cover
Contact Name
Tri Wardhani
Contact Email
twd@widyagama.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agrika@widyagama.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
ISSN : 19075871     EISSN : 25416529     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrika mempublikasikan hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu pertanian meliputi penelitian di bidang budidaya pertanian, agrobisnis dan teknologi pengolahan hasil pertanian, juga menginformasikan berbagai paket teknologi, ulasan ilmiah, komunikasi singkat dan informasi pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 236 Documents
RESPON TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) TERHADAP APLIKASI Trichoderma sp. PADA BEBERAPA MEDIA TANAM Kurniastuti, Tri; Puspitorini, Palupi
Agrika Vol 15, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i2.2598

Abstract

  ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui interaksi antara kombinasi media tanam dan dosis Trichoderma sp. cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawi. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdapat 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah kombinasi media tanam dengan 3 level yaitu M1=tanah; M2=tanah : arang sekam (1:1); dan M3=tanah : arang sekam : pupuk kandang (1:1:1). Faktor kedua yaitu dosis Trichoderma sp. cair dengan 3 level yaitu T1= 5 ml per tanaman, T2= 10 ml/tanaman, dan T3=15 ml/tanaman. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, total jumlah buah, dan total bobot buah. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F) dan tes lebih lanjut dengan uji duncan (DMRT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: terdapat interaksi yang sangat nyata pada kombinasi media tanam tanah, arang sekam, pupuk kandang dan pemberian Trichoderma sp. cair, kombinasi terbaik yaitu perlakuan media tanam tanah, arang sekam, pupuk kandang yang ditambahkan larutan Trichoderma sp. cair 10 ml (M3T2) pada variabel tinggi tanaman dan diameter batang pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST, kombinasi terbaik yaitu perlakuan media tanam tanah, arang sekam, pupuk kandang yang ditambahkan larutan Trichoderma sp. cair 10 ml (M3T2) pada variabel total jumlah buah pertanaman sebesar 98,98 buah dan total bobot buah peranaman sebesar 104,31 gram. ABSTRACTThe aim of the research was to  determine 1.   interaction of the different planting media and the dose of Trichoderma sp. to the growth and yield of ot chili  plants, 2. the effect of planting media to the growth and yield of hot chili  plants production, 3) the effect of Trichoderma sp. to growth and yield of hot chili plant production. The design used was a Factorial Randomized Block Design (RBD) which contained 2 factors and was repeated 3 times. The first factor are the combination of planting media with 3 levels, namely soil, soil : husk charcoal (1:1), soil : husk charcoal : manure (1:1:1). The second factor are dosage of Trichoderma sp.  solution. with 3 levels namely Trichoderma sp. 5 ml per polybag of plant, Trichoderma sp. 10 ml / polybag of plant, Trichoderma sp. 15 ml/polybag of plant. Variables observed included plant height, stem diameter, total number of fruits, and total fruit weight. Data were analyzed using analysis of variance (F test) and further tests with duncan test (DMRT) level of 5%. The results showed that: there is a very real interaction in the combination of soil planting media, husk charcoal, manure and Trichoderma sp. liquid, the best combination is the treatment of soil planting media, husk charcoal, manure added with Trichoderma sp. 10 ml liquid (M3T2) at variable plant height and stem diameter at the ages of 14, 28, 42, 56, and 70 DAP (Day After Planting). The best combination was the treatment of soil planting media, husk charcoal, manure added with Trichoderma sp. 10 ml/polybag of plant (M3T2) in  variable of the number of fruits total was 98.98 and the total fruit weight was 104.31 grams.  
PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS DAN UREA TERHADAP PRODUKSI Indigofera zollingeriana Lia Rumlus; Onesimus Yoku; Budi Santoso
Agrika Vol 15, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i2.3228

Abstract

ABSTRAKProduktivitas ternak potong yang rendah disebabkan oleh status nutrisi dan suplai hijauan sepanjang tahun yang rendah terutama pada musim kemarau. Indigofera zollingeriana merupakan salah satu tanaman pakan jenis leguminosa yang memiliki kandungan nutrien dan produksi yang tinggi, berumur panjang, dapat beradaptasi pada semua jenis tanah, dan toleran terhadap kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kompos dan pupuk urea terhadap produksi tanaman I. zollingeriana. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap pola faktorial.  Faktor pertama adalah perlakukan pupuk kompos (K) dengan 3 taraf, yaitu K0 (tanpa   pupuk   kompos sebagai kontrol), K1 (5 ton/ha pupuk kompos) dan K2 (10 ton/ha pupuk kompos). Faktor kedua adalah pupuk urea dengan 4 taraf, masing-masing N0 (tanpa urea), N1 (150 kg/ha urea), N2 (300 kg/ha urea), N3 (450 kg/ha urea). Terdapat 48 satuan percobaan. Variabel yang diamati meliputi produksi hijauan segar, produksi bahan kering, rasio daun batang dan  kandungan nutrien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan pupuk kompos dan urea berpengaruh nyata terhadap produksi tanaman I. zollingeriana, yaitu terhadap produksi bahan kering. Produksi bahan kering tertinggi yaitu sebesar 38,57 g/polybag diperoleh pada kombinasi perlakuan 10 ton kompos/ha dengan 300 kg urea/ha (K2N2).   ABSTRACTThe low productivity of beef cattle is due to the low nutritional status and supply of forage throughout the year, especially during the dry season. Indigofera zollingeriana is one of the leguminous forage plants that has high nutrient content and production, has a long life, can adapt to all types of soil, and is drought tolerant. The study aimed to determine the effect of compost and urea fertilizer on the production of I. zollingeriana. The research was arranged in a factorial completely randomized design. The first factor was the treatment of compost (K) with 3 levels, each K0 (without compost as control), K1 (5 tons/ha compost) and K2 (10 tons/ha compost). The second factor was urea fertilizer with 4 levels, which are N0 (without urea), N1 (150 kg/ha urea), N2 (300 kg/ha urea), N3 (450 kg/ha urea). There were 48 experimental units. The variables observed were fresh forage production, dry matter production, stem leaf ratio and nutrient content. Research result showed that the interaction between compost and urea had a significant effect on the production of I. zollingeriana plants, which was the dry matter The highest dry matter production 38.57 g/polybag reached by the interaction between 10 tons of compost/ha with 300 kg of urea/ha (K2N2).
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI VARIETAS ARGOMULYO TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPK Nur Trias Wijayanti; Tri Wardhani; Untung Sugiarti
Agrika Vol 15, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i2.3507

Abstract

ABSTRAKKonsumsi kedelai di Indonesia dalam setahun mencapai 2,25 juta ton, sementara jumlah produksi nasional hanya mampu memasok kebutuhan kedelai sekitar 779 ribu ton. Kekurangan pasokan sekitar 1,4 juta ton, ditutup dengan impor dari Amerika Serikat dan Brazil yang mencapai 70-80% dari kebutuhan total. Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan pengelolaan tanah yang baik, pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Nitrogen, fosfat, dan kalium dari pertumbuhan awal sampai akhir terus diperlukan oleh tanaman kedelai. Pemupukan NPK majemuk merupakan pemberian unsur hara yang lebih efisien dibanding pemupukan tunggal. Penggunaan pupuk NPK majemuk dapat menjadi solusi dan alternatif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman hijauan khususnya tanaman kedelai. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tujuan untuk mengetahui dosis pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Variabel pengamatan tanaman kedelai adalah: tinggi tanaman, jumlah daun, bobot 100 biji kedelai, jumlah polong isi, serapan N, P dan K pada tanaman kedelai. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pupuk NPK pada dosis 300 kg/ha berpengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot 100 kedelai, jumlah polong isi dan serapan N total.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KCl BLACK HORSES TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG Fuad Nur Azis; Lina Aisyahwati; Irma Susanti; Tri Sudaryono
Agrika Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i1.3138

Abstract

ABSTRAKJagung merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia dan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Penambahan unsur hara melalui pemupukan merupakan cara untuk meningkatkan hasil. Kalium merupakan senyawa kimia yang sudah dikenal masyarakat untuk pupuk tanaman. Unsur kalium mempengaruhi ketegaran tanaman, merangsang pertumbuhan akar, ketahanan terhadap hama dan penyakit, memperbaiki kualitas biji, dan mampu mengatasi kekurangan air pada tingkat tertentu. Pupuk Black Horses adalah salah satu pupuk anorganik yang mengandung Kalium (K2O) 60,03%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Pupuk KCl Black Horses terhadap pertumbuhan dan produksi jagung. Metode penelitian yang digunakan adalah RAK dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk KCl Black Horses efektif secara teknis dan ekonomis meningkatkan produktivitas pada dosis 125 kg/ha (8,42 ton/ha) dan dosis 175 kg/ha (8,89 ton/ha). Seluruh perlakuan secara ekonomis menguntungkan karena memiliki R/C lebih dari 1. Perlakuan dosis 175 kg/ha memberikan R/C tertinggi yaitu 1,87.ABSTRACT Corn is one of the important crops in Indonesia and has a strategic role in the national economy. The addition of nutrients through fertilization is a way to increase yields. Potassium is a chemical compound that is well known as plant fertilizer. The element of potassium affects plant toughness, stimulates root growth, resistance to pests and diseases, improves seed quality, and is able to overcome water shortages at a certain level. Black Horses fertilizer is an inorganic fertilizer containing 60.03% Potassium (K2O). The purpose of this study was to determine the effect of Black Horses KCl Fertilizer on the growth and production of maize. The research method used was RAK with 9 treatments and 3 replications. The results showed that the application of KCl Black Horses fertilizer was technically and economically effective in increasing productivity at a dose of 125 kg/ha (8.42 tons/ha) and a dose of 175 kg/ha (8.89 tons/ha). All treatments were economically advantageous because they had an R/C of more than 1. The treatment at a dose of 175 kg/ha gave the highest R/C of 1.87.
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN HASIL INTERPRETASI VISUAL CITRA SATELIT (Studi Kasus: Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang) Nevi Anggraeni Priyono; Yuni Agung Nugroho; Toto Suharjanto
Agrika Vol 15, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i2.3519

Abstract

ABSTRAKPerkembangan jaman berdampak pada perubahan penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Karangploso. Hal ini terjadi karena perkembangan jumlah penduduk yang begitu pesat, sehingga kebutuhan akan tempat tinggal, dan tempat berusaha juga meningkat. Pesatnya jumlah populasi penduduk ini mengakibatkan tingginya perubahan penggunaan lahan. Oleh karena itu tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besar perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Karangploso pada rentang waktu 2008-2018, termasuk lahan pertanian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis citra satelit, yaitu menganalisis perubahan penggunaan lahan tahun 2008 dan 2018 dengan membandingkan klasifikasi penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir terjadi perubahan penggunaan lahan. Lahan yang mengalami penambahan luasan paling besar terutama adalah lahan yang berada di Desa Donowarih yaitu sebesar 21.17% pada periode 2008-2011. Lahan yang semula seluas 136.85 ha bertambah menjadi 1036.90 ha. Lahan yang mengalami penurunan luasan paling besar adalah lahan sawah berpengairan diusahakan yaitu sebesar 22.26%, yang semula dengan luas 1036.90 ha turun menjadi 80.0 ha. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk penataan wilayah di Kecamatan Karangploso, sehingga pihak-pihak yang berwenang dalam perencanaan penataan wilayah dan pembuat kebijakan dapat memberi keputusan yang tepat untuk membangun wilayah tersebut agar dapat tertata dengan baik dan bisa berkembang secara berkelanjutan. Kata kunci: penggunaan lahan, penginderaan jauh, sistem informasi geografis, karangploso ABSTRACTThe development of the era has an impact on changes in land use in Karangploso District. This is due to the rapid development of the population, so the need for housing and places of business has also increased. The rapid population growth has resulted in high changes in land use. Therefore, the purpose of the study was to find out how much land use change in Karangploso District was in the 2008-2018 period, including agricultural land. The data analysis technique in this study uses satellite imagery analysis, namely analyzing land use changes in 2008 and 2018 by comparing land use classifications. The results showed that during the last ten years there was a change in land use. The land that experienced the largest increase in area was mainly land in Donowarih Village, which was 21.17% in the period 2008-2011. The original land area of 136.85 ha was increased to 1036.90 ha. The land that experienced the greatest decrease in area was cultivated irrigated rice fields, which was 22.26%, which was originally with an area of 1036.90 ha and decreased to 80.0 ha. It is hoped that this research can be used for regional planning in Karangploso District, so that the authorities in regional planning planning and policy makers can make the right decisions to develop the area so that it can be well organized and can develop sustainably. The development of the era has an impact on changes in land use in Karangploso District. This happens because of the rapid development of the population, so the need for a place to live and a place to do business will increase. The rapid population growth results in high changes in land use. Therefore, the purpose of the study was to find out the number of land use change in Karangploso District in the 2008-2018 period. The data analysis technique in this study uses satellite imagery analysis, namely analyzing land use changes in 2008 and 2018 by comparing land use classifications. The results show that during the last ten years, there was a change in land use. Land which has increased the largest especially in Donowarih village was 21.17% in the 2008-2011. Land which was originally 136.85 ha became 1036.90 ha. The land that has decreased the greatest decrease in area was cultivated rice fields, which was 22.26%, which was originally 1036.90 ha icreased to 80.0 ha.This research is expected to be used for regional planning in Karangploso District, so that the authorities in the planning of regional structuring and those who make policies can give the right decisions to develop the area so that it can be well organized and develop sustainably.
RESPON Baby Corn (Zea mays L) TERHADAP KONSENTRASI PUPUK URIN KELINCI DAN NPK Indah Sumiati; Tri Wardhani; Untung Sugiarti
Agrika Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v15i1.3150

Abstract

ABSTRAKBaby corn merupakan sayuran jagung yang dipanen muda atau belum menghasilkan biji. Peningkatan produksi baby corn jagung manis (Zea mays L.) perlu diimbangi dengan ketersediaan hara yang cukup selama pertumbuhannya. Tujuan penelitian  ini untuk mengetahui respons pertumbuhan baby corn jagung manis (Zea mays L.). yang diberi perlakuan pupuk urin kelinci dan pupuk NPK, serta kadar gula reduksi baby corn.Penelitian dilaksanakan di green house, laboratorium  biologi dan laboratorium kimia  Fakultas Pertanian Universitas Widyagama Malang University. Pupuk urin kelinci diperoleh dari Kabupaten Banjarnegara-Sigaluh Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian berlangsung bulan Juni-Agustus 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Acak Lengkap (RAL) diulang sebanyak empat kali dengan enam perlakuan sebagai berikut: P0: Tanpa pupuk (Kontrol), P1: NPK 100 kg/ha  + Urin Kelinci 40 ml/l air , P2: NPK 150 kg/ha  + Urin Kelinci  35 ml/l  air, P3: NPK 200 kg/ha  + Urin Kelinci  30 ml/l air, P4: NPK 250 kg/ha  + Urin Kelinci  25 ml/lair, P5: NPK 300 kg/ha (tanpa urin kelinci). Data dianalisa menggunakan Anova. Untuk perlakuan yang memberikan pengaruh nyata dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji BNJ (Uji Nyata Jujur) pada taraf uji 5%. Variabel yang diamati adalah panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, umur bunga jantan dan betina, jumlah tongkol, diameter tongkol, berat tongkol, kadar gula reduksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk urin kelinci dan NPK berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman, jumlah daun, luas daun terluas, umur bunga betina dan jantan, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah  tongkol, diameter tongkol, berat tongkol, dan kandungan gula reduksi.   ABSTRACT Baby corn is a vegetable that is harvested young or has no seed yet. The increasing production of sweet baby corn (Zea mays L.) should be balanced with sufficient nutrient availability during its growth. The purpose of this study was to determine the growth response of sweet baby corn on the application of rabbit urine and NPK fertilizers, and the reduction sugar content. The research was conducted in green house, biology  and chemical laboratory of Agriculture Faculty, University of Widya Gama Malang. Meanwhile, rabbit urine fertilizer is obtained from the district Banjarnegara-Sigaluh Central Java. The research was conducted from June to August 2020. The experimental design used was a completely randomized block design which was repeated four times (CRD) with six treatments as follows: P0: No fertilizer (Control) , P1: NPK 100 kg/ha + Rabbit urine 40 ml/l water, P2: NPK 150 kg/ha + Rabbit urine 35 ml/1 water, P3: NPK 200 kg/ha + Rabbit urine 30 ml/l water, P4: NPK 250 kg/ha + Rabbit urine 25 ml/l water, P5: NPK 300 kg/ha (without rabbit urine). The datas was analized with Anova, while the the treatments which have significant effect was tested with the Tukey’ test at 5%. The variables which observed were as follows: plant length, number of leaves, leaf area, age of male and female flowers, number of cobs, ear diameter, ear weight, and reduction sugar test.The result showed that the concentration of rabbit urine liquid fertilizer and NPK had significant effect on plant length, number of leaves, widest leaf area, age of female and male flowers, however had no significant effect on ear number, ear diameter, ear weight, and reduction sugar content.  
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN PENGAYAAN MIKORIZA DAN PUPUK MAJEMUK PADA LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA Syamad Ramayana; Suria Darma Idris; Rusdiansyah Rusdiansyah; Diah Nurul Faizin; Helda Syahfari
Agrika Vol 16, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v16i1.3710

Abstract

ABSTRAKLahan pasca tambang batubara merupakan lahan kritis yang berpotensi untuk dialih fungsikan menjadi lahan pertanian. Dampak utama pertambangan batubara adalah tanah menjadi kurang subur karena hilangnya tanah lapisan atas. Lahan pasca tambang batubara dapat dimanfaatkan untuk budidaya pertanian bila telah dilakukan perbaikan kondisi lahan sehingga menjadi lahan yang produktif untuk produksi tanaman pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil jagung (Zea mays L.) terhadap pengayaan mikoriza dan aplikasi pupuk majemuk pada lahan pasca tambang batubara dan mengetahui komposisi  pupuk majemuk yang tepat.. Penelitian dilaksanakan di lahan pasca tambang batubara Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu pemberian beberapa pupuk majemuk (P) dengan pengayaan mikoriza, terdiri dari 5 taraf dan 5 ulangan yaitu m0 = tanpa pupuk dan mikoriza; m1 = 500 kg/ha NPK 20:10:10 setara 4.2 kg/petak + mikoriza; m2 = 500 kg/ha NPK 17:9:11 setara 4.2 kg/petak + mikoriza; m3 = 500 kg/ha 16:16:16 setara 4.2 kg/petak + mikoriza; dan 500 kg/ha setara 4.2 kg/petak 15:20:13 setara 4.2 kg/petak + mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk dengan pengayaan mikoriza berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST); diameter batang 15 dan 45 HST; jumlah daun 15, 30 dan 45 HST; panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah biji dalam baris, berat biji/tongkol, berat biji/100 butir, dan potensi hasil, tetapi tidak berbeda nyata terhadap diameter batang 30 HST dan jumlah baris biji. ABSTRACTPost-coal mining land is critical land that has the potential to be converted into agricultural land. The main impact of coal mining is that the soil becomes less fertile due to the loss of topsoil. Post-coal mining land can be used for agricultural cultivation if land conditions have been improved so that it becomes productive land for food crop production. This study aims to determine the response of growth and yield of maize (Zea mays L.) on mycorrhizal enrichment and application of compound fertilizers on post-coal mining land and determine the appropriate composition of compound fertilizers. The research was carried out in the post-coal mine area of Bangun Rejo Village, Tenggarong Seberang District, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan. The study used a randomized block design (RAK) with one factor, namely the application of several compound fertilizers (P) with mycorrhizal enrichment, consisting of 5 levels and 5 replications, namely m0 = without fertilizer and mycorrhizae; m1 = 500 kg/ha NPK 20:10:10 equivalent to 4.2 kg/plot + mycorrhizae; m2 = 500 kg/ha NPK 17:9:11 equivalent to 4.2 kg/plot + mycorrhizae; m3 = 500 kg/ha 16:16:16 equivalent to 4.2 kg/plot + mycorrhizae; and 500 kg/ha equivalent to 4.2 kg/plot 15:20:13 equivalent to 4.2 kg/plot + mycorrhizae. The results showed that the application of compound fertilizer with mycorrhizal enrichment was significantly different to plant height parameters 15, 30 and 45 days after planting (DAT); rod diameter 15 and 45 DAT; number of leaves 15, 30 and 45 DAP; cob length, ear diameter, number of seeds in rows, weight of seeds/cob, weight of seeds/100 grains, and yield potential, but not significantly different with stem diameter 30 DAP and number of rows of seeds. 
MEDIA CAMPURAN BIOCHAR SEKAM PADI DAN PUPUK ORGANIK SEBAGAI MEDIA TANAM VERTIKULTUR PADA TANAMAN SELADA KERITING Hidayati Karamina; Ariani Trisna Murti; Tri Mujoko
Agrika Vol 16, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v16i1.2172

Abstract

ABSTRAKSelada keriting merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek yang cukup stabil. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, maraknya alih fungsi lahan menjadi pemukiman menyebabkan  ketersediaan lahan pertanian berkurang, sehingga hasil produktivitas sayuran juga mengalami penurunan. Merujuk pada permasalahan ini, vertikultur dapat menjadi alternatif bercocok tanam pada lahan yang sempit. Komposisi media tanam sistem vertikultur yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman akan berpengaruh pada kualitas produksi tanaman. Media tanam dari biochar sekam padi dapat dijadikan sebagai bahan pembenah tanah dalam upaya rehabilitasi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui takaran biochar sekam padi yang cocok sebagai campuran media vertikultur dan dosis pupuk petroganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting. Penelitian ini dilaksanakan Desember 2019 sampai Maret 2020 di Kelurahan Tlogomas, Kota Malang. Rancangan percobaan yang digunakan ialah RAK Faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama biochar sekam padi (A) terdiri atas 3 taraf yaitu 0 g/paralon, 4000 g/paralon dan 8000 g/paralon dan faktor kedua petroganik (P) terdiri dari 3 taraf yaitu 0 g/tan, 1 g/tan dan 2 g/tan. Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, berat segar total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan selada keriting terbaik pada parameter luas daun diperoleh pada perlakuan A1P2 dengan total luas daun 5.97 cm2 pada umur 2 Minggu Setelah Tanaman (MST), tinggi tanaman terbaik pada perlakuan A1P1 yaitu 16.36 cm. Bobot segar total tanaman selada keriting terbaik diperoleh pada perlakuan biochar sekam padi 4 kg (A1) dengan rerata berat segar total tanaman 17.05 g/tan. ABSTRACTCurly lettuce is a horticultural commodity that has a fairly stable prospect. Along with the increasing number of Indonesia's population, the conversion of land functions into settlements causes the availability of agricultural land to decrease, so that the yield of vegetable productivity also decreases. Referring to this problem, verticulture can be another alternative to farming on a narrow land. The composition of the verticulture system planting media in accordance with the requirements for plant growth will affect the quality of plant production. Growing media from rice husk charcoal can be used as a soil amendment material to rehabilitate land. This study aims to determine the appropriate dose of husk charcoal suitable as a mixture of verticultural media and the dose of petroganic fertilizer on the growth and yield of curly lettuce. This research was conducted in December 2019 to March 2020 in the Tlogomas Village, Malang. The experimental design used was a Factorial Random Block Design which consisted of two factors and was repeated 3 times. The first factor is rice husk biochar (A) consisting of 3 levels, namely 0 g/paralon, 4000 g/paralon and 8000 g/paralon and the second petroganic factor (P) consists of 3 levels, namely 0 g/tan, 1 g/tan and 2 g/tan. The observed variables were plant height, leaf area, total fresh weight. The results showed that the best growth of curly lettuce on leaf area parameters was obtained in treatment A1P2 with a total leaf area of 5.97 cm2 at 2 weeks after planting (MST), the best plant height in treatment A1P1 was 16.36 cm. The best total fresh weight of curly lettuce was obtained in the treatment of rice husk biochar 4 kg (A1) with an average plant fresh weight of 17.05 g/tan 
KAJIAN PENGGUNAAN EKSTRAK GULMA BANDOTAN (Ageratum conyzoides L.) DAN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides Benth) TERHADAP PERKEMBANGAN BAKTERI Erwinia carotovora PADA UMBI WORTEL (Daucus carota L.) Yuni Agung Nugroho; Elik Murni Ningtias Ningsih; Rina Mei Fatul Jannah
Agrika Vol 16, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v16i1.2652

Abstract

ABSTRAKWortel (Daucus carota L.) adalah tanaman golongan hortikultura yang mudah busuk karena penyakit busuk bakteri, yaitu infeksi oleh bakteri Erwinia carotovora dari dalam tanah yang menempel pada umbi. Kerugian karena bakteri tersebut bisa mencapai 90%. Pengendalian dengan metode hayati sudah banyak diteliti, sedangkan secara nabati masih jarang penelitiannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-September 2020 di laboratorium Biologi Fakultas Pertanian Universitas Widyagama Malang dan laboratorium Microbiologi di Balitkabi, Malang. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan yaitu perlakuan ekstrak gulma (bandotan dan sintrong) dengan variasi kepekatan (30%, 45%, 60%). Pengamatan dilakukan terhadap gejala awal (timbulnya bercak kecil, kebasahan dan berwarna putih atau krem), gejala tengah (bercak coklat yang berkembang dan mengeluarkan bau busuk) dan gejala lanjut (umbi menjadi lunak, berlendir dan bau belerang) yang merupakan respon perkembangan busuk bakteri akibat pemberian ekstrak gulma. Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan Path ways Analysis (Analisa Sidik Lintas) menggunakan aplikasi Smart PLS. Hasil analisa PLS untuk outer model sudah memenuhi uji validitas dan realibilitas. Uji inner model menunjukkan adanya hubungan nyata antara ektrak gulma terhadap gejala awal, ekstrak gulma terhadap gejala tengah, gejala awal terhadap gejala tengah, dan gejala tengah terhadap gejala lanjut, tetapi tidak ada hubungan nyata antara gejala awal dengan gejala lanjut, gejala awal sebagai moderator terhadap gejala tengah dan gejala tengah sebagai moderator terhadap gejala lanjut. ABSTRACTCarrot (Daucus carota L.) is a horticultural plant that rots easily due to bacterial rot disease, namely infection by the bacterium Erwinia carotovora from the soil attached to the tuber. Losses due to these bacteria can reach 90%. Control by biological method has been widely studied, while the research is still rare in botanical pesticide.  The research was carried out on June-September 2020 at Biology laboratory of Agriculture Faculty of Widyagama University Malang and at Microbiology laboratory at Balitkabi, Malang. The research design used a completely randomized design with treatment of weed extracts (bandotan and sintrong) with variations in concentration (30%, 45%, 60%). Observations were made on early symptoms (the appearance of small, wet, white or cream-colored patches), middle symptoms (brown spots that develop and emit a foul odor) and late symptoms (tubers become soft, slimy and smell of sulfur) which were a response to the development of bacterial rot due to the administration of weed extract. Observational data were analyzed using Path Ways Analysis using the Smart PLS application. The results of the PLS analysis for the outer model have met the validity and reliability tests. The inner model test showed that there was a significant relationship between weed extract and early symptoms, weed extract for middle symptoms, early symptoms for middle symptoms, and middle symptoms for advanced symptoms. middle symptoms and middle symptoms as moderators of advanced symptoms. 
APLIKASI MULSA JERAMI DAN PUPUK HAYATI MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI BERAS HITAM SISTEM AEROBIK Elmi Riskiani; Wayan Wangiyana
Agrika Vol 16, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v16i1.3030

Abstract

ABSTRAKTeknik budidaya padi sistem irigasi aerobik pada bedeng sangat signifikan meningkatkan hasil gabah terutama jika disertai pupuk hayati mikoriza. Permasalahannya adalah cepatnya pertumbuhan gulma sehingga harus sering dilakukan penyiangan selama fase vegetatif tanaman padi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh mulsa jerami dan pupuk hayati mikoriza terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa galur harapan padi beras hitam pada bedeng dengan sistem irigasi aerobik. Percobaan dilaksanakan di sawah Desa Ombe Baru, Kabupaten Lombok Barat, NTB pada bulan Mei-September 2020 menurut Split Split-Plot design dengan tiga blok dan tiga faktor perlakuan yaitu galur padi (G3 dan G9) sebagai petak utama, mulsa jerami (J0= tanpa mulsa jerami, J1= dengan mulsa jerami) sebagai anak petak, dan pupuk hayati mikoriza (M0= tanpa mikoriza, M1= dengan mikoriza) sebagai anak-anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan, sedangkan aplikasi mulsa jerami dan pupuk hayati mikoriza signifikan meningkatkan beberapa variabel pertumbuhan dan hasil gabah. Galur G9 lebih responsif terhadap mulsa jerami dan pupuk hayati mikoriza dibandingkan G3 dalam meningkatkan jumlah anakan dan jumlah malai. Sementara itu G3 lebih responsif terhadap mulsa jerami dan mikoriza dalam meningkatkan jumlah gabah berisi/malai. Aplikasi mulsa jerami menghasilkan gabah yang lebih tinggi dibanding tanpa mulsa jerami, yaitu berturut-turut 46,98 g/rumpun dan 36,89 g/rumpun. Pupuk hayati mikoriza menghasilkan gabah lebih tinggi dibanding tanpa pemberian pupuk hayati, yang berturut-turut adalah 46,94 g/rumpun dan 36,94 g/rumpun. ABSTRACTRice cultivation techniques using aerobic irrigation systems on raised beds significantly increase grain yield, especially when accompanied by the application of mycorrhizal biofertilizers. The problem is the fast growth of weeds, so frequent weeding must be done during the vegetative phase of the rice plant. This study aims to determine the effect of the application of straw mulch and mycorrhizal biofertilizer on the growth and yield of several promising strain of black rice on beds with an aerobic irrigation system. The experiment was conducted in the ricefields of Ombe Baru Village, West Lombok Regency, NTB in May-September 2020 which was arranged according to Split Split-Plot design with three blocks and three treatment factors, namely rice strain (G3 and G9) as main plots, straw mulch (J0= without straw mulch, J1= with straw mulch) as sub-plots, and mycorrhiza biofertilizer application (M0= without mycorrhiza, M1= with mycorrhiza) as sub-sub-plots. The results showed that the strain factor had no effect on all observed variables, while the application of straw mulch and mycorrhizal biofertilizer significantly increased several growth variables and grain yields. There was an interaction effect between treatment factors, which indicated that the G9 strain was more responsive to the straw mulch and mycorrhizal biofertilizers than G3 in increasing the number of tillers and panicles. Meanwhile, G3 strain was more responsive to the application of straw mulch and mycorrhizae in increasing the number of filled grains per panicle. The application of straw mulch produced grain with a higher average than without straw mulch, namely 46.98 g/clump and 36.89 g/clump, respectively. Mycorrhizal biofertilizers produced higher grain yields than those without biofertilizers, which were 46.94 g/clump and 36.94 g/clump, respectively.