Articles
549 Documents
PENGAJARAN BAHASA JERMAN DI INDONESIA
Siti Kudriyah
BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i69TH XXXV.2407
Dalam era global ini penguasaan bahasa asing merupakan suatu keharusan. Bahasa Inggris saat ini masih termasuk bahasa internasional, sehingga sudah seharusnya bahasa tersebut dikuasai oleh peserta didik. Akan tetapi, itu tidak cukup! Masih diperlukan penguasaan bahasa asing kedua, bahkan bila dimungkinkan bahasa asing ketiga dan seterusnya. Dalam makalah ini diulas tentang bahasa Jerman sebagai bahasa asing kedua pada SMA/SMK/MAN di Indonesia. Bahasa Jerman di Indonesia diajarakan secara formal pada jenjang pendidikan menengah seperti SMA/SMK/MAN, kemudian pada jenjang pendidikan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia dan secara nonformal di lembaga-lembaga kursus seperti Goethe Institut. Pengajaran Bahasa Jerman di Indonesia mengalami pasang surut, yang tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan kepala sekolah/komite sekolah dan kompetensi pengajar bahasa Jerman. Mengingat pentingnya penguasaan bahasa asing kedua (dalam hal ini bahasa Jerman) bagi peserta didik yang menjadi generasi penerus, para pengambil kebijakan hendaknya memberi kesempatan pada semua peserta didik di SMA/SMK/MAN sejak kelas satu. Peningkatan pengajaran bahasa secara kuantitas haruslah dibarengi dengan peningkatan secara kualitas. Keberhasilan pembelajaran tidak terlepas dari penguasaan guru akan materi dan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, para guru bahasa Jerman hendaknya senantiasa meningkatkan diri agar dapat menyusun rencana pembelajarannya dengan baik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di kelas, mengupayakan agar peserta didik semuanya aktif, dan memberikan bantuan maksimal kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Seyogyanya kepada guru bahasa Jerman diberikan kesempatan untuk senantiasa meningkatkan kompetensi berbahasa Jerman mereka. Kata Kunci : Pengembangan Bahasa Jerman
THE EFFECT OF EXPLICIT, IMPLICIT INSTRUCTIONS AND LEARNING STYLES ON STUDENTS’ SENTENCE STRUCTURE ACHIEVEMENT
Marisi Debora
BAHAS No 82 TH 38 (2011): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i82 TH 38.2551
The objectives of this study are to investigate whether Explicit Instruction and Implicit Instructions techniques significantly affect the students’ sentence structure achievement, to find out whether the students’ learning styles affect students’ sentence structure achievement and to find out whether there is an interaction between explicit and Implicit instructions and learning styles to students’ sentence structure achievement. An experimental research with factorial design 2x2 was used in this research. There were 120 students from 2008 Academic year of English Department State University of Medan taken as sample of this research. The post test was given to both groups. The data were analyzed by applying Two-Way ANOVA. The result of testing the first hypothesis showed that that explicit and Implicit instructions significantly affect students’ sentence structure achievement. The result of the testing the second hypothesis showed that students’ learning style do not significantly affect students’ sentence structure achievement. The result of the testing the third hypothesis showed that there is interaction between instructions techniques and learning styles on students’ sentence structure achievement. After the Scheffe test was applied, it showed that students who have Field Independent learning style got higher result if they were taught by Explicit instruction and students who have Field Dependent learning style got higher result if they were taught by Implicit instruction. Key Words: explicit instruction; implicit instruction; learning styles
Cover dan daftar isi no 75 TH XXXVI Tahun 2009 BAHAS
Zainuddin .
BAHAS No 75TH XXXVI (2009): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i75TH XXXVI.3134
Abstract Sepanjang sejarah peradaban manusia, filsafat telah menjadi sebuah ilmu sebagai dasar pemikiran yang mendapat perhatian sangat dalam karena filsafat memberikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Telah berabad-abad lamanya ilmu pengetahuan dikaji dan berkembang sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri serta memberi perhatian terhadap kehidupan manusia. Faktor-faktor tentang perkembangan ilmu filsafat ini tentu memberikan pengaruh atau kontribusi yang signifikan kepada berbagai bidang ilmu lainnya termasuk filsafat bahasa. Filsafat bahasa selalu dipahami pada dua perspektif yang berbeda, yaitu pertama sebagai alat analisis konsep-konsep, kedua sebagai kajian tentang materi bahasa yang dianalisis . Dalam keterkaitan konsep-konsep dan analysis, filsafat telah melahirkan bahasa tentang bentuk bahasa ekspresi (expression) dan makna (meaning). Bentuk bahasa secara umum direpresentasikan oleh tata bahasa, sedangkan makna dibahas secara mendalam dalam kajian semantik. Beberapa filsuf pada zaman Yunani seperti Plato memberikan gambaran yang jelas terhadap bentuk bahasa, yakni onoma dan rhemata. Onoma berfungsi sebagai nomina atau subjek dan rhemata berfungsi sebagai adverba atau predikat. Dalam dunia pengajaran bahasa, filsafat juga memberikan jalan yang sangat luas dimulai dari teori-teori tentang pemerolehan bahasa (language aquisation device) baik berdasarkan pandangan behaviorisme dan kognitivisme. Secara praktis dalam merepresentasikan sebuah pemikiran yang logis (logos) berpedoman pada teori induktif dan deduktif. Deduktif berpedoman pada aliran rasionalisme dengan bertitik tolak dari sesuatu yang umum kepada yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa filsafat dapat memberikan kontribusi atau nuansa yang positif terhadap perkembangan bahasa baik secara teoritis maupun praktis. Kata Kunci : Kontribusi Filsafat, Ilmu Bahasa
CYBERSASTRA: ANTARA SASTRA MASA KINI DAN DÉJÀ VU SASTRA LISAN
Muhammad Hafidz Assalam
BAHAS Vol 32, No 1 (2021): BAHAS
Publisher : Universitas Negeri Medan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v32i1.23731
AbstrakCybersastra atau sastra siber atau sastra internet merupakan perkembangan baru di dalam dunia sastra. Mulai dari blog pribadi, facebook, path, hingga webtoon dan wattpad, semua merupakan media alternatif bagi sastrawan muda untuk menunjukkan eksistensi, mengingat begitu ketatnya persaingan di dunia sastra dalam publikasi karya melalui buku atau koran. Artikel ini mengupas tentang kaitan antara sastra siber dengan sastra lisan dari aspek konsep dan ciri berdasarkan kriteria yang disampaikan ahli folklor James Danandjaya. Artikel ini juga mengupas perkembangan sastra dikaitkan dengan teori sirkuit sastra dari Robert Escarpit. Kata kunci: cybersastra, sastra masa kini, sastra lisan
PEMBERDAYAAN GURU SD PAB 22 DAN 23 KECAMATAN PATUMBAK KABUPATEN DELI SERDANG DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Irwan dy;
Evi Eviyanti;
Nurilam Harianja
BAHAS Vol 28, No 4 (2017): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v28i4.10083
Guru sebagai pendidik dan tenaga pendidik (PTK) merupakan ujung tombak untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Guru yang berkualitas sudah tentu akan menghasilkan siswa-siswa yang berkualitas pula. Oleh karena itu, kompetensi guru sebagai pendidik harus terus dikembangkan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan mutu pendidikan secara keseluruhan. Setiap guru dituntut profesional dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional harus mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang berkualitas. Mereka harus mampu memotivasi siswa-siswanya antara lain mampu membuat dan menggunakan media pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan sehingga pesan yang ingin disampaikan lebih mudah dimengerti. Pada saat ini, pembuatan media pembelajaran didominassi peran teknologi informasi berbasis IT sehingga belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton dan dinilai mampu memberikan pemahaman lebih baik kepada peserta didik. Untuk itu diperlukan keterampilan guru untuk mengoptimalkan pembuatan, penggunaan dan pemanfaatan teknologi dalam menciptakan media pembelajaran yang menarik. Permasalahan yang dialami oleh mitra adalah guru-guru belum mampu membuat dan menggunakan media pembelajaran berbasis IT dalam proses belajar mengajar. Hal ini tentu menjadi kendala bagi kelangsungan proses belajar mengajar di SD PAB 22 dan SD PAB 23 kecamatan Patumbak. Upaya yang dilakukan oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FBS UNIMED untuk mengatasi pemasalahan yang dialami oleh mitra yaitu melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan pemberdayaan guru-guru SD PAB 22 dan SD PAB 23 Kecamatan Patumbak dalam pengembangan media pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari program ini adalah video pembelajaran berbasis IT berupa power point oleh guru-guru SD PAB 22 dan SD PAB 23.
UPAYA MEMINIMALKAN KESALAHAN PERILAKU INSTRUKSIONAL GURU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Berlin Sibarani
BAHAS No 69TH XXXV (2008): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i69TH XXXV.2450
Teacher’s teaching behavior taking place during the real classroom teaching is determined by many interactive factors grouped into four categories, namely (1) linguistic knowledge about the nature of (a) language, (b) each language skills, and (b) each language aspect, (2) language teaching methods covering (a) their approaches, (b) procedures, (c) various techniques of them, (d) theories of language learning, and (e) knowledge of students’ characteristics and (3) the teacher’s reflection and meaning they made out of their teaching experiences. Lack of these knowledges may produce incorrect teaching behaviors which consequently cause low quality of students’ mastery of English. So the attempts to improve the students’ quality of English mastery should be begun by minimizing the incorrect teaching behaviors of English teachers and the incorrectness should be began by improving the teachers’ mastery of the three aspects. Key Words: behaviors, teaching and English.
ANALISIS KESALAHAN KALIMAT BAHASA JERMAN DENGAN MENGGUNAKAN BAUMDIAGRAMM OLEH MAHASISWA BAHASA JERMAN (STUDI KASUS PADA MATA KULIAH LINGUISTIK : SYNTAX)
Linda Aruan
BAHAS No 78 TH 37 (2010): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i78 TH 37.2613
Baumdiagramm adalah salah satu teknik dalam penganalisisan kalimat bahasa Jerman pada bidang linguistik terutama kajian Syntax. Pada penganalisisan tersebut diperlukan pemahaman terhadap struktur kalimat, kelas kata dan jenis frase dalam bahasa Jerman.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan yang dibuat mahasiswa dalam menganalisis kalimat bahasa Jerman dengan menggunakan BaumdiagrammMetode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian ini berupa hasil analisis kalimat bahasa Jerman dengan menggunakan Baumdiagramm, kalimat ini dianalisis oleh mahasiswa semester V angkatan 2008 yang berjumlah 30 orang. Data tersebut adalah berupa tes dengan jumlah 10 kalimat.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada data yang dianalisis mahasiswa, masih terdapat banyak kesalahan dalam penganalisisan kalimat bahasa Jerman dengan menggunakan Baumdiagramm. Kesalahan-kesalahan tersebut disebabkan karena mahasiswa karena mahasiswa kurang memahami struktur kalimat, kelas kata, dan jenis frase dalam bahasa Jerman. Kata kunci : Baumdiagramm, Syntax, Analisis Kesalahan
SECOND LANGUAGE DEVELOPMENT OF INDONESIAN LEARNERS OF ENGLISH
Maya Oktora
BAHAS Vol 26, No 2 (2015): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v26i2.5568
Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah adalah cara terbaik dalam pemerolehan bahasa kedua/asing, yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan maupun guru. Tidak ada keseragaman cara, melalui interaksi spontan yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pimpinan sistematis yang disengaja. Interaksi ini memicu komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa kedua. Faktor-faktor afektif berperan sebagai penentu akuisisi input di mana lingkungan formal lebih banyak memberikan peranan dalam proses pemerolehan bahasa kedua daripada lingkungan informal. Kata Kunci: pemerolehan bahasa kedua, input, interaksi, lingkungan pemerolehan bahasa.
KEMAMPUAN BERBAHASA JERMAN GURU-GURU BAHASA JERMAN SMA DAN SMK DI WILAYAH SIANTAR-SIMALUNGUN DAN SEKITARNYA SESUAI GER (GEMEINSAMER EUROPÄISCHER REFERENZRAHMEN)
Poltak H. Simaremare;
Lydia Purba;
Tarida Alvina Simanjuntak
BAHAS Vol 29, No 2 (2018): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v29i2.11576
Penelitian Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman dengan judul “Kemampuan Berbahasa Jerman Guru-Guru Bahasa Jerman SMA dan SMK di Wilayah Siantar-Simalungun dan sekitarnya sesuai GER” oleh Tim Peneliti dengan Ketua Poltak H. Simaremare mencoba mencari data riil di lapangan tentang keadaan guru-guru bahasa Jerman, khusus yang menyangkut kemampuan berbahasa Jerman mereka saat ini. Pengalaman Tim Peneliti selama ini bahwa banyak dari antara guru-guru bahasa Jerman tersebut yang tidak dapat mengambil kesempatan dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan pihak instansi Jerman. Pertanyaan yang diajukan adalah sejauhmana kemampuan berbahasa Jerman guru-guru bahasa Jerman di wilayah Siantar-Simalungun dan sekitarnya diukur dari tes standar yang sudah berlaku di seluruh dunia (internasional) buatan Uni Eropa. Kemampuan itu diukur dengan menggunakan Tes Kemampuan tingkat B-1 standar Referensi Bersama Eropa (GER), yang seharusnya dimiliki guru-guru bahasa Jerman lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Strata 1 (S1) secara khusus lulusan di atas tahun 2000-an. Dengan demikian, metode pengumpulan data adalah dengan mengadakan tes tertulis dan tes lisan kemampuan berbahasa Jerman dengan menggunakan tes tingkat B-1 kepada sampel yang sudah ditentukan. Hasil Tes dalam empat mata uji kemampuan tersebut (Hören, Lesen, Schreiben dan Sprechen) menunjukkan bahwa: dari 38 orang guru peserta tes, terdapat delapan orang atau 21% yang dikatekorigan lulus dan dapat mencapai nilai kelulusan masing-masing mata uji tes kemampuan dengan nilai ≥ 60 dalam skala 0 – 100 sesuai dengan kriteria GER tingkat B-1. Walaupun ada dua orang peserta tes atau sekitar 5% yang memperoleh nilai di atas ≥ 60 secara keseluruhan, akan tetapi tidak dapat dikategorikan lulus atau memenuhi standar tingkatan B-1 GER, karena masih ada nilai mata uji yang di bawah nilai 60. Sebanyak 22 orang atau 58% dari peserta tes hanya dapat memperoleh hasil dengan nilai 30-50 dalam skala penilaian 0-100, masih jauh dari standar B-1 GER. Memang dari data pribadi yang terkumpul, bahwa sekitar 31% yang tidak lulus tadi adalah guru yang lulus dibawah tahun 2000-an, dimana kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman masih belum fokus ke kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan. Hasil penelitian ini membuktikan betapa banyaknya kesempatan pengembangan diri yang dilakukan pihak institusi Jerman yang tidak dapat diikuti oleh kebanyakan guru dari wilayah Siantar-Simalungun dan sekitarnya selama ini. Mereka terkendala oleh persyaratan kemampuan berbahasa Jerman yang ditentukan oleh setiap penyelenggara kegiatan. Untuk memperbaiki keadaan yang seperti ini diharapkan ada tindak lanjut dari berbagai pihak, secara khusus Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman sebagai bagian dari tanggungjawab pengabdiannya kepada masyarakat.
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN COMPREHENSION ECRITE III MELALUI PENDEKATAN ANALISIS TEKS SASTRA
Iim Siti Karimah;
Yadi Mulyadi;
Farida Amalia
BAHAS No 80 TH 38 (2011): BAHAS
Publisher : BAHAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24114/bhs.v0i80 TH 38.2486
Penggunaan teks sastra (Textes littéraires) dalam pembelajaran bahasa asing bukanlah merupakan sumber dokumen otentik yang asing bagi sebagian orang khususnya pengajar yang bergelut dalam dunia sastra. Akan tetapi pada praktiknya kerap kali terpinggirkan karena sebagian orang menganggap bahwa menganalisis teks sastra dalam suatu pembelajaran bahasa asing terlalu rumit apalagi untuk pembelajar pemula. Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang bagaiman cara meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa melalui analisis pendekatan teks sastra. Tujuan umum penelitian adalah mengetahui seberapa besar pendekatan analisis teks sastra dapat berkontribusi dalam proses pembelajaran CE III. Sejalan dengan tujuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Compréhension Ecrite III pada Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis FPBS UPI, dapat berkontribusi dalam pemerolehan keterampilan membaca bagi mahasiswa agar dapat memahami suatu teks bahasa Prancis secara lebih mendalam dan dapat mengatasi kesulitan yang selama ini dihadapi dalam proses pembelajaran membaca melalui tahapan pembelajaran yang sistematis dengan menggunakan pendekatan analisis teks sastra. Adapun metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan disain time series. Dari hasil analisis data, pendekatan ini efektif digunakan dalam meningkatkan pembelajaran CE III yang ditunjukkan dengan perbedaan yang cukup signifikan antara hasil prates mahasiswa dengan skor rata-rata 12,93 dengan nilai rata-rata pascates yaitu 17,60. Dengan menggunakan derajat kebebasan (df) 29 dan derajat signifikasi (α) 0,05, dapat dilihat nilai rata-rata (t-hitung) sebesar 9,73 sedangkan t-tabel sebesar 1,699. Efektifitas ini ditunjukkan pula oleh perubahan yang cukup berarti baik dari pihak mahasiswa maupun pengajar. Kata Kunci: Pendekatan analisis teks sastra, kemampuan membaca, kompetensi budaya