cover
Contact Name
Ary Wijayanto
Contact Email
412y.wija@gmail.com
Phone
+6281326177669
Journal Mail Official
selonding@isi.ac.id
Editorial Address
Gedung Lt.2 Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jl. Parangtritis km. 6,5 Sewon, Bantul Yogyakarta-55141
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SELONDING
ISSN : 14121514     EISSN : 26859327     DOI : https://doi.org/10.24821/sl.v20i1
Focus & Scope Science: Organology-acoustics, Semiotics, Hermeneutic, Etnomusicology, Transcript, Composition of Ethnic music, Music Exploration, Anthropologi Music, Sosiology Music, Physics, Culture Assesment and Practice: Assesment of Ethnic music, Practice base Research, Practice led Research Ideas, Concept, Thoughts about music ethnic
Articles 142 Documents
KERONCONG KIAI KANJENG SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI PLATFORM YOUTUBE Nurrahman, Abid Fikri
SELONDING Vol 21, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.12445

Abstract

Keroncong Kiai Kanjeng merupakan cabang dari grup Kiai Kanjeng yang identik dengan gamelannya yang diprakasai oleh Emha Ainun Najib. Keroncong Kiai Kanjeng digagas oleh beberapa personil Kiai Kanjeng yang berinisiatif untuk keluar dari keadaan pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Dari keadaan tersebut semua aktivitas kesenian tidak diperbolehkan. Hal tersebut membuat keroncong Kiai Kanjeng akhirnya memutuskan merambah ke media virtual, yaitu Platform Youtube yang dalam pementasannya dilakukan secara live streaming.Tulisan ini bertujuan untuk memahami dan mengetahui bentuk aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Keroncong Kiai Kanjeng dan kajian kontekstual tentang alasan mengapa dalam penyampaian dakwahnya menggunakan genre musik keroncong. Untuk memahami lebih dalam, maka digunakan sebuah metode kualitatif netnografi dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil dari analisis data dalam penelitian ini menunjukan bahwa Keroncong Kiai Kanjeng merupakan sebuah format musik alternatif di masa pandemi Covid-19 dengan tetap menggunakan spirit syiar agama Islam dalam berdakwah yang diketahui melalui lagu-lagu yang dibawakan dan terdapat dua faktor yang melatarbelakangi pemilihan genre musik keroncong, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Peran dan Fungsi Aksentuasi Pada Musik Tari Kontemporer: Studi Kasus Karya Dongak Ginanjar, Moch Gigin; Darsono, Yoyon; Hakim, Denhaz Nurul
SELONDING Vol 21, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.13883

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi peran dan fungsi aksentuasi musik tari kontemporer serta urgensi kehadirannya dalam penciptaan musik tari kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus tunggal kualitatif (qualitative-single case study) yang meliputi proses tinjauan literatur dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data, serta menganalisis, menafsirkan (interpretasi), dan melaporkan hasil sebagai teknik analisis data, dalam karya Dongak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aksentuasi musik dalam tari kontemporer memiliki dua peran dengan fungsinya masing-masing, yaitu peran penanda dan peran petanda. Peran aksentuasi musik sebagai penanda dalam tari kontemporer berfungsi sebagai penebalan gerakan, sedangkan peran aksentuasi musik sebagai petanda berfungsi sebagai sinyal, kode, atau isyarat terhadap sesuatu yang penting. Selain itu, aksentuasi musik dalam tari kontemporer mempunyai kemampuan untuk menciptakan dinamika pertunjukan dan menarik perhatian penonton. Dengan demikian, peran dan fungsi tersebut menunjukkan betapa pentingnya kehadiran aksentuasi secara musikal pada sebuah pengkaryaan musik tari kontemporer. Penelitian di masa depan diharapkan untuk mengeksplorasi lebih rinci peran dan fungsi aksentuasi dalam mempengaruhi emosional penari dan penonton serta dampaknya pada pertunjukan. Selain itu, penelitian ini mungkin relevan dengan latar budaya dan genre musik lain yang mempengaruhi interpretasi dan aksentuasi musik tari kontemporer. 
Nyanyian Para Penyintas: Paduan Suara Dialita dan Politik Ingatan Genosida 1965 di Indonesia Setyawan, Aris
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.15688

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran Paduan Suara Dialita, sebuah kelompok paduan suara yang terdiri dari para perempuan penyintas Genosida 1965 di Indonesia, sebagai subjek subaltern yang menyuarakan pengalaman dan trauma mereka melalui musik. Dengan menggunakan teori subaltern Gayatri Chakravorty Spivak, tulisan ini menganalisis bagaimana Dialita memproduksi wacana tandingan terhadap narasi sejarah dominan yang direpresi oleh negara.  Terbentuk dari komunitas para eks-tahanan politik (tapol) yang mengalami diskriminasi, Dialita bertransformasi menjadi sebuah gerakan budaya yang menyuarakan tuntutan keadilan dan pengusutan tuntas pelanggaran HAM berat 1965.  Melalui album seperti Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019), serta kolaborasi dengan musisi muda, mereka berhasil menjangkau generasi muda dan menyebarkan kesadaran akan tragedi kemanusiaan tersebut.  Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Dialita sebagai kelompok subaltern mampu "berbicara" dan menghasilkan karya yang signifikan , suara mereka belum sepenuhnya "didengar" oleh negara, yang hingga kini belum menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan kasus Genosida 1965.  Dengan demikian, karya Dialita menjadi sebuah pengingat akan pentingnya mendengarkan suara korban untuk mencapai rekonsiliasi dan keadilan sejarah.
BIDUK SAYAK DALAM ACARA LEK PENGANTEN KECIK DI DESA JERNIH KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI Aqilla, Ummi
SELONDING Vol 21, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.12442

Abstract

Biduk sayak adalah tradisi lisan berbalas pantun yang dimainkan oleh muda-mudi di Desa Jernih. Biduk adalah perahu atau sampan untuk orang menyusuri sungai dan juga ini diibaratkan sebagai laki-laki dan Sayak adalah tempurung kelapa diibaratakan sebagai perempuan. Biduk sayak dimainkan dalam acara lek penganten kecik, lek penganteng kecik adalah istilah pernikahan terendah dalam masyarakat Desa Jernih. Lagu yang dijadikan sebagai analisis penelitian dalam biduk sayak adalah lagu Becerai Kasih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis, teori yang dipakai adalah teori ilmu bentuk musik dari Karl-Edmund Prier SJ dan model tiga tingkatan analisis musik dari Alan P. Merriam. Berdasarkan observasi lapangan bahwa biduk sayak memiliki bentuk lagu satu bagian berulang-ulang, serta biduk sayak sebagai representasif dari acara lek penganten kecik karena biduk sayak adalah representasi dari masyarakat Desa Jernih terlihat pada konsep, kebiasaan, dan musiknya.
GONDANG UNING-UNINGAN GRUP RAP OLO DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA DI YOGYAKARTA Samosir, Joshua Kristopel; Yulaeliah, Ela; Irawan, Cepi
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.12446

Abstract

Gondang Uning-uningan merupakan ansambel yang digunakan pada upacara perkawinan adat Batak Toba termasuk di Yogyakarta. Sampai saat ini Gondang Uning-Uningan masih menjadi bentuk solusi dalam mengiringi musik disetiap prosesi upacara perkawinan berlangsung. Ansambel Gondang tidak lepas dari siapa yang memainkannya. Salah satu grup musik Gondang Uning-uningan yang ada di Yogyakarta adalah Grup Musik Rap Olo.Grup Musik Rap Olo merupakan salah satu Grup musik etnis Batak Toba yang sampai saat ini masih eksis khususnya di Yogyakarta. Grup musik Rap Olo sering terlibat mengiringi musik Gondang Uning-uningan pada upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana betuk penyajian Grup Musik Rap Olo dan fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara Perkawinan Batak Toba. Metode yang dingunakan yaitu penelitian kualitatif dan pendekatan etnomusikologis yang dibagi menjadi tekstual dan kotekstual. Berdasarkan hasil pengamatan tekstual dari lagu Sitappar Api merupakan lagu satu bagian yang terdiri dari frase tanya jawab dan motif tanya jawab, sementara itu kajuan kontekstual fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta yaitu sebagai, fungsi hiburan, komunikasi, pengungkapan emosional, norma soial, kesinambungan budaya, dan pengintergrasian masyarakat
Gamelan Gambang Dalam Ritual Mapurwadaksina Pada Upacara Maligia Lajur Di Puri Bukit Bangli Bali Arimbawa, Ida Bagus Pradnyananta
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.12965

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas mengenai penyajian dan makna musikal gamelan gambang serta keterlibatannya dalam ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli, Bali. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi teori semiotika pertunjukan dari Marco De Marinis untuk membedah tekstual dan teori semiotika yang dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce untuk membedah makna musikal gamelan gambang. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang didasari dari pengalaman individual. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, studi lapangan (observasi dan dokumentasi), dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyajian gamelan gambang mencangkup aspek-aspek yang terdiri dari pelaku, busana, tata panggung, sarana upacara dan musik. Dalam pembahasan kontekstual, Makna musikal gamelan gambang ketika mengiringi ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli diantaranya gamelan gambang sebagai tanda representament dan ritual mapurwadaksina dalam upacara maligia lajur adalah sebagai objek, sedangkan masyarakat Puri Bukit sebagai interpretan.Kata Kunci: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit BangliAbstractThis research discusses the presentation and musical meaning of gamelan gambang and involvement in the mapurwadaksina ritual at the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, Bali. The theories used in this research include the semiotic of performance theory by Marco De Marinis for textual analysis, and the semiotic theory proposed by Charles Sanders Peirce to dissect the musical meaning of gamelan gambang. The method used is qualitative research with a phenomenological approach, based on individual experience. Data collection techniques include interviews, field studies (observation and documentation), and literature studies. This research shows that the presentation of gamelan gambang encompasses aspects such as performers, clothing, stage settings, ceremonial equipment, and music. In the contextual discussion, the musical meaning of the gamelan gambang when accompanying the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony at Puri Bukit Bangli, is that the gamelan gambang serves as a representation, the mapurwadaksina ritual in the maligia lajur ceremony serves as an object, and the Puri Bukit Bangli community serves are the interpretants. Keywords: Gamelan Gambang, Maligia Lajur, Puri Bukit Bangli.
Musik Cakepung dalam Konteks Sosio-kultural Masyarakat Desa Budakeling Bali I Wayan, Pande Narawara
SELONDING Vol 21, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.13620

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginvestigasi peran dan fungsi musik cakepung dalam konteks sosio-kultural di Desa Budakeling, khususnya dalam  acara seorti balih-balihan (hiburan rakyat) dan sangkep (forum diskusi desa). Teori yang dipakai untuk mengungkap hal tersebut adalah teori yang dikemukakan oleh Alan. P Merriam yang membedakan antara “fungsi” dan “guna” musik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dan strategi etnografi, disertai dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi dokumen, dan perekaman audio-visual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa musik cakepung memiliki peran dan fungsi yang signifikan dalam konteks sosio-kultural masyarakat.
Komodifikasi Kreatif: "Tukang Tabuh" dalam Gambang Kromong Kontemporer Raiska, Amina
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.14874

Abstract

Penelitian ini menginvestigasi fenomena komodifikasi dalam konteks musik tradisional Betawi, yaitu Gambang Kromong. Gambang Kromong sebagai salah satu warisan budaya telah mengalami transformasi yang signifikan akibat pengaruh global dan selera pasar yang modern. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses komodifikasi dapat berpengaruh pada identitas budaya gambang kromong, termasuk dalam konten musik dan strategi pemasarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografis, dan menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara, studi pustaka, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini akan menujukkan bahwa sistem komodifikasi ternyata mampu membawa dampak yang positif dan negatif terhadap Gambang Kromong. Satu sisi, popularitas yang meningkat dan pembaharuan dapat memperluas jangkauan penonton dan peningkatan apresiasi terhadap musik tradisional, namun di satu sisi perubahan tersebut juga dapat beresiko terhadap esensi budaya asli Gambang Kromong yang dapat tergerus oleh tuntutan pasar dan penekanan unsur-unsur komersial.
Estetika Vokal Marhaban di SUmatera Utara Azmi, Nurul; Irawati, Eli; Yulaeliah, Ela
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.12839

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek estetika vokal marhaban yang ada di Sumatera Utara. Teori yang dipakai untuk mendeskripsikan estetika menggunakan Djelatik yaitu wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif, menggunakan pendekatan etnomusikologis dan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa elemen estetis dari vokal mahaban memberikan sebuah deskripsi mengenai kesimbangan dalam tataran sosiologi masyarakat melayu Deli.
MUSIK DALAM PERTUNJUKAN WAYANG PULAU DI RUMAH GARUDA YOGYAKARTA Anwar, Hairul
SELONDING Vol 21, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i1.12447

Abstract

Wayang pulau adalah salah satu bentuk wayang pembaharuan yang muncul dan merupakan bentuk pemikiran serta gagasan dari Nanang Rakhmat Hidayat yang juga merupakan salah satu dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Inovasi wayang  yang diciptakan berdasar pada bentuk pulau-pulau yang ada di Indonesia.Teori yang digunakan untuk mengetahui bentuk musik wayang pulau dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia” serta fungsi kesenian wayang pulau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan fokus pada pengamatan mendalam mengenai kesenian wayang pulau melalui pendekatan secara Etnomusikologis yang membahas mengenai teks dan konteks musik. Kajian bentuk musik dalam lagu “Wayang Pulau Indonesia”  tampak dari aspek: bentuk penyajian, instrumentasi, dan vokal. Kajian kontekstual dalam kesenian wayang pulau terdapat unsur nasionalisme yang melatar belakangi kesenian musik tradisional sebagai pengiring wayang.Kesenian wayang pulau memeiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Fungsi yang dianggap menonjol dalam kesenian wayang pulau diantaranya: ekspresi emosional, sarana hiburan, keberlangsungan dan kestabilan budaya, presentasi estetis dan sarana komunikasi.