Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Articles
303 Documents
Pola Permainan Alat Musik Keroncong dan Tenor di Orkes Keroncong Irama Jakarta
Hery Supiarza;
Deni Setiawan;
Cece Sobarna
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/resital.v20i2.2459
Penelitian ini mendiskusikan pola permainan alat musik keroncong dan tenor serta penerapannya pada lagu “Cente Manis” dan “Sambel Cobek”. Kedua alat musik ini merupakan identitas keroncong gaya Jakarta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa asal mula istilah alat musik keroncong berasal dari bunyi alat musik itu sendiri. Istilah tenor merujuk pada istilah suara laki-laki tertinggi. Ditemukan juga teknik permainan alat musik keroncong dan tenor yaitu teknik rasguaedo (prung), strumming, arpeggio dan dengan cara dipetik satu-satu pada setiap senar. Teknik memainkan alat musik keroncong dan tenor tersebut meliputi pola permainan dobel engkel, dobel balik, format dan gaya lama. Permainan keempat pola tersebut bergantung pada lagu yang akan dibawakan dan kesepakatan para personilnya. The Approach of Orff-Schulwerk for Prospective Music Teachers in Kindergarten Schools. The topic in this article focuses on the application of Orff-schulwerk for university students as prospective teachers in school, including kindergarten. Orff-schulwerk can be seen as an approach to music education. In related to primary education, this approach focuses on the children needs and develops children musicality through necessary activities (elemental) in music and movement. Some questions in this article are: 1) what kind of Orff-schulwerk that can be used by prospective teachers in the learning process at kindergarten? 2) what benefits can be obtained by teacher candidates through the application of the Orff-schulwerk approach? And 3) how do prospective teachers who use this approach can understand their role in learning? The method used in this study is action research. The findings in this research are prospective teachers understand that: 1) Orff-schulwerk can be used in related to exploration – imagination – creation that involving music and movement; 2) this approach is useful for developing student musicality in the learning process in kindergarten; and 3) in this approach, prospective teachers are acted as facilitators who can create an atmosphere of learning that stimulate students’ imagination and creation. This study concludes that the Orff-schulwerk approach should be mastered by prospective teachers who teach in schools, including kindergarten. By having an understanding of this approach, both theoretically and practically, prospective teachers not only enhance their knowledge but also support the national education goals, namely the students’ character building in schools.Keywords: Orff-Schulwerk; music education; kindergarten teachers
Musik Gamolan, Latihan Untuk Menumbuhkan Relasi Sosial
Adi Kurniawan;
Djohan Djohan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (679.074 KB)
|
DOI: 10.24821/resital.v18i3.2045
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap korelasi antara aktivitas latihan gamolan dan relasi sosial para pemainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis ex-post facto. Populasi penelitian ini 40 orang anggota salah satu kelompok kesenian Lampung. Penentuan jumlah sampel mengunakan teknik sampling jenuh, yaitu sampel diambil dari keseluruhan populasi dengan pertimbangan jumlah populasi yang tidak banyak. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil pengolahan data menunjukan nilai signifikansi sebesar 0,001. Dengan kriteria pengambilan keputusan bahwa jika nilai signifikansi sebesar < 0,05 maka, aktivitas latihan gamolan dan relasi sosial dinyatakan berkorelasi secara signifikan. Dengan demikian aktivitas latihan gamolan berkorelasi positif terhadap relasi sosial pemian gamolan.
