cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Al-Khath Al-‘Arabi wa Juhud Al-Muslimin fi Al-Muhafazhah ‘Alaihi Syuhadak, Syuhadak
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i2.3692

Abstract

لاخفاء إن حسن الخط من أحسن الأوصاف التي يتصف بها الكاتب وأنه يرفع قدره على الناس، ويكون وسيلة لنجاح مقاصده وبلوغ مآربه مع ماينضم الى ذلك من الفوائد التي لاتكاد تحصى كثرة. وقد قال أمير المؤمنين علي كرم الله وجهه: ((الخط الحسن يزيد الحق وضوحا)).الخط العربي سيمة من سيمات حياة إسلامية في دولة فيها مسلمون. فجهود أبناء المسلمين فيها على تعلمه ونشره وحفظه تدل على محبتهم الإسلام. It cannot be denied that the beauty of calligraphy is an excellence correlated to its writer that will raise his/ her ability higher than others. It also become medium for its owner to come to his/ her dreams which contain unlimited benefit. Amirulmukminin, Ali r.a. said a beautiful calligraphy will make the truth is clearer and more understandable. The existence of Islamic calligraphy is an evidence of Islamic religion life in a country. Therefore, effort from Islamic generation to learn, teach, and preserve it, is the manifestation of their affection to Islam.
Discourse of Asceticism: A Critical Textual Analysis and Social-Identity Practices in Pesantren Lutfitasari, Wevi; Mujtahidin, Mujtahidin; Vidiarama, Made Arya
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.32305

Abstract

The discourse of asceticism functions as a distinctive identity that reflects the idealization of pesantren life, rooted in a high level of spirituality. Previous studies have explored pesantren traditions from various angles but none have provided a holistic account of asceticism within pesantren. This research offers novelty by analyzing ascetic traditions through both discourse and social practice, highlighting how santri’s interaction with their social environment shapes and sustains these values. This study aims to present expressions of asceticism within linguistic discourse and to describe its dimensions in pesantren traditions as reflections of that discourse. This research is categorized as descriptive qualitative research, employing Fairclough's conception of discourse theory, focusing on both the textual level and the dimension of social practice. Two key findings emerge: first, the linguistic characteristics of the three pesantren reflect asceticism through calligraphy and Islamic advice, promoting spiritual deepening, socio-spiritual relationships, the strengthening of faith and reliance on God, the development of intellect and character, self-restraint from materialism, and a simple way of life.. Second, the dimension of asceticism in the pesantren tradition is reflected in spiritual practices and a distinctive lifestyle, such as concentration on God, affirmation of monotheism, love for the Prophet Muhammad, self-restraint from arrogance, and the creation of harmony through self-discipline. In conclusion, within the pesantren tradition, the conception of ascetic discourse is expressed through linguistic discourse that reflects the distinctive aspects of pesantren life in deepening Islamic spirituality and embracing simplicity. Further studies are needed to compare the varying ascetic traditions practiced in pesantren across different regions. In addition, conducting surveys with santri would help reveal their perspectives on how linguistic discourse shapes and influences these ideals. Wacana asketisme berfungsi sebagai identitas khas yang mencerminkan idealisasi kehidupan pesantren, yang berakar pada aspek spiritualitas tinggi. Kajian sebelumnya telah meneliti tradisi pesantren dari berbagai sudut namun belum ada yang memberikan gambaran menyeluruh tentang asketisme dalam pesantren. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menganalisis tradisi asketis melalui perspektif wacana dan praktik sosial, serta menyoroti bagaimana interaksi santri dengan lingkungan sosialnya membentuk dan mempertahankan nilai-nilai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan ekspresi-ekspresi asketisme dalam diskursus linguistik dan mendeskripsikan dimensinya dalam tradisi pesantren sebagai refleksi dari diskursus tersebut. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif deskriptif dengan mengambil konsepsi Fairclough tentang teori wacana kebahasaan pada tataran tekstual dan dimensi praktis sosial. Dua temuan utama muncul: Pertama, karakteristik linguistik di tiga pesantren mencerminkan ekspresi asketisme yang berasal dari seni kaligrafi dan nasihat Islam. Wacana ini menyampaikan rekomendasi untuk memperdalam hubungan spiritual dengan Allah, hubungan sosial-spiritual, keimanan dan tawakal, pengembangan intelektualitas dan akhlak, pengendalian diri terhadap materialisme, dan kesederhanaan hidup. Kedua, dimensi asketisme dalam tradisi pesantren terwujud dalam praktik-praktik spiritual dan gaya hidup yang khas. Dimensi-dimensi ini mengarah pada fenomena seperti latihan konsentrasi yang diarahkan kepada Allah, praktik yang menegaskan keesaan Allah, mencintai Rasulullah sebagai bagian dari rukun iman, pengendalian diri terhadap kesombongan, serta upaya untuk menciptakan keharmonisan melalui saling mengatur diri. Sebagai kesimpulan, dalam tradisi pesantren, konsepsi wacana asketisme diekspresikan melalui wacana linguistik yang berisi kekhasan kehidupan pesantren dalam memperdalam spiritualitas islami dan kesederhanaan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membandingkan berbagai tradisi asketis yang dipraktikkan di pesantren di berbagai daerah. Selain itu, pelaksanaan survei terhadap para santri akan membantu mengungkap perspektif mereka mengenai bagaimana wacana kebahasaan membentuk dan memengaruhi ideal-ideal tersebut.
Reflection of Tawdid in 3D Miniature Art: Analysis of Surah Ibrahim 35 through Classical and Modern Tafsir Rusdeana, Rusdeana
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.37023

Abstract

The relationship between Tawhid and visual art remains one of the most profound and complex dimensions of Islamic civilization. Throughout history, Muslim artists have sought to reconcile the theological principle of divine unity with the human impulse for creativity and representation. Meanwhile, research on digital and 3D visualization in Islamic education primarily addresses technological or pedagogical aspects, often without theological grounding. Very few studies attempt to connect Qur’anic exegesis (tafsir) with modern visual technologies such as 3D miniature art. This study examines the reflection of Tawhid values in 3D miniature art through a comparative analysis of Surah Ibrahim 35 based on the interpretations of Al-Qurthubi and Wahbah az-Zuhaili. By integrating classical and contemporary tafsir with the cultural phenomenon of incomplete sculptures in the Middle East, this research explores how Islamic theological principles shape artistic ethics and modern visual expressions. Using a qualitative library-based method supported by thematic and hermeneutical analysis, the study finds that Al-Qurthubi emphasizes strict preventive measures against complete visual representation to safeguard the purity of monotheism, while Wahbah az-Zuhaili adopts a contextual approach that accommodates technological development as long as it serves educational and spiritual objectives. The findings reveal that the principle of Tawhid remains a crucial ethical framework for modern Islamic art, guiding the development of 3D miniature art in a manner that avoids idolatrous tendencies while enabling creativity, cultural preservation, and religious education. The implications of this study emphasize the integration of Tawhid values into Islamic art and modern technology. It can be done by encouraging Qur’an-based creativity, promoting 3D miniature technology in Islamic education, fostering collaboration between scholars and artists, and supporting Tawhid-oriented art initiatives to enhance spiritual awareness, da‘wah, and Islamic cultural identity. Hubungan antara Tawhid dan seni visual tetap menjadi salah satu dimensi paling mendalam dan kompleks dalam peradaban Islam. Sepanjang sejarah, para seniman Muslim telah berupaya mendamaikan prinsip teologis tentang keesaan Ilahi dengan dorongan manusia untuk berkreasi dan berepresentasi. Sementara itu, penelitian mengenai visualisasi digital dan 3D dalam pendidikan Islam umumnya berfokus pada aspek teknologi atau pedagogis, sering kali tanpa landasan teologis yang kuat. Hanya sedikit studi yang berusaha menghubungkan penafsiran Al-Qur’an (tafsir) dengan teknologi visual modern seperti seni miniatur 3D. Penelitian ini mengkaji refleksi nilai-nilai Tawhid dalam seni miniatur 3D melalui analisis komparatif terhadap Surah Ibrahim ayat 35 berdasarkan penafsiran Al-Qurthubi dan Wahbah az-Zuhaili. Dengan mengintegrasikan tafsir klasik dan kontemporer serta fenomena budaya patung tidak lengkap di Timur Tengah, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana prinsip teologis Islam membentuk etika artistik dan ekspresi visual modern. Melalui metode kualitatif berbasis kepustakaan yang didukung analisis tematik dan hermeneutik, penelitian ini menemukan bahwa Al-Qurthubi menekankan langkah-langkah preventif yang ketat terhadap representasi visual yang sempurna demi menjaga kemurnian tauhid, sementara Wahbah az-Zuhaili mengadopsi pendekatan kontekstual yang mengakomodasi perkembangan teknologi selama bertujuan edukatif dan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip Tawhid tetap menjadi kerangka etis yang sangat penting bagi seni Islam modern, yang berfungsi membimbing pengembangan seni miniatur 3D agar terhindar dari kecenderungan penyembahan berhala, sekaligus mendorong kreativitas, pelestarian budaya, dan pendidikan keagamaan. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai Tawhid dalam seni Islam dan teknologi modern, yang dapat dilakukan dengan mendorong kreativitas berbasis Al-Qur’an, memanfaatkan teknologi miniatur 3D dalam pendidikan Islam, memperkuat kolaborasi antara ulama dan seniman, serta mendukung inisiatif seni berlandaskan Tawhid untuk meningkatkan kesadaran spiritual, dakwah, dan identitas budaya Islam..
Reconstructing Qur’anic Reception Typology in Pesantren: Extending A. Rafiq’s Theory Jamil, Muhammad; Aswadi, Aswadi; Musafa''ah, Suqiyah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.35525

Abstract

Studies on the Living Qur’an in pesantren mostly emphasize exegetical, aesthetic, and functional aspects, with limited attention to how Qur’anic meaning emerges through lived experience. Prior research has also not examined how spiritual and socio-economic engagements with the Qur’an extend beyond Rafiq’s typology. This gap underscores the need to reassess Qur’anic reception through a phenomenological lens. This research examines the dynamics of Al-Qur'an reception in pesantren by expanding A. Rafiq's typology—which includes exegesis, aesthetics, and functional—through two new categories: eternal and economic reception. The study aims to reconstruct and enrich the Living Qur'an framework through daily practices in pesantren with different characteristics. Langitan Islamic Boarding School and al-Muhibbin Jatirogo Islamic Boarding School, Tuban were selected because they represent the two main pesantren models in Indonesia: salaf and modern. Langitan is known as a historical salaf pesantren that maintains classical methods such as sorogan, bandongan, and halaqah, along with a strong emphasis on classical texts and established traditions. Meanwhile, al-Muhibbin represents a modern pesantren with a collective management system, an integrated curriculum, and programs to strengthen foreign languages. This research uses a descriptive qualitative approach with Edmund Husserl's phenomenological analysis. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The results show that in a Husserlian phenomenological view, Qurʾānic reception in pesantren is seen as an intentional act of consciousness in which meaning emerges through lived experience rather than mere interaction with the text. Within this process, the Qurʾān functions as a dynamic noema shaped by communal practices and pedagogical structures, generating forms such as divine blessing, spiritual nobility, legitimized authority, and economic value. These findings show that Qur’anic meaning in pesantren is shaped through embodied practice and economic engagement. Further research may examine how these dimensions interact in pesantren and wider Muslim communities amid digitalization and modern educational reforms. Penelitian tentang Living Qur’an di pesantren selama ini lebih banyak menekankan aspek eksegesis, estetis, dan fungsional, sementara perhatian terhadap bagaimana makna Al-Qur’an terbentuk melalui pengalaman hidup masih terbatas. Kajian sebelumnya juga belum menelaah bagaimana keterlibatan spiritual dan sosial-ekonomi terhadap Al-Qur’an melampaui tipologi Rafiq. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya meninjau kembali resepsi Al-Qur’an dengan perspektif fenomenologis. Penelitian ini mengkaji dinamika resepsi Al-Qur’an di lingkungan pesantren dengan mengembangkan tipologi A. Rafiq—yang mencakup resepsi eksegetis, estetis, dan fungsional—melalui penambahan dua kategori baru, yaitu resepsi eternal dan resepsi ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi dan memperkaya kerangka Living Qur’an melalui praktik keseharian di pesantren yang memiliki karakteristik berbeda. Pesantren Langitan dan Pesantren al-Muhibbin Jatirogo, Tuban dipilih karena mewakili dua model utama pesantren di Indonesia, yakni salaf dan modern. Langitan dikenal sebagai pesantren salaf bersejarah yang mempertahankan metode klasik seperti sorogan, bandongan, dan halaqah, serta penekanan kuat pada kitab-kitab tradisional dan tradisi keagamaan. Sementara itu, al-Muhibbin merepresentasikan pesantren modern dengan sistem manajemen kolektif, kurikulum terpadu, dan program penguatan bahasa asing. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis fenomenologi Edmund Husserl. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pandangan fenomenologi Husserlian, resepsi Al-Qur’an di pesantren dipahami sebagai tindakan kesadaran intensional, di mana makna muncul melalui pengalaman hidup, bukan semata-mata interaksi tekstual. Dalam proses tersebut, Al-Qur’an berfungsi sebagai noema yang dinamis, dibentuk oleh praktik komunal dan struktur pedagogis, sehingga memunculkan bentuk-bentuk seperti berkah ilahi, kemuliaan spiritual, otoritas yang dilegitimasi, dan nilai ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa makna Al-Qur’an di pesantren terbentuk melalui praktik keagamaan yang dihayati secara langsung dan melalui keterlibatan ekonomi komunitas. Penelitian lanjutan perlu mengkaji lebih jauh interaksi antara dimensi ekonomi dan transendental dari resepsi Al-Qur’an di pesantren maupun masyarakat Muslim yang lebih luas, khususnya dalam konteks digitalisasi dan kebijakan pendidikan modern.
The Dialectics Wayang in The Wali Songo’s Da'wah: Qur'an and Hadith Perspective Kudhori, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.36314

Abstract

After Ustadz Khalid Basalamah prohibited Wayang performances in one of his lectures, public debate intensified regarding their legal status in Islamic law. Although discussions on the legality of Wayang are not new and date back to the Wali Songo era, previous studies have rarely examined the specific jurisprudential reasoning that enabled the Wali Songo to employ Wayang as a medium of da'wah within the Syafi‘i framework. This study fills that gap by analyzing how the Wali Songo justified Wayang performance through the permissive opinion of al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, who allowed two-dimensional depictions of animate beings. However, over time, scholars negotiated this dialectic, enabling Wayang to be utilized as an effective medium of da'wah by the Wali Songo. This article investigates how the Wali Songo justified the use of Wayang as a da'wah medium despite the prohibitive stance of the Syafi‘i school. This study employs a qualitative library-research approach, using content analysis and descriptive-analytical methods. Evidence indicates that the Wali Songo likely adopted the opinion of al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, who allowed two-dimensional depictions of animate beings based on several prophetic traditions. Their position reflects a non-rigid, moderate approach that prioritizes broader public benefit (maslahah) when addressing communal issues, particularly in formulating effective da'wah strategies. These findings suggest that modern Islamic educators, artists, and preachers can draw upon the Wali Songo’s method as a model for integrating cultural media with Islamic ethics—emphasizing moderation, creativity, and contextual wisdom in delivering religious messages. Future research should undertake comparative jurisprudence by examining the arguments of al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr alongside other Sunni legal schools to further justify the Wali Songo’s reasoning. Such studies may also explore the application of maslahah in the use of contemporary media as tools for Islamic da'wah. Setelah Ustadz Khalid Basalamah melarang pertunjukan Wayang dalam salah satu ceramahnya, perdebatan publik semakin menguat mengenai status hukumnya dalam pandangan syariat Islam. Meskipun diskusi tentang legalitas Wayang bukanlah hal baru dan telah muncul sejak masa Wali Songo, penelitian-penelitian sebelumnya jarang menelaah secara spesifik dasar pertimbangan fikih yang memungkinkan Wali Songo menggunakan Wayang sebagai media dakwah dalam kerangka mazhab Syafi‘i. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana Wali Songo membenarkan penggunaan Wayang melalui pandangan permisif al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr, yang memperbolehkan penggambaran makhluk hidup dalam bentuk dua dimensi. Seiring waktu, para ulama menegosiasikan dialektika ini, sehingga Wayang dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai sarana dakwah oleh Wali Songo. Artikel ini menelusuri bagaimana Wali Songo membenarkan penggunaan Wayang sebagai media dakwah meskipun terdapat larangan ketat dalam mazhab Syafi‘i. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kepustakaan dengan metode analisis isi dan deskriptif-analitis. Temuan menunjukkan bahwa Wali Songo kemungkinan besar mengadopsi pendapat al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr yang memperbolehkan gambar dua dimensi makhluk hidup berdasarkan beberapa hadis Nabi. Pendekatan mereka mencerminkan sikap moderat dan tidak kaku yang mengutamakan kemaslahatan umum (maslahah) dalam menyelesaikan persoalan keagamaan, khususnya dalam merumuskan strategi dakwah yang efektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para pendidik, seniman, dan dai Muslim modern dapat meneladani metode Wali Songo sebagai model integrasi antara media budaya dan etika Islam—dengan menekankan moderasi, kreativitas, dan kearifan kontekstual dalam menyampaikan pesan keagamaan. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan kajian perbandingan hukum Islam dengan menelaah argumen al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr bersama mazhab-mazhab Sunni lainnya untuk memperkuat justifikasi rasional Wali Songo. Kajian lanjutan juga dapat mengeksplorasi penerapan prinsip maslahah dalam penggunaan media kontemporer sebagai sarana dakwah Islam.
Stoic Resilience, Moral Autonomy, and The Dichotomy of Control Parallel Tawakkul, Sabr, and Ikhtiyar Kuznetsov, Michael
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.36570

Abstract

The need to uncover how Islamic intellectual and spiritual traditions have historically interacted with non-Islamic systems of thought to develop a distinct ethical psychology grounded in revelation. Despite the Qur’an and Islamic scholarship offering profound frameworks for emotional resilience—such as tawakkul, ṣabr, and riḍā bi’l-qaḍā’—the specific historical reception of Epictetus’s Stoic ethics within Islamic thought remains largely underexplored. This research addresses that gap by systematically tracing how Muslim philosophers and theologians received, adapted, or Islamized Epictetus’s ideas of self-mastery and rational discipline. Its novelty lies in integrating historical-philosophical analysis with contemporary Islamic psychology, thereby offering a new interpretive bridge between Stoic practical ethics and Qur’anic models of inner reform and mental resilience. This article examines Epictetus’ Stoicism as a timeless practical philosophy of moral freedom and resilience, with particular emphasis on its striking structural parallels and historical reception within Islamic ethical thought. The central purpose is to demonstrate that the famous Stoic “dichotomy of control” (what is eph’ hēmin and what is not), the discipline of assent, and the concept of the inner citadel find close equivalents in core Islamic concepts of ikhtiyār (sphere of moral choice), tawakkul (trust in divine decree), sabr (patient perseverance), and riḍā bi’l-qaḍāʾ (contentment with God’s ordainment). Using a comparative textual and historical-critical method, the study analyses primary sources from Epictetus (Discourses and Enchiridion) alongside Muslim thinkers who explicitly or implicitly engaged Stoic ideas. The analysis reveals that Stoic therapeutic techniques entered the Islamic tradition through the Graeco-Arabic translation movement and were consciously adapted to enrich Qurʾānic-Sufi ethics of self-mastery and spiritual resilience. The scholarly contribution of this study goes beyond general “Stoicism–Islam” comparisons. It demonstrates how Epictetus’ practical methods were integrated into Islamic moral psychology. This approach provides contemporary Muslim scholarship with a pre-modern, cross-cultural resource to address mental health, ethical decision-making amid uncertainty, and cosmopolitan responsibility in a globalized world. Kebutuhan untuk mengungkap bagaimana tradisi intelektual dan spiritual Islam secara historis berinteraksi dengan sistem pemikiran non-Islam guna mengembangkan psikologi etis yang khas dan berlandaskan wahyu masih sangat penting. Meskipun Al-Qur’an dan khazanah keilmuan Islam telah menawarkan kerangka mendalam bagi ketangguhan emosional—seperti tawakkul, ṣabr, dan riḍā bi’l-qaḍā’—penerimaan historis terhadap etika Stoa Epictetus dalam pemikiran Islam masih jarang dikaji secara mendalam. Penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menelusuri secara sistematis bagaimana para filsuf dan teolog Muslim menerima, mengadaptasi, atau mengislamkan gagasan Epictetus tentang penguasaan diri dan disiplin rasional. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi antara analisis historis-filosofis dan psikologi Islam kontemporer, sehingga menghadirkan jembatan interpretatif baru antara etika praktis Stoa dan model Qur’ani tentang reformasi batin serta ketangguhan mental. Artikel ini mengkaji Stoikisme Epiktetus sebagai filosofi praktis kebebasan moral dan ketahanan yang abadi, dengan penekanan khusus pada kesejajaran strukturalnya yang mencolok dan penerimaan historisnya dalam pemikiran etika Islam. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan bahwa "dikotomi kendali" Stoik yang terkenal (apa yang eph’ hēmin dan apa yang tidak), disiplin persetujuan (assent), dan konsep benteng batin memiliki padanan yang erat dalam konsep inti Islam: ikhtiyār (lingkup pilihan moral), tawakkul (kepercayaan pada ketetapan ilahi), sabr (ketekunan yang sabar), dan riḍā bi’l-qaḍāʾ (kerelaan terhadap ketetapan Tuhan). Dengan menggunakan metode komparatif tekstual dan historis-kritis, penelitian ini menganalisis sumber-sumber primer dari Epiktetus (Discourses dan Enchiridion) di samping para pemikir Muslim yang secara eksplisit atau implisit melibatkan ide-ide Stoik. Analisis mengungkapkan bahwa teknik terapeutik Stoik memasuki tradisi Islam melalui gerakan penerjemahan Yunani-Arab dan secara sadar diadaptasi untuk memperkaya etika Al-Qur'an-Sufi tentang penguasaan diri dan ketahanan spiritual. Kontribusi ilmiah dari penelitian ini melampaui perbandingan umum antara “Stoisime dan Islam.” Studi ini menunjukkan bagaimana metode praktis Epictetus diintegrasikan ke dalam psikologi moral Islam. Pendekatan ini memberikan khazanah keilmuan Islam kontemporer sumber daya lintas budaya dari masa pra-modern untuk menghadapi isu kesehatan mental, pengambilan keputusan etis di tengah ketidakpastian, serta tanggung jawab kosmopolitan dalam dunia yang semakin mengglobal.
Islamic Contributions to Scientific and Technological Development in Astronomy, Mathematics, Medicine, and Chemistry Putra, Yandra Agusta; Mujab, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.37106

Abstract

This research discusses the contribution of Islamic civilization to the development of world science and technology and examines the role of Muslim scholars in shaping a scientific paradigm rooted in Islamic spiritual values and rationality. Based on the Eurocentric view dominating scientific historiography, the research gap identifies the urgent need for a comprehensive study that positions the Islamic contribution within an integrative, holistic, and value-based scientific paradigm. The novelty of this study lies in its comparative approach, demonstrating that Islamic scientific development possessed distinct epistemic, methodological, and ethical orientations thereby offering an alternative, ethically-oriented model of science insufficiently explored in previous research. Therefore, the purpose of this study is to reveal how Islam not only served as a medium for the transmission of knowledge from Greek civilization but also as an originator of a rational and ethical scientific method. This study uses a qualitative approach through a literature review by analyzing classical works of Muslim scholars and contemporary literature on the history of Islamic science. The results show that Muslim scholars such as Al-Battani, Al-Khawarizmi, Ibn Sina, and Al-Razi made fundamental contributions in the fields of astronomy, mathematics, medicine, and chemistry. Their contributions were not only technical but also epistemological, emphasizing the integration of revelation and reason as the foundation of knowledge pursuit. These findings indicate that the Islamic scientific paradigm is holistic, oriented toward public welfare, and rejects the dichotomy between science and religion. The implications of this research highlight the importance of reconstructing the epistemology of Islamic science in contemporary education and research contexts to build a just and sustainable civilization of knowledge. Thus, the reconstruction of Islamic science epistemology is not merely a historical endeavor, but a strategic step to rebuild the orientation of science rooted in the values of monotheism, ethics, and universal welfare. Penelitian ini membahas kontribusi peradaban Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia serta menguji peran para ilmuwan Muslim dalam membentuk paradigma ilmiah yang berakar pada nilai-nilai spiritual dan rasionalitas Islam. Berdasarkan pandangan Eurosentris yang mendominasi historiografi ilmiah, kesenjangan penelitian mengidentifikasi kebutuhan mendesak akan studi komprehensif yang memposisikan kontribusi Islam dalam paradigma ilmiah yang integratif, holistik, dan berbasis nilai. Kebaruan dari studi ini terletak pada pendekatan komparatifnya, yang menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan Islam memiliki orientasi epistemik, metodologis, dan etis yang berbeda, sehingga menawarkan model ilmu pengetahuan alternatif yang berorientasi etis yang belum cukup dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana Islam tidak hanya berfungsi sebagai media transmisi pengetahuan dari peradaban Yunani, tetapi juga sebagai pencetus metode ilmiah yang rasional dan etis. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan literatur dengan menganalisis karya-karya klasik para ilmuwan Muslim dan literatur kontemporer tentang sejarah ilmu pengetahuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim seperti Al-Battani, Al-Khawarizmi, Ibn Sina, dan Al-Razi memberikan kontribusi mendasar dalam bidang astronomi, matematika, kedokteran, dan kimia. Kontribusi mereka tidak hanya bersifat teknis tetapi juga epistemologis, menekankan integrasi wahyu dan akal sebagai fondasi pencarian pengetahuan. Temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa paradigma ilmiah Islam adalah holistik, berorientasi pada kesejahteraan publik, dan menolak dikotomi antara sains dan agama. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya merekonstruksi epistemologi ilmu pengetahuan Islam dalam konteks pendidikan dan penelitian kontemporer untuk membangun peradaban pengetahuan yang adil dan berkelanjutan. Dengan demikian, rekonstruksi epistemologi ilmu pengetahuan Islam bukan sekadar upaya historis, melainkan langkah strategis untuk membangun kembali orientasi ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai tauhid, etika, dan kesejahteraan universal.
Interweaving Javanese Cultural Wisdom and Islamic Leadership Ethics: An Analysis of Arjuna in Arjunawiwaha Fitriana, Tya Resta; Sulaksono, Djoko; Veronika, Prima; Islahuddin, Islahuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.34207

Abstract

This study addresses the growing need to reinterpret classical Javanese figures through an Islamic ethical lens, offering a unique framework for understanding indigenous models of moral leadership. Previous studies have not yet examined how the concept of leadership in Arjuna Wiwaha can be interpreted through the framework of Islamic moral and ethical principles. Therefore, this study offers a novel perspective by integrating Javanese cultural wisdom and Islamic leadership ethics to reinterpret Arjuna’s character as a model of moral and social leadership in the Javanese-Islamic context. The aim of this paper is to examine Arjuna's leadership as depicted in the Javanese puppet story of Arjunawiwaha, focusing on the integration of Javanese social wisdom and Islamic moral leadership. In the context of Javanese-Islamic reinterpretation, Arjuna, traditionally considered a holy man in Hindu-Buddhist legends, is reimagined as a perfect pioneer. Using a cultural hermeneutic approach and comparative analysis, this investigation examines how Islamic leadership principles, including trust (Siddiq), dependability (Amanah), insight (Fathanah), and the obligation to convey the truth (Tabligh), are integrated into Arjuna's leadership narrative. The study, furthermore, highlights key Javanese social values such as humility, resilience, and wisdom, adapted from Islamic moral lessons. Through a careful examination of Arjunawiwaha, this paper illustrates a method of social adjustment and integration, which examines knowledge of how Javanese Islamic characters shape conceptualizations of governance in conventional and modern environments. The use of an interdisciplinary approach that integrates Javanese cultural wisdom and Islamic leadership ethics in analyzing the character of Arjuna in the Arjunawiwaha is a perspective still rare in leadership studies based on classical Javanese literary texts. This research thus positions the Javanese-Islamic leadership synthesis as a relevant ethical paradigm in Southeast Asia and beyond. The finding also offers a framework for culture-based leadership training integrating Javanese and Islamic values to foster ethical, culturally sensitive, and spiritually grounded leaders. Penelitian ini menanggapi meningkatnya kebutuhan untuk menafsirkan kembali tokoh-tokoh klasik Jawa melalui lensa etika Islam, dengan menawarkan kerangka unik untuk memahami model kepemimpinan moral yang bersifat lokal. Penelitian-penelitian sebelumnya belum mengkaji bagaimana konsep kepemimpinan dalam Arjuna Wiwaha dapat diinterpretasikan melalui kerangka prinsip moral dan etika Islam. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan mengintegrasikan kearifan budaya Jawa dan etika kepemimpinan Islam untuk menafsirkan kembali karakter Arjuna sebagai model kepemimpinan moral dan sosial dalam konteks Jawa-Islam. Makalah ini menganalisis kepemimpinan Arjuna sebagaimana digambarkan dalam kisah pewayangan Jawa tentang Arjunawiwaha, dengan fokus pada penggabungan kearifan sosial Jawa dan moral kepemimpinan Islam. Dalam konteks penafsiran ulang Jawa-Islam, Arjuna, yang secara tradisional dianggap sebagai orang suci dalam legenda Hindu-Buddha, dibayangkan kembali sebagai seorang pelopor yang sempurna. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika budaya dan analisis komparatif, penyelidikan ini menyelidiki bagaimana prinsip-prinsip kepemimpinan Islam seperti kepercayaan (Siddiq), ketergantungan (Amanah), wawasan (Fathanah), dan kewajiban untuk menyampaikan kebenaran (Tabligh) dimasukkan dalam kisah kepemimpinan Arjuna. Pengkajian tersebut, lebih jauh, menyoroti nilai-nilai sosial Jawa yang utama seperti kerendahan hati, ketahanan, dan kearifan, yang diadaptasi dari pelajaran moral Islam. Melalui penelaahan Arjunawiwaha yang cermat, makalah ini menggambarkan metode penyesuaian dan integrasi sosial, yang mengkaji pengetahuan tentang bagaimana karakter Jawa-Islam membentuk konseptualisasi pemerintahan dalam lingkungan konvensional dan modern. Penggunaan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan kearifan budaya Jawa dan etika kepemimpinan Islam dalam menganalisis tokoh Arjuna dalam Arjunawiwaha, sebuah perspektif yang masih jarang dalam kajian kepemimpinan berbasis teks sastra klasik Jawa. Sehingga penelitian ini bisa menempatkan sintesis kepemimpinan Jawa Islam sebagai paradigma etis yang relevan di Asia Tenggara dan sekitarnya. Temuan penelitian ini juga menawarkan kerangka pelatihan kepemimpinan berbasis budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai Jawa dan Islam untuk membentuk pemimpin yang beretika, peka budaya, dan berlandaskan spiritual.
The Tradition of Postponing Cohabitation until Walimatul ‘Ursy in Cerenti: Durkheim’s solidarity analysis Musdalifa, Musdalifa; Riyadi, Alif Andaru; Rahmayani, Rahmayani; Nisa, Khoirun; Syahid, Abdur Rahman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.36881

Abstract

Marriage customs in Malay communities continue to evolve amid shifting social values, yet scholarly attention to how local traditions mediate the relationship between Islamic law and indigenous norms remains limited. Although various studies have examined marriage rituals in Indonesia, no research has specifically analyzed the tradition of postponing cohabitation until the walimatul ‘ursy in Cerenti District, nor how this custom functions as a socio-religious mechanism that maintains communal harmony. This gap highlights the urgency of investigating how the practice negotiates the potential tension between Islamic permissibility for immediate cohabitation and customary restrictions rooted in Malay moral philosophy. Its novelty lies in analyzing Malay marriage traditions through the perspective of social cohesion, demonstrating how local and religious values interact in shaping social order. This study discusses the tradition of postponing cohabitation until walimatul ‘ursy (wedding celebration) in the Malay community in Cerenti District as a socio-religious practice that reflects the balance between Islamic customs and sharia, and functions as a social mechanism that strengthens community cohesion. The purpose of the research is to analyze the social function and religious value of the tradition through Emile Durkheim's theory of social solidarity. The research uses a qualitative approach with field data through in-depth interviews with four indigenous figures, data analysis is carried out descriptive-analytically using Durkheim's concept of mechanical and organic solidarity. The results of the study show that postponing cohabitation serves as a mechanism of self-control, family respect, and guardian of the sanctity of marriage. These findings confirm that the tradition strengthens social unity through the common values and collective norms of the Cerenti community. Practically, this research provides insights applicable to family development and the preservation of customs based on Islamic values. In conclusion, this tradition does not restrict individuals freedom but plays a role in maintaining the moral and social balance of the community. Tradisi pernikahan dalam masyarakat Melayu terus mengalami dinamika seiring perubahan nilai sosial, namun kajian ilmiah mengenai bagaimana adat lokal memediasi hubungan antara hukum Islam dan norma budaya masih terbatas. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas ritual pernikahan di Indonesia, belum ada studi yang secara khusus menganalisis tradisi penundaan tinggal bersama hingga pelaksanaan walimatul ‘ursy di Kecamatan Cerenti, maupun bagaimana praktik tersebut berfungsi sebagai mekanisme sosial-keagamaan yang menjaga keharmonisan komunal. Kekosongan kajian ini menunjukkan urgensi untuk menelusuri bagaimana tradisi tersebut merundingkan potensi ketegangan antara kebolehan syariat untuk langsung tinggal bersama dan pembatasan adat yang berakar pada filosofi moral masyarakat Melayu. Kebaruan penelitian terletak pada analisis tradisi pernikahan Melayu melalui perspektif kohesi sosial yang menunjukkan bagaimana nilai lokal dan religius berinteraksi dalam membentuk ketertiban sosial. Penelitian ini membahas tradisi penundaan tinggal bersama hingga walimatul ‘ursy pada masyarakat Melayu di Kecamatan Cerenti sebagai praktik sosial keagamaan yang mencerminkan keseimbangan antara adat dan syariat Islam, serta berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis fungsi sosial dan nilai religius tradisi tersebut melalui teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data lapangan melalui wawancara mendalam dengan empat tokoh adat, analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan konsep solidaritas mekanik dan organik Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan tinggal bersama berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri, penghormatan keluarga, dan penjaga etika kesucian pernikahan. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tersebut memperkuat kesatuan sosial melalui kesamaan nilai dan norma kolektif masyarakat Cerenti. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan yang dapat diterapkan dalam pembinaan keluarga dan pelestarian adat berbasis nilai Islam. Kesimpulannya, tradisi ini tidak membatasi kebebasan individu, tetapi berperan menjaga keseimbangan moral dan sosial dalam komunitas..

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue