cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Religi: Jurnal Studi Islam adalah jurnal ilmiah berkala (P-ISSN: 1978-306X; E-ISSN: 2477-8397) yang memuat tulisan konsepsional atau hasil penelitian studi keislaman yang meliputi: Hukum Islam, Pendidikan Islam, Pemikiran Islam, Ekonomi Islam dan kajian-kajian keislaman lain. Terbit berkala setiap bulan April dan Oktober. Religi: Jurnal Studi Islam diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (Unipdu) Jombang.
Arjuna Subject : -
Articles 49 Documents
OPTIMALISASI METODE PEMBELAJARAN IPS MI UNTUK PENGEMBANGAN KETERAMPILAN BERFIKIR KRITIS SISWA Ulwiyah, Nur
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.895 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan dua alasan; pertama, secara akademik, metode yang variatif  akan efektif dan efisien mempertinggi kualitas pembelajaran dan jika tidak dikembangkan secara baik, tidak mustahil akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran, yaitu tercapainya kompetensi keterampilan berfikir kritis siswa. Kedua, berdasarkan observasi awal, ditemukan fenomena guru IPS dalam mengajar menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan saja. Hal ini kurang mengembangkan berfikir kritis dengan didasarkan pada teori berpikir kritis FRISCO (focus, reason, inference, situation, clarity, overview). Tujuan penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis metode mengajar guru IPS MI dalam mengembangkan keterampilan berfikir kritis siswa. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah discourses analysis. Temuan penelitian ini adalah metode yang digunakan guru IPS MIN Rejoso Peterongan Jombang kurang mengembangkan keterampilan berfikir kritis siswa, dengan sebab-sebab yaitu adanya pandangan guru bahwa IPS identik dengan hafalan dan cerita, keterampilan berfikir kritis kurang efektif dikembangkan bagi siswa MI karena mereka belum bisa diajak berfikir kritis, ketidaktahuan guru tentang teori berfikir kritis dan metode-metode yang mendukungnya, adanya paradigma bahwa guru adalah segala-galanya, adanya rasa enggan guru untuk merancang pembelajaran yang kritis, dengan alasan: banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan, sarana terbatas.This research works for two reasons; first, academically, variative method will be highly effective and efficient in teaching quality. Meanwhile if this does not develop well, it is an obstacle for the achievement of learning objectives, the achievement of critical thinking skills. Second, based on the first observation, it was found that there are some social studies teacher who teach the student by speech method, asking-answer question, and giving works. It will not develop student critical thinking based on what FRISCO stated. The research purpose is to identify and analyze the learning method of  social studies teacher in MIN Rejoso to developing student critical thinking skills. It is field research with qualitative approach. The data is collected by interview, observation, and document analysis. The data analysing technicque uses “discourses analysis”. The research found is the method used by social studies teacher in MIN Rejoso Rejoso Peterongan Jombang can not develop the student critical thinking skills. The causes is there are some teacher’s view that social studies is similar with rote and stories. The paradigm that may admit the teacher is everything, teachers is lazy to design critical learning due to  lot of other works that must finished, and limited facilities.
PRO-KONTRA NIKAH MUTAH DALAM PERSPEKTIF MAQASID AL-SHARI'AH Hidayatulloh, Haris
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.199 KB)

Abstract

Perkawinan merupakan suatu ikatan yang mengandung serangkaian perjanjian yang sangat kuat diantara suami dan istri. Al-Qur’an menyebutnya dengan perjanjian yang kokoh. Dalam pandangan Islam perkawinan pada prinsipnya bersifat kekal, dan tidak dibatasi oleh rentang waktu tertentu. Pernikahan dalam Islam mempunyai tujuan dan hikmah tersendiri. Diantara tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk memenuhi petunjuk Allah dalam rangka memb.a keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia dan juga untuk menghasilkan serta melestarikan keturunan. Islam sangat mendorong orang untuk melangsungkan pernikahan secara benar. Oleh karenanya, salah satu maqa>s{id al-shari>’ah (tujuan syariah), yaitu menjaga keturunan. Oleh karenanya perkawinan dapat dilaksanakan setelah semua pihak yang telah memenuhi persyaratan dan rukun dari perkawinan yang telah ditetapkan dalam hukum  Islam. Akan tetapi mencul permasalahan perkawinan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, yaitu pernikahan yang hanya untuk sementara waktu atau dibatasi oleh rentang waktu tertentu, yang hanya semata-mata untuk menyalurkan hasrat seksual atau sekedar memenuhi kebutuhan bilogis. Dalam Islam dikenal dengan istilah nikah mutah dan kalau di Indonesia dikenal dengan istilah kawin kontrak.Marriage is a bond, containing a series of meaningful agreement  between a husband and wife. It is mentioned in Qur’an as solid agreement. In Islamic view, marriage is everlasting and has a purpose as well as wisdom. One of the purpose of marriage is to establish harmonius, welfare and happiness family. It is also used to generate islamic generation. Islam also highly supported to marry properly. Therefore, based on shariah view, the purpose of marriage is to maintaining the descendant. Furthermore, there are some requirement to perform the marriage by fulfilling the pillar based on Islamic law. However, there is  marriage problem in society. It is called muta. Muta is old fashion tradition marriage. It is temporary marriage to satisfy the lustful. In Indonesia muta marriage is called ”kawin kontrak”.
KONSEP UMMAH DALAM AL-QUR'AN (Sebuah Upaya Melerai Miskonsepsi Negara-Bangsa) Rahman, Zayad Abd.
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.15 KB)

Abstract

Ummah disebutkan dalam al-Qur'an 62 kali dalam dua puluh empat surah. 52 bagian itu berbentuk dengan kata tunggal (al-murfad). Al-Qur'an menggunakan istilah ini untuk berbagai makna. Ummah memiliki lebih dari satu makna. Makna umat tida hanya terbatas bagi umat manusia. Lebih dari itu terma ummah juga digunakan untuk menyebut suatu kelompok tertentu seperti agama, waktu atau tempat. Bahkan istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut sekawanan burung seperti dalam surah al-An'am (6): 38. Peryataa ini menunjukan bahwa terma ummah tidak hanya memiliki satu makna tetapi lebih luas dari itu. Maka terma ini memberikan cakrawala baru tentang adanya persaudaraan sebagai umat manusia di dunia ini. Tentu saja, artikel ini akan mengekplorasi terma ini sebagai kontra diskursus kelompok yang menggunakan terma tersebut dalam pandangan yang sempit dan eksklusif di alam raya ini.Ummah is mentioned by al-Qur'an 62 times in twenty-four surah. And 52 of part it is shaped with singular mode. Al-Qur'an uses this term with various meanings. Ummah has more than one meaning. The meaning of ummah is not just limited to mankind. More than that ummah term is so used for association of thing like religion, time or place. And moreover to animals like birds in the same manner as surah al-An'am: (6): 36. This statement gives does not have one meaning. But rather it is wider than that. Otherwise, al-Qur'an is using the term in teh fact to explain more than one meaning. In this meaning it illustrates new horizons about the existing of brotherhood as human being in the world. Of course, the article will explrore the term as counter-discourse of groups willing which is using the term in narrow views and exclusive in the nature.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN DAN PERAN BIROKRASI Solichin, Mujianto
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.467 KB)

Abstract

Kebijakan politik dan birokrasi merupakan dua hal paling penting dalam menjalankan roda pemerintahan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Dua elemen ini bisa mempengaruhi pelaksanaan pendidikan secara keseluruhan. Kebijakan yang baik akan mandul tanpa dibarengi dengan iklim birokrasi yang sehat dan kondusif. Begitu pula birokrasi tidak akan berjalan dengan efektif dan efesien tanpa ditopang dengan kebijakan yang tepat dan baik. Artikel ini memotret keterkaitan politik dengan pendidikan dalam praktek sistem birokrasi pendidikan. Peran birokrasi di lembaga pendidikan menjadi puncak model implementasi kebijakan, oleh karenanya diperlukan adanya pembaharuan manajemen pada satuan pendidikan. Proses pembaharuan tersebut berkaitan dengan pengembangan, penyebaran, diseminasi, perencanaan adobsi dan penerapan kebijakan pendidikan dalam satuan pendidikan tertentu.Political and bureaucracy policy are the important aspect in running the government, including education. Both element are able to influence the implementation of education as a whole. However, if the bureaucracy atmosphere is unhealty, good policy would be barren. Similarly, an appropriaate and good policy has to support a bureaucracy system. In education institution, the role of bureaucracy has become an implementation model; therefore there must be a management improvement in the educational unit. The improvement deal with development, deployment, dissemination, adobtion planning and implementation of education policy within particular educatioan unit.
STUDI KOMPARATIF TENTANG KONSEP POTENSI ANAK DIDIK DALAM PERSPEKTIF JOHN DEWEY DAN PENDIDIKAN ISLAM Khoirot, Azimatul
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.172 KB)

Abstract

Artikel ini membahas konsep potensi anak didik dalam perspektif John Dewey dan perspektif pendidikan Islam. Penulis mengkaji dua konsep tersebut dengan pendekatan komparatif. Kedua konsep potensi anak didik tersebut menarik untuk dikaji, karena baik Dewey maupun pendidikan Islam mangakui adanya potensi tambahan. Walaupun demikian, keduanya berbeda dalam hal perkembangan dan tujuan akhir dari potensi tersebut. Menurut Dewey manusia dibekali dua potensi dasar berupa akal dan bakat. Kedua potensi ini berkembang menjadi baik dan buruk sesuai dengan pengaruh lingkungan yang melingkupinya. Dalam pandangan Dewey, potensi tidak memiliki tujuan akhir, tatapi berjalan dinamis mengikuti pengaruh sosial yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan Dewey, pendidikan Islam memandang potensi dasar anak didik terdiri dari tiga komponen yang saling memparuhi. Tiga kompetensi dasar tersebut berupa jasmani, akal dan ruh. Ketiga potensi ini mempunyai kecenderungan untuk menjadi baik, tetapi dalam perkembangannya bisa keluar dari kecenderungan dasarnya karena pengaruh lingkungan. Tujuan akhir dari potensi dasar anak didik ini untuk mengabdi kepada pencipanya, Allah Swt.The article will discuss about student's hidden strength dan passion based on John Dewey dan islamic education view. Both concepts were investigated by applyng comparative approach. I was interested to have this discussion due both have recognized hidden strength and passion. However, there are some aspects that distinguish both John Dewey and Islamic Education view; they ar development and to goal John Dewey explained the every human being have been endowed with intelligence and talent as basic hidden strength and passion. These develop become good and worst influenced by the society they live in. He also stated thad hidden strength and passion have no purpose, but they run smoothly, influenced by daily life social control. in contrast with Dewey, Islamic education view hidden strength and passion consist of tree mutually affect basic component. They ar body, intelligence and spirit. Those tree components intend to be good; nevertheless they are possible to change due the influence of social daily life. The final goal is to serve the God.
LANDASAN PSIKOLOGI DAN AKTUALISASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Ulwiyah, Nur
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.969 KB)

Abstract

Pendidikan Islam memiliki peran strategis bagi pembentukan karakter peserta didik yang sangat dibutuhkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dimana dalam proses keberlangsungannya, pendidikan Islam berpijak pada nilai-nilai al-Qur’an dan Hadis. Dengan ini, pendidikan Islam merupakan pondasi penguat terhadap akhlak dan perilaku peserta didik. Namun demikian, pendidikan Islam masih perlu pula kontribusi disiplin ilmu lain sebagai faktor pendukung guna melangsungkan pendidikan secara konkret dan membumi. Salah satu disiplin ilmu itu adalah psikologi. Psikologi adalah disiplin ilmu yang mengkaji sekaligus melihat peserta didik dari sudut pandang psikis (jiwa), dimana aspek psikis harus menjadi pertimbangan para pendidik dalam proses pencapaian tujuan pendidikan. Di antara psikologi yang bisa dijadikan sebagai landasan pendidikan yaitu psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan psikologi sosial. Pendidikan harus melihat kondisi psikologi individu dalam hal ini adalah peserta didik, utamanya dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Adapun dalam pendidikan Islam psikologi yang dijadikan sebagai acuan adalah psikologi yang berwawasan pada al-Qur’an dan Hadis. Dimana akhirnya menghasilkan output yang berorientasi ketuhanan, insan kamil bahagia di dunia dan akhirat.Islamic education a strategic role for the formation of the very character of learners needs through daily life, where in the process of its continuity, Islamic education based on the values of the Qur'an and al-Hadith. With this, Islamic education is the Foundation of the amplifier against akhlaq and behaviours learners. However, Islamic education still needs also contribute to other disciplines as the factor endowments in order to carry out the education concretely and grounded. One of the disciplines it is psychology. Psychology is a scientific discipline that examines while seeing learners from the perspective of a psychic (soul), where the psychic aspect should be a consideration in the process of educators the achievement of educational goals. Among the psychology that could serve as the cornerstone of education i.e. developmental psychology, psychology of learning, and social psychology. Education should see conditions of individual psychology in this regard are the learners, especially in drawing up and implementing the curriculum so that the purpose of education can be achieved optimally. As for Islamic education in psychology who serve as the reference point is the psychology that insightful on al-Qur'an and al-Hadith. Which ultimately generate output oriented Godhead, insan kamil happy in the world and the hereafter.
ADIL DALAM POLIGAMI PERSPEKTIF IBNU HAZM Hidayatulloh, Haris
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.617 KB)

Abstract

Poligami merupakan pembahasan dalam perkawinan yang paling banyak diperdebatkan  di kalangan ahli hukum Islam. Pro-kontra seputar poligami terus berkembang di kalangan ulama. Sebagian ulama menganjurkan poligami sebagai bentuk implementasi dari perintah Allah dan sebagian lain menolak poligami dengan berbagai macam argumentasi yang selalu dikaitkan dengan ketidakadilan gender. Dalam Islam, poligami diyakini sebagai salah satu solusi ketika istri tidak bisa memberikan keturunan atau pertimbangan sosial lain. Walaupun demikian, pembolehan poligami diharuskan dengan mengutamakan sikap adil di antara para Istri. Jika dirasa kurang mampu untuk berbuat adil, maka dilarang melakukan poligami. Artikel ini membahas konsep adil berpoligami dalam perspektif Ibn Hazm al-Zahiri.  Menurutnya adalah bahwa adil di antara para istri hukumnya adalah wajib, terutama dalam  hal  pembagian  malam dan pembagian nafka.Mostly, many Islamic scholars has discussed about polygamy. Moreover, pros and cons have been developed also among the ulema. Some suggest that polygamy is the commandment of God. Meanwhile, in contrast with the previous, other Islamic scholars refuse the polygamy related to gender discrimination. In Islam, polygamy thought as one of the solution while the wife cannot give birth or other social consideration. Nevertheless, the permissibility of polygamy has to give the fairness priority among the wife. If the husbands fail to provide enough fairness, thus it is forbidden. This article will discuss about fairness concept in polygamy based on Ibn Hazm al-Zahiri view. He stated that fairness among the wife is a must. The fairness is about inwardly and outwardly living.
SEJARAH MUSHAF 'UTHMANI (MELACAK TRANFORMASI AL-QUR'AN DARI TEKS METAFISIK SAMPAI TEXTUS RECEPTUS) Samsukadi, Mochamad
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.248 KB)

Abstract

Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad dalam bentuk oral, tidak dalam bentuk teks mushaf yang bisa dibaca. Namun dalam perkembangannya, al-Qur'an tersebar di kalangan umat Islam dewasa ini dalam bentuk teks tercetak dilengkapi dengan tanda baca dan diakritikal untuk memudahkan bagi pembacanya. Sampai menjadi teks standar (textus seceptus) saat ini, al-Qur'an menghabiskan waktu yang panjang dan melibatkan banyak ulama lintas generasi. Perkembangan itu dibagi menjadi lima periode, yaitu: periode oral, periode kodifikasi, periode penyempurnaan tanda baca dan diakritikal, periode cetak dan periode teks standar al-Qur’an pada tahun 1923 yang kerjakan oleh Tim dari Universitas al-Azhar Mesir. Semua periode ini hanyalah usaha ulama untuk memberikan tanda baca saja, sehingga al-Qur'an mudah dibaca, tidak merubah teks aslinya, sebagaimana dituduhkan oleh sebagian sarjana Barat.Allah gave the oral revelation to Prophet Muhammad, not in written manuscript. However, during the development, Quran has been spread in printed text with diacritical and punctuation sign for easier to read. Moreover, many ulema across generation have spent unlimited time to make the recent standard text of Quran. The development was divided into five period; they are oral, codification, refinement of punctuation and diacritical, printed, and standard text period that was done by a Al Azhar University of Egypt team in 1923. All of the period were some information of how the ulema give the punctuation for the Quran to be easy to read and  not to change the original text as alleged by some western scholar.
UNSUR-UNSUR PENDEKATAN PEMBELAJARAN PAI DALAM TAFSIR AL-QUR'AN SURAH AL-BAQARAH: 151 Ashari, Moh. Yahya
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.665 KB)

Abstract

Al-Qur'an memberikan cetak biru pembelajaran yang mengarah pada pemberdayaan kompetensi manusia secara integratif melalui pola pendidikan seimbang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mendeskripsikan pendekatan pembelajaran dalam al-Qur'an Surah al-Baqarah: 151. Pendekatan tersebut dapat dipetakan menjadi lima macam, yaitu: pendekatan tilawah, pendekatan tazkiyyah (penyucian), pendekatan ta'lim al-Kitab (pembelajaran al-Qur'an), pendekatan ta'lim al-hikmah (pembelajaran dengan hikmah), dan pendekatan "ya'allmukum malam takunu ta'lam" (membelajarkan hal-hal yang belum dipelajari) dengan merujuk pada beberapa tafsir yang otentik. Akhirna, harus diakui bahwa keberadaan al-Qur'an merupakan sumber utama pengembangan konsep pendidikan Islam yang dapat dibuktikan dengan nyata dan akurat melalui kajian-kajian, talaah maupun penelitian.The Qur'an has given integrated learning blue print to human being that leads t empowering human competence through balanced education pattern in cognitive, affective and psychomotor. Therefore, this article will describe Surah al-Baqarah: 151 deals with learning approaches. The approaches can be classified into five: tilawah, tazkiyah, tal'lim al-Kitab (learning the Qur'an), ta'lim al-hikmah (learning wisdom) and "yu'allimukum malam takunu ta'lam" approaches (learning things that never been studied) made reference to some authentic interpretation. At last, we have to recognize that Qur'an is the main source of Islamic development concepts. It can be proved through studies and researches. 
ADIL DALAM POLIGAMI PERSPEKTIF IBNU HAZM Hidayatulloh, Haris
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poligami merupakan pembahasan dalam perkawinan yang paling banyak diperdebatkan  di kalangan ahli hukum Islam. Pro-kontra seputar poligami terus berkembang di kalangan ulama. Sebagian ulama menganjurkan poligami sebagai bentuk implementasi dari perintah Allah dan sebagian lain menolak poligami dengan berbagai macam argumentasi yang selalu dikaitkan dengan ketidakadilan gender. Dalam Islam, poligami diyakini sebagai salah satu solusi ketika istri tidak bisa memberikan keturunan atau pertimbangan sosial lain. Walaupun demikian, pembolehan poligami diharuskan dengan mengutamakan sikap adil di antara para Istri. Jika dirasa kurang mampu untuk berbuat adil, maka dilarang melakukan poligami. Artikel ini membahas konsep adil berpoligami dalam perspektif Ibn Hazm al-Zahiri.  Menurutnya adalah bahwa adil di antara para istri hukumnya adalah wajib, terutama dalam  hal  pembagian  malam dan pembagian nafka.Mostly, many Islamic scholars has discussed about polygamy. Moreover, pros and cons have been developed also among the ulema. Some suggest that polygamy is the commandment of God. Meanwhile, in contrast with the previous, other Islamic scholars refuse the polygamy related to gender discrimination. In Islam, polygamy thought as one of the solution while the wife cannot give birth or other social consideration. Nevertheless, the permissibility of polygamy has to give the fairness priority among the wife. If the husbands fail to provide enough fairness, thus it is forbidden. This article will discuss about fairness concept in polygamy based on Ibn Hazm al-Zahiri view. He stated that fairness among the wife is a must. The fairness is about inwardly and outwardly living.