cover
Contact Name
Suryo Tri Widodo
Contact Email
jurnal.ars@isi.ac.id
Phone
+6281353937626
Journal Mail Official
jurnal.ars@isi.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Sewon, Bantul, D. I. Yogyakarta, 55188, Indonesia
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain
ISSN : 18297412     EISSN : 25807374     DOI : https://doi.org/10.24821/ars.v27i3
Core Subject : Humanities, Art,
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini bertujuan memublikasikan karya ilmiah berupa hasil penelitian, penciptaan, pengkajian, serta studi pustaka di bidang seni rupa, kriya, dan desain. Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain terbit tiga kali dalam setahun, yaitu pada periode Januari–April, Mei–Agustus, dan September–Desember. Sejak volume 21 tahun 2018, Ars telah terakreditasi Sinta 4, dan seluruh artikel yang diterbitkan telah dilengkapi dengan DOI (digital object identifier).
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
Refleksi Dalam Seni Patung Eko Sunarto
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 3, No 11: September-Desember 2010
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v3i11.121

Abstract

As part of  a community, an artist can’t be released from the influencing phenomena occurred in the community. A work of  art is a reflection of the inner drive and emotion from its creator. In getting in touch with the community, the writer deeply touched by what really happened inside currently. The advanced technology proves that it cannot only make man think rationally but also  drags him away from his rationality. The upcoming high competition in all human life aspects has recently raised the human egos. Things are seen materially from profit and loss. Those who expect prosperity instantly would not do something more real to get merits. This sets them up in a game made by others who take advantage of  other people’s confusion. Alike phenomena are plenty to be revealed; even it never lasts, because of  its dynamic nature of  the community. Swimming pool is used as a metaphoric symbol of  depiction on the importance of  “reflection” to the human beings either individual or as a group. The form of  swimming pool is symbolically presented in a different way. To attain a natural look without any distortion, a view point has to be made. The beam reflection of  water shadow is made to make the situation inside the room more alive. This work is created to invite the art lovers enjoy the swimming pool nuance without getting drenched as well as having self  introspection. Amongst the sculptures presented, one of them could be a reflection of  oneself. Keyword:  reflection, introspection
PERANCANGAN VIDEO PROFIL KHASANAH BATIK “ADI PURWO” KABUPATEN PURWOREJO Andini Rtno Astani
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.078 KB) | DOI: 10.24821/ars.v21i1.2526

Abstract

Kabupaten Purworejo, merupakan daerah  yangpotensial  dengan  hasil budaya lokal, salah satunya adalah industri kecil menengah batik. Dalam perkembangannya usaha batik lokal ini  berkembangmenjadi  industri  kreatif  pembuatan dan pengembangan batik kahs Purworejo. Melalui usaha bersama di bawah badan usaha koperasi  batik  “AdiPurwo  Raharjo”,masyarakat  komunitas  sepakat memberi  nama  batik  tersebut  “AdiPurwo”.Denganmotif  khasnyayang terinspirasi dari  bentuk  makanan,  buah,  benda, hewan  dan  kesenian,  objek tersebut  menjadiciri  khas  dari  potensi  bumi  Purworejo. Melalui  metodependekatan deskriptif dan analisis 5W 1 H(What,  Who,  When,Why,  Where,  How), maka disusunlah  konsep  penciptaan  pengenalan  industri batik  lokal Purworejo tersebut menggunakan media  audio  visual,  sehinggapotensiyang dihasilkan dapat lebih dikenal dan menjadi identitas lokal KabupatenPurworejo.
PERSEPSI DESAIN BANTARAN SUNGAI TERHADAP RESIKO LINGKUNGAN DI BANTARAN SUNGAI CODE DAN KARANGWARU RIVER SIDE: STUDI KOMPARASI MAHASISWA AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA Artbanu Wishnu Aji
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.766 KB) | DOI: 10.24821/ars.v21i3.2529

Abstract

Lingkungan bantaran sungai merupakan lingkungan kota yang cukup memiliki resiko bahaya jika dibandingkan dengan wilayah kota lainnya. Resiko bahaya yang muncul dari satu lingkungan tertentu menimbulkan ancaman bagi penghuni wilayah tersebut dan orang-orang yang beraktifitas di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persepsi resiko lingkungan yang ada di wilayah bantaran sungai Code dan Karangwaru riverside. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan angket untuk mengukur tingkat persepsi resiko lingkungan dikalangan mahasiswa desain interior dan arsitektur. 43 responden yang terdiri dari warga negara Indonesia dan Amerika Serikat diminta untuk mengisi angket tentang persepsi resiko lingkungan terhadap dua wilayah bantaran sungai. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua wilayah bantaran sungai tersebut secara umum dinilai sedang tingkat keamanannya meskipun masih memiliki resiko banjir dan tanah longsor. Desain bantaran sungai dikedua wilayah tersebut masih dinilai kurang aman bagi anak anak. Resiko dari bahaya polusi dari mengkonsumsi air dan ikan dari wilayah tersebut juga dinilai cukup tinggi. Selain itu desain bantaran sungai kedua wilayah tersebut dinilai memiliki nilai estetika yang baik.    
DESKRIPSI PEMASARAN PAMERAN ABSTRACT PARTY BOROBUDUR TODAY 2018 DI GALERI LIMANJAWI ART HOUSE Alfiyati Baroroh
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.007 KB) | DOI: 10.24821/ars.v21i1.3175

Abstract

Penelitian ini akan difokuskan pada penerapan teori bauran pemasaran 4P (Produk, Harga, Tempat, Promosi) dan STP (Segmentasi, Target Sasaran, Pemosisian) yang merupakan pengembangan dari konsep strategi pemasaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Melalui metode tersebut dapat diketahui sejauh mana Limanjawi menerapkan teori pemasaran bauran pemasaran 4P dan STP. Hasil dari penelitian ini yaitu produk yang di pasarkan berupa pameran dan pertunjukan seni dengan sistem free entry dan dilaksanakan di daerah wisata sehingga memudahkan pemasaran, selain itu promosi dilakukan melalui berbagai media baik advertising, public relation, dan personal selling. Kedua yaitu perumusan strategi STP yang diterapkan dalam pameran Abstract Party. Segmen pengunjung yaitu demografis, geografis, dan psikografis, serta target sasaran merupakan segmen georgrafis dan psikografis. Limanjawi sebagai galeri memposisikan diri sebagai galeri yang unik dan berbeda dari galeri lain di Borobudur.
KAJIAN SEMIOTIK MOTIF PAKAIAN ADAT DAYAK KENYAH DI DESA PAMPANG SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR Herlinda Marlina
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.001 KB) | DOI: 10.24821/ars.v22i1.2524

Abstract

Terdapat tiga motif utama dalam pakaian adat suku Dayak Kenyah yaitu, motif binatang (naga, enggang, harimau, dan aso), motif tumbuhan, dan motif manusia. Beberapa motif memiliki kaidah tertentu dalam penggunaannya di kalangan masyarakat suku Dayak Kenyah yang berkaitan dengan status sosial masyarakat suku Dayak Kenyah. Misalnya, motif tertentu seperti naga, enggang, harimau, dan figur manusia utuh hanya boleh digunakan oleh kalangan bangsawan, sedangkan motif lainnya seperti motif tumbuhan bisa digunakan oleh kalangan rakyat biasa. Maka, peran motif dalam pakaian adat suku Dayak Kenyah tidak hanya terkait untuk kegunaan perlengkapan dalam upacara adat atau sekedar menambah nilai estetis, namun juga sebagai pintu masuk untuk mempelajari nilai kehidupan yang berusaha ditanamkan dalam kebudayaan suku Dayak Kenyah. Masyarakat suku Dayak Kenyah meyakini hubungan timbal balik yang baik antara manusia dengan alam sekitarnya akan membawa manfaat bagi generasi manusia kini dan di masa mendatang. Motif dari pakaian adat suku Dayak Kenyah mengandung nilai idealis mengenai cara hidup yang dianut oleh masyarakat suku Dayak Kenyah.
KAJIAN BUDAYA DUDUK JAWA SEBAGAI INTERAKSI SOSIAL DI PANTI WREDA YOGYAKARTA Ganesha Puspa Nabila
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.176 KB) | DOI: 10.24821/ars.v22i2.2535

Abstract

Pada umumnya orang lanjut usia dalam meniti kehidupan yang ia jalani dikategorikan kedalam dua macam. Pertama, masa tua tersebut akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996). Terdapat banyak kasus dimana pasien lansia justru merasa depresi dan mendapat tekanan stress ketika harus dirawat di fasilitas panti wreda. Namun hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa pada beberapa kasus panti wreda tidak memiliki sistem yang dapat memfasilitasi masa transisi pasien lanjut usia. Interaksi sosial diharapkan menjadi salah satu jawaban untuk menjawab permasalahan adaptasi diatas, sedangkan budaya duduk Jawa digunakan sebagai langkah pendekatan yang mengarah pada emotional design . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Dengan pengembangan teori interaksi sosial pada budaya duduk Jawa yang diterapkan pada pasien lansia di panti wreda, akan ditelaah lebih jauh terkait pengembangan teori di atas, sehingga hasil kajian berupa konsep-konsep dan arahan dalam merancang ruang dengan dasar environmental psychology, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi jembatan untuk mereaktualisasikan budaya duduk Jawa sebagai stimulus interaksi sosial di panti wreda yang dapat membantu proses adaptasi pasien lansia.
INSTAGRAM SELFIE DI PAMERAN ARTJOG Nadia Tunikhmah
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 21, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.292 KB) | DOI: 10.24821/ars.v21i2.2887

Abstract

Instagram Selfie in ArtJog exhibition is a research conducted with purpose to identify how selfie done with artwork in an art exhibition using social media as well as to determine the effect of social media on the art exhibitions visitor. The object of this study is limited to selfies with artworkthat uses social media instagram and conducted in 2016. The exhibits were selected in this study will be limited in ArtJog exhibition. Instagram data collection is done by using meta data search categories based on hashtag.The selection of selfies at the artjog exhibition was done after seeing the rampant selfie at the exhibition also saw the number of uploads with hastag ArtJjog reaching 25,883 and dominated by selfies. Most Selfie actions with artwork and publish on public pages done without mentioning the identity of the artwork and give a new "caption" on the artwork without the permission of the artist.
ANALISIS ISI TEKS PENGANTAR KURATORIAL MIKKE SUSANTO ANTARA TAHUN 2000-2017 Trisna Pradipta Putra
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.247 KB) | DOI: 10.24821/ars.v22i3.2534

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemodelan isi komunikasi kurator dalam teks pengantar kuratorial.  Dari 110 pameran yang dikurasi Mikke Susanto, dipilih 10 pameran yang dinilai mewakili seluruh teks pengantar kuratorial yang peenah dibuat.  Berdasadkan analisis isi terhadap 10 teks pengantar kuratorial karya Mikke Susanto, ditemukan bahwa setidaknya terdapat enam poin informasi utama yang disampakan yaitu:  1) Latar belakang; 2)Tujuan & Manfaat diselenggarakanya pameran; 3)Konsep pameran; 4)Seniman yang terlibat; 5)Karya yang dipamerkan; 6)Proses kreatif penyelenggaraan pameran. Hasil penelitian ini, diharapkan mampu berkontribusi sebagai salahsatu referensi dalam proses pembelajaran mahasiswa untuk menyusun teks pengantar kuratorial. Hasil analisis ini juga dapat menjadi salahsatu referensi pengembangan bahan ajar Mata Kuliah Kuratorial. 
ANALISIS WACANA KRITIS IKLAN FILM PENDEK LINE VERSI “ADA APA DENGAN CINTA?” Pranan Sutiono Saputra
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 22, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.441 KB) | DOI: 10.24821/ars.v22i1.2764

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membongkar wacana yang terkandung di dalam iklan Ada Apa Dengan Cinta? tersebut yang menyebabkan viral di kalangan warganet. Melalui penelitian ini wacana yang terkandung di dalam iklan tersebut diuraikan dengan menggunakan metode analisis wacana kritis yang bersifat kualitatif yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Merujuk pada pendekatan tersebut, iklan sebagai objek penelitian akan diuraikan ke dalam tiga tingkatan analisis, yaitu dimensi teks, praktik kewacanaan, dan praktik sosiokultural. Pada tahap dimensi teks, dilakukan analisis unsur representasi, relasi, dan identitas. Melalui analisis pada dimensi teks dapat dipahami bahwa nostalgia direpresentasikan melalui relasi antara tokoh dengan objek di dalam iklan maupun dengan khalayak. Kemudian pada tahap dimensi praktik kewacanaan, dilakukan analisis unsur produksi dan konsumi. Pada dimensi praktik kewacanaan terjadi proses komodifikasi ingatan atau nostalgia antara Line dan Miles Production dengan khalayak. Selanjutnya, tahap terakhir, yaitu analisis unsur situasional, institusional, dan sosial pada dimensi praktik sosiokultural. Analisis pada dimensi praktik sosiokultural menunjukkan bahwa pengadaptasian film Ada Apa dengan Cinta? (2002) didasarkan pada kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam iklan tersebut banyak terkandung wacana yang sengaja dikonstruksikan. Salah satunya, yaitu wacana nostalgia melalui pengadaptasian film Ada Apa dengan Cinta? (2002). Dalam iklan ini, nostalgia diposisikan sebagai komoditas. Nostalgia hanyalah satu dari sekian banyaknya wacana yang dikonstruksikan di dalam iklan yang pada akhirnya seluruh wacana akan bermuara pada kepentingan ekonomi kapitalis. Pengadaptasian tersebut dipandang sebagai upaya yang dilakukan Line untuk meminimalisir kegagalan promosi karena penggemar franchise film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) yang berumur 27-37 tahun pada 2014 masih ada dan jumlahnya cukup besar. Selain itu, pemilihan Youtube sebagai media penayangan, dampak masifnya respon khalayak yang berupa pemberitaan media, meme, video parodi, bandwagon effects, akan memberikan keuntungan yang besar bagi Line dan Miles Production.   
EXHIBITION CURATOR DALAM MEDIASI SENI RUPA KONTEMPORER DAN PERSOALANNYA Drs. Asmudjojono lrianto, M.Sn.
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No. 2 - Februari 2005
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i2.239

Abstract

dari popularitas profesi kurator dalam praktek sen: rupa kontemporer di Barat. Namundemikian profesi kurator yang popular tersebut sesungguhnya adalah jenis kurator yanglengkapnya disebut exhibition curator atau kurator pameran. Awainya profesi kurator dalampengertian tradisi museum Barar adalah pen jaga, pencatat dan pengklasifikasi karyadanbendabendayang dikoleksi oleh museum, karena itu pekerjaan kurator biasanya terspcsialisasikan kedalam berbagai jenis ruang pamer, mulai dari museum etnografi/antropologi sampai dengankebun binatang. Selain itu ada sub-sub spesisalisasi lebih lanjut, misalnya dalam museumsejarah seni rupa, dikenal spesialisasi berdasarkan rentang waktu, gaya dan daerah tertentu.Profesi kurator seperti yang diuraikan dikenal sebagai kurator museum. Terjadi perubahanbesar dalam kerja kurasi sejalan dengan perubahan dan perkembangan seni rupa kotemporer.Dalam konteks seni rupa kontemporer kurator lebih sibuk dengan penyelenggaraan pameran,karena itu dikenal sebagai kurator pameran kerja “ kurator pameran” ;ni, berbeda dengan“kurator museum” yang lebih terfokus pada “penanganan” koleksi yang dimiliki museum,yakni perawatan, pencatatan, pengklasifikasian dan pameran.Kurator museum pun memiliki kemampuan memamerkan, namun umumnva terbataspada koleksi museum dan spesialisasi yang dimilikinya. Sedangkan kurator pameran labihfokus dalam upaya penyelenggaraan program pameran yang umumnya lebih fokus padapraktek dan wacana seni rupa kontemporer yang sedang berlangsung. Kurator pameran adayangbeker jadi museum atau galeri, ada pula yang mandiri, disebut sebagai kurator independen.Kurator pameran yang bekerja di museum, tugasnya terutama menyusun program pamerandan merealisasikannya. Untuk itu mereka tak membatasi pada karya-karya pada karya-karyayang dikoleksi oleh museumnya, tetapi juga karya-karya yang dipinjam dari museum lain atauseniman, tak jarang mereka minta seniman untuk membuat karya baru. Sedangkan kuratorindependen, kendati awai keberadaannya dipicu oleh penentangan mereka terhadap kekuasaandan hegemoni kurator pameran di museum-museurr. besar, tetapi saat ini mereka juga kerapmenjadi guest curator di museum-museum tersebut. Selain itu kurator independen juga bekerjabagi lembaga di luar museum dan senimanyangingin menyelenggarakan pameran.