Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

KONSEP BUDIDAYA GAHARU (Aquilaria spp.) DI PROVINSI BENGKULU Darnaedi, Dedy; Waluyo, Eko Baroto; Wiriadinata, Harry; Semiadi, Gono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aquilaria spp. merupakan kelompok tumbuhan penghasil aromatik bernilai komersil tinggi melalui produk gubal gaharu dan kamedangan. Budidaya tanaman gaharu merupakan salah satu langkah nyata di dalammenjalankan program pemanfaatan dari alam secara berkelanjutan. Untuk itu dilakukan penelitian mengenai usaha budidaya pohon penghasil gaharu di Provinsi Bengkulu. Penelitian dilakukan dalam bentuk rapidassessment pada bulan April 2008 dengan mengunjungi beberapa lokasi penanaman pohon gaharu (Aquilaria spp.) yang ada di Kabupaten dan Kota  Bengkulu.  Pada setiap kunjungan ke lokasi budidaya dilakukan wawancara terstruktur mengenai sejarah penanaman serta dilakukan pengukuran diameter setinggi dada (dbh) dan tinggi pohon-pohon gaharu. Kamedangan segar hasil tebangan dan gubal gaharu hasil inokulasidiukur berat dan kandungan airnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman pohon penghasil gaharu di tingkat masyarakat diprakarsai oleh perusahaan lokal. Sampai dengan Juli 2008 jumlah petani gaharubinaan mencapai 29 jiwa dengan luas penanaman 38,0 ha serta jumlah penanaman mencapai 5.000 pohon, sedangkan kegiatan inokulasi pada tumbuhan gaharu alam mencapai  53 ha. Pemahaman konsep budidayasesuai perundangan masih harus disosialisasikan mengingat adanya perbedaan persepsi, khususnya pada status pohon penghasil gaharu alam yang diinokulasi dengan sengaja. Jenis pohon penghasil gaharu yangdibudidaya dan tumbuh alami di perkebunan masyarakat adalah Aquilaria microcarpa Baill. dan A. malaccensis Lam. Berat gubal gaharu hasil inokulasi kondisi siap jual rata-rata 18,79 gram/potong (standardeviasi 8,85) dengan kandungan air 11,2-12,97%. Kandungan air pada kamedangan hasil tebangan baru adalah 46,3%. Satu pohon penghasil gaharu dengan tinggi 35 m dan dbh 118 cm setidaknya menghasilkan637,65 kg kamedangan kering siap jual
PERBEDAAN RELUNG DUA JENIS KADAL SIMPATRIK Emoia ASAL DATARAN TINGGI JAYAWIJAYA, IRIAN JAYA : DITINJAU DARI VARIASI MORFOMETRIK (LACERTILIA: SCINCIDAE) Kurniati, Hellen; Semiadi, Gono
ZOO INDONESIA No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Niche diferences
PEMANFAATAN SATWA LIAR DALAM RANGKA KONSERVASI DAN PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT Semiadi, Gono
ZOO INDONESIA Vol 16, No 2 (2007): November 2007
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.039 KB)

Abstract

Faktor kecukupan gizi di negara kita seolah tidak pernah habisnya di bahas sejak negara ini merdeka. Permasalahan perlindungan hidupan liar untuk suatu negara berkembang (dunia ketiga) juga merupakan suatu polemik yang sangat dalam, tetapi walau bagaimanapun keadaannya, konservasi hidupan liar haruslah tetap mendapatkan perhatian mengingat fungsi dan perannya sebagai suatu bagian dari ekosistim dan kekayaan alam. Rusa dapat merupakan salah satu contoh pemanfaatan satwa liar yang dilindungi yang berkembang pesat di luar negeri tetapi masih belum termanfaatkan di Indonesia. Untuk itu pemahaman akan potensi suatu satwa liar sebagai sumber gizi masyarakat diantara birokrat maupun LSM masih perlu ditingkatkan.
Aktivitas Perilaku Makan Kukang Sumatera (Nycicebus coucang coucang) pada Malam Hari di Penangkaran Semiadi, Gono; Tjakradidjaja, Anita S.; Diapari, Didid
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 3, No 4 (2002): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.844 KB) | DOI: 10.14203/jbi.v3i4.3320

Abstract

ABSTRACTFeeding Behaviour Activity of Slow Loris (Nycicebus coucang coucang) at Night inCaptivity. Slow loris (Nycticebus coucang) is an endangered tropical primate, with itsdistribution in Indonesia stretch from Java, Sumatra to Kalimantan islands. Population declineare mainly due to habitat destruction, competition in feed and space and live capture to be soldas pet animals. One of the strategies to conserve the species is through captive breedingprogram (ex situ). Understanding the behaviour of slow loris in captivity, especially theirfeeding behaviour, will provide valuable information for obtaining maximal management. Thestudy was conducted at Mammals Captive Breeding, Pusat Penelitian Biologi-LIP1 in Bogor,for three months. Three adults slow loris consisting of two males and one female, were placedin individual cages and observed their nighttime feeding behaviour. Feeds that were givenconsisted of banana, marquise, guava, coconut, papaya, sweet corn, bread and quail eggs. Onezero sampling method was used in the observation with fifteen minutes interval. The resultsshowed that night feeding activity took place 12.44% of the total activities, with the highestactivity took place between 18.00-19.00 WIB as much as 6,1%. Drinking activity took placeonly 0,21% of the total activities, with defecation and urination activities were noted only3,84% and 2,73%, respectively. Others activities, such as locomotion, grooming and restingwere 14,59%, 58,08% and 8,12%, respectively, of the total activities.Keywords : Slow loris, Nycticebus coucang, captive breeding, behaviour, activities
Gambaran Umum Kajian Profil Hormon Steroid Menggunakan Metode Non-Invasif dari Sampel Feses Nugraha, R. Taufiq Purna; Purwantara, Bambang; Supriatna, Iman; Agil, Muhammad; Semiadi, Gono
ZOO INDONESIA Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.391 KB)

Abstract

Kajian terhadap profil hormon-hormon steroid merupakan kunci penting dalam upaya memahami aspek fisiologis satwa. Beberapa dekade terakhir telah dikembangkan metode alternatif untuk mengetahui profil hormon steroid, yaitu melalui pengukuran metabolit hormon steroid yang diekskresikan melalui ekskreta tubuh seperti feses. Metode tersebut dikenal sebagai metode non-invasif. Metode ini memungkinkan pengumpulan sampel secara terus menerus dalam jangka panjang dengan meminimalisasi gangguan terutama pada satwa liar. Kajian terhadap profil metabolit hormon steroid yang terukur dapat diaplikasikan antara lain untuk mengetahui status reproduksi, penentuan jenis kelamin, studi perilaku hingga monitoring tingkat stres satwa. Berbagai kajian dengan memanfaatkan metabolit hormon steroid telah berhasil diaplikasikan pada berbagai taksa vertebrata. Tulisan ini memberikan gambaran terkini mengenai aplikasi metode non-invasif untuk kajian profil metabolit hormon steroid dari sampel feses.
KARAKTERISTIK MIKROBA RUMEN HASIL ISOLASI DARI FESES SEGAR RUSA TIMOR (Cervus timorensis) Artiningsih, Typuk; Semiadi, Gono
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 1 (2000)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.949 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i1.1106

Abstract

-
KERAGAMAN MAMALIA DISEKITAR DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN LEBAK Suyanto, Agustinus; Semiadi, Gono
BERITA BIOLOGI Vol 7, No 1&2 (2004)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.177 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v7i1&2.2062

Abstract

The fieldworks for inventory and collection on mammals in Gunung Halimun National Park (OHNP) had been carried out for long time; however the works only focused on the areas belong to Bogor District. Therefore, the fieldwork was carried out in the buffer zone of the GHNP in Lebak District.The fieldwork had collected 70 numbers consisted of 16 species of mammals, of which five species were new records for GHNP and of those five species, two species (Glischropus javanus and Myotis sp.)were new collection for the Museum Zoologicum Bogoriense-Research Center for Biology-The Indonesian Institute of Sciences (LIPI).The Baduy people were noticed to hunt fruit-bats from some caves for their food.It was suggested a monitoring activity on the utilization of fruit-bats should be conducted for the conservation of the fruit-bats.Further fieldwork outside the Bogor District in the future should also be considered, particularly on the area along the river.
Karakteristik Penangkapan Ular di Wilayah Sumatera Utara Semiadi, Gono; Sidik , Irvan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.041 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.101

Abstract

Beberapa jenis ular eksport asal Indonesia yang mendapat perhatian dunia adalah Python reticulatus (sanca sawah), dan kelompok “sanca gendang” yaitu: P. curtus (sanca ekor pendek) dan P. brongersmai (sanca darah). Ketiganya masuk dalam daftar Apendik II CITES. Salah satu permasalahan dalam memahami kondisi populasi di alam pada kelompok reptil ini adalah luasnya habitat dan letak geografis, selain dari sifat satwa itu sendiri yang tidak memungkinkan dilakukan sensus secara terstruktur dalam satu satuan waktu yang pendek. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian tidak langsung yang dapat menjadi indikator penting mengenai kondisinya di alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik dan produksi dari kegiatan pengumpulan sanca sawah dan gendang di daerah Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada bulan September 2008 dengan metode survei terstruktur secara snow ball technique. Survei dilakukan dengan menelusuri para pengumpul daerah, agen serta masyarakat penangkap satwa liar dari mulai daerah Nangro Aceh Darusalam hingga Rantau Prapat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan ular di wilayah Sumatera merupakan suatu kegiatan yang melibatkan cukup banyak anggota masyarakat. Secara kualitas, kemungkinan telah terjadi penurunan pada ular P. reticulatus, tetapi belum begitu tampak pada ular P. brongersmai dan P. curtus. Namun dari segi populasi tangkapan untuk semua kelompok ular tersebut ada kecenderungan penurunan dibandingkan dengan masa sepuluh tahun yang lalu, walau secara kuantitas masih perlu dilakukan perhitungan yang lebih mendalam lagi.
Variasi Genetik pada Rusa Sambar (Rusa unicolor) di Penangkaran, Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur Wirdateti, Wirdateti; Brahmantyo, Bram; Semiadi, Gono; Reksodihardjo, Andi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 15, No 3 (2010): October 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.805 KB) | DOI: 10.24002/biota.v15i3.2602

Abstract

Sambar deer (Rusa unicolor) is the largest Indonesian deer species. The largest population of captivation is located at Penajam district, East Borneo (UPTD). First population was introduced in 1990 with four individuals. The use of molecular marker was aimed to identify and characterise the level of genetic diversity within the UPTD population as well as to identify a possible of botolneck population genetic status. This study discussed the relevance of the result for management purposes of captivation. The results indicated that sambar deer populatin (n=38) had an average genetic distance (d) in population as 0.006 with nucleotide diversity (Ï€) being 0.0159). A total of 43.48% of the population was homogeneous that showed no nucleotide differences among individuals.
TINJAUAN PEMANFAATAN RANGGAH RUSA DAN KARAPAS KURA-KURA AIR TAWAR DI PROPINSI PAPUA Semiadi, Gono; Sidik, Irvan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 15, No 1 (2010): February 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.06 KB) | DOI: 10.24002/biota.v15i1.2660

Abstract

In Papua, rusa deer (Rusa timorensis) and freshwater turtles constitute the local people bush meat resources through hunting. These hunting activities are produced some by-products i.e. hard antlers from deer and carapace shells from freshwater turtles, where both have a high economic value. The purpose of this study was to investigate the level of production of those by-products and the pathway of the local market being established. The study was conducted at Merauke Regency, Papua, and its vicinity by visiting the key players of all collectors and trade levels. The results showed that on almost all harvested bush meat came from freshwater turtles were cooked on the location, leaving only the carapace shells. Only small quantity of the bush meat was taken home or for trading purposes. However for deer, the majority of hunting activities was done on the purpose for the meat to be sold in the market and small quantity was used for personal needs. Trading on the by-products was conducted at three levels, they were local collectors, middle collectors and local exporter. In general, over 62% of hard antlers samples being observed were uncast hard antlers and 88% of the hard antlers came from the third growth onwards. In a year, at least 1.600-3.700 pairs of hard antlers were acquired, or equivalent to 2.8-6.6 tons. The freshwater turtles being identified were Macrochelodina parkeri, Chelodina reimanni, Macrochelodina rugosa, Elseya braderhorsti and Emydura subglobosa, in which none of the species is under Appendix CITES's list or as Indonesian protected species.