cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 53 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2011): June 2011" : 53 Documents clear
Kultivasi Scenedesmus sp. Pada Medium Air Limbah Mujizat Kawaroe
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.99

Abstract

Proses fotosintesis pada mikroalga membutuhkan CO2 dan cahaya matahari serta nutrien untuk pertumbuhannya. Kultivasi Scenedesmus sp. pada medium air limbah bertujuan guna mencukupi kebutuhan mikroalga akan nutrien dan mengurangi masukan dari bahan kimia yang terkandung dalam air limbah tersebut ke lingkungan. Kultivasi Scenedesmus sp. dilakukan selama tujuh hari pada medium air limbah industri tanpa penambahan nutrien. Hasil kepadatan tertinggi pada akhir kultivasi diperoleh pada medium air effluent senilai 8,033,333 sel/ml dengan berat kering 4,60 gr. Kultivasi mikroalga tersebut juga dapat menurunkan nilai dari Total Padatan Tersuspensi dan Terlarut serta penurunan kadar dari BOD, COD, Nitrit, Sulfit, Sulfat, besi, Krom, Tembaga, dan Seng. Kultivasi Scenedesmus sp. dapat dilakukan pada medium air limbah tanpa perlu penambahan nutrien.
Kerentanan Palatogenesis Mencit (Mus musculus L.) terhadap Induksi Cleft Palate TCDD Salomo Hutahaean; Soesanto Mangkoewidjojo; Mammed Sagi; Widya Asmara
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.100

Abstract

Telah dilakukan percobaan untuk menentukan tahapan palatogenesis pada mencit (Mus musculus L.) yang rentan terhadap efek polutan 2,3,7,8-Tetraklorodibenzo-p-dioksin (TCDD). Percobaan dirancang mengikuti Rancangan Acak Lengkap dengan pola faktorial (4X3). Empat puluh delapan ekor mencit bunting dicekok TCDD dengan dosis 0 (kontrol), 5, 10, atau 20 μg/kg bb. Perlakuan diberikan pada hari kebuntingan (Hk) 9−10, 11−12, atau 13−14. Mencit kontrol dicekok pelarut saja (98,5% minyak wijen + 1,5% DMSO). Pada Hk 18 mencit dibius lalu dibunuh dengan teknik cervical dislocation, persentase fetus cleft palate (cp) dihitung, derajat penutupan palatum diberi skor, preparat dengan ketebalan 6 µm dibuat, dan mikrostruktur kraniofasial diamati. Hasil menunjukkan, pemberian TCDD antara hari ke 9 dan 12 menginduksi cacat cp, dengan kecenderungan hasil tertinggi pada pemberian Hk 910. Perlakuan TCDD dosis 10 atau 20 μg/kg bb pada Hk 910 menghasilkan fetus cacat cp >90%. Persentase fetus cp tetap tinggi pada pemberian Hk 1112, khususnya pada kelompok dosis 20 μg/kg bb (87,3%). TCDD dosis terendah (5 μg/kg bb) menginduksi cp dominan bercelah sempit, menunjukkan adanya hambatan pada tahap fusi. Dosis 10 dan 20 μg/kg bb menginduksi cp bercelah sedang atau lebar, mengisyaratkan terjadi hambatan pada tahap inisiasi atau elevasi. Disimpulkan, seluruh tahapan palatogenesis rentan terhadap efek TCDD, namun tahap paling rentan adalah tahap fusi palatum.
Karakteristik Penangkapan Ular di Wilayah Sumatera Utara Gono Semiadi; Irvan Sidik
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.101

Abstract

Beberapa jenis ular eksport asal Indonesia yang mendapat perhatian dunia adalah Python reticulatus (sanca sawah), dan kelompok “sanca gendang” yaitu: P. curtus (sanca ekor pendek) dan P. brongersmai (sanca darah). Ketiganya masuk dalam daftar Apendik II CITES. Salah satu permasalahan dalam memahami kondisi populasi di alam pada kelompok reptil ini adalah luasnya habitat dan letak geografis, selain dari sifat satwa itu sendiri yang tidak memungkinkan dilakukan sensus secara terstruktur dalam satu satuan waktu yang pendek. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian tidak langsung yang dapat menjadi indikator penting mengenai kondisinya di alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik dan produksi dari kegiatan pengumpulan sanca sawah dan gendang di daerah Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada bulan September 2008 dengan metode survei terstruktur secara snow ball technique. Survei dilakukan dengan menelusuri para pengumpul daerah, agen serta masyarakat penangkap satwa liar dari mulai daerah Nangro Aceh Darusalam hingga Rantau Prapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan ular di wilayah Sumatera merupakan suatu kegiatan yang melibatkan cukup banyak anggota masyarakat. Secara kualitas, kemungkinan telah terjadi penurunan pada ular P. reticulatus, tetapi belum begitu tampak pada ular P. brongersmai dan P. curtus. Namun dari segi populasi tangkapan untuk semua kelompok ular tersebut ada kecenderungan penurunan dibandingkan dengan masa sepuluh tahun yang lalu, walau secara kuantitas masih perlu dilakukan perhitungan yang lebih mendalam lagi.
Puntius orphoides Valenciennes, 1842: Kajian Ekologi dan Potensi untuk Domestikasi Suwarno Hadisusanto; Suhestri Suryaningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.102

Abstract

Semua jenis ikan pada awalnya hidup secara alami tetapi beberapa jenis sudah dapat dibudidayakan dan ada yang masih hidup liar. Tujuan penelitian ini adalah upaya domestikasi ikan mata merah/Brek (Puntius orphoides Valencienes, 1842). Ikan mata merah dicuplik dari Sungai Klawing dan Waduk Sempor pada bulan Maret 2008 untuk dikaji aspek habitatnya dan dianalisis nutrisinya. Analisis nutrisi dikerjakan di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan UNSOED dan LPPT UGM. Jenis ikan sebagai pembanding adalah Puntius javanicus Blkr. dan Oreochromis niloticus. Hasil analisis laboratorium mengenai kadar air, protein dan lemak P. orphoides lebih menguntungkan dibandingkan dengan dua jenis yang lain. Kelebihan jenis ikan mata merah adalah khususnya kandungan protein, maka dapat terus dikembangkan sebagai cadangan protein sektor perikanan yang sangat baik.
Profil Hormon dan Kinerja Reproduksi Ikan Sidat (Anguilla bicolor McClelland) yang Tertangkap di Perairan Segara Anakan Cilacap Farida Nur Rachmawati; Untung Susilo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.103

Abstract

Ikan Sidat, Anguilla bicolor McClelland, pada kondisi alami atau budidaya jarang ditemukan pada fase matang gonad, sehingga upaya untuk melakukan pembenihan buatan sulit dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang berkaitan dengan aspek reproduksinya, karena masih terbatasnya informasi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil hormon dan kinerja reproduksi Ikan Sidat. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Ikan Sidat diperoleh dari perairan segara Anakan Cilacap. Bobot gonad ikan ditimbang untuk mengamati tingkat kematangan gonad (GSI), sedangkan serum hormon steroid diukur menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai GSI (Gonado Somatic Index) berkisar antara 0,1–2,88%, sedangkan kadar hormon estradiol berkisar antara 9–458,94 (pg/ml); Progesteron 0,25–0,57 (ng/ml) dan Testosteron < 0,1 (ng/ml). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perkembangan gonad ikan Sidat mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan serum hormon steroid, khususnya estradiol dan progesteron.
Kekerabatan Jagung (Zea mays L.) Lokal Madura Berdasarkan Karakter Morfologi dan Penanda RAPD Achmad Amzeri; Didik Indradewa; Budi Setiadi Daryono; Diah Rachmawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.104

Abstract

Perbandingan metode yang berbeda pada perhitungan keragaman genetik dapat bermanfaat dalam program pemuliaan dan konservasi tanaman. Pada penelitian ini digunakan 16 jagung lokal yang dikoleksi dari pulau Madura. Sebanyak 57 sifat morfologi dan 10 primer RAPD digunakan untuk menilai hubungan kekerabatan berdasarkan karakter morfologi dan penanda RAPD, dan menentukan genotip jagung lokal Madura yang mempunyai sifat untuk dikembangkan dalam program pemuliaan dan konservasi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter morfologi dan penanda RAPD, 16 kultivar jagung lokal di pulau Madura diklasifikasikan dalam 2 grup. Rata-rata kemiripan morfologi (0,74) lebih tinggi dibanding kemiripan berdasarkan penanda RAPD (0,63). Koefisien kemiripan berdasarkan karakter morfologi adalah 0,510,91, sedangkan koefedien kemiripan berdasarkan penanda RAPD adalah 0,390,92. Lima kultivar (Tambin, Delima, Tambin-2, Krajekan dan Duko) mempunyai produksi tinggi, umur genjah dan hubungan kekerabatan agak jauh, sehingga digunakan untuk program pemuliaan dan pengembangan budidaya.
Identifikasi Sel-sel Target Virus Penyakit Jembrana dengan Teknik Imunositokimia Ganda I Ketut Berata; I Nyoman Mantik Astawa
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.105

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sel target virus Jembrana dengan teknik imunositokimia ganda. Penelitian ini menggunakan sapi Bali yang diinokulasi dengan virus Jembrana secara intramuskuler. Pada demam hari kedua setelah inokulasi virus, sapi dinekropsi. Limpa diambil secara aseptik, kemudian direndam dalam buffer formalin 10% selama 24 jam. Potongan limpa diproses untuk pembuatan sediaan histologis dengan menggunakan cryomicrotome. Preparat histologis limpa diwarnai dengan teknik imunositokimia ganda. Untuk mengidentifikasi subset limfosit digunakan antibody monoclonal anti BoCD4 + dan anti BoCD8 + , serta diamino benzidine (DAB) sebagai substrat. Pada pewarnaan ini, sel-sel terinfeksi akan tampak berwarna biru, sedangkan sel-sel marka BoCD4 + atau BoCD8 + akan tampak berwarna coklat. Untuk identifikasi sel-sel terinfeksi virus Jembrana digunakan antibodi monoklonal anti-capsid JDV (BB-Vet Denpasar) dan nitro blue tetrazolium (NBT) sebagai substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel-sel yang terinfeksi virus Jembrana hanya bermarka BoCD4 + , dan sama sekali tidak pada sel BoCD8 + . Simpulan penelitian ini adalah sel-sel BoCD4 + merupakan sel target virus Jembrana.
Asosiasi Jenis Pada Komunitas Vegetasi Suksesi di Kawasan Pengendapan Tailing Tanggul Ganda di Pertambangan PTFI Papua Yuanita Windusari; Robyanto H. Susanto; Zulkifli Dahlan; Wisnu Susetyo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.106

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui asosisasi jenis pada komunitas vegetasi di lahan tailing. Tailing adalah residu akhir batuan alami setelah mengalami proses mineralisasi dan berbentuk lumpur pasir. PT Freeport mengelola dan menempatkan tailing pada suatu kawasan lahan basah yang direkayasa khusus yaitu Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Terdapat kawasan terpisah dalam ModADA yang tidak dipengaruhi tailing secara aktif dan relatif stabil, struktur tanah mulai berkembang dan dimanfaatkan sebagai area suksesi alami atau reklamasi disebut Tanggul Ganda. Metodologi yang digunakan adalah metode transek terdiri dari beberapa plot bujur sangkar. Parameter pengamatan adalah struktur dan komposisi vegetasi pada semua tingkat pertumbuhan (pohon, tiang, pancang, dan semai), serta kehadiran jenis pada setiap plot. Penghitungan Indeks Nilai Penting (INP) jenis dan nilai asosiasi dua jenis tumbuhan menggunakan uji Chi Square dan rumus Indeks Jacard. Hasil memperlihatkan jenis pionir Phragminthes karka dominan pada kawasan Tanggul Ganda, dan keanekaragaman jenis lebih tinggi pada area relatif kering. Nilai asosiasi untuk tingkat pohon tergolong tinggi ditemukan antara Campnosperma brevipetiolata dan Ficus benjamina, tingkat pancang ditemukan antara Neprolephis cardifolia dan Phylodendron sp. Berubahnya karakteristik biofisik lahan tailing berkaitan dengan meningkatnya kualitas tanah yang akan mempengaruhi asosiasi jenis dan keanekaragaman pada hutan suksesi.
Respon Pertumbuhan dan Tingkat Ketergantungan Albizia saponaria (Lour.) Miq Terhadap Fungi Arbuskula Mikoriza Lokal Sulawesi Tenggara Faisal Danu Tuheteru; Husna Husna; La Ode Alimuddin
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.107

Abstract

Studi tentang pengaruh jenis FMA asli Sulawesi Tenggara pada tanaman A. saponaria belum dilakukan. Tujuan penelitian ini mengetahui keefektivan pengaruh FMA lokal dan ketergantungan tanaman A. saponaria. Penelitian dilakukan di rumah plastik kebun percobaan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo bulan JuniSeptember 2010. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Perlakuan meliputi tanpa inokulasi FMA (A), inokulasi inokulum FMA 10 g. -1 polybag (B), FMA 20 g. -1 polybag (C). Parameter bibit yang diamati adalah tinggi, diameter batang, jumlah daun, bobot kering pucuk, bobot kering akar, bobot kering total, nisbah pucuk akar, jumlah nodul, persentase kolonisasi akar, dan ketergantungan relatif mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi inokulum FMA 10 g. -1 polybag (B) pada tanaman A. saponaria memberikan pengaruh lebih baik terhadap peningkatan semua parameter yang diamati. Terdapat pengaruh korelasi yang positif dan kuat antara persentase kolonisasi akar dengan semua parameter pertumbuhan bibit (P
Analisis Kuantitatif Sel Purkinje Cerebellum Mencit (Mus musculus L.) setelah Induksi Ochratoksin A Selama Periode Organogenesis Arum Setiawan; Mammed Sagi; Widya Asmara; Istriyati Istriyati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v16i2.108

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah sel Purkinje cerebellum anak mencit umur 21 hari (pascasapih) setelah induksi Ochratoksin A selama periode organogenesis. Tiga puluh ekor mencit bunting dibagi secara acak menjadi 5 kelompok perlakuan dengan masing-masing 6 ulangan. Ochratoksin A dilarutkan dalam Sodium Bicarbonat, diberikan secara oral pada saat kebuntingan hari ke 7 sampai hari ke -14. Dosis perlakuan Ochratoksin A adalah 0,5 ; 1,0; 1,5 mg/kg bb dan sebagai kontrol tidak diberi perlakuan, serta kontrol placebo diberi perlakuan pelarut Sodium Bicarbonat. Induk mencit dipelihara sampai melahirkan. Pada umur ke 21 hari (pascasapih), anak mencit dikorbankan dan diambil bagian otaknya. Otak mencit selanjutnya dipreparasi dengan metode parafin dan pewarnaan menggunakan pewarnaan Haematoksilin Eosin. Data jumlah sel Purkinje dianalisis dengan Anava Satu Arah dan dilanjutkan dengan uji DMRT untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ochratoksin A yang diberikan pada mencit bunting selama periode organogenesis menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jumlah sel Purkinje mencit perlakuan yang ditandai dengan semakin menurunnya jumlah sel Purkinje dibandingkan dengan kontrol dan kontrol placebo.

Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue