cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 271 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 271 Documents clear
APOLOGY ACTS AMONG EFL STUDENTS AT SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BATURITI ., PUTU NITA YULIANI; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., A.A. Gede Yudha Paramartha, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.32 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15168

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) menguji bentuk-bentuk dari tindak lokusi dan perlokusi permintaan maaf dan menginvestigasi strategi-strategi tindak lokusi dan perlokusi permintaan maaf yang digunakan oleh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baturiti. Penelitian in merupakan penelitian deskriptif qualitatif yang mana data dikumpulkan berupa kalimat. Subjek dari penelitian ini adalah 30 orang siswa kelas sebelas di SMA Negeri 1 Baturiti. Data dikumpulkan pengamatan. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan teori dari Nordquist (2018) tentang bentuk (struktur kalimat dan tipe kalimat), teori dari Cohen & Olshtain’s (1983) tentang strategi tindak lokusi (permintaan maaf langsung dan tidak langsung) dan teori dari Holmes (1995) tentang strategy merespon permintaan maaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk tindak lokusi permintaan maaf siswa yang paling sering digunakan adalah kalimat sederhana dan kalimat positif, sedangkan tindak perlokusi permintaan maaf yang yang paling sering digunakan oleh siswa adalah kalimat sederhana dan kalimat positif. Dalam strategi tindak lokusi permintaan maaf, siswa paling sering menggunakan permintaan maaf secara langsung. Sedangkan, dalam strategi tindak perlokusi, siswa paling sering mengunakan menerima dan memberi jawaban ambigu. Namun tidak ada satupun siswa yang menggunakan penolakan dalam merespon permintaan maaf. Kata Kunci : bentuk, permintaan maaf, strategi, tindak lokusi dan perlokusi This study aimed to 1) examine the locutionary and perlocutionary acts forms of apology and 2) investigated the locutionary and perlocutionary acts strategies of apology used by the students of Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Baturiti. This study was descriptive qualitative research which data were collected in the form of sentences. The subject of this research was 30 in eleventh grade students of SMA Negeri 1 Baturiti. The data were collected by observing. The data was analyzed by using Nordquists (2018) theory about form (sentence structure and sentence type), Cohen & Olshtain’s (1983) theory about locutionary acts strategy (direct and indirect apoloy) and Holmes’ (1995) theory about responding strategy. The finding shows that students’ locutionary acts forms of apology were frequently using simple and positive sentences, meanwhile the perlocutionary acts forms of apology were also frequently using simple and positive sentences. In addition, the most frequently used strategy by the students was direct apology in locutionary acts. Meanwhile, the most frequently used strategy by students was accept and evade in perlocutionary acts. However there was no one of the students used reject in responding an apology. keyword : apology, form, locutionary and perlocutionary acts, strategy
AN ANALYSIS OF CODE SWITCHING AS COMMUNICATION STRATEGY USED BY STUDENT TEACHERS IN TEACHING ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE AT SMP N 2 SAWAN IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Ida Ayu Made Dwi Srawasti; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., I Putu Indra Kusuma, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dari alih kode bahasa, fungsi dari alih kode bahasa, dan alasan menggunakan alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL sebagai strategi komunikasi dalam mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SMP N 2 Sawan pada tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah guru PPL Bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah perekam suara, perekam video, lembar observasi, dan panduan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada tiga tipe dari alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL. Ketiga tipe tersebut adalah inter-sentential alih kode bahasa sebagai alih kode bahasa yang paling sering digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris, yang kedua adalah intra-sentential alih kode bahasa, dan yang selanjutnya adalah interpersonal alih kode bahasa. Fungsi dari alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris adalah pengaturan giliran, menekankan informasi tertentu, meminta informasi lebih lanjut, menarik perhatian, leksikalisasi, meminta klarifikasi, membuat klarifikasi, permainan sosiolinguistik, memberikan instruksi, memberikan penjelasan yang lebih jelas, memberikan kesempatan, mengkonfirmasi jawaban siswa, dan memberi perintah. Selanjutnya, alasan menggunakan alih kode bahasa yang digunakan oleh guru PPL Bahasa Inggris adalah membicarakan suatu topik, menegaskan sesuatu, menyisipkan, pengulangan yang digunakan untuk klarifikasi, maksud untuk menjelaskan isi pembicaraan kepada pendengar, meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu siswa untuk menangkap informasi lebih mudah, menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan, membantu guru untuk memberikan penjelasan yang jelas, dan membantu guru untuk menarik perhatian siswa. Kata Kunci : alih kode bahasa, guru mahasiswa, strategi komunikasi, Bahasa Inggris sebagai bahasa asing This study aimed at analyzing the types of code switching, the functions of code switching, and the reasons for using code switching by English student teachers as communication strategy in teaching English as a foreign language at SMP N 2 Sawan in academic year 2016/2017. This study used qualitative research design. The subject of this study is English student teachers. The instruments used in this study are tape recorder, video recorder, observation sheet, and interview guide. The result of this study shows that there are three types of code switching used by English student teachers. Those types are inter-sentential code switching as the most dominant types used by English student teachers, the second was intra-sentential code switching and then followed by interpersonal code switching. The functions of code switching used by English students teachers were regulating turn taking, emphasizing certain information, asking further information, gaining the attention, lexicalization, asking for clarification, making clarification, sociolinguistics play, giving instruction, giving clearer explanation, giving chance, confirming students answer, confirming students’ understanding, and giving command. Furthermore, the reasons of code switching used by English student teachers were talking about particular topic, being emphatic about something, interjection, repetition used for clarification, intention to clarify the speech content for the interlocutor, increasing students’ motivation in learning English, helping students to catch the information easily, creating fun learning atmosphere, helping the teachers in giving clear explanation, and helping the teachers in attracting students’ attention. keyword : code switching, student teachers, communication strategy, English as a foreign language
A Descriptive Analysis of Slang Words Used in "Step Up: All In" Movie ., Luh Nik Sudiyanti; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., I Wayan Swandana, S.S., M.Hum.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.834 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13585

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang berusaha menemukan jenis-jenis slang dan mengamati fungsi-fungsi slang yang digunakan dalam film "Step Up: All In". Teori dari Allan dan Burridge (2006) tentang jeni-jenis slang dan teori dari Hymes tentang etnografi berbicara digunakan sebagai pedoman. Sehubungan dengan tujuan pertama, ada empat jenis-jenis slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu fresh and creative, flippant, imitative, dan clipping. Penggunaan imitative mendominasi jenis slang yang digunakan pada film ini, dikarenakan pembicara tidak memerlukan pengetahuan tertentu dan dapat membuat slang jenis ini dengan mudah dengan meniru kata-kata yang sudah ada dan menyederhanakannya. Merujuk pada tujuan kedua, ada enam fungsi-fungsi slang yang ditemukan dalam film ini, yaitu to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, dan to humiliate. Adapun, fungsi yang memiliki frekuensi paling tinggi adalah to address dan to initiate relax conversation. Dalam situasi informal, orang cederung menggunakan kata-kata slang untuk menciptakan suasana yang lebih santai dimana percakapan mereka dapat berjalan dengan lancar. Tujuan dari menggunakan kedua fungsi ini adalah untuk menjaga hubungan dekat mereka. Sebagai hasil, kedua fungsi ini dominan digunakan oleh karakter dalam film ini. Kata Kunci : deskriptif analisis, kata-kata slang, film This research is a descriptive qualitative research which attempts to find out slang types and observe slang functions used in “Step Up: All In” movie. The theory from Allan and Burridge (2006) about slang types and the theory from Hymes (1989) about ethnography of speaking were used as guidelines. Regarding to the first objective, there are four types of slang found in this movie, such as fresh and creative, flippant, imitative, and clipping. The occurrence of imitative dominates the slang type used in this movie, since the speakers do not require certain knowledge and can make this slang type easily by imitating the existing words and simplifying them. Referring to the second objective, there are six functions of slang discovered in this movie, such as to address, to form intimate atmosphere, to initiate relax conversation, to show impression, to show intimacy, and to humiliate. Therefore, the functions which have high frequency are to address and to initiate relax conversation. In informal situation, people tend to use certain kinds of addresses in addressing their close friends and use slang words since they want to create relax condition in which their conversation can run smoothly. The purpose of using these two functions is to maintain their close relationship. As a result these two functions are dominantly used by the characters in this movie.keyword : descriptive analysis, slang words, movie
Developing Local Culture Based Bilingual Storybooks as Supplementry Reading Material To Support Literacy Program In English Language Class. For 4 th Grade of Elementary Students ., Ni Luh Made Ayu Nuriyastuti; ., Drs.Gede Batan,MA; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12391

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan elemen-elemen yang perlu di masukkan dalam buku cerita dwi bahasa berbasis budaya lokal berdasarkan analisis kebutuhan dan mengembangkan buku cerita dwi bahasa berbasis budaya lokal sebagai materi membaca tambahan untuk mendukung program literaci di kelas bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar kelas 4. Prosedur di penelitian ini mengikuti penelitian dan pengembangan yang di usulkan oleh Borg dan Call(2003). Analisis kebutuhan di peroleh dari interview guru, diskusi kelompok kecil, silabus analisis dan belajar literatur. Subjek dari penelitian ini adalah 21 siswa kelas 4 Sd N 2 Bungkulan. Elemen-elemen yang perlu di masukkan dalam buku cerita adalah budaya lokal, dua bahasa, gambar berwarna, tema. Berdasarkan analisis kebutuhan, ada 4 buku cerita yang di kembangkan. Hasil dari penilaian ahli dan guru terhadap disain dan isi buku cerita adalah baik. Hasil dari respon siswa adalah sangat baik, oleh karena itu buku cerita di sebarkan ke SDN 2 Bungkulan dan pantas di gunakan sebagai materi tambahan membaca untuk mendukung program literasi di kelas bahasa Inggris.Kata Kunci : Dwi bahasa, sekolah dasar, budaya lokal, literasi The aims of this study were finding the necessary elements of local culture based bilingual storybooks based on the need analysis on the current study and developing local culture based bilingual storybooks as supplementary reading material to support literacy program in English language class for 4th grade of elementary student. The procedure in this study followed research and development that was proposed by Borg and Call (2003). Need analysis was obtained from interview to the teacher, focus group discussion, syllabus analysis and literature study. The subjects of this study were 21 fourth grade students of SDN 2 Bungkulan. There were 4 storybooks that were developed based on the need analysis. The result of experts and the teacher's judgement to the storybooks design and content was good. The result of student's responds was very good, therefore the storybooks were disseminated to SDN 2 Bungkulan and proper to be used as supplementary reading material to support literacy program in English language class.keyword : Bilingual, elementary, local culture, literacy
An Analysis of Swear Words Used by the Teenagers in Singaraja ., Intania Harismayanti; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Dewa Putu Ramendra, S.Pd, M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11566

Abstract

This study aimed at analyzing swear words used by the teenagers in Singaraja. To accomplish this goal, this study used a descriptive qualitative research, which was conducted by observing, audio recording, and interviewing the subjects. The subjects of this study were 10 teenagers originally from Singaraja. The results of the study showed that swear words used by the teenagers in Singaraja have their forms, references, and functions. There were three forms of swear words: (1) in the form of words, which also are subdivided into two: monomorphemic (pirate ‘ancestors’, pletan ‘male genital’, teli ‘female genital’, etc.) and polymorphemic (matan ‘eyes’, polone ‘brain’, bangkaan ‘dead body’, etc.), (2) in the form of phrases (ndas teli ‘female genital’, lengeh buah ‘so crazy’, ngamah gen ‘always eat’, etc), and (3) in the form of clauses (lengeh ti cai ‘you are so crazy’, gebuh bungut nanine ‘you are a liar’, liak cai ‘you are the devil’,etc.). The references of the swear words were related to: (1) religion, (2) body function, (3) excrement, (4) animals, (5) activity, (6) personal background, (7) mental illness, (8) devils, (9) kinship. The functions of those swear words were: (1) to draw attention, (2) to provide catharsis, (3) to provoke, (4) to create interpersonal identity, (5) integrative, (6) aggressive, (7) regressive, and (8) emphasis. keyword : forms, functions, references, swear words
THE EFFECT OF RECIPROCAL QUESTIONING STRATEGY COMBINED WITH NUMBERED HEADS TOGETHER ON READING COMPREHENSION OF THE EIGHTH GRADE STUDENTS IN SMP NEGERI 2 SINGARAJA ., Ni Luh Ersiana Wati; ., Made Hery Santosa, S.Pd, M.Pd., Ph.D.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.572 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13606

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui keefektifan dari strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together pada pemahaman membaca siswa kelas delapan di SMP Negeri 2 Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan experiment dengan design post – test. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Singaraja yang dimana populasi dari penelitian ini adalah kelas delapan tahun ajaran 2017/2018 di SMP Negeri 2 Singaraja. Sample dari penelitian ini berjumlah 73 siswa yang diambil menggunakan random sampling. Data dari penelitian ini diambil dengan tes pemahaman membaca yang diberikan kepada siswa dalam bentuk objectives test. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji – T di SPSS 24. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together efektif digunakan dalam pemahaman membaca siswa kelas delapan di SMP Negeri 2 Singaraja. Hasil dari uji – T yang dianalisis dengan menggunakan SPSS 24 menunjukan nilai signifikansi 0.027. Nilai tersebut kurang dari 0.05. Dalam uji effect size keefektifan dari strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together dikategorikan medium dengan nilai 0.5. Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi reciprocal questioning yang dikombinasikan dengan numbered heads together efektif digunakan pada pemahaman membaca siswa kelas delapan yang dikategorikan medium.Kata Kunci : numbered heads together, pemahaman membaca, strategi recirpcal questioning This study was aimed at investigating whether there is a significant effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together on reading comprehension of the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja. This study was an experimental study. The design of this study was post – test only control group design. This study was conducted in SMP Negeri 2 Singaraja. The population of this study was the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja in academic year 2017/2018 with the sample of 73 students who were selected by using random sampling. The data were collected using reading comprehension test which given to the students in the form of objectives test. The data were analyzed by using independent samples test assisted with SPSS 24. The result showed that there is an effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together on reading comprehension of the eighth grade students in SMP Negeri 2 Singaraja. The result of independent samples test shows significant value was 0.027. It did not exceed 0.05. In effect size analysis, the result was 0.5. It is categorized as medium. It means that the effect of reciprocal questioning strategy combined with numbered heads together is categorized as medium.keyword : numbered heads together, reading comprehension, reciprocal questioning strategy
THE QUESTIONING STEP OF THE SCIENTIFIC APPROACH BASED ON CURRICULUM 2013 BY THE SEVENTH GRADE ENGLISH TEACHERS OF SMP NEGERI 1 SAWAN IN THE ACADEMIC YEAR 2017/2018 ., Ni Wayan Listya Kusuma Yanti; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi pelaksanaan tahapan menanya dalam pendekatan ilmiah dalam pengajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sawan, dan menginvestigasi masalah yang dihadapi oleh guru dalam penerapan tahapan menanya berdasarkan Kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan Miles & Huberman model. Subyek dari penelitian ini adalah dua orang guru kelas tujuh di SMP Negeri 1 Sawan. Dalam mengumpulkan data, ada dua jenis instrumen yang digunakan, yaitu lembar observasi, dan panduan wawancara. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif-kualitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa T1 dan T2 mempunyai masalah dalam pengimplementasian tahapan menanya dalam pendekatan ilmiah yang di perlihatkan dengan pengimplementasiannya yang kurang sesuai dengan standar yang diberikan oleh Kurikulum 2013. Berdasarkan temuan wawancara, dapat diketahui bagaimana guru mengatur waktu dan media dalam proses belajar mengajar, dan juga kemampuan siswa dalam berbicara bahasa Inggris merupakan faktor penentu dalam penerapan K-13.Kata Kunci : Kurikulum 2013, tahapan menanya, pendekatan saintifik This study aimed at observing the implementation of questioning stage in scientific approach in the English instruction at SMP Negeri 1 Sawan, and investigating the problem which is faced by the teacher in implementing questioning stage based on Curriculum 2013. This study was a descriptive study that used Miles & Huberman model. The subjects of this study were the two seventh grade English teachers at SMP Negeri 1 Sawan. In collecting the data, two kinds of instruments were used, namely, observation sheets, and interview guide. The data were analyzed by using descriptive-qualitative analysis. The result of data analysis showed that T1 and T2 had problems in implementing the questioning aspect of Scientific Approach which is shown that the implementations were less relevant with the standards given by Curriculum 2013. Based on the findings on the interview, it can be identified that how the teachers manage the time and media in teaching and learning process, and also the ability of students in speaking English were the defining factors in implementing K-13. keyword : Curriculum 2013, questioning stage, scientific approach
A STUDY OF CHARACTER EDUCATION INSERTION IN TEACHING AND LEARNING PROCESS FOR SEVENTH GRADE STUDENTS AT SMPN 2 SINGARAJA IN ACADEMIC YEAR 2016/2017 ., Made Yuliarta Sari; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11702

Abstract

Penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk mendeskripsikan penyisipan pendidikan karakter dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 7 di SMP N 2 Singaraja. Subyekpenelitian ini adalah 2 orang guru bahasa Inggris dan siswa kelas 7 di SMP N 2 Singaraja. Peneliti mengidentifikasi cara guru menyisipkan nilai karakter ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, implementasi nilai karakter dalam proses pembelajaran, dan respon siswa terhadap implementasi nilai karakter dalam pembelajaran. Nilai-nilai karakter yang diamati dalam penelitian ini adalah Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai setiap prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung jawab. Instrumen dari penelitian ini terdiri dari Peneliti sebagai kunci utama instrument, panduan wawancara, perekam, analisis checklist rencana pelaksanaan pembelajaran, observasi checklist dan kuisioner untuk mengetahui respon siswa. Penemuan dalam penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris menyisipkan nilai karakter secara implisit melalui kegiatan yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil dari pengimplementasian nilai karakter menunjukkan bahwa guru Bahasa Inggris di SMP N 2 Singraja sudah mengimplementasikan 8 dari 18 dalam dua rencana pelaksanaan pembelajaran yaitu nilai karakter Religius, Disiplin, Rasa Ingin Tahu, Toleransi, Bersahabat/Komunikatif, Tanggung Jawab, Menghargai Setiap Prestasi, dan Kerja Keras ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Temuan ini juga di dukung oleh respon siswa yang didapatkan melalui kuisioner. Dari 18 pernyataan yang dihitung menggunakan skala Likert, nilai rata-rata dari nilai total diperoleh 81.25% yang berarti siswa mengaku selalu mengimplementasikan 18 nilai karakter di dalam aktivitas sekolah. Kata-kata kunci : Pendidikan karakter di kelas, Pembelajaran Bahasa Inggris Kata Kunci : Pendidikan karakter di kelas, Pembelajaran Bahasa Inggris This study was conducted in order to describe the insertion of character education in English Lesson at SMP N 2 Singaraja. The subjects of the study were two English Teachers and seventh grade students in SMP N 2 Singaraja. The researcher identified the teachers’ ways in inserting the character values into the lesson plan, the implementation of the character education and the students’ response toward the implementation of the character values inserted in the teaching learning process. The character values which are observed in this study were Religious, Honesty, Tolerance, Discipline, Hard work Creative, Autonomous, Democratic, Curiosity, Spirit of nationality, Love of country, Appreciate achievement, Friendly/communicative, Peaceful, Love to read Environmental care, Social care, Responsibility. The instruments used in this study are the researcher, interview guide, mobile recorder, lesson plan analysis checklist, observation sheet and questionnaire for the students’ response. The findings indicated that the teachers inserted the character values implicitly through each activity designed in the lesson plan. The implementation result showed that the teachers have already implemented 8 character values out of 18 from two lesson plans namely: religious, discipline, curiosity, tolerance, friendly/communicative, responsibility, appreciate achievement, and hard work during the English teaching and learning occurred. The implementation result was also supported by the students’ response through the questionnaire. From 18 statements which were calculated by using Likert scale, the mean score from the total score gained 81.25% which means that the students admitted that they always implemented the 18 character values in the school activities. Key words: Character Education, English Lesson. keyword : Character Education, English lesson.
Developing Big Book as Media for Literacy Program at Second Grade Students of Elementary School in SD Laboratorium UNDIKSHA ., Ketut Ady Ananta; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A.; ., Ni Wayan Surya Mahayanti, S.Pd.,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.165 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Big Book berbasis karakter sebagai media pengajaran bahasa inggris siswa kelas dua SD di SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas dua SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa instrumen penelitian, seperti lembar observasi, pedoman wawancara, kuesioner guru, kuesioner siswa, dan rubrik. Model desain Sugiyono (2011) digunakan sebagai prosedur penelitian saat ini. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif maupun kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan persentase frekuensi, kemudian dijelaskan secara kualitatif. Dari hasil tersebut, media baru dikembangkan, dinilai oleh para ahli, direvisi, dicoba, dianalisis dan dikategorikan ke skala rating tertentu. Dari hasil buku besar yang dikembangkan adalah "Get Dressed", "Days of the week", "Greeting", "Little Dog" Doggy ". Buku besar itu bisa digunakan secara efektif di sekolah dan media yang dikembangkan dikategorikan sebagai media yang sangat baik. Kata Kunci : Big book, pegembangan media, pembelajaran usia dini, pendidikan karakter This study aimed to develop character based Big Book as a media for literacy program at second grade students of elementary school in SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja.the subject of this study was second grade students in SD Laboratorium UNDIKSHA Singaraja. The data were gained by using some research instrument, such as observation sheet, interview guide, teacher questionnaire, students’ questionnaire, and rubric. Sugiyono (2011) design model was employed as the present research procedure. The data obtain were analyzed quantitatively as well as qualitatively. The data were analyzed by using percentage of frequency, then, described qualitatively. From the result, the new media were developed, judged by the experts, revised, tried out, analyze and categorized to certain rating scale. From the result the big book developed are “Get Dressed”, “Days of the week”, “Greeting”, “Little dog “Doggy”. The big book could be used effectively in schools and the media developed were categorized as excellent media.keyword : big book, character education, media development, teaching young learners
AN ANALYSIS OF POLITENESS PRINCIPLES USED BY THE CANDIDATES DURING 2ND ROUND DKI JAKARTA GOVERNOR ELECTION DEBATE IN 2017 ., Ni Wayan Ria Candra; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., Dr. Dewa Putu Ramendra, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12401

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis prinsip kesopanan yang digunakan oleh kandidat pada putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta, meyelidiki alasan dari penggunaan prinsip kesantunan jenis tertentu yang paling sering digunakan oleh kedua kandidat dan menganalisis implikasi dari jenis prinsip kesantunan yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dianalisis berdasarkan prinsip kesopanan yang diusulkan oleh Leech (1983) dan klasifikasi tindakan ilokusi diusulkan berdasarkan Searle (1975) yang dikutip oleh Leech (1983). Data diambil dari transkripsi video putaran kedua debat pemilihan gubernur DKI Jakarta. Jumlah data yang ditemukan sebanyak 195 yang mengandung prinsip kesopanan dari kedua kandidat. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dan peneliti meminta triangulator untuk menilai data untuk mendapatkan hasil terpercaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya ada lima jenis prinsip kesopanan yang ditemukan dalam kedua pernyataan kandidat tersebut, yaitu: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim dan agreement maxim. Kedua kandidat sering kali melanggar penggunaan maksim. Pelanggaran maksim kebijaksanaan secara dominan digunakan oleh subjek I, sementara pelanggaran maksim kebijaksanaan sering digunakan oleh subjek II. Semua jenis tindakan ilokusi ditemukan di kedua pernyataan kandidat. Pernyataan asertif dominan digunakan oleh subjek I, sementara subjek II cenderung menggunakan pernyataan komisif. Oleh karena itu, alasan penggunaan prinsip kesopanan tertentu mengacu pada penggunaan tindakan ilokusi. Subjek I memaksimalkan pujian untuk dirinya dengan menyatakan program terbaik yang telah dilakukannya, sementara subjek II memaksimalkan untuk merugikan lawannya dengan mengungkapkan kesalahan subjek I dan kemudian memberikan penawaran tentang program barunya. Memberikan pernyataan komisif nyatanya lebih efektif untuk mendapat perhatian publik karena mereka ingin mendapatkan harapan baru.Kata Kunci : prinsip kesopanan, tindakan ilokusi, putaran 2 debat pemilihan DKI Jakarta This research aimed to identify the types of politeness principles used by candidates during 2nd round of DKI Jakarta governor election debate, investigate the reason of a particular type of politeness principles more frequently used by both candidates and analyse the implications of type of politeness principles used. This research employed descriptive qualitative research. The data were analysed based on Politeness Principle proposed by Leech (1983) and the classification of illocutionary acts was based on Searle (1975) cited by Leech (1983). The data were taken from transcription of 2nd round of DKI Jakarta governor election debate video. The total number of the data found were 195 containing politeness principles from both candidates. The main instrument of this research was the researcher herself and the researcher asked the triangulator to assess the trustworthiness of the data. The result of this research showed that there were five types of politeness principle found in both candidates’ statements, they were: tact maxim, generosity maxim, modesty maxim, approbation maxim and agreement maxim. Both candidates often flouted the use of maxims. Flouting modesty maxim was dominantly used by subject I, while flouting tact maxim was dominantly used by subject II. All types of illocutionary acts found in both candidates’ statements. The assertive were dominantly used by subject I, while subject II tended to use commisives. Therefore, the reason of the use particular politeness principles was referred to the use of illocutionary acts. Subject I maximized praise of himself by stating his best program that had been done, while subject II maximized cost of his opponent by exposing subject I’s mistakes and then gave an offer about his new program. In fact, giving commisives statements were more effective to get public’s attention since they wanted to get a new hope.keyword : politeness principles, illocutionary acts, 2nd round DKI Jakarta election debate

Page 10 of 28 | Total Record : 271