cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Mahasiswa S1 PBB
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Memuat jurnal hasil penelitian mahasiswa Strata 1(satu) Program Studi Pendidikan Bahasa Bali Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
PENERAPAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENULIS PENGANGGE SUARA AKSARA BALI SISWA KELAS V SD NEGERI 2 BENGKEL KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN TABANAN SUANTINI, NI WAYAN
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Bali merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia, yang sangat terkenal di dunia dengan aksara dan sor singgih basanya, untuk itu. Bahasa Bali perlu dilestarikan, untuk melestarikan Bahasa Bali tersebut maka diberikan pendidikan formal maupun non formal. Dalam pendidikan formal diberikan muatan lokal berbahasa Bali mulai dari SD, SMP, dan SMA. Keterampilan berbahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pada penelitian ini lebih mengkhususkan mengangkat mengenai kemampuan menulis Pengangge Suara Aksara Bali. Salah satu metode yang mampu mengoptimalkan dalam pembelajaran menulis Pengangge Suara aksara Bali yaitu dengan menerapkan Metode Drill.Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dijabarkan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana respon siswa dalam menulis Pengangge Suara Aksara Bali dari huruf latin ke Aksara Bali dengan menerapkan metode drill pada pelajaran Bahasa Bali siswa kelas V SD Negeri 2 Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan? (2) Bagaimanakah hasil belajar siswa dalam menulis Pengangge Suara Aksara Bali dari huruf latin ke Aksara Bali pada pelajaran Bahasa Bali dengan menerapkan metode Drill siswa kelas V SD Negeri 2 Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan?Penelitian ini memiliki tujuan khusus sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam menulis Pengangge Suara Aksara Bali dari huruf latin ke Aksara Bali pada pelajaran Bahasa Bali siswa kelas V SD Negeri 2 Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. (2) Untuk mengetahui respon siswa dalam menulis Pengangge Suara Aksara Bali dari huruf latin ke Aksara Bali pada pelajaran Bahasa Bali siswa kelas V SD Negeri 2 Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu teori koneksionisme. Sedangkan untuk metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode observasi, angket (kuisioner), tes, dokumentasi, dan studi literatur. Dengan analisis data secara kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan pada siklus I dalam pembelajaran menulis pengangge suara aksara Bali yang berjumlah 30 orang siswa diperoleh nilai rata-rata yaitu 56,67 mengalami peningkatan pada siklus II yaitu sebesar 81,00, persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I yakni 26,67% selanjutnya persentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 86,67%. Sedangkan respon siswa mengalami peningkatan dari kategori cukup baik dengan rata-rata respon siswa 32,7 menjadi 39,40 dengan kategori positif. Dengan adanya peningkatkan hasil belajar dan respon siswa maka dibuktikan penerapan Metode Drill dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis Pengangge Suara Aksara Bali di SD Negeri 2 Bengkel Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan. Kata Kunci : Metode Drill, Pengangge Suara Aksara Bali.
REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA BALI DALAM PERGAULAN DI SMK N 1 BANGLI TRIANI WULANDARI, NI NYOMAN
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Sebagai sekolah yang dahulunya merupakan rintisan sekolah bertaraf internasional, SMK Negeri 1 Bangli menuntut para siswanya untuk fasih dalam berbahasa Inggris. Dengan minimnya penggunaan Bahasa Bali dalam proses pembelajaran, akan membawa pengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap penggunaan Bahasa Bali, yang juga akan mempengaruhi kesantunan berbahasa Bali tersebut.            Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini ada tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) bagaimanakah kesantunan berbahasa Bali dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli? (2) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kesantunan berbahasa Bali dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli? (3) bagaimanakah persepsi guru dan pegawai terhadap kesantunan berbahasa Bali siswa-siswi SMK N 1 Bangli dalam pergaulannya di sekolah? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kesantunan berbahasa Bali dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi kesantunan berbahasa Bali dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli, (3) persepsi guru dan pegawai terhadap kesantunan berbahasa Bali siswa-siswi SMK N 1 Bangli dalam pergaulannya di sekolah.            Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah adalah: Teori Pragmatik dari Leech, Teori Ragam Bahasa dari Suwito, dan Teori Persepsi dari Gibson. Subyek penelitian ini adalah warga SMK Negeri 1 Bangli. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi tidak berstruktur, wawancara tidak berstruktur, kepustakaan dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan.            Hasil penelitian menunjukan (1) tuturan dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli tidak ada yang melanggar maksim dari Leech, (2) faktor yang mempengaruhi kesantunan berbahasa Bali daam pergaulan di SMK N 1 Bangli terdiri dari faktor sosio-situasional, dan variasi bahasa, (3) guru dan pegawai memiliki persepsi terhadap pergaulan siswa-siswi di sekolah  sangat santun.            Dari analisis data maka dapat disimpulkan: (1) tuturan dalam pergaulan di SMK N 1 Bangli sangat santun dengan terpenuhinya keenam maksim kesantunan Leech, (2) faktor sisio-situasioanal dan variasi bahasa sangat berpengaruh terhadap kesantuan berbahasa Bali di SMK N 1 Bangli, (3) sebagian besar guru dan pegawai memiliki persepsi bahwa tuturan siswa-siswi SMK N 1 Bangli adalah tutran yang santun. Kata kunci: kesantunan, berbahasa Bali, maksim kesantunan,tuturan.
KARAKTERISASI TOKOH DALAM SATUA GALUH PITU (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA) GUSMIARINI, NI LUH GEDE
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Satua Bali merupakan salah satu kesusastraan Bali tradisional, yang sering disebut dengan sastra lisan. Semakin berumur tua satua Bali semakin punah dan tidak diminati lagi akibat dari perkembangan zaman yang semakin maju. Satua Bali yang mengandung berbagai nilai-nilai yang luhur sekarang sudah di geser keberadaannya oleh tayangan-tayangan televisi seperti sinetron yang isinya kurang mendidik. Selain satua mengandung nilai-nilai luhur agama Hindu, bisa juga digunakan sebagai hiburan mengasyikkan yang mengandung unsur fantasi bagi anak-anak. Satua juga merupakan sarana pendidikan moral dan budi pekerti pada anak dankarakter tokoh yang bisa dijadikan tauladan dan mana yang tidak perlu ditiru dalam kehidupan sehari-hari.Penelitian ini mengkaji beberapa masalah yaitu : (1) Bagaimanakah satuan naratif yang membangun satua Galuh Pitu? (2) Bagaimanakah karakterisasi tokoh yang terdapat dalam satua Galuh Pitu? (3) Apa sajakah nilai-nilai yang terkandung dalam satua Galuh Pitu?Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk melestarikan kebudayaan Bali berupa satua Bali, dan secara khusus penelitian ini bertujuan : (1) Untuk mengetahuan satuan naratif yang membangun satua Galuh Pitu (2) Untuk mengetahui karakterisasi tokoh dalam satua Galuh Pitu (3) Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam satua Galuh Pitu. Untuk menjawab ketiga permasalahan tersebut digunakan beberapa teori diantaranya teori struktural, teori nilai, dan teori psikologi sastra.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya menggunakan metode kepustakaan, metode pencatatan dokumen, dan metode hermeneutika. Selanjutnya analisis data dengan metode deskriptif analitik yaitu data yang sudah terkumpul selanjutnya ditafsirkan dan kemudian hasilnya dideskripsikan. Tahap analisis data menggunakan metode informal yaitu hasil pengolahan data disajikan dengan mempergunakan kata-kata atau kalimat.Hasil yang dicapai dalam penelitian ini yaitu (1) Satuan naratif yang terkandung dalam satua Galuh Pitu, yaitu mukha, pratimuka, garbha, vimarsa, nirvahana, tema, dan amanat. (2) Karakterisasi tokoh utama, dan karakterisasi tokoh bawahan. (3) Nilai yang di petik  diantaranya nilai tatwa, nilai etika, nilai pendidikan budi pekerti, nilai pendidikan logika. Kata Kunci : Karakterisasi Tokoh, Satua, dan Nilai
PERSEPSI GURU BAHASA BALI SMA NEGERI 1 SINGARAJA TERHADAP RENDAHNYA PENGGUNAAN BAHASA BALI DIKALANGAN SISWA YUDIASTIKA, KADEK
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Bahasa Bali yang sebagai bahasa ibu kini pemakaiannya sudah semakin jarang, bahkan bahasa Bali yang dulunya merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Bali, kini peran bahasa Bali sebagai bahasa ibu semakin banyak digantikan dengan bahasa Indonesia, bahkan ada yang mengganti dengan bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Dari observasi yang dilakukan peneliti bahwa di mana siswa SMA hampir 80 % menggunakan bahasa indonesia dalam berkomunikasi. Rendahnya penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa disebabkan siswa menganggap ” Malajah Basa Bali sing dadi anggon ngalih gae, ane jani kanggo basa Inggris” dan Selain itu bahasa Bali yang hanya sebagai pelajaran muatan lokal dan tidak diujikan saat ujian nasional selalu tidak dianggap penting oleh siswa bahkan tidak terlalu penting bahasa Bali itu.Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini ada dua permasalahan yang akan dibahas antara lain: 1) Bagaimana penggunaan bahasa Bali dikalangansiswa SMA Negeri 1 Singaraja dalam kehidupan sehari-hari?, 2) Bagaimana persepsi guru bahasa bali SMA Negeri 1 Singaraja terhadap rendahnya penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa saat ini, dan mengetahui persepsi guru bahasa Bali terhadap rendahnya penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan design penelitian  terfokus pada penelitian observational case studies, dengan pendekatan fenomenologi, dengan sumber data primer dan sekunder. Subjek penelitian adalah adalah guru bahasa Bali SMANegeri1 Singaraja,metode penentuan informan dilakukan dengan porposive Sedangkan metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode obsevasi, metode wawancara dan metode kepustakaan, metode analisis data,teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi dan teori identitas.Hasil yang diproleh dari hasil analisis penelitian ini adalah rendahnya penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa karena siswa lebih cenderung menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris bahkan bahasa Mandarin dalam keseharian di sekolah. Disamping itu juga para siswa menganggap bahasa Bali tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Rendahnya penggunaan bahasa Bali dikalangan siswa  menurut persepsi guru bahasa Bali SMA Negeri 1 Singaraja juga disebabkan beberapa faktor antara lain faktor orang tua, faktor ketidak beraturan belajar siswa, faktor motivasi, faktor kesulitan, faktor ekonomi dan lapangan kerja, dan faktor trend (gaya) dan budaya luar. Namun  dari sisi lain dari hasil wawancara dengan guru bahasa Bali SMA Negeri 1 Singaraja menyatakan bahwa para guru ini sudah merasa senang karena sekolah SMA Negeri 1 Singaraja sudah menerapkan wajib menggunakan bahasa Bali saat Purnama dan Tilem, para guru menganggap bahasa Bali masih diperhatikan dan masih bisa tetap dilestarikan oleh siswa meskipun itu hanya saat Purnama dan Tilem.Kata kunci : persepsi guru bahasa Bali, rendahnya penggunaan bahasa Bali
NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DALAM LONTAR TUTUR ANACARAKA MASTIKA, I WAYAN
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Kebudayan sudah mencangkup dari karya sastra. Karya sastra tersebut berupa tertulis, lisan, tradisional dan moderen. Selain itu juga kebudayan yang jarang di ketahui masyarakat umum yakni sastra tertulis yang tradisional. Naskah kuno termasuk di dalamnya adalah lontar. Sesuai dengan program studi, peneliti mengambil Lontar Tutur Ana Caraka yang di tulis oleh I Gusti Nyoman Dangin dari Padangkerta Karangasem. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan dua masalah yakni: 1) Pokok-pokokajaran apakah yang terkandung dalam Lontar Tutur Ana Caraka?, 2)Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam Lontar Tutur Ana Caraka?Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pokok-pokok ajaran yang terkandung dalam Lontar Tutur Ana Caraka. Untuk mengetahui nilai- nilai yang terkandung dalam Lontar Tutur Ana Caraka. Penelitian ini menggunakan tiga teori, yakni teori struktural, teori nilai,  dan teori semiotik. Subyek penelitian ini yakni lontar. Metode yang digunakan mengumpulkan data adalah metode wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan.   Hasil penelitian menunjukan bawasannya yang diteliti adalah 1) pokok-pokok ajaran yang terkandung di dalam Lontar Tutur Ana Caraka dan nila-nilai yang terkandung. Ajaran Ketuhan yakni sebagaimana manusia mencintai sesama, seperti itulah menyayangi Tuhan Yang Maha Esa dengan cara menghormati sesama, juga termasuk hormat terhadap beliau, karena di dalam jiwa manusia terdapat percikan sanghyang atman yakni Brahman.  Selanjutnya terdapat ajaran yoga, dimana di dalam Lontar Tutur Ana Caraka menjelaskan jika engkau manusia ingin mengetahui ilmu pengetahuan ini hendaknya engkau mengurangi aktifitas yang berlebihan. Selanjutnya ajaran filsafat yakni dalam Lontar Tutur Ana Caraka menyebutkan bersikaflah bijaksana dalam melakukan suatu aktifitas yang melibatkan sesama manusia, karena dari kebijaksanaan itulah akan memperoleh pengalaman yang tak ternilai. Dan yang terakhir adanya hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung dilihat dari pembagian Aksara Ana Caraka tersebut menjadi empat yakni HA, NA, CA, RA, KA di timur, DHA, TA, SA, WA, LA di selatan, MA, GA, BA, TA, NGA di barat dan PA, DHA, JA, YA, ÑA di utara. Dari pembagian itu Bhuana Agung akan kuat dan tetap ajeg sekaligus seimbang keberadaanya. Bhuana Alit adalah alam kecil sering di aplikasikan yakni manusia. Tidak Bhuana Agung saja yang mengandung aksara, melainkan manusiapun juga terlahir dari aksara yaitu dikaitkan dengan Pancaksara dan Triaksara yakni aksara ANG, UNG, MANG, itulah yang membungkus di tengah hati, WANG, asal/ keluar dari hati, YANG, di tengah  hati, SANG, di timur hati, BANG, di selatan hati, TANG, di barat hati, ANG, di utara hati, ING, di tengah hati, itulah tempat bergantungnya di sekitar hati. Nilai-nilai yang terkandung dalam Lontar Tutur Ana Caraka yakni nilai pendidikan tatwa yakni mempelajari dari kebenaran dan cinta kasih kepada Tuhana Yang Maha Esa dan nilai pendidikan etika yakni jika engkau mengetahui semua ajaran ini, janganlah sombong, jika memulai pekerjaan pertimbangkan sebelum bertindak.Kata Kunci: Nilai-nilai Pendidikan, Lontar Tutur Ana Caraka.
Studi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Siswa Berkomunikasi Bahasa Bali Alus (Studi Kasus Siswa Kelas XII TGB 2 SMK Negeri 3 Singaraja Tahun Pelajaran 2012/2013) Eka Wirawan, Putu
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Mata pelajaran Bahasa Bali memiliki empat aspek yaitu aspek menulis, membaca, berbicara dan menyimak. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang paling dasar untuk diajarkan dalam pembelajaran bahasa Bali terlebih lagi dalam pembelajaran menulis aksara Bali. Namun pada kenyataannya banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar bebicara bahasa Bali alus. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah : (1) Bagaimana pola pembelajaran bahasa Bali yang diterapkan di kelas XII TGB 2 siswa SMK Negeri 3 Singaraja? (2) Kendala-kendala apa saja yang menyebabkan para siswa kelas XII TGB 2 kesulitan berkomunikasi bahasa Bali alus siswa SMK Negeri 3 Singaraja? (3) Bagaimana upaya-upaya guru yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan berkomunikasi bahasa Bali alus siswa kelas XIITGB 2 SMK Negeri 3 Singaraja.          Penelitian tiandakan kelas ini bertujuan untuk : (1) Untuk mengetahui pola pembelajaran bahasa Bali bagaimana yang diterapkan di kelas XII TGB 2 SMK Negeri 3 Singaraja, (2) Untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang menyebabkan para siswa kesulitan berkounikasi bahasa Bali alus siswa kelas XII TGB 2 SMK Negeri 3 Singaraja, (3) Untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dilakukan guru untk mengatasi kesulitan berkounikasi bahasa Bali alus siswa kelas XII TGB 2 SMK Negeri 3 Singaraja tahun pelajaran 2012 / 2013 yang berjumlah 29 orang siswa yang terdiri dari 25 orang siswa laki-laki dan 4 orang siswa perempuan.          Teori yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi dan teori interaksi simbolis. Pembelajaran yang diterapkan yaitu model interaksi sosial ini adalah kerja kelompok (diskusi).         Pelaksanaan penelitian tindakan ini dilakukan dalam 3 bulan yaitu dari awal bulan februari sampai akhir april. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, pencatatan dokumen.xiii Dari hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa pola,model dan metode pembelajaran bahasa Bali adalah dengan paikem. Kemudian pola pembelajaran bahasa Bali diterapkan dibagi menjadi dua yaitu (1) tata bahasa dan (2) pengenalan aksara Bali, bahasa Bali yang diterbagi atas basa alus yang mana basa alus ini dibagi lagi menjadi basa alus singgih, basa alus madia, basa alus sor dan basa alus mider, kemudian basa kapara dan basa kasar.          Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa kesulitan berkomunikasi bahasa Bali alus siswa sulit membedakan penggunaan alus singgih,alus madya, dan alus sor keterbatasan pengetahuan tentang bahasa Bali alus, sulit menentukan kata yang masuk kedalam alus singgih,alus sor, alus madya, kosa kata yang dimiliki siswa sangat kurang, guru yang mengajar bahasa Bali di kelas XII TBG2 yaitu bukan guru pedidikan bahasa Bali, berasal dari faktor siswa itu sendiri yaitu kurangnya rasa antusias, faktor eksternal dari siswa tersebut meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, siswa yang berasal dari sekolah tidak umum, sepeti madrasah atau umat lain.               Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan berkomunikasi bahasa Bali alus : upaya yang pertama sekali diupayakan penambahan jam mata pelajaran bahasa Bali, megadakan lomba-lomba cerdas cermat tentang bahasa Bali yang sudah diselanggarakan oleh radio teknik, memberikan dharma wacana yang bertemakan tentang bahasa Bali pada saat purnama tilem, mengadakan hari yang disebut dengan Bali’s day, mengdakan lomba-lomba mapidato maupun dhama wacana  antar kelas dalam perayaan hari saraswati, mengadakan pesantian di SMK Negeri 3 Singaraja.Kata kunci : studi faktor-faktor, mempengaruhi kemampuan, berkomunikasi, bahasa Bali alus
PENGGUNAAN SOR SINGGIH BASA BALI DALAM KOMUNIKASI PADA STT DARMA BHUANA BANJAR TELUNWAYAH DUURAN, DESA TRI EKA BHUANA, SIDEMEN, KARANGASEM EKA ARIATHI, NI WAYAN
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Pada hakikatnya bahasa Bali sangat erat kaitannya dengan rasa bahasa atau yang sering disebut dengan Sor Singgih Basa Bali. Bahasa Bali dan Sor Singgih-nya mempunyai fungsi yang sangat penting antara lain sebagai lambang kebangaan daerah Bali, sebagai sarana penghubung berkomunikasi masyarakat Bali, sebagai identitas daerah masyarakat Bali, sebagai pendukung sastra daerah dan sastra Indonesia, dan sebagai pendukung budaya daerah dan budaya nasional. Bahasa Bali kerap kali dipakai acuan dalam tingkat-tingkatan bahasa yaitu alus sor, alus mider, alus singgih dan kasar. Sor Singgih Basa Bali juga dapat meningkatkan moralitas yang di tunjukkan pengguna itu sangat rendah begitu juga sebaliknya. Mengingat menariknya permasalahan dan fenomena ini maka penulis memilih hal ini sebagai bahan dari penelitian. Rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah Penggunaan Sor Singgih Basa Bali Dalam Komunikasi pada STT Darma Bhuana Banjar Telunwayah Duuran Desa Tri Eka Bhuana, Sidemen, Karangasem, (2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan sulit diterapkannya Sor Singgih Basa Bali di Lingkungan STT Dharma Buana Banjar Telunwayah Duuran Desa Tri Eka Bhuana, Sidemen, Karangasem, (3) Upaya-upaya apa sajakah yang dapat dilakukan dalam menerapkan Sor Singgih Basa Bali untuk meningkatkan etika berbahasa pada STT Darma Bhuana Banjar Telunwayah Duuran Desa Tri Eka Bhuana, Sidemen, Karangasem. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah (1) untuk menambah pengetahuan dalam menerapkan pembelajaran bahasa Bali dengan menggunakan kamus bahasa Bali, (2) dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya para orang tua agar sejak dini memperkenalkan adanya tingkat-tingkatan bahasa Bali, (3) memberi masukan kepada generasi muda khususnya STT Darma Bhuana mengenai pentingnya menggunakan Sor Singgih Basa Bali dalam berkomunikasi.Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan diatas adalah Teori Sosiolinguistik, Teori Etnografi Bahasa, dan Teori Fungsional. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi partisipan, metode wawancara berstruktur, metode dokumentasi, dan metode kepustakaan.Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) penggunaan Sor Singgih Basa Bali dalam proses komunikasi pada STT Darma Bhuana cukup baik, karena hanya digunakan pada acara tertentu saja, (2) faktor yang menyebabkan STT Darma Bhuana sulit menerapkan Sor Singgih Basa Bali adalah faktor eksternal dan faktor internal yang meliputi faktor biologis dari keadaan anggota dan faktor psikologis juga mempengaruhi apabila dalam tubuh dan pemikiran mereka terjadi suatu kendala, maka secara langsung mempengaruhi juga pemakaian Sor Singgih Basa Bali ini. (3) upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan menerapkan Sor Singgih Basa Bali dalam proses komunikasi antara lain: (a) peran dari orang tua untuk melatih dan mendidik anak sejak dini dengan memberikan pemahaman tentang Sor Singgih Basa Bali dan kepada siapa anak tersebut harus mesor singgih basa Bali, (b) peran guru dalam mengupayakan pelajaran bahasa Bali khususnya Sor Singgih Basa Bali dengan memberikan motivasi belajar kepada anak didik dengan menggunakan bahasa alus sebagai bahasa pengantar di dalam proses pembelajaran (c) peran dari pemerintah dan lembaga adat untuk mendorong dan memfasilitasi generasi muda dalam upaya membina dan mengembangkan bahasa bali khususnya Sor Singgih Basa Bali dalam perbuatan nyata.                                                                                         Kata kunci: Sor Singgih Basa Bali, dapat mempengaruhi landasan berpikir, berprilaku dan berbicara.
CERPEN SONG BRÉRONG (Sebuah Pendekatan Mimesis Sastra) Yoga Santi Wirawan, I Nyoman
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Kesusastraan Bali pada dasarnya dapatdibedakan menjadi dua kelompok:(1) Kesusastraan Bali purwa (tradisional) yaitu kesusastraan yang telah diwarisi sejak zaman lampau dan lekat kaitannya dengan pustaka suci agama Hindu. (2) Kesusastraan Bali anyar (modern) yaitu kesusastraan Bali yang telah mendapat pengaruh dari kesusastraan nasional yaitu kesusastraan Indonesia. Salah satu cerpen bali modern yang diteliti adalah cerpen Song Brérong.Cerpen ini sangat menarik untuk dikaji, karena dalam cerpen ini mencerminkan adanya sikap atau prilaku kehidupan sosial yang ada di masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam cerpen Song Brérong yang mencerminkan adanya prilaku kehidupan riil dimasyarakat yang teraktualisasi melalui tindakan-tindakan para tokohnya terkait fenomena atau gejala negatif yang akan dapat mengundang reaksi serta meruntuhkan moral masyarakat itu sendiri. Penelitian cipta sastra cerpen Song Brérong dapat dirumuskan permasalahan diantaranya: 1)  Bagaimanakahsatuannaratif pada cerpen Song Brérong?. 2) Nilai-nilai apa sajakah yang terdapatpada cerpen Song Brérong?.Dalam penelitian ini menggunakan konsep diantaranya; konsep  cerpen, pendekatan, mimesis, dan sastra. Konsep cerpen, cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosanaratiffiktif.konsep pendekatan merupakan sesuatu tekhnik atau cara-cara menghampiri objek yang akan diteliti, konsep mimesismerupakan suatu pendekatan yang mengkaji karya sastra dengan mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Konsep Sastra merupakan hasil cipta karsa manusia yang terilhami dari hasil daya bayang yang bersifat imajiner dan imajinatif.Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis cerpen ini adalah pendekatan mimesis, pendekatan hermaniotika dan, pendekatan objektif.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah; metode pengumpulan data, dengan menggunakan tekhnikkepustakaan , tekhnik pencatatan dokumen, dilanjutkan dengan metode penyajian data, danmetode analisis data. Metode ini kemudian dilengkapi dengan menggunakan teori struktur dimaksudkan untuk membedah maupun mengkaji struktur cerpen Song Brérong.Selanjutnya teori nilai dimaksudkan untuk melakukan peninjauan terhadap segala aspek nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen Song Brérong.Secara struktural cerpen Song Brérong terdiri atas satuan naratifpersandian yang meliputi; sandhi mukha, prathimuka, garbha, vimarsa, nirvahana, tema,dan amanat. Nilai-nilai pendidikan dalam cerpenSong Brérongmeliputi nilai sosial, nilai etika, nilai moral, nilai kesetiaan dan nilai praktis.  Kata Kunci : Cerpen,Pendekatan, Mimesis, Sastra.
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN BAHASA BALI DALAM SIKAP BAHASA SISWA KELAS XI BAHASA 1 SMA NEGERI 2 GEROKGAK NOVIANTARI, NI LUH AYU NOVIANTARI
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Bahasa Bali merupakan sarana media komunikasi dalam kehidupan sehari – hari masyarakat Bali. Dalam penggunaan bahasa seorang siswa tidak dapat lepas dari sikap bahasa yang dicerminkan. Sikap siswa merupakan sebuah kondisi internal yang muncul sebagai reaksi atas adanya stimulus dan menjadi pengubung dengan respon yang mungkin diberikan.rumusan masalah yang dapat diungkapkan dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana penggunaan bahasa Bali pada siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak, (2) bagaimana kemampuan menggunakan bahasa Bali dalam sikap bahasa siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak, (3) bagaimana sikap bahasa siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak terhadap pemakaian bahasa Bali.Tujuan dalam penelitian ini yakni (1) mengetahui penggunanaan bahasa Bali siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak, (2) mengetahui kemampuan menggunakan bahasa Bali dalam sikap bahasa siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak, (3) mengetahui sikap bahasa siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak terhadap pemakaian bahasa Bali sebagai alat komunikasi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori akomodasi komunikasi dan teori sikap bahasa. Sedangkan untuk memperoleh data – data yang diperlukan digunakan metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi dan metode kepustakaan serta metode analisis data.Hasil penelitian menyatakan, bahwa, (1) penggunaan bahasa Bali siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak antara lain, penggunaan yang sesuai dengan sikap bahasa digunakan saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau guru serta orang yang patut dihormati di lingkungan sekolah. Penggunaan bahasa Bali sebagai media menanamkan nilai pendidikan sopan santun, (2) kemampuan menggunakan bahasa Bali siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak dapat dilihat dari pemahaman siswa terhadap bahasa  Bali, ketepatan menggunakan bahasa Bali sesuai dengan sikap bahasa dalam kegiatan mengarang, dan kefasihan siswa dalam dengan menggunakan sikap bahasa yang diinginkan dan perilaku tutur, (3)sikap bahasa siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak terhadap pemakaian bahasa Bali sebagai alat komunikasi, sikap siswa menyatakan sikap positif, sikap negatif dan sikap netral. Ada beberapa faktor yang menyebakan siswa bersikap negatif terhadap bahasa Bali yakni kemampuan siswa rendah dalam memahami bahasa Bali, lingkungan keluarga, kemajuan IPTEK, lingkungan pergaulan dan budaya luar. Adapun upaya – upaya agar siswa memiliki sikap positif terhadap bahasa yakni belajar dengan orang yang lebih mengerti bahasa Bali, menggunakan bahasa Bali setiap berkomunikasi, para guru hendaknya mengetoktularkan bahasa Bali kepada  siswa kelas XI Bahasa 1 SMA Negeri 2 Gerokgak dan dalam lingkungan sekolah ada aturan wajib agar siswa menggunakan bahasa Bali selalu serta mengingat bahasa Bali. Kata Kunci      : Kemampuan Menggunakan Bahasa Bali, Sikap Bahasa
PELESTARIAN ALAM DALAM GEGURITAN RATNA WILIS OLEH : NI WAYAN DWI ARINI DWI ARINI, NI WAYAN
Mahasiswa S1 PBB No 1 (2013): E-journal Pendidikan Bahasa bali
Publisher : Mahasiswa S1 PBB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali Tradisional yang masih ada dan berkembang dikalangan masyarakat Bali. Salah satunya adalah Geguritan Ratna Wilis. Geguritan Ratna Wilis menceritakan tentang bagaimana pentingnya menjaga kelestarian alam. Mengingat ajaran Tri Hita Karana yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan) maka peneliti sangat tertarik mengkaji lebih lanjut isi dari naskah tersebut. Mengingat keberadaan alam yang semakin tidak bersahabat seperti halnya banjir, tanah longsor, yang keberadaannya meresahkan masyarakat, oleh karena itu lewat karya sastra Geguritan Ratna Wilis masyarakat dapat memahami cara menjaga alam dan lingkungannya agar tetap lestari, seperti halnya tidak boleh menebang pohon sembarangan, tidak boleh memburu binatang yang patut dilestarikan seperti gajah, macan dan burung. Dengan adanya karya sastra tersebut, supaya masyarakat menjaga dan melestarikan alam lingkungannya. Seperti menjaga hutan, karena hutan sebagai sumber mata air selain itu hutan juga sebagai tempat satwa atau binatang-binatang.Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini ada tiga permasalahan yang akan dibahas yakni: (1) Bagaimanakah Satuan Naratif yang membangun Geguritan Ratna Wilis ?, (2) Nilai-nilai pendidikan apa sajakah yang terkandung dalam Geguritan Ratna Wilis ?, (3) Bagaimanakah konsep pelestarian alam dalam Gaguritan Ratna Wilis ?. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Satuan Naratif yang membangun Geguritan Ratna Wilis.(2) nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Geguritan Ratna Wilis.(3) keterkaitan antara Geguritan Ratna Wilis dengan konsep pelestarian alam.Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yakni: Teori Sosiologi Sastra, Teori Semiotika, dan Teori Nilai. Metode yang dipakai untuk mengumpulkan data yakni: metode observasi, metode studi kepustakaan, metode pencatatan dokumen dan metode hermeneutika. Metode yang dipakai untuk menyajikan data yakni dengan reduksi data, display serta penyimpulan dan verifikasi. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan (1) Geguritan Ratna Wilis dibangun oleh satuan naratif yang utuh, seperti unit mukha, unit pratimukha, unit garbha, unit vimarśa, unit nirvahana, serta tema dan amanat. (2) Nilai pendidikan yang terkandung dalam Geguritan Ratna Wilis yakni (a) nilai etika, (b) nilai kesetiaan, (c) nilai religius. (3) Dari cerita dalam Geguritan Ratna Wilis tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk kehidupan sesama masyarakat, terkait dengan konsep pelestarian alam yakni pelestarian lingkungan, dengan cara tidak membabat pohon-pohon yang ada di hutan sembarangan. Serta pelestarian fauna atau binatang dengan cara tidak memburu satwa langka yang patut dijaga dan dilestarikan.Kata-kata Kunci: Pelestarian Alam, Geguritan Ratna Wilis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10