cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Ikon Tradisi Ba’do Katupat sebagai Refleksi Kebudayaan Masyarakat Jaton di Sulawesi Utara Djojosuroto, Kinayati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2767

Abstract

Ba’do Katupat celebration is a tradition of Jawa Tondano (Jaton) village hold annually. It has a deep meaning to strengthen the relationship, forgive each other, as well as be grateful  for the success of fasting for the whole month. No wonder the celebration is always crowded with thousands of people from different areas, ages and beliefs, and carried out for the whole day. Ba’do Ketupat is an inherited tradition from Diponegoro, Kiai Mojo, and his followers. This Javanese tradition heritage can be found in Tondano, Minahasa as a ceremonial event held annually by people in Jaton village one week after Eid  Ba’do Ketupat contains cultural values   that include local and cultural values, as the icon and identity of  Jaton in Minahasa, as well as the acculturation resulting in solidarity and tolerance. This culture unites the minority of Jaton people with the majority of Minahasa people. The religious ritual performed by Jaton people and other Muslim accomplishes religious obligations in order to increase devotion towards Allah SWT and not to create difference. Perayaan Ba’do Katupat merupakan tradisi kampung Jawa Tondano yang dilaksanakan setiap tahun. Acara ini memiliki makna yang mendalam yaitu untuk memperkokoh tali silaturahim, bermaaf-maafan, sekaligus ucapan syukur atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa sebulan lamanya. Tak heran perayaan tersebut selalu dipadati ribuan masyarakat dari berbagai daerah, usia dan keyakinan dan berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Ba’do Katupat merupakan tradisi yang diwariskan Diponegoro, Kiai Mojo dan pengikut - pengikutnya. Tradisi ini adalah warisan tradisi Jawa yang ada di Tondano Minahasa dan menjadi acara seremonial yang setiap tahun diselenggarakan warga di Kampung Jaton setelah lewat satu minggu lebaran. Ba’do Katupat mengandung nilai-nilai budaya yang mencakup kearifan lokal dan kearifan budaya Jaton, sebagai ikon dan identitas warga Jaton di Minahasa, serta sebagai akulturasi budaya sehingga terjadi solidaritas dan toleransi. Budaya tersebut mempersatukan penduduk minoritas Jaton dengan penduduk mayoritas Minahasa. Ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang Jaton maupun Muslim yang lain merupakan pelaksanaan kewajiban agama dalam upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan bukan menciptakan perbedaan.
Muslimah’s Clothing Brand, Identity, and Myths in Barthes Semiotic Study Wardiani, Sri Rijati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i1.6188

Abstract

This study discusses the phenomenon of the proliferation of Muslimah clothing products along with the wave of ‘Hijrah’ movement in Indonesia. Muslimah clothing is displayed with a variety of brands which are related to certain classes and identities. Muslimah clothing also contains myths in the context of Barthes. The purpose of this study is to reveal the relationships between these variables. The study employed a qualitative description method with Barthes’s semiotic theory through the stages of denotation and connotation analysis. The results of the study indicate the relationship between brand and consumer identity. Muslimah clothing is a marker (acoustic image), and as the symbols (concepts) are “clothing and accessories used by Muslim women.” The relationship (sign) between markers and symbols, in this case, is a religious relationship. Penelitian ini mendiskusikan fenomena maraknya produk busana muslimah seiring dengan gelombang gerakan ‘hijrah’ di Indonesia. Busana muslimah ditampilkan dengan beragam brand yang bila dikaji terkait dengan kelas dan identitas tertentu. Di dalam busana muslimah juga terkandung mitos dalam konteks Barthes. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap relasi di antara variabel-variabel tersebut. Kajian menggunakan metode deskripsi-kualitatif dengan teori semiotika Barthes melalui tahapan analisis denotasi dan konotasi. Hasil penelitian menunjukkan keterkaitan antara brand dan identitas konsumen. Busana muslimah adalah penanda (gambaran akustik),sedangkan yang menjadi petanda (konsep) adalah ‘busana dan kelengkapannya yang digunakan oleh perempuan beragama Islam’. Hubungan (tanda) di antara penanda dan petanda dalam hal ini adalah relasi keagamaan.
Developing Religious Culture through Integrative Religious Practice in Indonesian State Islamic University Ali, Nur; Miftahusyai'an, Mohammad; Prasetyo, Angga Teguh; Muttaqin, Muhammad Imamul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v22i1.8726

Abstract

Higher education has been accused as an environment which has less moral and religious values. The negative stereotype became more evident when some higher education institutions involved in some disputes such as brawl among students, and riots in Ramadhan and at the time of sahur. There is also State Islamic Higher Education Institution (PTKIN) among the campuses. However, some SIHEIs have constructed religious culture through Integrative Religious Practices (IRP). The paper aims at evaluating the IRP as a strategy in building campus religious culture. Interview, participant observation, and data analysis lead to the finding that IRP development was formally done in class and was informally and ceremonially applied outside the class through ma’had, students’ organizations, cooperation with religious institutions, and relation across region and professions can build campus religious culture. Moreover, it also improves students’ ethical behavior, empathy, and tolerant. The study suggests that religious subject in higher education and schools is developed using IRP and involves relevant units and religious organizations outside campus to improve the understanding on the socio-religious value to establish ethical, tolerant, empathy, and cooperative behavior. Perguruan Tinggi telah dituduh sebagai lingkungan yang kurang mencerminkan nilai-nilai moral dan religius. Stereotip buruk ini makin diperkuat dengan keterlibatan PT dalam beberapa kericuhan seperti tawuran mahasiswa serta tawuran di bulan Ramadhan dan di waktu sahur. Di antara perguruan tinggi tersebut terdapat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Namun ada juga PTKIN yang telah membangun budaya religius melalui Praktik Keagamaan Integratif (PKI). Tulisan ini mengevaluasi PKI sebagai strategi dalam membangun budaya religius di kampus. Wawancara, observasi partisipan, dan analisis data yang dilakukan menghasilkan temuan bahwa pengembangan PKI yang dilakukan secara formal di kelas dan diaplikasikan nonformal dan seremonial di luar kelas melalui ma’had, organisasi kemahasiswaan, kerjasama dengan lembaga keagamaan, dan pergaulan lintas daerah dan profesi dapat membangun budaya religius di kampus. Selain itu, hal itu juga dapat menumbuhkan sikap etis, empati, dan toleran di kalangan mahasiswa. Tulisan ini menyarankan agar materi keagamaan di PT dan sekolah dikembangkan dengan praktik keagamaan integratif dan melibatkan berbagai unit terkait dan organisasi keagamaan di luar kampus untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai sosial-keagamaan sehingga menumbuhkan perilaku agamis, toleran, empati, dan sikap saling menghargai.
Manusia Indonesia dan Keterputusan Budaya Anas, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i1.422

Abstract

Culture becomes the core and the starting point as well in building a great civilization. It includes various thinking system, cultural characteristics, social wishes, and cultural products. Ibn Khalduns concept of culture includes many more elements. Umran (culture) as human creation has a historical dimension. According to Khaldun, culture is not only a heritage from the previous culture, but also umran in becoming. Then, the principle of infisal (discontinue) becomes typical characteristics of society because the principle of separation or discontinuity views that all elements in universe are unrelated to each other. The principle of discontinuity is based on the influence of geographical condition. Besides, some sociological and cultural characteristics also influence rural and urban social lives. The finding of the concept of culture in designing Islamic culture in the future is done by considering historical aspects and factors supporting social change in Islam. This concept can be used as a reference in discussing the characteristics of Moslem society in the future and a progressive dimension of change in Islam. Budaya menjadi inti dan titik awal dalam membangun peradaban yang hebat. Ini mencakup berbagai sistem berpikir, karakteristik budaya, keinginan sosial, dan produk budaya. Konsep budaya Ibn Khaldun mencakup lebih banyak elemen. Umran (budaya) sebagai ciptaan manusia memiliki dimensi historis. Menurut Khaldun, budaya bukan hanya warisan dari budaya sebelumnya, tapi juga proses membentuk budaya. Kemudian, prinsip infisal (hentikan) muncul karena prinsip pemisahan atau diskontinuitas pandangan bahwa semua elemen di alam semesta tidak saling berhubungan satu sama lain. Prinsip diskontinuitas didasarkan pada pengaruh kondisi geografis. Selain itu, beberapa karakteristik sosiologis dan budaya juga mempengaruhi kehidupan sosial pedesaan dan perkotaan. Temuan konsep budaya dalam merancang budaya Islam di masa depan terjadi dengan mempertimbangkan aspek sejarah dan faktor pendukung perubahan sosial dalam Islam. Konsep ini bisa dijadikan referensi dalam membahas karakteristik masyarakat muslim di masa depan dan dimensi progresif perubahan dalam Islam.
Eksistensi Peradilan HAM terhadap Pelanggaran HAM di Timor Timur Herry, Musleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i1.4725

Abstract

The state of Indonesia is a state based on law (rechtstaat) and not based on mere power (machststaat). This implies that the state, including the Government and other state institutions in carrying out any action must be lawful or legally accountable. Human rights are principally universally applicable, but their applications vary greatly according to the style and basic attitudes of cultures adopted by a nation. Human rights in the country of Indonesia starting from the disappearance of East Timor post-opinion that accuses the involvement of the Indonesian military is behind it, the new draft law (RUU) is based on an agreement between the drafting team of the bill consisting of experts and legal practitioners and Parliament will impose these laws will retroactively apply indefinitely. Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat) dan tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machststaat). Ini mengandung arti bahwa negara, termasuk didalamnya Pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus berdasarkan hukum atau harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Hak Asasi Manusia pada prinsipnya berlaku secara universal, hanya saja aplikasinya sangat bervariasi sesuai dengan corak dan sikap dasar budaya yang dianut oleh suatu bangsa. Hak Asasi Manusia dinegara Indonesia mulai dari pembumi-hangusan Timor Timur pasca pendapat yang menuding keterlibatan militer Indonesia berada dibelakang semua itu, baru rancangan undang-undang (RUU) inilah berdasarkan kesepakatan antara tim penyusun RUU yang terdiri dari pakar dan praktisi hukum dan DPR akan memberlakukan undang-undanng ini nantinya berlaku surut (retroactive) tanpa batas waktu.
Dimensi Spiritual Kebudayaan di Tengah Relasi yang Timpang antara Utara dan Selatan Tasrif, Muh.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i2.4429

Abstract

Moslem society as a part of the population of the south world, culturally, is in the influence of the hegemony of non-moslem culture, mainly, European, American, and Australian as parts of the north world population. Until the mid twentieth century, the hegemony existed in the form of military imperialism. Meanwhile, in the post mid twentieth century the hegemony changed into cultural imperialism in many areas, such as social, economic, social and even art. The countries of the south world have really done some efforts to face the neo imperialism, but have not suceeded well. Therefore, more serious effort should be done to face the neo imperialism, that is the creativity to make the European and American cultural products as materials that can be creatively rearranged and matched with the local culture. In the creative process the spiritual dimension of culture should become the basis of cultural production process at present and in the future to create a fair relation. The use of spiritual dimension of culture can create new cultural products. In turn, the cultural products of the south world will exist, and finally they can be exchanged with the products of the north world. This is what China is doing with its developing economic power to balance out the domination of Europe and America. The same hopefully appears from the Islam world although it needs more serious cultural works. According to Faisal Ismail, the awakening of Islam and its culture depend on the moslem themselves and their cultural works. Masyarakat Muslim sebagai bagian dari populasi dunia selatan, secara kultural, berada dalam pengaruh hegemoni budaya non-muslim, terutama Eropa, Amerika, dan Australia sebagai bagian dari populasi dunia utara. Sampai pertengahan abad ke-20, hegemoni itu ada dalam bentuk imperialisme militer. Sementara itu, pada pertengahan abad ke-20 hegemoni berubah menjadi imperialisme budaya di banyak bidang, seperti sosial, ekonomi, sosial dan bahkan kesenian. Negara-negara di dunia selatan telah benar-benar melakukan beberapa upaya untuk menghadapi imperialisme neo, namun belum berhasil dengan baik. Karena itu, usaha yang lebih serius harus dilakukan untuk menghadapi neo imperialisme, yaitu kreativitas membuat produk budaya Eropa dan Amerika sebagai bahan yang bisa ditata ulang secara kreatif dan disesuaikan dengan budaya lokal. Dalam proses kreatif dimensi spiritual budaya harus menjadi dasar proses produksi budaya saat ini dan di masa depan untuk menciptakan hubungan yang adil. Penggunaan dimensi spiritual budaya bisa menciptakan produk budaya baru. Pada gilirannya, produk budaya dunia selatan akan ada, dan akhirnya mereka bisa dipertukarkan dengan produk-produk dari dunia utara. Inilah yang dilakukan China dengan kekuatan ekonomi yang berkembang untuk mengimbangi dominasi Eropa dan Amerika. Hal yang sama semoga muncul dari dunia Islam meski membutuhkan karya budaya yang lebih serius. Menurut Faisal Ismail, kebangkitan Islam dan budayanya bergantung pada umat Islam sendiri dan karya budaya mereka.
Orientasi Pendidikan Berwawasan Kebangsaan Hasyim, Farid
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i2.5140

Abstract

Restoration and educational reform can be a moment of self-awareness as a nation of justice and equality issues. Sensitivity to economic and social inequalities should grow in the awareness of society, more so with an increasingly erratic atmosphere, and this moment will be useless if education is not directed to openness, critical nature and respect for the diversity of political, economic, social and culture of the true nation that is in accordance with the 1945 Constitution and the philosophy of the state and nation of Indonesia. Restorasi dan reformasi pendidikan bisa menjadi momen penyadaran diri sebagai bangsa akan masalah keadilan dan kesetaraan. Kepekaan terhadap kesenjangan ekonomi dan sosial seharusnya semakin tumbuh dalam kesadaran masyarakat , lebih-lebih dengan adanya suasana yang semakin tidak menentu, dan momen ini akan sia-sia bila pendidikan tidak diarahkan kepada keterbukaan, sifat kritis serta menghormati keanekaragaman struktur politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa yang benar yang sesuai dengan UUD 45 dan falsafah negara dan bangsa Indonesia.
Aksiologi dalam Perspektif Islam Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v4i2.4632

Abstract

Islam is the religion of Allah which contains the teachings and guidance that must be held and used as a guidance by its adherents to the happiness of the world and in the afterlife. The teachings of Islam include the teachings of monotheism and shari'a or faith and charity. Of course these aspects of Islamic teachings must be understood well through learning or seeking knowledge. This is where science is necessary and important. Thus science is part of the religion itself. It occupies a position or as part of religion and has a function as an instrument or means to obtain the goal of religion, which is to obtain the happiness of the world and the hereafter. In other words, the relationship between religion and science is symbiotic, because religion calls on the pursuit of science and gives a noble position to the scientist. Similarly, the relationship occurs between religion and philosophy. Both have the same direction. Philosophy is the knowledge of what is right. The religion explains what is right and good based on revelation and reason. Islam adalah agama Allah SWT yang berisikan ajaran-ajaran dan tuntunan yang harus dipegang dan dijadikan pedoman oleh pemeluknya untuk kebahagiaan dunia maupun di akhirat. Ajaran-ajaran Islam tersebut meliputi ajaran tauhid dan syari’ah atau iman dan amal. Sudah barang tentu aspek-aspek ajaran Islam tersebut harus dipahami dan dimengerti melalui belajar atau mencari ilmu. Di sinilah ilmu itu perlu dan penting. Dengan demikian ilmu merupakan bagian dari agama itu sendiri. Ia menempat posisi atau kedudukan sebagai bagian dari agama dan memiliki fungsi sebagai instrumen/sarana untuk memperoleh tujuan agama, yaitu memperoleh kebahagiaan dunia maupun akhirat. Dengan kata lain, hubungan agama dan ilmu bersifat simbiotik, karena agama menyeru pada pencarian ilmu dan memberikan posisi mulia bagi ilmuwan. Demikian pula hubungan antara agama dan filsafat. Keduanya memiliki arah yang sama. Filsafat adalah pengetahuan tentang apa yang benar. Adapun agama menerangkan apa yang benar dan baik berdasarkan wahyu dan akal.
Islamic Values behind The Ritual of A Cow Head Burial in Grebeg Suro Yurisa, Penny Respati; Fu'aturosida, Rika; Agung, Yusuf Ratu; Muhayani, Ulfah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.10576

Abstract

This paper aims to uncover the Islamic values behind the ritual of a cow head burial held by people in Bamboo Forest, Sumbermujur, Candipuro, Lumajang. It is one of the rituals of a popular Javanese culture called Grebek Suro, conducted in the first month of the Javanese calendar. It finds that the Islamic value of the ritual is salam or safety. The cow head burial is intended to bring about safety (slamet) towards society in the upcoming year. This research is expected to contribute in calling people for preserving local culture and Islamic values within the rituals. It is limited to the exploration of the Islamic values within the ritual of a cow head burial in Grebeg Suro ceremony. Further researches are expected to study the other rituals, such as Gunungan, Tumpengan, Japa Mantra, Larungan, and the dancing ritual. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap nilai Islam di balik ritual penanaman kepala sapi yang dilakukan oleh masyarakat di Hutan Bambu, Sumbermujur, Candipuro, Lumajang. Ini adalah salah satu ritual budaya Jawa terkenal, Grebek Suro, yang dilakukan pada bulan pertama penanggalan Jawa. Studi ini menemukain bahwa nilai Islam dari ritual tersebut adalah salam atau keselamatan. Penguburan kepala sapi dimaksudkan untuk membawa keselamatan (slamet) bagi masyarakat di tahun mendatang. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya lokal dan nilai-nilai Islam dalam ritualnya. Penelitian ini terbatas pada penggalian nilai-nilai Islam dalam ritual penguburan kepala sapi di upacara Grebeg Suro. Penelitian selanjutnya diharapkan menganalisis ritual-ritual lainnya, seperti Gunungan, Tumpengan, Japa Mantra, Larungan, dan ritual menari.
Arsitektur Islam: Seni Ruang dalam Peradaban Islam Fikriarini, Aulia
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.452

Abstract

Human being as a caliph, here related to the function of architect, has responsibility for the environment. Hence, in doing their activities in this world, they have to cope with the nature considering the principal of balance and harmony. Architecture as one of the sciences should also go along with the Islamic values. The values based on the Quran should certainly be the foundation for all efforts of developing any sciences, including architecture. The application of Islam values will produce works of “Islamic architecture” that comprise a combination of culture and humans’ submission to their God, which characterizes the harmony of the human beings, environment, and their  Creator. Islamic architecture suggests a complex geometrical relation, hierarchy of shapes and ornaments, and deep symbolic meaning. This writing describes the fact that works of Islamic architectures in over the world that is based on Islamic ethical values and manners do not represent a single and identical shape. However, the varieties and wealth of shapes are unified by one purpose, that is, as a medium of devoting to God. The varieties create a multitude of Islamic architecture products within Islamic civilization, which lead human beings to rahmatan lil alamiin. Manusia sebagai khalifah, disini berhubungan dengan fungsi tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Maka dalam melakukan aktivitasnya di dunia ini, mereka harus mengatasi alam dengan mempertimbangkan prinsip keseimbangan dan harmoni. Arsitektur sebagai salah satu ilmu juga harus sesuai dengan nilai-nilai Islam. Nilai-nilai yang berdasarkan pada Quran pastilah menjadi fondasi bagi semua usaha pengembangan ilmu apapun, termasuk arsitek. Penerapan nilai-nilai Islam akan menghasilkan karya-karya "arsitektur Islam" yang terdiri dari kombinasi antara kedaulatan budaya dan manusia dengan Tuhan mereka, yang mencirikan keharmonisan manusia, lingkungan, dan Penciptanya. Arsitektur Islam menunjukkan hubungan geometris yang kompleks, hierarki bentuk dan ornamen, dan makna simbolik yang dalam. Tulisan ini menggambarkan fakta bahwa karya arsitektur Islam di seantero dunia yang berlandaskan nilai etika dan tata krama Islam tidak mewakili bentuk tunggal dan identik. Namun, varietas dan kekayaan bentuk tidak ada satu tujuan, yaitu media untuk mengabdikan diri kepada Tuhan. Varietas tersebut menciptakan banyak produk arsitektur Islam dalam peradaban Islam, yang menyebabkan manusia menjadi rahmatan lil alamiin.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue