cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
jurkep.jiwa@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
jurkep.jiwa@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Nursing and Health Sciences | University of Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia
ISSN : 23382090     EISSN : 26558106     DOI : 10.26714/jkj
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan Jiwa publishes articles in the scope of mental nursing broadly but is limited, especially in the field of mental nursing in healthy groups, risks, and disorders. Articles must be the result of research, case studies, results of literature studies, scientific concepts, knowledge and technology that are innovative and renewed within the scope of mental nursing science both on a national and international scale.
Articles 819 Documents
Studi Fenomenologi Pengalaman Perubahan Citra Tubuh pada Klien Kelemahan Pasca Stroke di Rs Dr M Djamil Kota Padang Novi Herawati
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.967 KB) | DOI: 10.26714/jkj.2.1.2014.31-40

Abstract

Introduction. Stroke merupakan sindrom klinis berupa defisit neurologis, yang dapat mengakibatkan kematian dan kelemahan. Kelemahan ini akan berdampak pada perubahan citra tubuh klien pasca stroke. Tujuan penelitian mengeksplorasi gambaran pengalaman klien kelemahan pasca stroke menghadapi perubahan citra tubuh. Methods. Desain penelitian kualitatif deskriptif fenomenologi dengan metode wawancara mendalam terhadap 7 klien pasca stroke dengan kelemahan yang menjalani rawat jalan di poliklinik neurologi RS Dr. M. Djamil Padang. Data berupa rekaman wawancara dan catatan lapangan, dibuat transkrip dan analisis menggunakan tekhnik Colaizzi. Result. Hasil penelitian didapatkan delapan tema, yaitu penurunan fungsi dan perubahan kemampuan tubuh, konflik emosi terhadap perubahan tubuh, perubahan aktifitas sosial, peningkatan kemampuan diri menghadapi perubahan citra tubuh, dukungan eksternal menghadapi perubahan citra tubuh, strategi koping menghadapi perubahan citra tubuh, dukungan keluarga terhadap kesembuhan dan harapan terhadap pemulihan kondisi tubuh. Hasil penelitian menunjukkan kelemahan berdampak terhadap fisik, psikologi dan sosial yang berpotensi menimbulkan masalah psikososial. Penggunaan strategi koping juga masih ada yang beresiko perilaku maladaptif. Hal ini dapat menjadi gambaran kebutuhan asuhan keperawatan psikososial dan dapat diberikan terapi keperawatan jiwa yang tepat. Conclusions. Diharapkan perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan dapat meningkatkan peran dan fungsinya sebagai konselor dan pemberi yankep yang caring.
PERKEMBANGAN MENTAL EMOSIONAL REMAJA DI PANTI ASUHAN Dwi Haryanti; Elza Mega Pamela; Yulia Susanti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 4, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.984 KB) | DOI: 10.26714/jkj.4.2.2016.97-104

Abstract

Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat populer untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga.Masalah mental emosional semakin tinggi pada kelompok usia di atas 15 tahun, yang berdampak pada masalah perilaku saat dewasa. Masalah perkembangan anak yang tinggal di panti asuhan secara bermakna lebih banyak dibandingkan dengan anak yang diasuh orangtua kandung. Tujuan penelitian ini mengetahui perkembangan mental emosional remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian dengan desain deskriptif komparatif menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposive sampling, sebanyak 20 remaja panti asuhan dan 85 remaja yang tinggal di lingkungan rumah berpartisipasi sebagai responden. Penelitian ini menggunakan Strength and Difficulties Questionaire (SDQ)yang sudah terstandarisasi dan dilakukan uji reliabilitas kembali. Data dianalisis menggunakan uji mann whitney.Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan perkembangan mental emosional yang siginifikan antara remaja yang tinggal di panti asuhan dan tinggal di rumah, dengan nilai pvalue = 0,006 (pvalue< 0.05), dimana perkembangan mental emosional remaja yang tinggal di pantai asuhan kurang baik dibandingkan dengan remaja yang tinggal dirumah. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk meneliti lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan mental emosional remaja yang tinggal di panti asuhan. Kata Kunci: Perkembangan Mental Emosional, Remaja, panti asuhan MENTAL EMOTIONAL DEVELOPMENT OF ADOLESCENTS IN  ORPHANAGES ABSTRACTOrphanages are a very popular institution to shape the development of children who have no family.Emotional mental problems are higher in the age group above 15 years, which affects behavioral problems as adults. The developmental problems of children living in orphanages are significantly greater than those of the natural parent. The purpose of this study is to identified emotional mental development of adolescents who live in the orphanage. Research with comparative descriptive design using cross sectional approach. Samples were taken by purposive sampling, as many as 20 teenagers and 85 teenagers living in the home environment participated as respondents. This study uses a standardized Strength and Difficulties Questionaire (SDQ) and re-tested reliability. Data were analyzed using mann whitney test. The results showed a significant difference in mental emotional development between adolescents living in orphanages and living at home, with a value of pvalue = 0.006 (pvalue <0.05), in which adolescents who staying at home were better than teenagers living in orphanages. Subsequent research is recommended to further examine the factors that affect the emotional mental development of adolescents living in orphanages. Keyword : Mental Emotional Development, Adolescents, Orphanages
Peningkatan Integritas Diri Lansia Melalui Terapi Kelompok Terapeutik dan Reminiscence Norman Wijaya Gati; Mustikasari Mustikasari; Yossie Susanti Eka Putri
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.247 KB) | DOI: 10.26714/jkj.4.1.2016.31-39

Abstract

Elderly changing through time biologically, psychological and socially. The Changes experienced by the elderly will affect the lives of elderly both physically and psychologically. They need support to adapt the changes that happened in their lives. Support can be given to the elderly includes support to individuals, families and groups. The purpose of this scientific work is to describe the application of therapeutic group therapy and Reminiscence to achieve self-integrity through Stuart’s Stress Concept and Roy Adaptation Model approach. Analysis was conducted to 20 elderly who received therapeutic group therapy, therapy was continued to 10 elderly who have signs symptoms of depression with Reminiscence therapy. The result obtained there were increasing of self-integrity after following therapeutic group therapy. The other result there were decreased in depressive sign and symptoms after pollowing reminiscence therapy. Conclusion : Therapeutic Group Therapy is recomended to the elderly to help them adapt and achieve self-integrity, and Reminiscence therapy was effective to reduce sign and symptoms of depression. This Scientific Works recommends further research on the factors affecting the achievement of integrity and involvement of families and volunteers in the implementation of therapy in elderly.
Gambaran Masalah Keperawatan Psikososial Di Ruang Gayatri Rs Marzuki Mahdi Bogor Emilia Puspitasari
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.776 KB) | DOI: 10.26714/jkj.3.2.2015.78-83

Abstract

Penyakit fisik sangat berhubungan erat dengan permasalahan psikososial, seseorang yang mengalami sakit fisik terutama sakit fisik kronis akan mengalami perubahan kemampuan aktifitas, bekerja, dan perubahan gaya hidup, kondisi tersebut yang mempengaruhi seseorang untuk berespon terhadap situasi dan kondisi yang . Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah memperoleh gambaran tentang “Gambaran Masalah Keperawatan psikososial di ruang gayatri RS Marzuki mahdi Bogor”. Analisis dilakukan pada 68 klien. Hasil didapatkan masalah psikososial yang dialami klien yang dirawatdi ruang gayatri RS Marzuki mahdi Bogor . Karya ilmiah akhir ini merekomendasikan manajemen asuhan keperawatan psikososial untuk klien dan keluarga dilakukan di rumah sakit.
PENINGKATAN KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL (KOGNITIF, AFEKTIF DAN PERILAKU) MELALUI PENERAPAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF DI RSJ DR AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Sri Nyumirah
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 1, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.707 KB) | DOI: 10.26714/jkj.1.2.2013.%p

Abstract

Isolasi sosial merupakan suatu keadaan perubahan yang dialami klien skizofrenia. Suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi perilaku kognitif terhadap kemampuan klien isolasi sosial dalam melakukan interaksi di ruang rawat inap di RSJ Dr Amino Gondohutomo Semarang. Desain penelitian quasi experimental pre-post test with without control. Sampel berjumlah 33 orang dengan tehnik pengambilan sampel total sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi perilaku kognitif terhadap kemampuan interaksi (kognitif, afektif dan perilaku) pada klien isolasi sosial (p value < 0.05). Ada peningkatan kemampuan interaksi sosial (kognitif, afektif dan perilaku) setelah dilakukan terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku kognitif direkomendasikan diterapkan sebagai terapi keperawatan dalam merawat klien dengan isolasi sosial dengan penurunan kemampuan interaksi sosial.
Kejadian Depresi dan Bunuh Diri pada Penderita Toksoplasmosis Samuel Gunawan Hutajulu; Margaretha Carolina Hutajulu
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.5 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.3.2019.323-332

Abstract

Infeksi parasit Toxoplasma gondii telah menjangkiti hampir seluruh penduduk di dunia. Gejala toksoplasmosis yang muncul pada individu beresiko seperti bayi, ibu hamil dan penderita imunokompromais ternyata dapat muncul juga pada individu imunokompeten. Ookista yang menimbulkan toksoplasmosis kronis di otak, mampu memengaruhi sistem saraf dan kejiwaan penderitanya. Banyak bukti yang menunjukkan hubungan antara munculnya afek depresi pada individu dengan peningkatan serum anti toksoplasma. Depresi yang berkepanjangan tanpa intervensi tenaga medis, baik terapi farmakologi maupun terapi non-farmakologi memunculkan pikiran bunuh diri pada penderita. Tujuan penelitian ini untuk menguraikan dampak dari penyakit toksoplasmosis yang tidak ditangani sehingga memunculkan berbagai macam gangguan psikiatri khususnya depresi dan bunuh diri. Penelitian ini merupakan hasil dari penelaahan pustaka dengan metode pencarian literatur yang dilakukan di internet dan buku teks berdasarkan pertanyaan mengenai patofisiologi penyakit toksoplasmosis yang terjadi dalam struktur anatomi sistem saraf pusat-perifer dan jalur neurotransmitter sehingga berakibat pada depresi dan ingin bunuh diri. Sumber pustaka terbaru dalam jangka waktu 15 tahun terakhir berjumlah 27 buah. Sebagai kesimpulan didapatkan gangguan keseimbangan neurotransmitter dopamin, serotonin dan glutamat serta perubahan pada kerusakan sel glial, amigdala dan korteks prefrontal yang menyebabkan perubahan suasana hati depresif pada penderita toksoplasmosis kronis. Kata kunci : bunuh diri, depresi, inflamasi, neurotransmiter, toksoplasmosis EVENT OF DEPRESSION AND SUICIDE IN PEOPLE WITH TOXOPLASMOSIS ABSTRACTThe parasitic infection of Toxoplasma gondii has infected almost population in the world. The fact that toxoplasmosis arises in at-risk persons such as infants, pregnant women and immunocompromised patients can also appear in immunocompetent individuals. Oocysts causes’ chronic toxoplasmosis in the brain, can affect the patient’s nervous system and psychiatric. There is a lot of evidence shows the relationship between emergence of depression’s affect in person with an increase of serum anti-toxoplasma. Prolonged depression without intervention from medical personnel, both pharmacological therapy and non-pharmacological therapy, raises thoughts of suicide in the patients. The purpose of this study is to describe the impact of toxoplasmosis which is not handled up so as bring up variety of psychiatric problems specifically depression and suicide. This paper is the result of a literature review using a literature search method on the internet and textbook conduction by questions about the pathophysiology of the disease that occurs in the anatomy of the central-peripheral nervous system and neurotransmitters that cause depression and commit to suicide. The latest sources of literature in the last 15 years replacement of 27 sources. In conclusion, disorders of the neurotransmitter dopamine, serotonin and glutamate balance and changes in glial cell, amygdala and prefrontal cortex may cause changes in patients mood with chronic toxoplasmosis. Keywords : suicide, depression, inflammation, neurotransmitter, toxoplasmosis
Program Studi Ners Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Jakarta10430, Indonesia Riris Ocktryna Silitonga; Achir Yani S. Hamid; Yossie Susanti Eka Putri
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 2, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.251 KB) | DOI: 10.26714/jkj.2.2.2014.129-137

Abstract

People with tendency to act aggressively shown that they used destructive coping strategies to express their anger. Aim of this paper was to describe the application of Model Adaptasi Roy and Johnson’s Behavioural System Model, focusing on aggresive behavior. Assertive training intervention that provided to 15 clients and cognitive behaviour therapy were that provided to 24 clients. Result of this study shown that sign and symptoms of aggressive behaviour were decreased and increased of client's ability to express their emotion in contructive way. Recommended the Model Adaptasi Roy and Johnson’s Behavioural System Model with assertive training and cognitive behaviour therapy were to derecrease aggresive behaviour.
Depresi Dan Ansietas Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis Yang Mendapatkan Terapi Hemodialisis Ice Yulia Wardani; Rahma Fadillah Sopha
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.3.1.2015.43-50

Abstract

Depresi dan ansietas saat ini menjadi masalah psikologis yang sering dilaporkan pada pasien yang mendapatkan terapi hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien penyakit ginjal kronis serta tingkat depresi dan ansietas saat mendapatkan terapi hemodialisis. Dalam penelitian ini digunakan metode survei analitik cross sectional dengan melibatkan 31 pasien yang sedang mendapatkan terapi hemodialisis. Untuk mengetahui tingkat depresi dan ansietas digunakan Depression Anxiety and Stress Scale. Dengan menggunakan analisis univariat ditemukan data bahwa 29,0% pasien PGK mengalami depresi berat dan 32,5% pasien mengalami ansietas berat. Hal ini membuktikan bahwa depresi dan ansietas adalah dua masalah psikologis yang rentan dialami pasien PGK. Maka diharapkan terdapat pendeteksian dini masalah psikologis serta intervensi yang dapat mengatasi masalah yang muncul pada pasien PGK saat mendapatkan terapi hemodialisis.
PERBEDAAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG CARA MERAWAT PASIEN SEBELUM DAN SESUDAH KEGIATAN FAMILY GATHERING PADA HALUSINASI DENGAN KLIEN SKIZOFRENIA DIRUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Puri Lukitasari; Eni Hidayati
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.931 KB) | DOI: 10.26714/jkj.1.1.2013.%p

Abstract

Skizofrenia merupakan suatu sindrom dengan variasi penyebab (banyak yang belum diketahui), dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya, sedangkan angka kekambuhan pada klien tanpa terapi keluarga sebesar 25 – 50% sedangkan angka kekambuhan pada klien yang diberikan terapi keluarga 5-10%. Keluarga sebagai ”perawat utama” dari klien memerlukan treatment untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam merawat klien, sehingga diperlukannya kegiatan Family Gathering. Tujuan penelitian perbedaan pengetahuan tentang cara merawat penderita sebelum dan sesudah kegiatan Family Gathering halusinasi pada klien skizofrenia. Jenis Penelitian Quasi eksprimental dengan rancangan randomized controlled groups pretest-posttestdesign denganintervensi Family Gathering. Variabel bebas adalah Family Gathering dan variabel terikat Pengetahuan tentang cara merawat halusinasi dengan klien skizofrenia. Populasi adalah seluruh keluarga klien halusinasi padaskizofrenia di Unit Rawat Inap. Jumlah sampel 42 (21 responden kelompok perlakuan dan 21 responden kelompok kontrol ) dengan metode purposive sampling dan uji yang digunakan pada penelitian ini ujiindependent t test dan uji paired t Test . Hasil uji dengan independent t test menunjukkan bahwa pengetahuan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesudah kegiatan Family Gathering ada perbedaan yang bermakna dengan nilai signifikasi 0,000 yang lebih kecil dari α (5%) dan uji paired t Test menunjukkan ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan Family Gathering dapat diketahui nilai p = 0,022 <0,05. Diharapkan perlu diadakan kegiatan Family Gathering secara rutin dan terprogram di Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondohutomo Semarang.Kata Kunci : Pengetahuan, Halusinasi , Skizofrenia, Family Gathering
Terapi Keperawatan terhadap Koping Keluarga Pasien Skizofrenia Irene Febriany Mamo Kitu; Meidiana Dwidiyanti; Diyan Yuli Wijayanti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 7, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.477 KB) | DOI: 10.26714/jkj.7.3.2019.253-256

Abstract

Permasalahan yang terjadi pada pasien skizofrenia tidak hanya melibatkan pasien itu sendiri tetapi juga melibatkan keluarga sebagai orang terdekat dari pasien tersebut. Keluarga mempunyai beban tersendiri saat merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Terapi keperawatan diberikan kepala keluarga agar koping keluarga lebih efektif dalam menghadapi situasi yang ditimbulkan selama perawatan pasien skizofrenia. Literature ini bertujuan untuk mengetahui terapi keperawatan yang dapat digunakan pada keluarga agar koping keluarga lebih efektif. Metode yang digunakan dalam penulisan ini yaitu literature review dengan menggunakan artikel/ jurnal dari tahun 2003 – 2019 dan pencarian artikel melalui Science Direct, Google Scholar dan Pubmed. Tema artikel yang digunakan yaitu terapi keperawatan terkait dengan koping keluarga pasien skizofrenia. Hasil sintesa dari artikel-artikel yang telah ditelusuribahwa terapi keperawatan spesialis mampu mengatasi masalah koping pada keluarga pasien skizofrenia namun perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang terapi keperawatan komplementer terhadap masalah koping keluarga pada pasien skizofrenia.  Kata kunci: terapi keperawatan, koping keluarga, skizofrenia  NURSING THERAPY TOWARD THE COPING OF FAMILLIES OF SCHIZOPHRENIC PATIENTS: A LITERATURE REVIEW ABSTRACTThe problems that occur in schizophrenic patients not only involve the patient himself but also involve the family as the closest person to the patient. Families have their own burdens when caring for family members who experience mental disorders. Nursing therapy is given by the head of the family so that family coping is more effective in dealing with situations caused during the treatment of schizophrenic patients. This literature aims to determine nursing therapy that can be used in families so that family coping is more effective. The method used in this writing is the literature review by using articles / journals from 2003 - 2019 and searching articles through Science Direct, Google Scholar and Pubmed. The theme of the article used was nursing therapy related to coping with the family of schizophrenic patients. The results of the synthesis of the articles that have been traced that specialist nursing therapy is able to overcome coping problems in the family of schizophrenic patients but need further research on complementary nursing therapy on family coping problems in schizophrenic patients  Keywords: nursing therapy, family coping, schizophrenic 

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): Agustus 2025 Vol 13, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 12, No 4 (2024): November 2024 Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 12, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 12, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 11, No 4 (2023): November 2023 Vol 11, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 11, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 10, No 4 (2022): November 2022 Vol 10, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 10, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 10, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 9, No 4 (2021): November 2021 Vol 9, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 9, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 9, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 8, No 4 (2020): November 2020 Vol 8, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 7, No 3 (2019): November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa More Issue