El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Articles
791 Documents
Interpreting Ruh as An Ecological Spirituality in Relation to Islam and Java Mysticism
Ubaidillah, Ubaidillah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/eh.v23i1.10268
This research aims to explain about the acculturation of Islam and Javanese wisdom in interpreting ruh (spirit) as an ecological behavior in dealing with natural disaster and exploitative activities. The concept of spirit refers to the awareness to interpret the relationship between human and nature as a living macrocosm unit. The awareness, in Islam, is a dimension of Sufi that blends with nature, such as Javanese philosophy on the principle of the unity of nature. It employs descriptive analytical method by integrating theo-sufistic paradigm to find a turning point in the common ground between Islam and Java in preserving the nature. The analysis goes into three conclusions: 1) the concept of spirit in Islam is a representation of one’s love with nature as the manifestation of love with God in its essence; 2) Javanese beliefs and rituals in ruh as a living and valuable existence signified in mystical mythology for being haunted and sacred serves as theo-sufistic expressions of Islam and Java; 3) spirituality of the spirit generates awareness of the philosophy of Sangkan Paraning Dumadi, to live in harmony and balance between humans and nature. Penelitian ini ingin menjelaskan tentang akulturasi Islam dan kearifan Jawa dalam memaknai ruh sebagai perilaku ekologis dalam menangani kerusakan alam dan aktivitas eksploitatif. Konsep ruh yang dimaksud adalah kesadaran memaknai hubungan manusia dan alam sebagai satu kesatuan makrokosmos yang hidup. Kesadaran tersebut dalam Islam merupakan dimensi sufistik yang menyatu dengan alam sebagaimana falsafah Jawa tentang prinsip kesatuan alam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan integratif dalam paradigma teo-sufistik untuk menemukan titik balik persamaan persepsi antara Islam dan Jawa dalam memelihara alam hayati. Hasilnya, pertama, konsep ruh dalam Islam adalah representasi dari mencintai alam sebagai manfestasi mencintai Tuhan dengan dzatnya. Kedua, keyakinan dan ritual yang dilakukan masyarakat Jawa atas ruh sebagai eksistensi yang hidup dan memberi manfaat yang mewujud dalam mitologis mistik yang disebut angker dan sakral sebagai ekspresi teo-sufistik Islam dan Jawa. Ketiga, spiritualitas ruh memberikan kesadaran dalam filosofi Jawa tentang Sangkan Paraning Dumadi sebagai makna hidup untuk dapat serasi dan seimbang antara manusia dan alam.
Pendidikan (Agama) Pluralis: Upaya Menciptakan Kerukunan Bangsa
Walid, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v9i3.4650
Religious education has to give contribution to form pluralistic attitude that appreciates the truth of other religions. The claim of being the only true religion by various religious followers may result in horrific conflicts. It is dangerous when religion is used to justify sadistic act in many conflicts. Therefore, religious education is very important to develop religiosity and to improve religious tolerance. As a social process, education is a mean of transferring religious values and knowledge to the religious followers that, in turn, form their religious attitudes. Consequently, if religion is learned exclusively, the output will be exclusive. Conversely, if religion is learned openly or inclusively, the output will be open-minded, it means they can understand the others. Pendidikan agama harus memberi kontribusi untuk membentuk pribadi pluralis yang menghargai kebenaran ajaran agama lain. Klaim pengkikut yang menyatakan agama mereka sebagai ajaran yang paling benar akan berakibat pada konflik besar. Sangat berbahaya jika agama digunakan untuk membenarkan perlakuan sadis di banyak konflik. Karenanya, pendidikan agama dirasa penting untuk membangun religiusitas dan menambah toleransi agama. Sebagai proses sosial, pendidikan adalah alat transfer nilai-nilai agama dan pengetahuan kepada pengikutnya yang pada akhirnya membentuk perilaku religius mereka. Akibatnya, jika agama dipelajari secara eksklusif maka hasilnya pun eksklusif. Sebaliknya, jika dipelajari secara terbuka atau inklusif maka akan menghasilkan pribadi yang open-minded, itu berarti mereka dapat memahami ajaran lainnya.
Analisis Teks Wacana Istima': Tinjauan Teori Inovatif Transformatif terhadap Surat At-Waqi'ah Ayat 77-79
Daroini, Slamet
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v8i2.4754
Language consists of words organized based on grammar (Al-Qawaid alLughowiyyah) to construct sentences and of sound system representing specific meaning. Listening comprehension (Al-Maharah al Istima') is a skill in analyzing Arabic speech sounds to understand the text messages. Therefore, in practice it does not only need an understanding of textual meaning that refers to dictionary meaning (lexical meaning) or grammatical meaning, but also should take into account the linguistic aspects, that is, grammar (Nahwu and Sharf) and semantic unit (Ashwat). Considering the phenomena, the writer wants to discuss the problems based on Chomsky's theory oflnnovative-Transformative Grammar. The data supported this analysis are from Surah Al-Waqi' ah 77-79. The result of analysis is expected to prove the truth of the existing assumption. Bahasa terdiri dari kata-kata yang disusun berdasarkan tatabahasa (Al-Qawaid alLughowiyyah) untuk membangun kalimat dan sistem suara yang mewakili makna tertentu. Pemahaman pendengaran (Al-Maharah al Istima ') adalah keterampilan dalam menganalisis suara pidato bahasa Arab untuk memahami pesan teks. Oleh karena itu, dalam praktiknya, tidak hanya memerlukan pemahaman tentang makna tekstual yang mengacu pada makna kamus (makna leksikal) atau makna gramatikal, namun juga harus memperhatikan aspek linguistik, yaitu tata bahasa (Nahwu dan Sharf) dan unit semantik (Ashwat). Dengan mempertimbangkan fenomena tersebut, penulis ingin membahas permasalahan berdasarkan teori Chofsky-Transformative Grammar. Data yang didukung analisis ini berasal dari Surah Al-Waqi 'ah 77-79. Hasil analisis diharapkan bisa membuktikan kebenaran asumsi yang ada.
Sedekah Bumi (Nyadran) sebagai Konvensi Tradisi Jawa dan Islam Masyarakat Sraturejo Bojonegoro
Arinda R., Ichmi Yani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v16i1.2771
“Sedekah Bumi (Nyadran)” is a tradition preserved by the society of Sraturejo, Bojonegoro. This research describes Nyadran by researcher using ethnographic design. The result shows that Nyadran is carried out after harvest crops of the whole Sraturejo people. The purposes of Nyadran are first, to express gratitude to God for the blessings given to the public with an abundant harvest. Second, to respect the ancestors for the merits of opening the land as a place to live in the society as well as to look for a living. Third, the implementation of Nyadran can strengthen inter-community solidarity with one and another. Fourth, it preserves the native cultures. The benefits that have been perceived by Sraturejo society by holding the tradition of Sedekah Bumi (Nyadran )is the society feel a closer sense to the Creator, away from distractions (reinforcements) and diseases, better yields. Sedekah bumi (Nyadran) merupakan sebuah tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Sraturejo, Bojonegoro. Penelitian ini mendeskripsikan Nyadran menggunakan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyadran dilaksanakan setelah masyarakat Sraturejo panen hasil bumi secara serentak. Tujuan diadakannya Nyadran yaitu, pertama, untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan kepada masyarakat dengan adanya hasil panen yang melimpah. Kedua, untuk menghormati para leluhur yang telah berjasa dalam membuka lahan (babat alas) sebagai tempat huni masyarakat sekaligus tempat untuk mencari kehidupan. Ketiga, adanya pelaksanaan Nyadran dapat memperkuat solidaritas antar masyarakat satu dengan lainnya. Keempat, dilestarikannya budaya-budaya asli daerah. Manfaat yang selama ini diperoleh masyarakat Sraturejo dengan diadakannya tradisi Nyadran yaitu masyarakat merasakan rasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, jauh dari gangguan (bala) dan penyakit, hasil panen lebih baik.
Islam: antara Idealita dan Realita
Irfan, M.;
Roibin, Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v1i3.4693
The actual discourse of religion which has ceased only in the plains of discourse (ideality) and religion as a necessity to apply (reality), has historically centered on the plurality of religions from time to time. Furthermore, there are several works that have colored the minds of scientists lately, not to mention the growing fertile repertoire of Islamic thought. This is one of the consequences of a serious debate on Islam at the level of indeal and reality. This discourse seems to be not only a great event in the field of science that passes by, but it is very meaningful for the followers of religion to further be used as a consideration in positioning their respective diversity. The development of religion will all depend on the intellectual capability of the religious adherents of their adherents. If religious observations are packed and articulated exclusively, then the visible religion will have a scary and frightening face. This is what is popularly referred to as religious fundamentalism. Diskursus aktual seputar agama yang hanya berhenti dalam dataran wacana (idealita) dan agama sebagai sebuah keharusan untuk diaplikasikan (realita), telah mensejarah di tengah-tengah pluralitas agama-agama sejak dahulu hingga kini. Lebih jauh, muncul beberapa karya yang telah mewarnai corak pemikiran para ilmuwan belakangan ini, belum lagi tumbuh suburnya khasanah pemikiran umat Islam yang silih berganti. Hal ini merupakan salah satu akibat perdebatan serius mengenai Islam pada tataran antara indealita dan realita. Diskursus ini nampaknya tidak saja merupakan perhelatan akbar di bidang keilmuan yang lewat begitu saja, namun ia sangat memberikan arti bagi pemeluk agama untuk selanjutnya dijadikan sebagai pertimbangan dalam memposisikan sikap keberagaman mereka masing-masing. Perkembangan agama semuanya akan sangat bergantung pada daya tangkap intelektual penghayatan keagamaan para pemeluknya. Jika penghayatan keagamaan itu dikemas dan diartikulasikan secara eksklusif, maka agama yang tampak akan berwajah yang seram dan menakutkan. Cara inilah yang populer disebut sebagai fundamentalisme agama.
Agama dan Kekerasan Massa
Ghony, M. Djunaidi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v4i3.5166
Tulisan ini membahas secara sosiologis fenomena terjadinya berbagai kekerasan massa. Selanjutnya akan difokuskan pada agama sebagai salah satu variabel penting yang perlu juga dilihat dalam setiap peristiwa kekerasan terjadi. Meskipun kekerasan bukan semata-mata dipicu oleh agama, tapi seringkali agama dimanfaatkan untuk memberi legitimasi. Anggapan seperti ini segera mengundang diskursus karena merefleksikan kenyataan paradoks dengan misi yang diemban oleh agama. Karena itu dalam konteks ini, agaknya perlu dipertegas tempat sosiologis, sehingga dengan mudah dapat dideskripsikan kaitan agama dengan kekerasan. Dalam hal ini, tata nilai dan moral dapat dijadikan pandangan hidup bagi masyarakat manusia, tetapi di pihak lain agama juga kadang-kadang dapat menjadi pemicu konflik yang pada urutannya dapat menimbulkan kekerasan atau pun perselisihan yang meluas. Meskipun dalam batas tertentu, perselisihan itu sendiri mempunyai nilai positif dan negatif. Teori konflik dalam sosiologi keagamaan cenderung mementingkan peran self interest dalam perilaku manusia termasuk perilaku yang bersifat religius. Karena itu, dengan optimalisasi peran agama, kekerasan clan konflik dalam masyarakat dengan sendirinya dapat tereliminir atau diperkecil bahkan ditiadakan. This paper discusses sociologically the phenomenon of mass violence. It will then focus on religion as one of the important variables that need to be seen in any violent incident. Although violence is not solely triggered by religion, it is often used to legitimize religion. This kind of opinion immediately invites discourse because it reflects the reality of paradox with the mission carried by religion. Hence in this context, it seems necessary to emphasize the sociological place, so that it can easily be described as a religious link to violence. In this case, values and morals can be used as a worldview for human society, but on the other hand religion can sometimes be a trigger of conflict that in a sequence may lead to widespread violence or dispute. Although in some respects, the dispute itself has a positive and negative value. Conflict theory in religious sociology tends to emphasize the role of self-interest in human behavior, including religious behavior. Therefore, by optimizing the role of religion, violence and conflicts within society can in itself be eliminated or minimized and even eliminated.
Al-I’tilaf wa Al-Ikhtilaf fi Al-Amtsal Al-Arabiyah wa Al-Yorubiyyah: Dirasah Muqaranah
Jumahalaso, Salih Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/eh.v22i2.9404
الأمثال مجموعة من أفكار الشعوب وعاداتها وعقائدها وتقاليدها المتوارثة جيلاً بعد جيل، وهي مرآة تعكس ثقافات الشعوب بصفة عامة، ومن أكثر أساليب التعبير الشعبية انتشارا وشيوعا، وأقدرها على مساعدة المتكلم للوصول إلى هدفه بأقل جهد وفي أقصر وقت. وقد حظيت الأمثال باهتمام كبير وعناية عظيمة لدى الأدباء العرب وحكمائها وشعرائها نظرا للأهمية التي تكتسبها في الثقافة العربية لما فيها من إيجاز اللفظ وإصابة المعنى وغيرها. وكما تهتم العرب بفن المثل وبحسن استعماله في كلامهم، كذا الشعب اليوربوي القاطنون في الجنوب الغربي لدولة نيجيريا يولون استخدام الأمثال في ثنايا حديثهم اهتماما أعظم وعناية كبرى لأن المثل عند حصان الكلام الذي يركبه المتكلم إلى هدفه. ولأهمية المثل لدى الشعبين جاءت هذه الدراسة لتتناول المثل من حيث مفهومه، وأنواعه، ومصادره، وكيفية استعماله في الكلام لدى الشعبين. وقد نسج الباحث في جمع مواد الدراسة وفحصها وتحليلها على منوال المنهج الوصفي مع الاستعانة بالمنهج التاريخي. ومما توصلت إليه الدراسة من النتائج أن المثل ظاهرة أدبية شعبية وعالية عرفتها شعوب العالم وبالأخص الشعب العربي واليوربوي، وأن مفهومه وأنواعه وخصائصه متقاربة جدا، وأن غالبية أمثال أمة أو شعب يتكرر بألفاظها وبمعنانيها في أمثال الشعوب الأخرى مع اختلاف عروقها ولغاتها وتباعد أماكنها. Proverbs are collection of peoples' customs, beliefs, and traditions inherited from one generation to another and one of the most popular methods of expression assisting the speaker effectively and efficiently. Proverbs have received great attention and concern among the Arabs. Similarly, the Yoruba people of Nigeria are interested in proverb and its good usage in every task, as according to them, it is as if a horse of speech which the speaker rides to his goal. By virtue of the importance of proverb among them, this study addresses proverb in terms of its concept, types, sources, and how it is used in their speech. In the collection, examination and analysis of data, the researcher makes use of the descriptive and historical methods. Among of the research findings are: (i) proverb is a literary phenomenon popularly known and used by peoples in the world, particularly in Arab and Yoruba. (ii) The concept, types, and characteristics of proverbs among the two nations are very close, and (iii) Most of their proverbs are repeated by others, despite the difference in their customs, languages and geographical area.
Aplifikasi Islam dalam Meme “Mengajak Nikah ke Kua”
Nasrullah, Rulli
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v18i2.3650
The participation of social media users in online communication also encouraging the spread of the phenomenon of marriage in society including the reasons that sound cliche appears that a satire and sarcasm meme of ”Mengajak Nikah ke KUA” appeared and distributed through social media and become a reflection from the real world in the virtual world . Through virtual ethnographic research with Analisis Media Siber level of technic, this article tries to trace the cultural artifacts of satire and values contained in the meme . Partisipasi pengguna dalam komunikasi online di media sosial juga merambah pada fenomena ajakan menikah di tengah masyarakat termasuk di dalamnya alasan-alasan yang terdengar klise yang muncul. Meme “Mengajak Nikah ke KUA” merupakan satire atau sindiran yang muncul dan terdistribusi melalui media sosial dan menjadi semacam cerminan dunia virtual yang berasal dari dunia nyata. Melalui riset etnografi virtual dengan teknik level Analisis Media Siber, artikel ini mencoba menelusuri artefak budaya tentang satire dan nilai-nilai yang terkandung dalam meme tersebut.
The Change of Religious Understanding from Ideal-Rationality to Pragmatic-Materialistic
Ishomuddin, Ishomuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v19i2.4186
The study is conducted because of the appearance of many new beliefs in Islam, which has had considerable influence for Indonesian Muslims, regardless the fact that the beliefs have mostly been classified as a cult. The purposes of this study are to investigate the new phenomenon in the religious act, involving the change of understanding from ideals-rationality view to pragmatic-materialistic view, and to focus on the phenomenon of the emergence of new faiths in Islamic society in Indonesia. This study is aimed to answer the following questions: (1) What motives lie behind the change of religious understanding from ideals-rationality view to pragmatic-materialistic view in today's Muslim group?; (2) How does the changing process of religious understanding occur in the Muslim group?; (3) Why do religious people today tend to be pragmatic-materialistic oriented and leave the religious teachings that have been previously understood? Qualitative approach is used to examine the research questions. The research result shows that there are three kinds of typology of Muslim groups which experience a shift in religious understanding from ideality-rationality belief to pragmatic-materialistic belief. This happens because there is a gap between the quality of faith and the desire to become instantly rich. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan memahami gejala new act dalam beragama yaitu fenomena pergeseran pemahaman spiritual dari idealitas-rasionalitas ke pragmatis-materialistis dalam beragama. Penelitian ini difokuskan pada fenomena munculnya kelompok-kelompok atau aliran-aliran baru dalam masyarakat Islam di Indonesia. Secara rinci penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyan berikut ini. Apa yang melatarbelakangi adanya perubahan pemahaman agama dari idealitas-rasionalitas ke pragmatismaterialistis dalam beragama masyarakat sekarang ini? Bagaimana proses perubahan keberagamaan itu terjadi pada masyarakat Islam? Mengapa umat beragama sekarang ini cenderung kepada pemahaman agama secara pragmatismaterialistis sehingga kehilangan orientasi dan meninggalkan ajaran-ajaran agama yang telah dipahami sebelumnya? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan analisis data terdapat tiga macam tipologi kelompok muslim yang mengalami pergeseran pemahaman agama dari idealitas-rasionalitas ke pragmatis-materialistis. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan antara kualitas keimanan dengan keinginan untuk menjadi kaya secara instan.
Islam dan Budaya Masyarakat Yogyakarta Ditinjau dari Perspektif Sejarah
Rahman, Aulia Arif;
Hidayah, Khoirul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18860/el.v0i0.2019
Yogyakarta is one of the Indonesia's special districts embraced the Islamic culture. The history of Mataram Kingdom as the Islamic Kingdom, through Giyanti agreement (1755) gave birth to Yogyakarta Palace as a part of the Islamic history in Mataram. The influence of Islam in its society can be explained by cultural theory. Culture seen from its structure and level could explain that Islam, as a subculture, is not against the Java culture as the main culture, making Islam could be accepted by the Yogyakarta society as the true religion. Islamic values have been fused with the life of Yogyakarta society so that there are many ways of thinking and actions that tend to embrace Islam. This can be shown through art, literature, social activities and the life principles believed by the Yogyakarta society. Yogyakarta merupakan salah satu daerah Istimewa di Indonesia yang mempunyai budaya bernafaskan Islam. Sejarah Kerajaan Mataram sebagai Kerajaan Islam, melalui pejanjian Giyanti (1755) telah melahirkan Keraton Yogyakarta sebagai bagian sejarah Islam di Mataram. Pengaruh Islam dalam masyarakat Yogyakarta dapat dijelaskan melalui teori budaya. Budaya jika ditinjau dari struktur dan tingkatannya dapat dijelaskan bahwa Islam sebagai subculture yang tidak bertentangan dengan culture Jawa sebagai kebudayaan induk, menjadikan Islam dapat diterima masyarakat Jogyakarta sebagai agama yang benar. Nilai-nilai Islam telah menyatu dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta, sehingga banyak cara berpikir dan tindakan yang dilakukan cenderung bernafaskan Islam. Hal ini dapat ditunjukkan melalui seni, sastra, kegiatan sosial dan prinsip hidup yang diyakini masyarakat Jogyakarta.