cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 271 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 271 Documents clear
SUGGESTION ACTS EXPRESSED BY THE ELEVENTH GRADE STUDENTS AT SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 SINGARAJA ., I DEWA AYU VIRMA T; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.382 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15164

Abstract

Masalah yang ditemukan di saran siswa adalah kurangnya variasi dalam membuat dan menanggapi saran. Penelitian ini berfokus pada tindak lisan dan tanggapan lisan siswaterhadap saran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginfestigasi dan mengerti jenis dan strategi saran dan tanggapan. Penelitian ini adalah penelitian qualitatif yang menggunakan tehnik elisistasi dalam pengumpulan data saran dan tanggapan siswa melalui simulasi percakapan. Siswa diminta untuk membuat saran dan member tanggapan berdasarkan lima situasi berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar saran terdiri dari subjek, objek, dan kata kerja (modal) maka mereka lebih memilih conventionalized form. Dalam membuat tindak lisan, siswa lebih memilih menggunakan modal dan obligation sebagai kata kerja dalam saran. Dalam menanggapi saran, kebanyakan siswa menerima saran. Siswa lebih banyak menggunakan pernyataan persetujuan. Sedangkan, beberapa siswa menolak secara tidak langsung and member alsan untuk menolak saran. Kata Kunci : tindak saran, tindak lisan, tindak tanggapan The problem found in students’ suggestions and responses still less varied. This research focused on the students’ verbal acts and verbal responses of suggestion. The research objectives were to identify and understand the suggestion types and strategies of verbal acts and responses. This research was descriptive qualitative research that used elicitation technique to collect the students’ suggestions and responses through simulated speech encounter. The students were asked to make suggestions and give responses based on five different situations. The findings showed that mostly the suggestions contained subject, object and action verb (modal) and they prefer to choose conventionalized form. The Modal and Obligation was mostly chosen by the students as action verbs of verbal acts strategy. In responding, most of the students were accepting the suggestion. Most of the students used statements of agreement, in confirming the agreement. Whereas, some of the students indirectly refused and they gave reasons to refuse the suggestion.keyword : suggestion acts, verbal acts, verbal responses
POLITENESS STRATEGIES IN TEACHER-STUDENTS CLASSROOM INTERACTION AT THE ELEVENTH GRADE STUDENTS OF SMK PGRI 1 SINGARAJA ., Siti Umayah; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, M.A.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.057 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis-jenis strategi kesopanan yang digunakan oleh guru dan siswa di dalam interaksi kelas, bagaimana strategi tersebut diwujudkan dalam tindakan dalam interaksi kelas dan fungsi pedagogik dari strategi kesopanan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yang dimana menggunakan strategi kesopanan sebanyak dua belas siswa dan satu guru dalam proses belajar dan mengajar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang dikmpulkan mealui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang digunakan ialah: 1) bald on record sebagai dominan dalam strategi kesopnan karena memiliki hubungan yang dekat antara guru dan siswa. 2) Siswa menggunakan kesopanan positif karena mereka bertemu guru untuk pertama kalinya guru menunjukkan rasa hormat kepada guru. 3) Kesopanan negatif digunakan oleh siswa kelas sebelas yang memiliki jarak sosial atau saat mereka canggung. 4) Off record digunakan oleh siswa untuk berbicara dengan guru saat makna ucapan disampaikan secara implisit Ada empat fungsi pedagogik dalam strategi kesopanan yaitu memberikan jarak antar guru dan siswa, suasana di dalam kelas, mengurangi ketegangan siswa, dan membuat interaksi social antara guru dan siswa.Kata Kunci : strategi kesopanan, kelas interaksi, dan funsi pedagogik This study aimed to explain the types of politeness strategy used by the teacher-students in classroom interaction, how the politeness strategies realized in classroom interaction and the pedagogical function of politeness strategies. The subject of this study was as many as twelve students and one teacher who used in politeness strategies. This study was qualitative study. The data were collected through observation and interview. The findings of the study showed the followings: 1) Bald on record became dominant types of politeness strategies and it was close enough to their teacher to talk baldly in teaching and learning process. 2) The students used positive politeness because they met the teacher for the first time the teacher to show the respect to the teacher. 3) Negative politeness was used by the eleventh grade students that had some social distance or when they were awkward. 4) Off record strategy was used by the students to talk to the teacher when the meaning of the utterances was told implicitly. There were four pedagogical functions of politeness strategies, namely the social distance between teacher-students, maintaining the general atmosphere of teaching and learning process, reducing stress (tension reduction), and creating teacher-students social interaction.keyword : Politeness strategy, classroom interaction, and pedagogical function
THE LINGUISTIC UNITING FEATURES OF TIGAWASA AND DENCARIK DIALECTS VIEWED FROM PHONOLOGICAL AND LEXICAL VARIATIONS ., Putu Mas Juliatmadi; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12278

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mencari bukti penyatu fonologis dan leksikal pada dialek Tigawasa dan Dencarik. Informan dalam penelitian ini adalah penutur asli dari dialek Tigawasa dan Dencarik. Penelitian ini menggunakan desain linguistik lapangan. Data dari penelitian ini diperoleh berdasarkan daftar kata dari Swadesh dan Nothofer menggunakan tehnik pengamatan, wawancara, rekaman, dan pencatatan. Data yang diperoleh ditranskrip dan dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dialek Tigawasa dan Dencarik memiliki kesamaan dalam segi fonologis dan leksikal. Terdapat 25 fonem yang sama dalam segi fonologisnya. Fonem-fonem tersebut meliputi 6 huruf vokal (vowel): /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /ɔ/ dan /∂/; dan 19 konsonan: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/. Sebagai tambahan, pembeda antara dialek Tigawasa dan Dencarik terletak pada distribusi dari fonem /ʌ/ dan fonem /∂/-nya. Lebih lanjut, berdasarkan daftar kata dari Swadesh dan Nothofer yang memuat 668 kosa kata (lexicon), terdapat 365 kosa kata yang serupa dalam segi leksikalnya. Kosa kata tersebut bisa diklasifikasikan sebagai berikut: 291 kosa kata yang persis sama dan 74 kosa kata yang serupa. Dengan kata lain, lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah kosa kata yang didapat dari dialek Tigawasa dan Dencarik dinilai sama ataupun serupa. Sebagai tambahan, alasan kenapa dialek Tigawasa dan Dencarik mempunyai kesamaan dalam penggunaan Bahasa Bali adalah karena dialek Tigawasa dan Dencarik termasuk dalam bahasa yang mempunyai hubungan kekerabatan sehubungan dengan kedekatan keduanya secara geografis. Kata Kunci : dialek, variasi fonologi, variasi leksikal Abstract This study aimed to find out the phonological and lexical evidences that unite Tigawasa and Dencarik dialects. The informants of this study were the speakers of Tigawasa and Dencarik dialects. This research employed field linguistic design. The data of the study were collected based on Swadesh and Nothofer word lists using observation, interview, recording, and note-taking techniques. The obtained data were transcribed and analyzed descriptively. The results of the study show that Tigawasa and Dencarik dialects actually have similarities in terms of phonological and lexical features. There are 25 phonemes that are similar in Tigawasa and Dencarik dialects in terms of phonological features. Those phonemes include 6 vowels: /ʌ/, /I/, /ʊ/, /ɛ/, /ɔ/ and /∂/ ; and 19 consonants: /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /ʔ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /y/, /ñ/, and /ŋ/. In addition, the differences between Tigawasa and Dencarik dialects is the distribution of phonemes /ʌ/ and /∂/ in Tigawasa and Dencarik dialects. Furthermore, from the Swadesh and Nothofer word lists which contain 668 lexicons, 365 lexicons are found similar in Tigawasa and Dencarik dialects in terms of lexical features. Those lexicons can be classified into: 291 exactly the same forms and 74 similar forms of lexicons. In the other words, more than 50% of the total number of lexicons that were found the same or similar in Tigawasa and Dencarik dialects. In addition, the reason why Tigawasa and Dencarik dialects have similarities in using Balinese is because Tigawasa and Dencarik dialects belong to a language family since they are geographically close. keyword : dialect, phonological variation, lexical variation.
Congratulation Acts among EFL Students at Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja ., I Dewa Gde Agung Ananta Kusuma; ., Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.; ., G.A.P. Suprianti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.522 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.15169

Abstract

Ucapan selamat sering diungkapkan dalam komunikasi sehari-hari. Selamat berekspresi untuk mempertahankan interaksi, bersosialisasi dengan orang-orang dan memperkuat hubungan sosial. Ucapan selamat sering diungkapkan oleh para siswa di sekolah tetapi para siswa tidak mengetahui dan memahami gaya kalimat yang tepat (bentuk) dan strategi tindakan ucapan selamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindakan lokusi (makna literal verbal dari apa yang dikatakan) dan tindakan perlocutionary (tanggapan terhadap apa yang dikatakan). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah 30 siswa SMP atau Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja. Data dikumpulkan oleh sebuah ajakan mengajar di mana peneliti meminta siswa untuk menanggapi simulasi bermain peran bermain. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tindakan lokusi, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para siswa lebih sering mengungkapkan bentuk-bentuk informal sebagai tindakan ucapan selamat dan bentuk-bentuk informal mereka sebagai tindakan pengesahan perlocutionary mereka. Juga, para siswa paling sering memilih menyebutkan kesempatan itu sebagai strategi ucapan selamat dan bertindak sebagai strategi dari tindakan-tindakan pemberian selamat kepatutan. Penelitian ini terbatas pada penggunaan permainan peran dalam lima situasi.Kata Kunci : Tindak tutur, bentuk tindakan ucapan selamat, strategi tindakan ucapan selamat Congratulation is frequently expressed in daily communication. Congratulation is expressed to maintain an interaction , to socialize with people and to strengthen the social relationship. Congratulation is often expressed by the students in school but the students do not know and understand the appropriate sentence styles (forms) and strategies of congratulation acts. This research was aimed at describing locutionary acts (the verbal literal meaning of what are said) and the perlocutionary acts (the responses to what are said). This research was a descriptive qualitative research. The subjects were 30 junior high school students or Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Singaraja. The data were collected by an elicitation teachique in which the researcher asked the students to response to simulated speech role play encounters. The data were analyzed descriptively by means of identifying and classifying locutionary acts, and drawing a conclusion. The results showed that the students more frequently expressed informal forms as their locutionary congratulation acts and informal forms as their perlocutionary congratulation acts. Also, the students most frequently chose mentioning the occasion as the strategy of locutionary congratulation acts and acknowledging as the strategy of perlocutionary congratulation acts. This research was limited to the use of a role play under five situations.keyword : speech acts, congratulation acts forms, congratulation acts strategies
THE EFFECT OF SNOWBALL THROWING TOWARDS STUDENTS’ SPEAKING COMPETENCE ., Putu Linda Ayu Pebriyanti; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11518

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikan pada kemampuan berbicara siswa yang diajar menggunakan snowball throwing dan siswa yang diajar menggunakan konvensional strategi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan posttest-only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA N 1 Sawan dengan sample berjumlah 52 siswa yang didapat menggunakan cluster random sampling. 26 orang siswa kelas XI IPB 1 terpilih sebagai kelompok eksperimen yang diajar dengan menggunakan strategi snowball throwing dan 26 orang siswa kelas XI IPB 2 terpilih sebagai kelas control yang diajar menggunakan strategi konvensional. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunakan snowball throwing mendapat hasil yang lebih baik. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil dari analisis deskriptif yaitu nilai rata-rata dari kelompok eksperimen adalah 83.53 sedangkan nilai rata-rata dari kelompok kontrol adalah 79.53. Hasil dari uji hipotesis juga menunjukkan bahwa nilai dari tob lebih kecil dari dari tcv. Nilai dari tob adalah 3.019 sedangkan nilai dari tcv adalah 2.008. berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan dari snowball throwing terhadap kemampuan berbicara siswa kelas XI SMA N 1 Sawan.Kata Kunci : kemampuan berbicara, snowball throwing This study aims to investigate whether or not there is significant effect in students’ speaking competence between students who were taught by using snowball throwing and those who were taught by using conventional strategy. The research design used in this study was experimental, post test only control group design. The population was eleventh grade students of SMA N 1 Sawan. The sample of research was 52 students determined by using Cluster Random Sampling. 26 students of XI IPB 1 was assigned as the experimental group which was taught by using snowball throwing and 26 students of XI IPB 2 as the control group which was taught by using conventional strategy. The data analyzed by using descriptive statistics analysis and inferential statistics analysis. The result of the data analysis showed that students in experimental group achieved better result than students in control group. It was proven by the result of descriptive statistics analysis that showed the mean score of the experimental group was 83.53 while the mean score of control group was 79.53. The result of the t-test also showed that the value of the tob was higher than the tcv. The value of tob was 3.019 while the value of tcv was 2.008. It means that there is significant effect in speaking competence of the eleventh grade students who are taught by using snowball throwing strategy. keyword : snowball throwing, speaking competence
A COMPARATIVE STUDY ON THE IMPLEMENTATION OF DEFENDS AND PLEASE STRATEGIES TOWARD STUDENTS WRITING COMPETENCY IN SMP N 2 SINGARAJA ., Ni Luh Karisma Dewi; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.326 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13586

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang menginvestigasi perbedaan signifikan dalam kompetensi menulis siswa dengan membandingkan kelas dengan strategi DEFENDS dan kelas dengan strategi PLEASE. Untuk bisa menjalankan penelitian ini, siswa kelas 7 di SMPN 2 Singaraja dipilih untuk digunakan sebagai sample. 2 kelas diberikan perlakuan yang berbeda dengan mengimplementasikan DEFENDS and PLEASE strategy. Pre Test dan Post Test Non Group Design diimplementasikan dalam penelitian ini. Data mengenai kompetensi menulis siswa dikumpulkan melalui post test. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal kompetensi mengajar antara murid yang diajar dengan strategi DEFENDS dan kelas yang diajar dengan strategi PLEASE. Ini dapat dilihat dari Sig (2-tailed) yang dibawah 0.05 yang berarti kompetensi menulis siswa dengan strategi DEFENDS (76.35) lebih tinggi dari strategi PLEASE (70.27). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi DEFENDS lebih efektif digunakan dalam mengajar menulis, kususnya dalam menulis teks deskripsi. Kata Kunci : Strategi DEFENDS, Strategy PLEASE, Kemampuan Menulis This study was an experimental study investigated the significant difference in writing competency between the students taught by using DEFENDS and PLEASE strategies. To conduct this research the seventh grade students of SMP N 2 Singaraja in the academic year 2017/2018 were selected to be sample. Two classes were treated differently by implementing DEFENDS and PLEASE strategies. Pre Test-Post Test Non Control Group Design was implemented in this experiment. The data of students’ writing competency were collected by using post test. This research discovers that there is a significant difference in writing competency between the students’ taught by using DEFENDS strategy and those taught by PLEASE strategy. It is known from the probability value or Sig.(2-tailed) of 0.000 which is lower than 0.05. The mean score of the students writing competency taught by DEFENDS strategy (76.35) was higher than the mean score of the students writing competency (taught by using PLEASE strategy (70.27). This finding demonstrating that DEFENDS strategy is more effective for teaching writing, especially in the content of descriptive text.keyword : DEFENDS Strategy, PLEASE Strategy, Writing Competency
THE EFFECT OF TIME TOKEN STRATEGY IN LEARNING ENGLISH ON THE SPEAKING COMPETENCE OF THE ELEVENTH GRADE EFL STUDENTS IN SMA NEGERI 2 BANJAR ., Ni Wayan Widiarini; ., Drs.Gede Batan,MA; ., I Putu Ngurah Wage Myartawan, S.Pd., M.P
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12392

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dalam kompetensi berbicara antara siswa yang dibelajarkan dengan strategi time token dan siswa yang dibelajarkan dengan strategi konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan desain penelitian posttest-only control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 2 Banjar yang terdiri dari 239 siswa. Sampel dari penelitian ini adalah kelas XI IPS 2 dan XI IPS 3, dimana kelas XI IPS 2 yang terdiri dari 28 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 3 yang terdiri dari 28 siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah speaking posttest. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 71.50, sedangkan nilai rata-rata kelompok kontrol adalah 67.86. Hasil uji hipothesis menunjukkan bahwa nilai dari thitung lebih besar dari nilai ttabel (2.581 > 2.018). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan strategi time token dan siswa yang diajar dengan menggunakan strategi konvensional. Kata Kunci : Kompetensi Berbicara and Strategi Time Token. ABSTRACT This study aimed to investigate whether there was a significant difference of time token strategy on the speaking competence of the EFL senior high school students. The present study was an experimental research which used posttest-only control group design. The samples of this study were Class XI IPS 2 and Class XI IPS 3, where Class XI IPS 2 that consisted of 28 students is as the experimental group and Class XI IPS 3 that consisted of 28 students is as the control group. The instrument used for collecting the data in this study was speaking test in the form of performance test. The data were analyzed by using descriptive analysis and inferential analysis. The result of the study showed that the mean score of experimental group was 71.50, while the mean score of control group was 67.86. Then, the result of hypothesis testing showed that tobserved was higher than tcritical value (2.581 > 2.004). It can be concluded that there is a significant difference of time token strategy in the learning English on the EFL students’ speaking competence. keyword : speaking, teaching speaking, time token strategy
Developing a Computer Game as a Learning Media to Learn English Vocabulary for Young Learners ., I Putu Surya Pratama; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.11589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah permainan komputer sebagai media belajar untuk mempelajari kosakata Bahasa Inggris untuk anak usia dini. Penelitian ini menggunakan model penelitian Hannafin dan Peck. Subjek penelitian ini adalah 5 guru Bahasa Inggris dan 160 siswa kelas empat dari 5 sekolah dasar yang berbeda di Singaraja, Bali. Sekolah tersebut adalah SDN 1 Paket Agung, SDN 2 Paket Agung, SDN 1 Banjar Jawa, SDN 3 Banjar Jawa, dan SD Lab UNDIKSHA. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi panduan interview, kuisioner, dan lembar penilaian. Topik yang diselipkan dalam permain komputer ini adalah binatang, warna, dan angka. Dalam hal kualitas produk, nilai rata-rata menunjukkan angka 4.67 di mana permainan komputer ini dikategorikan sangat baik. Hal itu menunjukkan bahwa produk ini dapat membantu siswa kelas empat SD dalam mempelajari kosakata Bahasa Inggris.Kata Kunci : Anak usia dini, kosakata Bahasa Inggris, media belajar, permainan komputer This study was aimed to develop a computer game as a learning media to learn English vocabulary for young learners. This study used Hannafin and Peck design model. The subjects of this study were five English teachers and 160 fourth-grade students of five different elementary schools in Singaraja, Bali. The schools were SDN 1 Paket Agung, SDN 2 Paket Agung, SDN 1 Banjar Jawa, SDN 3 Banjar Jawa, and SD Lab UNDIKSHA. The instruments used in this study were an interview guide, a questionnaire, and evaluation sheets. The topics inserted in the computer game were animals, colors, and numbers. In term of product quality, the mean score was 4.67 in which the computer game was categorized excellent. It showed that this product was able to help four-grade students of elementary school to learn English vocabulary.keyword : Computer game, English vocabulary, learning media, young learners
Prefixes and Suffixes of Balinese Language Spoken in Penyabangan Village ., Nyoman Erlina; ., Dr. I Gede Budasi, M.Ed.; ., Nyoman Karina Wedhanti, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.95 KB) | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.13607

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran dari bahasa Bali lisan di desa Penyabangan yang memiliki proses derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua contoh informan dipilih berdasarkan kriteria. Data dikumpulkan berdasarkan tiga tehnik, yaitu: observasi, tehnik perekaman, dan tehnik wawancara. Beberapa instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu peneliti itu sendiri, alat perekam digital, kamera, list pertanyaan. Ada tiga proses dalam menganalisis data, diantaranya data reduction, data display dan conclusion drawing.Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada dua jenis awalan di bahasa Bali lisan di desa Penyabangan: awalan {me-} dan {N-}. Ada tiga jenis akhiran di bahasa Bali lisan di desa Penyabangan: akhiran {-ang}, {-in} dan {-e}. Awalan dan akhiran di bahasa Bali lisan di desa Penyabangan yang memiliki proses derivasi yaitu awalan {me-}, {N-}, dan akhiran {-ang} dan {-in}. Awalan dan akhiran di bahasa Bali lisan di desa Penyabangan yang mempunyai proses infleksi adalah awalan {N-} dan akhiran {-e}, {-ang} dan {-in}. Kata Kunci : Awalan dan akhiran, Bahasa Bali lisan di Penyabangan, Morfologi derivasi,Morfologi infleksi Abstract The study aimed at describing the kinds of prefixes and suffixes of Balinese language spoken in Penyabangan village which has derivational and inflectional process. This research is a descriptive qualitative research. There are two informant samples chosen based on a set of criteria. The obtained data are collected based on three techniques, namely: observation, recording, and interview techniques. The instruments used to collect the data are the researcher, digital recorder, camera, and question list. There are three steps of analyzing the data, those are: data reduction, data display, and conclusion drawing/verifying. The results of this study show that there are two kinds of prefixes of Balinese language spoken in Penyabangan village; prefix {me-} and {N-}. There are three kinds of suffixes of Balinese language spoken in Penyabangan village; suffix {-ang}, {-in} and {-e}. Prefixes and suffixes Balinese language spoken in Penyabangan village that have derivational process are prefix {me-}, {N-} and suffix {-ang} and {-in}. Prefixes and Suffixes of Balinese language spoken in Penyabangan village that have inflectional process are prefix {-N} and suffix {-e}, {-ang}, and {-in}.keyword : Prefixes and Suffixes, Balinese language in Penyabangan, Morphological derivational, Morphological Inflectional
AN ANALYSIS OF COMMUNICATION STRATEGY USED BY TEACHER TO TEACH ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE IN INCLUSIVE CLASSROOM AT AURA SUKMA INSANI BILINGUAL KINDERGARTEN ., Luh Eka Sumeningsih; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A.; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 5, No 2 (2017): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v5i2.12397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis strategi komunikasi, strategi komunikasi yang paling sering digunakan, dan alasan penggunaan strategi komunikasi oleh guru dalam mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di kelas inklusif di Aura Sukma Insani Bilingual Kindergarten. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru bahasa Inggris. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen manusia, lembar observasi, pedoman wawancara, dan perekam audio - video. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat belas jenis strategi komunikasi yang digunakan oleh guru bahasa Inggris. Jenis-jenis itu adalah enam strategi strategi langsung yaitu penggantian pesan, terjemahan harfiah, pengalihan kode, sinyal non-linguistik / mime, self-rephrasing, dan self-repair. Dua strategi strategi tidak langsung, yaitu pengisi dan pengulangan. Enam strategi strategi interaktif yaitu: pemeriksaan pemahaman, permintaan pengulangan, permintaan konfirmasi, permintaan klarifikasi, ringkasan interpretasi, dan tanggapan. Strategi komunikasi yang paling sering digunakan oleh guru adalah terjemahan literal yang memperoleh 71,4% dan pengalihan kode yang mencapai 64,2%. Ada empat belas alasan mengapa guru menggunakan strategi komunikasi seperti membuat siswa menjadi lebih mudah dalam menangkap penjelasan guru, untuk membantu guru saat guru tidak tahu bagaimana mengucapkan kata tertentu dalam bahasa target, untuk membuat para siswa lebih memperhatikan instruksi, untuk memeriksa apakah pemahaman guru sama dengan makna yang dimaksudkan siswa, memberikan klarifikasi, untuk membuat siswa menerima pesan dengan benar, membuat rencana tentang kegiatan selanjutnya, untuk membantu siswa dalam menghafal, untuk mengetahui pemahaman siswa tentang konsep tersebut, untuk mendengarkan ucapan siswa dengan jelas, untuk mengkonfirmasi makna yang dimaksudkan siswa, untuk memberikan kesimpulan yang jelas tentang materi yang diberikan, untuk membantu siswa mengingat materi yang telah dipikirkan oleh guru dan untuk memberikan umpan balik kepada ucapan siswa. Kata Kunci : strategi komunikasi, kelas inklusif, bahasa Inggris sebagai bahasa asing This study aimed at analyzing the types of communication strategies, the most frequent communication strategies used, and the reasons for using the communication strategies by the teacher in teaching English as a foreign language in the inclusive classroom at Aura Sukma Insani Bilingual Kindergarten. This study used a qualitative research design. The subject of this study was English teacher. The instruments used in this study were human instrument, observation sheet, interview guide, and audio – video recorder. The result of this study showed that there were fourteen types of communication strategies used by English teacher. Those types were six strategies of direct strategy namely message replacement, literal translation, code switching, non-linguistics signal/mime, self-rephrasing, and self-repair. Two strategies of indirect strategy, they were fillers and repetition. Six strategies of interactional strategy namely: comprehension check, request for repetition, request for confirmation, request for clarification, interpretive summary, and responses. The most frequent communication strategies which used by the teacher were literal translation which gained 71,4 % and code switching which gained 64,2%. There were fourteen reasons why the teacher used the communication strategies such as to make the students became easier in catching the teacher’s explanation, to help the teacher when the teacher did not have any idea about how to say a certain word in target language, to make the students pay more attention to the instructions, to check whether the teacher comprehension was the same as students’ intended meaning, giving clarification, to make the students accept the message correctly, to make a plan about the next activity, to help the students in memorizing, to know the students’ comprehension about the concept, to listen the students’ utterance clearly, to confirm the students’ intended meaning, to give clear conclusion about the material given, to help the students in recalling the material that had been thought by the teacher and to give feedback to students’ utterances.keyword : communication strategies, inclusive classroom, English as a foreign language