cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Mintakat: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14117193     EISSN : 26544059     DOI : 10.26905
Core Subject : Social, Engineering,
Mintakat: Jurnal Arsitektur (JAM) dalam versi jurnal online yang terbit di tahun 2017 ini sebenarnya adalah format baru dari penerbitan offline sejak tahun 2000. Jurnal ini diterbitkan oleh oleh Group Konservasi Arsitektur & Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang. Dalam format online JAM merencanakan akan terbit 2 (dua) kali dalam setiap volume pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023" : 10 Documents clear
Pemanfaatan Fungsi Ruang Kerajaan Peurelak Phonna, Cut Natari Neubie; Mirsa, Rinaldi; Saputra, Eri
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.10257

Abstract

Kerajaan Peureulak berada di Peureulak, Kecamatan Aceh Timur, Indonesia. Penamaan Peurelak merupakan pengambilan yang berasal dari nama sebuah kayu yang dulunya sangat banyak tumbuh di kawasan Peureulak. Kawasan Peurelak yang terkenal menghasilkan hasil bumi berupa Kayu Perlak tersebut juga dikenal oleh pada pedagang dengan hasil perkebunan yakni pala dan lada. Terkenalnya kawasan Peureulak membuat banyak pedagang dari berbagai negeri datang dan melakukan perdagangan di kawasan tersebut. Pada Pedagang dari luar negeri lebih mengenal Peureulak dengan sebutan Bandar Peurelak yang mana bandar memiliki arti sebagai pelabuhan. Selain melakukan kegiatan berdagang, para pedagang dari Arab juga sekalian melakukan penyebaran Agama Islam kepada masyarakat Peureulak sehingga masyarakat Peureulak pada saat itu sudah paham dan sudah ada yang memeluk Agama Islam sebagai landasan hidup mereka. Setelah 50 tahun lamanya menamankan ajaran Islam di daerah Peureulak, pada tahun 840 Masehi Kerajaan Peureulak resmi berdiri dan Sultan Alaiddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (840-860 M) menjadi pemimpin pertama Kerajaan Peureulak. Demi mengenang para khalifah yang pernah datang ke Bandar Peureulak, Bandar Peurelak pun resmi berganti nama menjadi Bandar Khalifah. Berdasarkan peristiwa dan hasil seminar, maka pada kawasan Bandar Khalifah dapat dipastikan bahwa di kawasan tersebut terdapat beberapa ruang yang dimana ruang tersebut memiliki fungsi berdasarkan dari peristiwa yang terjadi. Ruang-ruang yang memiliki fungsi tersebut terbentuk dari hasil aktivitas masyarakat Kerajaan Peureulak. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini yaitu menjelaskan pemanfaatan fungsi ruang Kerajaan Peureulak dengan menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif dengan dua tipe penelitian yaitu historis dan fenomenologi.-------------------------------------------------------------------------------------------------------------The Peureulak Kingdom is in Peureulak, East Aceh District, Indonesia. The name Peurelak is taken from the name of a wood that used to grow a lot in the Peureulak area. The Peurelak area, which is famous for producing agricultural products in the form of Perlak Wood, is also known by traders for plantation products, namely nutmeg and pepper. The popularity of the Peureulak area has made many traders from various countries come and trade in the area. Traders from abroad are more familiar with Peureulak as Bandar Peurelak, which means port. In addition to trading activities, Arab traders also spread Islam to the Peureulak community so that at that time the Peureulak people already understood and embraced Islam as the foundation of their life. After 50 years of securing Islamic teachings in the Peureulak area, in 840 AD the Peureulak Kingdom was officially established and Sultan Alaiddin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah (840-860 AD) became the first leader of the Peureulak Kingdom. In order to remember the caliphs who had come to Bandar Peureulak, Bandar Peurelak was officially renamed Bandar Khalifah. Based on the events and results of the seminar, in the Bandar Khalifah area it can be ascertained that in that area there are several rooms where these spaces have functions based on the events that occur. The spaces that have this function are formed from the results of community activities in the Peureulak Kingdom. Therefore the purpose of this study is to explain the utilization of the spatial function of the Peureulak Kingdom by using a qualitative research method approach with two types of research, namely history and phenomenology.
Kajian Olah Fasad Bangunan “Unicorn Creative Space” terhadap Daya Tarik Pengunjung Maheswari, Adelia Shastina; Arfianti, Ami
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.9260

Abstract

Creative hub sudah banyak beroperasi di beberapa kota besar di Indonesia. Dukungan pemerintah terhadap wacana pembangunan ruang kreatif juga meningkat. Namun, berdasarkan hasil pengamatan langsung maupun riset melalui media internet oleh penulis, diketahui bahwa tidak semua Creative Hub beroperasi sesuai dengan apa yang diharapkan. Terdapat Creative Hub yang “hidup” atau sangat ramai dikunjungi dan digunakan oleh pelaku kreatif dengan baik, namun juga terdapat Creative Hub yang kemudian “mati” atau sepi pengunjung. Studi ini bertujuan melakukan analisis olah fasad yang diterapkan pada objek studi kasus bangunan “Unicorn Creative Space”, serta mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana olah fasad yang tepat untuk diterapkan pada bangunan Creative hub. Aspek olah fasad yang dicermati mengacu pada beberapa teori yang relevan meliputi ekspresi, komponen, serta komposisi pada fasad bangunan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara, dan kuisioner untuk mengumpulkan data, serta menganalisis data yang diperoleh dan dikaitkan dengan kajian pustaka yang relevan. Dalam hal ini, sebuah bangunan haruslah memiliki daya tarik yang membuat bangunan tersebut ramai dikunjungi oleh masyarakat. Fasad adalah unsur terpenting dalam karya arsitektur, karena unsur inilah yang dilihat pertama kali. Olah fasad berperan besar terhadap daya tarik pengunjung sehingga tujuan utama pembangunan Creative Hub yakni pengembangan bisnis dan kolaborasi antar pelaku kreatif akan dapat tercapai. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa bangunan “Unicorn Creative Space” menerapkan ekspresi fasad semi terbuka, dan juga telah menerapkan beberapa aspek komposisi dan komponen pada fasad dengan baik, namun terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan agar fasad bangunan lebih dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung.---------------------------------------------------------------------------------------------------------------Creative hubs have been operating in several big cities in Indonesia. Government support for the discourse of creative space development has also increased. However, based on the results of direct observations and research through internet media by the author, it is known that not all Creative Hubs operate as expected. There is a Creative Hub that is "alive" or very crowded and used by creative actors well, but there is also a Creative Hub that is "dead" or empty of visitors. This study aims to analyze the facade applied to the case study object of the "Unicorn Creative Space" building, as well as to examine more deeply how to apply the right facade to the Creative hub building. The aspect of the facade that is observed refers to several relevant theories including the expression, components, and composition of the building facade. The method used is descriptive qualitative with field observations, interviews, and questionnaires to collect data, and analyze the data obtained and associated with relevant literature reviews. In this case, a building must have an attraction that makes the building crowded by the public. The facade is the most important element in architectural works because it is this element that is seen first. The facade plays a major role in attracting visitors so that the main goal of the Creative Hub development, namely business development and collaboration between creative actors, will be achieved. Based on the results of the study, it is known that the "Unicorn Creative Space" building applies a semi-open facade expression and has also applied several aspects of composition and components to the facade well, but there are several aspects that need to be considered so that the building's facade can be more attractive to visitors.
Perancangan Shopping Mall Terbuka dengan Pendekatan Arsitektur Kontemporer di Kota Tomohon Weol, Brayen G. B.; Kawatu, Freike E.; Mailangkay, Sonny D. J.
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.10659

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir kota Tomohon mengalami peningkatan yang selalu konsisten dalam sektor perekonomian dan pariwisata. letak  kota Tomohon yang strategis dan berada di penggunungan dengan suhu udara yang sejuk dan nyaman membuat kota Tomohon sering disebut kota impian. Dengan peningkatan dan lokasi kota Tomohon yang strategis, kota Tomohon menjadi kota yang cocok untuk perancangan shopping mall. Jenis shopping mall yang dipilih dalam perancangan ini adalah shopping mall terbuka. Dengan pendekatan arsitektur kontemporer dapat menghasilkan karakteristik yang kuat baik dari bentuk, fungsi dan struktur, serta dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman sehingga cocok untuk perancangan shopping mall terbuka di kota Tomohon. Perancangan shopping mall terbuka dengan pendekatan arsitektur kontemporer ini dapat menjadi pusat perbelanjaan dan tempat rekreasi baru serta  menjadi icon baru dan shopping mall terbuka pertama di provinsi  Sulawesi Utara. Tujuan perancangan ini adalah untuk mewadahi kebutuhan pengunjung melakukan transaksi jual-beli, dan meningkatkan APD kota Tomohon. Perancangan ini dimulai dari pengumpulan data, analisa, dan konsep. Adapun hasil akhir dari perancangan ini yaitu sebuah shopping mall terbuka yang bisa menjadi solusi unutk mewadahi kebutuhan pengunjung dan transaksi jual-beli di kota Tomohon yang semakin meningkat setiap tahun.-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------In recent years the city of Tomohon has experienced a consistent increase in the economic and tourism sectors. the strategic location of the city of Tomohon and being in the mountains with cool and comfortable air temperatures makes the city of Tomohon often called the city of dreams. With the improvement and strategic location of Tomohon city, Tomohon city is a suitable city for designing shopping malls. The type of shopping mall chosen in this design is an open shopping mall. With a contemporary architectural approach, it can produce strong characteristics in terms of form, function and structure, and can adapt to the times so that it is suitable for the design of an open shopping mall in the city of Tomohon. The design of an open shopping mall with a contemporary architectural approach can become a world center and a nnew recreation area as well as a new icon and the first shopping mall to open in North Sulawesi province. The purpose of this design is to accommodate the needs of visitors to make buying and selling transactions, and increase the APD of the city of Tomohon. This design starts from data collection, analysis, and concepts. The end result of this design is an open shopping mall that can be a solution to accommodate the needs of visitors and buying and selling transactions in the city of Tomohon which are increasing every year.
Persandingan Penelitian Studi Kasus terkait Perubahan Third Place di Era Digital Bachtiar, Firmansyah; Widjaja, Robert Rianto
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.9324

Abstract

Penelitian studi kasus merupakan jenis penelitian kualitatif yang dapat digunakan untuk memperoleh temuan dan penjelasan lebih dalam terkait fenomena dan isu kontemporer yang berkembang di masyarakat modern. Salah satu isu kontemporer yang muncul antara lain terkait ruang interaksi sosial manusia yang mulai terpengaruh oleh budaya hidup digital. Ruang ketiga (third place) yang menurut Oldenburg memiliki karakteristik sebagai tempat pertemuan manusia untuk bersosialisasi secara kasual dan informal, mulai mengalami pergeseran di era digital, seiring munculnya fenomena perubahan perilaku pengguna yang juga bekerja secara jarak jauh, bermedia sosial dan berkomunikasi secara virtual pada third place. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus terkait isu tersebut mulai banyak ditemukan sebagai upaya menemukan definisi baru terhadap third place. Untuk dapat melihat karakteristik penelitian yang telah dilakukan, maka dilakukan telaah terhadap lima publikasi terkait third place di era digital. Desain penelitian pada publikasi tersebut disandingkan untuk melihat kesesuaian dan keragaman jenis obyek studi, tujuan penelitian, karakteristik, pendekatan, unit analisis, sumber data, pelaku, lingkup observasi, dan validasi yang dilakukan. Persandingan desain penelitian studi kasus ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai variasi desain penelitian yang dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut perubahan makna dan bentuk third place di era digital, dimana alternatif pendekatan tersebut dapat menjadi dasar untuk eksplorasi penelitian lebih lanjut di masa depan.------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Case study research is a type of qualitative research that can be used to obtain findings and in-depth explanations regarding contemporary phenomena and issues that occurs in modern society. One of the issues is related to the nature of social place which has begun to be influenced by digital lifestyle. The third place, which according to Oldenburg has characteristics as a meeting place for people to socialize casually and informally, is starting to experience a form shifting. The behavioural changes can be seen from the users who also conduct remote working, social media browsing and virtual conversation in the third place. Qualitative research with a case study approach can be found as an effort to formulate new definitions of third place. In order to be able to see the characteristics of the research that has been done, a review was carried out on five publications related to third places in the digital era. The research designs are being compared to see the similarity and the diversity of the study objects, objectives, characteristics, approaches, unit analysis, data sources, observer, participant, scope of observation, and validation. The comparison of this case studies shows that there are various variations of research designs that can be carried out further, where these alternative approaches can become the basis for research exploration in the future.
Penerapan Arsitektur Perilaku dalam Perancangan Kampus Terpadu (Studi Kasus: Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta) Siddiq, Vieka Alana Leyla; Dharmawan, Vippy
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.10704

Abstract

Pada tahun 1932 Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta saat ini memiliki satu gedung induk dengan 31 kelas dan juga 13 asrama yang tersebar di tiga kelurahan yaitu, Suronatan, Notoprajan dan Kauman. Dari lokasi tersebut, fasilitas Madrasah Mu’allimaat mendominasi tiga kelurahan. Sehingga warga madrasah maupun pengguna fasilitas madrasah akan berbaur dengan masyarakat setempat dan menimbulkan intensitas keramaian yang cukup tinggi dari mobilitas yang tinggi dengan berbagai kegiatan pendidikan madrasah dan pendidikian boarding school, siswi Madrasah Mu’allimaat membutuhkan ruang gerak baru yakni Kampus Terpadu Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta yang berlokasi di Sidayu, Bantul. Melalui pendekatan Arsitektur Perilaku akan mengidentifikasi pola perilaku pengguna dalam sebuah objek dan aktivitas dari pengguna kemudian menjadi solusi desain dalam rancangan baru yang ideal dan optimal dalam bentuk Kampus Terpadu Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------In 1932, Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta currently have one main building with 31 classes and 13 dormitories spread over three sub-districts such as Suronatan, Notoprajan, and Kauman. From these locations, Madrasah Mu'allimaat facilities dominate the three sub-districts. Students and facility users will socialize with the community and cause high crowd intensity from high mobility with various madrasah educational activities and boarding school education. Madrasah Mu'allimaat students need a new space, An Integrated Campus of Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta located in Sidayu, Bantul. Behavioral Architecture identify the boundaries of space and time in an object as well as the activities of the user in consequences aim an optimal social system that can be formed in the design of The Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Integrated Campus that supports the activities of residents involved who have high mobilities at the present and the future.
Adaptasi Territoriality pada Ruang Belajar Post Pandemic Covid-19 untuk Pendidikan Anak Usia Dini Nur Nisrina, Brainnisa Ramadhani; Adhitama, Gregorius Prasetyo
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.9661

Abstract

Penelitian berfokus pada konteks ruang belajar untuk jenjang PAUD yang menekankan protokol kesehatan baik dari segi social distancing dan physical distancing serta mencapai tujuan dari fasilitas ruang belajar pada jenjang PAUD. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mengungkap keterkaitan antara konsep teori territoriality dengan ruang belajar pada jenjang PAUD di masa pandemi COVID-19. Ruang belajar pada PAUD sebagai lingkungan fisik atau seting yang bersifat unik dan kekhasannya belum dipelajari serta diteliti secara lebih mendalam. Territoriality/ teritorialitas merupakan upaya untuk mempertahankan wilayah dari intervensi individu/kelompok lain. Pendekatan studi berfokus pada terminologi mengenai adaptasi, territoriality, ruang belajar, anak usia dini, serta ruang pada masa pandemi dan post pandemi COVID-19. Metode dalam penulisan ini adalah metode studi pustaka dengan mengumpulkan dan mensintesiskan penelitian terdahulu dengan pendekatan integratif. Akhirnya, hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa konsep atau teori teritorialitas dalam konteks ruang belajar di PAUD masa pandemi COVID-19 dan kaitannya dengan protokol kesehatan dapat diteliti secara lebih mendalam dan komprehensif pada aspek perilaku interaksi antara individu/ kelompok terhadap lingkungan/ruang yang memfasilitasi kegiatan. Fenomena tersebut ditandai dengan perasaan memiliki dan mengontrol, upaya mempertahankan wilayah, klaim terhadap ruang, mempersempit jangkauan perjumpaan, kontrol/mengatur kepadatan populasi serta privasi dan keamanan.-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------This research is focused on the health protocol, social distancing and physical distancing and the affectivity of facility. The research objectives, to find and to express the knowledge gab between territoriality theory and preschool learning space in COVID-19 pandemic era. Its setting learning space as physical environment is unique and specific. It has not studied and researched deeply. Territoriality is an effort to preserve the territory from the intervention of others, individual or group. The study of this approach is focused on the terminology of adaptation, territoriality, learning space, preschool, space on pandemic and on post pandemic COVID-19. The methods in this paper are literature review method by collecting and synthesizing previous research using integrative approach. The results of the literature review, theory of territoriality in context of preschool learning space on pandemic era and its relationship to the health protocol can be researched more deeply and comprehensively on the behavior aspect of the interaction between group/ individual to the class activities. The phenomenon marked as sense of belonging and controlling, an effort to defend of territory, claim to the space, restriction the meeting range, control of the population density, and also the aspect of privacy and safety.
Identifikasi Faktor Spasial yang Berpengaruh dalam Kasus Kebakaran pada Permukiman Tepi Sungai di Kota Banjarmasin Putri, Megananda Arum Cinda; Sarwadi, Ahmad
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.10634

Abstract

Banyaknya kasus kebakaran pada permukiman di kota Banjarmasin yang lebih dari setengahnya berada di wilayah tepi sungai membuat penyebab munculnya kebakaran dan menyebarnya kobaran api menjadi penting untuk diketahui agar dapat dihindari. Dalam rangka penelusurannya dilakukan penelitian pada 9 kasus kebakaran yang terjadi pada permukiman tepi sungai di kota Banjarmasin, yang terdiri dari 4 kasus kebakaran tunggal dan 5 kasus kebakaran berkelompok. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus melalui pengumpulan data berupa review literatur, in-depth interview dengan narasumber, dan observasi langsung. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa faktor penyebab kebakaran pada kasus-kasus ini adalah arus pendek listrik, bara rokok, bahan bakar masak, dan pembakaran sampah sembarangan. Arus pendek listrik sendiri menjadi penyebab kebakaran paling banyak pada kasus-kasus yang diteliti, sedangkan tiga faktor lainnya merupakan faktor khusus yang ditemukan pada lokasi penelitian ini. Terkait penyebab menyebarnya kobaran api saat terjadi kebakaran, ditemukan bahwa terdapat 12 faktor yang menyebabkan penyebaran kobaran api. 5 diantara 12 faktor tersebut yang umum ditemukan pada wilayah lain di Indonesia adalah material mudah terbakar di dalam rumah maupun disekitar rumah, struktur bangunan semi permanen, kepadatan bangunan dimana jarak antar bangunan berdempetan, aksesibilitas minim, dan kondisi angin. Sedangkan faktor penyebaran kobaran api khusus yang terjadi di permukiman tepi sungai kota Banjarmasin adalah listrik yang terlambat dipadamkan oleh PLN, titik api yang sulit dijangkau, api sulit dipadamkan, aliran listrik yang sama pada lebih dari 1 bangunan, ledakan gas serta sepeda motor, sungai yang surut, dan alat pemadaman api yang bermasalah.--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------With more than half of the city's settlements located in riverside areas, it is important to know the causes of fires and the spread of the flames so that they can be avoided. In order to explore this, research was conducted on 9 fire cases that occurred in riverside settlements in Banjarmasin city, consisting of 4 cases of single fires and 5 cases of group fires. The research was conducted using the case study method through data collection in the form of literature review, in-depth interviews with resource persons, and direct observation. Based on the research conducted, it was found that the factors that caused the fires in these cases were electrical ort-circuit, cigarette embers, cooking fuel, and littering. Electrical short-circuit itself was the most common cause of fires in the cases studied, while the other three factors were specific to this research location. Regarding the causes of the spread of flames during a fire, it was found that there are 12 factors that cause the spread of flames. 5 of these 12 factors are common in other regions in Indonesia, such as combustible materials inside and around the house, semi-permanent building structures, building density where the distance between buildings is close together, minimal accessibility, and wind conditions. Meanwhile, the specific fire spread factors that occur in the riverside settlements of Banjarmasin city are electricity that is extinguished late by PLN, fires that are difficult to reach, fires that are difficult to extinguish, the same electricity flow in more than one building, gas explosions and motorbikes, receding rivers, and problematic fire extinguishing equipment.
Penyandingan Arsitektur Jengki dengan Prinsip Form Follow Function Poernama, Jessica Aprilia; Roosandriantini, Josephine
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.9163

Abstract

Langgam arsitektur dunia selalu berkembang dari arsitektur klasik, modern, hingga post-modern. Salah satu yang mempengaruhi perubahan ini adalah adanya PD II. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan langgam arsitektur yang ada di Indonesia sehingga munculnya arsitektur jengki setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. Arsitektur jengki merupakan arsitektur asli Indonesia yang juga merupakan sebuah bentuk dari kebebasan Indonesia dari Belanda. Arsitektur jengki memiliki bentuk yang sangat unik dan nyeleneh (tidak lazim). Penelitian ini memunculkan pertanyaan yaitu apakah bentuk unik arsitektur jengki sesuai dengan karakteristik arsitektur modern yang berlandaskan form follow function yang mana kemunculan arsitektur jengki bertepatan dengan masa perkembangan arsitektur modern. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah ciri arsitektur jengki juga menerapkan prinsip form follow function dengan objek studi kasus berupa rumah tinggal di Jl. Tawangmangu no.9, Malang dan rumah Salim Martak Surabaya. Metode penelitian yaitu kualitatif deskriptif, yang menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan juga survey lapangan. Analisa objek dilakukan dengan menyandingkan antara elemen arsitektural pada kedua obyek, dalam melihat ciri form follow function dan arsitektur jengki. Elemen-elemen yang dianalisa yaitu bentuk atap, ornament, bukaan, bentuk bangunan, warna, material, serta teras/ beranda. Hasil yang didapatkan menambahkan wawasan dan juga memperlihatkan adanya modifikasi antara langgam arsitektur jengki dan modern.----------------------------------------------------------------------------------------------------------------World architectural styles are always evolving from classical, and modern, to post-modern architecture. One that influenced this change was the existence of World War II. This also influenced the development of architectural styles in Indonesia so the emergence of jengki architecture after Indonesia's independence from Dutch colonialism. Jengki architecture is original Indonesian architecture which is also a form of Indonesian independence from the Dutch. Jengki architecture has a very unique and eccentric (unusual) shape. This research raises the question, namely whether the unique form of jengki architecture corresponds to the characteristics of modern architecture based on form following function where the emergence of Jengki architecture coincides with the development of modern architecture. This study aims to prove whether the architectural characteristics of jengki also apply the form-follow-function principle to the case study object in the form of a residential house on Jl. Tawangmangu no.9, Malang and Salim Martak's house, Surabaya. The research method is descriptive qualitative, which uses data collection techniques in the form of literature studies and field surveys. Object analysis is carried out by juxtaposing the architectural elements of the two objects, looking at the characteristics of form-follow-function and jengki architecture. The elements analyzed are roof shapes, ornaments, openings, building shapes, colors, materials, and terraces/ verandas. The results obtained add insight and also show modifications between Jengki and modern architectural styles.
Serbuk Kayu sebagai Alternatif Bahan Utama dalam Pembuatan Material Plafond Komposit Efandaru, James; Setyawan, Valerio Sultan Agni; Putra, Heristama Anugerah
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.9812

Abstract

Pembangunan konstruksi di Indonesia berkembang begitu cepat, sehingga diperlukan bahan material yang ramah lingkungan. Pemanfaatan bahan material yang berasal dari limbah dapat berfungsi untuk menjaga keberlangsungan lingkungan. Plafon merupakan penutup langit-langit pada suatu bangunan yang banyak digunakan dalam bangunan tempat tinggal maupun bangunan komersial. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan lingkungan yakni limbah industri yang berlebihan sehingga dapat mencemari lingkungan. Untuk dapat mengurangi dan memberikan dampak positif pada lingkungan perlu kajian bagaimana penggunaan limbah material bangunan yang sudah tidak layak digunakan tapi dapat menjadi layak kembali untuk digunakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode experimental, yang dilakukan dengan melakukan percobaan untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Temuan pada penelitian memberikan jawaban adanya suatu potensi yang besar terhadap penggunaan material daur ulang. Bahan utama material serbuk kayu digunakan untuk material bangunan. Material yang dihasilkan adalah plafon yang terbentuk dengan bahan dasar utama serbuk kayu yang dicampur dan menghasilkan daya kuat lentur yang baik sehingga dapat digunakan sebagai plafon pada rumah tinggal maupun bangunan komersial.------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Construction development in Indonesia is growing so fast, that environmentally friendly materials are needed. Utilization of materials originating from waste can function to maintain environmental sustainability. The ceiling is a ceiling covering in a building that is widely used in residential buildings and commercial buildings. One of the causes of environmental problems is excessive industrial waste that can pollute the environment. To be able to reduce and have a positive impact on the environment, it is necessary to study how to use building material waste that is no longer suitable for use but can be used again. The method used in this study uses the experimental method, which is carried out by conducting experiments to get the appropriate results. The findings in this study provide an answer to the existence of a great potential for the use of recycled materials. The main ingredient of sawdust is used for building materials. The resulting material is a ceiling that is formed with the main ingredient of sawdust mixed and produces good bending strength so that it can be used as a ceiling in residential and commercial buildings.
Healing Architecture dalam Urban Entertainment Hub di Kota Tangerang Selatan Pratiwi, Hegar; Mawarni, Ida Ayu Sawitri Dian; Buwono, Hanugrah Adhi
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 24 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v24i2.10823

Abstract

Modernisasi dan globalisasi mengubah pola hidup dan bersosial masyarakat dari yang kompleks menjadi multi kompleks. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi lebih sulit untuk bersosialisasi dan beradaptasi, terutama pada masyarakat perkotaan salah satunya masyarakat kota Tangerang Selatan yang berbatasan langsung dengan Jakarta tentunya sebagian besar masyarakat memiliki kegiatan yang cukup padat. Dari kondisi tersebut muncul beberapa permasalahan baru di perkotaan termasuk masalah kesehatan mental masyarakat, yaitu stres. Lingkungan arsitektur sangat erat kaitannya dengan kesehatan fisik dan mental seseorang, karena arsitektur dapat menjadi wadah untuk membantu pemulihan dari kondisi tersebut. Maka dari itu, perlu adanya suatu tempat yang dapat menjadi wadah untuk masyarakat meredakan dan mengurangi stres dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang padat. Masyarakat kota Tangerang Selatan khususnya di kawasan Bintaro memiliki kegiatan untuk mengurangi stres dengan cara berolahraga, tingginya minat masyarakat untuk berolahraga dilihat dari beberapa komunitas yang ada di kota Tangerang Selatan. Bintaro Loop merupakan salah satu komunitas pesepeda yang aktif melakukan kegiatan bersepeda di akhir pekan, rute yang dilaluinya berada di kawasan CBD Emerald, Bintaro. Dalam merancang sebuah tipologi arsitektur Urban Entertainment Hub, diharapkan menjadi langkah yang tepat untuk meredakan dan mengurangi stres masyarakat kota Tangerang Selatan. Dengan menggunakan pendekatan healing architecture dan metode perancangan Evidance-based Design (EBD) desain berfokus dengan menekankan konektivitas antara bangunan dan alam. Berbentuk pusat perbelanjaan, desain dapat mewadahi beberapa kegiatan dengan fasilitas yang telah disediakan yang dinilai dapat membantu meredakan dan mengurangi stres pengguna.---------------------------------------------------------------------------------------------------------------Modernization and globalization have changed the way of life and society from being complex to being multi-complex. This causes it to be more difficult for people to socialize and adapt, especially in urban communities, one of which is the community of South Tangerang City which is directly adjacent to Jakarta, Of course, most people have quite busy activities. From these conditions, several new problems emerged in urban areas, including community mental health problems, namely stress. The architectural environment is closely related to a person's physical and mental health because architecture can be a place to help recover from these conditions. Therefore, it is necessary to have a place that can be a place for people to relieve and reduce stress from the busy routine of daily life. The people of the city of South Tangerang, especially in the Bintaro area, have activities to reduce stress by exercising, The high interest of the community to exercise can be seen from several communities in the city of South Tangerang. Bintaro Loop is a cyclist community that actively conducts cycling activities on weekends, The route it passes is in the Emerald CBD area, Bintaro. In designing an architectural typology for the Urban Entertainment Hub, it is hoped that this will be the right step to relieve and reduce stress for the people of South Tangerang City. By using a healing architecture approach and the evidence-based design (EBD) design method, the design focuses on emphasizing connectivity between buildings and nature. In the form of a shopping center, the design can accommodate several activities with the facilities provided which are considered to help relieve and reduce user stress.

Page 1 of 1 | Total Record : 10