Tirtha Campuhan: Sebuah Karya Komposisi Baru dengan Media Gamelan Smar Pagulingan
Prakasih Putu Paristha;
Yudarta I Gede;
Santosa Hendra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (869.072 KB)
|
DOI: 10.24821/resital.v19i3.2452
Proses penciptaan karya seni, khususnya seni karawitan sudah mulai berkembang mengikuti kemajuan jaman. Perkembangan tersebut terdapat pada proses kreativitas dalam penciptaan karya seni karawitan, hal itu dapat dilihat dari unsur musik dalam seni karawitan. Dalam seni karawitan sangat penting dalam proses penciptaan karya seni yang kuat untuk sebuah pembaharuan terhadap tradisi sehingga bisa dikatakan sebagai musik kreasi. Penata tertarik menganggkat sebuah tempat suci di Pantai Sari Kuta tepatnya di Pura Tirtha Campuhan yang memiliki keunikan. Keunikan tersebut adalah fenomena alam tentang aliran sungai yang di dalamnya terdapat campuran dari dua aliran sungai dengan air laut sehingga terbentuk sungai baru yang bernama sungai campuhan. Sesuai dengan namanya Pura Tirtha Campuhan memiliki campuran aliran sungai dari muara sungai mati (tukad mati, tukad ening) dan sungai yang berada di Badung, sehingga aliran sungai di Pura tersebut membentuk sebuah aliran sungai baru (peteluan tukad, tukad mati, tukad ening). Selain terjadinya campuran dari aliran sungai, masyarakat juga memanfaatkan dan menggunakan air sungai ini sebagai tirtha untuk pengelukatan atau pembersihan dan juga digunakan sebagai obat. Dari cerita tersebut akhirnya penata menemukan ide untuk menjadikan Tirtha Campuhan sebagai sumber inspirasi. Penata merealisasikannya ke dalam bentuk garapan komposisi musik kreasi dengan menggunakan media ungkap Smar Pagulingan. Dalam media ungkap Smar Pagulingan penata mengaplikasikan tirtha dan campuhan atau campuran dalam membuat tirtha tersebut dengan menggabungkan beberapa patet dalam gamelan Smar Pagulingan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan penata yang membangun suasana harmonis dalam olahan melodi menggunakan pencampuran patet.Tirtha Campuhan: A New Composition Work by Using Semar Pagulingan Gamelan as Media. In Karawitan, the process of creating works of art is essential to produce a renewal of tradition so that the process of creating these works of art can be said to be musical creation. For creating the musical creation, the author was inspired by the uniqueness of the holy place in Pata Sari Kuta precisely in Tirtha Campuhan Temple, which was used as the idea of creation. The uniqueness in Tirtha Campuhan Temple is a natural phenomenon of river flow in which there is a mixture of two river streams with seawater to form a new river called Campuhan river. As the name implies, Tirtha Campuhan Temple has a mixture of river flow from dead river mouths (tukad mati, tukad ening) and rivers in Badung, so that the river flow in the temple forms a new river flow (tukad pateluan, tukad mati, and tukad ening). The local community often uses the river water in the temple as tirtha for pengelukatan or cleaning and also used as medicine. From this information, the authors found the idea of making Tirtha Campuhan as a source of inspiration. The author realized the idea of creation in the form of the creation of musical compositions using the media revealed Semar Pagulingan. In this media, Semar Pagulingan applied tirtha and campuhan or mixture in making the tirtha by combining several patets in the Semar Pagulingan gamelan. The purpose of creating this creative music is to build a harmonious atmosphere in the preparation of melodies using patet mixing.Keywords: tirtha campuhan; semar pagulingan; creation music
Mary, Esmeralda, and Frollo: A Hermeneutic Reading of “The Hunchback of Notre Dame – The Musical”
Chrysogonus Siddha Malilang
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/resital.v20i2.3499
Mary, Esmeralda, and Frollo: A Hermeneutic Reading of “The Hunchback of Notre Dame – The Musical”. This essay aims to analyze the multimodal storytelling involving songs in The Hunchback of Notre Dame – The Musical. Two songs, “God Helps the Outcasts” and “Hellfire”, are chosen to be analyzed hermeneutically. The primary analysis is done through the scrutiny over the juxtaposition of different musical styles in the said songs. Comparisons to Victor Hugo’s original text and the Disney animated version – in which the musical is based on – is also done to shed more light on the new layers of interpretation.
Strategi Menghafal Penjarian Tangga Nada dalam Mata Kuliah Instrumen Dasar I
Oriana Tio Parahita Nainggolan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (481.498 KB)
|
DOI: 10.24821/resital.v20i1.3335
Pembelajaran tangga nada merupakan materi dasar dan penting pada pembelajaran piano. Mempelajari tangga nada memberikan manfaat untuk meningkatkan kekuatan dan keterampilan jari dalam bermain piano. Untuk dapat memainkan tangga nada, hal yang harus dilakukan adalah menghafal penggunaan penjarian yang benar. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam menghafal penjarian tangga nada adalah dengan mengelompokan penjarian. Pengelompokan penjarian adalah penggunaan penjarian yang sama pada beberapa tangga nada. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penggunaan strategi pengelompokan penjarian dalam menghafal penjarian tangga nada pada mata kuliah Piano Dasar I. Penelitian ini dilakukan di Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, semester genap tahun akademik 2017/2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengelompokan penjarian mempermudah mahasiswa dalam menghafal penjarian tangga nada pada materi Instrumen Dasar I. Scales Fingering Memorization Strategy in the Basic Instrument Course I. Scales play an important role as a fundamental basic to play piano. Studying scales will give students the opportunity not only developing hands coordination but also building the strength of hands and fingers. In doing the scales, the first thing to do is memorizing fingering on every scale, because every scale has their own fingering. The learning strategy to memorize fingering’s scales is by grouping the same fingering that is use for several scales. This research aims to study the use of grouping fingering towards students learning achievement in the subject of Instrumen Dasar I at Music Education Study Program, Performing Arts Faculty, Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta, second semester of the academic year 2017/2018. As the result of this study, it can be concluded that grouping fingering help the students to memorize scale’s fingering in learning scales.Keywords: piano; fingering; basic instrument
Musik Patrol dan Identitas Sosial GAMAN di Surabaya
Julista Ratna Sari
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/resital.v18i3.2301
Di era global, tradisi lokal tidak selalu mengalami pelemahan budaya. Tradisi musik patrol GAMAN Surabaya adalah salah satu seni yang tumbuh karena proses invented of tradition lewat aktivitas pertunjukan. Menurut penjelasan Hobsbawn (2000), invented of tradition adalah kemunculan tradisi yang difungsikan agar tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang tua atau identik dengan kuno. Tradisi musik patrol dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimana melalui aksi GAMAN (Gerakan Anak Muda Anti Narkoba) menciptakan identitas sosial bernuansa seni? Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dalam menguraikan fenomena aksi GAMAN Surabaya, di mana data diperoleh berdasarkan observasi partisipasi, wawancara mendalam dan dokumentasi yang dilakukan. Hasil penelitian ini menunjukan adanya 1)proses invented of tradition secara berkesinambungan yang didukung penuh oleh proses globalisasi yang ada pada ranah sebuah pertunjukan dari pengembangan tradisi musik patrol sahur lokal, serta 2)kajian yang melibatkan unsur identitas GAMAN yang dipertemukan dalam sosial dan seni.
Bentuk dan Makna Gong Timor dalam Upacara Ritual Tfua Ton di Napan
Sunarto Sunarto;
Agustinus Renaldus Afoan Elu
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (649.409 KB)
|
DOI: 10.24821/resital.v19i3.3511
Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memahami tentang bentuk musik ritmik Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton berdasarkan elemen-elemen irama yang terkandung didalamnya serta memahami lebih dalam tentang makna simbolik Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian fenomenologi. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, bentuk musik Gong Timor terdiri dari beberapa elemen irama yaitu ketukan, aksen dan pola irama. Makna simbolik yang terkandung pada Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton yaitu sebagai simbol komunikasi, keperkasaan, karakter dan identitas masyarakat Desa Napan. Simbol tersebut dimaknai dengan adanya perjuangan masyarakat dalam memperjuangkan kehidupan dan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Dalam ritual tersebut Gong timor dimaknai sebagai penghubung antara masyarakat dengan para leluhur dan alam yang mendiami tempat tersebut. Gong Timor tersebut mamiliki makna simbolik yang hanya bisa dipahami oleh masyarakat setempat. Gong Timor dalam upacara ritual Tfua Ton telah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. The Form and Meaning of Gong Timor on the Ritual Ceremony of Tfua Ton in Napan.This paper aims to understand the rhythmic musical form of Gong Timor in the Tfua Ton ritual based on the rhythm elements contained in it and to understand more deeply the symbolic meaning of Gong Timor in the Tfua Ton ritual. The research method uses descriptive qualitative research design with phenomenology. Research data were collected using observation, interview and document study techniques. The data analysis technique was done through the process of reduction, presentation, and concluding. The results of this study indicate that the Gong Timor music form consists of several elements of rhythm, namely beats, accents and rhythm patterns. The symbolic meaning contained in the Gong Timor in the Tfua Ton ritual ceremony is as a symbol of communication, strength, character, and identity of the people of Napan Village. The symbol is interpreted by the struggle of the community in fighting for lives and economic needs. In the ritual, Gong Timor is interpreted as a liaison among the community and the ancestors, and nature that inhabit the place. The Gong Timor has a symbolic meaning that can only be understood by the local community. Gong Timor in the Tfua Ton ritual ceremony has become an inseparable unit.Keywords: timor gong; tfua ton; symbolic meaning
Musical Aspects for Empowering the Black Characters in the Movie Get Out (2017)
Syeikha Annisa Marasabessy;
Lucia Lusi Ani Handayani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/resital.v20i2.2594
In this 21st century, the representation of Black people in many U.S. movies is still problematic, for the movies do not omit the stereotypical representations of Black people, which are often depicted being disrespectful and unintelligent compared to other races. Many movies have been trying to change them into another perspective, yet they are still unable to completely get rid of those stereotypes. By looking through the cinematic aspects, the dialogues, and the symbols along with the sounds and music used, this paper examines the stereotypes of Black characters the movie Get Out (2017) by Jordan Peele using discourse analysis. The paper observes that the representation of the movie still distinguishes Black from White in the aspects of body over mind in Black masculinity, incivility, and distinctive racial labor. As a result, Black characters are seen inferior compared to White characters despite the movie’s effort to empower them. The use of music also emphasizes the power relation difference between the two races. Overall finding of the paper reveals that the existence of Black stereotypical depiction is still found in a movie empowering Black people showing that race representation should be monitored thoroughly.
Rabab Pasisia sebagai Pertunjukan Seni Tutur di Kabupaten Pesisir Selatan
Hartitom Hartitom
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/resital.v20i1.2588
Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa keberlangsungan dan perubahan pada pertunjukan Rabab Pesisir Selatan, terutama sekali di wilayah Lengayang telah meluas menjadi suatu bentuk seni multifungsi. Nyanyian Sikambang merupakan ungkapan bermakna komunal bagi masyarakat Pesisir Selatan, yang memiliki makna filosofi kehidupan dan pengertian lokal tertentu. Beberapa gaya seni populer ditemukan pula sebagai bagian yang terintegrasi dalam pertunjukan musik tradisi ini. Tujuannya adalah untuk tetap memiliki daya tarik di tengah masyarakat Sumatera Barat dan merupakan pula satu bentuk cara bertahan hidup bagi para seniman dan masyarakat pendukung kesenian Pesisir Selatan. Rabab Pasisia as a Tutur Art Show in The Pesisir Selatan District. The research has come-up with the conclusion that cotinuity and change in Pesisir Selatan rabab performance, particularly in sub-district of Lengayang has been expanded to a multifunctional arts. Sikambang song has become a means of communal expression in Pesisir Selatan, with its certain local meanings and philosophy of life. Some genre of popular-art has been found-out as integrated in the musical style, in order to maintain attractiveness amongst the West Sumatera community and survival for its musicians and its Pesisir Selatan supporting society.Keywords: rabab; pasisia; sikambang; tutur
Disrupsi dalam Musik
Harsawibawa Harsawibawa
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.4 KB)
|
DOI: 10.24821/resital.v18i3.3337
Disrupsi identik dengan keadaan khaos bagi manusia akibat perkembangan teknologi; utamanya gagasan mesin menggantikan manusia. Musik yang merupakan bagian dari kehidupan manusia tidak luput dari khaos yang dihasilkan oleh disrupsi. Karena keadaan khaos itu tidak mengherankan bila banyak orang menduga bahwa disrupsi tidak mungkin memiliki kerangka pikir yang jelas. Tulisan ini, dengan mengadaptasi pemikiran di dalam ilmu teknik berhasil memformulasikan sebuah metodologi untuk memahami disrupsi di dalam musik. Metodologi itu memiliki tiga aspek di dalamnya, yaitu aspek horizontal yang berbicara mengenai percampuran genre musik dengan genre seni lainnya, aspek vertikal yang berbicara mengenai percampuran di dalam genre musik, dan aspek aksiologis yang berbicara mengenai hubungan musik dengan bidang-bidang lain yang bersifat non-musik. Metodologi disrupsi di dalam musik memperlihatkan bahwa disrupsi bukan masalah yang besar; disrupsi merupakan sesuatu yang melekat di dalam musik. Disrupsi adalah sesuatu yang hakiki di dalam musik. Ia tidak mengancam musik, tetapi merupakan sebuah situasi yang memperkaya musik dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan bidang-bidang lain yang bersifat seni maupun non-seni.Disruption in Music. Disruption is identical to chaotic state which is disrupted by the advance of technology especially with its notion of machine replaces men in work. It is said that music as part of men’s life are not immune from those chaotic states. Because of its seemingly chaotic state, it is not surprising that no one thought of disruption as having a clear methodology. By adopting a methodology of technical engeneering, this paper has succeded in forming a methodology which is able to explain musical disruption. This methodology has three aspects, i.e.: horizontal aspect which is about the mixing of musical genre with other art genres; vertical aspect which is about the the mixing of subgenres in musical genre; and axiological aspect which is about the interaction between music and non-music disciplines. The method of disruption in music shows that disruption is not a big problem; disruption is something inherent in music. Disruption is something essential in music. It does not pose a real threat to music; it is a condition which enriches the music in its relations to itself, other arts and non-music disciplines.Keywords: music disruption; liberal arts