cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
Transformasi Fungsi dan Bentuk Bangunan - Reaktivasi Stasiun Kereta Api Garut dan Pasirjengkol Tasya Fatihah; Ilma Nurfadlilawati; Fakhrisa Nur Paramarta; Wiwik Dwi Pratiwi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p04

Abstract

The reactivation of several train stations is part of PT. Kereta Api Indonesia's attempts to enhance railway services. In doing so, it initiated the reactivation of the Garut-Cibatu railway, which ceased operations in 1983. The 2018 National Railway Master Plan (RIPNAS) and Garut City Regional Spatial Plan (RTRWK) support the reactivation of this railway line to stimulate economic growth and improve tourism accessibility. This reactivation involves planning for the whole railway zone, including enhancing the overall physical quality of the Garut-Cibatu line and reopening several railway stations. This research focuses on the transformation of Garut Station, located in the Garut Kota District, and Pasirjengkol Station, located in the Sukawening District. As a result, both stations have experienced changes, notably the addition of new buildings. This implies transformations in building functions, station layouts, and architectural styles. This study aims to comprehend the changes and their impact on functions that support the operation of the railway and passenger experiences. It employs a qualitative method with descriptive analysis by combining secondary data from historical literature studies and primary data from documentation and interviews with relevant respondents.Keywords: railway station; transformation; function and form; operational function; passenger experience AbstrakReaktivasi beberapa stasiun kereta api merupakan bagian dari upaya PT. Kereta Api Indonesia untuk meningkatkan pelayanan perkeretaapian. Di dalam pelaksanaannya, diinisiasi untuk mereaktivasi jalur kereta api Garut-Cibatu yang berhenti beroperasi pada tahun 1983. Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) tahun 2018 dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) Garut mendukung reaktivasi jalur kereta api ini sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memudahkan akses pariwisata. Reaktivasi ini melibatkan penataan kawasan yang mencakup peningkatan kualitas fisik serta beroperasinya kembali beberapa stasiun kereta api. Stasiun Garut yang berlokasi di Kecamatan Garut Kota dan Stasiun Pasirjengkol di Kecamatan Sukawening menjadi fokus penelitian ini karena adanya transformasi stasiun kereta api yang terjadi pada kedua stasiun berupa penambahan massa bangunan. Transformasi ini mencakup perubahan bentuk fungsi bangunan, tata letak stasiun, dan gaya arsitektur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perubahan yang terjadi dan dampaknya terhadap fungsi-fungsi pendukung operasional, dan pengalaman pengguna stasiun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dengan menggabungkan data sekunder dari studi literatur Sejarah, dengan data primer dari dokumentasi serta wawancara dengan pihak yang relevan.Kata kunci: stasiun kereta api; transformasi; fungsi dan bentuk; fungsi operasional; pengalaman pengguna
The Historical Implications of the Keraton Yogyakarta on the Conception of Place in the Jeron Beteng Area, Yogyakarta Emmelia Tricia Herliana
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p10

