang. Dalam mencapai tujuan ini, diterapkan pendekatan deskriptif kualitatif yang didukung oleh kajian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CO2 tidak hanya diproduksi dari sisa energi non-fosil tetapi juga dari sumber energi fosil lainnya. Pentingnya kampanye terkait teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang didukung peran aktif dari semua pihak menjadi kunci keberhasilan dalam penanganan masalah perubahan iklim di masa depan.Kata kunci: pemanfaatan; karbondioksida (Co2); industri hijau; pembangunan berkelanjutan
Elemen Livable Street pada Koridor Jalan Kamboja Denpasar I Gede Indra Mahendra; Anak Agung Ayu Oka Saraswati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.978 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p03

Abstract

A livable street is expected to accommodate the various needs of street users, including pedestrians, motorcyclists, cyclists, and those with physical impairments. The balance in fulfilling the needs of each of these users should be consciously maintained. Kamboja Street, located in the Denpasar education center, is a corridor with relatively complex functions. It is surrounded by GOR Ngurah Rai, Kereneng Market, and various government facilities. Changes in how this corridor has been used have affected its livability. Many street vendors have used this corridor as business venues; likewise, motorcyclists have used it as a parking area. The purpose of this study is to map the conditions in which various uses take place, the level of accessibility, and the environmental quality of the corridor, to achieve the expected livability level of this corridor and its capacity to accommodate the users’ needs. It applies a qualitative method with a rationalistic approach. It focuses on three livability elements: a) functions and social activities; b) accessibility & safety; and c) environmental quality. The results show that Segment 2 has livability-grade A, which means a high livable quality; Segment 1 has livability-grade B, which means a moderate livable quality; and Segment 3 has livability-grade C, which means the lowest livable quality of the three segments’ corridor.Keywords: street corridor livability; the element of street corridor livability; Kamboja street - Denpasar AbstrakSebuah jalan yang livabel diharapkan mampu mewadahi kebutuhan dari pemakai, termasuk kepentingan dari para pejalan kaki, pengendara motor, pengendara sepeda dan para penyandang keterbatasan fisik. Keseimbangan antara pemenuhan kepentingan dari masing-masing group pengguna harus secara sadar diperhatikan. Jalan Kamboja yang berada di kawasan pusat pendidikan Denpasar merupakan koridor dengan fungsi cukup kompleks. Terdapat fasilitas olahraga - GOR Ngurah Rai, Pasar Kreneng dan beragam fasilitas pemerintahan. Perubahan bagaimana koridor ini dimanfaatkan telah berpengaruh terhadap tingkat livabilitasnya. Banyak pedagang kaki lima (PKL) telah memanfaatkan koridor ini sebagai tempat berjualan dan banyak banyak para pengendara motor yang memanfaatkannya sebagai tempat parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi aktivitas, aksesibilitas, dan kualitas lingkungan sehingga kedepannya pada koridor Jalan Kamboja mampu diwujudkan livabilitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan pengguna koridor termasuk penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan rasionalistik dengan tiga elemen livabilitas koridor jalan: a) fungsi dan aktivitas sosial; b) aksesibilitas dan keselamatan; c) kualitas lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan pada Segmen 2 memiliki kondisi livabilitas A, yang berarti kualitas livable yang tinggi, Segmen 1 memiliki kondisi livabilitas B, yang berarti kualitas livable yang sedang, dan Segmen 3 memiliki kondisi livabilitas C, yang berarti kualitas livable yang paling rendah dari dari ketiga segmen koridor.Kata kunci: livabilitas koridor jalan; elemen livabilitas koridor jalan; koridor jalan Kamboja - Denpasar
Studio Arsitektur dan Relevansinya dalam Pedagogi Rancang Bangun Gusti Ayu Made Suartika; Ni Made Swanendri; Kadek Edi Saputra; I Ketut Mudra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.881 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p08

Abstract

This article raises a query in regard to the suitability of the 'studio' as a learning method in the field of architecture. Its existence is inspired by the central position of the studio in the curriculum for building design. The studio-based course absorbs a relatively more significant portion of resources, time, and energy compared to others which play a supporting or enriching role. This article applies an inductive approach and explorative method in both data collection and analysis. By considering the various components of influence in architectural learning – aspects of pedagogy, cultural diversification, social interests, and advances in science and technology –, the discussion and results of the study are described in three sub-topics. First is an exploration of a studio design-based education and its roles in learning. Second, it is a study of adapted learning methods that are initiated and implemented by various academic institutions in the same field. And third, it is an extraction of relevant learning methods for future education in the field of architecture. Keywords: studio; learning methods; architecture; creativity; building design AbstrakArtikel ini membahas tentang kesesuaian ‘studio’ sebagai metode pembelajaran dalam pendidikan di bidang arsitektur. Keberadaannya diIlhami oleh sentralnya posisi studio di dalam kurikulum pembelajaran di bidang ilmu rancang bangun ini. Perkuliahan di studio menyerap porsi sumberdaya, waktu serta energi yang relatif jauh lebih besar, dibandingkan dengan berbagai mata kuliah lain yang berperan sebagai pendukung maupun pengkayaan. Artikel ini menerapkan pendekatan induktif dengan metode eksploratif baik dalam pengkoleksian data maupun analisisnya. Dengan mempertimbangkan berbagai komponen pengaruh terhadap pembelajaran di bidang arsitektur – aspek pedagogi, diversifkasi budaya, kepentingan sosial, dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi –, pembahasan serta hasil studi dijabarkan dalam tiga group sub-topik. Pertama, eksistensi studio dalam perannya sebagai wujud pembelajaran. Kedua, eksplorasi metode pembelajaran yang diimplementasikan oleh beragam institusi akademik di bidang yang sama. Dan ketiga, ekstraksi metode pembelajaran dalam ranah pendidikan di dunia arsitektur di masa yang akan datang.Kata kunci: studio; metode pembelajaran; arsitektur; kreativitas; rancang bangun
Kajian Potensi Infrastruktur Hijau dengan Pendekatan Geodesign dalam Konteks Pandemi Covid-19 di Bandung Esti Galuh Arini; Widyastri Atsary Rahmy
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.8 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p04

Abstract

Green open space (RTH) - the main element of green infrastructures - is an essential component that determines the quality of our urban environment. However, the current urban planning practices focus more on achieving a minimum standard or a standard need per capita rather than on the importance of green open space in supporting public health. The COVID-19 pandemic has affected urban life widely and informed us of the central position of public health issues and the provision of green open space. This study aims to examine the integration between factors that control the state of public health and urban landscape planning and design by adequately providing urban green open spaces. It explores the use of geographic information technology (GIS) using the Geodesign method. It develops spatial data content, including the area's physical and non-physical variables, including the number of COVID-19 cases. This study uses a computer-assisted GIS data overlay analysis technique with a multi-objective analysis method. The city of Bandung is chosen as a case study as it is one of the big cities in Indonesia that still needs to meet the minimum green open space proportion required by Regulation Number 26 of 2007 concerning Spatial Planning. This study proposes 3 (three) urban green open space development scenarios, each with different variables following the current (status quo) spatial planning approach, a balanced approach, and a responsive approach. Based on these three scenarios, ten urban villages of Bandung are prioritized to have an additional green open space to achieve the minimum percentage of 20%.Keywords: green infrastructure; green open space planning; urban landscape; pandemic, Bandung city AbstrakRuang terbuka hijau (RTH) - elemen utama dari infrastruktur hijau – merupakan komponen penting yang menentukan kualitas lingkungan perkotaan. Namun, praktek perencanaan kota saat ini lebih fokus pada pencapaian standar luasan minimum atau standar kebutuhan per kapita daripada pada pentingnya ruang terbuka hijau dalam mendukung kesehatan publik. Pandemi COVID-19 telah secara luas mempengaruhi kehidupan di perkotaan dan menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan publik dan pengadaan ruang terbuka hijau. Studi ini bertujuan mengintegrasikan faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan publik dengan perencanaan dan perancangan lanskap perkotaan melalui penyediaan RTH secara tepat. Penelitian ini mengeksplorasi pemanfaatan teknologi informasi geografis (GIS) dengan metode Geodesign. Riset ini mengembangkan konten data spasial yang meliputi variabel fisik dan nonfisik kawasan, termasuk tingkat kasus COVID-19. Studi ini menggunakan teknik analisis overlay data GIS berbasis bantuan komputer dengan metode analisis multi sasaran (multi-objective). Kota Bandung dipilih sebagai area studi karena termasuk salah satu dari kota-kota besar di Indonesia yang belum memenuhi proporsi RTH minimal seperti yang dipersyaratkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Studi ini mengusulkan tiga skenario pengembangan RTH perkotaan, masing-masing dengan pembobotan variabel yang berbeda mengacu pada pendekatan perencanaan kawasan saat ini (status quo), pendekatan seimbang, serta pendekatan responsif. Dari ketiga skenario tersebut, diperoleh rekomendasi jika terdapat sepuluh kelurahan di Kota Bandung yang diprioritaskan untuk mendapatkan penambahan RTH demi mencapai proporsi RTH publik minimal 20%.Kata kunci: infrastruktur hijau; perencanaan ruang terbuka hijau; lanskap perkotaan; pandemic; Kota Bandung
Parasitic Architecture and the Conversion of Abandoned Buildings into Green Open Space Pandhu Putra Pratama; Arina Hayati; Asri Dinapradipta
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.101 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p09

Abstract

In several big cities in Indonesia, there are numerous cases of abandoned buildings due to delays in the construction process. Some of these buildings even remain abandoned and underused for an extended period. In line with this condition, cities experience a high level of urbanization that cause places tremendous pressure on urban spaces, especially green open spaces. This paper discusses Parasitic Architecture as an alternative design approach to address this issue. It proposes to use abandoned buildings as public facilities and is presented in sections. First, it reviews the concepts and principles of Parasitic Architecture, followed by observational studies using a contextual analysis to explore the context and function of abandoned buildings. The exploration results indicate a potential to apply Parasitic Architecture's concepts and principles in redesigning abandoned buildings and turning them into public facilities, particularly into green open spaces. In this context, the paper views Parasitic Architecture plays a vital role in providing innovative spatial and structural configurations to reorient the use of unused buildings for public functions.Keywords: abandoned building; contextual analysis; parasitic architecture; green open space AbstrakDi beberapa kota besar di Indonesia, banyak kasus bangunan terbengkalai akibat adanya kemunduran dalam proses konstruksi. Beberapa dari bangunan tersebut malahan terlalaikan dan tidak dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama. Seiring dengan permasalahan ini, kota-kota besar mengalami peningkatan jumlah urbanisasi yang menyebabkan ruang perkotaan semakin berkurang termasuk untuk ruang terbuka hijau kota. Paper ini membahas bagaimana parasitic architecture digunakan sebagai pendekatan perancangan untuk merespon permasalahan dengan memanfaatkan bangunan terbengkalai agar dapat berfungsi kembali dan dijadikan sebagai fasilitas atau ruang publik. Pertama, dilakukan kajian teori tentang konsep dan prinsip parasitic architecture, dilanjutkan dengan mengeksplorasi konteks dan fungsi bangunan terbengkalai melalui studi observasi dengan analisis kontekstual. Hasil eksplorasi menjelaskan terdapat potensi untuk menerapkan konsep dan prinsip parasitic architecture dalam perancangan kembali bangunan terbengkalai menjadi fasilitas publik, khususnya ruang terbuka hijau. Dalam konteks ini, parasitic architecture dipandang sebagai pendekatan perancangan berperan penting dalam pengadaan konfigurasi ruang dan struktur inovatif yang mampu mengalihkan bangunan terbengkalai menjadi ruang berfungsi publik. Kata kunci: bangunan terbengkalai; analisis kontesktual; parasitic architecture; ruang terbuka hijau
Delineasi Kawasan Perencanaan, Studi Kasus: Rencana Detil Tata Ruang Geopark Ngarai Sianok Maninjau Anthony P. Nasution; Forina Lestari; Anna Karenina; Medtry .; Budi Haryonugroho
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.872 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i01.p06

Abstract

The instigation of a Detailed Spatial Plan (RDTR) is currently the focus of both central and local governments in Indonesia. Delineation of a zone as the first step in formulating an RDTR requires a range of considerations, including physical and non-physical issues. This study aims to delineate a planning zone taking the Geopark Ngarai Sianok Maninjau as its case study. The data collection stage applies several methods, such as field observations, focus group discussions, interviews, and reviewing documents obtained from relevant local government offices. Data analysis is conducted by scaling method of several criteria, such as land use, tourism potential, geosite location, policy blueprints, etc. Upon applying these criteria, the study proposes Matur in the Agam Regency of the West Sumatra Province as the most appropriate zone to have its RDTR developed. This is one among four alternatives selected for this purpose. Ultimately, this study also identified several possible implications of the delineation process for developing a zone.Keywords: The Detailed Spatial Plan (RDTR); Geopark Ngarai Sianok Maninjau; delineation AbstrakPenyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) saat ini menjadi fokus kegiatan dari pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. Penentuan delineasi kawasan perencanaan sebagai langkah awal dalam penyusunan RDTR membutuhkan berbagai pertimbangan, baik fisik maupun non fisik. Kajian ini bertujuan untuk merumuskan delineasi kawasan perencanaan dengan mengambil Kawasan Geopark Ngarai Sianok Maninjau sebagai studi kasusnya. Proses pengumpulan data menerapkan metode antara lain, observasi lapangan, focus group discussion, wawancara, serta review dokumen yang diperoleh dari beragam kantor pemerintah daerah. Analisis data mempergunakan metode pembobotan dengan beberapa kriteria seperti misalnya tata guna lahan, potensi wisata, lokasi geosite, arahan kebijakan dan lain-lain. Setelah mempertimbangan kriteria-kriteria ini, kajian ini mengajukan Matur di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat sebagai zona yang paling tepat untuk dikembangkan sebagai kawasan yang akan disusun RDTR-nya. Kawasan merupakan salah satu dari empat alternatif lokasi yang dipilih untuk lokasi ini. Diakhir, kajian ini juga menghasilkan kemungkinan implikasi yang muncul dari kegiatan delineasi terhadap perkembangan kawasan.Kata kunci: Rencana Detail Tata Ruang (RDTR); Geopark Ngarai Sianok Maninjau; delineasi
Continuity of Housing Expression based on the Elderly Bugis Culture Putri Nur Sakinah; Arina Hayati; Muhammad Faqih
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p06

Abstract

Elderly people tend to continue passing down cultural values to the next generation. The Bugis community from South Sulawesi has solid cultural values that relate to rules of life and living called "Siri' na Pesse”. Over time, users' needs and desires for homes change and increase, and subsequently affect the ways the Bugis community perceives its living environments. This research aims to identify aspects and elements that are changed during implementing of the "Siri' na Pesse" conception. This identification is based on the perspective of the elderly group of the Bugis community who live in vernacular houses in Tolitoli, Central Sulawesi. For data collection, this research first distributed questionnaires to get information on concepts applied to the vernacular houses of its participants. However, this method did not provide responses relevant to the research criteria and objective. To seek more detailed information, it was then decided to proceed with participants’ observations and in-depth interviews to find out the extent and reasons for applying “Siri' na Pesse” conception in houses. Study results show that "Siri' na Pesse" conception is applied in some design aspects only, which are mainly in building elements of a vernacular living design. Some conceptions are no longer applied due to participants’ declining understanding of cultural values and conditions surrounding the settlements.Keywords: Buginese; elderly; housing; siri’ na pesse; valuesAbstrakLansia cenderung akan mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Suku Bugis memiliki nilai budaya yang kuat terkait dengan aturan hidup dan berhuni yang disebut "Siri' na Pesse". Seiring waktu, kebutuhan penghuni semakin bertambah dan berubah, sehingga terjadi perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan huniannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek dan elemen yang berubah dalam penerapan nilai “Siri’ na Pesse” pada hunian dari perspektif lansia Bugis. Partisipan penelitian adalah masyarakat lansia yang tinggal di hunian vernakular Bugis di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Tahap pertama, riset ini menyebarkan kuesioner untuk mendapatkan informasi nilai-nilai yang diterapkan pada bangunan hunian vernakular oleh partisipan. Hasil kuesioner kurang menunjukkan hasil yang sesuai dengan kriteria dan tujuan penelitian sehingga dibutuhkan metode penelitian lanjutan untuk lebih mendetailkan. Kemudian, observasi partisipan dan wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dan alasan penerapan nilai ”Siri’ na Pesse” pada hunian. Hasil penelitian menunjukkan nilai “Siri’ na Pesse” hanya diterapkan pada sebagian aspek terutama pada elemen bangunan dalam desain hunian vernakular. Beberapa nilai tidak lagi diterapkan karena menurunnya pemahaman terhadap nilai budaya dan kondisi lingkungan permukiman.Kata kunci: Bugis; lansia; nilai budaya; hunian; siri’ na pesse
Filosofi Pola Pekarangan dan Rumah Tradisional, Obyek Studi di Desa Bayung Gede - Bangli A A Gde Djaja Bharuna S.; I Ketut Muliawan Salain; Anak Agung Ngurah Aritama
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 10 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2023.v10.i02.p02

Abstract

Kintamani has several Bali Aga villages. Bayung Gede is one of them, which is an old settlement that has distinct cultural and architectural features. It is geographically positioned on a mountainous terrain of 800-900 metres above sea level. Its chilling climate condition impacts the spatial formation of its traditional homes, including layout patterns, building functions, opening patterns, and building forms. A combination of all of these attributes creates Bayung Gede as a settlement with a unique physical formation. Space within a house compound directly adjacent to the rurung (community road) is categorised as a sacred zone. This article aims to identify the philosophical elements of settlement and homes of the Bayung Gede community. It describes building forms, spatial patterns, and various uniqueness of Bayung Gede’s traditional houses. Furthermore, it breaks down design elements, which include home patterns, orientation, zoning, circulation and building layouts that are restricted to those meant for living only. Within, it addresses the study of form, scale, and proportion. Data is gathered through observations, architectural documentation, and interviews. For the aforementioned study, a descriptive-naturalistic research approach is used. It is concluded that the design of traditional homes in Bayung Gede Village is well-founded by a particular philosophy that makes this settlement unique compared to other Bali mountainous villages in Bali.Keywords: philosophy; housing compound; house layout; building form AbstrakKitamani memiliki beberapa desa Bali Aga. Bayung Gede adalah salah satunya yang merupakan desa kuno dengan ciri khas dalam budaya dan arsitekturnya. Topografi daerah pegunungan (800-900 M, dpl) berhawa sejuk berpengaruh terhadap pola penempatan, fungsi ruang, pola bukaan ruang, serta bentuk bangunan. Keunikan pada penataan bangunan rumah yakni hierarki nilai yang berlawanan di kanan dan kiri jalan lingkungan. Pada setiap rumah, zona yang paling dekat dengan sumbu jalan (rurung), merupakan zona sakral. Tujuan penulisan adalah untuk menemukenali filosofi yang terkandung pada rumah tradisional dengan mendeskripsikan bentuk bangunan, pola, serta keunikan-keunikan rumah tradisionalnya. Selanjutnya mengurai unsur-unsur perancangan yakni: pola rumah, orientasi, zoning, dan sirkulasi; dan tata bangunan yang dibatasi hanya pada fungsi hunian. Kemudian kajian bentuk, skala, dan proporsi juga ditujukan di dalamnya. Pendataan dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode penelitian dengan karakteristik seperti ini, mempergunakan deskriptif-naturalistik. Dapat disimpulkan bahwa terdapat filosofi yang melatarbelakangi pola pekarangan dan rumah tradisional di Desa Bayung Gede yang membuat permukiman ini unik jika dibandingkan dengan desa-desa pegunungan lainnya yang ada di Bali.Kata kunci: filosofi; pekarangan rumah; layout rumah; tata bangunan