cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dasar
ISSN : 20859872     EISSN : 24431273     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 237 Documents
PEMECAHAN MOLEKUL AIR DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA TEPUNG UMBI DAHLIA (DAHLIA PINNATA) Isana SYL; Dewi Yuanita; Heru Pratomo
Jurnal Sains Dasar Vol 4, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.884 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v4i2.12121

Abstract

Air dan limbah cair melimpah di bumi, sehingga pemanfaatannya sebagai sumber energi menjadikan tantangan tersendiri. Molekul air dapat dipecah menjadi gas-gas hidrogen dan oksigen dengan berbagai cara. Gas hidrogen merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan, yang layak menggantikan bahan bakar fosil, yang makin menipis persediaannya di alam, sehingga usaha-usaha yang berkaitan dengan penyediaan energi terbarukan perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Proses elektrolisis telah lama dikenal, merupakan salah satu cara memecah molekul air menjadi gas-gas hidrogen dan oksigen, tetapi secara umum masih memiliki efektivitas rendah. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya peningkatan efektivitas elektrolisis, baik dari sisi elektroda maupun elektrolit yang digunakan. Pada penelitian ini telah dilakukan elektrolisis air dalam suasana basa dengan menggunakan NaHCO3, media tepung umbi dahlia dan elektroda kerja stainless steel. Metoda penelitian yang digunakan voltametri siklik dengan menggunakan alat voltameter eDAQ EChem, yang mampu menggambarkan alur tegangan dan arus yang digunakan selama elektrolisis. Adanya tepung umbi dahlia menyebabkan terjadinya covering di sekitar permukaan elektroda sehingga proses pemecahan molekul air menjadi terhambat. Covering optimum terjadi pada penambahan 9 gram tepung umbi dahlia per liter air.Kata kunci: pemecahan molekul air, voltamogram, umbi dahlia, stainless steel, covering
THE ISOLATION OF COMPOUND POLYPHENOL FROM WAJO DISTRICT CACAO BEAN AND CACAO WASTE THROUGH FERMENTATION PROCESS Muhammad Wijaya; Muhammad Wiharto
Jurnal Sains Dasar Vol 5, No 2 (2016): October 2016
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.415 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v5i2.10648

Abstract

This research aims to utilize the liquid smoke, charcoal, oil and gas that have been produced from cocoa waste shell from fast pyrolysis technology at 125-500 oC. The charcoal of the cocoa waste was analyzed using a bomb calorimeter at 5925 cal/g showed that it contains 52.02% of lignin; 17.27% of alpha cellulose and 19.56% of hemicellulose, respectively. The HPLC analysis of Wajo district cacao bean resulted in polyphenol compound as 308.35. GC-MS analysis of cocoa shell liquid smoke that pyrolized at 125-500 oC produces severals compounds such as acetic acid, n-buthane, methyl esther, propanoac acid, butanoac acid, methyl pyridine, 1-hydroxy-2-propanone, and mequinol. The FTIR analysis of cocoa bean showed a hydroxyl group at 3450.65 cm-1, carbonyl group at 1730.15 cm-1, CH group at 719.45-607.58 cm-1. The crystallinity degree of Wajo District cocoa shell analyzed using XRD was 26,50%. The existence of chemical compounds in liquid smoke products have been found as raw chemicals.  Content of biomass carbon at these cacao waste increased according to the increase of pyrolisis temperature, while the carbon emission of these three materials decreased as the temperature increased. Compound polyphenol from cacao bean has a potent as anti oxidant that is friendly  for environmental and healthy. Keywords: cacao  bean, fermentation,  polyphenol,  and  chemical
RASIO MODEL Vs30 BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR DAN USGS DI KECAMATAN JETIS KABUPATEN BANTUL Nugroho Budi Wibowo
Jurnal Sains Dasar Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.25 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v6i1.14030

Abstract

Data Vs30 banyak digunakan dalam berbagai persamaan empiris. Data tersebut dapat diperoleh dari data mikrotremor dan model topografi USGS. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung rasio antara Vs30 mikrotremor dan Vs30 USGS. Data yang digunakan sebanyak 11 titik pengukuran mikrotremor di Kecamatan Jetis dan model topografi yang diperoleh dari website USGS. Vs30 mikrotremor dihasilkan dari model ground profile dengan nilai misfit terendah. Hasil perhitungan menunjukkan Vs30 berdasarkan data mikrotremor di Kecamatan Jetis bervariasi dari 145,22 – 251,24 m/s. Vs30 USGS di Kecamatan Jetis bervariasi dari 243,07 – 384,35 m/s.  Rasio Vs30 mikrotremor dan Vs30 USGS bervariasi dari 0,49 – 0,97. Hal ini menunjukkan bahwa data Vs30 USGS tidak berbeda jauh dengan hasil Vs30 data mikrotremor.Kata kunci: Vs30, Mikrotremor, Ground Profile Vs30 data are widely used in various empirical equations. Vs30 data can be obtained from microtremor data and topographic model from USGS. This study aimed to calculate the ratio between Vs30 from microtremor and Vs30 from USGS. The study used 11 points of microtremor data in Jetis and topographic model was obtained from USGS website. Vs30 from microtremor were generated from ground profile models with the lowest misfit values. The calculations show that Vs30 based on microtremor data in Jetis ranged from 145.22 - 251.24 m/s. Vs30 from USGS in Jetis ranged from 243.07 - 384.35 m / s. Ratio of Vs30 from microtremor and Vs30 from USGS vary from 0.49 - 0.97. This value indicates that the Vs30 data from USGS does not vary much with Vs30 data from microtremor.Keywords:Vs30, Microtremor, Ground Profile
PENGARUH PERBEDAAN INTENSITAS CAHAYA DAN PENYIRAMAN PADA PERTUMBUHAN JAGUNG (ZEA MAYS L.) ‘SWEET BOY-02’ Hafidha Asni Akmalia
Jurnal Sains Dasar Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.779 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v6i1.13403

Abstract

AbstrakIntensitas cahaya dan ketersediaan air merupakan faktor-faktor yang menjadi penunjang maupun penghambat pertumbuhan tergantung kisaran yang mampu diterima tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya dan penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 faktor intensitas cahaya (L1 : 63694 ; L2 : 11408 dan L3 : 3897 Lux) dan 3 faktor penyiraman (pemberian air sebanyak W1 : 2 L; W2 : 1,6 L; W3 : 1,2 L). Tiap kombinasi perlakuan dibuat tiga ulangan. Penanaman jagung dilakukan di lahan Sawitsari, Yogyakarta. Jagung dipanen saat berumur 75 hari dengan karakter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, rasio daun, berat kering tanaman, dan rasio akar-tajuk. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam Varian (Anava) dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L1W1 (63694 Lux ; 2 L) menyebabkan semua karakter pertumbuhan meningkat.Kata kunci : jagung, pertumbuhan, intensitas cahaya, penyiraman AbstractThe light intensity and water availability are the factors both supporting and supressing plant growth and it depends on which level that plant can accept. The aim of this research was to evaluate the effect of light intensity and watering in maize growth. This research used Randomized Completed Design with 3 regimes of light intensity (L1 : 63694, L2 : 11408 dan L3 : 3897 Lux) and 3 regimes of watering (W1 : 2 L, W2 : 1,6 L  and W3 : 1,2 L). Each combination was done with 3 replications and it was done in Sawitsari, Yogyakarta. Maize was harvested in 75 days after the treatment and the measured parameters were plant height, leaf total number, leaf ratio, root-shoot ratio, and plant biomass. Data were analyzed by Anava and DMRT test with significance level of 5%. The results showed that L1W1 treatment increased all parameters of growth. Keywords: maize, growth, light intensity, watering
SPECIES INVENTORY OF AMPHIBIOUS FISH IN INTERTIDAL ZONE OF NGRENEHAN, NGOBARAN AND NGUYAHAN COASTELS, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA Sukiya Sukiya; Rizka Apriyani Putri
Jurnal Sains Dasar Vol 4, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.295 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v4i2.12122

Abstract

Tropical region is high on faunal diversity including vertebrates and invertebrates. Research on diversity of amphibious fish in Intertidal zone of  Yogyakarta southern coast is still limited so there is no complete records regarding these unique fish. This research aimed to know the diversity of amphibious fish in three beaches of Yogyakarta southern coast, namely pantai Ngrenehan, Ngobaran dan Nguyahan. Fish sampling were conducted using random sampling method combined with observational method. Fish were collected using small nets then identified to species rank. The total length of each fish were measured and recorded. Few individuals of the same species were sacrificed as voucher specimens. The result showed that in pantai Ngrenehan, Ngobaran, and Nguyahan, five different species of amphibius fish were found, which are Cabillus lacertops, Bathygobius fuscus, Enneapterygus sp., Blenniella cyanostigma, and Blenniella caudolineata. Cabillus lacertops was found in all of sampling locations. Enneapterygus sp. was found in pantai Nguyahan while Bathigobius fuscus, and Blenniella caudolineata can only be found in pantai Ngrenehan. Further studies regarding the adaptation, ecological features, taxonomy and biological reproduction of Yogyakarta southern coast’s  amphibious fish are still needed. Keywords: Inventarization, amphbious fish, intertidal zone, Yogyakarta southern coast
OPTIMIZATION OF CONDITION ION Cu2+ ELECTRODEPOSITION IN ELECTROPLATING LIQUID WASTE WITH FORMALDEHYDE AS REDUCING AGENT Marwati, Siti; Padmaningrum, Regina Tutik
Jurnal Sains Dasar Vol 5, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.156 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v5i1.12670

Abstract

Abstract The aims of this research to determine of the optimum of formaldehyde concentration, teh optimum of electrodeposition time and the optimum pH of solution. In addition, this research also   aims to determine the character Cu deposite at optimum operational. The sample in this research was used   real electroplating liquid waste from Kotagede Yogyakarta.done at various formaldehyde concentration Electrodeposition was done at various formaldehyde concentration, electrodeposition time and varoius of pH. The optimum conditions could be seen  the  maximum efficiency. It could be obtained by measuring the final concentration of Cu2+ after electrodeposition process by  Atomic absorption spectrophotometry. The character of deposit could be seen by  visual and X-ray Diffraction. The result  of this research showed that the optimum of formaldehyde concentration as reducing  agent was 0.3 M. the optimum time was 4 hours and the optimum of  pH 9. The character of deposte was contained  Cu deposite and more subtle than deposite which electrodeposited without formaldehyde. Keywords: electrodeposition, formaldehyde, reducing agent
PERBANDINGAN SEL DARAH MERAH, SEL DARAH PUTIH DAN HEMOGLOBIN KELELAWAR GENUS Rhinolophus DI GUA ALAMI DAN GUA WISATA KABUPATEN GUNUNG KIDUL YOGYAKARTA Tri Hardjana
Jurnal Sains Dasar Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.834 KB) | DOI: 10.21831/jsd.v6i1.13716

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah eritrosit, leukosit, hemoglobin  dan diferensial leukosit kelelawar genus Rhinolophss di gua alami dan wisata Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksplorasi. Objek penelitian ini adalah kelelawar Rhinolophus  jantan atau betina tidak sedang hamil/ laktasi dan berumur dewasa. 10 sampel kelelawar Rhinolophus   berasal dari gua alami Cokakan dan 10 sampel berasal dari gua wisata Gelatik Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Kelelawar ditangkap dengan menggunakan jaring kabut/ mist net. Darah kelelawar diambil dari bagian lengan bawah sayap bagian atas (vena). Darah yang keluar dimasukkan ke dalam tabung eppendorf dengan penambahan serbuk EDTA. Kelelawar kemudian diberi madu dan dilepas liarkan. Sampel darah dianalisis menggunakan Hematology Analyzer Sysmex KX-21. Data jumlah eritrosit dan leukosit dianalisis dengan analisis statistik Mann- Whitney Test, kadar hemoglobin dianalisis dengan T tes untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan signifikan pada perbandingan rerata jumlah eritrosi, leukosit dan kadar hemoglobin  dua kelompok data kelelawar yang berasal dari dua gua dengan pola pengelolaan yang berbeda. Rerata jumlah eritrosit, leukosit , hemoglobin dan diferensial leukosit dibuat menjadi diagram batang untuk mengetahui selisih rerata jumlah dua kelompok data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada perbandingan jumlah eritrosit, leukosit, hemoglobin  dan diferensial leukosit di gua alami Cokakan dan wisata Glatik Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Terdapat kecenderungan jumlah eritrosit dan hemoglobin cenderung lebih tinggi pada kelelawar di gua Cokakan,  sedang leukosit dan diferensial leukosit kelelawar Rhinolophus  yang lebih tinggi pada gua wisata Glatik.Kata kunci: Gua, kelelawar,eritrosit, heoglobin  leukosit, diferensial leukosit
Mekanisme Biokimiawi dan Optimalisasi Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dalam Pengolahan Yoghurt yang Berkualitas David Richard Hendarto; Arita Putri Handayani; Elisa Esterelita; Yoga Aji Handoko
Jurnal Sains Dasar Vol 8, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jsd.v8i1.24261

Abstract

Yoghurt merupakan produk olahan susu menjadi minuman asam terfermentasi yang terbuat dari starter bakteri asam laktat. Beberapa manfaat mengkonsumsi yoghurt adalah dapat menurunkan kadar kolesterol darah, menjaga kesehatan lambung dan mencegah penyakit kanker pada saluran pencernaan. terdapat dua bakteri yang merupakan kombinasi kultur paling bagus untuk pembuatan yoghurt yaitu Lactobacillus bulgaricus dengan kondisi optimum untuk pertumbuhannya adalah pH 5,5 dengan suhu 37°C dan Streptococcus thermophilus dengan kondisi optimum untuk pertumbuhannya adalah pH 6,8 dengan suhu 37°C. Mekanisme biokimiawi pembentukan asam laktat oleh L. bulgaricus dan S. thermophilus terjadi melalui proses pembentukan glukosa menjadi asam laktat yang berlangsung dalam keadaan anaerob. Proses glikolisis juga turut berperan dalam terbentuknya asam laktat melalui jalur EMP. Enzim-enzim yang terlibat meliputi enzim glukokinase, phosfoglukoisomerase, phosfofruktokinase, a-ldolase, gliseraldehid-3-phosfatdehidroginase, phosfogliserat kinase, phosfgliseromutase, enolase, piruvatkinase dan dehydrogenase. Optimalisasi L. bulgaricus dan S. thermophilus pada proses pengolahan yoghurt yang berkualitas dapat diperhatikan 2 faktor utama yang mempengaruhi yaitu suhu pertumbuhan kedua bakteri yang harus optimal 42°C serta pH yang optimal 6,15.
Analisa Mutu Bahan Olah Karet (Bokar) dengan Koagulan Asap Cair Kayu Pelawan (Tristaniopsis Merguensis) Koko Novirman
Jurnal Sains Dasar Vol 9, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jsd.v9i2.34398

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik bokar meliputi pH, waktu, warna, dam aroma penggumpalan serta Kadar Karet Kering (KKK) dan untuk mempelajari mutu teknis karet alam meliputi Po, PRI dan kadar zat menguap, yang dihasilkan dari penambahan koagulan asap cair kayu pelawan dan asam format sebagai kontrol. Kogulan asap cair kayu pelawan dan asam format masing-masing diencerkan menjadi larutan dengan konsentrasi 10% dan 2% dengan nilai pH 3,0 dan 2,5. Variasi dosis A1, A2,A3 dilakukan terhadap koagulan asap cair kayu pelawan dan B1, B2, B3 terhadap koagulan asam format dengan masing-masing volume koagulan sebanyak 50, 100, dan 150 ml dengan tiga kali pengulangan pada setiap perlakuan. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik dengan metode uji T (Independent Sampel T Test) menggunakan aplikasi SPSS, dibandingkan dengan standar (SNI) 06-1903- 2000 tentang (SIR) untuk jenis mutu SIR 20. Hasil pengamatan karakteristik bokar menunjukkan bahwa semua perlakuan koagulan asap cair kayu pelawan dan asam format memenuhi standar (SNI) dan hasil terbaik ditemukan pada dosis A3 dan B2.
Analisa Resiko Bahaya Seismik Berdasarkan Parameter Ketebalan Lapisan Sedimen dan Faktor Amplifikasi di Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno Nugroho Budi Wibowo; Denny Darmawan; Zahroh Utami; Siti Patimah
Jurnal Sains Dasar Vol 7, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Science, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jsd.v7i2.38553

Abstract

Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno merupakan wilayah yang terdampak gempabumi Yogyakarta 2006. Kedua kecamatan tersebut memiliki resiko bahaya seismik. Resiko bahaya seismik dapat dikaji dengan pendekatan ketebalan lapisan sedimen dan faktor amplifikasi. Kedua parameter tersebut dapat mempengaruhi penguatan gelombang seismik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor amplifikasi, ketebalan lapisan sedimen dan potensi resiko bahaya seismik di Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno. Penelitian ini menggunakan 30 data mikrotremor yang dianalisis dengan metode HVSR dan elipticity curve. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi predominan di Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno bervariasi dari 0,7 – 9,5 Hz. Faktor amplifikasi di Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno bervariasi dari 0,5 – 8,7. Ketebalan lapisan sedimen di Kecamatan Prambanan dan Gantiwarno bervariasi dari 4,24 – 114,45 m. Mikrozonasi resiko bahaya seismik tinggi pada Kecamatan Prambanan berada di Desa Sanggrahan dan Cucukan, sedangkan pada Kecamatan Gantiwarno berada di Desa Sawit dan Ngandong.