cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Islam
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Religi: Jurnal Studi Islam adalah jurnal ilmiah berkala (P-ISSN: 1978-306X; E-ISSN: 2477-8397) yang memuat tulisan konsepsional atau hasil penelitian studi keislaman yang meliputi: Hukum Islam, Pendidikan Islam, Pemikiran Islam, Ekonomi Islam dan kajian-kajian keislaman lain. Terbit berkala setiap bulan April dan Oktober. Religi: Jurnal Studi Islam diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (Unipdu) Jombang.
Arjuna Subject : -
Articles 49 Documents
FENOMENA RIHLAH ILMIAH DEMI HADIS PADA MASA PERIWAYATANNYA (1-4H/7-10M) Amrulloh, Amrulloh
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.012 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas fenomena rihlah ilmiah demi Hadis-hadis Rasulullah yang terdistribusi di berbagai wilayah dunia Islam pada masa periwayatan Hadis, yakni sekitar abad-abad 1 H/7 M hingga 4 H/10 M. Pada masa itu, para sarjana Hadis dengan berbagai generasinya banyak merantau dari satu wilayah ke wilayah lain demi mendapatkan atau mendengarkan sebuah Hadis. Sepintas lalu, sudah dapat ditebak bahwa motif mereka melakukan itu adalah untuk mendapatkan satu Hadis, atau sejumlah Hadis. Namun, realitasnya tidak demikian. Dari eksplorasi dan analisis itu diketahui bahwa motif rihlah ilmiah demi Hadis bukan hanya sekadar mendengarkan sebuah Hadis atau beberapa Hadis yanga belum pernah didengarkan, tetapi lebih dari itu untuk konservasi Hadis dan kritik periwayatannya.This paper talked about scientific rihlah(journey) phenomenon for Rasulullah hadith, which distributed across Middle East (Islamic world) at the time of hadith transmission around 1H/7M till 4 H/10 M. At that time, many hadith scholars had some journeys from one area to another to obtain and listen the hadith. What they did, could be guessed esaily. They meant to get more than one hadith. However, there were contradictions. Based on the exploration and analysis. it can be understood that the scientific rihlah aimed not merely to listen and get some hadith, but also hadith conservatioan and criticizing the tramsmission.
KOMPETENSI GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI MS., Rohmat
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.349 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada masalah kegiatan pembelajaran berbasis teknologi informasi yang dilakukan oleh para guru Pendidikan Islam di Kabupaten Sidoarjo. The menyimpulkan bahwa aktivitas pembelajaran matapelajaran Pendidikan Islam kebanyakan masih konvensional, di mana guru memainkan peran utama dalam memperoleh pengetahuan, sedangkan siswa yang kurang terlibat secara aktif. Penelitian ini juga menemukan bahwa guru memiliki kualifikasi mengajar yang baik, karena mereka memenuhi 12 dari 16 kriteria kompetensi yang ditetapkan oleh  standar pendidikan nasional. Tetapi di sisi lain, mereka lemah dalam hal kualifikasi pedagogik, karena mereka hanya memenuhi 12 sampai 17 dari 42 kompetensi. Faktor-faktor untuk mengembangkan standar guru dalam mengajar berbasis teknologi informasi, penelitian ini menemukan bahwa kemampuan dan keterampilan guru dalam menggunakan teknologi seperti komputer, laptop, LCD dan internet merupakan faktor utama. Beberapa guru di SMAN 1 Krian dan SMKN 2 Buduran sudah terbiasa dalam menggunakan  teknologi informasi. Sementara itu, keterbatasan infrastruktur dan kurangnya ketersediaan teknologi informasi di sekolah-sekolah seperti SMA Negeri di Tarik, SMAN 2 di Sidoarjo dan Porong merupakan faktor utama yang menghambat proses pengembangan standar pembelajaran ini.This research focuses on the problem of information technology-based teaching activities by teachers of Islamic education in the regent of Sidoarjo.The research concludes that the learning activity on the subject of Islamic education is very much conventional where teachers play the major role in acquiring knowledge, while students were not involved. The research also discovers that teachers do have good teaching qualifications given that they meet 12 out of 16 competences criterion set by the national standard authority on the subject. But they on the other hand, are weak in terms of pedagogic qualification considering that they meet only 12 to 17 out of 42 competences.Factors toward developing the standard of the teachers in information technology-based teaching, the research finds that the ability and skill of the teachers in using technology such as computer, laptop, LCD and internet are the main factors. Teachers of SMAN 1 in Krian, and SMKN 2 in Buduran are among those who are familiar with the information technology. Meanwhile, the poor infra-structure and limited availability of information technology in such schools as State High School in Tarik, SMAN 2 in Sidoarjo and  Porong are the main factors that hamper the process of developing the teaching standard.
IJTIHAD KONTEMPORER YUSUF AL-QARADAWI DALAM PENGEMBANGAN HUKUM ISLAM Mahfudin, Agus
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.014 KB)

Abstract

Ijtihad itu dibutuhkan di setiap zaman, maka pada zaman kita sekarang ini lebih butuh lagi kepada ijtihad bila dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya, karena adanya perubahan yang terjadi dalam kehidupan dan perkembangan sosial yang amat pesat. Oleh sebab itu, adalah suatu kebutuhan mendesak pada masa sekarang ini untuk selalu membuka kembali pintu ijtihad. Seperti kaidah fikih "Perubahan Hukum Tergantung Perubahan Waktu Atau Perubahan Fatwa Tergantung Pada Perubahan Zaman". Kaidah tersebut menjadi semacam petunjuk yang memungkinkan orang untuk mengatakan bahwa hukum Islam itu tidak kaku, elastis dan akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman. Kaidah ini juga merupakan bukti dari kesadaran para juris Islam klasik, bahwa kebenaran sebuah hukum tidak semata-mata diukur sejauh mana bisa berkorespondesi dengan teks-teks suci, tapi juga harus berkorespondesi dengan realitas yang terus berubah. Untuk itulah Yusuf al-Qaradawi ingin mengembangkan ijtihad kontemporer untuk menunjang pengembangan hukum islam yang bisa menghasilkan sebuah ketetapan hukum yang berpihak kepada kemaslahatan umat.Every moment, Ijtihad is necessary. Especially in this modern era, the people need ijtihad more than previous era. The need due to the fast changing of life and social development. Therefore,  it is necessary to use ijtihad. As stated in rules of fiqh, law amendment depends on the fatwa, developing of time and era. This rules is a guideline which is used to develop the law, and will lead the people to think that Islamic rules is used for every age. It is also such evidence that Classical Islamic scholar was aware of law amendment based on the era, not merely holy text. Hence, Yusuf al-Qardawi  wanted to develop contemporary ijtihad to support the development of Islamic law. Then, it will be used to produce law establishment which siding with the people need.
PARADIGMA STUDI HADIS DI DUNIA PESANTREN Samsukadi, Mochamad
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an dan Hadis menempati posisi setral dalam ajaran Islam. Semua keilmuan Islam bermuara pada keduanya. Sudah seharusnya studi al-Qur'an dan Hadis mendapatkan perhatian lebih dari pada disiplin keilmuan yang lain. Namun ironisnya, sulit ditemukan pesantren, sebagai pusat kajian Islam, yang fokus pada studi al-Qur'an dan Hadis. Melalui kajian literatur, artikel ini berusaha melacak tradisi pesantren dalam studi al-Qur'an dan Hadis, terutama studi Hadis. Dari kajian ini diketahui, kajian utama di pesantren adalah fikih dan ilmu bahasa Arab, sedangkan kajian al-Qur'an dan Hadis hanya sebagai pendukung dari kajian utama. Hal ini dikarenakan adanya asumsi di kalangan masyarakat pesantren bahwa Hadis adalah sebagai bagian inheren dari Nabi yang sakral, sehingga tidak sembarang orang bisa mengkajinnya. Di sisi lain pola pendidikan pesantren lebih menekankan pendekatan amaliah dari pada ilmiah. Sehingga wajar jika studi Hadis di pesantren hanya bersifat pengantar saja dan hampir mustahil ditemukan kajian Hadis yang mendalam, seperti fikih dan bahasa, di pesantren.Koran and Hadith has a central placed in Islamic learning. All of islamic learning are from both. Therefore, Koran and Hadith studies must have more attention than the other. Unfortunately, it is difficult to find out islamic study center which focus on Koran and Hadith studies. Based on this phenomenon, this article tried to trace pesantren tradition ini especially Hadith studies. The result was, the main studies in pesantren are fiqh and arabic. Meanwhile Koran and Hadith studies support the main one. This is the fact based on the assumption among the pesantren society that hadith is sacred part of the prophet Muhammad, not everyone can learn it. In addition, pesantren education pattern emphasize on charity approach than scientific. Therefore, Hadith study in pesantren is merely introductory, no in depth study such fiqh and language.
SUMBER AUTENTIK DAN NON-AUTENTIK DALAM TAFSIR AL-QUR'AN Muhsin, Ali
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.698 KB)

Abstract

Artikel ini membahas seputar sumber autentik (al-aṣīl) dan sumber non-autentik (al-dakhīl) dalam tafsir al-Qur’an. Pembahasan ini menjadi penting karena kuatlitas interpretasi terhadap ayat al-Qur’an tergantung sumber tafsir yang digunakan. Berdalih tafsir sebagai usaha manusia untuk memahami firman Allah, banyak mufasir yang tidak memperhatikan sumber tafsir yang digunakan, sehingga terjebat dengan sumber-sumber yang seharusnya tidak boleh digunakan dalam tafsir al-Qur’an, seperti berita-berita masa lalu yang bersumber dari orang Yahudi dan Nasrani dan Hadis palsu. Penggunaan sumber seperti ini semakin menjauhkan tafsir dari makna yang dikehendaki al-Qur’an sendiri. Dari pembahasan ini diketahui bahwa sumber autentik tafsir al-Qur’an adalah:al-Qur’an, Hadis sahih, pendapat sahabat, pendapat tabiin, bahasa Arab dan Ijtihad. Sedangkan sumber tafsir yang tidak autentik meliputi Isrāīlliyāt dan hadis mawḍū’.This article discusses about original and non-authentic  source of Qur’anic interpretation. The discussion is important due to  the used of qur’anic commentary resources to get interpretation quality of ayat in Qur’an. Many commentators did not pay attention to Qur’anic interpretation source used. Although, they stated to use these sources to understand the word of God, thus they stuck on non authentic one such as fabricated hadith, the past  stories from the jews and christian. The used of such resources will increasingly alienate interpretation meaning of Qur’an. Based on the discussion, the original and authentic source of qur’anic interpretation are Qur’an, sahih hadith, Muhammad’s companion, tabi’in, Arabic and ijtihad. Meanwhile non-authentic involve Isrāīlliyāt and mawḍū’ hadith.
EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI KELAS INKLUSIF DI SD PLUS DARUL 'ULUM JOMBANG Maftuhatin, Lilik
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.364 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi permasalahan belum ada standar evaluasi pembelajaran yang pasti untuk anak yang memiliki kelebihan dan kekurangan, walaupun mereka mendapat pelayanan pendidikan di kelas inklusif. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi pemecahan masalah bagaimana sistem perencanaan evaluasi pembelajaran, bentuk evaluasi, bentuk pelaporan hasil evaluasi yang terdapat di kelas inklusif. Penelitian ini difokuskan pada  perencanaan evaluasi pembelajaran, bentuk evaluasi yang dilakukan, dan bentuk laporan evaluasi yang telah dilakukan di kelas inklusif yang terdapat di SD Plus Darul Ulum. Penelitian ini dilakukan dengan metode interview,observasi dan dokumentasi. Obyek penelitian adalah kepala sekolah, guru-guru pendamping ABK, serta koordinator kelas inklusi disertai dengan data-data di lapangan yang dapat mendukung penelitian ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran sudah cukup bagus karena guru sudah menerapkan dua metode dalam evaluasi yaitu dengan soal yang disamakan dengan reguler dan yang kedua dengan soal sesuai dengan kebutuhan mereka, disertai dengan portofolio yang mencatat perkembangan mereka selama pembelajaran.This research is based on the lack of learning evaluation standard  for the children with special education need. It is based on the fact that inclusive class for them has no evaluation standard yet. Therefore, the research was used to figure out; the problem, method and the form of learning evaluation planning system. It also used to find out the result report form of learning evaluation at inclusive class, SD Plus  Darul Ulum. The focus of the research were the problem, method and the form of learning evaluation planning system. This research was done by interviewing, observation and documentation. Meanwhile the targets of the research were teachers for children with special needs, inclusion class coordinator and the supporting data.Based on the research, it can be concluded that learning evaluation has done well, due to the well application method. The teachers have applied two different method. The first is; giving regular exam question. The second one is  giving their need exam question, including their development notes (portfolio)during the learning process.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH, SEBAB-SEBAB DAN SOLUSINYA
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.627 KB)

Abstract

Pendidikan di Madrasah Ibtiadaiyah (MI) bisa dikatakan sebagai proses pembangunan pondasi bagai pribadi siswa. Mengapa demikian?, karena MI adalah pendidikan pada jenjang dasar yang dilewati oleh siswa sebelum mereka menikmati jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan di MI tidak luput dari permasalahan, dan permasalahan tersebut harus dilacak penyebabnya sekaligus ditemukan solusinya, sehingga penyelenggaraan pendidikan tetap berlangsung dengan baik.Madrasah Ibtidaiyah is a basic education process to build foudation fo student personal. Why? MI is a basic education level for student before they continue to next level. As the basis education phase, MI offers well education which is inevitability. However, there is always a problem to run education in MI level. The problem then, has to be finished, by finding the solution to get a good education for the childern.
ANALISIS KRITIS MANAJEMEN MADRASAH DI ERA OTONOMI DAERAH Suprapti, Suprapti
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.606 KB)

Abstract

Pendidikan diatur dan dilindungi oleh badan pemerintahan. Kendati demikian, persoalan pendidikan masih sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Melalui otonomi daerah diharapkan dapat membawa banyak perubahan yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah sehingga Negara tidak lagi mendapati daerah yang diskriminatif terhadap pengelolaan pendidikan terutama pendidikan Islam yang berlabel Madrasah. Desentralisasi menjadi asas penting dalam pembangunan pendidikan di daerah. Oleh karenanya, diperlukan manajemen yang benar dalam pembangunan madrasah di era otonomi seperti saat ini. Ada beberapa kendala yang dialami dalam penyelenggaraan otonomi pendidikan. Madrasah sebagai penyelenggara pendidikan yang bernuansa Islam dan sebagai penyelamatan hidup manusia, maka madrasah harus merubah manajemen sehingga menjadi sekolah yang unggul. Langkah yang harus dilakukan adalah perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengarahan, penggerakan, pengkomunikasian, pengkoordinasian, pengendalian, monitoring evaluasi, penganggaran, dan ruanglingkup manajemen pendidikan. Dengan langkah-langkah itu, peningkatan mutu madrasah dapat dicapai dengan baik. Madrasah beroptimis produk madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum dalam menghadapi globalisasi.Education is regulated and protected by government. Nevertheless, the issue of education is still common in many regions of Indonesia. Through local autonomy, it is expected that it can bring a lot of changes that can adapt to the needs and conditions of the area so that the State no longer have region that are discriminatory to the management of education, especially Islamic education labeled madrassa. Decentralization becomes an important principle in the development of education in a region. Therefore, proper management is required in the advancement of a madrassa in the era of autonomy as it is today. There are many obstacles in the educational local autonomy. Madrassa as Islamic organizer, so it has to change the management to be best school. Many steps can be done, they are planning, organizing, leading, directing, actuating, communicating, coordinating, controlling, monitoring and evaluating, budgeting, and scope of educational management. By that steps, madrassa’s product can compete with general school to face globalization.
IMPLIKASI PEMBELAJARAN MIKRO DALAM PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENGAJAR DI MADRASAH Syafi'i, Muhammad
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 5, No 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.055 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterampilan mengajar mahasiswa diniyah (Madin) periode 2012/2013 dalam pembelajaran mikro, dan untuk mengetahui perkembangan keterampilan mengajar mahasiswa diniyah dalam Real Teaching sehingga implikasi micro teaching (pembelajaran mikro) dalam pengembangan keterampilan mahasiswa madin dalam mengajar di Real Teaching, sehingga dapat diketahui kendala yang dialami mahasiswa dalam pengintegrasian keterampilan dasar mengajar dalam real teaching. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, penulis melaksanakan kegiatan yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: Pertama Tahap Perencanaan, pada tahap ini penulis menyusun desain pembelajaran mikro, menyusun alat ukur untuk menilai keterampilan mengajar mahasiswa diniyah (madin) dalam pembelajaran mikro dan perkembangan keterampilan mengajar mereka dalam Real Teaching. Kedua Tahap Pelaksanaan, pada tahap ini penulis mengamati dan menilai (berdasarkan instrument yang disusun pada tahap perencanaan) perkembangan keterampilan mengajar mahasiswa diniyah dalam pembelajaran mikro dan perkembangan keterampilan mengajar mereka dalam Real Teaching. Ketiga Tahap Evaluasi, pada tahap ini penulis menganalisa data-data yang terkumpul dalam tahap pelaksanaan sehingga diketahui hasilnya. Hasil penitian ini adalah kemampuan mengajar mahasiswa madin dalam pembelajaran mikro memperoleh rata-rata sangat baik yaitu 85, sedangkan  Kemampuan mengajar mahasiswa madin dalam real teaching memperoleh rata-rata sangat baik yaitu 89, sehingga dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran mikro mempunyai implikasi dalam perkembangan keterampilan mengajar mahasiswa madin di Madrasah.The aim of the research is find out Islamic school students teaching skills of 2012/2013 intake.  The skill will be observed during micro teaching program. This program also used to monitor the progress of students teaching skill in  Real Teaching. Hence the implications of micro teaching toward student in Real Teaching can be seen. While also, it is used to figure out their obstacles to integrate teaching basic skill. To achieve the objectives this research, the author has been conducting activities that consists of three stages, namely: First Planning phase, at this stage the author arranges instructional design micro, drawing up a measurement tools for assessing skills teaching of student Islamic schools in micro teaching for the sake of developing teaching skill in real teaching. The Second, implementation; at this stage the author observes and assess (based on instrument which was compiled in the planning) development of teaching skill for students Islamic schools in Real Teaching. These three phases Evaluation, at this stage author analyzes data that the person has accrued in the final phase procedures so that it is known as a result. The result is teaching skill  of students Islamic schools in micro teaching gets  good score, that is 85, while teaching skill of students Islamic schools in real teaching is so good that is 89, so it can be concluded that micro teaching has implications in the development of teaching skill in real teaching.
MULTIKULTURALISME PESANTREN DI ANTARA PENDIDIKAN TRADISIONAL DAN MODERN Mahfudhoh, Rif'atul; Ashari, Mohammad Yahya
Religi: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 1 (2015): April
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul 'Ulum (UNIPDU) Jombang Jawa Timur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.633 KB)

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan diri lebih aktif dan mempunyai peran besar dalam mensosialisasikan serta mengembangkan ajaran dan nilai-nilai Islam di Nusantara. Namun, mayoritas pesantren yang ada saat ini, seakan berjalan di tempat dan mengalami kondisi stagnan. Jenis penelitian ini adalah studi literature dan metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil yagn didapat bahwa pesantren mempunyai potensi multikultural yang tinggi. Potensi multikulturalitas pesantren itu terletak pda sikap agalitarian, fleksibel dan inklusif. Walau demikian pesantren masih dilundrung masalah seperti problem konservatif dan defensif terhadap kultur yang diyakini sehingga pesantren terjebak pada kebenaran absolut (absolutely truth) yang bahkan meminggirkan dan menyingkirkaan kelompok lain yang berbeda dengan pesantren. Di sisil lain, kurikulum pesantren juga tidak mau beranjak dari pola klasik dengan hanya mengkaji kitab kuning.Pesantren is the oldest islamic education institution in Indonesia. They have enormous potential to develop themselves in spreading islamic teachings and values across Indonesia. However, many pesantren today are stagnant. This research was literature study and involved as qualitative descriptive. It result shows that pasantren has a high multicultural potential. This potentiallies in egalitarian, flexibility and inclusive attitude. However, the pesantren today are plagued by conservatism and defensive culture problem. Moreover, they have been trapped in absolutely truth. Thus, this idea will pull over another group which have different thinking. In addition, pesantren curriculum insists on yellow book studies, showing that they do not want to move from classical education.