Abstract

The Sultanate of Yogyakarta has been a distinct part of the characters associated with Yogyakarta City. The Jeron Beteng area, which is administratively located in the District of Kraton, was in the past the center of this Sultanate. It becomes part of historical journeys that construct the identity of Yogyakarta city as a place. Since its confirmed status as a heritage zone, the Jeron Beteng continuously attracts increasing tourists. It becomes subject to continuous land use, traffic, migration, and land ownership changes. As a result, the identity of the place has been transformed unclearly. This study views that, understanding the conception of a Jeron Beteng area as a place is essential to preserve its identity. It explores the dynamics of this conception based on cultural significances derived from historical events between 1755 and the present time. The research question is "How does the existence of the Keraton Yogyakarta affect the concept of place of the Jeron Beteng Area?" This study uses a historical-comparative method supported by secondary data. Data analysis is based on political, economic, social, and cultural influences on each phase of the Sultan's reign. Study results reveal that political, economic, social, and cultural conditions in each era of the Sultan's reign affect the dynamics of place conception of the Jeron Beteng area.Keywords: the conception of place; Jeron Beteng area; historical events; a cultural value AbstrakKasultanan Yogyakarta telah menjadi bagian khas dari karakter yang diasosiasikan dengan Kota Yogyakarta. Kawasan Jeron Beteng yang secara administatif terletak di Kecamatan Kraton dahulu merupakan pusat kesultanan ini. Kawasan ini menjadi bagian perjalanan sejarah yang membangun identitas Kota Yogyakarta sebagai sebuah tempat. Sejak penunjukannya sebagai cagar budaya, Kawasan Jeron Beteng secara berkelanjutan mengalami peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Kawasan ini telah mengalami perubahan yang terus-menerus dalam alih fungsi lahan, lalu lintas, migrasi, dan kepemilikan lahan. Identitas tempat telah ditransformasi secara tidak jelas. Studi ini memandang jika memahami konsepsi Kawasan Jeron Beteng sebagai sebuah tempat dalam rangka melestarikan identitasnya merupakan hal yang esensial. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dinamika dari konsepsi ini berdasarkan tata nilai budaya yang diderivasi dari beragam peristiwa sejarah yang terjadi dari tahun 1755 sampai sekarang. Pertanyaan penelitian yang digali adalah “Bagaimana keberadaan Keraton Yogyakarta mempengaruhi konsep tempat dari Kawasan Jeron Beteng?” Penelitian ini menggunakan metode historis-komparatif didukung oleh data sekunder. Analisis data didasarkan pada pengaruh aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya dari setiap era pemerintahan Sultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya pada setiap era pemerintahan Sultan mempengaruhi dinamika konsep tempat di kawasan Jeron Beteng.Kata kunci: konsepsi tempat; Kawasan Jeron Beteng; peristiwa-peristiwa sejarah; nilai budaya
Implementasi Eko-Efisiensi untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan di Rumah Sakit Daerah Nganjuk Fenri Nur Effendi; Lina Warlina; Subekti Nurmawati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p05

Abstract

Nganjuk Regional Hospital implements the eco-efficiency principle in its operation. It is carried out by focusing on three leadership profiles, facilities management, and the overall level of eco-efficiency practices in health services. This research uses a quantitative descriptive approach supported by data processing and literature study. Nganjuk Regional Hospital continuously improves its public health services by offering various health specialists. Its management and stakeholders are actively involved in making environmental improvements, enhancing employees' capacity, and paying attention to developing innovative health services. This research finds that public health services offered by hospitals increase the environmental cost, which, in consequence, elevates the level of the Eco-efficiency Ratio (EER). When this happens, the operation of a Nganjuk Regional Hospital will not be considered entirely environmentally friendly. Keywords: implementation of eco-efficiency; eco-efficiency ratio AbstrakRumah Sakit Daerah Nganjuk mengimplementasikan prinsip eko-efisiensi di dalam operasionalnya. Implementasi ini dilaksanakan dengan berfokus pada tiga profil, termasuk kepemimpinan, manajemen fasilitas dan keseluruhan tingkat eko-efisiensi dari layanan kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif menggunakan pengolahan data dan studi literatur. Rumah Sakit Daerah Nganjuk secara terus menerus meningkatkan pelayanan kesehatannya dengan mengembangkan beragam pelayanan kesehatan spesialis. Manajemen Rumah Sakit dan para pemangku kepentingan secara aktif melakukan perbaikan lingkungan, mendukung peningkatan kualitas karyawan dan memperhatikan pengembangan layanan rumah sakit yang inovatif. Penelitian ini menemukan bahwa layanan kesehatan publik bisa meningkatkan biaya lingkungan, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan nilai Eco-efficiency Ratio (EER). Ketika ini terjadi, operasional sebuah rumah sakit belum sepenuhnya dipandang ramah lingkungan.Kata kunci: implementasi eko-efisiensi; eco-efficiency ratio
Arsitektur Bangunan Suci di Desa Bayung Gede: Studi Bentuk dan Konsep Filosofis A.A. Gde Djaja Bharuna S.; Anak Agung Ngurah Aritama; Ketut Muliawan Salain
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p06

Abstract

Being part of cultural forms, the architecture of sacred buildings is inextricably linked to principles contained in manuscripts and philosophical norms passed through generations. As places for worship, sacred buildings have socio-cultural importance. Bayung Gede settlement is one of Bali Aga villages that has distinctive cultural and architectural features. The architecture of its sacred buildings is founded by a belief system dominated by inherited ancestral values and norms. This article reveals figures, forms, and philosophical concepts of sacred buildings of the Bayung Gede Village. Discussions within reflect a study of a qualitative approach using descriptive data analysis supported by relevant drawings and images. Research findings indicate that sacred buildings in Bayung Gede village are classified into four types: those that come with tetambakan, without tetambakan, in the shape of altars, and sacred buildings in residential areas.Keywords: architecture; sacred buildings; forms; philosophical concepts AbstrakSebagai bagian wujud budaya, arsitektur dari bangunan suci tidak terlepas dari aturan yang termuat dalam pustaka dan norma filosofis yang diturunkan antar generasi. Selain sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan, keberadaan bangunan suci memiliki makna sosial budaya. Permukiman Bayung Gede merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki ciri khusus dalam budaya dan arsitekturnya. Arsitektur bangunan-bangunan sucinya didasari oleh sistem kepercayaan yang didominasi oleh tata nilai dan norma yang diwarisi oleh para leluhurnya. Artikel ini akan mengungkap sosok, bentuk, serta konsep filosofis dari arsitektur bangunan suci dari Desa Bayung Gede. Diskusi yang ada di dalamnya mencerminkan sebuah studi yang memiliki pendekatan kualitatif yang mempergunakan analisa deskriptif, didukung oleh beragam gambar dan foto arsitektural yang relevan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bangunan suci di Desa Bayung Gede terbagi menjadi empat macam yakni bangunan suci yang dilengkapi dengan tetambakan, tanpa tetambakan, berupa tahta batu/altar, dan bangunan suci yang ada di pekarangan rumah.Kata kunci: arsitektur; bangunan suci; bentuk; konsep filosofis
Threshold Space: Ruang Antara dari Alun-alun Cicendo, Bandung Kiki Putri Amelia; Tita Cardiah; Widyanesti Liritantri; Bintang Mahendra; Kinanti Ammara
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p01

Abstract

Threshold space in Cicendo Square is critical in facilitating accessibility and creating the impression of an excellent public open space. By considering entrances, transitions, and building access, threshold space design must consider various considerations, including openness in design, sequences, geometry, topography, distinctive material, and provision of appropriate furniture to improve the quality of open spaces public. Taking a case study of Alun-alun Cicendo (Steel Plaza) in Bandung City as its case study, this research has two objectives. The first is to analyze the role of threshold space as an intermediary space in creating accessibility and spatial impressions in public open spaces. The second is to identify and determine factors in designing an adequate threshold space to improve the quality of public open space. This research uses a qualitative approach with descriptive analysis and interpretation. Research findings show that the analyzed parameters, namely delimitation, sequence, geometry, topography, materiality, and seating facilities, play an essential role in creating an adequate transitional space in Cicendo Square. In line with the dynamic of the existing functions and activities, these factors also contribute to creating attractive and high-quality public open spaces and increasing interest and public participation in using Cicendo Square.Keywords: threshold space; public open space AbstrakThreshold space di Alun-alun Cicendo memainkan peran kunci dalam memfasilitasi aksesibilitas dan menciptakan kesan ruang terbuka publik yang baik. Dengan mempertimbangkan entrance, transisi, dan akses bangunan, desain threshold space harus memperhitungkan faktor-faktor seperti keterbukaan dalam desain sequences, geometri, topografi, kekhasan bahan, dan penyediaan furnitur yang sesuai untuk meningkatkan kualitas ruang terbuka publik. Dengan menjadikan Alun-alun Cicendo (Steel Plaza) di Kota Bandung sebagai studi kasus, penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama untuk menganalisis peran threshold space sebagai ruang perantara dalam menciptakan aksesibilitas dan kesan ruang pada ruang terbuka publik. Kedua, untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu dalam merancang threshold space yang efektif untuk meningkatkan kualitas ruang terbuka publik. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif dan interpretasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa parameter-parameter yang dianalisis, yaitu delimitasi, sekuens, geometri, topografi, materialitas, dan sarana duduk, berperan penting dalam menciptakan ruang transisi yang efektif pada Alun-alun Cicendo. Beriringan dengan dinamika dari beragam fungsi dan aktivitas yang ada, faktor-faktor ini berkontribusi terhadap penciptaan ruang terbuka publik yang menarik dan berkualitas, dan peningkatan minat serta partisipasi masyarakat dalam menggunakan Alun-alun Cicendo.Kata kunci: threshold space; ruang terbuka publik
Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Kawasan Pesisir Pantai Jimbaran, Bali I Wayan Jagat Wikarna Aji; A. A. Ayu Oka Saraswati; I Ketut Mudra
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p07

Abstract

Jimbaran Beach has various potentials that should be developed optimally, along with the increasing activities that take place at this coastal line. Fishing communities and tourism sector activities have proliferated for the last two decades. This, in consequence, requires both the provision of new infrastructures and the improvement of the inadequate existing infrastructures. This research aims to assess a list of prioritized infrastructures required by the fishing community and tourists of Jimbaran Beach. It uses a rationalistic quantitative approach and engages the Importance-Performance Analysis (IPA) technique. The study result shows that the following is a series of the most concerned infrastructures required by the Jimbaran Coastal Zone, including artificial tourist attractions, waste management, road network, culinary tourism, cultural tourism attractions, transportation facilities, parking lots, and pedestrian paths.Keywords: coastal area infrastructure; Jimbaran beach; development priorities AbstrakPantai Jimbaran memiliki beragam potensi yang patut dikembangkan secara optimal seiring dengan semakin beragamnya aktivitas yang terjadi di pesisir ini. Dalam dua dekade terakhir, kegiatan berkenaan sektor perikanan dan pariwisata telah tumbuh dengan pesat. Kondisi ini mensyaratkan pengadaan infrastruktur baru dan peningkatan kualitas infrastruktur yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan infrastruktur prioritas yang dibutuhkan, baik oleh masyarakat nelayan maupun wisatawan Pantai Jimbaran. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif rasionalistik, dengan teknik analisis Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil studi menunjukan daftar infrastruktur yang perlu diperhatikan kebutuhannya, termasuk atraksi wisata buatan, pengelolaan limbah sampah, jaringan jalan, wisata kuliner, atraksi wisata budaya, fasilitas transportasi, tempat parkir, dan jalur pedestrian. Kata kunci: infrastruktur kawasan pesisir; pantai Jimbaran; prioritas pengembangan
Pengaruh Biodiversitas-vegetasi terhadap Kenyamanan Pengunjung (Studi Kasus: Taman Monjari dan Jaya Wijaya, Kota Surakarta) Hasna Nadia Hikari; Lathifa P. W. Syahrani; . Luthfia; Sofiyana Khoirunnisa; Ahmad D. Setyawan; Widhi Himawan; Aru Dewangga
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p02

Abstract

Industrial development and urban growth challenge Kota Surakarta, especially regarding environmental quality and community welfare. Population growth and urban infrastructure development are likely to contribute to the increasing solar-heat absorption and temperature. The presence of green open space is a method to regulate urban microclimate by its capacity to intervene in air humidity, temperature, and light penetration. This research aims to study biodiversity-vegetation's role in determining visitors' comfort levels at Monjari and Jaya Wijaya Parks of Surakarta City. Study findings will be of fundamental consideration in developing comfortable green open spaces that will stabilize the microclimate of Surakarta City. This study relied on both primary and secondary data. Primary data is collected using a random sample method on a square plot. The Shannon-Wiener diversity index is employed to assess the diversity of plant types in both parks. Research findings demonstrate that Jaya Wijaya Park has more biodiversity than Monjari Park. Monjari Park, on the other hand, has a higher carbon and biomass uptake level despite having various vegetation types, including trees, saplings, and seedlings. In conclusion, Surakarta City requires appropriate biodiversity-vegetation management to develop comfortable green open spaces.Keywords: biodiversity-vegetation; visitors’ comfort; city parks AbstrakPembangunan dan pertumbuhan industri membawa beragam tantangan bagi Kota Surakarta, khususnya terkait dengan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan populasi dan pembangunan infrastruktur kota cenderung meningkatkan penyerapan panas matahari dan suhu. Keberadaan ruang terbuka hijau adalah sebuah usaha untuk mengatur iklim mikro perkotaan dengan kemampuannya di dalam mengintervensi kelembapan udara, suhu, dan penetrasi cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran biodiversitas-vegetasi terhadap kenyamanan pengunjung di Taman Monjari dan Jaya Wijaya. Hasil studi akan menjadi pertimbangan dalam pengembangan ruang terbuka hijau sebagai tempat yang nyaman dan mampu menstabilkan iklim mikro di Kota Surakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode random sampling dengan ketentuan plot atau petak persegi. Penelitian ini menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk mengukur keragaman jenis tanaman di kedua taman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Jaya Wijaya memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi daripada Taman Monjari. Tetapi, Taman Monjari memiliki nilai serapan karbon dan biomassa yang lebih tinggi, meskipun dalam kenyataannya memiliki beragam tipe vegetasi termasuk pepohonan, pancang, dan semai. Sebagai rangkuman, Kota Surakarta memerlukan pengelolaan biodiversitas vegetasi yang tepat dalam rangka membangun ruang terbuka hijau yang nyaman.Kata kunci: biodiversitas-vegetasi; kenyamanan pengunjung;, taman kota
Detil Publikasi Jurnal Ruang-Space
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koloniale Tentoonstelling Semarang as an Industrial Tourism Destination Khusnul Hanifati
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i01.p08

Abstract

The idea behind the world exhibitions event was to promote international trade by exhibiting goods, colonial achievements, and the identities of the colonies. However, Georg Simmel’s notes in “The Berlin Trade Exhibition” showed that the exhibitions developed during the nineteenth century specifically responded to the competitive demands of the industrial mode and money economy. Thus, the purpose of the world exhibition is not merely as an annual fair; rather, it has socioeconomic and cultural aspects represented by the colony on a smaller scale. A similar pattern was also found in the Colonial Exhibition of Semarang. As one of the biggest exhibitions held in Southeast Asia in the early 20th century, the exhibition displayed the Dutch Colonial’s highest achievement in the Dutch East Indies. It represents modern life's industrial and technological advancement and temporarily serves as the center of world civilization. Yet there is a distinct contrast between the natives and European visitors, which causes a contradiction between modernism and traditionalism exhibited in the exhibition. This paper examines Koloniale Tentoonstelling Semarang as the representation of an industrial city and an attraction for a touristic destination. It aims to investigate how world exhibitions served not only as platforms for promoting international trade but also as reflections of the socioeconomic and cultural dynamics of the time. Keywords: exhibition; colonial; Semarang; Sentiling; Tentoonstelling AbstrakGagasan di balik kegiatan world exhibitions adalah untuk mempromosikan perdagangan internasional dengan memamerkan barang, pencapaian kolonial, dan identitas koloni. Namun, catatan Georg Simmel dalam “The Berlin Trade Exhibition” menunjukkan bahwa pameran yang dikembangkan di abad kesembilan belas secara khusus menanggapi tuntutan kompetitif industri dan ekonomi. Oleh karena itu, tujuan pameran dunia bukan hanya sebagai pameran tahunan; namun juga memiliki aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang diwakili oleh koloni dalam skala yang lebih kecil. Pola serupa juga ditemukan dalam Pameran Kolonial Semarang. Sebagai salah satu eksibisi terbesar yang diselenggarakan di Asia Tenggara di awal abad ke-20, pameran ini menampilkan pencapaian tertinggi Kolonial Belanda di Hindia Belanda. Hal ini mencerminkan kemajuan industri dan teknologi kehidupan modern yang ditampilkan untuk sementara waktu sebagai pusat peradaban dunia. Namun terdapat kondisi yang mencolok antara penduduk asli dan pengunjung dari Eropa, sehingga menimbulkan kontradiksi antara modernisme dan tradisionalisme yang dipamerkan dalam pameran ini. Tulisan ini akan mengkaji Koloniale Tentoonstelling Semarang sebagai representasi kota industri dan daya tarik destinasi wisata. Tulisan ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana pameran dunia tidak hanya berfungsi sebagai wadah untuk mempromosikan perdagangan internasional tetapi juga sebagai cerminan dinamika sosial ekonomi dan budaya pada saat itu.Kata kunci: pameran; kolonial; Semarang; Sentiling; Tentoonstelling
Tipologi Tipologi Rumah Pacenan Situbondo, Jawa Timur Berdasar Gender Selvia Noer Agustin; . Widiastuti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 11 No 2 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2024.v11.i02.p06

Abstract

Pacenan houses are examples of vernacular architecture in Situbondo Regency, East Java Province. The lack of writing on this form of homes has encouraged authors to study them and to develop a typology of pacenan’s vernacular architecture based on gender. This study implements a qualitative approach supported by case studies of pacenan houses in Tanjung Pecinan Village, Mangaran District, and Situbondo Regency. The latest location is seen as the origin of the pacenan house. At first, an analysis of layout/spatial division and how spaces are zoned based on uses by male and female users is performed. Then, houses are grouped based on architectural differences. This activity is carried out by producing plans and three-dimensional drawings of all houses included in the study. This research develops two underlying considerations to be used to develop gender-based typologies: considerations regarding layout/spatial division and considerations about the overall existence of houses. Based on the layout, there are two typologies: female spaces that include an amper, roma, and kitchen, all of these spaces are part of the indoor formation. Male spaces consist of rangghun, langgar and tanean lanjhang. These are all located outside the houses. Then, based on the overall existence of houses, there are also two typologies. The first is based on the existence of distance between mothers’ houses and daughters’ houses. The second is based on the existence of langgar.Keywords: typology; pacenan house; Situbondo; East Java; gender AbstrakRumah pacenan adalah salah satu contoh arsitektur vernacular di Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Minimnya tulisan tentang wujud rumah pacenan telah mendorong penulis untuk menstudi serta membangun tipologinya berdasarkan pertimbangan gender. Metode yang digunakan adalah kualitatif didukung oleh studi kasus dari beragam rumah pacenan yang berlokasi di Desa Tanjung Pecinan, Kecamatan Mangaran, dan Kabupaten Situbondo. Lokasi terakhir dipandang sebagai daerah asal kelahiran rumah pacenan. Di awal dilaksanakan analisis layout rumah pacenan yang dizone berdasar pemanfaatannya oleh pengguna lelaki dan/atau perempuan. Kemudian dilakukan pengelompokan tipe rumah yang berbeda. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memproduksi denah dan gambar tiga dimensi dari semua rumah yang menjadi bagian studi. Penelitian ini menunjukan dua dasar pertimbangan yang bisa dipakai membangun tipologi rumah pacenan berbasis gender, yaitu: pertimbangan terkait layout-divisi ruang dan pertimbangan terkait eksistensi rumah secara keseluruhan. Berdasarkan layout, dibangun dua tipologi ruang, yaitu: ruang perempuan yang terdiri dari amper, roma dan dapur, ruang-ruang ini berada di dalam rumah. Dan ruang lelaki yang terdiri dari rangghun, langgar dan tanean lanjhang. Semua ruang ini berada di luar rumah. Berdasarkan wujud rumah secara keseluruhan dibangun dua tipologi. Tipologi pertama didasari oleh keberadaan jarak antara rumah ibu dan rumah anak perempuan. Tipologi kedua didasari atas keberadaan langgar.Kata kunci: tipologi; rumah pacenan; Situbondo; Jawa Timur; gender