cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mentari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
URGENSITAS KOMPETENSI TENAGA PENDIDIK BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS PERSAINGAN GLOBAL Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Seperti kita ketahui, pendidikan adalah proses membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik.  Suatu negara yang tidak melihat pendidikan akan mengalami ketertinggalan dari negara lain dan masyarakatnya sendiri tidak mampu bersaing dengan dunia luar.  Menilik dari pengalaman Negara lain, Jepang dan Korea menjadi negara maju dan mereka dihargai di dunia karena kekreatifitasan, keinofatifan dan kemajuan di bidang pengetahuan.  Kedua negara tersebut ternyata berkomitmen terhadap penguasaan ilmu dan bahasa Inggris sebagai suatu keharusan. Hingga saat ini, kedua negara tersebut dapat bersaing di berbagai sektor. Penguasaan ilmu dan bahasa Inggris adalah kunci utama.   Mengapa bahasa Inggris? Berbicara tentang bahasa Inggris, sejarah telah membuktikan bahasa Inggris lebih dominan sebagai bahasa yang didalamnya terdapat banyak ilmu dan peradaban.  Dominasi bahasa Inggris terjadi ketika kolonialisme barat berhasil melakukan perluasaan politik, ekonomi, ilmu & teknologi, dan budaya. Itulah sebabnya mengapa bahasa Inggris diakui dan digunakan sebagai alat dalam mengembangkan pengetahuan, bernegosiasi bisnis, dan berkomunikasi dengan dunia luar.  Seperti yang diungkapkan oleh Naisbitt berikut ini: “There are, in the world today, more than one billion English speakers-people who speak English as a mother tongue, as a second language, or as a foreign language.  60 per cent of the radio broadcasts are in English. 70 per cent of the world’s mail is addressed in English.  80 per cent of all international telephone conversations are in English. 80 per cent of all data in the several 100 million computers in the world is in English”.[1] Saat ini, di dunia ada lebih dari satu milyar orang yang berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa kedua atau sebagai bahasa asing.  60% penyiaran radio menggunakan Bahasa Inggris. 70% surat-menyurat di dunia menggunakan Bahasa Inggris.  80% percakapan telepon internasional menggunakan Bahasa Inggris.  80% semua data dalam 100 juta computer di dunia menggunakan Bahasa Inggris. Hal serupa diungkapkan Ferguson berdasarkan penelitian ilmiah bahwa sumber ilmu pengetahuan dan korporasi multinasional, terkenal dan ikonik menggunakan bahasa Inggris[2]. Singkatnya, tingkat penguasaan bahasa Inggris begitu penting karena era globalisasi tidak dapat dihindari dan dunia mengalami perubahan cepat dalam dimensi hubungan internasional tanpa sekat melalui web, internet, perjanjian, transaksi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kesempatan. Menurut Indrawati, sebuah penelitian indeks pengembangan  sumber daya manusia (HDI) yang dilakukan UNDP telah mengeluarkan hasil bahwa dari 174 negara yang disurvei, sumberdaya manusia Indonesia berada di level 102.  Sumber daya manusia Indonesia tertinggal 50 tahun dari Singapore dan Malaysia. Kita masih tertinggal jauh khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.[3] Hasballah mengungkapkan hanya beberapa orang Aceh yang memiliki posisi strategis dalam pekerjaan pada saat sesudah tsunami di Rehabilitasi-Rekonsialiasi Aceh-BRR dan internationals organizations (NGOs).  Itupun lebih dikarenakan faktor politik dan sosial-ekonomi bukan karena keahliannya atau kompeten dalam bekerja.  Posisi yang strategis tersebut banyak diduduki orang luar yang lebih kompeten dalam pengetahuan dan penguasaan bahasa Inggris.[4] Berdasarkan fakta tersebut yang diungkap Hasballah, maka perlu kiranya para lulusan pada masa mendatang dipersiapkan untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang ‘oriented-overseas job’ seperti di Timur Tengah, di negara-negara asia yang maju seperti Malaysia, Singapore, Japan, Korea atau Australia. Kesempatan kerja harus lebih mengarah pada pekerjaan yang bersifat keahlian atau ‘expert’ seperti ahli telekomunikasi, pedagang berbasis teknologi, dan di badan-badan internasional.[5] Lemahnya sumber daya Indonesia sangat bergantung dari para pendidik yang berkompeten dalam menghasilkan lulusan yang unggul. Yang ingin penulis diskusikan di sini adalah sejauh mana kompetensi pendidik bahasa Inggris secara profesi dan akademik? Tujuan artikel ini adalah untuk mengupas indikator ketidakunggulan kompetensi pendidik Bahasa Inggris dan mencari solusi meningkatkan kompetensi para pendidik Bahasa Inggris. Dalam kamus Webster New Collegiate (1981), profesi (profession) adalah panggilan dalam memperoleh spesialisasi pengetahuan melalui persiapan panjang dan intensif pada institusi.  Ketika seseorang sudah memiliki spesialisasi pengetahuan dan bekerja dengan ilmu tersebut maka seseorang tersebut di sebut ‘profesional’.[6]   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Profesi Dalam dunia pendidikan, profesi pendidik yaitu memiliki spesialisasi berbagai macam pengetahuan metode pembelajaran, memiliki kompetensi literasi jurnal, makalah, buku, linguistik terapan dan sebagainya. Untuk mengukur kompetensi para pendidik, pemerintah menetapkan kebijakan melalui sertifikasi sehingga para pendidik yang sudah mendapatkan sertifikasi secara formal mendapatkan ‘izin mengajar’ dan sudah dapat dikatakan ‘profesional’. Namun, kenyataannya, masih banyak kendala yang terjadi pada saat sertifikasi.  Sertifikasi para pendidik didasarkan asesmen portofolio yang dibuktikan dengan dokumen atas reprensentasi pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Seorang pendidik yang sudah bersertifikat pendidik profesional berhak memperoleh tunjangan profesi. Namun,  permasalahan yang kerap muncul adalah pada saat proses melengkapi portofolio itu sendiri. Selain motivasi utama para pendidik untuk mendapatkan tunjangan profesi tetapi keterbatasan kemampuan atau ‘skill’ dan waktu yang singkat dalam menyelesaikan portofolio menjadi kecemasan tersendiri bagi mereka sehingga faktor kejujuran dan objektifitas patut dipertanyakan! Penjelasan tersebut didukung oleh Kartadinata bahwa sulit untuk menilai apakah ada korelasi antara portofolio dengan tingkat penguasaan pengetahuan (metode mengajar dan aplikasi mengajar) atau tidak karena asesmen portofolio tidak disertai pengamatan lapangan sehingga objektifitasdan kejujuran dari para pendidik dalam menyiapkan portofolio merupakan kunci validasi asesmen. Jika terjadi ketidakjujuran dalam menyajikan portofolio, portofolio tidak akan merepresentasikan kompetensi dan kinerja para pendidik dan keputusan yang diambil menjadi tidak valid. Perlu kecermatan tinggi dalam asesmen portofolio dan (mungkin) perlu dilakukan review menyeluruh atas sistem portofolio.[7] Tidak mengherankan sebanyak 1.082 pendidik menggunakan dokumen palsu di Riau dan seorang profesor dari perguruan tinggi ternama di Bandung mempertaruhkan martabatnya dengan memanipulasi jurnal Carl Ungerer[8].  Oleh karena itu, profesional tidak dapat diukur dengan proses yang instan, maka bagi pendidik yang tidak terbiasa menulis akan mengalami hambatan dan kekhawatiran sehingga melakukan plagiat atau mengkopi hasil karya tulisan orang lain.  Jika demikian adanya, secara profesi para pendidik kita tidak profesional. Dampaknya akan mempengaruhi pada terdidik yang menuntut ilmu ketika lulus menjadi tidak terampil ‘unskilled’ untuk bersaing di dunia kerja karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai.   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Saad menekankan bahwa paradigma pengajaran seharusnya diubah atau diganti agar menghasilkan lulusan unggul, bukan lulusan yang ‘penghafal teori’ atau ‘Rote Learner’. [9] Siswa harus bertanggung jawab untuk dapat mengembangkan diri mereka melalui interaksi sosial menjadi ‘Independent Thinker’ sebagai constructivist learning. Alwasilah, dalam buku ‘Bahasa Inggris dalam Konteks Persaingan Global’, ada beberapa indikator atas ketidakunggulan penguasaan pengetahuan bahasa Inggris secara akademik di perguruan tinggi.[10] Pertama, banyak pengajar mengajar bahasa Inggris hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan menganalisa kalimat.  Detailnya, pernyataan ini; “…menguasai bahasa Inggris seyogyanya menyajikan kesempatan dan pajanan (exposure) bagi pembelajar dalam isu-isu nyata sehingga menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi, berdialog dan berfikir kritis. Berkontribusi terhadap perkembangan daya nalar dan pembaruan kebudayaan (cultural renewal)“. Kewajiban para dosen EFL tidak hanya mengajar bahasa sekedar pada penggunaan ‘tobe’ (am, is, are) dan ‘to have’ atau memperbaiki bahasa secara gramatikal tetapi juga harus mengajarkan fungsi bahasa itu sendiri dalam konteks komunikasi sosial, interaksi, budaya dan berfikir kritis dalam kehidupan nyata. Kedua, para pengajar masih kurang mereproduksi literasi dan pengetahuan.  Rudy  menjelaskan bahwa tahun 2004 The times Higher Education Supplement memilih 200 universitas terbaik di dunia.  10 universitas terbaik adalah Harvard University, University of Barkeley, Masschusetts Institute of Technology, California Institute of Technology, Oxford University, Cambridge University, Stanford University, Yale University, Princeton University dan ETH Zurich Swiss. National University of Singapore (ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya University (ke-89) dan Sains Malaya Univeristy (ke-111).[11] Ironisnya, tidak satu pun universitas dari Indonesia termasuk didalamnya.  Mengapa? Para pengajar tidak dapat menghasilkan produk tertulis yang dipublikasikan di forum dunia. Satu dari lima kriteria untuk menilai untuk menilai 200 universitas terbaik adalah melalui karya tulis dosen yang aktif. Dalam hal ini, universitas berkualitas bukan berdasarkan dari fasilitas yang baik, tetapi produk tertulis yang sering dikutip di forum internasional. Bagaimana pengajar kita bisa berpatisipasi secara internasional berdasarkan sumber Replubika bahwa  tingkat terendah penyerahan proposal penelitian ke Ditjen Dikti Diknas berasal dari universitas? [12]. Kebiasaan literasi kita belum optimal dalam atmosfir akademik. Kurangnya kebiasaan literasi disebabkan karena masih banyak manajemen universitas yang mengabaikan dan kurang memberi apresiasi karya tulis pengajar dan kurang memfasilitasi dalam ‘writing workshop.’  Universitas memerlukan perencanaan terstruktur dan baik untuk membangkitkan dan mendorong pengajar menghasilkan pengetahuan melalui jurnal, buku, atau makalah. Kurangnya kompetensi pengajar dalam literasi akan berdampak besar dalam mengembangkan kemampuan mahasiswa menulis khususnya membuat skripsi seperti dalam menuangkan ide, grammar, ejaan kata bahasa Inggris, penguasaan kosa kata sehingga mahasiswa hanya meng-copy paste karya skripsi orang lain. Makna yang tersirat dari uraian tersebut mengindikasikan tumpulnya kreativitas literasi kalangan intelektual menjadi tantangan terbesar yang dihadapi kita saat ini. Apa daya negara tetangga seperti Malaysia, Nigeria dan Thailand sudah lebih dahulu Go International?  Sekedar mengingat kembali sejarah kejayaan beberapa dekade yang lalu, kita pernah mengirimkan para pendidik yang kompeten ke negeri jiran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga, tidak hanya lemah dalam karya tulis, kualifikasi pengajar dalam berkomunikasi secara lisan juga kurang. Apalagi persyaratan umum minimal penguasaan TOEFL 500 belum tercapai sehingga banyak kesempatan untuk beasiswa tidak termanfaatkan secara maksimal.[13].  Status Bahasa Inggris kita sebagai bahasa asing (English Foreign Language) terbatas digunakan hanya dalam pembelajaran dikelas dan tidak berkembang sebagai alat komunikasi pergaulan menjadi hambatan tersendiri. Keempat, Sakri menjelaskan bahwa penyerapan ilmu pengetahuan melalui produk terjemahan buku teks, jurnal dari bahasa sumber ke bahasa sasaran masih kurang maksimal.  Fakta membuktikan Indonesia memiliki judul lebih dari 100.000 dalam bahasa Inggris tetapi hanya 20-25% saja yang produktif menterjemahkan.[14]. Berbagai alasan terungkap dalam penelitian bahwa motivasi pengajar untuk menterjemahkan buku kurang seiring dengan kurangnya pembayaran honor menterjemahkan. Alasan lain adalah kegiatan menterjemahkan memerlukan waktu dan pemikiran lebih bukan sebagai pekerjaan sampingan sementara, pengajar memiliki tugas utama yaitu mengajar.  Selain itu, yang memiliki keterampilan dalam menterjemahkan secara resmi masih sangat sedikit karena kewenangan untuk mendapatkan ‘sworn translator’ atau ‘certified translator’ hanya satu dari Universitas Indonesia. Tentu saja hal ini akan menjadi hambatan bagi mereka yang berada diluar jangkauan dan ingin mengambil kesempatan menjadi penterjemah resmi karena hambatan biaya dan waktu. Aceh adalah miniatur dari kondisi nyata pendidikan saat ini yang mewakili ketidakunggulan penguasaan bahasa Inggris baik para pengajar. Pengalaman penulis melihat masih banyak pengajar yang belum menguasai  Bahasa Inggris nyatanya mereka adalah sarjana S-2.  Sementara untuk melanjutkan program S-2 dan S-3 di dalam negeri saja memerlukan persyaratan minimal TOEFL 450 untuk memudahkan pengajar memahami dan  menterjemahkan buku teks bahasa Inggris sebagai buku wajib. Dalam Interaksi dikelas, pengajar tidak membiasakan merangsang interaksi yang komunikatif dalam bahasa Inggris karena masih adanya stigma apabila berbicara bahasa Inggris merasa malu disebut ‘gaya-gaya’an saja. Metode mengajar yang tidak berfokus pada komunikasi di tambah kurangnya mahasiswa membaca referensi pengetahuan.  Mereka hanya duduk, diam, dengar dan menerima yang pengajar ajarkan tanpa mempertajam kemampuan berfikir kritis.  Efek domino yang lebih besar adalah lulusan tidak unggul yang menjadi guru dan menyebar keseluruh daerah untuk mengajar sehingga menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas program belajar bahasa Inggris tidak berjalan lancar di sekolah-sekolah karena kemampuan guru dalam penguasaan materi rendah. Apakah masih ada solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut? Apakah sudah terlambat? Usaha pemerintah Aceh untuk memberdayakan para dosen melaui program beasiswa layak mendapat apresiasi tetapi usaha tersebut patut memerlukan follow-up! Tujuan penulisan ini, penulis memberikan sajian solusi alternatif untuk meningkatkan kompetensi pendidik Bahasa Inggris yang memerlukan perencanaan dan pengembangan strategi di masing-masing kampus sehingga menghasilkan para pengajar yang betul-betul profesional dan menghasilkan produk akhir para lulusan yang unggul. PEMBAHASAN   Pengajar sebagai ujung tombak meningkatkan daya saing yang mengglobal, perlu melakukan pengembangan dengan strategi yang baik.   Meningkatkan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris Secara Profesi Seperti yang diungkapkan Stigler; “Professionals have longer and more specialized training, greater freedom, to organize their time, greater personal responsibility for directing their own work, and the respect that comes from the uniqueness and quality of their contribution”.[15]   Profesional tidak sekedar mendapatkan sertifikasi dan pengetahuan serta melakukan pelatihan khusus dalam waktu lama tetapi memerlukan kebebasan lebih luas, mengorganisir waktu, memiliki tanggung jawab pribadi yang besar yang mengarah kepada pekerjaan mereka sendiri dan menghargai sesuatu yang berasal dari keunikan dan kualitas atas kontribusi pengajar sendiri! Memberikan pemahaman bahwa sertifikasi adalah langkah baik sebagai bagian upaya pemerintah memberikan tunjangan terhadap profesi pengajar namun akan lebih baik apabila profesi yang mereka sandang dilengkapi dengan membangun tanggung jawab profesionalitas mengajar yang terkait dengan wilayah profesinya, Bahasa Inggris seperti yang diungkapkan Richards, (1) dengan memperbanyak metode pengajaran seperti human interaksi model, active learning model, competence based teaching models, Diharapkan pula, agar para dosen ketika mengajar dalam kelas siap menghadapi masalah yang muncul, (2) teaching skill berarti keterampilan ‘mengajar’ itu sendiri melibatkan kegiatan pembelajaran yang kesemuanya mengarahkan pada kemampuan mahasiswa untuk bereksplorasi dan berkomunikasi, menyiapkan siswa untuk mempelajari hal-hal baru, memberikan kesempatan mempelajari materi baru, mempersiapkan kegiatan interaktif dan komunikatif melalui group work, games, simulasi, presentasi, role play, (3) keterampilan berkomunikasi atau ‘communicative skill’ mengarah pada kelancaran berbahasa Inggris dan kemampuan membangun psikologi kedekatan dengan mahasiswa.  Melalui pendekatan keterampilan ini, mahasiswa dapat berujar bagaimana cara meminta, bagaimana cara berjanji, bagaimana memberi salam, berterima kasih, mengucapkan belasungkawa dalam bahasa Inggris, (4) mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan membuat keputusan, dimana materi dikembangkan dan ditransformasi kedalam bentuk pengajaran yang adaptif sesuai dengan latar belakang, budaya, sosial, (5) dalam kontekstual pengetahun dan (6) pengetahuan di bidang sosiolinguistik yang erat kaitannya dalam fenomena variasi berbahasa dalam atmosfir sosial atau performansi.[16] Meningkatan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Pertama, pihak kampus dapat mempertimbangkan cara ‘Pembinaan Dosen Muda’ Alwasilah (2004) mengkategorisasikan ke dalam:  (1) Dosen Terbina yaitu dosen yang belum memiliki persyaratan minimal,  (2) Dosen Pembina yaitu yang memiliki gelar dan dapat mengarahkan ‘Dosen Terbina’, (3) ‘Jalur Pembinaan’ yaitu dosen yang memiliki gelar S2 dan S3 untuk mengikuti studi, (4) ‘Materi Pembinaan’ tentang pengetahuan teoritis (Perceived Knowledge), pengetahuan lapangan (Learning Experience) seperti simulasi, micro teaching, studi  kasus, observasi, seminar, diskusi, dan karya tulis. Proses pembinaan memerlukan persyaratan, (1) dari ‘Umum ke Khusus’, dosen terbina dapat menjadi asisten terlebih dahulu dan dapat memilah subjek yang sesuai dari dosen Pembina, (2) dari ‘Terbina ke Mandiri’, dosen yang sudah S2 memiliki kewenangan mengajar program S-1 yang sesuai dengan bidang studi dan dapat menjadi ‘teaching team’. Dengan memenuhi persyaratan diatas melalui program pembinaan maka profesionalitas pengajar diharapkan berkembang dalam supervisi mengajar, mengajar ‘across curriculum’, mengajar subjek favorit, dan mengembangkan materi.  Untuk dua persyaratan mengembangkan kompetensi pengajar dari ‘Sistematik ke Koordinatif’ berkaitan erat dengan penunjukan ‘Dosen Pembina’, penentuan ‘Materi Pembinaan’ dan (2) ‘Dinamis’ dimana kompetensi professional mengarah pada ketepatan (adequacy), kelancaran (proficiency), sampai ahli (expertise). [17] Kedua, kampus hendaknya memiliki ‘Wadah Profesi’ jangka pendek secara rutin untuk kegiatan akademik selain pelatihan peer-writing. Untuk jangka panjang, pihak kampus dapat menjadi keanggotaan organisasi TESOL untuk membangun jaringan. “The association exists to provide opportunities for networking not only among the members of TESOL but also among the members of the several affiliates and with the membership of other local, national, and international professional association with which TESOL shares a common interest” (Asworth 1993:11).   Asosiasi ada untuk menyediakan atau memberikan kesempatan jaringan tidak hanya diantara anggota TESOL tetapi juga diantara beberapa anggota afiliasi dan anggota lokal, nasional dan internasional untuk saling berbagi minat yang sama. Kampus juga dapat membangun minat baca-tulis dosen dengan cara: (1) setiap pengajar bertukar informasi referensi satu sama lain.  Kurangnya referensi menyebabkan kurangnya minat menulis.  Di sini, pengajar satu sama lainnya bisa menjadi fasilitator dalam memfasilitasi referensi, (2) menyediakan ‘writing workshop’ yang berorientasi pada proses mencari ide, menulis draft, merevisi sampai pada menerbitkan tulisan.  Proses merevisi berarti meng-kolaborasikan tulisan untuk saling mengoreksi tatabahasa (grammar), tulisan, ide dengan rekan.  Dengan melakukan ini, diharapakan akan terbiasa menulis dan plagiarisme dapat dihindari.  Proses menulis lebih berharga dan bermakna daripada sekedar hasil tulisan.  Tahapan ini dapat juga diterapkan untuk mahasiswa dan dosen dapat memotivasi mahasiswa itu sendiri untuk menulis, (3) Tulisan pengajar dapat direspon sendiri oleh mahasiswa sebagai pembaca untuk menajamkan dan mengeksplorasi pendapat sebagai bagian dari menumbuhkan keberanian berdialog, berinteraksi, berfikir kritis dalam akademik, Menurut Rudy, respon mahasiswa yang terus-menerus melalui karya tulis dapat pula meningkatkan tulisan mereka sendiri, (4) komitmen dari pihak universitas untuk selalu memajukan dan memfasilitasi dosen mengaktualisasikan diri di lingkungan kampus terlebih dahulu, (5) memberikan apresiasi akan memotivasi pelaku akademik untuk tetap menulis dana akan dapat menghasilkan atau ‘reproduce’ ilmu pengetahuan kedalam jurnal, buku.[18] Ketiga, kampus memfasilitasi para pengajar untuk selalu meng-upgrade atau memperbaharui nilai TOEFL atau IELST  sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Keempat, prospektifitas bidang terjemahan masih luas untuk dilakoni.  Agar tepat sasaran untuk meningkatkan keterampilan menterjemahkan ada beberapa saran yang diajukan berdasarkan penelitian Harto bahwa (1) pengajar yang memegang mata kuliah ‘translation’ harus mengetahui tujuan akhir apa yang akan dipersiapkan bagi para lulusan dan menganalisa kebutuhan mahasiswa sebelum memutuskan materi apa yang akan dipelajari.  Koherensi kurikulum dengan kebutuhan pasar menjadi perhatian utama, sehingga produk akhir dari lulusan siap pakai, (2) pengajar harus mempersiapkan proses menterjemahkan dari memahami materi secara utuh sesuai konteksnya, menterjemahkan teks, membaca hasil teks, dan mengedit hasil teks, jika perlu membuat ‘footnote’, (3) pemerintah hendaknya mempertimbangkan institusi lain di Aceh untuk memiliki kewenangan mencetak lulusan menjadi ‘sworn translator’.[19] PENUTUP Pada sesi penutup ini, para dosen perlu meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat menghasilkan lulusan unggul yang mampu dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh agar bisa bersaing di era globalisasi.  Menumbuhkan atmosfir akademik dengan membangun ‘Wadah Profesi’ di kampus untuk melakukan pembinaan dosen muda, membangun ‘peer-teaching’ atau kolaborasi mengajar dan ‘writing workshop’ atau peer-writing yaitu metode kolaborasi menulis untuk saling mengkoreksi ide, grammar, spelling dan bertukar informasi referensi satu dengan yang lain untuk menambah informasi referensi pengetahuan dan sumber untuk menulis. Membangun dan memelihara profesionalisme melalui peningkatan dedikasi, komitmen, kerja keras, efisien, jujur dan selalu mengaktualisasikan diri secara akademik dalam kehidupan nyata dengan membangkitkan minat melakukan penelitian, memperkaya variasi metode mengajar dalam pembelajaran, sehingga profesionalisme tumbuh  seiring dengan kepiawaian mengajar, kepiawaian menulis, serta kepiawaian dalam ranah pendidikan bahasa Inggris lainnya.   DAFTAR PUSTAKA     Alwasilah, Chaedar. 1995.  Profesionalism in Language.  Jakarta: Jakarta Post. Alwadilah, Chaedar. 1997.  Lemahnya Diplomat Indonesia. Jakarta: Republika. Alwasilah, Chaedar. 2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif. Bandung: CV.  Andira. Alwasilah, Chaedar. 2004. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV. Andira. Adam, Anas. M. 2010. Banyak Guru Belum Tersentuh Pelatihan. Serambi: Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas. Banda Aceh: Serambi. Buchori, Mochtar. 2010.  Guru Profesional dan Plagiarisme. Jakarta: Kompas. Harto, Sri. 2003. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan: Studi Kasus Tujuh Penerjemah Profesional. Bandung: CV.  Andira. Indrawati. 2003. Meningkatkan Daya Saing SDM Indonesia di Era Pasar Bebas. Bandung: CV. Andira. Informasi Pendidikan.  1995.  Kualifikasi Dosen.  Jakarta: Republika. Kartadinata, Sunaryo. 2009.  Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan. Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Naisbitt, John.  1995.  Global Paradox. New York: Avon Books. Rudy,    Inderawati. 2011. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam Mereproduksi Ilmu. JPBS FKIP. Malang : Universitas Sriwijaya. Richards, Jack C. 1998.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education. New York: Cambridge University Press. Stevenson, Harold W. dan James W Stigler. 1992. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education. New York: Touchstone. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Sakri, Adjat.  1985.  Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2.  Bandung: Penerbit ITB. Webster’s New Collegiate Dictionary. 1981. Professional Definition. At http://webster.com           [1] Naisbitt, John.  Global Paradox (NY: Avon Books, 1995). [2]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [3]. Indrawati, Meningkatkan daya saing SDM Indonesia di era Pasar bebas (Bandung:           Andira, 2003). [4]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.5   [5]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.8.   [6]. Websters’ New Collegiate, Dictionary.  Definition of Profession at Http://www.webstercollegiate.org (1981).   [7]. Kartadinata, Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009). [8]. Buchori, Mochtar. Guru profesional dan Plagiarisme (Jakarta: Kompas, 2010). [9]. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan, 2009).   [10]. Alwasilah, Chaedar. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif (Bandung: Andira, 2003). [11]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam mereproduksi ilmu (JPBS IKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [12]. Alwasilah, Chaedar.  Artikel Lemahnya Diplomat Indonesia (Jakarta: Republika, 1997). [13]. Alwasilah, Chaedar. Artikel tentang Profesionalism in English Language (Jakarta: Jakarta Post, 1995).. [14]. Sakri, Adjat. Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2 (Bandung: ITB, 1985). [15]. Stevenson, Harold W dan James W Stigler. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education (NY: Touchstone, 1992). [16].  Richards, Jack C.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education (NY: Cambridge University Press, 1998). [17]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [18]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Inteletual dalam Mereproduksi Ilmu (JPBS FKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [19]. Harto, Sri. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan (Bandung: Andira, 2003).
UNGKAPAN BEREFEREN BINATANG DALAM BAHASA ACEH DIALEK PEUSANGAN Azwardi, Azwardi
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan sejumlah fakta dan data awal yang berhubungan dengan ungkapan bereferen binatang dalam bahasa Aceh dialek Peusangan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) makna, maksud, dan amanat yang terkandung dalam ungkapan referen binatang, dan (2) pemakaian ungkapan referen binatang dalam konteks pemakaian bahasa masyarakat Aceh. Sumber datanya adalah masyarakat penutur asli bahasa Aceh dialek Peusangan yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota di Aceh. Berdasarkan beberapa data yang teramati dalam konteks pemakaian ungkapan bereferen binatang, terlihat bahwa ada kecenderungan orang Aceh memosisikan orang-orang yang memiliki moral tercela setara dengan binatang. Jenis binatang yang direpresentasikan sesuai dengan tingkat tabiat atau sifat cela yang dimiliki manusia tersebut. Deskripsi ini sangat penting bagi ketersediaan data awal bagi sebuah penelitian yang komprehensif berkaitan dengan ungkapan bahasa Aceh karena inventarisasi secara spesifik tentang ungkapan-ungkapan bereferen bintang dalam bahasa Aceh secara menyeluruh belum pernah dilakukan, padahal ungkapan-ungkapan tersebut merupakan salah satu sastra lisan, memori kolektif masyarakat Aceh yang perlu dilestarikan dan dikembangkan seperti yang telah dilakukan terhadap sastra lisan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain di Nusantara.   Kata kunci: ungkapan, ungkapan bereferen binatang, bahasa Aceh, dialek Peusangan  DAFTAR PUSTAKA Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah. ---------. 1994a. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah. ---------. 2004b. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kulsum, Umi. 2008. “Perubahan Makna Akibat Asosiasi pada Metafora dalam Bahasa Indonesia”. Jurnal Metalingua, Vol. 6, No. 1, Juni 2008:63-70. Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta. Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Safriandi. 2008. “Ungkapan-Ungkapan Emosional dalam Bahasa Aceh”. Dalam Majalah Tuhoe, Edisi VI, Juli 2008. Wijana, Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2006. Sosiolinguistik: Kajian Teoretis dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wijana, I Dewa Putu. 2005. “Makian dalam Bahasa Indonesia: Studi tentang Bentuk dan Referensinya”. Jurnal Humaniora Fakultas Ilmu Budaya UGM, Volume 16, Nomor 3, Oktober 2004:242-251).
PERBANDINGAN KESEGARAN JASMANI ANTARA SISWA SMP NEGERI 1 DENGAN SISWA SMP NEGERI 2 BANDA ACEH Bustamam, Bustamam
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di sekolah bertujuan untuk memacu pada pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial, selaras dalam upaya membentuk dan mengembangkan kemampuan gerak dasar, menanamkan nilai, sikap dan membiasakan hidup sehat. Kesegaran Jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan tugas sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui perbandingan tingkat kesegaran jasmani antara siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan jumlah siswa seluruhnya 670 siswa dan SMP Negeri 2 Banda Aceh dengan jumlah siswa seluruhnya 620 siswa, sedangkan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan area probability sample (sampel wilayah), dengan jumlah 60 siswa, terdiri dari 30 siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dan 30 siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah teknik penelitian diskriptif dengan teknik pengukuran. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk anak usia 10–12 tahun. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil analisis data diperoleh thitung lebih kecil dari ttabel atau 0,916 < 2,048, maka ditolaknya hipotesis penelitian (Ha) dan diterimanya hipotesis statistik (Ho) artinya tidak terdapat tingkat perbedaan kesegaran jasmani pada siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan siswa SMP Negeri 2 Banda Aceh. Kata Kunci :   kesegaran jasmani     DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Yusuf dan Syarifuddin, Aip. 1996. Ilmu Kepelatihan Dasar. Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti. Proyek Pendidikan Tingkat Akademik. Amir, Nyak. (2006), Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Syiah Kuala UniversityPress, Banda Aceh. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Baley, James A. 1986. Pedoman Atlet Teknik Peningkatan Ketangkasan dan Stamina. Semarang : Bahasa Prise. Depdikbud, (1994). Petunjuk Pelaksanaan Pola Umum Pembinaan dan Pengembangan Kesegaran Jasmani. Jakarta: Depdikbud. -------------. (1995). Alat-alat Tes dan Pengukuran Pendidikan Jasmani dan Penggunaannya. Jakarta: Depdikbud. Giam (1993), Ilmu Kedokteran Olahraga, Binarupa Aksara, Jakarta. http://pojokpenjas.blogspot.com/2008/08/kebugaran-jasmani.html Khomsin, (2002). Paparan Kuliah Perkembangan dan Belajar Gerak. Semarang : FIK Unnes. Lutan, Rusli dkk., 1992. Manusia dan Olahraga. Bandung: FPOK IKIP Bandung. Moeloek, Dasiana. (1984). Kesehatan Olahraga. Jakarta : Proyek Pembinaan SGO Jakarta. Moelyono W, (1993). Kesehatan Olahraga. Jakarta : Depdikbud. Roji (2004), Pendidikan Jasmani untuk SMP, Erlangga, Jakarta. Sadoso S, (1992). Pengetahuan Praktis Kesehatan dan Olahraga. Jakarta : PT. Gramedia. Sajoto, M. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize. Slamet SR, (1994). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Solo : Tiga Serangkai. Sudjana, 1989. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito. Suharno.1993. Ilmu Choaching Umum. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta. Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan, PT Bumi Aksara, Jakarta. Sumosardjuno, Sadoso. 1994. Pengetahuan Praktis Kesehatan dalam Olahraga. Jakarta: PT. Gramedia. Suniar, Leane (2002). Dukungan Zat-Zat Gizi untuk Menunjang Prestasi Olahraga. Jakarta : Kalamedia. Syarifudin, Aip. 1992. Olahraga Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Jakarta: CV Baru. Wahjoedi. (2001). Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Wahjoedi (2001), Landasan Evaluasi Pendidikan Jasmani, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Wirjasantosa, Ratal (1984), Supervisi Pendidikan Olahraga, Universitas Indonesia, Jakarta. Zainuddin, M (1988), Metode Penelitian, Universitas Airlangga Surabaya.
METODE TAQRIB DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA Juempa, Nurul
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui metode taqrib dalam pembelajaran agama Islam. Metode penulisan menggunakan metode library research. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa semua metode dalam pendidikan Islam tepat digunakan dalam pembelajaran agama Islam. Oleh karena itu, penggunaan metode dalam pendidikan tidak harus terfokus pada satu bentuk metode, akan tetapi dapat memilih atau mengkombinasikan diantara metode yang lain. Metode taqrib sangat cocok digunakan dalam proses belajar mengajar, karena dengan metode ini murid termotivasi dalam melewati hari belajarnya karenamurid akan tumbuh sikap percaya diri yang seutuhnya.     DAFTAR PUSTAKA Heri Jauhari Mukhtar, Fikih Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.   Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.   M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-5, Jakarta: Bumi Aksara, 1996   Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. IV, Edisi Ke-2, Jakarta: Balai Pustaka, 1995.   Ahmad Warson Munawir, Kamus Arab Indonesia, cet. 14, Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997.   Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.   Yuni Setia Ningsih, Birul Awlad Vs Birul Walidain Upaya Pendidikan Emosional Anak Dalam Keluarga, Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry Press, 2007.   A. Chairan Marzuki, Anak Saleh dalam Asuhan Ibu Muslimah, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004. Imam al-Ghazali, Ihya `Ulumuddin, (terj), jilid.3, Semarang: Asy-Syifa`,1992.   Husain Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, (terj), Jakarta: Lentera Basritama, 2002.   Syaikh Jamaluddin Mahfuzh, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PETA KONSEP PADA MATERI SISTEM GERAK PADA MANUSIA DI KELAS VIIIc MTs DARUL IHSAN ACEH BESAR Eliyanti, Eliyanti
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya hasil belajar siswa pada materi Sistem Gerak Manusia disebabkan oleh kesulitan siswa dalam memahami materi ini, selain itu metode pembelajaran yang digunakan juga kurang tepat. Upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan metode peta konsep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa pada materi Sistem Gerak Manusia dan respon siswa terhadap penerapan metode peta konsep pada pembelajaran materi sistem gerak manusia. Subyek  penelitian ini adalah siswa kelas VIIIc MTs Darul Ihsan sebanyak 34 orang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan desain one shot case study. Pengambilan data menggunakan test dan angket, analisis data melalui teknik persentase. Hasil penelitian diperoleh 30 siswa (88,23%) mencapai ketuntasan belajar minimal (KKM) yang ditetapkan 63. Respon siswa terhadap pembelajaran dengan mengunakan peta konsep yang diterapkan sangat  positif.   Keyword: penerapan metode pembelajaran, peta konsep     DAFTAR PUSTAKA Anas Sudjono. 2007. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo. Bobbi Deppoter. 2002. Quantum Teaching, Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang Kelas, Bandung; Kaifa, 2002 I Nyoman Muliasa. 2002. Penggunaan Peta Konsep dalam Pembelajaran (makalah), Malang: Program pasca Sarjana UNM, 2002 Lie Anita. 2004. Cooperatif Learning: Mempraktekkan Kooperatif Learning di Ruang Kelas, Jakarta; Gramedia Widiasarana Indonesia. Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara. Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rineka Cipta. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta; Rineka Cipta. Sunarto. 2001. Metodologi Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Pendidikan, Surabaya; UNESA University. Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Pendidikan, Jakarta; Rineka Cipta.
PENGELOLAAN LABORATORIUM KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SMP NEGERI 2 BANDA ACEH Khairuddin, Khairuddin
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan laboratorium komputer sebagai media pembelajaran sangat berperan penting terhadap proses keberhasilan pembelajaran di sekolah sehingga guru dan siswa diharapkan dapat menguasai teknologi dan informasi yang sangat penting di era globalisasi sekarang ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem rekrutmen staf, penggunaan, dan pengembangan laboratorium komputer di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi, Wawancara dan Studi Dokumentasi. Subjek penelitian adalah Kepala Sekolah, Pengelola Laboratorium, Tenaga Laboran dan Siswa. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Perekrutan tenaga laboran berasal dari guru bidang studi sehingga kemampuannya kurang maksimal karena bukan ahli dibidangnya. 2) Penggunaan laboratorium komputer untuk memenuhi kebutuhan kegiatan belajar mengajar pengelola dan guru terlebih dahulu membuat suatu rancangan kegiatan dan jadwal pemakaian laboratorium untuk kegiatan pembelajaran, juga disertai dengan peraturan penggunaan laboratorium, dalam  pembelajaran masing-masing siswa mendapat satu komputer ketika proses belajar di laboratorium, sistem pembelajaran dilakukan secara langsung yaitu siswa melihat langsung kepada monitor sehingga langsung dapat dipraktekkan. 3). Pengembangan laboratorium komputer dilakukan melalui peningkatan kemampuan staf laboran dengan mengikuti pelatihan sehingga kemampuan guru meningkat, melaksanakan program e-learning sehingga guru dan siswa dapat mengembangkan program e-learning sebagai media pembelajaran, pengembangan bengkel komputer sehingga siswa mengetahui tentang perangkat keras (Hardware), dan meminta pengadaan komputer baru kepada Dinas pendidikan Kota Banda Aceh. Kata Kunci : pengelolaan, media pembelajaran   DAFTRA  PUSTAKA Arsyad, Azhar. (2005). Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Asmadi, Alsa (2007) Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatiff Serta Kombinasinya Dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdiknas, (http://www.puskur.net/inc/si/smp/TIK.pdf tanggal 6 April 2008) Mulyasa,E. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nugroho, M.(http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/13/opi04.htm tanggal 6 April 2008) Pidarta, Made. (2005). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta. PT. Rineka Cipta. Sadiman, et.al (2006) Media Pendidikan:Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT,Raja Grafindo Persada. Suryosubroto, B. (2005) Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta Yamin, Martinis, (2007). Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tengang Sistem Pendidikan Nasional.  
INDONESIAN CLASSROOM MANAGEMENT BY TWO NONNETIVE SPEAKER TEACHERS TO SECOND LANGUAGE LEANERS Elfia, Elfia
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laporan ini mengkaji metode-metode pengelolaan kelas oleh dua guru yang bukan berbahasa Indonesia  saat mengajar bahasa tersebut. Dalam studi ini keduanya menunjukkan kecakapan mereka dalam mengajar pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah.Tujuan dari laporan ini untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada guru bahasa asing lainnya dalam hal pengajaran bahasa di  dalam kelas bahasa kedua mareka, yaitu bahasa Indonesia. Data yang dikumpulkan untuk studi initer masuk catatan observasi, rekaman audio, dan wawancara. Analisa tersebut menyatakan bahwa peningkatan kemampuan berbaha saamat dipengaruhi oleh peran yang dimainkan guru. Untuk mewujudkan sebuah praktik berbahasa yang nyata, guru harus lebih sering menggunakan bahasa kedua dalam aktivitas kelas untuk merangsang ketertarikan siswa terhadap bahasa daripada sebaliknya yang mungkin telah mareka lakukan.     References   Allen, E. D & Valette, R. M. (1977). Classroom Techniques: Foreign Languages and English as a second language. Harcourt Brace Jovanovich. USA Chastain, K. (1988). Developing second-language skills. Theory and Practice. Harcourt Brace Jovanovich. University of Virginia Corrie, M, Haystead, J & Zaklukiewicz, S. (1982). Classroom Management strategies.London Ellis, R. (1986). Understanding second language acquisition. Oxford University Press. Oxford Gibbons, P. (2006). “A sociocultural view of language and learning”. In Bridging Discourses in the ESL Classroom: Students, teachers and researchers, (pp. 15-41). London, New York: Continuum. Halliday, M.A.K. (1978). Language and social man (part 1). In language As Social Semiotic: The Social Interpretation of Language and Meaning, (pp.8-35). London: Edward Arnold Magos, K & Politi, F. (2008). The creative second language lesson: The contribution of the role-play technique to the teaching of a second language in immigrant classes.Vol 39(1), 96-112. Retrieved October 22,2009, from Ebsco elctronic journal services (EJS) websites: http://RELC.sagepub.com Mickan, P. (2006). Socialisation, social practice and teaching. In social practices, pedagogy and language use: studies in socialisation. Eds P Mickan, I Petrescu and J Timoney. Adelaide: Lythrum Press. Thornbury, S & D. Slade. (2006). Teaching Conversation: Approach, design, procedure and process. Conversation: From Description to Pedagogy (pp.273-325). Cambridge: Cambridge University Press. Walsh, S. (2007). A framework for analysing classroom interaction. In Investigating Classroom Discourse, (pp.62-92). London, New York: Routledge Yi, F. (n. d). EFL classroom management: Creating a Positive Climate for Learning, (pp.128-137) Yoon, B. (2007). Offering or limiting opportunities: Teachers’roles and approaches to English-language learners’ participation in literacy activities. The reading teacher. 61(3), 216-225
EVALUASI BUKU PEULAJARAN BASA ACEH (Keu Murit Sikula Dasa Glah 4) Ramli, Ramli
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku “Peulajaran Basa Aceh (Keu Murid Sikula Dasa)”, yang selanjutnya disingkat dengan PBA, merupakan buku pelajaran bahasa Aceh yang telah lama digunakan. Oleh karena itu, isi buku terkesan tidak menarik lagi. Terlepas dari kelemahan yang ada, sampai saat ini, buku tersebut masih tetap digunakan di sekolah-sekolah. Berkaitan dengan fenomena ini, tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan (mengevaluasi) isi buku, baik berhubungan dengan pengembangan isi buku maupun tampilannya. Buku PBA ini terdiri atas enam jilid, yaitu jilid 1 s.d. 6.  Sebagai sampel, dievalusi buku PBA jilid 4. Buku ini terdiri atas 18 pelajaran dengan tema yang bervariasi. Karena pelajarannya banyak, evaluasi hanya dibatasi pada lima pelajaran, yaitu 1) “Tujoh Blah Agustus” (Memperingati Tujuh Belas Agustus), 2) “Syeedara Baro” (Saudara Baru),  3) “Seudati” (Tarian Seudari), 4) Rambu Jalan (Rambu-Rambu Jalan), dan 5) “Peu-Ek Glayang” (Bermain Layang-layang). Hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa buku PBA jilid 4 ditulis/dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar (buku) yang benar. Kelebihan buku terletak pada tema/topik/materi yang bervariasi, tugas dan konsep beragam, tidak bertentangan dengan keamanan nasional, dan bahasanya jelas. Namun, kekurangan buku, antara lain, terletak pada  kurangnya keterlibatan siswa, mengutamakan satu keterampilan berbahasa saja, informasi sudah ditinggal zaman, keotentikan teks kurang, dan warna/ilustrasi juga kurang. Di samping itu, buku PBA ini belum pernah direvisi. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar segera direvisi dengan meyesuaikan isi buku dengan perkembangan masyarakat saat ini. Tema/topik materi tentang kearifan lokal perlu dimasukkan untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada murid dalam menghadapi pengaruh budaya global yang sangat gencar akhir-akhir ini. Kata kunci: evaluasi buku, “peulajaran basa Aceh”   DAFTAR  PUSTAKA   Afif, Zainal. “Bahasa Aceh Warisan Budaya Bangsa.” Banda Aceh, Surat Kabar Serambi Indonesia, 14 Januari  2003. Cunningsworth, Alan. 1984. Evaluating and Selecting EFL Teaching Materials. London: Heinamenn Education Books. -------------. 1995. Choosing Your Coursebook. Cambridge: Cambridge University Press. Dubin, Fraida and Elite Olshtain. 1986. Course Design:  Developing Programs and Materials for Language Learning. (Cambridge: Cambridge University Press. Purwo, B. K.  “Pengajaran Bahasa Nusantara di Indonesia”. Makalah disampaikan pada “Konferensi Bahasa Nusantara”, 18-19 Oktober 1999 di Taman Ismail Marzuki. McDonough, Jo dan Christopher Shaw. 1993. Materials and Methods in ELT. Oxford: Blackwell Publishers. Sulaiman, Budiman, dkk. Peulajaran Basa Aceh keu Murit Sikula Dasa Glah 4. Banda Aceh: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1997. Tomlinson, Brian. 2001. Materials Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press. Utomo, Erry dkk. 2000. Teknik Penulisan Buku Pelajaran Muatan Lokal Pendidikan Dasar (SD dan SLTP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
PEMETAAN DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN SISWA SMA DI KABUPATEN PIDIE DAN PIDIE JAYA Bintang, Sanusi
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari beberapa kali pelaksanaan UN, kelulusan siswa, khususnya siswa SMA belum memuaskan. baik pada tataran nasional maupun pada level daerah. Masih ada sejumlah siswa yang nilai kelulusan UN-nya belum maksimal, berarti masih ada sejumlah siswa yang belum menguasai kompetensi dasar tertentu. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengungkap peta kompetensi dasar yang belum dikuasai peserta didik. (2) Mengungkap faktor-faktor penyebab peserta didik tidak menguasai kompetensi dasar tertentu dari mata pelajaran yang diujian-nasionalkan (3) Menemukan rumusan alternatif pemecahan yang tepat untuk meningkatkan kompetensi peserta didik dalam  mata pelajaran yang diujiannasionalkan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kompetensi dasar yang  belum dikuasai peserta didik  di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya rata-rata untuk kelompok IPS pada tiga sekolah sampel berturut-turut adalah, 3%; 46,7%: 54,7%. Faktor penyebabnya karena rendahnya beberapa komponen dari 8 standar pendidikan. Yang menjadi alternatif model penecahan masalah ialah (1) melatih beberapa orang guru menjadi tutor, yang  selanjutnya  membimbing para guru dalam materi/KD sulit, yang didampingi oleh dosen peneliti (2) melakukan workshop untuk melatih guru mengembangkan perangkat pembelajaran dan teknik evaluasi, dan dosen peneliti akan menjadi nara sumber dan selalu mendampingi kegiatan ini. Kata kunci: kompetensi dasar     DAFTAR PUSTAKA Azwar, Saifuddin. (2005). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Brown, Frederick G. (1983). Principles of Education and Psychological Testing. New York:   Holt, Rinehart and Winston. Croker, Linda and James Algina (1986). Introduction To Clasical and Modern Test. Chicago: Holt, Rinehart and Winston. Depdiknas (2008), Rancangan Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Ditjed Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas. (2002). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Konsep Dasar. Jakarta: Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Fernandes, H.J.X. (1984). Testing And Measurement. Jakarta: Nationala Education Planning, Evaluation and Curriculum Development. Gronlund, N.E & Linn, R.L. (1990), Measurement and Evaluation in Teaching. New York: Macmillan. Guilford, J.P. (1982),  Psychometric methods, New York: McGraw-Hill Publishing Co.Ltd. Hayat, Bahrul dan Suhendra Yusuf (2010). Benchmark Internasional Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Haryati, Mimin. (2009). Model & Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada  Press. Kemdiknas. (2010). Panduan Kebijakan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional Untuk Perbaikan  Mutu Pendidikan. Jakarta: Balitbang Pendidikan. Mardapi, Djemari. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitrs Cendikia Offset. Nurkholis. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah, Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Widiassarana Indonesia Sudjana, Nana. (2002), Dasar-Dasar Proses belajar mengajar, Bandung: Sinar Baru. Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Marwah Guru, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa Suryosubroto, B. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta. Yamin, Martinis. (2004). Pengembangan Kompetensi Pebelajar, Jakarta: Uninersitas  Indonesia Press.
PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI KEUANGAN MATERI JURNAL KHUSUS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE JIGSAW Amrusi, Amrusi
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Rata-rata prestasi belajar Akuntansi Keuangan materi jurnal khusus dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada mahasiswa Pendidikan Ekomomi FKIP Unsyiah. 2) Suasana kelas saat berlangsungnya proses pembelajaran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi kelas akuntansi angkatan 2010/2011 yang berjumlah 25 orang. Semua populasi dijadikan sampel. Untuk mengumpulkan data terlebih dahulu mahasiswa diajarkan materi tentang jurnal  khusus,  dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Kemudian, diberikan tes dalam bentuk essay untuk melihat hasil belajar. Di samping itu, dilakukan observasi kelas, guna memantau suasana kelas saat berlangsung proses belajar. Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan rata-rata atau (mean) dan persentase untuk mengukur daya serap yang dicapai manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar mata kuliah Akuntansi Keuangan pada pokok bahasan jurnal khusus dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah 71. Ini menunjukkan pula bahawa sebesar 71% materi kuliah akuntansi keuangan dapat diserap oleh mahasiswa. Berarti rata-rata prestasi belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang dicapai oleh mahasiswa sudah baik dan memuaskan. Adapun suasana kelas saat berlangsungnya proses belajar mengajar adalah suasana kelas cukup menyenangkan, santai, dan mahasiswa cukup aktif dan kreatif dalam menyelesaikan materi yang ditugaskan. Penelitian ini menyarankan: 1) hendaknya para staf pengajar khususnya mata kuliah akuntansi keuangan agar dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. 2) Kepada peneliti lain agar dapat melakukan penelitian yang berkenaan dengan model pembelajaran ini. Kata kunci: prestasi belajar, akuntansi keuangan, materi jurnal khusus, Jigsaw   DAFTAR PUSTAKA As’ari, Abdur Rahman, (2003), Jigsaw Pembelajaran Struktur Aljabar I dengan    Cooperatif Learning Model, Yogyakarta, UGM. Depdiknas, (2004), Model-Model Pembelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat JendralPendidkan Tinggi. Djamarah, Syaiful Bahri, (2002), Psikologi Belajar. Jakarta: Cipta. Hamalik, Omar, (2010), Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Pajriana, Elisa, (2006), “Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Akuntansi Pada SMA Negeri 8 Banda Aceh.” Skripsi, FKIP Unsyiah, Banda Aceh. Ratumanan, Gerson, Tanwey, (2004), Belajar Dan Pembelajaran. Unesa University Press. Slamento, (2003), Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Reneka Cipta. Syah, Muhibdin, (2006), Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tim Urge, (1997), Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif. Program Pasca Sarjana, Surabaya: IKIP. Tu’u, Tulus, (2004), Peran Disiplin Pada Perilaku Dan Prestasi Belajar. Jakarta: Gramedia Indon

Page 11 of 29 | Total Record : 286