cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Islamic Religious Values within Javanese Traditional Idioms as The Javanese Life Guidance Kasnadi, Kasnadi; Sutejo, Sutejo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i1.4850

Abstract

This research aims to describe Islamic religious value within Javanese traditional idioms. It employs descriptive qualitative method. The data in this study was collected using note-taking technique. To find the Islamic religious value within Javanese traditional idioms, the researcher used hermeneutics-content-analysis technique. The findings were (1) the belief of Gusti’s (God) existence, (2) the compliance to Gusti (God), (3) the plea for Gusti’s (God) power, and (4) the gratitude for Gusti’s (God) mercies and benevolences. The Islamic religious values, as part of Javanese local wisdom, should be conserved by the youth. The values should also be used as Javanese life guidance to build well-founded characters and ideal personalities. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai religi Islam yang terkandung di dalam ungkapan tradisional Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik simak-catat. Untuk menemukan nilai religi Islam yang terdapat dalam ungkapan tradisional Jawa, peneliti menggunakan teknik analisis isi secara hermeneutik. Hasil penelitian mencakup (1) keyakinan terhadap keberadaan Tuhan (Allah), (2) kepasrahan terhadap keagungan Tuhan (Allah), (3) permohonan terhadap kekuasaan Tuhan (Allah), dan (4) syukur atas rahmat dan karunia Tuhan (Allah). Nilai-nilai religi Islam tersebut merupakan sebagian kearifan lokal Jawa yang harus dilestarikan. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa agar memiliki karakter yang kuat dan kepribadian yang utuh.
Sufism in Java: The Meeting Point Between Sufism and Javanese Mysticism Nashichuddin, Ach.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4613

Abstract

Wali Songo is a clerical preacher who is not only an Islamic prophet but also a carrier of Sufism in Java. This paper reviews sufism in Wali Songo era and the meeting point between sufism and Javanese mysticism. Seen from their teachings, they are adherents of the flow of Sunni Sufism that many adopt the teachings of Imam Al-Ghazali. In developing their teachings they established an educational institution called pesantren, an educational institution which at the same time provides a dormitory as a residence for the santri. In spreading Islam they are easily accepted by the Javanese community. This cannot be separated from the teachings they developed, the teachings of Sufism which have similarities with the mystical teachings held by the people of Java. The meeting point between Sufism and Javanese mysticism is the main factor in the success of Wali Songo’s mission in Java. It results in Javanese Islam, a combination between Islamic teaching and Javanese culture.   Wali Songo adalah seorang pengkhotbah klerus yang bukan hanya seorang nabi Islam tapi juga pembawa tasawuf di Jawa. Makalah ini mengulas sufisme di era Wali Songo dan titik temu antara sufisme dan mistisisme Jawa. Dilihat dari ajaran mereka, mereka menganut aliran tasawuf Sunni yang banyak mengadopsi ajaran Imam Al-Ghazali. Dalam mengembangkan ajaran mereka, mereka mendirikan sebuah institusi pendidikan yang disebut pesantren, sebuah institusi pendidikan yang pada saat yang sama menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santri. Dalam menyebarkan Islam mereka mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Hal ini tak lepas dari ajaran yang mereka kembangkan, ajaran tasawuf yang memiliki kesamaan dengan ajaran mistik yang dipegang oleh masyarakat Jawa. Titik temu antara tasawuf dan mistisisme Jawa merupakan faktor utama dalam keberhasilan misi Wali Songo di Jawa. Ini menghasilkan Islam Jawa, kombinasi antara ajaran Islam dan budaya Jawa.
Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Lokal di Button: Satu Kajian Berdasarkan Teks Sarana Wolio Niampe, La
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2314

Abstract

This study aimed to describe how far the moslem teaching has given influence to the local culture in Wolio (Buton). This study researched a classic script text, therefore used a filology and Heuristic methode. filology methode was used to purify text and make text be readable by the citizen, hereas heuristic method was used to find out the substantial of the text. The result of this study showed that Islamic teaching influenced toward local culture in Buton since Sultan Mobolina Pauna administration. When he arranged the constitution of Buton verbally called as “Martabat Tujuh “ or Sarana Wolio is like influenced by his intuition or his sufism perspective. That   influence could be seen through the culture which was arranged like Martabat Tujuh,  determining of sultan’s number and sapati which was symbolized by the twenty features, determining of minister number was symbolized like thirty of juz alqur’an and determining number of points refused by culture were symbolized by “itikad yang tujuh puluh dua kaum” Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejauh mana ajaran Islam telah berpengaruh dalam kebudayaan lokal di Wolio (Buton). Oleh karena objek yang diteliti berupa teks naskah kuno, maka metode yang digunakan adalah metode Filologi dan metode Heuristik. Metode filologi digunakan untuk memurnikan teks serta mebuat teks menjadi terbaca oleh masyarakat umum, sedangkan metode Heuristik digunakan untuk menemukan substansi teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Islam mulai berpengaruh terhadap budaya lokal di Buton sejak masa pemerintahan sultan Mobolina Pauna. Ketika beliau menyusun Undang-Undang Buton secara tertulis yang disebut “Martabat Tujuh” atau “Sarana Wolio”, tampaknya sangat dipengaruhi perasaan atau alam pemikiran kesufiannya. Pengaruh itu terlihat pada produk adat yang disusunnya seperti penetapan pangkat-pangkat ditamsilkan dengan Martabat Tujuh, penetapan jumlah adat Sultan dan Sapati ditamsilkan dengan sifat dua puluh, penetapan jumlah mentri ditamsilkan dengan tiga puluh juz al Quran dan penetapan jumlah itikat yang ditolak oleh adat ditamsilkan dengan “itikad yang tujuh puluh dua kaum”.
Kajian Hadis-Hadis Etika Makan Ditinjau dari Aspek Kesehatan Smeer, Zeid B.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v11i2.5208

Abstract

Islamic teaching has a lot of meaning and wisdom. There are no obligation and restriction which has no message, benefit, and wisdom. Some of the benefits and wisdoms have been known and understood, some have not yet. This must motivate each Muslim to continuously study the hidden secret including studying the ritual practices which is for the time being viewed as the Islamic traditions such as the eating ethic. This research intends to know the wisdom containing in the Hadith of eating ethics taught by the Prophet Muhammad through his message seen from health aspect. This research is library research which initially collecting the Hadith on eating ethic, then, exploring relevant information from classical and modern books dealing with health. Exploring also the textbooks on health and health practitioners are investigated. The finding is the eating ethic taught by the Prophet Muhammad through his Hadith has a lot of beneficial wisdom and it has been justified by the experts. Ajaran Islam memiliki banyak makna dan kearifan. Tidak ada kewajiban dan pembatasan yang tidak memiliki pesan, manfaat, dan kearifan. Beberapa manfaat dan kearifan telah diketahui dan dipahami, beberapa belum. Ini harus memotivasi setiap Muslim untuk terus mempelajari rahasia tersembunyi termasuk mempelajari praktik ritual yang untuk saat ini dipandang sebagai tradisi Islam seperti etika makan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui kearifan yang terkandung dalam Hadis makan yaitu etika yang diajarkan oleh Nabi Muhammad melalui pesannya dilihat dari aspek kesehatan. Penelitian ini adalah kajian pustaka yang awalnya mengumpulkan Hadis tentang makan etika, kemudian, mengeksplorasi informasi yang relevan dari buku-buku klasik dan modern yang berhubungan dengan kesehatan. Dieksplorasi juga buku pelajaran tentang kesehatan dan pendapat pakar. Temuannya adalah etika makan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad melalui Hadisnya memiliki banyak kearifan yang bermanfaat dan telah dibenarkan oleh para ahli.
Pengaruh Sistem Perkawinan Islam terhadap Sistem Hukum Perkawinan Masyarakat Sugiatminingsih, Sugiatminingsih
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4661

Abstract

Islamic marriage law before being legalized as Marriage Constitution, the norms related to marriage system (marriage procedures) in Islam has actually been long applied in Moslem society. Even, since Islam first came and established Moslem community. Pancasila is the basic principles of Indonesia and the majority of Indonesian people are Moslem. So, in order to develop national constitution, Islamic law has a huge chance to be the only main source needed in that development of the national constitution. This article states the history of law constitution in the first era of Islam in Indonesia and also the influence of culture and mazhab. Furthermore, Islamic marriage system is also presented. The compilation of Islamic law in aiming for uniformity in religious court becomes the guidance for the judges in taking decisions. Therefore, the guarantee on the equality of unity and law certainty can be realized. Hukum Perkawinan Islam sebelum disahkan sebagai Undang-Undang Perkawinan, norma yang berhubungan dengan system perkawinan (tata cara perkawinan) secara Islam sebenarnya telah lama berlaku dalam masyarakat Islam. Bahkan sejak pertama kali agama Islam masuk dan membentuk komunitas Islam. Pancasila ialah dasar negara Indonesia dan sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Maka, dalam rangka pembinaan Hukum Nasional, hukum Islam mempunyai peluang yang sangat besar untuk masuk sebagai salah satu bahan pokok yang sangat diperlukan dalam pembinaan hukum nasional tersebut. Artikel ini memaparkan sejarah undang-undang di awal masuknya Islam ke Indonesia serta budaya dan mazhab yang mempengaruhinya. Lebih khusus lagi, sistem perkawinan Islam juga menjadi pembahasan. Adanya kompilasi hukum Islam yang bertujuan untuk keseragaman dalam peradilan agama, menjadi acuan para hakim dalam menentukan keputusan. Sehingga, jaminan akan adanya persamaan kesatuan dan kepastian hukum bisa terwujud.
Kajian Konsep Taman Islam Berdasarkan Al Quran dan Hadits Jannah, Miftahul; Mugnisjah, Wahju Qamara; Gunawan, Andi
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i1.3082

Abstract

Islam concept is comprehensive (syumuliyyah), including planning and designing a garden. Nowdays, there are various studies regarding  Islamic garden. However, in general, the studies do not refer to the Islamic law. This study  compares the concept of Islamic garden that emerge in Islamic glory period and the basic concept of Islamic law. The data collection method is study literature from two major literatures in Islam (Quran and hadith), and other literatures (books, journals, and research reports). The result analysis shows concept of Islamic garden does not refer to the primary sources of Islamic law, and it is more restrictive. It is emphasized that basically the planning and designing concept of Islamic garden could be free. It should be suitable with the location and the needs of garden users. Islam adalah agama yang memiliki konsep menyeluruh (syumuliyyah) termasuk di dalamnya mengenai merencanakan dan mendesain suatu taman. Hingga saat ini, telah terdapat beragam studi mengenai taman Islam, tetapi pada umumnya pembahasan tidak bersumber dari hukum Islam itu sendiri. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan konsep taman Islam yang berkembang pada masa kejayaan Islam dengan konsep yang berdasarkan hukum Islam. Pengumpulan data menggunakan metode studi literatur, bersumber pada dua literatur utama dalam Islam (al Quran dan hadits) serta literatur lainnya (buku, jurnal, dan hasil penelitian) yang berkaitan. Sebagai hasilnya, diketahui bahwa konsep taman Islam saat ini masih belum bersumber pada hukum utama Islam itu sendiri dan bersifat lebih terbatas. Oleh karena itu, perlu ditekankan bahwa 2 Kajian Konsep Taman Islam Berdasarkan al Quran dan Hadis pada dasarnya perencanaan dan desain taman Islam dapat bersifat lebih bebas dan disesuaikan dengan lokasi dan kebutuhan pengguna taman tersebut.
Menimbang Nasib Perempuan dalam Agama & Feminisme Rofiq, Aunur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4711

Abstract

The inhuman treatment of others, however, can not be tolerated. The acts of violence, sexual harassment, and injustice against women prevailing throughout the period are no longer compatible with human rights, and the demands of the development of the level of consciousness, the education that no longer recognize the gender limit, even the religion of Allah that is revealed for the freedom of human beings from the shackles of the fitrah. This paper deals with the treatment of violence against women by discussing it through various perspectives. Why violence against women can happen, what is the factor behind it? Many factors or motives behind the violence. Cultural, social, political, ideological, racial, ethnic, religious, and even gender biased factors can trigger violence. The efforts of women's liberation by Indonesian feminists, can be said to be very noble. Even so religious social and cultural factors need to be considered. However, the feminism of the West is a role model, not free from the content of sociological value, culture, ideology, philosophy born there. Thus it is not wise, if Indonesian feminism uses the paradigm, or ideology of Western femme in offering the best solution for women of the Eastern nations-especially Indonesia. Perlakuan tidak manusiawi terhadap sesama, bagaimanapun tidak bisa dibiarkan. Tindak kekerasan, pelecehan seksual, dan ketidakadilan terhadap perempuan yang berlaku sepanjang kurun tidak lagi sesuai dengan HAM, dan tuntutan perkembangan tingkat kesadaran, pendidikan yang tidak lagi mengenal batas gender, bahkan agama Allah Swt yang diturunkan demi kebebasan manusia dari berbagai belenggu yang memasung fitrah. Tulisan ini mengangkat tentang perlakuan kekerasan pada perempuan dengan membahasnya melalui beragam perspektif. Mengapa kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi, apa faktor di balik itu? Banyak faktor atau motif yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan. Faktor budaya, sosial, politik, ideologi, ras, etnis, agama, bahkan pandangan bias gender bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan. Upaya pembebasan perempuan yang dilakukan para feminis Indonesia, bisa dikatakan sangat mulia. Sungguhpun begitu faktor sosial budaya timur yang religius perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun lahimya feminisme Barat yang menjadi panutan, tidak bebas dari muatan nilai sosiologis, budaya, ideologi, filsafat yang lahir di sana. Dengan demikian tidaklah bijak, jika feminisme Indonesia menggunakan paradigma, atau ideologi femnisme Barat dalam menawarkan solusi terbaik untuk perempuan bangsa-bangsa Timur-khususnya Indonesia.  
Harmonization of Islamic Values and Local Wisdom in The Maccera Manurung Ritual Hidayat, Rian; Mustafa, Zulhas'ari; Ahmad, La Ode Ismail; Iqbal, Nabiha Amaliah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.29152

Abstract

The Maccera Manurung ritual is a vital part of life for the Labuku community, fostering harmony among humans, nature, and spiritual beliefs. A key challenge lies in preserving this tradition while adhering to religious principles and bridging the gap between deeply rooted local customs and Islamic values that guide contemporary society. This study adopts a qualitative descriptive approach, incorporating normative sharia, historical, phenomenological, and sociological perspectives. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Maccera Manurung ritual reflects values that harmonize Islam and local wisdom, including: (1) spiritual and religious values that frame the ritual as an act of worship, (2) solidarity and mutual cooperation values that strengthen social cohesion, (3) respect for ancestors as recognition of spiritual heritage, (4) simplicity values that counter materialism, and (5) social responsibility values aligned with Sharia principles. Future research should expand its focus to explore other local traditions that integrate religious and cultural values, further enriching understanding in this field. Ritual Maccera Manurung menjadi aspek integral dalam kehidupan masyarakat Labuku yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kepercayaan spiritual lokal. Masalah utama yang muncul adalah bagaimana ritual ini dapat dipertahankan tanpa melanggar aturan-aturan agama, serta bagaimana menemukan titik temu antara tradisi lokal yang berakar kuat dengan nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidup masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pendekatan Normatif Syariah, Historis, Fenomenologis, dan Sosiologis, serta mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual Maccera Manurung memuat nilai-nilai yang mengharmoniskan Islam dan kearifan local yaitu: (1) nilai spiritual dan keagamaan yang menjadikan ritual ini sebagai ibadah, (2) nilai solidaritas dan gotong royong yang memperkuat ikatan sosial, (3) nilai penghormatan terhadap leluhur sebagai pengakuan terhadap warisan spiritual, (4) nilai kesederhanaan yang menentang materialisme, dan (5) nilai tanggung jawab sosial yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas kajian dengan mengeksplorasi tradisi lokal lain yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan budaya setempat.
Flood Disaster, Local Belief and Islam-Sufism Harifuddin, Harifuddin; Zainuddin, Rasyidah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i1.3916

Abstract

Flood disaster as a natural phenomenon has a lot of meaning for the rural community. They believe that flood is the power of deity, as a sign that a quarrel is happening ‘under water’, and a sign of God’s kindness because flood has negative and positive aspects. These show that people’s thoughts are shaped by several factors, such as local and religious beliefs (Sufism). This paper outlines how Segeri society describes the meaning of flood disaster constructed by local beliefs and Islamic sufism. Historically, the spread of Islam in South Sulawesi – that is generally characterized as ‘Sufi’ – is the factor influencing the religious belief of local society. The aforementioned belief is the sufism characteristic which is about the absolute resignation toward God’s will and fate. This study uses phenomenological approach to interpret the understanding of flood and the local belief obtained through in-depth interview to Bissu and farmers. The interview data is also linked to the observation of the natural environment. The research shows that Segeri society believes that flood is God’s will and reprisal. By being given an ordeal, someone’s sins will be decreased. Flood – they believe – will give positive impacts and also bring God’s blessing in their lives. This belief causes the so-called ‘resignation’ everytime flood destroys their area. Bagi masyarakat pedesaan, bencana banjir adalah fenomena alam yang memiliki banyak makna. Beberapa di antaranya yaitu banjir sebagai perwujudan kekuasaan dewa, sebagai pertanda sedang terjadi pertikaian di alam bawah air, dan merupakan tanda kebaikan Tuhan karena banjir memiliki aspek negatif dan positif. Contoh-contoh tersebut menunjukkan pemaknaan masyarakat yang dibentuk oleh beberapa faktor, antara lain kepercayaan lokal dan keyakinan keagamaan (sufisme). Tulisan ini menguraikan pemaknaan masyarakat Segeri terhadap terjadinya bencana banjir yang dikonstruksi kepercayaan lokal dan Islam sufisme. Secara historis, penyebaran agama Islam di provinsi Sulawesi Selatan yang umumnya berciri ‘sufistik’ merupakan salah satu faktor yang membentuk keyakinan keagamaan masyarakat setempat. Keyakinan keagamaan yang dimaksud adalah adanya karakteristik sufisme yang berisi ‘kepasrahan’ mutlak atas kehendak dan takdir Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menafsirkan pemahaman masyarakat Segeri terhadap banjir, kepercayaan lokal mereka yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan bissu dan petani. Data wawancara tersebut juga dihubungkan dengan pengamatan terhadap lingkungan alam setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Segeri meyakini banjir sebagai cobaan dan kehendak dari Tuhan. Setiap cobaan yang dialami manusia berarti menggugurkan dosa-dosanya. Banjir yang datang dianggap memiliki hikmah kebaikan dan keberkahan Tuhan dalam kehidupan mereka. Keyakinan tersebut berkonsekuensi terhadap ‘kepasrahan’ masyarakat setiap banjir terjadi.
Relevansi Ilmu Pengetahuan, Filsafat, Logika dan Bahasa dalam Membentuk Peradaban Rosyidah, Inayatur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.440

Abstract

God grant to the great potential of human reason as an instrument for thinking. And the reason humans can develop a philosophical exploration. The philosophical exploration can build by creating dialogue and collaborations between science, philosophy, logic and language. Civilization as composite from spirit and attitude and ways of social life can’t separate from philosophy in forming of good society’s behavior. In the other hand, language, science and technology are also having important roles in civilization. The results of science are impossible to understand with societies if never communicate by language. Therefore, with the achievement of those aspects and discoveries of human philosophy can build a civilization throughout historical from time to time. Thus, in the history of human civilization, science, philosophy, logic and language have their respective roles that sometimes require the dialogue and or cooperation between the fourth in a valuable form of civilization in the history of life. Tuhan memberikan potensi besar akal manusia sebagai instrumen untuk berpikir. Itu menjadi alasan manusia bisa mengembangkan eksplorasi filosofis. Eksplorasi filosofis bisa dibangun dengan menciptakan dialog dan kolaborasi antara sains, filsafat, logika dan bahasa. Peradaban sebagai gabungan dari semangat dan sikap dan cara hidup sosial tidak bisa lepas dari filsafat dalam membentuk perilaku masyarakat yang baik. Di sisi lain, bahasa, sains dan teknologi juga memiliki peran penting dalam peradaban. Hasil sains tidak mungkin bisa dipahami dengan masyarakat jika tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa. Karena itu, dengan tercapainya aspek dan penemuan filsafat manusia ini bisa membangun peradaban sepanjang sejarah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, dalam sejarah peradaban manusia, sains, filsafat, logika dan bahasa memiliki peran masing-masing yang terkadang memerlukan dialog dan atau kerja sama antara yang keempat dalam bentuk peradaban yang berharga dalam sejarah kehidupan.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue