cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 53 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2011): June 2011" : 53 Documents clear
Penapisan Jamur Penghasil Senyawa Antimikroba dari Tanah Bangka dan Taman Wisata Alam Sibolangit serta Potensinya Menghambat Pertumbuhan Beberapa Jamur Patogen Tanaman Suryanto, Dwi; Rahmiati, Rahmiati; Nurtjahja, Kiki
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.237 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.120

Abstract

Kajian tentang penapisan jamur tanah penghasil senyawa antimikroba yang diisolasi dari Bangka dan Taman Wisata Alam Sibolangit dan kemampuannya menghambat pertumbuhan jamur penyakit tanaman telah dilakukan. Tiga puluh isolat jamur diisolasi dari tanah menggunakan agar dektrosa kentang. Jamur yang ditemukan termasuk genus Penicillium, Aspergillus, Fusarium, Curvularia, Rhizomucor, Paecilomyces, Moniliella, Eupenicillium, dan Trichoderma, dan empat jamur tidak dapat diidentifikasi yaitu sp.1, sp.2, sp.3, dan sp.4. Jamur yang paling sering ditemukan dari genus Aspergillus dan Penicillium. Empatbelas isolat berpotensi menghambat pertumbuhan pertumbuhan Ganoderma boninense dan Fusarium oxysporum. Tidak ada isolat yang mampu menghambat pertumbuhan Penicillium citrinum. Ekstrak methanol Penicillium sp.1 menunjukkan kemampuan terbesar dalam menghambat pertumbuhan G. Boninense, sedangkan Penicillium sp.8 menghambat pertumbuhan F. oxysporum.
Asosiasi Jenis Pada Komunitas Vegetasi Suksesi di Kawasan Pengendapan Tailing Tanggul Ganda di Pertambangan PTFI Papua Windusari , Yuanita; H. Susanto, Robyanto; Dahlan , Zulkifli; Susetyo, Wisnu
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.963 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.106

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui asosisasi jenis pada komunitas vegetasi di lahan tailing. Tailing adalah residu akhir batuan alami setelah mengalami proses mineralisasi dan berbentuk lumpur pasir. PT Freeport mengelola dan menempatkan tailing pada suatu kawasan lahan basah yang direkayasa khusus yaitu Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Terdapat kawasan terpisah dalam ModADA yang tidak dipengaruhi tailing secara aktif dan relatif stabil, struktur tanah mulai berkembang dan dimanfaatkan sebagai area suksesi alami atau reklamasi disebut Tanggul Ganda. Metodologi yang digunakan adalah metode transek terdiri dari beberapa plot bujur sangkar. Parameter pengamatan adalah struktur dan komposisi vegetasi pada semua tingkat pertumbuhan (pohon, tiang, pancang, dan semai), serta kehadiran jenis pada setiap plot. Penghitungan Indeks Nilai Penting (INP) jenis dan nilai asosiasi dua jenis tumbuhan menggunakan uji Chi Square dan rumus Indeks Jacard. Hasil memperlihatkan jenis pionir Phragminthes karka dominan pada kawasan Tanggul Ganda, dan keanekaragaman jenis lebih tinggi pada area relatif kering. Nilai asosiasi untuk tingkat pohon tergolong tinggi ditemukan antara Campnosperma brevipetiolata dan Ficus benjamina, tingkat pancang ditemukan antara Neprolephis cardifolia dan Phylodendron sp. Berubahnya karakteristik biofisik lahan tailing berkaitan dengan meningkatnya kualitas tanah yang akan mempengaruhi asosiasi jenis dan keanekaragaman pada hutan suksesi.
Penggunaan Bungkil Inti Kelapa Sawit Hasil Biokonversi sebagai Substrat Pertumbuhan Larva Hermetia illucens L (Maggot) Mangunwardoyo , Wibowo; Aulia , Aulia; Hem , Saurin
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.706 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.95

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang Palm Kernel Meal (PKM) yang difermentasi selama 7 hari secara alami tanpa penambahan inokulum yang hasil fermentasi disebut dengan PKMK. Produk fermentasi ditambahkan telur Hermetia illucens L. (maggot) diinkubasi selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkkan adanya kenaikan berat dan panjang maggot. Analisis proksimat menunjukkan kenaikan berat kering, nitrogen total dan serat, tetapi terjadi penurunan lemak dan abu.
Kerentanan Palatogenesis Mencit (Mus musculus L.) terhadap Induksi Cleft Palate TCDD Hutahaean , Salomo; Mangkoewidjojo , Soesanto; Sagi , Mammed; Asmara , Widya
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.091 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.100

Abstract

Telah dilakukan percobaan untuk menentukan tahapan palatogenesis pada mencit (Mus musculus L.) yang rentan terhadap efek polutan 2,3,7,8-Tetraklorodibenzo-p-dioksin (TCDD). Percobaan dirancang mengikuti Rancangan Acak Lengkap dengan pola faktorial (4X3). Empat puluh delapan ekor mencit bunting dicekok TCDD dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10, atau 20 μg/kg bb. Perlakuan diberikan pada hari kebuntingan (Hk) 9−10, 11−12, atau 13−14. Mencit kontrol dicekok pelarut saja (98,5% minyak wijen + 1,5% DMSO). Pada Hk 18 mencit dibius lalu dibunuh dengan teknik cervical dislocation, persentase fetus cleft palate (cp) dihitung, derajat penutupan palatum diberi skor, preparat dengan ketebalan 6 µm dibuat, dan mikrostruktur kraniofasial diamati. Hasil menunjukkan, pemberian TCDD antara hari ke 9 dan 12 menginduksi cacat cp, dengan kecenderungan hasil tertinggi pada pemberian Hk 910. Perlakuan TCDD dosis 10 atau 20 μg/kg bb pada Hk 910 menghasilkan fetus cacat cp >90%. Persentase fetus cp tetap tinggi pada pemberian Hk 1112, khususnya pada kelompok dosis 20 μg/kg bb (87,3%). TCDD dosis terendah (5 μg/kg bb) menginduksi cp dominan bercelah sempit, menunjukkan adanya hambatan pada tahap fusi. Dosis 10 dan 20 μg/kg bb menginduksi cp bercelah sedang atau lebar, mengisyaratkan terjadi hambatan pada tahap inisiasi atau elevasi. Disimpulkan, seluruh tahapan palatogenesis rentan terhadap efek TCDD, namun tahap paling rentan adalah tahap fusi palatum.
Karakterisasi Isolat Rhizoctonia sp. Patogenik dan Rhizoctonia Mikoriza Pada Tanaman Anggrek Tanah Spathoglottis plicata Soelistijono, Soelistijono; Priyatmojo, Achmadi; Semiarti, Endang; Sumardiyono, Christanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.536 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.121

Abstract

Rhizoctonia mikoriza merupakan jamur yang mampu berasosiasi dengan anggrek tanah. Selain sebagai mikoriza, terdapat isolat Rhizoctonia sp. patogen dan penyebab penyakit busuk akar pada Spathoglottis plicata. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan antara Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza secara morfologi dan molekular menggunakan teknik RAPD. Hasil penelitian secara morfologi menunjukkan bahwa warna koloni, panjang dan jumlah inti sel isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza pada S. plicata tidak berbeda, tetapi berbeda pada ketebalan sel dan pengelompokan isolat berdasarkan uji anastomosis hifa. Teknik molekuler RAPD menunjukkan bahwa setiap isolat Rhizoctonia sp. patogen dan Rhizoctonia mikoriza memiliki perbedaan pada struktur DNA.
Profil Protein Klebsiella sp. dalam Kondisi Cekaman Osmotik dan Keasaman Ali Ikhwan; Triwibowo Yuwono; Jaka Widada
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.94

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui profil protein yang dibuat oleh Klebsiella sp. yang tumbuh dalam kondisi cekaman osmotik dan keasaman. Cekaman osmotik dilakukan menggunakan NaCl, sedangkan cekaman keasaman menggunakan aluminium sulfat. Klebsiella sp. ditumbuhkan dalam medium minimal yang ditambah dengan NaCl, atau aluminium sulfat, untuk menimbulkan efek cekaman tunggal, atau menggunakan kedua senyawa tersebut untuk menghasilkan efek cekaman ganda. Protein total yang diekstrak dari sel kemudian dielektroforesis pada SDS-PAGE 12%. Hasil analisis menunjukkan beberapa protein intraselular, protein membran, atau protein ekstraselular yang dibuat dalam kondisi cekaman spesifik. Dalam kondisi cekaman osmotik, dibuat protein intraselular berukuran 42,7 kDa, dan protein membran berukuran 53,3 kDa. Pada cekaman asam dihasilkan protein intraselular berukuran 54,7 kDa, 25,3 kDa, 14,2 kDa, dan satu protein membran berukuran 43,9 kDa, serta protein ekstraselular berukuran 17–29 kDa. Dalam kondisi cekaman ganda, terdeteksi satu protein intraselular spesifik berukuran 26,7 kDa dan satu protein membran berukuran 61,1 kDa. Dalam cekaman osmotik, diketahui terdapat korelasi positif, sedangkan dalam cekaman ganda terdapat korelasi negatif terhadap macam protein. Dalam cekaman keasaman, tidak diperoleh pola korelasi yang spesifik.
Penggunaan Bungkil Inti Kelapa Sawit Hasil Biokonversi sebagai Substrat Pertumbuhan Larva Hermetia illucens L (Maggot) Wibowo Mangunwardoyo; Aulia Aulia; Saurin Hem
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.95

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang Palm Kernel Meal (PKM) yang difermentasi selama 7 hari secara alami tanpa penambahan inokulum yang hasil fermentasi disebut dengan PKMK. Produk fermentasi ditambahkan telur Hermetia illucens L. (maggot) diinkubasi selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkkan adanya kenaikan berat dan panjang maggot. Analisis proksimat menunjukkan kenaikan berat kering, nitrogen total dan serat, tetapi terjadi penurunan lemak dan abu.
Uji Antibakteri Yoghurt Sinbiotik Terhadap Beberapa Bakteri Patogen Enterik Ekawati Purwijantiningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.96

Abstract

Istilah sinbiotik digunakan pada produk yang mengandung probiotik dan prebiotik sekaligus. Probiotik semakin sering ditambahkan pada produk-produk susu, seperti yoghurt. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, bakteri harus dalam keadaan hidup. Penambahan prebiotik dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik, meningkatkan kesehatan sistem pencernaan dan menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis prebiotik terhadap aktivitas antibakteri dari yoghurt sinbiotik. Kedelai, pisang dan tapioka diteliti untuk mengetahui kemampuan mereka dalam meningkatkan aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis prebiotik berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Tepung kedelai paling berpotensi meningkatkan aktivitas antibakteri yoghurt sinbiotik. Aktivitas antibakteri terbaik ditunjukkan oleh yoghurt sinbiotik yang disimpan selama 20 hari.
Variasi Genetik Berdasarkan Penanda Molekular Random Amplified Polymorphic DNA Pada Jamur Shiitake (Lentinula edodes) Nuraeni Ekowati; Rina Sri Kasiamdari; Nursamsi Pusposendjojo; C.J. Soegihardjo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.97

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui variasi genetik jamur Lentinula edodes asal Malang, Cianjur, Lembang, dan Yogyakarta serta mendapatkan primer terseleksi untuk identifikasi L. edodes secara molekular. Penelitian dilakukan di Laboratorium Genetika, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tahapan penelitian terdiri atas ekstraksi DNA dari miselium empat isolat L. edodes dan satu sampel outgroup (Pleurotus ostreatus), amplifikasi DNA dengan teknik PCR-RAPD menggunakan delapan jenis primer (OPA 1, OPA 2, OPA 3, OPA 4, OPA 7, OPA 8, OPA 9 dan OPA 10), elektroforesis menggunakan gel agarosa dan pengamatan pita DNA dengan UV transluminator. Data pita DNA dianalisis dengan software NTSYSpc21 untuk menentukan tingkat similaritas, jarak genetik dan untuk mengkonstruksi dendrogram berdasarkan metode UPGMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua primer yang digunakan dapat mengamplifikasi DNA sampel dan satu diantaranya (OPA 4) tidak dapat menunjukkan adanya polimorfisme pada keempat isolat. Ukuran fragmen DNA teramplifikasi berkisar antara 1291774 bp. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antara isolat L. edodes asal Malang, Cianjur, Lembang dan Yogyakarta terdapat variasi genetik dengan jarak genetik antara 7886%. Polimorfisme tertinggi (83,33%) diperoleh menggunakan primer OPA 2.
Keragaman dan Kelimpahan Sumberdaya Ikan di Perairan Hutan Mangrove Pulau Unggas Air Bangis Pasaman Barat Eni Kamal
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.98

Abstract

Hutan mangrove merupakan ekosistem unik dan mempunyai tiga fungsi pokok yaitu ekologi, fisik dan ekonomi. Di kawasan perairan hutan bakau Pulau Unggas, Air Bangis, Pasaman Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan keragaman dan kelimpahan sumberdaya perikanan disekitar perairan Pulau Unggas. Alat dan bahan yang digunakan adalah metode survei dari 4 stasiun. Dari sampel ikan yang ditangkap menggunakan alat penangkap ikan monofilamen net dengan ukuran mata jaring 1,5 inchi dan panjang jaring 120 meter. Telah ditemui 7 suku dan 16 jenis ikan yang dominan adalah suku Lutjanidae 4 jenis dan 3 jenis pada suku Carangidae. Dari hasil analisis data didapat nilai indeks keanekaragam 0,452–0,970, kemerataan 0,620–0,950, kekayaan 0,565–1,820 dan kesamaan 0,50–1,334. Dari nilai distribusi alat penangkapan ikan tiap individu didapati nilai rata-rata 0,785.

Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue