cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
PENGGUNAAN WAKAMONO KOTOBA REMAJA JEPANG Nurul Laili
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.101

Abstract

Nurul Laili Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang dekiru22@gmail.com  Abstrak Wakamono Kotoba umumnya digunakan di kalangan remaja Jepang. Hal ini disebabkan oleh satu faktor masuknya bahasa ​​asing ke dalam asosiasi kaum muda Jepang. Bentuk pengembangan kreatif yang terjadi di Jepang hanya dalam lingkup bahasa remaja non formal di sekolah, restoran, mal, tempat berkumpul, dll. Wakamono Kotoba digunakan terbatas pada kelompok remaja tertentu di masyarakat. Tingkat kreativitas Wakamono Kotoba oleh remaja adalah suatu bentuk perkembangan bahasa di Jepang. Bahasa ini menjadi begitu dominan namun tetap tidak merusak bentuk universal dari masyarakat Jepang karena memang merupakan keragaman perkembangan bahasa dalam masyarakat Jepang. kata kunci: Wakamono Kotoba, remaja, bahasa non formal, masyarakat Jepang  Abstract Wakamono Kotoba is commonly used by Japanese teenagers as many foreign laguages come to Japan. Forms of creative development that occurs in Japanese only within the scope of non formal language (speesch teenagers in schools, restaurant, mall, place assembled teenagers, etc). Used Wakamono Kotoba limited to certain groups of young people (teens in the community). The level of creativity Wakamono Kotoba by adolescents is a form of language development in Japanese, so dominant used do not damage the universal form of Japanese society that has existed in Japan since it is the diversity of language development in Japanese society. key words: Wakamono Kotoba, teenagers, non-formal language, Japanese society
RAGAM BAHASA DALAM IKLAN PONSEL JEPANG Azizia Freda Savana
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 2 (2012): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i2.102

Abstract

Azizia Freda Savana Universitas Pendidikan Indonesia Aziziafreda@gmail.com   Abstrak Iklan merupakan suatu bentuk komunikasi yang mengungkapkan informasi atau pesan dan mempromosikan maksud penutur kepada lawan tuturnya.  Bahasa sering dipakai dalam mengungkapkan dan mempromosikan suatu informasi tersebut. Bahasa iklan tampak dalam ragam dan visualisasinya. Iklan ponsel merupakan iklan yang menarik untuk dikaji. bahasa yang digunakan dalam iklan ponsel Jepang lebih menarik dan lebih menggunakan makna implisit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam bahasa dan variasi penulisan atau karakter bahasa iklan Jepang serat makna yang terkandung didalamnya. Telaah pustaka dalam penelitian ini diambil dari sumber data tertulis dalam website yang berhubungan dengan iklan ponsel Jepang. Penelitian ini juga menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk membantu menganalisis data yang telah dikumpulkan dan dijabarkan secara rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa dalam iklan ponsel Jepang banyak menggunakan ragam bahasa biasa yang ditandai dengan bentuk kamus. Karakter atau penulisan yang digunakannya pun bervariasi. Variasi penulisan yang lebih banyak digunakan adalah penulisan kata asli bahasa Jepang yang seharusnya memakai huruf hiragana, ditulis dengan huruf katakana. Penulisan itu digunakan untuk menekankan dan menegaskan suatu kata.   Karakteristik ragam bahasa iklan ponsel Jepang terletak pada pemilihan diksi yaitu berupa kantan (mudah), surimu (slim/tipis), suraido (slide), bousui (anti air) yang jarang ditemukan oleh iklan lainnya. kata kunci : ragam bahasa, iklan ponsel Jepang, diksi   Abstract Advertising is a form of communication (transmitting messages / information) to reach the purpose of speaking to public. In this case, language is often used in expressing and promoting information. Advertisement appears in a variety of languages ​​and visualization for example Japanese mobile advertisements. They are very interesting. The language used is more compelling and tends to use implicit meanings. This study aims to determine the regional variations and variations in writing an ad. The data are taken from the catalog on the website of the three electronics companies in Japan. The results showed that the diversity of languages ​​in many Japanese mobile ads commonly used an ordinary language which is characterized by a dictionary form. Character or the use of writing was varied. Variations of writing that more widely used are katakana. However, they should be in hiragana forms. Characteristics of regional variations of Japanese cell phone ads are about diction including kantan (easy), surimu (slim / thin), suraido (slide), and bousui (anti-water) that are rarely found in other ads. key words: language variety, mobile Japan advertisement , advertising, diction
ANALISIS KONTRASTIF DALAM PENERJEMAHAN ‘SIGHTSEEING’ NUNING YUDHI PRASETYANI
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.225

Abstract

Nuning Yudhi Prasetyani Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang ningdibyo@gmail.com Abstract Contrastive analysis is a method that can be used to overcome the problem of translation. Contrastive analysis is defined as a sub-discipline of linguistics on contrasting two languages ​​or more (or a sub-system of the language) to determine the similarities and differences between two languages. Nababan (1997:8) explains that there are two kinds of contrastive studies, the theoretical and applied. Theoretical contrastive study examines in depth the differences and similarities between the two languages ​​or more to find a certain category or not in language A or language B, whereas applied contrastive study is part of a study of applied linguistics. By taking the results of the study of theoretical contrastive studies, this study is looking for a framework to compare languages ​​and focus on specific information for specific purposes, for example for language teaching, bilingualism analysis, and translation. Key words: contrastive analysis, translation, bilingualism analysis   Abstrak   Analisis kontrastif adalah metode yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan dalam penerjemahan. Analisis kontrastif didefinisikan sebagai suatu disiplin sub-linguistik pada membandingkan dua bahasa (sistem sub-bahasa) untuk menentukan persamaan dan perbedaan antara dua bahasa tersebut. Nababan (1997:8) menjelaskan bahwa ada dua macam penelitian kontrastif,  yakni analisis kontrastif  teoritis dan terapan. Analisis kontrastif teoritis meneliti secara mendalam perbedaan dan persamaan antara dua bahasa atau lebih untuk menemukan kategori tertentu dalam bahasa A atau bahasa B, sedangkan penelitian kontrastif terapan merupakan bagian dari studi linguistik terapan. Melalui hasil analisis kontrastif teoritis, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua bahasa yang fokus pada informasi spesifik untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pengajaran bahasa, analisis bilingualisme, dan penerjemahan. Kata kunci: analisis kontrastif, terjemahan, analisis bilingualisme
PERGESERAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA NURDIN BRAMONO NURDIN AND MIFTA
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.226

Abstract

Nurdin Bramono Mifta Rahman Universitas Sebelas Maret Surakarta Naardi18@gmail.com Abstract Economic and technology development are the  main reason of language shift. It is not wrong however it will be serious problem toward  a certain language continuity. Therefore it is necessary to have language maintenance. Keyword: language, maintenance, shift Abstrak Perkembangan perekonomian dan kemajuan teknologi merupakan faktor utama dalam hal terjadinya pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa tersebut bukan hal yang salah, namun kesalahan dalam  hal pergeseran makna  bisa menjadi ‘boomerang’ terhadap  kelestarian bahasa tertentu. Oleh karena itu diperlukan sebuah tindakan nyata yakni pemertahanan bahasa, agar kelestarian bahasa bisa terjaga. Kata kunci: pergeseran, Pemertahanan Bahasa
AFGHANISTAN’S CULTURE IN THE KITE RUNNER BY KHALED HOSSEINI TRIKALOKA HANDAYANI PUTRI
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.227

Abstract

Trikaloka Handayani Putri University of Pesantren Tinggi Darul’ulum princess_naura@yahoo.com Abstract The Kite Runner merupakan salah satu novel karya Khaled Hosseini yang fenomenal. Karya sastra ini mengangkat isu sosial yang berkaitan erat dengan budaya yang ada di Afganistan, terutama di Kabul melalui cerita hidup seorang Amir dan Hasan. Melalui cerita hidup Amir dan Hasan yang sarat dengan konflik tersirat pandangan hidup dan adat yang sangat berbeda antara kaum Pasthun dan Hazara. Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang pandangan hidup kaum Pasthun dan Hazara dengan pengaplikasikan culture criticism terhadap karya satra. Culture criticism merupakan studi tentang budaya yang ada di dalam sebuah karya sastra. Dengan pengaplikasian Culture criticism, diharapkan budaya yang tercermin dalam karya sastra bisa terkaji dengan lebih dalam. Key words: kritik sastra (culture criticism), isu sosial     Abstrak The Kite Runner is a phenomenal novel written by Khaled Hosseini. This literary work raises social issues that closely related to the Afghanistan’s culture, especially in Kabul through the life story of Amir and Hassan. The ridden-conflict coloured their life story implied a contrastive life view and customs between Pashtun and Hazara. This article will explore more about the world view of the Pashtun and Hazara by applying culture criticism. It is the study of culture in a literary work. By applying culture criticism, it is expected that the culture reflected in the literatury works can be explored deeper. Key words: literary criticism (culture criticism), social issues
SEMANTIC TRANSLATION ERRORS AS A RESULT OF GOOGLE TRANSLATE (A CASE OF ERRORS OF TRANSLATION ON HOMONYMOUS AND POLYSEMOUS WORDS IN BAHASA INDONESIA) SITI NUR JAMILAH
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.228

Abstract

Nur Jamilah University Of Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang keeplighting_mila@yahoo.com   Abstrak Inti penerjemahan adalah mencari kesepadanan antara bahasa sumber (SL) dan bahasa sasaran (TL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terjemahan kata homonim dan polisemi dalam Bahasa Indonesia (SL) ke dalam bahasa Inggris (TL) melalui program Google Translate. Penelitian ini difokuskan pada pengamatan terhadap kesalahan semantik umum, khususnya kesalahan semantik yang disebabkan oleh program Google Translate ini. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah semantik, penerjemahan, homonimi dan polisemi, dan ambiguitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Program Google Translate cenderung secara harfiah daripada kontekstual. Hal ini menyebabkan ambiguitas. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan penelitian selanjutnya akan menganalisis berbagai makna kalimat, seperti makna pragmatis, makna disengaja, makna konotatif, makna denotatif, makna sosial, makna deiktik, dsb. Selain itu, diharapkan bahwa riset ini berguna bagi programmer komputer untuk membuat program baru yang canggih untuk meminimalisir kesalahan dalam penerjemahan. Kata Kunci: homonimi, polisemi, Google Translate Abstract Translation should consider the equivalent text between the first language (SL) and the second language (TL). The study tries to analyze the translation of homonymous and polysemous words in Bahasa Indonesia into English by Google Translate program. It observes the common semantic errors, more specifically the semantic causes of errors, resulted from the program. The theories used to analyze homonymous and polysemous words structure errors of Google Translate translation are semantics, translation, homonymy and polysemy, and ambiguity. This study applies a descriptive qualitative method. Google Translate tends to translate literally rather than contextually. This causes lexical ambiguity. Based on the result of the study, it is expected that the next research will analyze the various meaning in sentence, such as pragmatic meaning, intentional meaning, connotative meaning, denotative meaning, social meaning, deictic meaning, and so on. Furthermore, it is expected that it will be useful for computer programmer to create new advanced programs in order to minimize errors. Key Words: Homonymy, Polysemy, Google Translate  
THE OPPRESSION AGAINST WOMEN IN AFGHANISTAN PORTRAYED IN KHALED HOSSEINI’S A THOUSAND SPLENDID SUNS SRI WULANDARI
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.229

Abstract

Sri Wulandari Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang mikyoonrizu@gmail.com Abstrak Artikel ini merupakan contoh kritik sastra yang mengupas jenis penindasan yang dialami oleh perempuan dalam novel ‘A Thousand Splendid Suns’ karya Khaled Hosseini dan bagaimana cara mereka menghadapi penindasan. Dengan menggunakan teori penindasan oleh Iris muda, penelitian ini mencoba untuk menggambarkan penindasan yang dialami oleh Mariam dan Laila di dalam novel A Thousand Splendid Suns. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima jenis penindasan, diantaranya eksploitasi, marginalisasi, ketidakberdayaan, imperialisme budaya, dan kekerasan yang dialami oleh dua tokoh wanita tersebut. Kelima penindasan ini berasal dari suami dan masyarakat di mana mereka tinggal. Mariam cenderung untuk bertahan atas penindasan yang dialami, sementara Laila cenderung untuk melawan. Tapi pada akhirnya, baik Mariam dan Laila melawan penindasan untuk menentukan kehidupan mereka masing- masing. Kata Kunci: penindasan, penindasan perempuan Abstract This article is a literary criticism which studies the types of oppression experienced by women in Khaled Hosseini’s A Thousand Splendid Suns and the way they deal with the oppression. Using  the theory of oppression by Iris Young , this study tries to describe Mariam’s and Laila’s oppression in A Thousand Splendid Suns. Through this study, it is found that Five Faces of Oppression, namely exploitation, marginalization, powerlessness, cultural imperialism, and violence happen to the women in A Thousand Splendid Suns. Those types oppression above come from their husband and the society where they live. The effort they make to deal with the oppression is different according to their personalities and family background. Mariam tends to defend and endure, meanwhile Laila is apt to defend and resist. But in the end, both Mariam and Laila fight the oppression to determine their own lives. Key Words : types of oppression, women oppression  
ALIH KODE DALAM LAGU SHARE THE WORLD OST ONE PIECE fitroh FITROTUNNAJA
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 1 (2012): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i1.230

Abstract

Fitrotunnaja Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang Mizumi_nicui@yahoo.com  Abstrack Code switching in multilingual community is caused by something related in siciolinguistic. The song Share The World is soundtrack one of Japan anime which is presented in one of private stasiun television in Indonesia, namely One Piece. One Piece also become one of Indonesian people favourite anime, it is caused fun and interesting story. This research is to know the causing factor of code switching and type of code switching in the song of Share The World (OST One Piece). The results show that causing factor is for fun and the type is situasional code switching. Keywords: code switching (alih kode), multilingual community (masyarakat multilingual), lyric of song (lirik lagu)   Abstract Alih kode dalam masyarakat multibahasa disebabkan oleh sesuatu yang berhubungan dalam siciolinguistik. Lagu Share The world merupakan soundtrack salah satu film kartun Jepang yang ditayangkan di salah satu televisi swasta di Indonesia, yaitu One Piece. One Piece juga menjadi salah satu anime favorit masyarakat Indonesia karena ceritanya yang menyenangkan dan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab alih kode dan jenis alih kode dalam lagu Share The world (OST One Piece). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor alih kode dan jenis- jenis alih kode dalam lagu Share The world (OST One Piece). Kesimpulannya, faktor penyebab alih kode adalah untuk bersenang-senang dan jenis alih kode dominan adalah alih kode situasional. Kata kunci: alih kode (Alih Kode), masyarakat multibahasa (multilingual Masyarakat), lirik lagu (lirik lagu)
STRUKTURALISME GENETIK PADA NOVEL THE KITE RUNNER KARYA KHALED HOSSEINI ENDANG SUCIATI
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 2 (2013): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i2.252

Abstract

Endang Suciati Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang Endang24@gmail.com Abstrak Dalam konteks sosiologi sastra, karya satra merupakan gambaran dari kehidupan sosial masyarakat. Sedangkan  menurut Goldmann, karya sastra merupakan struktur, struktur dalam karya sastra bukan lah sesuatu yang statis, melainkan dinamis karena merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung dan yang dihayati oleh masyarakat di mana karya sastra itu berada. Sehingga akan terjadi homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat yang dijembatani oleh suatu pandangan dunia yang berupa ideologi. Dengan menggunakan konsep Goldmann tersebut, makalah ini menganalisa novel “The Kite Runner” karya Khaled Hosseini dan menemukan bahwa terdapat homologi antara struktur masyarakat yaitu masyarakat Afghanistan dengan struktur pada novel tersebut. Homologi ini dihubungkan oleh suatu ideologi kelas sosial yang dominan pada waktu itu yaitu yang berupa nasionalis-religius dan humanis. Kata kunci: strukturalisme genetik, pandangan dunia,  “The Kite Runner” Abstract Literary work, in term of sociology of literature, is the description of social life. According to Goldmann, literary work is a structure which is not static but dinamic because it is the result of the long historical process of the society where the work is made. So that, there will be homology between literary structure and social structure that is connected with ideology as the  world view. By analyzing Khaled Hosseini’s The Kite Runner using Goldmann concept, it is found that there is homology between the social structure in this case Afghanistan social structure with the structure of the novel. This homology is connected with some ideologies,, namely religion-nationalism and humanism. Key words: genetic structuralism, world view,  “The Kite Runner”  
LILIS SURYANI’S “GANG KELINCI” AS A REFLECTION OF SOCIAL REALITIES IN INDONESIA (1957–1965) CHRIS WOODRICH
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 4 No. 2 (2013): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v4i2.254

Abstract

Chris Woodrich Universitas Gadjah Mada chris_woodrich@hotmail.com   Abstract Music does not live in a vacuum. It is forever growing and mutating, at once reflecting and creating social realities in the culture which birthed it, be they historical developments or contemporary conditions. The song “Gang Kelinci”, written by Titiek Puspa and sung by Lilis Suryani, provides an interesting case in point: its lyrics provide a stark portrayal of the suffering of the Indonesian lower class during the Guided Democracy period (1957–1965).This is only emphasised by its whimsical imagery and jaunty music, which was used to avoid censorship during the totalitarian Guided Democracy period. Key Words: gang kelinci, Lilis Suryani, Titiek Puspa   Abstract Musik tidak berada dalam suatu vakum. Ia selalu berkembang dan berubah, mencerminkan dan menciptakan realitas sosial dalam budaya yang telah melahirkannya, baik perkembangan historis maupun keadaan kontemporer. Lagu “Gang Kelinci”, yang ditulis oleh Titiek Puspa dan dinyanyikan Lilis Suryani, menjadi salah satu contoh yang menarik: lirik lagu ini menawarkan gambaran kesengsaraan yang dialami masyarakat kelas bawah Indonesia selama periode Demokrasi Terpimpin (1957–1965). Ini semakin ditekankan dengan pencitraannya yang fantastis dan musik yang gembira, yang digunakan untuk menghindari penyensoran dari pemerintah totaliter demokrasi terpimpin. Kata Kunci: gang kelinci, Lilis Suryani, Titiek Puspa

Page 8 of 19 | Total Record : 183