cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Balungan Ladrang Slamet Laras Slendro Pathet Manyura Ditinjau dari Konsep Mancapat Indah Ayu Fitria
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.754 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3512

Abstract

Ladrang Slamet bagi masyarakat Jawa tradisonal rupa-rupanya telah dipandang sebagai gending doa keselamatan. Namun, menariknya di dalam Ladrang Slamet tidak dijumpai syair yang secara eksplisit merujuk pada hal-hal yang berkenaan dengan keselamatan. Bahkan syair yang digunakan adalah cakepan salisir, yang juga sering digunakan pada gending-gending yang lain. Merujuk pada permasalahan di atas, studi ini ingin menjawab pertanyaan tentang pemaknaan keselamatan dalam Ladrang Slamet yang diasumsikan terletak pada susunan nada-nadanya. Analisis struktural yang berpijak pada konsep Mancapat dengan pendekatan mitologi digunakan untuk menguraikan struktur balungan Ladrang Slamet laras slendro pathet manyura. Melalui analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa struktur Ladrang Slamet merupakan manifestasi dari sistem relasi dewa-dewa, yakni Siwa-Kama-Brahma-Narada yang mana dalam hubungan relasinya menunjukkan kapasitas Siwa sebagai sumber kekuatan yang mengatur waktu dalam mencapai kesempurnaan.Balungan Ladrang Slamet of the Slendro Pathet Manyura Reviewed from the Mancapat Concept. Ladrang Slamet for traditional Javanese people seems to be as a genre of prayer for salvation. However, interestingly, in Ladrang Slamet there are no poems that explicitly refer to matters relating to salvation. Even the poetry used is cakepan salisir, which is also often used in other songs. The study wants to discuss the meaning of salvation in Ladrang Slamet, which is assumed found in the arrangement of the notes. The structural analysis which is based on the Mancapat concept with a mythological approach is used to describe the structure of balungan Ladrang Slamet, the harmony of slendro pathet manyura. Through this analysis, it was concluded that the structure of Ladrang Slamet is a manifestation of the system of relations of the gods, namely Shiva-Kama-Brahma-Narada which in the relationship shows Shiva’s capacity as a source of power that governs time in achieving perfection.Keywords: ladrang slamet; balungan; mancapat
Konsep Mandheg dalam Karawitan Gaya Surakarta Ananto Sabdo Aji
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i2.3219

Abstract

Tulisan ini mengungkap mandheg sebagai salah satu konsep lokal di dalam karawitan Jawa gaya Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persoalan yang terkait dengan pengertian mandheg, proses terjadinya mandheg, hal-hal yang berhubungan dengan pemaknaan, elemen pembentuk, dan fungsi mandheg di dalam proses penggarapan gending. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan pertunjukan. Analisis dilakukan dengan menafsirkan kembali pemikiran dan pengalaman pengrawit yang diperoleh melalui realitas pragmatik. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa mandheg dimaknai sebagai sajian gending yang berhenti sejenak pada sebuah titik dengan ciri pola kendangan mandheg dan alur yang spesifik setelah mandheg. Mandheg dibagi menjadi dua yaitu mandheg kedah dan mandheg pasrèn, dengan elemen pembentuk, antara lain andhegan gawan, kalimat lagu, variabel melodi balungan, dan sekar. Mandheg bersifat wajib dan fakultatif. Andhegan dan variabel yang spesifik membuat mandheg sebagai pembentuk sajian gending menjadi dinamis. The Concept of Mandheg in Karawitan of Surakarta Style. This research reveals mandheg as one of the local concepts of Javanese music, especially the Surakarta style. Generally, some issues are explored in this research are related to the definition of mandheg and the process of mandheg itself. In more depth, this paper also discusses some point relating to the meaning, forming elements, and functions of mandheg in the process of gending work. These points are explained based on data on the presentation of a musical instrument as a factual data exploration media. The data collection was carried out by literature study, interviews, and also as a participant-observer. The analysis is carried out by reinterpreting the thoughts and experience of the pengrawit through practical reality. The interpretation uses the interpretation method and garap analysis. The explanation and getting conclusions are carried out by the inductive method. The mandheg is interpreted as a gendhing presentation that pauses at a point with the characteristic of the pattern of the kendhangan and the spesific flow after mandheg. The mandheg is divided into two, namely the mandheg kedah and mandheg pasrèn, with the elements of forming andhegan gawan, song sentences, balungan melodic variables, and sekar. The tend of mandheg are mandatory and facultative. Andhegan and specific variables make mandheg as forming a dynamic presentationKeyword: mandheg; javanese gamelan; pasrèn
Musik Iringan Drama Tari Pengembaraan Panji Inukertapati Bermisi Perdamaian dan Toleransi Budi Raharja
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.091 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i1.3459

Abstract

Tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan musik iringan drama tari berjudul “Pengembaraan Panji Inukertapati Bermisi Perdamaian dan Toleransi.” Drama tari tersebut mengisahkan perjalanan Panji Inukertapati menjelajahi beberapa wilayah Nusantara mencari kekasihnya, Dewi Sekartaji. Pembahasan fokus terhadap dinamika pertunjukan, alasan pemilihan bunyi atau lagu, dan hubungan musik dengan gerak tari. Metode interview, observasi, studi literatur, dan studi dokumen digunakanuntuk pengumpulan datanya. Hasil kesimpulan diketahui bahwa musik iringan drama tari tersebut terdiri atas bunyi Dijerido, bunyi aplikasi program DJ (monster dan drum), dan musik-musik daerah (musik Jawa, musik Melayu, musik Papua, dan musik Bali). Musik-musik tersebut dirangkai dalam struktur dramatik kerucut tunggal, digunakan untuk menciptakan atmofir musikal pertunjukan, dan sebagai pedoman penari memeragakan gerak-gerak tari. Hubungannya dengan gerak tari terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu hubungan antara pola melodi dengan pola gerak, hubungan antar frase melodi dengan frase gerak, dan hubungan antar karakter melodi dengan karakter gerak.Accompaniment Music for The Journey of Panji Inukertapati Dance Drama for the Peace and Tolerance Mission. The writing article aimed to describing the accompany music for drama dance entitle Panji Inerktupati Journey in peace and tolerance mission. The performance described Inukertapati the journey and passed some regions in archipelago to looking for his lover, Dewi Sekartaji. The disccusion focus on dinamic performance structure, choosing sound and song reason, and its relationship to the movement. The result is the music consisted of Dijeridu instrument sound combined to electrical sounds and some Indonesian folksong (Javanese music, Malay, Papua, and Balinese music). The musics are arranged in single cone dinamic structure, are used to create performance musical atmosphere and as guidance dancers demonstrate movement; hovewer its relationship to movement are classified in three types: relationship of movement pattern with musical sound pattern; music phrase with movement phrase, and song character with movement character.Keywords: Panji journey; drama dance; musical identity
Interaksi Sosial Tradisi Bagurau Saluang Dendang Minangkabau di Sumatera Barat Rustim Rustim; Wisma Nugraha Ch.R.; G.R. Lono Lastoro Simatupang
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.607 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i1.3509

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang komunikasi pertunjukan tradisi bagurau saluang dendang di Minangkabau sebagai kontak sosio-kultural dan identitas kelompok pagurau. Bagurau merupakan pertunjukan seni tradisi saluang dendang yang melibatkan kelompok-kelompok pagurau untuk berinteraksi dalam pertunjukan. Pendekatan yang digunakan adalah komunikasi pertunjukan yang terbagi pada dua bentuk, yakni komunikasi sebagai proses dan komunikasi sebagai produksi makna. Data penelitian bersumber dari teks-teks pertunjukan berupa dendang, pantun-pantun, dan perilaku interaksi pagurau dalam pertunjukan dan keterhubungannya dengan realitas sosio-kultural masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga pola interaksi antara penyaji dan pagurau pertunjukan, yaitu satu arah (interaksi antara pendendang dengan satu kelompok pagaurau), dua arah (interaksi antara pendendang dengan antar dua kelompok pagurau) dan multi arah (interaksi pendendang dengan banyak kelompok pagurau). Interaksi dalam pertunjukan ini sebagai wadah kontak sosial pagurau untuk berintegrasi yang berfungsi sebagai penyangga kelangsungan pertunjukan dan perwujudan eksistensi kelompok antar komunita pagurau.Social Interaction of Bagurau Saluang Dendang Minangkabau Tradition in West Sumatra. This study examines the performance communication of bagurau saluang tradition of Minangkabau as a socio-cultural contact and the identity of pagurau groups. Bagurau is a performance of saluang dendang tradition which involves pagurau groups to interact during the show. Therefore, the study applies communication performances approach which is divided into two forms, namely communication as a process and communication as the production of meaning. The research data based on performance texts in form of dendang, pantun and pagurau interaction behavior in performance and its relation with the socio-cultural reality of the local community. The research finding shows three patterns of interaction between performer and the pagurau, namely: one-way interaction (between the pendendang with one group of pagaurau), two-ways interaction (between the pendendang with two groups of pagurau) and multi-ways interaction (between  pendendang with many groups of pagurau). Finally, the interaction in this performance is a medium of pagurau social contact to integrate that serves as a buffer of the continuity of the performance and the realization of group existence among pagurau communita.Keywords: interaction; bagurau; saluang dendang
Musik Metal dan Nilai Religius Islam: Tinjauan Estetika Musik Bermuatan Islami dalam Penampilan Purgatory Sujud Puji Nur Rahmat; G.R. Lono Lastoro Simatupang; Harsawibawa Albertus
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.136 KB) | DOI: 10.24821/resital.v18i3.3338

Abstract

Musik metal terkait dengan isu kekerasan, pemberontakan, kesewenang-wenangan. Oleh karenanya, band metal juga lekat dengan citra-citra itu. Namun demikian, Purgatory, band metal dari Jakarta, mencoba memunculkan citra yang berbeda. Mereka mengusung nilai-nilai religius islami dalam karya musik dan pertunjukannya. Dalam tulisan ini, penulis berupaya untuk memahami cara band ini tetap memiliki penggemar dengan isu-isu yang diusung tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi-partisipasi. Penulis mengikuti dalam peristiwa-persitiwa pementasan musik metal dan juga berbagai aktivitas yang mengelilinginya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ada tiga dimensi persepsi estetika yaitu mengusung nilai-nilai religius Islami, memiliki kekhasan yang menampilkan ciri musik metal, dan mensyiarkan nilai-nilai kebaikan yang mendorong Mogerz, yakni para penggemar Purgatory tetap tertarik dengan band itu dan musiknya. Metal Music and Islamic Religious Values: The Aesthetics Review of Islamic Music in Purgatory Performance. Metal music is closely related to violence, rebellion, and abuse. Therefore, the metal band is also associated with those images. Purgatory, a metal band in Jakarta, however, is trying to establish a distinctive image to those of metal bands in common. They are to promote Islamic religious values in their music and performances. In this paper, the writers seek to understand how this band remains having their fans with these issues. This study uses an ethnographic approach. Data collection is carried out by doing the participatory observation. The writers actively got involved in the metal music performances and also other various activities. Based on the research results, it can be concluded that there are three dimensions of the aesthetics perceptions, i.e. carrying Islamic religious values, having a characteristic that displays the characteristics of metal music, and broadcasting good values that support Mogerz, fans of Purgatory, to keep on attracted to the band and their music.Keywords: Islamic metal music; purgatory; mogers
Android-based Music Practice Material Complection Application Rully Aprilia Zandra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.382 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3430

Abstract

Millennials and Z-generation were born in the modern era. Since their birth, they have been surrounded by sophisticated technology. This generation always gets information quickly and limitless. They are very familiar with the internet and applications on smartphones. The most familiar application is generally based on Android. Android must also be used in the world of education. Android applications can be realized as a tool to deliver learning or supervision of learning. Supervision of learning in this development is limited to material comptetion. This development was developed from a paper-based initial device. The device focuses on students' practical skills in music. For this purpose, peer tutoring forms in drill supervision are very necessary. This study used a Research and Development method modified from Borg and Gall in 10 steps. The steps used are research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, dissemination and implementation. The first score validation were 65,25% from the IT validator, 70,50% from the media validator, and 75,25% from the material validator. The mean values in the small group trials were 70.50 and 78.25 in the large group trials. The final score from validation were 92,50% form the IT validation, 77,25% from the media validator, and 84,75% from the material validator. There are three applications that must be developed as recommendations from the results of this research. These three applications are: main teacher applications, admin applications, and student applications. Each application must be connected and updated in real-time.
Pendekatan Orff-schulwerk: Meningkatkan Kemampuan Mengajar Calon Guru di Taman Kanak-Kanak Susi Gustina
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i2.2591

Abstract

Topik dalam artikel ini akan memfokuskan pada penerapan pendekatan Orff-schulwerk bagi mahasiswa sebagai calon-calon guru di sekolah, termasuk TK. Orff-schulwerk dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pendidikan musik. Dalam hubungannya dengan pendidikan dasar, pendekatan ini memfokuskan pada kebutuhan anak dan menumbuhkembangkan musikalitas setiap anak melalui aktivitas-aktivitas dasar (elemental) dalam musik dan gerakan. Pertanyaan yang dikemukakan dalam artikel ini adalah: 1) pendekatan Orff-schulwerk seperti apa yang digunakan calon guru untuk pembelajaran di TK?, 2) manfaat apa saja yang dapat diperoleh calon guru melalui penerapan pendekatan Orff-schulwerk dalam proses pembelajaran?, dan 3) bagaimana calon guru memahami peranan guru dalam pembelajaran di tingkat TK dengan pendekatan Orff-schulwerk?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan. Penemuan dalam penelitian ini adalah para calon guru memahami bahwa: 1) pendekatan Orff-schulwerk yang dapat digunakan berhubungan dengan eksplorasi – imajinasi – kreasi yang melibatkan musik dan gerakan, 2) pendekatan ini bermanfaat untuk menumbuhkembangkan musikalitas siswa dalam proses pembelajaran di TK, dan 3) calon guru yang menerapkan pendekatan ini berperan sebagai fasilitator yang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menstimuli imajinasi dan kreasi siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendekatan Orff-schulwerk sebaiknya dikuasai oleh para calon guru yang mengajar di sekolah, termasuk TK. Dengan dimilikinya pemahaman atas pendekatan ini, baik secara teoretis maupun praktis, para calon guru tidak hanya meningkatkan pengetahuan mereka untuk menstimuli imajinasi dan kreativitas siswa TK dengan musik dan gerakan, tetapi juga mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu pembentukan karakter siswa di sekolah.The Approach of Orff-Schulwerk for Prospective Music Teachers in Kindergarten Schools. The topic in this article focuses on the application of Orff-schulwerk for university students as prospective teachers in school, including kindergarten. Orff-schulwerk can be seen as an approach to music education. In related to primary education, this approach focuses on the children needs and develops children musicality through necessary activities (elemental) in music and movement. Some questions in this article are: 1) what kind of Orff-schulwerk that can be used by prospective teachers in the learning process at kindergarten? 2) what benefits can be obtained by teacher candidates through the application of the Orff-schulwerk approach? And 3) how do prospective teachers who use this approach can understand their role in learning? The method used in this study is action research. The findings in this research are prospective teachers understand that: 1) Orff-schulwerk can be used in related to exploration – imagination – creation that involving music and movement; 2) this approach is useful for developing student musicality in the learning process in kindergarten; and 3) in this approach, prospective teachers are acted as facilitators who can create an atmosphere of learning that stimulate students’ imagination and creation. This study concludes that the Orff-schulwerk approach should be mastered by prospective teachers who teach in schools, including kindergarten. By having an understanding of this approach, both theoretically and practically, prospective teachers not only enhance their knowledge but also support the national education goals, namely the students’ character building in schools.Keywords:  Orff-Schulwerk; music education; kindergarten teachers
Ghending Dangdut: Artikulasi Budaya Masyarakat Madura dalam Seni Tabbhuwan panakajaya hidayatullah
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.029 KB) | DOI: 10.24821/resital.v18i3.2244

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian antropologi musik dengan metode etnografi yang menelaah tentang artikulasi budaya masyarakat Madura melalui ghendhing dangdut dalam seni tabbhuwân Madura. Sorotan dalam penelitian ini adalah perihal hubungan musik dan masyarakat: bagaimana masyarakat Madura memaknai budayanya melalui seni tabbhuwân, dan bagaimana mereka mengekspresikannya. Secara khusus akan membaca bentuk ekspresi simboliknya melalui analisis musikologis bentuk-bentuk musikal garap dangdut pada tabbhuwân Madura. Melalui analisis musikologis, akan dilihat pola-pola, kaidah dan kecenderungan musikal yang digunakan oleh masyarakat Madura dan nantinya akan dikomparasikan dengan pola-pola garap dangdut pada gamelan Jawa.  Penelitian ini menggunakan pendekatan multidisipliner yang mewacanakan teori musikologi dengan antropologi budaya. Temuan penelitian ini adalah 1) Berdasarkan analisis musikologis, dapat dikatakan bahwa ghendhing dangdut dalam budaya Madura bersifat lebih luwes, longgar dan dinamis dibanding dengan budaya Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura merupakan masyarakat yang dinamis, inklusif, ulet, tegas dan adaptatif. Mereka juga mampu merespon perubahan jaman, mempertanyakan kemapanan modernitas dan ke’adiluhung’-an budaya; 2) Bentuk tabbhuwân yang dinamis adalah cara masyarakat Madura memaknai budaya dan realitas hari ini (kontemporer). Tabbhuwân merupakan wujud interaksi budaya Madura dengan budaya lain, pemaknaan atas modernitas serta wujud konservasi budaya lokal.
Memahami Lelangan Beksan Banjaransari melalui Elemen Musikal Karawitan Hermien Kusmayati; Raharja Raharja
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.42 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i1.3510

Abstract

Karya tari klasik Pura Pakualaman Yogyakarta diciptakan dengan memasukkan unsur gerak, busana, alur cerita, dan musik pendukung yang sarat makna. Demikian pula dengan Lelangen Beksan Banjaransari yang digali dari Babad Segaluh. Permasalahan timbul pada upaya masyarakat untuk memahami pesan yang termuat dalam karya tari tersebut. Berpijak pada pengamatan yang dilakukan menunjukkan bukti, bahwa masyarakat belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang karawitan tari. Tulisan ini mengungkap melalui aspek musikal dan non-musikal yang diperlukan untuk memahami tarian yang dimaksud. Cara tersebut, juga diharapkan dapat dipergunakan sebagai landasan untuk memahami tarian lainnya.Understanding Lelangan Beksan Banjaransari through Karawitan Musical Elements. Classical dance of Pakualaman palace of Yogyakarta was created by incorporating meaningful elements of motion, costume, storyline and music. Likewise with Lelangen Beksan Banjaransari excavated from Babad Segaluh. Problems arise in the community’s efforts to understand the message contained in the dance work. Based on observations shows evidence, that the community does not have enough knowledge about dance music. This paper reveals through the musical and non-musical aspects needed. This method is also expected to be used as a basis to understand other dances.Keywords: dance; Pakualaman; beksan Banjaransari; karawitan
Musik Senggayung Desa Gerai Kabupaten Ketapang : Kajian Bentuk Dan Identitas Budaya Harriska Harriska
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.038 KB) | DOI: 10.24821/resital.v19i3.3336

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk musik senggayung yang mencerminkan identitas budaya masyarakat desa Gerai Kabupaten Ketapang. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian studi kasus interpretatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Serta menggunakan teknik triangulasi sumber dan data untuk menjaga validitasnya. Sedangkan teknik analisis data dilakukan melaui proses reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan (verifikasi). Hasil penelitian ini menunjukkan, musik senggayung merupakan musik yang mencerminkan identitas budaya masyarakat desa Gerai Kabupaten Ketapang. Musik senggayung hanya ada di daerah gerai, musik unik yang tidak dimiliki daerah lain. Jika dilihat dari organologinya, senggayung tergolong kedalam alat musik idiophone yang terbuat dari bambu. Yang membuat menarik, penggunaan alat musik senggayung hanya bisa untuk sekali pakai pada satu upacara, tidak bisa digunakan lagi untuk upacara lainnya jika jarak waktu upacara lebih dari 3-4 hari. Hal ini berkaitan dengan timbre yang dihasilkan oleh bambu. Musik senggayung biasa digunakan untuk mengiringi proses upacara-upacara masyarakat desa Gerai. Beberapa faktor-faktor pembentuk identitas budaya yaitu (1) kepercayaan, (2) bahasa, (3) pola prilaku, sudah tercermin dalam senggayung.This study aims to analyze the shape of senggayung music that reflects the cultural identity of the village community of Ketapang regency. The research method used qualitative descriptive with interpretative case study research design. The data were collected by observation, interview, and document study. As well as using triangulation techniques of sources and data to maintain its validity. While the data analysis technique is done through the process of reduction, presentation, and withdrawal of conclusion (verification). The results of this study indicate, senggayung music is a music that reflects the cultural identity of the village community of Ketapang regency. Senggayung music only exist in the area of outlets, unique music that is not owned by other regions. When viewed from the organology, senggayung belong to idiophone musical instruments made of bamboo. What makes it interesting, the use of senggayung musical instruments can only be for one use at a ceremony, can not be used anymore for other ceremonies if the distance of ceremony time more than 3-4 days. This is related to the timbre produced by bamboo. Senggayung music is used to accompany the process of ceremonies of Gerai village community. Some of the factors that make up the cultural identity are (1) belief, (2) language, (3) behavior pattern, already reflected in senggayung.Keywords: Senggayung, Cultural Identity

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue