cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Islam dan HAM: Tarik Menarik antara Absolutisme dan Relativisme Roibin, Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4723

Abstract

A careful examination of the human rights portrait that develops in the reality of macro society, it seems that the theme can not be separated from the theoretical scientists who are considered to still have relevance. Human rights concepts emerging from individuals will always contradict the offer of human rights concepts born from institutions, ranging from micro to macro (state institutions). Because in practice the tendency of the concept of human rights will always be closely related to the interests of the ruler of each of the human rights concept creators. Human rights in Islam have never been suspected as a historical product arising from ideological thought, but it has a theological dimension. Of course in the future all will be accountable before the Divine. In kasamya human rights in the view of Islam is not as a result of political development, but human rights that are transcendently transcribed for the benefit of humans through the Islamic Shariah derived through His revelation. Where is this all encouraged by a belief to raise the dignity of humanity as a noble creature. Mengamati secara cermat potret HAM yang berkembang dalam realitas masyarakat makro, nampaknya tema tersebut belum bisa lepas dari teoriteori ilmuan yang dianggap masih memiliki relevansi. Konsep HAM yang muncul dari individu akan selalu berseberangan dengan tawaran konsep HAM yang lahir dari institusi, mulai dari yang mikro hingga yang makro (institusi kenegaraan). Karena dalam prakteknya kecenderungan konsep HAM akan selalu berkaitan erat dengan kepentingan penguasa dari masing-masing pembuat konsep HAM tersebut. HAM dalam Islam tidak pemah diduga sebagai produk historik yang muncul dari pemikiran ideologis, melainkan ia memiliki dimensi teologis. Tentu kelak ini semua akan dipertanggung jawabkan dihadapan Ilahi. Secara kasamya HAM dalam pandangan Islam bukanlah sebagai akibat dari perkembangan politik, melainkan hak asasi yang tertuang secara transeden untuk kepentingan manusia melalui syariat Islam yang diturunkan lewat wahyu-Nya. Dimana ini semua disemangati oleh satu keyakinan untuk mengangkat harkat kemanusiaan sebagai makhluk yang luhur.
Tradisi Wuku Taun sebagai Bentuk Integrasi Agama Islam dengan Budaya Sundah pada Masyarakat Adat Cikondang Miharja, Deni
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i1.2673

Abstract

This article write starts from some phenomena of the relation between religions and local cultures. Such relation is interesting to do research that interpretations of the relation between religion and local cultures to certain societies are various. The interaction between Islam and local cultures also undergoes variuos form of relation. Variety of the form of relation between Islam and local cultures in a society depends upon their understanding and interpretation of Islamic teachings itself. One of the forms of relation between Islam and local cultures can be found in traditional society of Cikondang. The form of relation between Islam and local cultures was occurred in traditional society in Cikondang tends to be the form of integration wich certain pattern. Therefore, the focus of this writer article is to describe relation between Islam and Sundanese cultures in form of integration with wuku taun. Based on data of research the tradisional society of Cikondang represents the part of Sundanese society in wich all of them are muslims. This goes hand in hand with the statement that Islam is Sunda and Sunda is Islam. Sundanese people are Muslims before Islam comes to Sundanese society. Artikel ini berangkat dari fenomena hubungan agama dengan budaya lokal. Dimana hubungan agama dengan budaya lokal pada suatu masyarakat, mengalami bentuk hubungan yang beragam. Begitu pun hubungan agama Islam dengan budaya lokal mengalami bentuk hubungan yang beragam pula. Beragamnya bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal pada suatu masyarakat tergantung dari penghayatan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal bisa ditemukan salah satunya pada masyarakat adat Cikondang. Bentuk hubungan yang terjadi antara Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang cenderung dalam bentuk integrasi dengan pola tertentu, sehingga fokus penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap hubungan agama Islam dengan budaya Sunda dalam bentuk integrasi melalui tradisi wuku taun. Berdasarkan data yang diperoleh, masyarakat Cikondang merepresentasikan sebagian masyarakat Sunda yang seluruhnya beragama Islam. Hal ini tentu sejalan dengan beberapa pernyataan yang menyebutkan Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam, orang Sunda sudah Islam sebelum Islam.
Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia di Era Reformasi Idrus, Salim Al
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4660

Abstract

Since the mid-1977, the situation of economy in Indonesia got a heavy shock due to the long crisis. Conglomerates that are expected as a development machine and Indonesian economic growth have failed. The position and the role of SME (Small to Medium Enterprise) during crisis gave a new hope for the bright future of Indonesian economic. A fact shows that during the time of economic crisis, SME earned much more than the big enterprises (conglomerate). In detail, this article will present the roles of SME (UKM, Ind.) and its development since 1900s for the growth of economy. The attempts of Indonesian government to empower the growth of SME is also discussed. Sejak pertengahan tahun 1977, situasi perekonomian Indonesia mengalami goncangan keras karena dilanda krisis yang berkepanjangan. Konglomerat yang diharapkan sebagai mesin pembangunan dan pertambahan ekonomi Indonesia telah mengalami kegagalan. Kedudukan dan peran UKM (Usaha Kecil dan Menengah) selama krisis telah memberikan harapan baru untuk masa depan ekonomi Indonesia yang lebih cerah. Fakta menunjukkan bahwa selama krisis ekonomi panjang, UKM menghasilkan untung lebih banyak disbanding usaha skala besar (konglomerat). Artikel ini akan menjelaskan dengan detil peran-peran UKM dan perkembangannya sejak tahun 1900-an untuk pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha pemerintah Indonesia untuk memberdayakan pertumbuhan UKM juga dipaparkan.
Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh: Sebuah Tafsir Agama dalam Budaya Marzuki, Marzuki
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i2.2781

Abstract

Meugang is a tradition preserved by the people of Aceh to date. It is hold to welcome Ramadan, Idul Fitri and Eid al-Adha. It is a manifestation of a religious interpretation practiced in a form of Acehnese culture. How is meugang tradition in the society? Why this culture is believed to be part of the religion and operates as religious interpretation in people’s life? This study answers them by analyzing the tradition shape through direct observation, because the researcher is an active participant as native Acehnese and live among them. Furthermore, document review is done on the tradition. The results showed that meugang is one of the practices of values existing in Islam. This tradition is used as a means of religious teaching practice, such as anyone who likes to welcome Ramadan will be prevented from the fire of hell. This is indicated by eating meat as a form of pleasure of Acehnese people, as well as holding a feast expecting reward from food or alms. This tradition has been inherent in Aceh, so this tradition is like recommended in religion, it operates as a part of  religion, and as if it is a compulsory ordered by religion. Meugang adalah tradisi yang dilestarikan masyarakat Aceh sampai saat ini. Meugang diadakan pada saat menyambut bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Meugang merupakan wujud dari sebuah tafsir agama yang diamalkan dalam bentuk budaya masyarakat Aceh. Bagaimana tradisi meugang dalam masyarakat Aceh? Mengapa budaya meugang diyakini sebagai bagian dari agama dan beroperasi sebagai tafsir agama dalam kehidupan masyarakat Aceh? Penelitian ini menJawabnya dengan menganalisis bentuk tradisi meugang, melalui observasi langsung, karena peneliti adalah partisipan aktif sebagai orang Aceh asli dan hidup ditengah-tengah masyarakat. Selanjutnya juga dilakukan telaah dokumen yang berhubungan dengan tradisi meugang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meugang merupakan salah satu praktek dari nilai-nilai dalam agama Islam. Tradisi ini dijadikan sarana pengamalan ajaran agama, seperti barang siapa yang senang menyambut bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Hal ini ditunjukkan dengan makan daging sebagai bentuk senangnya orang Aceh, serta mengadakan kenduri mengharapkan pahala dari kenduri atau sedekah makanannya. Tradisi ini telah melekat dalam diri masyarakat Aceh, sehingga tradisi ini seolah-olah adalah ajaran agama yang sangat dianjurkan, beroperasi menjadi bagian dari agama, dan seakan-akan menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh agama.
Kontroversi Seputar Naskh Al-Quran Hamid, M. Abdul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i3.4702

Abstract

Naskh which is an urgent and principal problem, has a wide and high complication in Islamic theology and fiqh. There are at least two types of naskh accepted by the majority of Muslim jurists, namely Alhukm wa Attilawah (the abolition of law and recitations) and naskh al hukm duna al tilawah (abolition of the law but no text). Knowledge of the naskh and manssukh is one of the urgent things to understand the Quran as part of the ulumu of the Qur'an. The clerical controversy surrounding the Quranic verse, the question of naskh - mansukh may remain a controversial issue. However, he should not reduce faith to the characteristics of the Qur'an that should be positioned proportionally by everyone who claims to believe in the Qur'an. For instance one should not reduce Mujadalab and shahadab to actualize its values in all things. Indeed, the Koran is not enough just to be a moral foundation. Naskh yang merupakan masalah yang urgen dan pokok, memiliki komplikasi yang luas dan tinggi dalam teologi dan fikih Islam. Paling tidak ada dua jenis naskh yang diterima oleh mayoritas ahli hukum muslim, yaitu naskh Alhukm wa Attilawah (penghapusan hukum maupun tilawah) dan naskh al hukm duna al tilawah (penghapusan hukum tetapi tidak ada teksnya). Pengetahuan tentang naskh dan manssukh adalah salah satu hal yang urgen untuk memahami al Quran sebagai bagian dari ulumu al Quran. Kontroversi ulama seputar naskb al Quran, persoalan naskh - mansukh boleh jadi tetap sebagai persoalan kontroversal. Tetapi, ia tidak boleh mengurangi keimanan kepada karakteristik al Quran yang harus diposisikan secara proporsonal oleh setiap orang yang mengaku mengimani al Quran. Sebagai contoh tidak bolehnya mengurangi Mujadalab dan syahadab untuk mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam segala hal. Memang al Quran tidak cukup hanya dijadikan landasan moral.
Menemukan Jati Diri dan Menempatkannya pada Posisinya yang Tepat Dja'far, Muhammadiyah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5187

Abstract

This paper discusses how to find the identity is very important to then put it in the right position. This is based on the understanding that humans who want the happiness of the Hereafter, will take the path that is not less than six kinds of positions, namely: a diligent person, or a scientist, or a student or officer, or entrepreneur, or a person solely subjected to monotheism. Whoever has attained the most honorable degree will feel the presence of his heart with God in all things. Nothing else occurred to him, and no one else tapped his hearing, nor his views, except those charged with worship. It is not worth a person who desires this dignity to himself, then becomes lazy in his worship. Indeed, the signs of this man who attains this dignity do not occur to him in an anxious, unimaginable heart, and will not be surprised by the shock of the situation anyhow. Tulisan ini membahas tentang bagaimana menemukan jati diri sangat penting untuk kemudian menempatkannya pada posisi yang tepat. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa  manusia yang menginginkan kebahagiaan akhirat, akan menempuh jalannya yang tidak kurang dari enam macam posisi yaitu: orang yang tekun beribadah, atau ilmuwan, atau pelajar (mahasiswa) atau pejabat, atau pengusaha, atau orang yang semata-mata menekuni tauhid. Barangsiapa telah mencapai derajat yang paling mulia akan merasakan kehadiran hatinya bersama dengan Allah dalam segala halnya. Tiada lagi hal lain terlintas dalam hatinya, dan tiada lagi yang mengetuk pendengarannya, maupun pandangannya, kecuali yang bermuatan ibadah. Tidak pantas sama sekali seorang yang menginginkan martabat ini pada dirinya, lalu menjadi malas ibadahnya. Sesungguhnya tanda-tanda orang yang mencapai martabat ini tidak terlintas dalam hatinya sifat kuatir, dan tidak terbayang suatu maksiat di dalam hatinya, serta tidak akan dikejutkan oleh kegoncangan situasi bagaimanapun.
Understanding of Political Culture in Citizen of Muslimat NU in East Java Ishomuddin, Ishomuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.7398

Abstract

In the context of its activities, since the NU Muslimat was established, it was almost all the archipelago had the same activities called religious activities, which included (1) manaqiban (2) dibaan, (3) reboan, (3) Muslimat Hajj Association and, (4) recitations with themes around the pillars of Islam. But there is a phenomenon of shifting understanding of the elite and NU Muslimat members to the themes of recitation and the movement of political da’wah, especially at the place where the research was conducted. The activities at NU Muslimat carried out not only as a routine activity of the Muslim community but also for the wider role of the NU Muslimat in general and its members to occupy strategic positions in the government or legislative members. From the above phenomena, the objectives of this study are to understand the culture and political understanding of NU Muslimat citizens in East Java. This research was conducted using a qualitative approach. Data collection uses observation, interviews, and documents. Data analysis was carried out using the Interactive Analysis Model of Miles, et al. Dalam konteks kegiatannya, sejak Muslimat NU didirikan memiliki kegiatan yang sama yang disebut kegiatan keagamaan, yang meliputi (1) manaqiban (2) dibaan, (3) reboan, (3) Ikatan Haji Muslimat , (4) kegiatan pengajian dengan tema seputar rukun Islam. Tetapi ada fenomena pergeseran pemahaman elit dan anggota Muslim NU dari kegiatan-kegiatan di atas ke tema-tema gerakan dakwah politik, terutama di tempat di mana penelitian dilakukan. Kegiatan-kegiatan Muslimat NU yang telah dilakukan tidak hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi untuk peran yang lebih luas dari Muslimat NU pada umumnya dan anggotanya untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan atau anggota legislatif. Dari fenomena di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: untuk memahami budaya dan pemahaman politik pada warga Muslimat NU di Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumen. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Model Analisis Interaktif Miles, Hubermen, Saldhana.
Dinamika Islam Kultural: Studi atas Dialektika Islam dan Budaya Lokal Madura Paisun, Paisun
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.450

Abstract

Throughout the history, it is well-known that the ingress and the progress of Islam in Indonesia, especially in Java and Madura, were held almost without any tension and conflict. Even in the societies with some former belief systems such as Animism and Buddhism, Islam was easily accepted as a religion that brings peace within its teachings. During periods, Islam and local cultures perform a dialectical relationship and give rise to local variances of Islam, such as Javanese Islam, Madurese Islam, Sasak Islam, Sundanese Islam, etc. Those variances of Islam are the result of an acculturation process between Islam with the local cultures. In other word, this process is also called as “inculturation”. These local variances of Islam, further termed as the “cultural Islam” in this paper, have become a characteristics of Indonesian Islamic societies phenomenon which are different from Middle-East’s Islamic society and European Islamic society. This paper discusses about the Madurese Islam, one of these cultural Islam’s variances. Dialectical process between Islam and the local culture of Madura in turn generates a unique Madurese Islam, which is distinctive and esoteric. In its further developments, Islam and Madurese tradition are seen as unity and inseparatable, though people can still distinguish one another. This study seeks to uncover and expose the Islamic cultural dynamics that exist and grow in Madura: how big is the change that occurred, in which part, and what factors underlie these changes. This study provides benefit in enriching our scientific study about Indonesian cultural heritage, especially about the dialectical relationship between Islam and Madurese local culture. Sepanjang sejarah, diketahui bahwa masuknya dan kemajuan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura, berlangsung hampir tanpa ketegangan dan konflik. Bahkan di masyarakat dengan beberapa sistem kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Budhisme, Islam dengan mudah diterima sebagai agama yang membawa kedamaian dalam ajarannya. Selama periode tersebut, Islam dan budaya lokal melakukan hubungan dialektis dan menimbulkan varian Islam lokal, seperti Islam Jawa, Islam Madura, Sasak Islam, Islam Sunda, dan sebagainya. Perbedaan varian Islam tersebut adalah hasil proses akulturasi antara Islam dengan budaya lokal. Dengan kata lain, proses ini juga disebut sebagai "inkulturasi". Variasi Islam lokal ini, yang selanjutnya disebut sebagai "Islam budaya" dalam makalah ini, telah menjadi ciri khas fenomena masyarakat Islam Indonesia yang berbeda dari masyarakat Islam Timur Tengah dan masyarakat Islam Eropa. Tulisan ini membahas tentang Islam Madura, salah satu varian Islam budaya ini. Proses dialektis antara Islam dan budaya lokal Madura pada gilirannya menghasilkan Islam Madura yang unik, yang khas dan esoteris. Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi Islam dan Madura dipandang sebagai kesatuan dan tak terpisahkan, meski orang masih bisa saling membedakan. Studi ini bertujuan untuk mengungkap dan mengekspos dinamika budaya Islam yang ada dan berkembang di Madura: seberapa besar perubahan yang terjadi, di bagian mana, dan faktor-faktor apa yang mendasari perubahan ini. Studi ini memberi manfaat dalam memperkaya kajian ilmiah kita tentang warisan budaya Indonesia, terutama tentang hubungan dialektis antara Islam dan budaya lokal Madura.
Tawaduk Santri In Nusantara Cultural Perspective: A Multi-Discourse Analysis Khotimah, Khusnul; Lutfitasari, Wevi; Taembo, Maulid; Hipni, Mohammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.28684

Abstract

The pesantren tradition is a vital aspect of Nusantara culture that shapes students' humility in both religious and cultural practices. This humility (tawaduk) is expressed through distinct attitudes and activities. This study aims to present symbols of students' humility within Nusantara cultural practices and explore the ecological aspects of the unique pesantren culture as portrayed in mass media. This qualitative research utilizes a discourse analysis framework. In mass media discourse, symbols of students' humility are reflected in socio-cultural dimensions through cultural practices such as "cocoghen" rituals, Quranic study sessions ("ngaji kitab"), welcoming the night of Eid al-Adha, seclusion ("khalwat"), and communal meals ("mayoran"). These practices honor Prophet Muhammad, instill noble ethics, foster Islamic brotherhood (ukhuwah islamiyah), encourage surrender to Allah, and promote restraint from worldly desires. Additionally, the pesantren cultural practices serve as environments that preserve local customs, shape students' character, foster brotherhood, offer experiential learning, impart life values, and cultivate self-restraint. The finding of this research provides distinctive insights into the practices of local pesantren traditions, serving as a foundation for the development of the unique cultural heritage of the archipelago. Tradisi pesantren merupakan aspek penting dari budaya Nusantara yang membentuk kerendahan hati (tawaduk) para santri dalam praktik keagamaan dan budaya. Kerendahan hati ini diekspresikan melalui sikap dan aktivitas yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan simbol-simbol kerendahan hati santri dalam praktik budaya Nusantara serta mengeksplorasi aspek ekologi dalam budaya unik pesantren seperti yang digambarkan dalam media massa. Penelitian kualitatif ini menggunakan kerangka analisis wacana. Dalam wacana media massa, simbol-simbol kerendahan hati santri tercermin dalam dimensi sosial-budaya melalui praktik-praktik budaya seperti ritual "cocoghen", pengajian kitab suci Al-Quran ("ngaji kitab"), menyambut malam Idul Adha, pengasingan diri ("khalwat"), dan makan bersama ("mayoran"). Praktik-praktik ini bertujuan untuk menghormati Nabi Muhammad, menanamkan etika luhur, mempererat ukhuwah Islamiyah, mendorong penyerahan diri kepada Allah, dan menahan diri dari keinginan duniawi. Selain itu, praktik budaya pesantren berfungsi sebagai lingkungan yang melestarikan adat lokal, membentuk karakter santri, mempererat persaudaraan, memberikan pembelajaran melalui pengalaman, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan melatih pengendalian diri. Temuan penelitian ini memberikan wawasan yang khas mengenai praktik tradisi lokal pesantren, yang menjadi dasar pengembangan warisan budaya unik Nusantara.
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Era Otonomi Pendidikan Baharuddin, Baharuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4612

Abstract

The leadership of headmaster has active aims in increasing the education quality, so that good leadership capability is required.  Good leadership can arrange all of education resources for getting education purpose either the learning aspect or developing human resources. Accordingly the headmaster is demanded to be able to create good organization climate as well. It is in order that all of the school components can take a part to gain the objectives and aims of school organization. This paper reviews several leadership theories that are applicable in education context. It covers great man theory, contingency theory, transformational theory and leadership through emotional intelligence approach. Furthermore, it also discusses the characteristics of headmaster who is visionary and transformative. Headmaster also takes role as the model of initiation, inspiration, participation and motivation for all of the school components. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki tujuan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan, sehingga diperlukan kemampuan kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang baik dapat mengatur semua sumber pendidikan untuk mendapatkan tujuan pendidikan baik aspek pembelajaran maupun pengembangan sumber daya manusia. Dengan demikian kepala sekolah dituntut untuk dapat menciptakan iklim organisasi yang baik pula. Hal ini agar semua komponen sekolah dapat mengambil bagian untuk mendapatkan tujuan dan tujuan organisasi sekolah. Makalah ini mengulas beberapa teori kepemimpinan yang berlaku dalam konteks pendidikan. Ini mencakup teori orang hebat, teori kontingensi, teori transformasional dan kepemimpinan melalui pendekatan kecerdasan emosional. Selanjutnya, ia juga membahas karakteristik kepala sekolah yang visioner dan transformatif. Kepala sekolah juga berperan sebagai model inisiasi, inspirasi, partisipasi dan motivasi untuk semua komponen sekolah.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue