cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 791 Documents
Islam Jawa: Sufisme dalam Tradisi dan Etika Jawa Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v9i2.4644

Abstract

Since long ago, Javanese ethnics were strongly related to mysticism. The people believed in the unseen which is out of human’s sense. That belief grew so fast. Hence, animism and dynamism become the first belief of Javanese at that time. When Islam first entered in the Javanese land in 14th century, the locals had believed in some sects, those are Hindu, Brahma, and Buddha. Those brought Islam into Java Island had so many works to do. It is not easy since the locals are quite fanatic with their mysticism. Islam, in progress, got positive response from the Javanese people proven by the number of Moslem at that time. Nevertheless, their ancestors’ ritual tradition still remained in the life of those Moslem. This is what makes Javanese Islam becomes the attracting topic for the cultural researchers. This article discusses all about Islam specifically in its spread history in Javanese Island starting from da’wah process to Islamic lesson which is related to Javanese philosophy. It also discusses about how the Islam conveyors tolerated with so many mystic beliefs and slowly changed those from the people. Sejak zaman dahulu, mistik dan suku Jawa sangat terkait erat. Penduduk sangat mempercayai hal gaib yang di luar nalar manusia. Kepercayaan tersebut sangat berkembang pesat. Karenanya, animisme dan dinamisme menjadi keyakinan asli penduduk suku Jawa pada masa itu. Saat Islam masuk ke tanah Jawa di abad 14, penduduk setempat telah meyakini beberapa sekte lain, yakni Hindu, Brahma, dan Budha. Tentu banyak sekali hal yang harus dilakukan bagi pembawa Islam ke tanah Jawa. Tak mudah karena penduduk masa itu sangat fanatik dengan keyakinan mistik mereka. Dalam perkembangannya, Islam mendapat respon positif dari penduduk Jawa terbukti dari banyaknya jumlah Muslim masa itu. Namun, masih banyak sekali muslim yang masih berpegang teguh pada tradisi ritual nenek moyang mereka. Hal ini menjadikan Islam Jawa menjadi pembahasan menarik bagi para peneliti budaya. Artikel ini membahas serba-serbi Islam dan penyebarannya di tanah Jawa. Mulai dari proses dakwah hingga ajaran Islam yang dikaitkan dengan falsafah Jawa. Bagaimana para penyebar Islam harus bertoleransi dengan berbagai ajaran mistis dan mengubah sedikit demi sedikit kepercayaan penduduknya.
Modernisme dan Fundamentalisme sebagai Fenomena Gerakan Keagamaan dalam Sosial Masyarakat Alfa, Mohammad Asrori
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i2.4749

Abstract

Many issues on "Modernism" and "Fundamentalism" prove the development of ideologies and sects as religious, social, and politic phenomena existing in society. Nevertheless, this study aims to focus on the religious phenomena only because each of the ideologies and sects cannot be separated from its historical root that is related much to the problems of Christian development in western countries. Furthermore, this study results from intellectual exploration that is able to find out and sketch the characteristics of "Modernism" and "Fundamentalism" as religious phenomena existing in society. As a result, it can finally distinguish the typology of social communities that include in the category of each ideology. Moreover, it explains that that various performances of religious movements in society can be included in the typology of each ideology. Banyak isu tentang "Modernisme" dan "Fundamentalisme" membuktikan perkembangan ideologi dan sekte sebagai fenomena agama, sosial, dan politik yang ada di masyarakat. Namun demikian, penelitian ini bertujuan untuk fokus pada fenomena keagamaan hanya karena masing-masing ideologi dan sekte tidak dapat dipisahkan dari akar historisnya yang terkait dengan masalah perkembangan Kristen di negara-negara barat. Selanjutnya, hasil penelitian ini berasal dari eksplorasi intelektual yang mampu mengetahui dan membuat sketsa karakteristik "Modernisme" dan "Fundamentalisme" sebagai fenomena religius yang ada di masyarakat. Akibatnya, akhirnya bisa membedakan tipologi komunitas sosial yang termasuk dalam kategori masing-masing ideologi. Terlebih lagi, ini menjelaskan bahwa berbagai pertunjukan gerakan keagamaan di masyarakat dapat dimasukkan dalam tipologi masing-masing ideologi.
The Great Islamic Mughal Empire during Jalaluddin Akbar’s Era: Sulh-i-kul Policy Determination Shohibatussholihah, Fiana; Barizi, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v24i1.14905

Abstract

This research aims to reveal the main factors underlying the glory of the Mughal Islamic empire by using a qualitative approach with a descriptive method. Data are collected through literature study of books and ebooks. The results of the research prove that: Jalaluddin Muhammad Akbar was the first Muslim ruler who could maintain his position for a long time, not merely to fulfill his personal ambitions but to take advantage of his position as a king to unite all Mughal society under his rule. To realize the vision, Akbar must legitimize his government and build a strong military superiority among his pluralistic society. The sulh-i-kul or tolerance for all policy that he implemented became a driving tool for several subsequent policies such as the abolition of the jizyah, the establishment of ibadat-khana, and the application of din-i-Ilahi to unite the Mughal community in building a superpower empire based on universal tolerance. Without the basic ideology of sulh-i-kul, the Mughal society could not have become a famous empire back then. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang melandasi kejayaan kerajaan Islam Mughal dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dari buku, ebook dan sejenisnya. Hasil penelitian membuktikan bahwa: Jalaluddin Muhammad Akbar merupakan penguasa muslim pertama yang dapat mempertahankan kerjaaan Islam dalam waktu lama. Hal ini tidak semata-mata untuk memenuhi ambisi pribadinya tapi untuk memanfaatkan posisinya sebagai raja dalam menyatukan semua masyarakat Mughal di bawah kekuasaannya. Untuk mewujudkan visi tersebut, Akbar harus melegitimasi pemerintahannya serta membangun superioritas militer yang kuat diantara masyarakatnya yang majemuk. Kebijakan Sulh-i-Kul atau toleransi kepada semua yang diterapkannya mampu menjadi alat penggerak beberapa kebijakan berikutnya seperti penghapusan jizyah, pendirian ibadat-khana, dan penerapan din-i-Ilahi untuk menyatukan masyarakat Mughal dalam membangun kerajaan yang superpower berdasarkan toleransi. Tanpa ideologi dasar sulh-i-kul ini belum tentu masyarakat Mughal kala itu dapat menjadi kerajaan yang masyhur.
Kekerasan terhadap Wanita: Sebuah Fenomena Sosial Keagamaan Fauzi, Moch. Sony
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4684

Abstract

Violence against women is actually a phenomenon which in its study has a long historical aspect, this is considering the high level of repatriation in the world history stage. History ink is always faithful to write events after event, war for the battle in which is full of violence against women. This paper describes the position of women from different perspectives and theology of Islam. Furthermore, this paper discusses violence against women in religious social phenomena. With our shared understanding that violence against women can be approached by observing the religious understanding of the perpetrators of violence, then the search for a solution to the social problem can begin with the rearrangement of our religious beliefs in particular how religion actually views gender. Kekerasan terhadap wanita sebenarnya merupakan sebuah fenomena yang dalam kajiannya mempunyai aspek kesejarahan yang panjang, hal ini mengingat tingginya tingkat keterulangannya dalam pentas sejarah dunia. Tinta sejarah senantiasa setia menuliskan peristiwa demi peristiwa, peperangan demi peperangan yang di dalamnya sarat dengan praktek kekerasan terhadap wanita. Tulisan ini menjabarkan kedudukan wanita dari beragam perspektif dan teologi Islam. Lebih lanjut, tulisan ini membahas mengenai kekerasan terhadap wanita dalam fenomena sosial keagamaan. Dengan pemahaman kita bersama, bahwa kekerasan terhadap wanita bisa didekati dengan mengamati pemahaman agama dari pelaku kekerasan tadi, maka pal­ing tidak pencarian solusi bagi problem sosial itu bisa kita mulai dari penataan kembali .pemahaman agama kita khususnya bagaimana sebenarnya agama memandang tentang gender.
Mutualisme Sistemik antara Guru, Siswa dan Kurikulum di Sekolah Menengah Thaharuddin, Thaharuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5149

Abstract

Students, teachers and curriculum often get the spotlight in education. Unruh dam Alexander sees that educational innovation often targets the improvement of the three elements. Students experience social dynamics and psychology, which contextually affects how to educate the real child. Teachers as facilitators of learning in schools must improve the professional skills continuously which means contextually how to do learning in accordance with the needs and development of students. Likewise the curriculum as a set of references in the implementation of education should reflect the needs of students with all its complexities in social life, science and technology. Siswa, guru dan kurikulum sering mendapat sorotan dalam dunia pendidikan. Unruh dam Alexander melihat bahwa inovasi pendidikan sering memberikan sasaran pada perbaikan ketiga unsur tersebut. Siswa mengalami dinamika sosial dan psikologi, yang secara kontekstual akan mempengaruhi bagaimana mendidik anak yang sebenarnya. Guru sebagai fasilitator pembelajaran di sekolah harus meningkatkan kemampuan profesional secara terus-menerus yang artinya secara kontekstual bagaimana melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Demikian juga kurikulum sebagai seperangkat acuan dalam pelaksanaan pendidikan harus mencerminkan kebutuhan siswa dengan segala kompleksitanya dalam kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Representasi Etika Budaya Jawa dalam Komik Panji Koming: Perspektif Pendidikan Islam Ismail, Ismail; Nugroho, Heru; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3344

Abstract

The representation of Javanese cultural ethic in the comic Panji Koming can be identified from a few scenes, for example, physical action, speech and moral values through education and learning process since childhood in Javanese culture. The comic performs the Javanese principles and ethics in each edition. Javanese society upholds the manners. Accordingly, respect is the key for harmonious living in the society as a whole. The respect is shown in various ways: gesture, hand movements, voice, greeting, and the level of the language used. However, the discourse on Javanese female stereotype is clearly viewed, because of the simple representation that reduces women to a series of exaggerated characteristics and usually imply a negative connotation. The stereotype has reduced, naturalized, created a basis, and set a difference. While in the perspective of Islamic education the educational values are taught so that their children have good manners and language reflecting the values of Javanese custom which is still applied and maintained. Representasi etika budaya Jawa dalam komik Panji Koming dapat didentifikasi dari beberapa adegan misalnya, gerak fisik, tutur kata dan nilai-nilai moral melalui proses pembelajaran dan pendidikan yang ditanamkan sejak masih anak-anak dalam kebudayaan Jawa. Komik”Panji Koming” memunculkan prinsip-prinsip dan etika ke-Jawa-an pada tiap edisinya. Masyarakat Jawa menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh atau tatakrama. Karena itu penghormatan menjadi kunci untuk dapat hidup secara harmonis dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan. Penghormatan itu ditunjukkan dalam berbagai cara: sikap badan, tangan, nada suara, istilah penyapa, dan tataran bahasa yang dipergunakan. Namun sisi lain, wacana stereotipe pada perempuan Jawa dipandang jelas, karena adanya representasi sederhana yang mereduksi perempuan menjadi serangkaian karakteristik yang dibesar-besarkan dan biasanya berkonotasi negatif. Jadi stereotipe mereduksi, mendasarkan, mengalamiahkan dan mematok perbedaan. Sementara dalam perspektif pendidikan Islam nilai-nilai pendidikan yang diajarkan bertujuan agar anak-anak memiliki tatakrama serta bertutur kata yang baik yang mencerminkan nilai-nilai kebiasaan orang Jawa yang sampai sekarang masih diterapkan dan dipertahankan.
The Exploration of Pesantren - Based Entrepreneurship Development Strategy Through Teleology Approach Siswanto, Siswanto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i2.5253

Abstract

Cultural difference determines the strategies used for entrepreneurship development. Pesantren (Islamic boarding school) as the oldest educational institution in Indonesia has a unique culture. Pesantren-based entrepreneurship development must be equipped with different characteristics of strategy. The purpose of this research is to explore the entrepreneurship development strategy based on the culture of pesantren through teleology approach. The subject of the current research is Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) Pasuruan. It employs case study analysis. Interview and observation methods are used to collect the data. The teleology approach is used to understand entrepreneurial strategies under some perspectives which include; the involved subjects, the projected achievements, and the entrepreneurship development strategy based on the culture of pesantren. The results demonstrate the important role of kiai (pesantren leader), santri (students), and alumni in the development of entrepreneurship in Pondok Pesantren Sidogiri. They seek independence for the intention of worship. They practice the value of tabligh (transparent) and fathanah (professional) for institutional management called Koperasi Syariah (sharia cooperative). In addition, the administrative managers hold the values of shidiq (honest) and amanah (trustworthy). In conclusion, the strategy of pesantren-based entrepreneurship development has typical characteristics of pesantren. Perbedaan budaya menentukan perbedaan strategi pengembangan wirausaha. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki budaya yang unik. Pengembangan wirausaha berbasis budaya pesantren tentunya memiliki karakteristik strategi yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi strategi pengembangan wirausaha berbasis budaya pesantren melalui pendekatan teleologi. Situs penelitian di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) Pasuruan. Penelitian ini menggunakan analisis studi kasus. Metode wawancara dan observasi digunakan untuk mengumpulkan data yang akan dianalisis. Pendekatan teleologi berguna untuk memahami strategi wirausaha berdasarkan perspektif yang meliputi; subyek yang terlibat, prestasi yang diproyeksikan, dan strategi pengembangan wirausaha berbasis budaya pesantren. Hasil penelitian menunjukkan peran penting kiai, santri, dan alumni dalam pengembangan wirausaha di Pondok Pesantren Sidogiri. Kemandirian untuk niat ibadah menjadi prestasi yang diharapkan. Menerapkan nilai-nilai tabligh (transparansi) dan fathanah (profesional) sebagai strategi pengelolaan lembaga yang berbentuk koperasi syariah. Disamping itu, untuk pengelola dibudayakan nilai-nilai shiddiq (kejujuran) dan amanah (dapat dipercaya). Strategi pengembangan wirausaha berbasis budaya pesantren ini memang memiliki karakteristik yang khas pesantren.
Kampung Naga: Sebuah Representasi Arsitektur sebagai Bagian dari Budaya Maslucha, Luluk
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i1.421

Abstract

In this article, the writer tries to study architecture as a cultural product of a certain society because architecture is a representation of social life in general and individual. Therefore, studying architecture cannot be separated from the three basic elements, that is, concept, method, and performance. All of them are unified in value, need, and physical performance. Architecture is a part of culture composed from each element of culture itself and includes in the cultural system. The cultural elements included in architecture are concept, thought and rules, attitude and behavior as a social system. Both cultural system and social system build architecture as artefactual physical performance. The simplicity of Kampung Naga architecture shows the great value of the societys culture that is represented in its elements. Kampung Naga architecture also shows beauty coming from simplicity and humbleness. Beauty can appear from something parametrical or measurable and those non parametrical and immeasurable. Measurable things may be able to be seen physically, but the unmeasureable can only be felt. Architecture influenced by culture with its whole elements can raise behaviour patterns. Therefore, architecture should be built with the base and spirit of great culture to build great behaviour. Dalam artikel ini, penulis mencoba menjelaskan arsitektur sebagai produk budaya masyarakat tertentu karena arsitektur merupakan representasi kehidupan sosial di alam dan individu. Oleh karena itu, mempelajari arsitektur tidak dapat dipisahkan dari tiga elemen dasar, yaitu konsep, metode, dan kinerja. Kesemuanya disatukan dalam nilai, kebutuhan, dan kinerja fisik. Arsitektur adalah bagian dari budaya yang setiap unsurnya termasuk dalam sistem budaya. Unsur budaya yang termasuk dalam arsitektur meliputi konsep, pemikiran dan aturan, sikap dan perilaku sebagai sistem sosial. Baik sistem budaya maupun sosial membangun arsitektur sebagai kinerja fisik artefak. Kesederhanaan arsitektur Kampung Naga menunjukkan nilai besar dari budaya masyarakat itu yang diwakili elemen-elemennya. Arsitektur Kampung Naga juga menunjukkan keindahan yang berasal dari kesederhanaan dan kerendahan hati. Keindahan bisa muncul dari suatu parametrik atau terukur, yang tidak parametrik dan beragam. Hal-hal terukur mungkin bisa dilihat secara fisik, tapi tak terukur namun bisa dirasakan Arsitektur dipengaruhi oleh budaya dengan seluruh elemennya yang meningkatkan pola perilaku Karena itu, arsitektur harus dibangun dengan basis dan semangat budaya.
The Islamic Culture of “Wetu Telu Islam” Affecting Social Religion in Lombok Muliadi, Muliadi; Komarudin, Didin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.7384

Abstract

This writing is motivated by a very abundant religious culture in Indonesia, including the phenomenon found in Lombok, West Nusa Tenggara which is famous for “Wetu Telu Islam”. It contains the religious system filled with ceremonies and rituals which are accompanied by special symbols that have certain meanings. The method used in this paper is historical descriptive, by systematically explaining the history of the people of Lombok, the cultural patterns of “Wetu Telu Islam”, including its historical figures, doctrine, development, and existence. Then the writer uses structural semiology in analyzing the meaning of symbol elements found in the religious rituals of “Wetu Telu Islam” in Lombok. “Wetu Telu Islam” according to the people of Lombok is a very perfect Islam as it is built from two solid dimensions, namely dzohir and ihsan. For that reason, “Wetu Telu Islam” for them is the teachings of Sufism which emphasize the spirit, and soul. It is the spirit of holistic Islamic teachings, namely: shari’a, thoriqot, haqiqot, and ma‘rifat. Everything is building up, mutually reinforcing, and inseparable. Tulisan ini bermuara dari budaya agama yang sangat berlimpah di Indonesia, termasuk fenomena yang ditemukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang terkenal dengan “Islam Wetu Telu”. Sistem keagamaan yang terkandung di dalamnya sarat upacara dan ritual yang disertai simbol-simbol khusus bermakna tertentu. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah deskriptif historis, yaitu secara sistematis menjelaskan sejarah masyarakat Lombok, pola-pola budaya “Islam Wetu Telu”, termasuk tokoh sejarah, doktrin, perkembangan dan keberadaannya. Kemudian penulis menggunakan semiologi struktural dalam menganalisis makna elemen simbol yang ditemukan dalam ritual keagamaan “Islam Wetu Telu”di Lombok. “Islam Wetu Telu” menurut masyarakat Lombok adalah Islam yang sangat sempurna karena dibangun dari dua dimensi yang kuat, yaitu dzohir dan ihsan. Karena itu, “Islam Wetu Telu” bagi mereka adalah ajaran tasawuf yang menekankan hati dan jiwa. Ini adalah semangat ajaran Islam holistik, yaitu: syariah, thoriqot, haqiqot, dan ma’rifat. Semuanya membangun, saling menguatkan, dan tak terpisahkan.
Islamisasi Metode Berpikir: Sebuah Pemikiran Awal Zenrif, M. Fauzan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4631

Abstract

Not a few campus communities, either within the Ministry of Religious Affairs or the Ministry of National Education, who have not or deliberately failed to understand the necessity of Islamization of science. In fact, in the world of global science, many scholars believe that since the last half of the twentieth century it is a revival of Islam (the renaissance of Islam) which is at least characterized by the rise of the Islamization of science, economics, social, politics and so on. Methods of thinking and research methods are the foundation of the development of science, then both are actually an applicative form of the whole paradigm and the world view of the flow of knowledge. Islamization of thinking methods has duality characteristics, Mutawassith characteristics, and formulative characteristics. The research methods developed in both classical and modern Islamic times need to be reconstructed to give birth to the methods expected in Islam. For that reason, it takes dialogue simultaneously to contribute greatly to the creation of an Islamic civilization. Tidak sedikit masyarakat kampus, baik di lingkungan Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional, yang belum atau sengaja tidak memahami perlunya Islamisasi ilmu pengetahuan. Padahal, di dunia ilmu pengetahuan global, banyak pakar meyakini bahwa sejak paruh terakhir abad ke- 20 merupakan kebangkitan kembali Islam yang setidaknya ditandai dengan timbulnya semangat Islamisasi ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Metode  berfikir dan metode penelitian merupakan tumpuan dari pengembangan ilmu pengetahuan, maka keduanya  sesungguhnya merupakan bentuk aplikatif dari seluruh paradigma dan  world view aliran ilmu pengetahuan. Islamisasi metode berfikir memiliki karakteristik dualitas, karakteristik Mutawassith, dan karakteristik formulatif. Baik metode penelitian yang dikembangkan dalam Islam era klasik maupun modern perlu direkontruksi untuk melahirkan metode yang diharapkan dalam Islam. Untuk itu diperlukan dialog secara simultan untuk memberikan kontribusi yang besar terhadap terciptanya peradaban yang Islami.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue