cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 303 Documents
Sinunö Falöwa sebagai Pelegitimasi Upacara Adat Perkawinan pada Masyarakat Nias di Kota Gunungsitoli: Kajian Konteks dan Kontinuitas Happy Majesty Waruwu; Mauly Purba; Dardanila Dardanila
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.662 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.4078

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli. Dua hal yang menjadi fokus diskusi pada tulisan ini adalah, pertama, terkait tradisi nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa, dan kedua, terkait kepercayaan lokal masyarakat Nias yang dikenal sebagai sanömba adu, penyembah Patung. Dengan mengaplikasikan pendekatan etnomusikologis dan metode penelitian deskriptif komparatif, artikel ini mengungkapkan: (i) ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli terlegitimasi lewat penyajian nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa; (ii) sebagai aspek yang melegitimasi ritual perkawinan, sinunö falöwa merefleksikan aspek-aspek kepercayaan lokal, dan (iii) keberadaan sinunö falöwa menggambarkan keberlanjutan kepercayaan kuno masyarakat Nias yang eksis melalui proses transmisi sinunö falöwa dan harus dilaksanakan melalui ritual perkawinan, falöwa.Sinunö Falöwa As Legitimacy of Indigenous Marriage Ceremony in Nias Community in Gunungsitoli City: Study of Context and Continuity. This paper presents an overview of marriage rituals of the Nias community in Gunungsitoli. Two things become the main focus of the discussion, namely the one related to the tradition of marriage singing known as sinunö falöwa, and the one related to the local beliefs of the Nias community known as sanömba adu, worshipers of the Statue. By applying the ethnomusicological approaches and comparative descriptive research methods, this article reveals: (i) marriage rituals in the Nias community in Gunungsitoli which are legitimized through the presentation of marriage songs known as sinunö falöwa; aspects of local beliefs, and (ii) the existence of sinunö falöwa illustrates the continuation of the ancient beliefs of the Nias community that has been existed through the transmission process of sinunö falöwa and must be carried out through marriage rituals, falöwa.Keywords: sinunö falöwa; sanömba adu; Nias tribe
Sinunö Falöwa sebagai Pelegitimasi Upacara Adat Perkawinan pada Masyarakat Nias di Kota Gunungsitoli: Kajian Konteks dan Kontinuitas Waruwu, Happy Majesty; Purba, Mauly; Dardanila, Dardanila
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.662 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.4078

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli. Dua hal yang menjadi fokus diskusi pada tulisan ini adalah, pertama, terkait tradisi nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa, dan kedua, terkait kepercayaan lokal masyarakat Nias yang dikenal sebagai sanömba adu, penyembah Patung. Dengan mengaplikasikan pendekatan etnomusikologis dan metode penelitian deskriptif komparatif, artikel ini mengungkapkan: (i) ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli terlegitimasi lewat penyajian nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa; (ii) sebagai aspek yang melegitimasi ritual perkawinan, sinunö falöwa merefleksikan aspek-aspek kepercayaan lokal, dan (iii) keberadaan sinunö falöwa menggambarkan keberlanjutan kepercayaan kuno masyarakat Nias yang eksis melalui proses transmisi sinunö falöwa dan harus dilaksanakan melalui ritual perkawinan, falöwa.Sinunö Falöwa As Legitimacy of Indigenous Marriage Ceremony in Nias Community in Gunungsitoli City: Study of Context and Continuity. This paper presents an overview of marriage rituals of the Nias community in Gunungsitoli. Two things become the main focus of the discussion, namely the one related to the tradition of marriage singing known as sinunö falöwa, and the one related to the local beliefs of the Nias community known as sanömba adu, worshipers of the Statue. By applying the ethnomusicological approaches and comparative descriptive research methods, this article reveals: (i) marriage rituals in the Nias community in Gunungsitoli which are legitimized through the presentation of marriage songs known as sinunö falöwa; aspects of local beliefs, and (ii) the existence of sinunö falöwa illustrates the continuation of the ancient beliefs of the Nias community that has been existed through the transmission process of sinunö falöwa and must be carried out through marriage rituals, falöwa.Keywords: sinunö falöwa; sanömba adu; Nias tribe
Metode ‘TaTuPa’ Tabuh Tubuh Padusi sebagai Musik Internal Visualisasi Koreografi NeoRandai Sri Rustiyanti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.133 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3394

Abstract

Setiap koreografi selalu mengandung dua aspek yang tidak terpisahkan antara isi dan bentuk. Di satu pihak, koreografi disikapi sebagai ‘craft’ yang menekankan prinsip-prinsip objektif dan aturan komposisi. Di lain pihak, hal tersebut merupakan‘proses’ yang menekankan cara kerjanya yang kreatif. Tujuan penelitian ini menawarkan metode TaTuPa (Tabuh Tubuh Padusi) yaitu sebuah koreografi sebagai karya seni yang merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam eksplorasi musik internal yang dibangun oleh tubuh penari itu sendiri, baik dari suara vokal, petik jari, tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, maupun hentakan kaki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode TaTupa yang mengkombinasikan antara isi dan bentuk menjadi sebuah kesatuan yang utuh dari eksplorasi gerak menghasilkan irama musik internal. NeoRandai Minang sebagai kreativitas seniman dapat dipahami sebagai suatu gejala sosial ‘kekinian’ yang berdimensi ‘mikro’ sehingga menjadi salah satu di antara berbagai kemungkinan cara memahami, melihat, dan mengkaji yang sebenarnya sangat kompleks ini. Pada saat ini, pandangan orang tentang karya seni tari selalu mengalami perkembangan dan pergeseran sesuai atau sejalan dengan konsep estetik yang muncul pada setiap zaman. Pandangan yang menyatakan bahwa estetik itu sesungguhnya berkaitan atau mengkaji sesuatu yang indah, kini bergeser sehingga perlu dikoreksi kembali mengingat kecenderungan karya-karya seni tari-tari kontemporer tidak lagi hanya sekedar menawarkan pemilihan gerak sebagai keindahan, tetapi lebih diutamakan pada makna dan aksi mental.The ‘TaTuPa’ Method of Tabuh Tubuh Padusi as an Internal Music Visualization of NeoRandai Choreography. Each choreography always contains two inseparable aspects between content and form. On the one hand, it behave choreography as 'craft' which emphasizes objective principles and rules of composition. On the other hand as a 'process' which emphasizes creative ways of working. The purpose of this study is to offer the TaTuPa Method ( Tabuh Tubuh Padusi ) is a choreography as an art work which is one form of creativity in the exploration of internal music built by the body of the dancer itself, both from vocal sounds, pick fingers, applause, chest pat, pat thighs, and foot pounding. The results of this study the TaTupa Method by combining content and form into a whole unity from exploration of motion that produces internal music rhythms. Neo Randai Minang as an artist's creativity, can be understood as a social phenomenon of 'contemporary' with a 'micro' dimension, which is one of the various possible ways of understanding, seeing, and studying what is actually very complex. At this time people's views on dance art always experience development and shift according to or in line with the aesthetic concepts that arise in every age. The view that states that aesthetics are actually relating or reviewing something beautiful, is now shifted and corrected again considering the tendency of contemporary dance works to no longer merely offer the selection of motion as beauty, but more prioritize meaning and mental action.Keywords: tatupa method; padusi; choreography; music internal; neorandai
Metode ‘TaTuPa’ Tabuh Tubuh Padusi sebagai Musik Internal Visualisasi Koreografi NeoRandai Rustiyanti, Sri
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.133 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3394

Abstract

Setiap koreografi selalu mengandung dua aspek yang tidak terpisahkan antara isi dan bentuk. Di satu pihak, koreografi disikapi sebagai ‘craft’ yang menekankan prinsip-prinsip objektif dan aturan komposisi. Di lain pihak, hal tersebut merupakan‘proses’ yang menekankan cara kerjanya yang kreatif. Tujuan penelitian ini menawarkan metode TaTuPa (Tabuh Tubuh Padusi) yaitu sebuah koreografi sebagai karya seni yang merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam eksplorasi musik internal yang dibangun oleh tubuh penari itu sendiri, baik dari suara vokal, petik jari, tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, maupun hentakan kaki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode TaTupa yang mengkombinasikan antara isi dan bentuk menjadi sebuah kesatuan yang utuh dari eksplorasi gerak menghasilkan irama musik internal. NeoRandai Minang sebagai kreativitas seniman dapat dipahami sebagai suatu gejala sosial ‘kekinian’ yang berdimensi ‘mikro’ sehingga menjadi salah satu di antara berbagai kemungkinan cara memahami, melihat, dan mengkaji yang sebenarnya sangat kompleks ini. Pada saat ini, pandangan orang tentang karya seni tari selalu mengalami perkembangan dan pergeseran sesuai atau sejalan dengan konsep estetik yang muncul pada setiap zaman. Pandangan yang menyatakan bahwa estetik itu sesungguhnya berkaitan atau mengkaji sesuatu yang indah, kini bergeser sehingga perlu dikoreksi kembali mengingat kecenderungan karya-karya seni tari-tari kontemporer tidak lagi hanya sekedar menawarkan pemilihan gerak sebagai keindahan, tetapi lebih diutamakan pada makna dan aksi mental.The ‘TaTuPa’ Method of Tabuh Tubuh Padusi as an Internal Music Visualization of NeoRandai Choreography. Each choreography always contains two inseparable aspects between content and form. On the one hand, it behave choreography as 'craft' which emphasizes objective principles and rules of composition. On the other hand as a 'process' which emphasizes creative ways of working. The purpose of this study is to offer the TaTuPa Method ( Tabuh Tubuh Padusi ) is a choreography as an art work which is one form of creativity in the exploration of internal music built by the body of the dancer itself, both from vocal sounds, pick fingers, applause, chest pat, pat thighs, and foot pounding. The results of this study the TaTupa Method by combining content and form into a whole unity from exploration of motion that produces internal music rhythms. Neo Randai Minang as an artist's creativity, can be understood as a social phenomenon of 'contemporary' with a 'micro' dimension, which is one of the various possible ways of understanding, seeing, and studying what is actually very complex. At this time people's views on dance art always experience development and shift according to or in line with the aesthetic concepts that arise in every age. The view that states that aesthetics are actually relating or reviewing something beautiful, is now shifted and corrected again considering the tendency of contemporary dance works to no longer merely offer the selection of motion as beauty, but more prioritize meaning and mental action.Keywords: tatupa method; padusi; choreography; music internal; neorandai
Aksiologi Musikal pada Pertunjukan Tari Tradisional Linda dalam Ritual Adat Keagamaan Karia di Daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Firmansyah Firmansyah; GR Lono Lastoro Simatupang; AM Hermien Kusmayati; Wiwik Sushartami
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3817

Abstract

Esensi dari penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai musikal yang melekat di balik pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual adat keagamaan Karia di daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang unik dalam penelitian ini adalah alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual Karia, para pemusik yang mayoritas dilakoni oleh kaum perempuan Muna, konsep musik yang sedikit berbeda dengan konsep musik pada umumnya karena cenderung disharmoni, dan perspektif orang Muna yang mayoritas beragama Islam terhadap musik. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa, musik mempunyai nilai-nilai khusus tersendiri dalam sudut pandang orang Muna.Musical Axiology in Linda's Traditional Dance Performance in the Traditional Karia Religious Ritual in the Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. The essence of this research is to reveal the musical values inherent behind Linda's traditional dance performance in the traditional Karia religious rituals in the Muna Regency area of Southeast Sulawesi Province. What is unique in this study is the musical instrument used in Linda's traditional dance performances in the Karia ritual, the musicians who are predominantly performed by Muna women, the concept of music is slightly different from the concept of music in general because it tends to be disharmony, and the perspective of the majority of Muna people Muslim towards music. From the results of the study concluded that, music has its own special values in the point of view of the Muna people.Keywords:  music; linda traditional dance; ritual karia
Aksiologi Musikal pada Pertunjukan Tari Tradisional Linda dalam Ritual Adat Keagamaan Karia di Daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Firmansyah, Firmansyah; Lastoro Simatupang, GR Lono; Kusmayati, AM Hermien; Sushartami, Wiwik
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3817

Abstract

Esensi dari penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai musikal yang melekat di balik pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual adat keagamaan Karia di daerah Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal yang unik dalam penelitian ini adalah alat musik yang digunakan dalam pertunjukan tari tradisional Linda dalam ritual Karia, para pemusik yang mayoritas dilakoni oleh kaum perempuan Muna, konsep musik yang sedikit berbeda dengan konsep musik pada umumnya karena cenderung disharmoni, dan perspektif orang Muna yang mayoritas beragama Islam terhadap musik. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa, musik mempunyai nilai-nilai khusus tersendiri dalam sudut pandang orang Muna.Musical Axiology in Linda's Traditional Dance Performance in the Traditional Karia Religious Ritual in the Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. The essence of this research is to reveal the musical values inherent behind Linda's traditional dance performance in the traditional Karia religious rituals in the Muna Regency area of Southeast Sulawesi Province. What is unique in this study is the musical instrument used in Linda's traditional dance performances in the Karia ritual, the musicians who are predominantly performed by Muna women, the concept of music is slightly different from the concept of music in general because it tends to be disharmony, and the perspective of the majority of Muna people Muslim towards music. From the results of the study concluded that, music has its own special values in the point of view of the Muna people.Keywords:  music; linda traditional dance; ritual karia
Anthony Seeger’s Contribution to Ethnomusicology: A Bio-Bibliography of the Why Suyá Sing’s (1987) Author Andre Indrawan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.263 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3811

Abstract

This research is a bio-bibliographical study of an American ethnomusicologist, Anthony Seeger. Issues discussed include seeking information about Seeger as an important figure, his contribution to scientific development, music education, music history, and basic knowledge of ethnomusicology. Since the data are in the form of written sources that not only come from his works but also the works of others who cite his works so that literature review is used as a research method to obtain answers to the problems raised. This study concluded that the anthropological approach greatly influenced the characteristics of Seeger’s field research in studying the Suyá’s music in the interior part of Brazil. The report from the research turned out to be an essential source for the development of Seeger’s theories of musical anthropology. From the success of Seeger, we could learn how important fieldwork is in ethnomusicology. Kontribusi Anthony Seeger Terhadap Etnomusikologi: Sebuah Bio-Bibliografi Pengarang The Why Suya’ Sing (1987). Penelitian ini adalah studi bio-bibliografi seorang etnomusikolog Amerika, Anthony Seeger. Masalah yang dibahas termasuk mencari informasi tentang Seeger sebagai tokoh penting, kontribusinya terhadap pengembangan ilmiah, pendidikan musik, sejarah musik, dan pengetahuan dasar tentang etnomusikologi. Karena semua data tersebut dalam bentuk sumber tertulis yang tidak hanya berasal dari karya-karyanya tetapi juga karya-karya orang lain yang mengutip karya-karyanya, sehingga tinjauan pustaka digunakan sebagai metode penelitian untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang diajukan. Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan antropologis sangat mempengaruhi karakteristik penelitian lapangan Seeger dalam mempelajari musik Suyá di bagian interior Brasil. Laporan dari penelitian ini ternyata menjadi sumber penting untuk pengembangan teori antropologi musikal Seeger. Dari keberhasilan Seeger, kita bisa belajar betapa pentingnya kerja lapangan dalam etnomusikologi.Kata kunci: etnomusikologi; kerja lapangan; antropologi musikal; Seeger; Suyá 
Anthony Seeger’s Contribution to Ethnomusicology: A Bio-Bibliography of the Why Suyá Sing’s (1987) Author Indrawan, Andre
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.263 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3811

Abstract

This research is a bio-bibliographical study of an American ethnomusicologist, Anthony Seeger. Issues discussed include seeking information about Seeger as an important figure, his contribution to scientific development, music education, music history, and basic knowledge of ethnomusicology. Since the data are in the form of written sources that not only come from his works but also the works of others who cite his works so that literature review is used as a research method to obtain answers to the problems raised. This study concluded that the anthropological approach greatly influenced the characteristics of Seeger’s field research in studying the Suyá’s music in the interior part of Brazil. The report from the research turned out to be an essential source for the development of Seeger’s theories of musical anthropology. From the success of Seeger, we could learn how important fieldwork is in ethnomusicology. Kontribusi Anthony Seeger Terhadap Etnomusikologi: Sebuah Bio-Bibliografi Pengarang The Why Suya’ Sing (1987). Penelitian ini adalah studi bio-bibliografi seorang etnomusikolog Amerika, Anthony Seeger. Masalah yang dibahas termasuk mencari informasi tentang Seeger sebagai tokoh penting, kontribusinya terhadap pengembangan ilmiah, pendidikan musik, sejarah musik, dan pengetahuan dasar tentang etnomusikologi. Karena semua data tersebut dalam bentuk sumber tertulis yang tidak hanya berasal dari karya-karyanya tetapi juga karya-karya orang lain yang mengutip karya-karyanya, sehingga tinjauan pustaka digunakan sebagai metode penelitian untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang diajukan. Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan antropologis sangat mempengaruhi karakteristik penelitian lapangan Seeger dalam mempelajari musik Suyá di bagian interior Brasil. Laporan dari penelitian ini ternyata menjadi sumber penting untuk pengembangan teori antropologi musikal Seeger. Dari keberhasilan Seeger, kita bisa belajar betapa pentingnya kerja lapangan dalam etnomusikologi.Kata kunci: etnomusikologi; kerja lapangan; antropologi musikal; Seeger; Suyá 
Pembelajaran Karawitan Jawa Tingkat Dasar Berbasis Multimedia dalam Belended Learning Budi Raharja
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.519 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3842

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil perancangan multimedia pembelajaran karawitan Jawa tingkat dasar dan penerapannya pada pembelajaran campuran antara tatap muka dengan pembelajaran mandiri. Multimedia pembelajaran ini dirancang untuk mengatasi masalah ketidaksiapan sebagian besar mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam mengikuti kelas praktik (bersama) karawitan Jawa akibat tidak tersedianya gamelan untuk belajar mandiri yang mudah diakses. Multimedia dibuat melalui tahapan analisis kebutuhan, desain produk, pengembangan desain produk, implementasi, evaluasi, penilaian produk serta diujicobakan pada pembelajaran semester gasal tahun akademi 2019-2020 kelas A. Hasilnya, penggunaan multimedia pembelajaran tersebut dapat meningkatkan frekuensi belajar mahasiswa, mempersingkat waktu penguasaan materi ajar, dan meningkatkan kualitas hasil pembelajarannya Multimedia-Based of Javanese Basic Karawitan Learning in Blended Learning. This article aims to describe the results of the multimedia design of Javanese musical learning at the elementary level and its application to blended learning between face-to-face and independent learning. The learning multimedia is designed to overcome the problem of most students of the Performing Arts Education Department, Institut Seni Indonesia Yogyakarta who joined the Javanese practical class due to the unavailability of gamelan for self-access study. Multimedia was made through the stages of needs analysis, product design, product design development, implementation, evaluation, and product assessment which were tested for class A on the odd semester of 2019-2020 academic year. As a result, the use of multimedia learning can increase the students’ learning frequency, shorten the mastery time of the material teaching, and improve the quality of learning outcomes.Keywords: blended learning; Javanese karawitan; multimedia
Pembelajaran Karawitan Jawa Tingkat Dasar Berbasis Multimedia dalam Belended Learning Raharja, Budi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.519 KB) | DOI: 10.24821/resital.v20i3.3842

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil perancangan multimedia pembelajaran karawitan Jawa tingkat dasar dan penerapannya pada pembelajaran campuran antara tatap muka dengan pembelajaran mandiri. Multimedia pembelajaran ini dirancang untuk mengatasi masalah ketidaksiapan sebagian besar mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam mengikuti kelas praktik (bersama) karawitan Jawa akibat tidak tersedianya gamelan untuk belajar mandiri yang mudah diakses. Multimedia dibuat melalui tahapan analisis kebutuhan, desain produk, pengembangan desain produk, implementasi, evaluasi, penilaian produk serta diujicobakan pada pembelajaran semester gasal tahun akademi 2019-2020 kelas A. Hasilnya, penggunaan multimedia pembelajaran tersebut dapat meningkatkan frekuensi belajar mahasiswa, mempersingkat waktu penguasaan materi ajar, dan meningkatkan kualitas hasil pembelajarannya Multimedia-Based of Javanese Basic Karawitan Learning in Blended Learning. This article aims to describe the results of the multimedia design of Javanese musical learning at the elementary level and its application to blended learning between face-to-face and independent learning. The learning multimedia is designed to overcome the problem of most students of the Performing Arts Education Department, Institut Seni Indonesia Yogyakarta who joined the Javanese practical class due to the unavailability of gamelan for self-access study. Multimedia was made through the stages of needs analysis, product design, product design development, implementation, evaluation, and product assessment which were tested for class A on the odd semester of 2019-2020 academic year. As a result, the use of multimedia learning can increase the students’ learning frequency, shorten the mastery time of the material teaching, and improve the quality of learning outcomes.Keywords: blended learning; Javanese karawitan; multimedia

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue