Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia
Jurnal Keperawatan Jiwa publishes articles in the scope of mental nursing broadly but is limited, especially in the field of mental nursing in healthy groups, risks, and disorders. Articles must be the result of research, case studies, results of literature studies, scientific concepts, knowledge and technology that are innovative and renewed within the scope of mental nursing science both on a national and international scale.
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 2 (2015): November 2015"
:
20 Documents
clear
Penerapan Teknik Napas dalam pada Pasien Diagnosis Keperawatan Ansietas dengan Diabetes Mellitus serta Tubercolosis Paru di Ruangan Umum Rsmm Bogor
Hidayat, Asep Yusup;
Ekaputri, Yossie Susanti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.571 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.5-12
Urbanisasi membawa dampak terhadap berbagai sektor di lingkungan perkotaan, yang berdampak pada perubahan gaya hidup. Gaya hidup seperti kurang aktivitas dan makan makanan tidak sehat berdampak pada munculnya berbagai macam penyakit seperti diabetes. Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, baik fisik maupun psikososial. Secara fisik dengan menurunnya system imun tersebut penderita DM akan sangat rentan terkena penyakit infeksi, diantaranya lebih rentan mengalami infeksi Tuberculosis (TBC). Ansietas merupakan salah satu komplikasi psikososial yang dapat timbul akibat adanya masalah kesehatan. Intervensi keperawatan membantu klien mengenal ansietasnya, mengidentifikasi cara yang digunakan untuk mengatasi ansietasnya, melatih klien mengontrol ansietasnya menggunakan teknik distraksi, tehnik relaksasi tarik nafas dalam dan hypnosis 5 jari, kegiatan spiritual serta melibatkan keluarga dalam mengatasi ansietas klien.
Hubungan Karakteristik dan Lingkungan Belajar Klinik dengan Kecemasan Mahasiswa Saat Praktek Klinik di Rsjd Dr Amino Gondohutomo Semarang
Dwi Indah Iswanti;
Kanthi Suratih;
Wenni Winasti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (253.046 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.23-29
Nursing students often experience anxiety during studying nursing including currentclinical practice. Students experience new situations and circumstances in the hospital environment, but itis a source of anxiety is when the students are required to provide nursing actions to patients (Helena2003, dalam Anggelina 2012). Purpose: The purpose of this study was to determine the correlation ofstudent characteristics and clinical learning environment toward the current anxiety clinical practice inDr. Amino Gondohutomo RSJ Semarang. Methods: This research method is a kind of analytical researchwith correlational cross-sectional approach. The number of respondents in this study was 92 people withproportional stratified random sampling. And the analysis technique Chi Square test. Results: The resultsof the chi square test between age and anxiety level obtained chi square value of 18.411 (p = 0.000<0.05), chi square test results between the sexes with anxiety levels obtained chi square value of 12.151(p = 0.002 <0.05) , chi square test results between education and anxiety levels obtained chi square valueof 15.866 (p = 0.000 <0.05), chi square test results between clinical learning environment with a level ofanxiety obtained chi square value of 54.672 (p = 0.000 <0, 05). Conclusion: There was a relationshipbetween age, sexes, the level of education at the time of the students' anxiety, and there was a correlationbetween the clinical learning environment on students' anxiety in clinical practice in Dr. RSJD. AminoGondohutomo Semarang
Pemberdayaan Keluarga Melalui Pemberian Pendidikan Kesehatan Dalam Merawat Anggota Keluarga Dengan Gangguan Jiwa
Ni Made Dian Sulistiowati;
Ni Ketut Guru Prapti;
Ni Komang Ari Sawitri;
Putu Ayu Sani Utami;
Ika Widi Astuti;
Kadek Saputra
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (273.516 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.57-60
Kesehatan jiwa bisa dikatakan sebagai suatu kondisi sehat baik emosional, psikologis, dan juga social yang ditunjukkan dalam hubungan interpersonal yang memuaskan antara individu dengan individu lainnya, memiliki koping yang efektif, konsep diri positif dan emosi yang stabil. Kurangnya pemahaman keluarga tentang bagaimana cara merawat akan menjadi salah satu masalah nantinya dalam memberikan support kepada pasien saat berada dirumah. Kesembuhan pasien salah satunya adalah dari support keluarga dimana dengan adanya pemahaman keluarga bahwa orang dengan gangguan jiwa dapat hidup dengan baik asalkan pasien dapat mengontrol perilaku dan emosinya dengan baik maka pasien dapat menjalani hidup dengan baik dan produktif ketika di masyarakat. Pemberian pendidikan kesehatan pada keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dirumah dengan menjelaskan kepada masing-masing keluarga tentang bagaimana cara merawat pasien dirumah serta mengidentifikasi kesulitan keluarga dalam melakukan perawatan pasien dirumah dapat memberikan pengetahuan sehingga kemampuan keluarga dalam merawat menjadi baik. Hasil yang didapatkan kemampuan keluarga mengalami peningkatan sebesar 10.01 pada kognitif dan 8.12 pada psikomotor keluarga setelah dilakukan pemberian pendidikan kesehatan tentang bagaimana cara merawat keluarga dengan gangguan jiwa dirumah. Diharapkan kegiatan pendidikan kesehatan ini dapat memberikan motivasi dan pengetahuan sehingga keluarga dapat membantu menjaga kondisi pasien dan mensupport pasien agar dapat menggunakan sumber daya dilingkungan sekitar tempat tinggalnya agar tetap stabil dan tidak terjadi kekambuhan.
Gambaran Masalah Keperawatan Psikososial Di Ruang Gayatri Rs Marzuki Mahdi Bogor
Emilia Puspitasari
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.776 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.78-83
Penyakit fisik sangat berhubungan erat dengan permasalahan psikososial, seseorang yang mengalami sakit fisik terutama sakit fisik kronis akan mengalami perubahan kemampuan aktifitas, bekerja, dan perubahan gaya hidup, kondisi tersebut yang mempengaruhi seseorang untuk berespon terhadap situasi dan kondisi yang . Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memperoleh gambaran tentang “Gambaran Masalah Keperawatan psikososial di ruang gayatri RS Marzuki mahdi Bogor”. Analisis dilakukan pada 68 klien. Hasil didapatkan masalah psikososial yang dialami klien yang dirawatdi ruang gayatri RS Marzuki mahdi Bogor . Karya ilmiah akhir ini merekomendasikan manajemen asuhan keperawatan psikososial untuk klien dan keluarga dilakukan di rumah sakit.
Tindakan Keperawatan pada Klien, Keluarga dan Kader Kesehatan Jiwa dengan Diagnosa Keperawatan Isolasi Sosial di Komunitas
Umi Rachmawati;
Budi Anna Keliat;
Ice Yulia Wardani
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.029 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.13-22
Social isolation is one of nursing diagnosis that found on the client's nursing schizophrenia. The aims of this paper were known outcomes of nursing care such as Socialization Therapeutic Group Activities (TAKS), Social Skill Training (SST) and Family psychoeducation (FPE) and roles of mental health workers care for social isolation clients by Community as Partner Model approach. Socialization Therapeutic Group Activities (TAKS), Social Skill Training (SST), family social support by the Family psychoeducation (FPE), as well as the activities of mental health workers to visite the 4th of social isolation clients with schizophrenia. The results showed a decrease in signs and symptoms of clients with increased social skills. Was recommend research on nursing care with empowering mental health workers care for social isolation clients with more respondents.
Penerapan Teknik Berpikir Positif dan Afirmasi Positif pada Klien Ketidakberdayaan dengan Gagal Jantung Kongestif
Nurul Jannah;
Yossie Susanti Eka Putri
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.849 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.30-39
Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan peningkatan penyakit degeneratif pada masyarakat perkotaan, salah satunya adalah gagal jantung kongestif. Penyakit gagal jantung kongestif merupakan ketidakmampuan jantung memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi. Secara global, penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Indonesia sendiri menempati urutan Negara nomor 4 (empat) dengan jumlah kematian terbanyak akibat penyakit kardiovaskuler. Penyakit gagal jantung bukan hanya menimbulkan masalah fisik, akan tetapi juga masalah psikososial. Masalah psikososial yang sering terjadi pada klien dengan gagal jantung kongestif adalah ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan merupakan perasaan yang timbul akibat ketidakmampuan seseorang mengontrol situasi termasuk persepsi bahwa sesuatu tidak akan bermakna. Intervensi keperawatan ketidakberdayaan antara lain latihan berpikir positif dan afirmasi positif. Teknik afirmasi positif terbukti efektif dalam menurunkan rasa ketidakberdayaan pada klien dengan gagal jantung kongestif.
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan Ketidakberdayaan Pada Klien Diabetes Melitus Tipe Ii Di Ruang Antasena Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor
Rachel Satyawati Yusuf;
Ice Yulia Wardan
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (328.424 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.61-69
Rasa tidak berdaya merupakan salah satu masalah psikososial yang dapat muncul setelah seseorang menderita penyakit kronis. DM merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat dan mengakibatkan seseorang merasa lemah dan merasa tidak berdaya. Perasaan ini merupakan kondisi dimana seseorang kehilangan kontrol terhadap situasi dan merasa tidak bermakna serta merasa tidak bisa mencapai apa yang diinginkan dalam hidupnya. Tindakan yang bisa digunakan untuk menangani pasien DM tipe 2 dengan perasaan tidak berdaya ini adalah teknik berpikir positif dan harapan (afirmasi) positif. Dua teknik tersebut terbukti berhasil dan dapat digunakan oleh para perawat untuk membantu pasien dengan masalah yang sama di ruang rawat umum.
Pengalaman Kehilangan dan Berduka pada Ibu yang Mengalami Kematian Bayi di Depok
Zakiyah Mujahidah;
Achir Yani S. Hamid;
Yossie Susanti E.P.
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (338.383 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.40-52
The purpose of this research study was to explore the experience of lost and grieving among women who experienced infant deaths. This research used a qualitative research method with phenomenological design to ten participants consisted of mothers in subdistrict Limo Depok city meeting the criteria. The result of this study revealed seven themes: the causes of infant deaths, the phase of grieving, responses after loss, social systems support, the lessons of lost, after loss expectations and coping strategies. It’s recommended that the units should be actively involved in facilitating and providing nursing care to the mothers to enable the mothers to cope with the feeling of lost and continues with their happy life.
Faktor Risiko Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Paranoid
Mubin, M Fatkhul
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (245.587 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.53-56
Prevalensi penderita skizofrenia di dunia dan Indonesia menunjukkan angka yang terus meningkat. Angka kambuh penderita skizofrenia menunjukkan 50% – 90 % dalam dua tahun.Penyebab kambuh skizofrenia paranoid diduga berasal dari beberapa faktor yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal. Tujuan penelitian ini adalah, mengkonfirmasi penyebab kambuh pasien skizofrenia paranoid pada pasien dan keluarga.Desain penelitian adalah diskriptif kualitatif untuk mengetahui faktor risiko kekambuhan pasien skizofrenia paranoid secara spesifik denganmenggunakan pendekatan focus Group Discusion pada kelompok pasien dan keluarga. Hasil: factor risiko kekambuhan pada penelitian ini adalah: lemahnya kepatuhan obat, expresi emosi keluarga, dukungan keluarga yang kurang, beban keluarga dan stigma masyarakat. Dari hasil temuan ini diharapkan para praktisi dalam memberikan terapi untuk mencegah kekambuhan hendaknya memperhatikan factor risiko kekambuhan skizofrenia paranoid.
Faktor Yang Mempengaruh Penurunan Kemampuan Pasien Skizofrenia Dalam Melakukan Perawatan Di Rumah Sakit Jiwa
Jalil, Abdul
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (298.415 KB)
|
DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.70-77
Penurunan kemampuan melakukan perawatan diri sering dijumpai pada sebagian besar klien skizofrenia. Upaya mengatasi masalah keperawatan defisit perawatan diri perlu strategi khusus, karena beda pemicu pasti beda cara atau pendekatannya. Para perawat dalam mengatasi masalah defisit perawatan diri kurang memperhatikan faktor pemicunya, hal ini berdampak pada hasil yang dicapai. Tidak jarang perawat menjadi frustasi setelah beberap hari membantu klien tetapi tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penurunan kemampuan perawatan diri klien skizofrenia yang dirawat di RSJ Prof. Dr Soeroyo Magelang. Desain Crossectional. Sampel 284 diambil dengan teknik simple random sampling. Analisis data dengan analisis Regresi logistik. Hasil penelitian: Faktor yang mempengaruhi penurunan kemampuan perawatan diri klien skizofrenia adalah isolasi sosial (p=0,001), Waham (p=0,033), Risiko perilaku kekerasan (p=0,004), Halusinasi (p=0,006). Faktor yang paling dominan mempengaruhi penurunan kemampuan perawatan diri adalah isolasi sosial (P=0,001) dengan OR=2,755. Penurunan kemampuan perawatan diri du mediasi oleh peningkatan level kecemasan yang menyertai, isolasi sosial, halusinasi, risiko perilaku kekerasan dan waham. Direkomendasikan perawat: mengajarkan keterampilan perawatan diri memperhatikan adanyanya masalah keperawatan lain dan melakukan upaya untuk menurunkan kecemasan sebelum mengajarkan perawatan diri.