cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
+6281362081363
Journal Mail Official
jurnalekspresi@isi.ac.id
Editorial Address
Jl. Parangtritis No.KM.6.5, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ekspresi: Indonesian Art Journal
ISSN : 14114305     EISSN : 29645921     DOI : https://doi.org/10.24821/ekp.v1i11
EKSPRESI is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in April and October. Ekspresi published by Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas, art creation, and community service activities in the fields of arts and humanities.
Articles 74 Documents
Pekan Budaya Difabel 2019: Ruang Pertunjukan untuk Seniman Penyandang Disabilitas di Yogyakarta Faried Noor Siregar; Daphne D Mahardika; Kurnia Rahmad Dhani
EKSPRESI Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i1.7769

Abstract

AbstrakPenyandang disabilitas belum menjadi aktor utama dalam kehidupan sosial khususnya pada panggung-panggung acara kebudayaan dan kesenian. Kondisi ini membuat para penyandang disabilitas menjadi asing dan termarjinalkan. Butuh upaya bersama untuk memperkenalkan siapa dan apa potensi para penyandang disabilitas ini ke ruang-ruang publik. Pekan Budaya Difabel 2019 sebagai kelanjutan acara Jambore Difabel merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta bersama Pemerintah Daerah dalam membuka sekat-sekat sosial terhadap para penyandang disabilitas. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan art-based research hendak menjabarkan rangkaian acara Pekan Budaya Difabel 2019. Acara ini menjadi ruang bagi masyarkat difabel untuk unjuk kebolehan, potensi, hasil kreasi, menampilkan eksistensi, mengomunikasikan pandangan dan pengalaman, melebarkan jejaring melalui kegiatan antar komunitas, membuka akses dan peluang kerjasama dan ekonomi, serta apresiasi dari masyarakat luas. Kata kunci: disabilitas, seniman, pertunjukan, pekan budaya difabel   AbstractPersons with disabilities have not become the main actors in social life, especially on the stages of cultural and artistic events. This condition makes people with disabilities become strangers and marginalized. It takes a concerted effort to introduce who and what the potential of persons with disabilities is in public spaces. The Difabel Culture Week 2019, as a continuation of the Difabel Jambore, is one of the efforts made by the people of Yogyakarta and the Regional Government to open social barriers to people with disabilities. This research is a descriptive qualitative method with an art-based research approach to describe the series of events for the 2019 Difabel Culture Week. This event is a space for people with disabilities to show their skills, potential, and art product, show their existence and share their views and experiences as disabled people. Through this event, the disabled community may expand networks, opening access and opportunities for cooperation and economy, as well as appreciation from the wider community. Keywords: disability, artist, performing art, disabled cultural week
Bentuk, Gaya, dan Makna Akting dalam Film Opera Jawa Sutradara Garin Nugroho Wahyu Novianto
EKSPRESI Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v10i1.7852

Abstract

The Forms, Style, and Meanings of Acting in Opera Jawa. This research is qualitative research that intends to understand the structure and form. And action style, and also the meaning of action as a system of sign in a motion picture entitled ‘Opera Jawa’. The answers to the three issues above are found by employing the approach of form and acting style and also theatre semiotics. Theatre semiotics is used to examine the meaning of the acting sign system which is held by the protagonist and antagonist figure. The theatre semiotics approach used is the version of Tedeuksz Kowzan. Kowzan divides the segmentation of the theatre sign system into 13, but this research only focuses on 8 of it. The results of this study are first, the theme of Opera Jawa is violence; second, the protagonist and antagonist characters are always in a paradoxical relationship; third, the plot consists of three round structures. The acting in Opera Jawa is in form of opera acting. It is a transformation form from the realist acting to the symbolic one. Opera Jawa functions as the life guidance to appreciate, respect, and tolerate others.  Keywords: Acting, semiotics, form, style, Javanese opera
Transit Transisi Interpretasi pada Konser Rekaman Serenade Bunga Bangsa #3 Ido Brilliant Taufikurrahman; Royke B Koapaha; Paramitha Dyah Fitriasari
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i2.8608

Abstract

AbstrakPandemi covid-19 menyebabkan pembatasan berbagai macam kegiatan di Indonesia, salah satunya konser musik. Dibatasinya konser musik membuat pengelola acara dan musisi harus beradaptasi terhadap situasi tersebut, salah satunya dengan cara membuat konser virtual atau konser rekaman. Dinas Kebudayaan Yogyakarta sebagai salah satu instansi yang memiliki agenda konser rutin pada akhirnya mengadakan konser rekaman dengan tajuk Serenade Bunga Bangsa #3. Adanya konser rekaman ini sebagai konser pertama dengan konsep rekaman tanpa penonton membuat perubahan pengalaman dan kesan yang dialami oleh musisi yang terlibat dalam konser tersebut. Pergeseran atau perubahan pada fenomena tersebut kemudian peneliti gunakan sebagai basis pembahasan yang dibedah menggunakan teori transit dan transisi oleh Maruska Svasek dan teori interpretasi sebagai pendukung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada fenomena konser rekaman tersebut. Analisis dilakukan berdasarkan data lapangan, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ditujukan untuk mengetahui dampak konser rekaman terhadap musisi terlibat, sehingga bermanfaat sebagai informasi baru atas fenomena yang terjadi pada masa pandemi. Kata kunci: Transit, transisi, interpretasi, konser rekaman.  AbstractThe Covid-19 pandemic has caused restrictions on various activities in Indonesia, one of which is music concerts. The limitations of music concerts make event managers and musicians have to adapt to this situation, one of which is by holding virtual concerts or recording concerts. The Yogyakarta Cultural Office as one of the agencies that have a regular concert agenda eventually held a recorded concert with the title Serenade Bunga Bangsa #3. The existence of this recorded concert as the first concert with the concept of recording without an audience changed the experience and impressions experienced by the musicians involved in the concert. The shift or change in this phenomenon is then used by the researcher as a basis for discussion which is dissected using the theory of transit and transition by Maruska Svasek and the theory of interpretation as support. This research uses a qualitative method with a case study approach to the phenomenon of the recorded concert. The analysis was carried out based on field data, interviews, observations, and literature studies. The research results are aimed at knowing the impact of a recorded concert on the musicians involved, so it is useful as new information on phenomena that occur during a pandemic. Keywords: Transit, transition, interpretation, recording concert.
Strategi Pembelajaran Ansambel Musik “AMARI Jogja” di Masa Pandemi Covid-19 Athaya Hanan; Bunga Arrum Nurinta; Timothy Sidik Kurniawan
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i2.8978

Abstract

AbstrakAnsambel Musik Anak dan Remaja Indonesia atau biasa disebut AMARI Jogja adalah sebuah wadah bagi anak-anak dan remaja untuk bermain musik bersama-sama dalam sebuah ansambel yang diformat dalam bentuk orkestra maupun semi orkestra. Pada masa awal pandemi, AMARI Jogja sempat vakum yang diakibatkan oleh adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses latihan dan strategi pembelajaran yang digunakan oleh AMARI Jogja di saat pandemi. Data penelitian diperoleh melalui metode studi pustaka, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pembelajaran selama Pandemi Covid-19. Setelah mulai berproses latihan kembali, AMARI Jogja menerapkan strategi belajar campuran dengan menggunakan pembagian video latihan melalui Aplikasi Whatsapp sehingga saat latihan tatap muka masing-masing anggota sudah mengenal materi. AMARI Jogja mulai bangkit kembali dengan aktif membuat acara dan pembukaan penerimaan anggota baru. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi dan metode pembelajaran khususnya dalam bidang ansambel musik.Kata kunci: strategi pembelajaran, ansambel musik, Pandemi Covid-19, AMARI Jogja AbstractAnsambel Musik Anak dan Remaja Indonesia, commonly called AMARI Jogja, is a place for children and youth to play music together in an ensemble formatted in the form of an orchestra or a semi-orchestra. In the early days of the pandemic, AMARI Jogja had a vacuum caused by the Large-Scale Social Restrictions (PSBB) policy. This study aims to determine the training process and learning strategies used by AMARI Jogja during a pandemic. The research data was obtained through the methods of literature study, observation, interviews, and documentation studies. The results of the study show that there has been a change in learning during the Covid-19 Pandemic. After starting the rehearsal process, AMARI Jogja implemented a blended learning strategy by sharing training videos via the Whatsapp Application so that each member was familiar with the material during face-to-face practice. AMARI Jogja is starting to revive by actively organizing events and opening new members. This research is expected to contribute to the development of learning strategies and methods, especially in the field of musical ensembles.Keywords: learning strategies, ensemble music, Covid-19 Pandemic, AMARI Jogja
Analisis Fungsi Karakter dalam Film Eternals dengan Teori Fungsi Narasi Vladimir Propp Krisna Tama; Kurnia Rahmad Dhani
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i2.8726

Abstract

AbstrakFilm Eternals mengisahkan tokoh-tokoh Eternals sebagai ras kosmik hampir abadi yang ditugaskan Celestial bernama Arishem untuk melindungi bumi dari serangan Deviants. Sejak pertama kali diutus ke Bumi, Eternals dilarang oleh Arishem untuk terikat dengan manusia, namun akhirnya larangan tersebut dilanggar dan menyisakan konflik-konflik yang membawa Eternals dalam keadaan yang pelik. Kesepuluh anggota Eternals sebagai tokoh-tokoh utama mengalami perubahan fungsi karakter dalam narasi film Eternals. Eternals yang semula bersatu menjalankan prinsip persamaan visi dan misi, akhirnya menjadi saling beroposisi karena perbedaan pandangan terhadap kemanusiaan dan tujuan penciptaan mereka. Penelitian ini menganalisis fungsi karakter dalam film Eternals menggunakan teori fungsi narasi Vladimir Propp dengan menemukan 31 fungsi karakter dan 7 karakter dalam film Eternals. Hasil menunjukkan bahwa dalam film Eternals ditemukan tiga puluh dari tiga puluh satu fungsi narasi menurut teori Vladimir Propp. Berdasarkan ketiga puluh puluh fungsi narasi pada film Eternals, terdapat lima karakter, yaitu Penjahat, Penderma, Pahlawan, Pengirim, dan Pahlawan Palsu. Perubahan utama dalam fungsi karakter terjadi pada tokoh Ikaris dan Sprite. Kata kunci: Film, Eternals, Fungsi Narasi, Vladimir Propp   AbstractThe film Eternals tells the story of the Eternals as a near-eternal cosmic race assigned by a Celestial named Arishem to protect Earth from Deviants' attacks. Since they were sent to Earth, Arishem has forbidden the Eternals to bond with humans. However, in the end, the prohibition was violated and left conflicts that brought the Eternals into a complicated situation. The ten members of Eternals as the main characters experience changes in the function of characters in the Eternals film narrative. The Eternals, who initially held the same vision and mission, eventually became opposed to each other because of their different views on humanity and the purpose of their creation. This study analyzes the function of characters in the film Eternals using the narrative function theory of Vladimir Propp by finding 31 character functions and seven characters in the film Eternals. The results show that in the film Eternals, thirty out of thirty-one narrative functions according to Vladimir Propp's theory. Based on the thirty narrative functions in the film Eternals, there are five characters: the Villain, the Donor, the Hero, the Dispatcher, and the False Hero. The main changes in character function occur in Ikaris and Sprite. Keywords: Film, Eternals, Narrative Functions, Vladimir Propp
Implikasi Pelatihan Musik Bagi Tujuan Pendidikan Henry Yuda Oktadus
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i2.9177

Abstract

AbstrakKlaim kontroversial ‘Efek Mozart’ (EM) yaitu bahwa musik Mozart mencerdaskan telah terbukti tidak valid. Namun dunia pengetahuan sendiri sesungguhnya tidak pernah menutup kemungkinan dari apa yang hendak digali dari penelitian EM. Bahwa musik memiliki potensi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, khususnya melalui jalur pelatihan musik. Hal itu bersinggungan dengan masih diberlakukannya kurikulum musik dan seni secara umum di sekolah-sekolah formal. Adanya kurikulum musik sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah harus bertolak dari pengandaian bahwa musik mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia secara umum. Setidaknya yang sejalan dengan tujuan diadakannya pendidikan pada umumnya. Jika musik tidak didefinisikan dengan jelas peran dan tempatnya dalam pendidikan, maka arti pentingnya menjadi problematis begitu juga dengan kurikulum dan konten pengajaran. Untuk itu tulisan ini bertujuan mendiskusikan potensi apa yang dimiliki musik dan dalam arti apa hal itu berperan dalam pendidikan. Tulisan ini merupakan penelitian pendahuluan untuk meninjau dalam pengertian seperti apa musik dapat berperan bagi pendidikan. Penelitian ini mencakup pengumpulan, pemetaan, dan diskusi riset-riset terdahulu seputar arti penting musik dalam pendidikan. Beberapa literatur yang menguraikan secara umum perihal pendidikan serta dampak-dampak pelatihan musik dalam konteks pendidikan diulas secara singkat sebagai titik tolak untuk membahas kemungkinan bagaimana musik bisa mengisi peran bagi tujuan pendidikan.Kata kunci: Pendidikan, pengalaman musikal, implikasi pendidikan AbstractThe controversial claim of Mozart Effect (ME) has been proven invalid. However, the academic world never closes the possibility of exploring further from ME research. Music has the potential to benefit human life, particularly through musical training, and this intersects with the implementation of the music and arts curriculum in formal schools. The insertion of music as a subject in public schools must be followed by the search of its importance in accordance with the purpose of education in general. If the role and significance of music in education are not clearly defined, it becomes problematic for both the curriculum and teaching content. This paper aims to expose the potential of music and its role in education by reviewing previous research on the importance of music in education. This preliminary examination of the potential role of music in education involves collecting, mapping, and discussing prior research on the significance of music in education. A brief review of literature on general education and the effects of musical training in an educational setting is conducted as a starting point for exploring how music can fulfil a role in education. Keywords: Education, musical experience, educational implications
Proses Pembelajaran Kesenian Hadrah di Taman Kanak-kanak Al Qur’an – Taman Pendidikan Al Qur’an Ar Rahman Aqilah Mumtaza; Kania Azzahra Dharmawan; Luqman Satria Mursit Wicaksono
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v11i2.9003

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembelajaran dan aspek musik dalam kesenian hadrah yang berperan untuk melatih kemampuan musikal anak-anak, serta mengetahui karakteristik musik hadrah melalui hasil transkripsi sampel lagu. Subjek penelitian adalah anak-anak atau para santri di TKA-TPA Ar-Rahman yang bertempat di Desa Bopongan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan proses yang dilakukan dalam pembelajaran musik hadrah yaitu dengan memperkenalkan instrumen, membagi para santri dengan instrumen yang sesuai, melatih pola pukulan, melatih syair, dan menggabungkan kelompok instrumen dengan kelompok penyanyi. Kegiatan kesenian hadrah juga dapat melatih kemampuan musikal anak-anak, ditunjukkan dengan adanya peningkatan pada para santri dalam memahami materi dan memainkan musik hadrah. Musik hadrah memiliki peran untuk melatih kemampuan musikal anak yang mencakup pemahaman mengenai ritmis, tempo, nada, lirik (syair), hingga bentuk penyajian musik ensambel.Kata kunci: Musik, Pembelajaran, Hadrah AbstractThis study aims to determine the learning process and aspects of music in hadrah art that play a role in training children's musical abilities and knowing the characteristics of hadrah music through the transcription of song samples. The research subjects are the children or students at TKA-TPA Ar-Rahman Bopongan Village, Banguntapan District, Bantul Regency. The research method used is qualitative with a case study approach. The data collection techniques are through observation, interviews, and documentation. The results showed that the process carried out in hadrah music learning was by introducing musical instruments, dividing the students with suitable instruments, practising rhythmic patterns, practising lyrics (poems), and combining the instrument group with the singer group. Hadrah art activities can also train children's musical abilities, indicated by increased students' understanding of the material and playing hadrah music. Hadrah music has a role in training children's musical skills, including understanding rhythm, tempo, tone, lyrics (poems), and ensemble music presentation.Keywords: Music, Learning, Hadrah
ENSEMBEL GAMOLAN: MENGETAHUI BAKAT AUDIASI DAN IMITASI ANAK USIA DINI Hasyimkan Hasyimkan; Agung Hero Hernanda; Erizal Barnawi; Ari Palawi; Arwina Indira Purnama; Destiana Fatma Sari
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v12i1.9548

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakat audiasi dan imitasi anak dalam bermain instrumen tradisional gamolan dari Lampung. Audiasi adalah bagian yang utuh dari bakat dan pencapaian kemampuan musikal. Kemampuan audiasi adalah kemampuan yang tidak dapat dipelajari karena merupakan bakat musikal yang muncul secara alami. Imitasi adalah tindakan peniruan yang merupakan langkah awal dalam mengembangkan potensi pendengaran melalui orang lain. Penelitian ini menggunakan metode pra-eksperimen yang dilakukan selama 10 kali pertemuan selama 5 minggu dengan pola dua kali dalam sepekan. Subjek penelitian ini adalah siswa Taman Kanak-kanak Assyafi’iyah Jati Indah Tanjung Bintang Lampung Selatan yang berjumlah 20 orang anak usia dini berusia 5 – 6 tahun yang sebelumnya tidak mengenal alat musik gamolan. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat dua anak yang tergolong memiliki kemampuan audiasi dan 18 anak yang berkemampuan imitasi dari 20 orang subjek yang dibagi dalam dua kelompok yaitu 10 pemain gamolan pembawa melodi utama dan 10 pemain rebana sebagai pembawa iringan musik gamolan.Kata kunci: Audiasi, Imitasi, Gamolan, Lampung  AbstractThis study aims to determine children's audiation and imitation talents in playing traditional gamolan instruments from Lampung. Audition is an integral part of talent and musical ability achievement. Audiation is a naturally occurring musical talent. Imitation is an act of imitation which is the first step in developing hearing potential through others. This study used the pre-experimental method, conducted for ten five-week meetings with a pattern of twice a week. The subjects of this study were 20 students at the Assyafi'iyah Jati Indah Tanjung Bintang Kindergarten, South Lampung, totaling 20 early childhood children aged 5-6 years who were previously unfamiliar with gamolan musical instruments. Twenty subjects were divided into two groups: ten gamolan players as carriers of the main melody and ten rebana tambourine players as carriers of gamolan music accompaniment. This study found that two children had the audiation ability, and 18 children had the imitation ability.Keywords: Audiation, Imitation, Gamolan instruments, Lampung 
PENATAAN ARTISTIK FILM TARI ‘WATESMANTRA’ BERBASIS PUISI Zahrina Zatadini; Pandan Pareanom Purwacandra
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v12i1.10207

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merancang penataan artistik film tari yang berbasis puisi berjudul “Watesmantra”. Puisi “Watesmantra” mengisahkan seorang anak yang turun ke dunia dan mencari pemaknaan dari semua ilmu pengetahuan serta pengalaman hidup yang ingin dan sudah ia dapatkan. Film Tari dikemas dengan pendekatan tradisi kontemporer. Perancangan dilakukan dengan menginterpretasi puisi dan mewujudkan visualnya dengan prinsip-prinsip desain elementer sesuai dengan tema dan konsep yang telah ditentukan. Metode yang dilakukan adalah dengan penelitian artistik, yaitu dengan melibatkan penciptaan suatu karya seni sebagai bentuk pengumpulan data atau informasi. Penelitian dilakukan dengan tahap pengamatan, analisis data, penciptaan karya seni, evaluasi dan interpretasi karya seni. Penulisan berupa deskripsi analitis dengan teori prinsip desain elementer. Analisis data bermula dengan menguraikan puisi per bait, interpretasi, dan memvisualisasikan dalam bentuk unsur rupa sebagai penanda dari makna yang akan disampaikan. Hasil dari penelitian ini adalah berupa rancangan penataan artistik dengan uraian rinci puisi yang terwujud dalam proses praproduksi.Kata kunci: Tata Artistik, Film Tari, Desain Elementer. AbstractThis study aims to design the artistik arrangement of a poetry-based dance film entitled “Watesmantra”. “Watesmantra”'s poem tells of a human who comes to earth and seeks meaning from all the knowledge and life experiences that he wants and got. This dance film wrapped in a contemporary tradition approach. The design is done by interpreting the poetry and realizing the visuals with elementary design principles in accordance with predetermined themes and concepts. The method used is artistik research, involving the creation of a work of art as a form of data or information collection. The research was carried out with the stages of observation, data analysis, creation of works of art, evaluation and interpretation of works of art. Writing in the form of an analytical description with the theory of design principles. Data analysis begins with a breakdown of the poem per stanza, interpretation is carried out and visualization in the form of visual elements as markers of the meaning to be conveyed. The result of this research is in the form of an artistik arrangement design with a poetry breakdown which is materialized in the pre-production process.Keywords: Art Development, Dance Film, Design Principles.
INTERPRETASI KONSERTO CELLO NO. 4 KARYA GEORG GOLTERMANN PADA PRAKTIK PEMBELAJARAN CELLO Lintang Pramudia Swara
EKSPRESI: Indonesian Art Journal Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v12i1.10395

Abstract

AbstrakKomposisi konserto karya Georg Goltermann telah terkenal dan menjadi basis materi bagi pelajar cello di seluruh dunia. Salah satu yang paling terkenal yakni konserto cello no. 4 dalam G Mayor Opus 65 karena kekuatan karakter melodinya maupun muatan unsur musiknya. Karya ini populer di kalangan pelajar cello sebagai student concerto karena menawarkan berbagai material musikal yang mendukung pengembangkan teknik permainan dimulai dari fingering, shifting, framing, serta kekayaan dan keindahan musiknya. Komposisi ini juga memberikan kesempatan bagi para cellist untuk mengonsep bagaimana interpretasi yang akan diolah. Artikel ini hendak mengungkap bagaimana material interpretasi yang diinstruksikan oleh Goltermann dapat dikonsep sebagai opsi yang mampu diolah ulang demi terbangunnya ekspresi musik yang tepat dan memikat. Metode yang digunakan adalah observasi latihan dan studi literatur berkenaan dengan komposer dan notasi karya musik. Singkatnya, penulis menemukan bahwa diversitas material yang dimuat dalam karya ini menjadi faktor utama yang berperan dalam membentuk pemahaman tentang interpretasi karyanya. Instrumen cello mengalami deformasi peran dan menawarkan tata cara yang baru lewat berbagai misi pedagogis yang diupayakan oleh komposer seperti Georg Goltermann. Karya konserto-nya menjadi bahan pembelajaran yang penting untuk pengembangan aspek teknis dan interpretatif.Kata kunci: cello, Goltermann, interpretasi, pedagogi, teknik AbstractGeorg Goltermann's cello concertos have achieved worldwide renown and serve as foundational material for cello students across the globe. Among them, Cello Concerto No. 4 in G Major, Opus 65 stands out as particularly renowned due to the strength of its melodic character and the richness of its musical elements. This composition has gained popularity among cello students as a staple concerto, offering a wide range of musical materials that support the development of technical proficiency, including fingering, shifting, and framing, as well as its musical richness and beauty. Moreover, this work allows cellists to conceive their own interpretations. This article aims to unveil the interpretative materials prescribed by Goltermann and how they can be reinterpreted to achieve precise and captivating musical expressions. The research methodology employs observations of practice sessions and a study of literature pertaining to the composer and the musical notation. In conclusion, the author discovers that the diversity of materials presented in this concerto plays a pivotal role in shaping the understanding of its interpretation. The cello as an instrument undergoes a redefined role and offers novel techniques through various pedagogical missions envisioned by a composer such as Georg Goltermann. His concerto works stand as crucial educational resources for advancing technical and interpretative aspects.Keywords: cello, Goltermann, interpretation, pedagogy, techniques