cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014" : 8 Documents clear
Pola Kellèghãn dan Teknik Vokal Kèjhungan Representasi Ekspresi Budaya Madura dan Pengalaman Estetiknya Mistortoify, Zulkarnain; Haryono, Timbul; Ganap, Victor; L. Simatupang, G.R. Lono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.796

Abstract

Kèjhungan adalah gaya nyanyian Madura yang memiliki ciri-ciri kontur melodi dengandidominasi nada-nada tinggi, penuh dengan ketegangan suara (nyaring), ekspresif, dan terpola.Kèjhungan seringkali dianalogikan sebagai sebuah bentuk ekspresi “keluh-kesah” semata. Kelantangansuara, ketinggian nada, dan pengolahan melodi yang penuh melismatis mengesankan nyanyian iniseperti orang yang sedang berteriak, membentak, dan merintih-rintih. Penelitian ini dilakukan untukmengungkap hubungan antara karakteristik kèjhungan dengan dunia pengalaman manusia pemiliknya.Oleh karenanya, aspek yang dikaji tidak hanya melihat aspek materi nyanyian itu sendiri, melainkanmelihat pula perilaku menyanyikannya. Melalui analisis struktural-hermeneutik dan pendekatanetnoestetik, ditemukan bahwa kellèghãn (pola-pola kalimat lagu) menjadi karakteristik pokok daribentuk kèjhungan dan teknik vokalnya yang bertumpu pada capaian ekspresi yang “menggebu-gebu”.Ide dan konsep yang tergali dibalik itu menunjukkan adanya relasi antara kebiasaan menyanyi orangMadura dengan pengalaman sejarah sosial-budayanya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwanyanyian Madura secara fenomenologis memberikan petunjuk yang sangat jelas sebagai representasidari ekspresi budaya dan pengalaman estetik, khususnya pada sub kultur barat Madura. Kellèghãn Pattern and Kèjhungan Vocal Technique, the Representation of Madurese CulturalExpression and Aesthetic Experience. Kèjhungan is a singing style specific to Madurese. It features thepatterned melodic contour dominated by high pitch vocal, expressiveness, and full of vocal intensity. Maduresekèjhungan is often misperceived only as a form of “moaning” due to its piercing sound, high pitch note, andmelismatic melody. Kèjhungan gives an impression of a person shrieking and moaning at the same time. Thestudy of kèjhungan was conducted to reveal the relationship between the singing characteristic and humanexperiences. Therefore, kèjhungan aspects should not only focus on the singing material itself, but it shouldalso include a study on how people sing it. Using the structural-hermeneutic analysis and ethno aestheticapproach, the kellèghãn (patterns of musical phrase) and vocal techniques that rest upon volatile expressionare the basic characteristics of kèjhungan. The idea and concept behind those techniques show a connectionbetween Madurese singing practice and the chronicle of their socio-cultural experience. Finally, this researchshows that in phenomenological aspect it gives a very clear clue on the representation of the Madurese cultureexpression and aesthetic experience, especially the sub-culture of West Madura.
Karakter Musikal Lagu Gedé Kepesindenan Karawitan Sunda Irawan, Endah; Soedarsono, R.M.; L. Simatupang, G.R. Lono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.797

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada tiga hal yaitu: (1) menemukan ciri-ciri musikal lagu gedé; (2)menunjukkan perbedaan relasi musikal antara lagu gedé dengan pertunjukan wayang golék dankiliningan; dan (3) menunjukkan kompleksitas hubungan garap di dalam lagu gedé, yaitu hubunganantara nyanyian sindén dengan nyanyian alok, rebaban, gambangan, dan kendangan. Penelitianini menggunakan pendekatan etnomusikologis didasarkan pada cara kerja ala Wim van Zanten,yaitu memadukan aspek musikologis dan antropologis. Musik ditempatkan sebagai objek utamasekaligus dasar relasinya dengan persoalan-persoalan kebudayaan dan masyarakat. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa lagu gedé menunjukkan peran, proses, interaksi dan kompleksitas garapnyakhusus. Pada sisi pencipta lagu, lagu gedé diakui sebagai pengguritan yang sulit dan langka. Padasisi penyaji, membawakan lagu gedé diperlukan persyaratan seperti: modal vokal bagus, menguasaiperbendaharaan lagu dan laras, terampil menafsir garap lagu dan memberi sénggol-sénggol unik. Denganketiadaan lagu gedé, mutu garap kesenimanan sinden dan pangrawit dan jalinan interaksi kemampuanmusikal di antara pemeran garap vokal, rébab, gambang, dan kéndang mengalami keterbatasan.The Musical Characters of Lagu Gedé Kepesindenan on Sundanese Karawitan. The researchis mainly focused on the three things: (1) to find the musical characteristics of lagu gedé; (2) to show thedifference on the musical relationship of lagu gedé song with a puppet show and kiliningan; (3) to show thecomplexity of the working relationship on lagu gedé, such as the relationship between the singing of Sindenand the hymns of alok, rebaban, gambangan, and kendangan. The ethno musicological approach of lagugedé is based on the work method of Wim van Zanten which is a musical approach with an anthropologicalperspective. The two aspects – musicological and anthropological – are respectively combined. Music isintensively placed as the main object in order to discover the basis of its relation with cultural and socialissues. The results of the research on lagu gedé show the role, process, interaction, and complexity of the musicalinterpretation which are characterized by a slow tempo. From the composer’s point of view or the musicalcomposition, lagu gedé is recognized as a difficult and rare form of pengguritan. From the performers’ pointof view (the sinden or female vocalist and the pangrawit or musician), a number of special skills are requiredin performing lagu gedé. These may include a good voice, a good command of the musical repertoire, tuning,and musical composition, and the ability to interpret the music and provide the unique sénggol-sénggol aswell. By the absence of lagu gedé, there will be more limited quality of interpretation and artistry of thesinden and pangrawit, and the musical skills and interaction among the musicians (such as the vocalist,rébab, gambang, and kéndang players).
Kanca Indihiang sebagai Embrio Kreativitas Mang Koko Satriana, Rasita; Haryono, Timbul; Hastanto, Sri
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.798

Abstract

Kanca Indihiang adalah sebuah grup yang dibentuk oleh Mang Koko tahun 1946, yang termasukpada genre seni Jenaka Sunda, yakni seni pertunjukan dengan format seni humor. Kreativitas MangKoko dalam melakukan berbagai inovasi garap, membuat grup Kanca Indihiang sangat berbeda denganseni Jenaka Sunda pada umumnya. Nama Mang Koko terkenal sebagai pencipta genre seni baruatau dikenal dengan sebutan karawitan wanda anyar. Untuk mengungkap perkembangan kreativitasMang Koko, digunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi. Berdasarkan hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa dalam wadah grup Kanca Indihiang, Mang Koko bereksplorasimemodernisasi kekakuan pakem seni kawih Sunda tradisi. Karawitan wanda anyar diyakini sebagaigenre karawitan Sunda yang terbentuk dari akumulasi kreativitas berkesenian dari Mang Koko.Kanca Indihiang: As a Creativity Embryo of Mang Koko. Kanca Indihiang is a group which wasfirst created by Mang Koko in 1946 and is one of the Sundanese art genres that is a performing art withsuch a humorous art format. Mang Koko’s creativity in doing works on a variety of innovations makes KancaIndihiang group may differ a lot from Sundanese humorous art in general. Mang Koko’s name then becomesfamous as a creator of a new art genre called ‘karawitan wanda anyar’. Thus, a qualitative research applyingethno-musicological approach is done to uncover the development of Mang Koko’s creativity. According to thisresearch, it can be concluded that within this Kanca Indihiang group, Mang Koko did some explorationsto modernize rigidity in the rules of traditional Sundanese kawih. Karawitan wanda anyar is believed as aSundanese karawitan genre shaped from the accumulation of Mang Koko’s artistic creativities.
Pengaruh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada Seni Karawitan Kraton Yogyakarta -, Raharja; Haryono, Timbul; Soedarsono, R.M.; Susanto, Adhi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.799

Abstract

Gamelan sebagai alat musik atau karawitan sebagai produk musikal dari Kraton Yogyakartamempunyai beberapa karakter yang sangat khas. Karawitan masih dipergunakan sebagai suatu identitasdan diakui oleh masyarakat hingga saat ini. Pengembangan musikal ini bermula dari Sri SultanHamengku Buwono I. Ada dua alasan penting yang mendorong gagasan penciptaan karaktergamelan. Pertama, konsepsi kedudukan raja telah mendudukkan gamelan sebagai salah satu pusakapenting. Kedua, kepribadian Sultan yang maskulin, heroik, dan patriotik menjadi model pengembangan,memberi ciri khas pada masing-masing ricikan gamelan dan musikalitasnya. Gamelan KratonYogyakarta mempunyai kesan rasa musikal: agung, gagah, tegas, mantap, berwibawa, mrabu (sepertiraja), dan ngratoni (seperti suasana di kraton). The Effect of Sri Sultan Hamengku Buwono I on Kraton Yogyakarta Karawitan. Gamelan asmusical instrument or karawitan as a musical product of Kraton Yogyakarta has some specific characters. Itis still used as an identity and is recognized by karawitan society until now. This musical development wasfirstly introduced by Sri Sultan Hamengku Buwono I. There are two important reasons which stimulatethe ideas of creating gamelan characters. First, the king’s authority conception puts the gamelan as one ofthe important heirloom. Second, Sultan’s personalities which are masculine, heroic, and patriotic becomethe influencing model of its development, and give some specific characters on each gamelan instrument andits musicality as well. Kraton Yogyakarta gamelan has many musical rasa(s)/feelings: glorious, strong, clear,steady, prestigious, ‘mrabu’ (like a king), and ‘ngratoni’ (such an atmosphere of Kraton).
Struktur, Fungsi, dan Makna Talempong Bundo dalam Upacara Maanta Padi Saratuih Sriwulan, Wilma; Haryono, Timbul; Ganap, Victor; L. Simatupang, G.R. Lono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.800

Abstract

Talempong bundo adalah istilah untuk permainan musik talempong oleh sekelompok musisiperempuan di Nagari Singkarak Minangkabau. Permainan musik ini hanya dipertunjukkan dalamupacara maanta padi saratuih, yaitu upacara persembahan hasil panen yang dilakukan oleh perempuanperempuandari pihak induak bako dalam rangkaian tradisi perkawinan anak pisangnya. Dalam upacaraini induak bako menjemput anak pisang, membawanya ke rumah bako, kemudian mengantarkankembali dengan arak-arakan maanta padi saratuih. Talempong bundo merupakan satu-satunya musikprosesi yang dihadirkan dalam upacara itu, dan hingga saat ini kehadirannya masih dijunjung tinggioleh masyarakat setempat. Fokus dari tulisan ini menjelaskan latar belakang kehadiran talempong bundodi dalam upacara maanta padi saratuih, melacak dan menjelaskan struktur talempong bundo dan relasiantar struktur secara fungsional, dan kemudian menjelaskan makna talempong bundo dalam upacaratersebut. Melalui teori fungsionalisme struktural A.R. Radcliffe-Brown dibantu dengan teori simbolVictor Turner diperoleh pemahaman bahwa prosesi arak-arakan maanta padi saratuih yang didukungoleh bunyi-bunyian talempong bundo mengumandangkan kepada masyarakat bahwa eksistensi pihakinduak bako masih fenomenal di daerah tersebut. Talempong bundo merupakan simbol eksistensipihak induak bako dalam konteks legitimasi terhadap anak pisangnya. Keberadaan talempong bundodalam upacara maanta padi saratuih merupakan representasi sistem matrilineal dalam masyarakatMinangkabau di Nagari SingkarakThe Structure, Function, and Meaning of Talempong Bundo in the Ceremony of MaantaPadi Saratuih. Talempong bundo is a term that is used for music performace of talempong by some femalemusicians in Nagari Singkarak, Minangkabau. The music is typically performed only in the ceremony ofmaanta padi saratuih, namely an offering ceremony for a rice harvest that is made by some women of induakbako in a context of their anak pisang, a tradition of its marriage ceremony. In this induak bako ceremony,anak pisang is picked up, taken to rumah bako, and then returned back with maanta padi saratuih procession.It is interesting that talempong bundo is the only ritual music that is played in the ceremony, and until nowits existence is respected so much by the local community. The focus of this research is to explain a backgroundof talempong bundo in the ceremony of maanta padi saratuih, to search and explore a structure of talempongbundo and inter-structure functionally, and then to describe the meaning of talempong bundo in the ceremonyof maanta padi saratuih. With A.R. Radcliffe Brown’s structural functionalism theory, supported by VictorTurner’s symbol theory, it can be accepted that maanta padi saratuih procession enlivened by talempongbundo music performance announces to people of Nagari Singkarak specifically and Minangkabau peoplegenerally that induak bako’s existence is still phenomenon in this area. Talempong bundo is a symbol ofexistence of induak bako’s side for her legitimacy toward her anak pisang. Finally, an abstract reads that talempong bundo’s existence in the ceremony of maanta padi saratuih is a proof of matrilineal kinship systemamong Minangkabau community in Nagari Singkarak.
Teknik Stimulasi dalam Pendidikan Karakter Anak Usia Dini melalui Lirik Lagu Dolanan Rosmiati, Ana
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.801

Abstract

Media musik melalui lirik lagu dolanan anak dapat membantu pembentukan karakater padaanak usia dini. Anak-anak dapat merasakan kehadiran musik sebagai sarana untuk menemani aktivitasdalam bermain. Teknik stimulasi melalui media musik ternyata memiliki dampak positif dalamperkembangan pembentukan emosional anak. Anak-anak bisa terkontrol emosinya dari kebiasaanyang tidak baik. Penelitian ini memakai teknik stimulasi melalui pemaknaan lirik lagu dolanan anakyang dapat membentuk karakter anak pada usia dini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptifkualitatif yang mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat, sertahubungan antara fenomena yang diselidiki. Penelitian ini mengidentifikasikan contoh pemaknaanlagu dolanan anak yang dapat membantu dalam pembentukan karakter pada anak-usia dini. Anakdapat menggali nilai-nilai kehidupan dari makna pada lirik lagu dolanan berupa nilai pendidikan,pengetahuan, religius, sosial, dan budaya.The Stimulation Technique on the Character Education of Early Age Children through theLyrics of Children’s Song. The music media through the children’s song lyrics can help building the childrencharacter of the early age children. Children can feel the presence of the music as the media for accompanyingthe children’s play activities. The stimulation technique through the music media, in fact, has the positiveimpact in developing the children emotional building. The children are able to control their emotion awayfrom the bad habits. The aim of the research is to find the appropriate stimulation technique through theunderstanding of the children’s song lyrics which can be used to build children character in the early age.This research uses a qualitative descriptive method describing systematic, factual, and accurate informationon the facts, nature, and the relationship between the phenomena investigated. The result of the researchhas been identified by some examples of children’s songs which can help children in their character buildingsince the early age. Children can explore their values of life from the meanings on the children’s song lyricswhich consist of values on education, knowledge, religious, social, and culture.
Musik sebagai Wujud Eksistensi dalam Gelaran World Cup Raditya, Michael HB
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.802

Abstract

We Are One atau “Ole Ola” merupakan lagu resmi dari gelaran World Cup. Setiap World Cupmempunyai lagu resminya ditiap gelarannya. Dalam keberlangsungannya, setiap lagu world cupmembutuhkan pertimbangan dalam pembentukannya. Aspek-aspek seperti budaya, sosial, politikdan lainya menjadi alasan penting dalam pembentukannya. Pembentukan Ole Ola didasarkan padaproses hibriditas budaya lokal dan global. Perpaduan samba dan hip hop menjadi variant dalampembentukannya. Perpaduan tersebut membentuk identitas untuk lagu itu sendiri, dan untuk gelaranworld cup. Eksistensi dari lagu sehingga makin terasa karena perpaduan yang membentuk identitas.Terlebih lagu tersebut tercipta tidak hanya karena gelaran, tetapi mempunyai fungsi dan guna untukmasyarakat. Musik sebagai media dalam mengkonstruksi pesan atas kepentingan. Musik membentukidentitas, dan mempunyai eksistensi dalam keberlangsungannya. Musik tidak lagi hanya berfungsisebagai musik saja, tetapi musik mempunyai peran dalam pembentukan identitas dan menjamineksistensi.Music as a form of Existance in the World Cup Performance. We are one or Ole Ola is the officialsong of the world cup performance. Every world cup has its official song in each event. In its development ofexistance, every song in world cup needs requires of consideration for creating process. Aspects such as cultural,social, politics and others become the important reason for creation. The creating proses of Ole Ola song isbased on the local and global cultural hybridity. The combination of samba and hip hop is a primary varianton creating process. The combination creates an identity for the song itself, and for world cup identity. Theexistance of Ole Ola is stronger because the combination may create the new identity. Moreover, the songcreated is not only for the event, but also has a function and purpose to society. Music is as a medium inconstructing the messages of interest. Music creates an identity, and has an existance in its continuty. Musicis not only for music itself, but also has a role in creating identity and ensures the existance.
A Solution to the Fingering Problem of Brahms Cellos Sonata No. 1 Opus 38 and Shostakovich Cello Sonata Opus 40 Wirayudha, Asep Hidayat
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v15i1.803

Abstract

The flexibility of fingers is one main factor of responsibility on their spread ability. Considering thecello playing, the spread ability of cellists’ fingers is very important since it has a direct correlation to theirability to play the octave interval. The short- fingers cellists would find difficulties to play the octave intervalsat the first, second, third, and fourth position. Nevertheless, short-fingers are not dead-end for cellist. Thespread ability of finger, up to some extent, might be increasing through practices and exercises. It is with thisspirit that the author proposes some stratagems, which may be used to increase the spread ability of a cellist’sfingers in this section - using the octave interval problems as a case of pint. The discussion on the types andstyles of problem show that even though the octave intervals in Brahms cellos sonata No. 1 opus 38 andShostakovich cello sonata opus 40 are different in details, but fundamentally they are similar: the problemscome from the difficulty of the first and the fourth fingers to reach the proper note when the size and lengthof the fingers are limited.Solusi dari Permasalahan Fingering dalam Brahms Cellos Sonata No.1 Opus 38 danShostakovich Cello Sonata Opus 40. Kemampuan penyebaran jari pemain cello sangat penting karenamemiliki korelasi langsung dengan kemampuan mereka untuk bermain interval oktaf. Jari-jari pendekpemain cello akan menemukan kesulitan untuk bermain interval-interval oktaf di posisi pertama,kedua, ketiga, dan keempat. Namun demikian, kemampuan penyebaran jari, bisa ditingkatkan melaluipraktik dan latihan. Hal tersebut menggugah penulis untuk mengusulkan beberapa siasat baru mengenaikemampuan teknis memainkan interval dan oktav dan persoalan jarak interval dalam konteks Sonatayang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan penyebaran jari seorang pemain cello. Meskipuninterval oktaf di Brahms cello sonata No 1 opus 38 dan Shostakovich cello sonata opus 40 berbeda,tetapi pada dasarnya keduanya sama: masalah datang ketika kesulitan terjadi pada jari pertama dankeempat untuk mencapai nada yang tepat ketika ukuran dan panjang jari-jari terbatas.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue