cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Religi: Jurnal Studi Islam adalah jurnal ilmiah berkala (P-ISSN: 1978-306X; E-ISSN: 2477-8397) yang memuat tulisan konsepsional atau hasil penelitian studi keislaman yang meliputi: Hukum Islam, Pendidikan Islam, Pemikiran Islam, Ekonomi Islam dan kajian-kajian keislaman lain. Terbit berkala setiap bulan April dan Oktober. Religi: Jurnal Studi Islam diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (Unipdu) Jombang.
Arjuna Subject : -
Articles 49 Documents
KONSEP UMMAH DALAM AL-QUR'AN (Sebuah Upaya Melerai Miskonsepsi Negara-Bangsa) Rahman, Zayad Abd.
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ummah disebutkan dalam al-Qur'an 62 kali dalam dua puluh empat surah. 52 bagian itu berbentuk dengan kata tunggal (al-murfad). Al-Qur'an menggunakan istilah ini untuk berbagai makna. Ummah memiliki lebih dari satu makna. Makna umat tida hanya terbatas bagi umat manusia. Lebih dari itu terma ummah juga digunakan untuk menyebut suatu kelompok tertentu seperti agama, waktu atau tempat. Bahkan istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut sekawanan burung seperti dalam surah al-An'am (6): 38. Peryataa ini menunjukan bahwa terma ummah tidak hanya memiliki satu makna tetapi lebih luas dari itu. Maka terma ini memberikan cakrawala baru tentang adanya persaudaraan sebagai umat manusia di dunia ini. Tentu saja, artikel ini akan mengekplorasi terma ini sebagai kontra diskursus kelompok yang menggunakan terma tersebut dalam pandangan yang sempit dan eksklusif di alam raya ini.Ummah is mentioned by al-Qur'an 62 times in twenty-four surah. And 52 of part it is shaped with singular mode. Al-Qur'an uses this term with various meanings. Ummah has more than one meaning. The meaning of ummah is not just limited to mankind. More than that ummah term is so used for association of thing like religion, time or place. And moreover to animals like birds in the same manner as surah al-An'am: (6): 36. This statement gives does not have one meaning. But rather it is wider than that. Otherwise, al-Qur'an is using the term in teh fact to explain more than one meaning. In this meaning it illustrates new horizons about the existing of brotherhood as human being in the world. Of course, the article will explrore the term as counter-discourse of groups willing which is using the term in narrow views and exclusive in the nature.
PRO-KONTRA NIKAH MUTAH DALAM PERSPEKTIF MAQASID AL-SHARI'AH Hidayatulloh, Haris
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkawinan merupakan suatu ikatan yang mengandung serangkaian perjanjian yang sangat kuat diantara suami dan istri. Al-Qur’an menyebutnya dengan perjanjian yang kokoh. Dalam pandangan Islam perkawinan pada prinsipnya bersifat kekal, dan tidak dibatasi oleh rentang waktu tertentu. Pernikahan dalam Islam mempunyai tujuan dan hikmah tersendiri. Diantara tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk memenuhi petunjuk Allah dalam rangka memb.a keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia dan juga untuk menghasilkan serta melestarikan keturunan. Islam sangat mendorong orang untuk melangsungkan pernikahan secara benar. Oleh karenanya, salah satu maqa>s{id al-shari>’ah (tujuan syariah), yaitu menjaga keturunan. Oleh karenanya perkawinan dapat dilaksanakan setelah semua pihak yang telah memenuhi persyaratan dan rukun dari perkawinan yang telah ditetapkan dalam hukum  Islam. Akan tetapi mencul permasalahan perkawinan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat, yaitu pernikahan yang hanya untuk sementara waktu atau dibatasi oleh rentang waktu tertentu, yang hanya semata-mata untuk menyalurkan hasrat seksual atau sekedar memenuhi kebutuhan bilogis. Dalam Islam dikenal dengan istilah nikah mutah dan kalau di Indonesia dikenal dengan istilah kawin kontrak.Marriage is a bond, containing a series of meaningful agreement  between a husband and wife. It is mentioned in Qur’an as solid agreement. In Islamic view, marriage is everlasting and has a purpose as well as wisdom. One of the purpose of marriage is to establish harmonius, welfare and happiness family. It is also used to generate islamic generation. Islam also highly supported to marry properly. Therefore, based on shariah view, the purpose of marriage is to maintaining the descendant. Furthermore, there are some requirement to perform the marriage by fulfilling the pillar based on Islamic law. However, there is  marriage problem in society. It is called muta. Muta is old fashion tradition marriage. It is temporary marriage to satisfy the lustful. In Indonesia muta marriage is called ”kawin kontrak”.
SEJARAH MUSHAF 'UTHMANI (MELACAK TRANFORMASI AL-QUR'AN DARI TEKS METAFISIK SAMPAI TEXTUS RECEPTUS) Samsukadi, Mochamad
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad dalam bentuk oral, tidak dalam bentuk teks mushaf yang bisa dibaca. Namun dalam perkembangannya, al-Qur'an tersebar di kalangan umat Islam dewasa ini dalam bentuk teks tercetak dilengkapi dengan tanda baca dan diakritikal untuk memudahkan bagi pembacanya. Sampai menjadi teks standar (textus seceptus) saat ini, al-Qur'an menghabiskan waktu yang panjang dan melibatkan banyak ulama lintas generasi. Perkembangan itu dibagi menjadi lima periode, yaitu: periode oral, periode kodifikasi, periode penyempurnaan tanda baca dan diakritikal, periode cetak dan periode teks standar al-Qur’an pada tahun 1923 yang kerjakan oleh Tim dari Universitas al-Azhar Mesir. Semua periode ini hanyalah usaha ulama untuk memberikan tanda baca saja, sehingga al-Qur'an mudah dibaca, tidak merubah teks aslinya, sebagaimana dituduhkan oleh sebagian sarjana Barat.Allah gave the oral revelation to Prophet Muhammad, not in written manuscript. However, during the development, Quran has been spread in printed text with diacritical and punctuation sign for easier to read. Moreover, many ulema across generation have spent unlimited time to make the recent standard text of Quran. The development was divided into five period; they are oral, codification, refinement of punctuation and diacritical, printed, and standard text period that was done by a Al Azhar University of Egypt team in 1923. All of the period were some information of how the ulema give the punctuation for the Quran to be easy to read and  not to change the original text as alleged by some western scholar.
OPTIMALISASI METODE PEMBELAJARAN IPS MI UNTUK PENGEMBANGAN KETERAMPILAN BERFIKIR KRITIS SISWA Ulwiyah, Nur
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan dua alasan; pertama, secara akademik, metode yang variatif  akan efektif dan efisien mempertinggi kualitas pembelajaran dan jika tidak dikembangkan secara baik, tidak mustahil akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran, yaitu tercapainya kompetensi keterampilan berfikir kritis siswa. Kedua, berdasarkan observasi awal, ditemukan fenomena guru IPS dalam mengajar menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan saja. Hal ini kurang mengembangkan berfikir kritis dengan didasarkan pada teori berpikir kritis FRISCO (focus, reason, inference, situation, clarity, overview). Tujuan penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis metode mengajar guru IPS MI dalam mengembangkan keterampilan berfikir kritis siswa. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah discourses analysis. Temuan penelitian ini adalah metode yang digunakan guru IPS MIN Rejoso Peterongan Jombang kurang mengembangkan keterampilan berfikir kritis siswa, dengan sebab-sebab yaitu adanya pandangan guru bahwa IPS identik dengan hafalan dan cerita, keterampilan berfikir kritis kurang efektif dikembangkan bagi siswa MI karena mereka belum bisa diajak berfikir kritis, ketidaktahuan guru tentang teori berfikir kritis dan metode-metode yang mendukungnya, adanya paradigma bahwa guru adalah segala-galanya, adanya rasa enggan guru untuk merancang pembelajaran yang kritis, dengan alasan: banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan, sarana terbatas.This research works for two reasons; first, academically, variative method will be highly effective and efficient in teaching quality. Meanwhile if this does not develop well, it is an obstacle for the achievement of learning objectives, the achievement of critical thinking skills. Second, based on the first observation, it was found that there are some social studies teacher who teach the student by speech method, asking-answer question, and giving works. It will not develop student critical thinking based on what FRISCO stated. The research purpose is to identify and analyze the learning method of  social studies teacher in MIN Rejoso to developing student critical thinking skills. It is field research with qualitative approach. The data is collected by interview, observation, and document analysis. The data analysing technicque uses “discourses analysis”. The research found is the method used by social studies teacher in MIN Rejoso Rejoso Peterongan Jombang can not develop the student critical thinking skills. The causes is there are some teacher’s view that social studies is similar with rote and stories. The paradigm that may admit the teacher is everything, teachers is lazy to design critical learning due to  lot of other works that must finished, and limited facilities.
FENOMENA RIHLAH ILMIAH DEMI HADIS PADA MASA PERIWAYATANNYA (1-4H/7-10M) Amrulloh, Amrulloh
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas fenomena rihlah ilmiah demi Hadis-hadis Rasulullah yang terdistribusi di berbagai wilayah dunia Islam pada masa periwayatan Hadis, yakni sekitar abad-abad 1 H/7 M hingga 4 H/10 M. Pada masa itu, para sarjana Hadis dengan berbagai generasinya banyak merantau dari satu wilayah ke wilayah lain demi mendapatkan atau mendengarkan sebuah Hadis. Sepintas lalu, sudah dapat ditebak bahwa motif mereka melakukan itu adalah untuk mendapatkan satu Hadis, atau sejumlah Hadis. Namun, realitasnya tidak demikian. Dari eksplorasi dan analisis itu diketahui bahwa motif rihlah ilmiah demi Hadis bukan hanya sekadar mendengarkan sebuah Hadis atau beberapa Hadis yanga belum pernah didengarkan, tetapi lebih dari itu untuk konservasi Hadis dan kritik periwayatannya.This paper talked about scientific rihlah(journey) phenomenon for Rasulullah hadith, which distributed across Middle East (Islamic world) at the time of hadith transmission around 1H/7M till 4 H/10 M. At that time, many hadith scholars had some journeys from one area to another to obtain and listen the hadith. What they did, could be guessed esaily. They meant to get more than one hadith. However, there were contradictions. Based on the exploration and analysis. it can be understood that the scientific rihlah aimed not merely to listen and get some hadith, but also hadith conservatioan and criticizing the tramsmission.
YURISPRUDENSI ISBAT NIKAH DALAM PASAL 7 KOMPILASI HUKUM ISLAM Huda, Mahmud
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasal 7 KHI tidak memberikan definisi isbat nikah secara implisit melainkan hanya berupa ketentuan-ketentuan yang masih bersifat umum. Dengan adanya pasal ini akan memberikan peluang bagi pelaku nikah di bawah tangan atau nikah sirri> serta poligami liar untuk mendapatkan penetapan atas pernikahan yang telah dilakukan dari Pengadilan Agama. Sehingga pasal KHI ini perlu adanya pembatasan dalam penerapannya. Isbat nikah merupakan penetapan atas pernikahan yang dilakukan oleh suami-isteri. Dimana pernikahan yang dilakukan oleh para pihak telah memenuhi syarat dan rukun nikah. Hal ini dilakukan karena berkaitan dengan unsur keperdataan yang merupakan wewenang dari Pengadilan Agama. Dalam ketentuan pasal 7 KHI tentang isbat nikah terdapat kerancun dan ketidaktepatan. Sehingga pasal ini perlu adanya pembatasan dalam penerapannya agar tidak menimbulkan problem baru dalam masyarakat. Permohonan isbat nikah adalah perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, karena perkawinan yang terjadi setelah adanya Undang-undang perkawinan mengandung prinsip pencatatan perkawinan demi menjaga kemaslahatan keluarga.Article 7 KHI does not provide a definition marriage establishment  but only the common rules.  The presence of the chapter will provide opportunities for offenders to do unregistered marriage or sirri and wild polygamy to get the marriage establishment made by Religious Courts. Hence, this KHI chapter need to limit in the usage.   marriage establishment is a determination of the marriage performed by a husband and wife. It is performed by the couple husband and wife whose fulfilled the rule and requirement.  This must be done related to  the civil law which is the authority of the Islamic Court. It is important to understand that in the chapter 7 of KHI, there are ambiguity and inaccuracy. Therefore it is necessary to limit the usage to prevent the negative  implication in the society. Request of marriage establishment  occurred prior to the enactment of marriage Law number 1 1974. It is basically register the  marriage to maintain the welfare of the  family.
UNSUR-UNSUR PENDEKATAN PEMBELAJARAN PAI DALAM TAFSIR AL-QUR'AN SURAH AL-BAQARAH: 151 Ashari, Moh. Yahya
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an memberikan cetak biru pembelajaran yang mengarah pada pemberdayaan kompetensi manusia secara integratif melalui pola pendidikan seimbang dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mendeskripsikan pendekatan pembelajaran dalam al-Qur'an Surah al-Baqarah: 151. Pendekatan tersebut dapat dipetakan menjadi lima macam, yaitu: pendekatan tilawah, pendekatan tazkiyyah (penyucian), pendekatan ta'lim al-Kitab (pembelajaran al-Qur'an), pendekatan ta'lim al-hikmah (pembelajaran dengan hikmah), dan pendekatan "ya'allmukum malam takunu ta'lam" (membelajarkan hal-hal yang belum dipelajari) dengan merujuk pada beberapa tafsir yang otentik. Akhirna, harus diakui bahwa keberadaan al-Qur'an merupakan sumber utama pengembangan konsep pendidikan Islam yang dapat dibuktikan dengan nyata dan akurat melalui kajian-kajian, talaah maupun penelitian.The Qur'an has given integrated learning blue print to human being that leads t empowering human competence through balanced education pattern in cognitive, affective and psychomotor. Therefore, this article will describe Surah al-Baqarah: 151 deals with learning approaches. The approaches can be classified into five: tilawah, tazkiyah, tal'lim al-Kitab (learning the Qur'an), ta'lim al-hikmah (learning wisdom) and "yu'allimukum malam takunu ta'lam" approaches (learning things that never been studied) made reference to some authentic interpretation. At last, we have to recognize that Qur'an is the main source of Islamic development concepts. It can be proved through studies and researches. 
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI SEKOLAH Hakim, Dhikrul
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutama dari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Pada prinsipnya, pengembangan budaya dan karakter bangsa tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu, guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilaiyang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang sudah ada. Pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu ditanamkan dan dikembangkan lewat dunia pendidikan, dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah, dengan tujuan untuk mereaktualisasi konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa di sekolah agar  dalam pelaksanaannya diterapkan ke dalam kurikulum di sekolah dan direalisasikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.Education is a conscious effort to develop the potential of learners optimally. The conscious effort may not be separated from the learners’ environment, especially the cultural environment. It must be done due the students live inseparable in their environment which acted upon the rules of the culture. Basically, the development of culture and the national character are not included as the main subject but integrated into a lesson, self-development, and school culture. Therefore, the joining between the teachers and the schools will integrate the values developed in the cultural education and the national character into KTSP, syllabus and lesson plan that are available. The cultural education and the national character need to be invested and developed through education. It also  can be implemented in an integrated manner with educational activities in schools, with the aim to re-actualize the concept of culture and national character education in schools so that the implementation is applied into the curriculum at school. Hopefully it will be done by the learners in everyday life.
PARADIGMA STUDI HADIS DI DUNIA PESANTREN Samsukadi, Mochamad
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an dan Hadis menempati posisi setral dalam ajaran Islam. Semua keilmuan Islam bermuara pada keduanya. Sudah seharusnya studi al-Qur'an dan Hadis mendapatkan perhatian lebih dari pada disiplin keilmuan yang lain. Namun ironisnya, sulit ditemukan pesantren, sebagai pusat kajian Islam, yang fokus pada studi al-Qur'an dan Hadis. Melalui kajian literatur, artikel ini berusaha melacak tradisi pesantren dalam studi al-Qur'an dan Hadis, terutama studi Hadis. Dari kajian ini diketahui, kajian utama di pesantren adalah fikih dan ilmu bahasa Arab, sedangkan kajian al-Qur'an dan Hadis hanya sebagai pendukung dari kajian utama. Hal ini dikarenakan adanya asumsi di kalangan masyarakat pesantren bahwa Hadis adalah sebagai bagian inheren dari Nabi yang sakral, sehingga tidak sembarang orang bisa mengkajinnya. Di sisi lain pola pendidikan pesantren lebih menekankan pendekatan amaliah dari pada ilmiah. Sehingga wajar jika studi Hadis di pesantren hanya bersifat pengantar saja dan hampir mustahil ditemukan kajian Hadis yang mendalam, seperti fikih dan bahasa, di pesantren.Koran and Hadith has a central placed in Islamic learning. All of islamic learning are from both. Therefore, Koran and Hadith studies must have more attention than the other. Unfortunately, it is difficult to find out islamic study center which focus on Koran and Hadith studies. Based on this phenomenon, this article tried to trace pesantren tradition ini especially Hadith studies. The result was, the main studies in pesantren are fiqh and arabic. Meanwhile Koran and Hadith studies support the main one. This is the fact based on the assumption among the pesantren society that hadith is sacred part of the prophet Muhammad, not everyone can learn it. In addition, pesantren education pattern emphasize on charity approach than scientific. Therefore, Hadith study in pesantren is merely introductory, no in depth study such fiqh and language.
IJTIHAD KONTEMPORER YUSUF AL-QARADAWI DALAM PENGEMBANGAN HUKUM ISLAM Mahfudin, Agus
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ijtihad itu dibutuhkan di setiap zaman, maka pada zaman kita sekarang ini lebih butuh lagi kepada ijtihad bila dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena adanya perubahan yang terjadi dalam kehidupan dan perkembangan sosial yang amat pesat. Oleh sebab itu, adalah suatu kebutuhan mendesak pada masa sekarang ini untuk selalu membuka kembali pintu ijtihad. Seperti kaidah fikih "Perubahan Hukum Tergantung Perubahan Waktu Atau Perubahan Fatwa Tergantung Pada Perubahan Zaman". Kaidah tersebut menjadi semacam petunjuk yang memungkinkan orang untuk mengatakan bahwa hukum Islam itu tidak kaku, elastis dan akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Kaidah ini juga merupakan bukti dari kesadaran para juris Islam klasik, bahwa kebenaran sebuah hukum tidak semata-mata diukur sejauh mana bisa berkorespondesi dengan teks-teks suci, tapi juga harus berkorespondesi dengan realitas yang terus berubah. Untuk itulah Yusuf al-Qaradawi ingin mengembangkan ijtihad kontemporer untuk menunjang pengembangan hukum islam yang bisa menghasilkan sebuah ketetapan hukum yang berpihak kepada kemaslahatan umat.Every moment, Ijtihad is necessary. Especially in this modern era, the people need ijtihad more than previous era. The need due to the fast changing of life and social development. Therefore,  it is necessary to use ijtihad. As stated in rules of fiqh, law amendment depends on the fatwa, developing of time and era. This rules is a guideline which is used to develop the law, and will lead the people to think that Islamic rules is used for every age. It is also such evidence that Classical Islamic scholar was aware of law amendment based on the era, not merely holy text. Hence, Yusuf al-Qardawi  wanted to develop contemporary ijtihad to support the development of Islamic law. Then, it will be used to produce law establishment which siding with the people need.