cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
THE INTERFERENCE OF INDONESIAN GRAMMAR INTO THE ACQUISITION OF ENGLISH GRAMMAR (AN ANALYSIS OF THE 2ND SEMESTER STUDENTS’ WRITTEN TASK AT THE ENGLISH DEPARTMENT, UNIPDU JOMBANG) Achmad Fanani
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.91

Abstract

Achmad Fanani University of Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang akufanani@gmail.com  Abstrak First Language (L1) has a significant effect on the second language (L2) acquisition. This kind of phenomenon in the study of second language acquisition is called the interference of first language into second language (negative Interlingua transfer). Such interference often leads to errors (Kreshen, Stephen, 1988). This study describes the interference of Indonesian language (L1) into the English language acquisition (L2) commonly made by the second – semester students of English Department, Faculty of Language and Letters, UNIPDU Jombang and the language – based factors that influence the occurrence of interference. key words: L1 interference, markedness, beginner– level students   Abstrak Bahasa pertama (L1) mempunyai dampak yang signifikan terhadap keberterimaan bahasa kedua (L2). Fenomena semacam ini dalam akuisisi bahasa kedua disebut dengan interferensi L1 kedalam L2 (Negative interlingual transfer). Interferensi tersebut seringkali mengakibatkan kesalahan (error) (Krasen, Stephen, 1988). Studi ini akan menggambarkan interferensi gramatika bahasa Indonesia ke dalam akuisi bahasa Inggris (L2) yang sering dilakukan oleh mahasiswa semester 2 Fakultas Bahasa dan Sastra UNIPDU Jombang serta faktor-faktor kebahasaan yang melandasi terjadinya hal tersebut. kata kunci: interferensi L1, penandaan, siswa pemula
A STUDY OF GRAMMATICAL EQUIVALENCE IN ABDULLAH YUSUF ALI’S ENGLISH TRANSLATION OF AL – QUR’AN Achmad Farid
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.92

Abstract

Achmad Farid University of Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang diglossiafbs@gmail.com   Abstract Grammatical is one of the language identities that determine the meaning. In the translation, the grammatical leads the most significant role because the translation mainly is not translating the words but translating the meaning into the other language. This study exposes the grammatical equivalence in Abdullah Yusuf Ali’s English translation of al – Qur’an. key words: equivalence, translation   Abstrak Tata bahasa merupakan salah satu identitas bahasa yang menentukan makna. Dalam penerjemahan, tata bahasa memerankan peranan yang sangat signifikan karena penerjemahan pada intinya bukanlah menerjemahkan kata – kata tetapi menerjemahkan makna ke dalam bahasa lain. Artikel ini memaparkan ekuivalensi ketatabahasaan dalam penerjemahan Al- Qur’an berbahasa inggris. kata kunci: ekuivalensi, penerjemahan
TUTURAN UMPATAN ≠ MARAH Husnul Hamidiyah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.93

Abstract

Husnul Hamidiyah SMAN 1 Waru Sidoarjo diglossiafbs@gmail.com   Abstrak Hampir setiap bahasa di dunia memiliki berbagai bentuk umpatan yang unik dengan latar belakang budaya masing – masing, termasuk Indonesia dan Jepang. Hal ini perlu dipahami secara mendalam, mengingat sebagai pembelajar bahasa Jepang juga harus mengerti dan membandingkan bagaimana pertuturan bahasa sehingga dapat tercipta suatu suasana komunikasi yang harmonis dan baik. Tuturan umpatan dalam bahasa Jepang biasa disebut dengan istilah nonoshiri hyougen. Ada empat bentuk Nonoshiri hyougen dalam teori Andersson (dalam Karjalainen 2002:17) dibagi menjadi empat tipe. Setiap tuturan umpatan mengandung konteks emosi yang tidak hanya mengungkapkan situasi kemarahan tetapi juga dapat mengungkapkan konteks emosi keterkejutan, ketakutan, kesedihan, kesukaan , kegembiraan, da kebosanan (Boeree 2008:124). Orang – orang perlu memahami konteks dengan cepat yang menutupi sebuah tuturan umpatan ketika seorang penutur atau pendengar melakukannya. Dikarenakan pemahaman yang baik pada pemaknaan, bentuk ,tujuan , motif, dan fungsi dari Nonoshiri hyougen  atau tuturan umpatan diharapkan dapat menghindarkan persepsi yang salah diantara penutur -  penutur bahasa dalam komunikasi interkultural. Jadi komunikasi antar ras, etnik, agama, dan Negara dapat berjalan dengan lancar. kata kunci: tuturan umpatan, kemarahan  Abstrak Almost every language in the world has many unique forms of vituperation against the background of their respective cultures, including Indonesia and Japan. The existence of a unique culture swearword in foreign languages must be understood in depth, given as a Japanese language learner should also understand and comprehend a conversation. Swearwords in Japanese utterances commonly referred to as  nonoshiri hyougen. There are four forms of Nonoshiri Hyougen (Swearwordsproposed by Anderson ( in Karjalainen 2002:17 ). Every swearwords containing emotive context which not only expressed in situation of anger, but also can be expressed in the emotive context of surprise, fear, sadness, like, happy, and bored (Boeree, 2008:124). People need to understand the context observantly overshadow a swearword when a speaker or listener role. Due to a proper understanding of the meaning, form, purpose, motive and the function of Nonoshiri Hyougen (Swearwords) is expected to prevent the wrong perception among speaker of languages in an intercultural communication. So that communication between races, ethnics, and nations can work well. key words: swearwords, anger
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENERJEMAHAN LISAN Nuning Yudhi Prasetyani
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.94

Abstract

Nuning Yudhi Prasetyani Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang ningdibyo@gmail.com Abstrak Seorang peenerjemah lisan dalam melakukan tugas – tugasnya tidak dapat dipisahkan dari proses – proses yang meliputinya dalam menyampaikan terjemahanya tersebut. Hal ini dapat diukur dari cara seorang penerjemah lisan mengatur antara teks, tempat, dan pelaku. Ketika dia gagal dalam menggabungkan ketiga hal tersebut, dia akan gagal untuk menterjemahkan suatu teks secara lisan, atau dia tidak dapat menciptakan hasil terjemahan yang baik dan berterima kepada para pendengar. Kemampuan mendengarkan dan memori jarak pendek adalah hal-hal yang penting dalam melaksanakan proses penerjemahan secara lisan kata kunci: penerjemah lisan, kemampuan mendengarkan, memori jarak pendek   Abstract An interpreter in doing his responsibilities cannot be separated from the processes that are yielded in performing his interpretation. This can be measured from the way an interpreter copes with the text, place and participant. When he fails to comprehend them, he will fail to comprehend the text, or he cannot create a reliable speech to the hearer /audience. Listening skill and short – term memory are the important thing in obtaining the process of interpretation. key words        : interpreter, listening skill, short – term memory
BALINESE CULTURE IN EAT, PRAY, LOVE ELIZABETH GILBERT Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.95

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang princessnaura@yahoo.com Abstract This article would discuss about the reflection of Balinese culture in Eat Pray, Love Elizabeth Gilbert. This novel becomes phenomenal since the positive critics appear. The ending of this novel, Elizabeth told her memory about Bali, her way to describe Bali was very ‘realistic’. So many cultural aspects described in this novel. This writing will be developed through the cultural study theory as the fundamental in the study of Eat, Pray, Love Novel. key words: cultural study, cultural aspects   Abstrak Artikel ini membahas tentang budaya Bali yang tergambar dalam novel Eat, Pray, Love tulisan Elizabeth Gilbert. Novel ini begitu fenomenal semenjak kritik positif bermunculan. Dibagian akhir novel ini, Elizabeth menyampaikan memorinya tentang Bali, cara dia menggambarkan Bali begitu nyata. Banyak Aspek budaya yang tergambar dalam novel ini. Tulisan ini akan dikembangkan melalui teori study budaya sebagai kerangka utama dalam mempelajari novel Eat, Pray, Love. kata kunci: studi kultural, aspek budaya
APLIKASI TEORI NEUROLOGI BAHASA Yenny Soefiyanti
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 2 No. 2 (2011): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v2i2.96

Abstract

Yenny Soefiyanti Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang soefiyantiyenny@yahoo.com  Abstrak Teori literalisasi dalam aspek neurologi bahasa telah dianalisa melalui berbagai macam tes. Teori tersebut telah mendapatkan hasil yang berbeda; hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor; diantaranya suara dan intonasi, kuat dan lemahnya suara juga frekuensi kecepatan suara yang diterima. Artikel ini membahas aplikasi teori Neurologi dalam pengajaran bahasa. kata kunci: aspek neurologi bahasa, teori literalisasi, tes pendengaran duplikasi   Abstract Lateralization theory in neurological language aspect has been analyzed through multiple tests. It has got different result; it happens because it is influenced by some factors; they are sound intonation, the strong and the weak of the voice, also frequency of the sound speed derived. This article shows the application of neurology in teaching a language. key words: neurology aspect languages, theory of lateralization, duplicate listening test
THE PORTRAYAL OF FEMALE’S ROLE IN 18TH CENTURY IN THE CASTLE OF OTRANTO AND THE MYSTERIES OF UDOLPHO Trikaloka Handayani Putri
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.97

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang princess.naura@gmail.com  Abstrak Pendekatan mimesis cenderung mencari imitasi karya sastra terhadap realita. Ada begitu banyak karya sastra yang menggambarkan realita, The Castle of Otranto oleh Horace Walpole dan Misteri Udolpho oleh Ann Radcliffe adalah diantaranya. Dikenal sebagai novel gotik , keduanya mengangkat isu sosial yang sama. Menggunakan cara gotik dan dengan cerita yang mengerikan, The Castle of Otranto dan Misteri Udolpho menyajikan kehidupan wanita muda dengan masalah sosialnya. The Castle of Otranto menyuguhkan potret kehidupan Matilda dan Isabella yang memiliki kehidupan yang sedih hanya karena mereka perempuan, sementara The Misteri Udolpho bercerita tentang kehidupan kesengsaraan seorang gadis juga yang diperankan oleh Emily. Oleh karena itu, masalah sosial menjadi isu menarik untuk dibahas. Dengan menggunakan pendekatan mimesis, dapat dilihat dengan jelas bahwa kedua novel tersebut gotik dan berbicara tentang peran perempuan di abad 18. kata kunci: gotik , mimesis, masalah sosial  Abstract Mimetic approaches tend to look literary works is imitation of reality. There are so many works of literature that describes the reality; The Castle of Otranto by Horace Walpole and Ann Radcliffe's Mysteries of Udolpho are the examples. Known as the gothic novel, both raised the same social issues. Using a gothic way and with a terrible story, The Castle of Otranto and the Mystery of Udolpho presents the lives of young women with social problems. The Castle of Otranto presents a portrait of the lives of Matilda and Isabella who had a sad life just because they are women, while The Mystery of Udolpho tells about the life of a girl's woes also played by Emily. Therefore, the social problem becomes interesting to discuss the issue. By using a mimetic approach, can be seen clearly that both the gothic novel and talk about the role of women in the 18th century. key words: gothic, mimetic, social problems   
NEURO-LINGUISTIC PROGRAMMING AS STUDENT'S ENERGIZER Irta Fitriana
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.98

Abstract

AbstrakTugas seorang pendidik (pengajar) tidaklah hanya mentransfer isi materi, tetapi juga menginspirasi para muridnya agar termotivasi untuk belajar serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dibutuhkan suatu cara yang lebih mudah, cepat dan tepat untuk menginspirasi dan memotivasi para murid untuk mencapai tujuan pembelajaran. Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. Seperangkat presuposisi yang praktis, efektif, elegan dalam artikel ini dapat diaplikasikan secara riil dalam pengajaran dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman siswa.kata kunci: NLP, presuposisi (presupposition),interpersonal Abstract The job of an educator (teacher) is not simply transfer the contents of the material, but also inspire their students to be motivated to learn and apply it in everyday life. It takes a way more easily, quickly and precisely to inspire and motivate students to achieve learning objectives. Neuro-Linguistic Programming (NLP) is an interpersonal communication model and an alternative approach based on the subjective study of language, communication and personal change. Presupposition set of practical, effective, elegant in this article can be applied in real terms in teaching with the aim to strengthen students' understanding.key words: NLP presuppositions (presupposition), interpersonal
THE MIMETIC CRITICISM IN CHARLES DICKENS’ DAVID COPPERFIELD AND CHINUA ACHEBE’S THINGS FALL APART M Supriyatno
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.99

Abstract

Supriyatno Universitas Islam Darul ‘Ulum (UNISDA) Lamongan mizazuhadizavala@yahoo.com  Abstrak Kritik mimesis digunakan untuk menghubungkan imitasi, refleksi, dan representasi kehidupan manusia terhadap karya sastra. Charles Dickens dan Achebe merupakan penulis novel handal yang juga sangat peduli terhadap masalah sosial dalam kehidupan manusia. David Copperfield sebagai salah satu karya Dickens, menangkap fenomena sosial di London selama Revolusi Industri. Sementara itu, Achebe dengan Things Fall Apart nya menangkap kehidupan sengsara dari Igbo masyarakat dalam mempertahankan keyakinan mereka. Artikel ini bertujuan menyelidiki kritik mimesis dari David Copperfield dan Things Fall Apart berkaitan dengan cara penulis dalam menentukan karakter, penokohan, dan karakter utama dari kedua novel. kata kunci: kritik mimesis (mimetic criticism), refleksi (reflection), masalah social (social problem)   Abstract Mimetic Criticism is used to connect the mimetic imitation, reflection, and the representation of human life to literature. Charles Dickens and Achebe is a novelist who is also a reliable very concerned about social issues in human life. David Copperfield is one of the works of Dickens. This novel reveals the social phenomena captured in London during the Industrial Revolution. Meanwhile, Things Fall Apart by Chinua Achebe captured his miserable life of the Igbo people in defending their beliefs. This article aims to investigate the mimetic criticism of David Copperfield and Things Fall Apart deals with the way the author in determining the characters, characterizations, and the main characters of the novel. key words: mimetic criticism, reflection, social problems
CAMPUR KODE DAN ALIH KODE DALAM KOMIK NODAME CANTABILE BUKU # 19-24 KARYA TOMOKO NINOMIYA Amalia Rizqi Khoiriyah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.100

Abstract

Amalia Rizqi Khoiriyah Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang amaliarizqik@yahoo.com  Abstrak Artikel ini berjudul "Alih Kode dan Campur Kode di Komik # 19-24 dari Nodame Cantabile oleh Ninomiya Tomoko". Seleksi objek studi ini didasarkan pada isu-isu sosiolinguistik yang terjadi di masyarakat bilingual dan masyarakat multibahasa yang membentuk alih kode dan campur kode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam hal ini, menggambarkan bentuk-bentuk, faktor-faktor dan jenis alih kode dan campur kode dalam kehidupan tindak tutur bahasa karakter dalam komik ini. Data yang dianalisis adalah kata-kata, frase idiom, dan klausa. Dalam analisis, banyak diperoleh bentuk alih kode dan campur kode dalam bahasa lain selain bahasa Jepang dalam pidato karakter. Bentuk kode campuran yang sering muncul dikategorikan sebagai kata benda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 jenis alih kode yang digunakan oleh karakter buku komik Nodame Cantabile itu. Mereka adalah: (1) alih kode eksternal, (2) beralih codel situasional, (3) alih kode permanen, dan (4) swithing kode sementara. kata kunci: alih kode, campur kode, karakter, sosiolinguistik   Abstract The entitled is "Code Switching and Code Mixing in Comic Books # 19-24 of Nodame Cantabile by Ninomiya Tomoko". Selection object of this study is based on sociolinguistic issues that occur in the bilingual community and the multilingual community which is form with code switching and code mixing. The methods that used in this research is descriptive method. In this, described the forms, the factors and the type of code switching and code mixing in the speech act language life the characters in this comic. The analyzed data is a tangible data of words, phrases, idioms and clauses. In the analysis, many acquired forms of code switching and code mixing in a language other than Japanese language in the speech of the characters. Form of mixed code that often arises is categorized word of nouns. The results show that there are 5 types of code switching which are used by the characters of Nodame Cantabile’s comic books. Those are: (1) external code switching, (2) situational codel switching, (3) permanent code switching, and (4) temporary code swithing. key words : code switching, code mixing, characters of Nodame Cantabile’s comic books

Page 7 of 19 | Total Record : 183