cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice)
ISSN : 23388404     EISSN : 26572311     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice) is published twice a year, containing research articles, review, and short communication in pharmacy science field, including medicinal chemistry, analytical chemistry, biologjcal pharmacy, pharmaceutical sciences and clinical pharmacy research and practice of pharmacy in industry, clinic, and community practice, such as pharmacies, distributors, and pharmacy education.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2015)" : 14 Documents clear
Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada Tikus dengan Metode Induksi Aloksan Dianasari, Dewi; Fajrin, Fifteen Aprila
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.649 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.812

Abstract

Salah satu jenis tanaman yang diduga memiliki khasiat sebagai antidiabetes adalah Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) yang termasuk dalam famili Malvaceae. Kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung senyawa flavonoid khususnya antosianin dan vitamin C sebagai antioksidan yang mampu menetralisir radikal bebas yang menjadi salah satu penyebab diabetes dan mengurangi komplikasi penyakit tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antidiabetes dari ekstrak air kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes pada ekstrak air kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada dosis yang berbeda (250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB, dan 750 mg/kgBB). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan cara induksi aloksan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok uji ekstrak air kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dosis 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB memiliki aktivitas antidiabetes yang sebanding dengan kontrol positif yaitu Glibenklamid dengan dosis 0,45 mg/kgBB, sedangkan kelompok uji ekstrak air kelopak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) dosis 250 mg/kgBB tidak menunjukkan aktivitas antidiabetes yang berarti karena tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif (aquadest 5 mL/kgBB).
Penetapan Kadar Hidrokuinon pada Krim Pemutih Wajah A dan B dengan Metode Kolorimetri Dian M., Lailul; INHS, Cikra
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.731 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.808

Abstract

Hidrokuinon adalah bahan aktif yang dapat mengendalikan produksi pigmen yang tidak merata, tepatnya berfungsi untuk mengurangi atau menghambat pembentukan melanin kulit. Penggunaan hidrokuinon sebagai bahan tambahan krim pemutih kulit yaitu dengan kadar kurang dari 2%. Pemakaian hidrokuinon yang berlebih memberikan efek samping yang sangat merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan hidrokuinon yang berlebih dalam sampel krim pemutih wajah A dan B. Analisis hidrokuinon dalam sampel krim dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan pereaksi floroglusin dan pengukuran serapan dengan spektrofotometri UV-Vis. Analisis data dilakukan dengan Independent Samples T Test pada taraf uji 5%. Hasil penetapan kadar dari sampel krim A dan krim B secara berurutan adalah 0,404±0,436 mg/L dan 0,872±0,000 mg/L. Sampel krim pemutih wajah B menunjukkan kadar hidrokuinon terbesar (0,872±0,000 mg/L) dan persentase kadar hidrokuinon yang diperoleh adalah 0,35%. Hasil data uji statistik dengan menggunakan Independent Samples T Test dapat diketahui bahwa dari setiap sampel krim pemutih wajah mempunyai perbedaan kadar yang bermakna antarkelompok sampel krim dengan nilai signifikan p=0,032 (p
Studi Klinik Pengaruh Formula Jamu Hiperurisemia terhadap Fungsi Ginjal Triyono, Agus; Astana, PR Widhi; Ardianto, Danang
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.867 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.809

Abstract

Evidence based khasiat dan keamanan jamu perlu terus dikembangkan. Telah dilakukan penelitian pengaruh formula jamu hiperurisemia terhadap fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). Hasil penelitian digunakan sebagai dasar pemanfaatan dalam masyarakat dan pelayanan kesehatan formal. Dalam penelitian ini, studI klinik dilakukan dengan desain penelitian pre-post test. Studi klinik melibatkan 40 subyek, yaitu laki-laki dan perempuan usia 20- 60 tahun. Subyek penelitian diberikan ramuan jamu hiperurisemia selama delapan minggu dan dilakukan kontrol ulang seminggu sekali. Dilakukan pula pemeriksaan ureum dan kreatinin pada awal penelitian, hari ke-28 dan hari ke-56. Hasil pemeriksaan ureum dan kreatinin dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perlakuan, rerata kadar ureum 24,12 mg/dL dan kadar kreatinin 0,85 mg/dL. Pada hari ke-28 rerata kadar ureum 25,91 mg/dL dan kadar kreatinin 0,87 mg/dL. Hasil uji t berpasangan sebelum dan sesudah perlakuan 28 hari untuk kadar ureum nilai p 0,138 (>0,05) dan kadar kreatinin nilai p 0,518 (>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna kadar ureum dan kreatinin sebelum perlakuan dan setelah perlakuan 28 hari. Pada hari ke-56 rerata kadar ureum 24,75 mg/dL dan kadar kreatinin 0.88 mg/dL. Hasil uji t berpasangan sebelum dan sesudah perlakuan 56 hari untuk kadar ureum nilai p 0,422 (>0,05) dan untuk kadar kreatinin nilai p 0,328 (>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna kadar ureum dan kreatinin sebelum perlakuan dan setelah perlakuan 56 hari. Karenanya dapat disimpulkan bahwa penggunaan ramuan jamu hiperurisemia selama 56 hari tidak mengganggu fungsi ginjal.
Aktivitas Sitotoksik Ekstrak n-Heksana, Diklorometana, dan Metanol Daun Beluntas (Pluchea indica Less.) terhadap Sel Kanker Leher Rahim (HeLa) Puspitasari, Endah; Agustina, Bayu; ., Nuri; Ulfa, Evi Umayah
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.633 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.810

Abstract

Eksplorasi agen kemopreventif kanker masih terus dikembangkan, terutama yang berasal dari bahan alam. Hal ini didasari oleh keinginan untuk menekan angka kematian akibat kanker dan mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh terapi kanker yang saat ini digunakan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik daun beluntas (Pluchea indica Less.) terhadap sel kanker leher rahim yang merupakan kanker ginekologi peringkat pertama yang menyerang wanita. Aktivitas sitotoksik dilakukan terhadap ekstrak n-heksana, diklorometana, dan metanol daun beluntas terhadap sel HeLa dengan metode perhitungan langsung menggunakan bantuan perwarna trypan blue. Nilai IC50 dari ketiga ekstrak daun beluntas berturut turut adalah 18,06 μg/ml, 74,56 μg/ml, dan 31,21 μg/ml. Ketiganya memberikan perbedaan yang signifikan. Ketiga ekstrak yang diuji memiliki aktivitas sitotoksik dan dapat dikembangkan sebagai kandidat agen kemopreventif kanker. Namun masih perlu diteliti lebih lanjut bagaimana mekanisme aksi yang menjadi perantara aktivitas sitotoksik tersebut.
Studi Klinik Efek Ramuan Jamu untuk Insomnia terhadap Fungsi Ginjal Pasien Klinik Hortus Medicus Astana, Widhi; Ardianto, Danang; Triyono, Agus
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.898 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.811

Abstract

Ginjal adalah organ yang sering terganggu karena pemberian obat-obatan. Efek samping obat tradisional terhadap ginjal masih sangat sedikit diketahui bukti ilmiahnya. Salah satu obat tradisional yang sering digunakan adalah sebagai sedatif. Sebuah penelitian diadakan di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) tahun 2013 untuk mengetahui perubahan terhadap fungsi ginjal pasien-pasien yang mendapatkan terapi ramuan jamu insomnia. Metode penelitian berupa observasi terhadap 30 pasien insomnia yang datang dan berobat di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus. Pasien insomnia yang mendapat terapi ramuan jamu selama 14 hari diobservasi fungsi ginjalnya. Evaluasi dilakukan pada nilai laboratoris yang merepresentasikan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) pada hari ke-0 dan hari ke-14. Perbandingan hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah terapi menggambarkan bahwa terdapat penurunan kadar ureum yang signifikan (p0,05). Semua subyek memiliki nilai ureum dan kreatinin yang normal secara laboratoris. Pemberian ramuan jamu untuk insomnia tidak mengganggu fungsi ginjal.
Observasi Klinik Ramuan Jamu untuk Menurunkan Berat Badan Pamadyo(, Sunu; Novianto, Fajar; Mujahid, Rohmat
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.781 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.698

Abstract

The prevalence of overweight (obesity) has increased significantly in the world. During this decade, obesity will become a health problem. Even today, obesity is referred to as the New World Syndrome, where it is continuity increasing the number of events almost all over the world. Based on Riskesdas in 2010, the prevalence of adult obesity in Indonesia had reached 21.7%, significantly increasing if it was compared to the previous Riskesdas in 2007 which were 10.3%. Obesity in the younger people was associated with the increased of the incident risk of coronary heart disease, hypertension, hypercholesterolemia, diabetes mellitus and metabolic disorders. Obesity has a strong correlation with morbidity and mortality, and received serious attention on the causes, prevention and treatment efforts. Until now, there has been no specific drugs used for weight loss. People saw fitoterapi as a weight loss (besides diet)drug, because it has been considered relatively safe and without significant side effects. Jamu consisting of Jati Belanda, Kemuning, Kelembak and tempuyung was used in Saintifikasi Jamu Clinic. The results in this jamu showed that capsule weight loss has gave lower Body Mass Index (BMI) for 2 months but it has not lowered the BMI category of overweight to normal. The jamu could significantly reduce the weight of research subyek after administration for 28 days, with an average decline of 3.9 Kg and a highly significantly decrease after 56 days administration, with an average decrease of 6.7 Kg, compared to the initial weight. Medicinal herb could reduce the waist 41.1 cm, after 56 days administration. The herbs could not reduce the upper arm circumference, after 56 days administration.
Efek Antihiperurikemia Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) pada Tikus Putih Wistar Jantan Wahyuningsih, Sri; Yulinah, Ellin; Sukrasno, .; N, Karina
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.783 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.694

Abstract

Antihyperuricemia effectivity had been studying of water extract roselle calyx (Hibiscus sabdariffa L.) in Wistar male rats used at 46.25 mg/kgBW, 92.5 mg/kgBW and 185 mg/kgBW by using uricostatic methods. In uricostatic method had used drug comparison alopurinol 9 mg/kgBW of an induced with potassium oxonate 250 mg/kgBW peritoneally and high purin diet which contained 10% seed of Gnetum gnemon administrations within 14 days. The test of uric acid content had observed on day 1, 7 and 14. The results showed in uricostatic method with alopurinol as drug comparison that water extract of roselle calyx at doses 46,25 mg/kgBW and 185 mg/ kgBW had capability decreased the level of uric acid (p
Formulasi and Evaluasi Stabilitas Fisik Suspensi Ubi Cilembu (Ipomea batatas L.) dengan Suspending Agent CMC Na dan PGS Sebagai Antihiperkolesterol Fitriani, Yeyen Nor; INHS, Cikra; Yuliati, Ninis; Aryantini, Dyah
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.887 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.699

Abstract

Drug which has small solubility in water is one of the problems that cause instability of pharmaceutical preparations. One drug practically insoluble in water is cilembu (Ipomoea batatas L.). So cilembu (Ipomoea batatas L.) made in form of suspension in order to produce stable preparations in liquid form. Making of the suspension cannot be separated from the suspending agent. CMC Na (Carboxymethylcellulose Sodium) and PGS (pulvis gummosus) is suspending agent which have been studied to produce a stable suspension. Accordingly, this study was conducted to know the suspension evaluation stability cilembu (Ipomoea batatas L.) with a suspending agent CMC Na and PGS as antihypercholesterol. Method of manufacture is dispersion method. Evaluation of physical stability test was conducted on the organoleptic, homogeneity, pH, density, viscosity, sedimentation volume, and redispersion. Data were analyzed with repeated measures and shelflife. Evaluation of physical stability the suspension cilembu with a suspending agent CMC Na and PGS on observations organoleptic, homogeneity, density and redispersion showed no difference, while the pH, viscosity and sedimentation volume were not significant differences (p< 0.05) during 30 days of storage.
Perbandingan Kadar Likopen pada Manilkara zapota L., Gnetum gnemon L., Ipomoea batatas L., dan Momordica charantia L. dengan Menggunakan Campuran Solven n-Heksan, Aseton, dan Etanol R, Nur Syafaatur; R, Panji; W, Reka; M, Rika; NHS, Cikra
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.401 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.695

Abstract

Lycopene, a member of the carotenoid family of phytochemicals is a lipid soluble antioxidant that is synthesized by many plants and microorganisms but not by animals and human. Lycopene is a natural pigment that imparts red color totomato, guava, rosehip, watermelon, and pink grapefruit. Separation of lycopene from tomato fruit using conventional solvents can be carried out by liquid-liquid extraction method, using a mixture of n-hexane, acetone and ethanol as a solvent. Lycopene assay can be performed using a spectrophotometer method. Sapodilla fruit, leather melinjo, is ripe, and Cilembu sweet potato are some examples of plants that have a yellowish red pigment. This study aimed to investigate and compare the levels of lycopene contained in Cilembu sweet potato (Ipomoea batatas L.), fruit sapodilla (Manilkara zapota L.), bitter melon fruit (Momordica charantia L.), as well as fruit leather melinjo (Gnetum gnemon L.) using conventional solvent extraction method with a mixture of n-hexane, acetone, and ethanol. Data was analyzed by one-way ANOVA, followed by LSD test at 5% level test. The results showed that the concentration of lycopene in the fresh Cilembu sweet potatoes, fresh sapodilla fruit, fresh bitter melon fruit, and fresh fruit peel melinjo is 0.038 ± 0.003 mg/g, 0.085 ± 0.009 mg/g, 0.054 ±0.004 mg/g, 0.015±0.000 mg/g. Fresh sapodilla fruit has the highest lycopene content of 0.085 ±0.009 mg/g.
Efek Farmakologi Infusa Biji Melinjo (Gnetum gnemon L.) Sebagai Antihiperglikemia pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Dextrosa Monohidrat 40% Feri Ira W(, Cita Dwi; NHS, Cikra Ikhda
Jurnal Farmasi Sains dan Terapan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Farmasi Sains dan Terapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.334 KB) | DOI: 10.33508/jfst.v2i1.700

Abstract

Diabetes mellitus is a group of disorders in which the body's carbohydrates, fats, and proteins metabolism was disordered and it has many other causes. This study objectives was to determine the pharmacological effects of melinjo infusion in decreasing blood glucose levels in mice (Mus musculus). This study using mice (Mus musculus) aged 2-3 months, 20 grams body weight. A total of 12 mice were divided into 4 groups, each was given dextrose monohydrate 40%. Group I as a negative control (CMC Na 1%), group II as positive control (glibenclamide), group III (melinjo infusion 25% w/v ) and group IV (melinjo infusion 50% w/v). The data obtained from the examination of blood glucose levels for 24 hours with an interval of 6 hours. Melinjo (Gnetum gnemon L.) infusion dose that can lower blood glucose levels in hyperglycemic mice is 50%. Repeated analysis of the data was done using ANOVA Duncan's test. The results showed that the dose 50% of infusion melinjo have a pharmacological effect in decreasing blood glucose levels by 33,41% and it was different significantly (p>0.01) compared to glibenclamide.

Page 1 of 2 | Total Record : 14