cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 282 Documents
AN ANALYSIS ON THE ISLAMOPHOBIC ACTS IN FRANCE POST-ARAB SPRING Hadza Min Fadhli Robby; Aathifah Amrad
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2085

Abstract

 The discourse of Islamophobia in Europe has become increasingly popular after the endless war in the Middle East. The instability that hit the Middle East after Arab Spring and the civil war in Syria has forced some of its population to migrate to European countries, including France. The large number of immigrants who have entered France has also been accompanied by rampant acts of attacks and terrorism, thereby revives the feelings of Islamophobia among the native white French. Meanwhile, Front National as an ultranationalist party known for its racist anti-immigrant policies has gained more influences in France by using Islamophobic narratives. In its political campaign, Front National uses the concepts of Laicite to corner French Muslim in the public sphere. The presence of French Muslim community is considered as a threat toward secular values and Christian civilization. In this study, the author will analyze the increase of Islamophobia which has been triggered by the immigrant crisis and the influence of the right-wing movement. The concept of race by W. Thomas Schmid will serve as a theoretical framework to answer the increasing Islamophobia in France. To conduct the research, the author uses the qualitative method to analyze texts and narratives related to the Islamophobia acts in France. This research concluded with a statement that Islamophobia in France post-Arab Spring generally occurs in three aspect: cognitive, motivational and behavioral aspects. A tendency of certain groups in the French society which looks Islam as a racial problem becomes one of the main roots of the rise of Islamophobia in France. Wacana Islamofobia di Eropa berkembang pesat, didorong oleh intensitas konflik di Timur Tengah yang tidak berkesudahan. Instabilitas yang melanda kawasan Timur Tengah pasca Arab Spring dan perang saudara di Suriah mendorong sebagian besar penduduknya untuk melakukan imigrasi ke berbagai wilayah di  Eropa, termasuk Perancis. Hal ini membangkitkan kembali perasaan Islamofobia di beberapa kalangan penduduk Perancis yang berkulit putih. Dalam kondisi ini, Front National sebagai partai ultra-nasionalis menjadikan narasi-narasi Islamofobia untuk merebut pengaruh dalam politik Perancis. Front National juga menggunakan konsep Laicite untuk menyudutkan masyarakat Muslim di ranah publik. Kehadiran kelompok Muslim di tengah-tengah penduduk Perancis dianggap dapat mengancam nilai-nilai sekuler dan peradaban Kristen. Dalam tulisan ini, penulis akan menganalisis mengapa terjadi peningkatan Islamofobia yang dipicu akibat krisis imigran serta pengaruh gerakan sayap kanan. Penelitian ini menggunakan konsep Ras yang dikembangkan oleh W. Thomas Schmid. Dalam melakukan riset, penulis menggunakan metode kualitatif untuk mengkaji teks serta naskah-naskah yang terkait dengan tindakan Islamofobia di Perancis. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Islamofobia di Perancis setelah Arab Spring terjadi dalam 3 aspek, yakni aspek kognitif, motivasional, dan behavioral. Adanya kecenderungan sebagian masyarakat Perancis memandang Islam sebagai masalah rasial menjadi akar penting yang menyebabkan berkembangnya Islamofobia di Perancis. 
REDUKSI NALAR KEAGAMAAN PARA JIHADIS 'Atiyah Rauzanah Malik
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2166

Abstract

Maraknya kekerasan yang mengatasnamakan agama kian terjadi bahkan di era digital seperti saat ini. Kekerasan itu terjadi tak hanya kepada kelompok-kelompok yang dianggap sebagai non-muslim, namun juga di internal muslim sendiri. Melalui berbagai aksi kekerasan seperti penggerebekan hingga yang paling ekstrem seperti bom bunuh diri, para pelaku yang acap kali dijuluki jihadis ini merasa absah melakukan kekerasan karena dilandasi oleh keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah bentuk jihad fii sabilillah. Lantas, apa yang sebenarnya melatarbelakangi pemikiran para jihadis ini sehingga mereka merasa terlegitimasi melakukan berbagai tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan. Apakah karena dasar normatif (al-Qur’an dan Hadits) yang telah tereduksi dan menjadi basis pijakan pikiran dan tindakan mereka, atau justru dasar pemikiran beragama mereka yang menjadi sebab legalitas rangkaian tindakan kekerasan itu? Buku yang ditulis oleh Aksin Wijaya ini begitu menarik karena mengulas genealogi bentuk-bentuk tindakan kekerasan oleh mereka yang kita sebut dengan kaum jihadis ini dengan membedah sisi nalar keagamaan. Nalar yang diulas di sini tidak hanya tentang cara mereka berpikir (menalar Islam) saja melainkan juga tentang nalar keislaman yang mengideologi dalam setiap pribadi para jihadis.
DI ANTARA DUA ARUS: STUDI FENOMENOLOGI NARASI PASCA ISLAMISME ANAK MUDA MUSLIM DI YOGYAKARTA Arif Budi Darmawan; Ayu Dwi Susanti; Azinuddin Ikram Hakim; Fadhil Naufal
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2048

Abstract

The end of the New Order era is an opportunity to develop a new structure in Indonesia. The beginning of the reformation era was marked by the emergence of the Islamist movements or the rising religious spirit era. In this article, the term Islamism is not defined as a discourse within politics of religion, but it refers to narrative spiritual expression in the public space. In a more specific way, this article would like to describe how young Muslims criticize Islamism in their daily lives. This research found that Islamism that occurs in family milieu and in the circle of a friendship has created anxiety mong them. This anxiety appears in the form of disagreement on monolithic definition of Islamism, the criticism of the new pattern of piety in the public space, and the counter narrative to the Islamism phenomenon. Pasca runtuhnya rezim Orde Baru seolah menjadi ‘keran’ bagi terbukanya sistem dan struktur sosial di masyarakat, salah satunya ditandai dengan menguatnya Islamisme atau kebangkitan semangat beragama. Islamisme yang akan diulas di penelitian ini bukan merujuk pada diskursus relasi politik agama, namun lebih kepada eksistensi dari ekspresi keagamaan yang muncul dalam bentuk meningkatnya penggunaan atribut Islam di ruang publik. Penelitian ini secara khusus berupaya memberikan gambaran bagaimana pemuda Muslim mengkritisi fenomena Islamisme dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya Islamisme yang terjadi di ruang lingkup keluarga dan pertemanan melahirkan berbagai keresahan bagi anak muda. Keresahan itu terwujud melalui ketidaksetujuan tentang pemaknaan baru dalam Islam yang dinilai homogen, kritik atas pola kesalehan di ruang publik, dan munculnya konter narasi berupa perlawanan atas fenomena Islamisme.
GERAKAN SOSIAL BARU INDONESIA: STUDI GERAKAN GEJAYAN MEMANGGIL 2019 Sanny Nofrima; Zuly Qodir
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2163

Abstract

The Gejayan Calling Movement 2019 becomes an interesting phenomenon of the development of new student social movements in Indonesia. Using social media platforms (#tranding topics) as a means of mass mobilization, this action succeeded in managed around 15,000 protesters. This article aims to elaborate the 2019 Gejayan Menanggil Movement in more detail, covering the background of the action, the means of mass mobilization, the consolidation process, and the issues raised. The research method uses a qualitative approach with data collection techniques through virtual observations on social media, data searches on the Drone Emprit website, and in-depth interviews with members of HMI DIPO, HMI MPO, IMM, GMNI, and ARB (Aliansi Rakyat Bergerak). The collected data were analyzed using NVivo Plus software. The results show that the Gejayan Calling Movement has become the starting point for changes in social movements in Indonesia, where the foundations built are no longer based on material resistance, but are more based on issues of humanity, injustice, politics, the environment and women. Therefore, the ideology of the movements has also changed from a class resistance to an identity resistance.Gerakan Gejayan Memanggil 2019 menjadi salah satu fenomena menarik dari perkembangan gerakan sosial baru mahasiswa di Indonesia. Melalui platform media sosial (tranding topic) sebagai alat mobilisasi massa, aksi ini telah melibatkan 15.000 (lima belas ribu) demonstran. Artikel ini bermaksud untuk mengelaborasi Gerakan Gejayan Memanggil 2019 secara lebih mendalam, meliputi latar belakang aksi, sarana mobilisasi massa, proses konsolidasi, dan isu yang diangkat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi virtual di sosial media, penelusuran data di situs internet Drone Emprit, dan wawancara mendalam terhadap anggota HMI DIPO, HMI MPO, IMM, GMNI, dan ARB (Aliansi Rakyat Bergerak). Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan software NVivo Plus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gerakan Gejayan Memanggil ini telah menjadi titik tolak perubahan gerakan sosial di Indonesia, dimana pondasi yang dibangun tidak lagi berbasis pada perlawanan yang bersifat material, tetapi lebih berbasiskan pada isu-isu kemanusiaan, ketidakadilan, politik, lingkungan dan perempuan. Oleh sebab itu, ideologi yang berkembang berubah dari hal yang bersifat perlawanan kelas menjadi perlawanan identitas.
CYBERSPACE DAN POPULISME ISLAM DI KALANGAN NETIZEN: STUDI KASUS PADA AKUN MEDIA SOSIAL FELIX SIAUW Abd Hannan
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2116

Abstract

The massive use of social media has led to the increasing phenomenon of Islamic populism among netizens. This phenomenon is marked by the presence of contemporary religious actors. One of them is Felix Siauw. This paper aims to analyze the phenomenon of cyberspace and Islamic populism among netizens, especially on Felix Siauw's Instagram (IG) account. This study used a qualitative approach in the form of netnography, through tracing the IG Felix Siaw account. The collected data then being analyzed using Jurgen Habermas's theory of public space. The results reveal that the role and influence of the presence of contemporary religious actors, such as Felix Siauw, can be illustrated in three ways: first, the use of anti-establishment narratives; second, the use of anti-authoritarianism narratives; third, the invitation to return to the basic values of Islam (Al-Qur'an and Hadith) as a guidance for a whole life of a muslim, including his or her life as a citizen. To maximize his populist agenda, IG Felix Siauw's account uses populist themes that are close to the daily lives of netizens, such as the Indonesian without Dating Movement, Youth Hijrah, Indonesia Bertauhid, and the Khaffah Islamic Movement.Masifnya penggunaan sosial media memunculkan fenomena populisme Islam di kalangan netizen. Fenomena ini ditandai oleh kehadiran aktor-aktor agama kekinian, salah satunya adalah Felix Siauw. Tulisan ini bertujuan menganalisis fenomena cyberspace dan populisme Islam di kalangan netizen, khususnya pada akun Instagram (IG) Felix Siauw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa netnografi, melalui penelusuran akun IG Felix Siaw. Data kemudian dianalisis menggunakan teori Ruang Publik Jurgen Habermas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peran dan pengaruh kehadiran aktor agama kekinian seperti Felix Siauw di kalangan netizen muslim tergambar dalam tiga hal, yaitu: pertama, penggunaan narasi antikemapanan; kedua, penggunaan narasi anti-oritarianisme; ketiga, ajakan kembali ke nilai-nilai dasar agama (Al-Qur'an dan Hadist) sebagai pegangan hidup secara menyeluruh, bahkan dalam berbangsa dan bernegara sekalipun. Untuk memaksimalkan agenda populismenya tersebut, akun IG Felix Siauw mempergunakan tema-tema populis yang dikenal dekat dengan kehidupan netizen sehari-hari, seperti Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pemuda Hijrah, Indonesia Bertauhid, Gerakan Islam Khaffah dan lain sebagainya.
RIKO THE SERIES: KOMBINASI MEDIA PEMBELAJARAN ISLAM, NEGOSIASI IDENTITAS MUSLIM DAN PRAKTIK DAKWAH KEKINIAN Fathayatul Husna
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2131

Abstract

This article examined an Islamic cartoon film represennted by a popular title of Riko The Series movie. The basic question raised in this paper is how Riko The Series is utilized as a media for teaching Islam to society? This article employs a qualitative research method, using virtual ethnography and combined with literature study. The results show that Riko the Series is not only functioning as a media of teaching Islam, but also become a way to express Islamic identity, especially through clothes wearing by the family members of Riko the Series. Besides, Riko the Series also confirm how negotiation, as well as combination, between Islamic teachings and sciences is practiced. It can be concluded that this article shows how Riko the Series has a significant contribution in developing learning media of Islam, negotiating identity, and practicing a contemporary dakwah.Tulisan ini mengkaji kartun Islami, dengan studi kasus pada kartun Riko The Series. Dasar utama dalam tulisan ini adalah menjawab bagaimana kartun Riko The Series dijadikan sebagai media pembelajaran Islami bagi masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan dianalisis dengan teori The Comunication Theory of Identity. Data dikumpulkan melalui virtual etnografi dan dikombinasikan dengan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kartun Riko The Series tidak hanya menjadi media pembelajaran islami, tetapi juga menjadi cara mengekspresikan identitas muslim. Muslim memiliki banyak cara untuk mengekspresikan identitasnya, salah satunya melalui busana yang dikenakan oleh anggota keluarga Riko The Series. Selain itu, melalui studi kasus Riko The Series juga menunjukkan adanya praktik negosiasi dan kombinasi antara ajaran Islam dan ilmu sains. Oleh karena itu, tulisan ini berkontribusi memperkaya wacana akademik terkait media dan totonan pembelajaran Islam, negosiasi identitas dan praktik dakwah kekinian.
TAFSIR KESALEHAN SOSIAL BAGI ANGGOTA KOMUNITAS HIJRAH TERANG JAKARTA DAN SHIFT BANDUNG Didid Haryadi; Aris Munandar
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.1992

Abstract

Individual piety is a personal achievement in the rituals of human worship. However, its manifestations can affected the social piety of the worshipper, such as tolerance towards people of other religions, caring for the environment, and loving the country. 'Terang Jakarta' and 'Shift Bandung' communities are representations of the hijrah movement in Indonesia, which seeks to realize social piety among its members. The Middle-class youths in various big cities across the country, who experienced a dark life, are active actors of this Hijrah community. This paper aims to analyze the meaning of social piety for the members of both communities, as a part of religious cosmopolitanism and the strengthening of the Hijrah movements in Indonesia. This study used a qualitative approach and Herbert Mead's Symbolic Interactionism theory. The research found that the formation of the meaning of social piety for the members of both communities was carried out by the administrators through the same pattern, namely emphasizing the redefinition of social piety through the distribution of Islamic values that resulted from collective study among them. This process is implemented through massive dissemination of ideas on social media and through a layered regeneration system. The manifestation of social piety is embodied in the understanding of community members about social guidelines, such as love for the country, tolerance, and being involved in social activities in society.Kesalehan individual adalah pencapaian yang bersifat pribadi dalam ritus ibadah manusia. Manifestasinya dapat membentuk kesalehan sosial, seperti sikap toleransi terhadap umat beragama lain, peduli terhadap lingkungan, dan mencintai tanah air. Komunitas ‘Terang Jakarta’ dan ‘Shift Bandung’ merupakan representasi dari gerakan hijrah di Indonesia yang berupaya untuk mewujudkan kesalehan sosial tersebut pada anggota-anggotanya. Anak-anak muda kelas menengah di kota besar dengan pengalaman hidup yang kelam merupakan para pelaku aktif yang terlibat secara langsung dalam komunitas hijrah ini. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis tafsir kesalehan sosial oleh anggota kedua komunitas tersebut, sebagai salah satu bagian dari kosmopolitanisme beragama dan menguatnya gerakan hijrah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teori Interaksionisme Simbolik Herbert Mead. Hasil riset menemukan bahwa pembentukan ‘tafsir’ kesalehan sosial terhadap anggota kedua komunitas ini dilakukan oleh pengurus melalui pola yang sama, yaitu menekankan pemaknaan ulang kesalehan sosial melalui distribusi nilai Islam yang dipelajari secara kolektif. Proses ini dilakukan melalui penyebaran gagasan secara massif di media sosial dan melalui sistem kaderisasi berlapis. Adapun bentuk manifestasi kesalehan sosial tersebut terwujud dalam pemahaman anggota komunitas tentang pedoman bermasyarakat, seperti cinta tanah air, toleransi, dan terlibat dalam kegiatan sosial di masyarakat.
DINAMIKA KONFLIK IDENTITAS PENGHAYAT SAPTA DARMA DI DESA SUKORENO, JEMBER, JAWA TIMUR Fitriatul Hasanah; Ahmad Arif Widianto; Joan Hesti Gita Purwasih
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2250

Abstract

The polemic of religious identity between “penghayat kepercayaan” (believers of indigenous religion) and followers of the official religions in Indonesia is still become a sensitive issue, which adds to the long list of marginalization of indigenous believers in Indonesia. Several forms of marginalization are: forcing to choose certain official religions in their National ID Card, the pros and cons of the burial places of the deceased indigenous believers, and restrictions on the construction of their worship places. This article aims to elaborate the dynamics of identity conflict between adherents of the Sapta Darma (one of indigenous belief) and the followers of official religions in Sukoreno Village, Jember, East Java. This study uses a qualitative approach using observation, in-depth interviews with 7 (seven) informants of Sapta Darma followers, and members of FKUB (Forum of Religious Harmony) for the data collection. The results of the study reveal that this identity polemic has made it difficult for adherents of Sapta Dharma to change their religious identity on their ID cards. As a consequence, they also have difficulty in accessing public burial places. Conflict resolution efforts are carried out through FKUB by providing socialization of knowledge on nationality and cultural perspective to the interfaith leaders. Polemik identitas agama antara penghayat kepercayaan dengan pemeluk agama resmi di Indonesia masih menjadi isu yang menambah daftar panjang marginalisasi penganut kepercayaan di Indonesia. Bentuk marginalisasi ini mengarah kepada pemaksaan pencantuman agama tertentu dalam KTP dan KK warga penghayat, pro dan kontra tempat pemakaman warga penghayat yang meninggal, dan pembatasan pembangunan rumah peribadatan bagi warga penghayat. Artikel ini bermaksud untuk mengelaborasi dinamika konflik identitas antara penghayat kepercayaan Sapta Darma dengan para pemeluk agama resmi, dengan mengambil lokasi tempat di Desa Sukoreno, Jember, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam terhadap 7 (tujuh) informan warga penghayat Sapta Darma, dan anggota FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa polemik identitas ini mengakibatkan warga pengahayat kesulitan dalam mengganti identitas agamanya di KTP dan KK sehingga mereka memiliki identitas ganda dan kesulitan dalam mengakses tempat pemakaman umum. Upaya resolusi konflik dilakukan melalui FKUB dengan memberikan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pendekatan kultural dengan tokoh lintas agama.
DARI NATURE KE PAMER: MAKNA DAN MOTIVASI BERWISATA GENERASI MUDA B.J. Sujibto; Syaifuddin Sholeh TS
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2141

Abstract

This article discusses two important questions about the meaning of travelling and its motivation by youth travelers to the tourist destinations of Gunungkidul, Yogyakarta. The meaning and motivation of youth travelling are very personal. It is closely related to hobbies, preferences, desires, and even morals which define a massive trend among youth travelers. Sociology of tourism, particularly on the issue of travel motivation has been used as a theoretical framework to conduct a research and figure out the youth travelers whose interest in spending their leisure time to travel to Gunungkidul. By applying qualitative descriptive method, this research conducted some interviews with youth travelers who visited to nature tourism in Gunungkidul, Yogyakarta. This research found two interesting findings, first, youth travelers to tourist destinations in Gunungkidul are prefer to go for sightseeing the beauty of natures, then they make their selected photos which are primarily claimed as personal memories and show them off on their social media; and second, the activities of posting photos are to inform to prospective tourists. The latter finding shows very common phenomena but it is not formulated yet as the promotional media of the show off and narcissistic photos by youth travelers.Artikel ini membahas dua pertanyaan penting tentang makna dan motivasi berwisata oleh wisatawan muda di destinasi wisata Gunungkidul, Yogyakarta. Makna dan motivasi perjalanan mendasarkan aspek-aspek yang sangat pribadi dari para wisatawan yang tidak bisa dilepas terkait dengan hobi, preferensi, keinginan, dan bahkan moral yang menentukan tren besar di kalangan pelancong muda. Sosiologi pariwisata khususnya tentang motivasi perjalanan telah dijadikan sebagai kerangka teori untuk melakukan penelitian dan mencari tahu minat dan motivasi para wisatawan muda yang menghabiskan waktu dengan berwisata ke Gunungkidul. Dengan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini melakukan wawancara dengan para wisatawan muda yang berkunjung ke kawasan wisata alam di Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini menemukan dua hal, pertama para wisatawan muda di Gunungkidul lebih suka berwisata alam kemudian mereka mengunggah foto-foto pilihan yang mereka anggap sebagai kenangan pribadi itu sebagai pamer dan narsis di media sosial, dan kedua, kegiatan memposting foto adalah untuk menginformasikan kepada calon wisatawan agar lebih mengenal tempat-tempat tersebut sebagaimana yang telah mereka lakukan dengan cara yang sama sebelumnya. Temuan terakhir menunjukkan fenomena yang sangat umum tetapi belum dirumuskan sebagai efek promosi dari sikap pamer dan foto narsis oleh wisatawan.
FENOMENA CROSS HIJAB DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERGESERAN SAKRALITAS KEAGAMAAN DI MASYARAKAT Ihsan Kamaludin; Suheri Suheri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2049

Abstract

Religion within Indonesian society is considered as a sacred institution. The appearance of a Cross Hijab phenomenon in social media has created a controversy for netizens because of its cross-gender clothing style. The presence of members of this group has caused unrest among most Muslims in Indonesia because its potential to decrease the sacredness of the hijab in society. This paper aims to analyze how cross hijab affects religious sacredness in society. This study used a qualitative approach in tracing cross-hijab group data on social media, and conducting a survey of 165 respondents from junior high school, high school, undergraduate, graduate, and non-Islamic boarding schools. The theory uses in this study is the sacred and profane theory of Mircea Eliade. The results showed that the emergence of the cross hijab phenomenon can have a major effect on the level of sacredness in some Islamic values of Indonesian Muslim communities. Besides, it also causes a shift in views and social situations regarding the function of hijab which theologically means sacred to something profane (accessories).Agama dalam masyarakat Indonesia merupakan salah satu institusi yang memiliki nilai sakral. Munculnya Cross Hijab di media sosial menimbulkan pro-kontra di masyarakat karena anggotanya mengenakan pakaian lintas gender yaitu hijab. Kehadiran anggota kelompok ini menimbulkan keresahan pada sebagian besar muslim di Indonesia karena dianggap dapat menggeser sakralitas hijab di masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana cross hijab mempengaruhi sakralitas keagamaan di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  berupa penelusuran data kelompok cross hijab di media sosial, dan diperkuat dengan melakukan survey terhadap 165 responden dari jenjang pendidikan SMP, SMA, S1, S2, S3, lulusan pesantren maupun non-pesantren. Adapun teori yang penulis gunakan sebagai alat analisis adalah teori sakral dan profan dari Mircea Eliade. Hasil penelitian menunjukan bahwa munculnya fenomena cross hijab dapat berpengaruh besar terhadap tingkat sakralitas pada sebagian nilai keislaman masyarakat muslim Indonesia. Disamping itu juga menimbulkan pergeseran pandangan dan situasi sosial tentang perubahan fungsi hijab yang secara teologis bermakna sakral menjadi sesuatu yang profan (aksesoris).