cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Bentuk Islam Faktual: Karakter dan Tipologi Islam Indonesia Yuwanamu, Irham
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i2.3684

Abstract

This article efforts to explain the associated with Islam factual as a necessity that happened to the Muslims. That Islam factual is a form of religious Muslims in the world who could be affected by the social and cultural background. Islam factual can occur differences between Muslims with each other. In this article the Islam factual  become to be studied is Islam Indonesian. Questions to be answered is how the characters and the typology of Indonesian Islam? The conclusion that the discovery, that the character of Islam Indonesian is wasatiyah and typology is accommodating to the socio-culture in society. Then typology proposed by Clifford Geertz in this case was no longer relevant, particularly to describe Islam Java as an example. Furthermore, this contemporary era Islam Indonesian in part experienced a shift in orientation toward transnational Islam, namely that Islam salafi manhaj. This article is a literature review using materials research results related to the theme that became the object of study. Artikel ini berupaya menjelaskan terkait dengan Islam faktual sebagai keniscayaan yang terjadi kepada umat Islam. Bahwasanya Islam faktual merupakan bentuk keberagamaan umat muslim di dunia yang dapat dipengaruhi oleh latar sosial dan budaya masyarakat. Islam faktual dapat terjadi perbedaan di antara umat muslim yang satu dengan yang lainnya. Dalam artikel ini Islam faktual yang menjadi kajian adalah Islam Indonesia. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah bagaimana karakter dan tipologi Islam Indonesia? Kesimpulan yang ditemukannya, bahwa karakter Islam Indonesia adalah wasatiyah dan tipologinya adalah akomodatif dengan sosio-kultur di masyarakat. Kemudian tipologi yang dikemukakan oleh Clifford Geertz dalam hal ini sudah tidak relevan lagi, khususnya untuk menggambarkan Islam Jawa sebagai contoh Islam Indonesia. Selanjutnya era kontemporer ini Islam Indonesia sebagian kecil mengalami pergeseran orientasi ke arah Islam transnasional, yakni Islam yang bermanhaj salafi. Artikel ini merupakan sebuah kajian literatur yang menggunakan bahan-bahan hasil penelitian terkait dengan tema yang menjadi objek kajian.
Form of Communication for Teaching Bajo Children The Local Values in Utilizing Natural Marine Resources Jumaidin, La Ode; Irawati, Irawati; Udu, Sumiman; Hasddin, Hasddin; Husen, Osu Oheoputra
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.26285

Abstract

The issue behind the research on the Bajo tribe is the lack of understanding regarding the forms of communication used by the tribe to impart knowledge about local wisdom concerning the sustainable use of coastal and marine resources. Therefore, the aim of this research is to identify both the forms of local wisdom and the communication methods used to educate Bajo children about the sustainable use of coastal resources, ensuring the preservation of the Bajo tribe's cultural identity. The study was conducted among the Bajo tribe living along the coast of the Tiworo Strait in Muna Regency and West Muna Regency. The research informants consisted of 15 individuals, purposively selected, including elders and tribal leaders. The findings revealed that the local wisdom being passed down includes traditional management of coastal natural resources, such as: (a) the mammia kadialo tradition, involving fishing practices, which include palilibu, pongka, and sasakai; (b) traditional methods of fishing, including missi, ngarua, mana (archery using traditional tools), and nyuluh/balobe (also called ngobor); (c) the Pamali tradition, which involves specific taboos at certain times and places; and (d) the Maduai Pinah ritual, a form of worship for the "sea ruler" believed to protect and provide natural resources. Communication methods used to teach Bajo children about the utilization of natural resources include intrapersonal communication, interpersonal communication, and group communication. Permasalahan yang mendasari penelitian tentang suku Bajo adalah kurangnya pemahaman mengenai bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan oleh suku tersebut dalam menyampaikan pengetahuan tentang kearifan lokal terkait pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk kearifan lokal dan metode komunikasi yang digunakan dalam mendidik anak-anak suku Bajo tentang pemanfaatan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, sehingga dapat menjaga kelestarian identitas budaya suku Bajo. Penelitian ini dilakukan pada suku Bajo yang tinggal di sepanjang pesisir Selat Tiworo di Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat. Informan penelitian terdiri dari 15 orang yang dipilih secara purposive, termasuk para tetua dan kepala suku. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kearifan lokal yang diwariskan meliputi pengelolaan tradisional sumber daya alam pesisir, antara lain: (a) tradisi mammia kadialo, yang melibatkan praktik penangkapan ikan, termasuk palilibu, pongka, dan sasakai; (b) cara tradisional menangkap ikan, seperti missi, ngarua, mana (memanah dengan alat tradisional), serta nyuluh/balobe (juga disebut ngobor); (c) tradisi Pamali, yaitu larangan pada waktu dan tempat tertentu; dan (d) ritual Maduai Pinah, yaitu penyembahan kepada "penguasa laut" yang diyakini melindungi dan menyediakan sumber daya alam bagi mereka. Metode komunikasi yang digunakan untuk mengajarkan anak-anak suku Bajo tentang pemanfaatan sumber daya alam meliputi komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, dan komunikasi kelompok.
Hegemoni Elit dalam Ritus Agama Lokal: Studi Keberagamaan Masyarakat Bugis Bone Sulawesi Selatan Rais, Muhammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.446

Abstract

Local religious beliefs termed as animism and dynamism by Giddens are still found in the religious practices of Indonesian communities. One of such practices occurred in Bugis Ujung-Bone society, South Sulawesi. People’s faith in supernatural beings which are mythically believed as giving something meaningful for them is reflected by performing certain rituals in their daily lives. This ritual is performed at home and in a special place called Addewatang. This local belief system was firstly conceived and conceptualized by Sanro Maggangka. It grew into a local ritual tradition in Ujung-Bone society. This local ritual tradition were then acculturated with some formal religion’s activities. In the meantime, the figure of sanro becomes very important as a mediator in every religious ritual practiced by the society. Finally, hegemonic domination by the sanro can be observed in every thoughts and actions of the society, especially in their religious practices. In this research, the phenomenon were analyzed with the phenomenological-constructionist analysis. There are two findings of this research. First, there is a public perception that the practice of religious ritual done so far is believed as a part of their formal religion’s belief system. Second, there is a strong hegemony and dominance of the sanro’s role in conceptualizing this local ritual practice into their formal religion’s activities. The impact of this mythical belief of the role of sanro and “Putta Sereng” can be seen in the faithfulness of the people to act based on sanro’s instructions, the decrease of the people’s faith in their own formal religion, and the occurrence of theological confusions in the younger generations of Ujung-Bone society. Keyakinan agama lokal yang disebut animisme dan dinamisme oleh Giddens masih ditemukan dalam praktik keagamaan masyarakat Indonesia. Salah satu praktik tersebut terjadi di masyarakat Bugis Ujung-Bone, Sulawesi Selatan. Iman orang-orang yang memiliki makhluk gaib yang secara mistis dipercaya memberi sesuatu yang berarti bagi mereka tercermin dengan melakukan ritual tertentu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ritual ini dilakukan di rumah dan di tempat khusus bernama Addewatang. Sistem kepercayaan lokal ini pertama kali disusun dan dikonseptualisasikan oleh Sanro Maggangka. Ini berkembang menjadi tradisi ritual lokal di masyarakat Ujung-Bone. Tradisi ritual lokal ini kemudian berakulturasi dengan beberapa kegiatan formal agama. Sementara itu, sosok sanro menjadi sangat penting sebagai mediator dalam setiap ritual keagamaan yang dipraktikkan oleh masyarakat. Akhirnya, dominasi hegemonik oleh sanro dapat diamati dalam setiap pemikiran dan tindakan masyarakat, terutama dalam praktik keagamaan mereka. Dalam penelitian ini, fenomena tersebut dianalisis dengan analisis fenomenologis-konstruksionis. Ada dua temuan dari penelitian ini. Pertama, ada persepsi publik bahwa praktik ritual keagamaan yang dilakukan sejauh ini diyakini sebagai bagian dari sistem kepercayaan agama formal mereka. Kedua, ada hegemoni dan dominasi peran sanro yang kuat dalam mengkonseptualisasikan praktik ritual lokal ini ke dalam aktivitas formal agama mereka. Dampak dari kepercayaan mitos peran sanro dan "Putta Sereng" ini dapat dilihat dalam kesetiaan masyarakat untuk bertindak berdasarkan instruksi sanro, turunnya kepercayaan masyarakat terhadap agama formal mereka sendiri, dan terjadinya kebingungan teologis. di generasi muda masyarakat Ujung-Bone.
Manusia di Muka Cermin Ibn Arabi: Memahami Hakikat Manusia dengan Kacamata Ibn Arabi Kholil, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i3.4607

Abstract

Although the essence of human being has been questioned long times ago, there are many conceptual answers toward that question. Thus it is common if human beings, as social and individual creatures may try to question it to find new answers. The answer is mainly obtained by contemplating one's self based on the existing concept or reflecting one's self using an individual spiritual experience. The understanding to the essence of human beings described in this writing is based on the concept given by al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi who is philosophical as well as sufistic. Who is a man? A man is "God" in its tajalli perfect form in the universe. Therefore, a man is not perfect when he cannot show God's characteristics. Ibn Arabi says, "one of this characteristics is to become a responsible leader either for himself or others". Meskipun esensi manusia telah dipertanyakan sejak lama, ada banyak jawaban konseptual untuk pertanyaan itu. Jadi, adalah hal yang biasa jika manusia, karena makhluk sosial dan individu dapat mencoba menanyainya untuk menemukan jawaban baru. Jawabannya terutama diperoleh dengan merenungkan diri seseorang berdasarkan konsep yang ada atau mencerminkan diri seseorang dengan menggunakan pengalaman spiritual individu. Pemahaman terhadap esensi manusia yang digambarkan dalam tulisan ini didasarkan pada konsep yang diberikan oleh al-Syaikh al-Akbar ibn Arabi yang filosofis sekaligus sufistik. Siapa pria Seorang pria adalah "Tuhan" dalam bentuk tajalli yang sempurna di alam semesta. Karena itu, seorang pria tidak sempurna saat dia tidak bisa menunjukkan sifat Tuhan. Ibn Arabi mengatakan, "salah satu karakteristik ini adalah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain".
Teologi Perempuan: Menyejajarkan Atau Menyatukan? Amin, Saiful
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4686

Abstract

Discussing social injustice against women with gender analysis, will often face opposition from both men and women themselves. This is because questioning the status of women is essentially concerned with established systems and structures. In addition there are many misunderstandings about why women's issues should be questioned. This paper discusses gender issues that essentially discuss power relationships that involve individuals. This paper is not meant to discuss feminist flows, but rather addressing the debate about gender in the theological discourse of Islamic intellectual traditions. In the discourse of women's theology in Islam, its social implications will be colored by the tug of war between the struggle to equalize gender on the one hand and the struggle to unite them in cosmic harmony on the other. The first seeks to eliminate the social injustice that affects women by raising the existence of gender in order to be equal and equal. While the latter seeks to eliminate social injustice by reinforcing, not to elevate gender differences in order to mutual respect and equality in the natural unity. Membincang ketidakadilan sosial terhadap perempuan dengan analisis gender, sering kali akan menghadapi perlawanan baik dari kalangan kaum laki-laki maupun perempuan sendiri. Ini disebabkan karena mempertanyakan status perempuan pada dasarnya adalah mempersoalkan sistem dan struktur yang sudah mapan. Selain itu banyak terjadi kesalahpahaman tentang mengapa masalah kaum perempuan harus dipertanyakan. Tulisan ini mendiskusikan persoalan gender yang pada dasarnya membahas hubungan kekuasaan yang melibatkan individu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskusikan tentang aliran-aliran feminisme, tetapi lebih ditujukan pada perdebatan tentang gender dalam wacana teologis tradisi intelektual Islam. Pada wacana teologi perempuan dalam Is­lam, implikasi sosialnya akan diwarnai oleh tarik ulur antara perjuangan menyetarakan gender di satu sisi dan perjuangan menyatukan keduanya dalam keharmonian kosmis di sisi yang lain. Yang pertama berusaha menghilangkan ketidakadilan sosial yang menimpa perempuan dengan mengangkat eksistensi gender agar bisa sama dan setara. Sedangkan yang kedua berusaha menghilangkan ketidakadilan sosial itu dengan mempertegas, untuk tidak mengangkat perbedaan gender agar bisa saling menghormati dan melengkapi dalam kesatuan alamiah.
Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal Miri, M. Djamaluddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.435

Abstract

Mughal was one of the Islamic Kingdoms that stay long for about 342 years, starting from Sultan Zahr al-Din Muhammad (1483—1530 A.D) until Sultan Siraj al-Din Bahadur Syah (1837—1858 A.D). There are two prominent factors which caused the Kingdom of Mughal separated each other and faced the decrease, internal and external factors. Internally, the Kingdom of Mughal faced the decrease because of no system and mechanism on power succession, and also the lack leadership integrity of the next generation who descended the former leaders. The hedonism life style also became the main cause of the complicated political situation on the Kingdom. Moreover, the political policy which tends to be more puritanical and ideological also ruined the governmental system. Those internal factors, then, caused weak political control and powerless authority of the Kingdom in front of other kingdoms. As a consequence, many rebellions happened everywhere. It absolutely made the power of the Kingdom one by one belongs to other kingdoms. Mughal adalah salah satu Kerajaan Islam yang tinggal sekitar 342 tahun, mulai dari Sultan Zahruddin Muhammad (1483-1530 M) sampai Sultan Sirajuddin Bahadur Syah (1837-1858 M). Ada dua faktor penting yang menyebabkan Kerajaan Mughal berpisah dan menghadapi kemunduran, faktor internal dan eksternal. Secara internal, Kerajaan Mughal menghadapi kemunduran karena tidak ada sistem dan mekanisme suksesi kekuasaan, dan juga kurangnya integritas kepemimpinan generasi berikutnya. Gaya hidup hedonisme juga menjadi penyebab utama situasi politik yang rumit di Kerajaan. Apalagi, kebijakan politik yang cenderung lebih puritan dan ideologis juga merusak sistem pemerintahan. Faktor internal tersebut kemudian menyebabkan lemahnya kontrol politik dan kekuasaan Kerajaan yang tidak berdaya di depan kerajaan lainnya. Akibatnya, banyak pemberontakan terjadi di mana-mana. Itu benar-benar membuat kekuatan Kerajaan satu demi satu menjadi milik kerajaan lain.
Pendidikan Islam dan Kerukunan: Sebuah Refleksi terhadap Konflik antar Pemeluk Agama di Indonesia Fauzi, Moch. Sony
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i2.4750

Abstract

Education is a process of individual continuously learning and adaptation to the cultural values and social ideals. Education is a comprehensive process including all the aspects of life to prepare them to be able to face all the challenges. Considering the definition, we will see how dominant the aspects of human life style management in order to be in accordance with the universe are. An education process is expected to produce tolerance, egalitarianism, and skills to actualize one's self in the constellation of human life dynamics. It is also expected to produce peace and harmony as a part of ideal community with the educated people as the members. It means that the education process is considered failed if it produces totalitarian cannibalism that can easily arouse conflicts among people. Therefore, the understanding of an ideal Islamic education that is accommodative to the values of plurality and brotherhood among people should emerge. Finally, the values can be the source of aspiration in rearranging the religious concept of this nation to regain the peace that has once been disappeared because of the conflict among the religious communities, through education. Pendidikan adalah proses individu yang terus belajar dan beradaptasi dengan nilai budaya dan cita-cita sosial. Pendidikan adalah proses yang komprehensif termasuk semua aspek kehidupan untuk mempersiapkan mereka untuk dapat menghadapi semua tantangan. Dengan mempertimbangkan definisinya, kita akan melihat betapa dominannya aspek manajemen gaya hidup manusia agar sesuai dengan alam semesta tersebut. Proses pendidikan diharapkan bisa menghasilkan toleransi, egalitarianisme, dan keterampilan untuk mengaktualisasikan diri seseorang dalam konvergensi dinamika kehidupan manusia. Hal ini juga diharapkan dapat menghasilkan kedamaian dan harmoni sebagai bagian dari komunitas ideal dengan orang-orang terpelajar sebagai anggotanya. Artinya, proses pendidikan dianggap gagal jika menghasilkan kanibalisme totaliter yang bisa dengan mudah menimbulkan konflik antar manusia. Oleh karena itu, pemahaman tentang pendidikan Islam ideal yang akomodatif terhadap nilai pluralitas dan persaudaraan antarmanusia diharapkan muncul. Akhirnya, nilai-nilai bisa menjadi sumber aspirasi dalam menata ulang konsep religius bangsa ini untuk mendapatkan kembali kedamaian yang dulunya lenyap karena konflik antar umat beragama, melalui pendidikan.
Majelis Dzikir: antara Sadar Spiritual dan Praktek Budaya Massa Al Makky, Musthofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2013

Abstract

Man was created  with the provision of spiritual awareness of the existence of God. When in the course of his life to find a variety of  problems, which he first headed the Lord. From every human being must  feel that awareness.  If then it is collective  awareness  activities conducted in order to meet the spiritual needs that can be implemented together. That is a God given institution called the Assembly of dzikr. If then the activity was done with a lot of people, over time some of them  do not  know the exact substance  and virtues of the assembly  itself, but just following everyone else  alone. Moreover, many activities that  involve  mass was boarded by-worldly orientation of  material interests, economic and political. Then the activity will become a kind of wetland that can be exploited in the interests of a handful of people. Manusia diciptakan dengan bekal kesadaran spiritual akan keberadaan Tuhan. Bila dalam perjalanan hidupnya menemukan berbagai masalah, yang pertama-tama dia tuju pada Tuhan. Dari setiap manusia harus merasakan kesadaran itu. Jika kemudian itu adalah kegiatan kesadaran kolektif yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual yang bisa diimplementasikan bersama. Itu adalah lembaga yang diberi Tuhan yang disebut Majelis dzikir. Jika kemudian aktivitas itu dilakukan dengan banyak orang, lama kelamaan beberapa dari mereka tidak tahu persis substansi dan kebajikan dari majelis itu sendiri, tapi hanya mengikuti orang lain saja. Apalagi, banyak kegiatan yang melibatkan massa ditopang oleh orientasi duniawi terhadap kepentingan material, ekonomi dan politik. Maka kegiatan tersebut akan menjadi semacam lahan basah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang.
Hubungan Dzikir dengan Kontrol Diri pada Manula Aziz, Rahmat; Hotifah, Yuliati
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5150

Abstract

Among the various developmental tasks traversed by individuals, old age is a difficult time. In general, the elderly have problems in terms of adjustment, this is due to a variety of changes both physical and psychological accompanying age, but it is also caused by various changes in the status that arose in those days. The three changes of regression experienced by the elderly are physical, mental and social changes. This change will result in the ability to control itself. Dhikr as one form of therapy in Islam is considered capable of affecting self-control in the elderly. Based on these findings, it is recommended for the general public to pay attention to the elderly as they are vulnerable to experiencing periods of regression in their lives. One of the efforts that needs to be done is by giving the opportunity to do dzikr. Diantara berbagai tugas perkembangan yang dilalui oleh individu, masa usia lanjut merupakan masa yang sulit. Pada umumnya para usia lanjut mempunyai masalah dalam hal penyesuaian diri, hal ini disebabkan adanya berbagai perubahan baik fisik maupun psikis yang menyertai pertambahan usia, selain itu juga diakibatkan oleh berbagai perubahan dalam status yang timbul pada masa itu. Tiga perubahan regresi yang dialami oleh manula adalah adanya perubahan fisik, mental dan sosial. Perubahan ini akan berakibat pada kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri. Dzikir sebagai salah satu bentuk terapi dalam islam dianggap mampu berpengaruh pada kontrol diri pada manula. Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan bagi masyarakat umum untuk memperhatikan kaum lanjut usia karena rentan mengalamai masa regresi dalam hidupnya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan yaitu dengan memberikan kesempatan untuk berzikir.
Peminjaman Kata (Isti’arah) dalam Al Quran Ridwan, Ridwan
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v9i3.4645

Abstract

Isti'arah is borrowing word (loan words) used in other words because of some factors. Alquran is hardly understood only based on linguistic principles, but it must also be studied using other approaches, such as literary approach that is often used in contemporary studies, well known as literary approach to Alquran. Isti'arah is a part of literature. Alquran with all of its miracles contains literary aspects that are undeniable for those who understand it. Therefore, Moslem scholars agree that Isti'arah in Alquran exactly aims at earning attention from the hearers and the readers of Alquran, in turn, increasing our belief in the miracle of Alquran in literary aspect. For instance the word "saaqin" (calf) is interpreted as a chaotic situation, "al dzulumaat" (darkness) as Islamism. In addition, the word "al ra'su" (head) is considered similar to fuel that means "ista'ala" (bum) on head. There are many other similar examples in Alquran. Isti’arah adalah kata pinjaman yang digunakan dalam kata lain karena beberapa faktor. Alquran sangat sukar dipahami hanya berdasar prinsip Lingusitik tetapi ia juga harus dipelajari menggunakan pendekatan lain, seperti Sastra yang sering digunakan dalam studi kontemporer, lebih dikenal sebagai pendekatan sastra terhadap Alquran. Isti’arah adalah bagian dari sastra. Alquran dengan segala keagungannya berisi aspek kesusasteraan yang tak terbantahkan bagi siapapun yang mengerti. Maka, cendekiawan Muslim setuju bahwa peminjaman kata (Isti’arah) dalam Alquran bertujuan untuk menarik perhatian pendengar dan pembacanya, menambah kepercayaan kita pada keajaiban Alquran dalam aspek sastra. Contohnya kata saaqin (anak sapi) adalah interpretasi situasi yang kacau, al dzulumaat (kegelapan) sebagai Islamisasi. Contoh lainnya, al ra’su (kepala) dianggap sama dengan bahan bakar yang berarti ista’ala (terbakar) di atas kepala. Masih ada banyak lagi contoh serupa yang tertulis di Alquran.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue