cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024" : 6 Documents clear
Peran Aransemen Gending Jagung-Jagung dalam Meningkatkan Kemampuan Menabuh Gamelan: Sebuah Pendekatan Edukatif Purnama, Bayu; Satoto, Angga Bimo
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13252

Abstract

Orang yang mendengarkan gending Jawa selain merasakan keselarasan tabuhan juga akan mendapatkan berbagai ajaran atau informasi dari syair lagu yang didengarkannya. Salah satu bentuk ajaran dalam gending-gending Jawa ialah sebagai media pembelajaran suatu ilmu tertentu, akan tetapi penggunaan gending sangat jarang dijadikan sebagai media pembelajaran menabuh gamelan itu sendiri. Tujuan dari aransemen ladrang Jagung-Jagung ini ialah sebagai alternatif media pembelajaran tentang teknik menabuh gamelan yang benar. Metode yang digunakan dalam karya ini menggunakan metode perancangan dalam penelitian terapan yang terdiri dari : (1) eksplorasi, (2) improvisasi, (3) pembentukan dan (4) sosialisasi. Hasil dari karya aransemen ini menjelaskan unsur vokal menjadi fokus utama dalam pembuatan karya ini. Komposisi aransemen ini mengungkapkan beberapa teknik memainkan gamelan yang benar yang terdiri dari dimensi sikap yaitu : wiraga (ketepatan dan keterampilan), wirama (irama), wirasa (perasaan) dan dari dimensi hasil bunyi pada instrument tertentu, seperti instrumen balungan, kendang, suling, rebab, dan gambang.The Role of Gending Jagung-Jagung Arrangement in Enhancing Gamelan Performance Skills: An Educational StrategyAbstractThose who engage with Javanese music will not only perceive the harmonious nature of the music itself, but will also gain insight from the lyrics of the songs they listen to. One pedagogical approach in Javanese music is to utilize music as a conduit for imparting specific knowledge. However, the use of music as a means of teaching gamelan music itself is a relatively uncommon phenomenon. The objective of this ladrang Jagung-Jagung arrangement is to serve as an alternative pedagogical tool for learning the proper techniques for playing the gamelan. This work employs a design method in applied research, comprising the following stages: The four stages of the research process are as follows: (1) exploration, (2) improvisation, (3) formation, and (4) socialization. The outcome of this arrangement demonstrates that the vocal element is the primary focus. The composition of this arrangement reveals several techniques for playing the gamelan correctly, which can be divided into two dimensions: attitude and sound. The attitude dimension includes wiraga (accuracy and skill), wirama (rhythm), and wirasa (feeling). The sound dimension encompasses the specific techniques required for certain instruments, such as balungan, kendang, suling, rebab, and gambang.Keywords: arrangement; gending; ladrang Jagung-Jagung; learning media
Metode Kreatif dalam Penciptaan Musik Etnis: Memadukan Tradisi dan Modernitas Blothong, Ari Sumarsono; Sukotjo, Sukotjo
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13867

Abstract

Musik etnis kaya akan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di era modern, musik ini mengalami perkembangan yang signifikan berkat berbagai inovasi. Inovasi dan tradisi adalah dua aspek yang sering berinteraksi dan saling melengkapi dalam seni dan karya kreatif. Dalam banyak situasi, inovasi berperan sebagai penyegaran dan pengembangan dari tradisi yang ada, sementara tradisi menyediakan dasar yang kuat dan kaya bagi inovasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk menyelami makna dan pengalaman subjektif dalam konteks musik etnis, sehingga sangat sesuai untuk memahami interaksi antara inovasi dan tradisi dalam karya kreatif. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, studi kasus, observasi partisipatif, analisis data, dan validasi data. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana perpaduan elemen tradisional dalam musik etnis dengan pendekatan modern menghasilkan karya-karya kreatif yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga relevan bagi audiens saat ini. Dengan memanfaatkan teknologi, teknik komposisi kontemporer, dan kolaborasi lintas budaya, musik etnis mengalami transformasi yang membuka jalan bagi bentuk ekspresi baru. Ethnic Music in the Modern Era: Innovation and Tradition in Creative WorksAbstractEthnic music is rich in traditions passed down from generation to generation. In modern times, however, this music has undergone significant development thanks to various innovations. Innovation and tradition are two aspects that often interact and complement each other in art and creative work. In many situations, innovation acts as a refreshment and development of existing traditions, while tradition provides a strong and rich foundation for innovation. This study uses qualitative methods that allow researchers to delve into subjective meanings and experiences in the context of ethnic music, making it particularly suited to understanding the interaction between innovation and tradition in creative work. In addition, data collection was conducted through interviews, case studies, participant observation, data analysis, and data validation. This paper explores how the fusion of traditional elements in ethnic music with modern approaches results in creative works that not only maintain cultural identity, but are also relevant to today's audiences. Through the use of technology, contemporary compositional techniques, and cross-cultural collaborations, ethnic music is undergoing a transformation that paves the way for new forms of expression.Keywords: Ethnic Music; Innovation; Tradition; Creative Work
Pengembangan Kaulinan Barudak sebagai Atraksi Budaya Berbasis Musik Tradisional untuk Meningkatkan Pariwisata Jawa Barat saryanto, Saryanto; Saputra, Dani Nur; Wijaya, Barkah Bangkit; srimoko, gandung joko; Fatimah, Mutiara Dewi
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13945

Abstract

Kaulinan Barudak merupakan permainan rakyat khas Jawa Barat yang dipadukan dengan elemen musik tradisional dan lagu-lagu lokal. Kesenian ini tidak hanya merepresentasikan kearifan budaya lokal tetapi juga memiliki potensi besar dalam memperkuat identitas budaya dan daya tarik wisata. Namun, eksistensinya saat ini semakin memudar akibat minimnya inovasi, rendahnya minat generasi muda, serta kurangnya perhatian dalam mengemasnya sebagai bagian dari atraksi wisata budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Kaulinan Barudak sebagai atraksi wisata budaya berbasis musik tradisional guna meningkatkan daya tarik dan nilai destinasi wisata di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku budaya, seniman lokal, serta pengelola pariwisata, dan studi pustaka untuk menggali nilai historis, elemen estetis, serta potensi komersial dari kesenian ini. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-interpretatif untuk memahami bagaimana revitalisasi Kaulinan Barudak dapat diintegrasikan dalam strategi pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan strategis, di antaranya: penyelenggaraan festival budaya tahunan yang melibatkan komunitas lokal, program pelatihan interaktif untuk generasi muda, penyelenggaraan lokakarya (workshop) musik dan permainan tradisional, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi dan promosi. Selain itu, pengemasan atraksi yang lebih kreatif dan menarik—seperti kolaborasi Kaulinan Barudak dengan pertunjukan musik tradisional yang lebih dinamis—dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Temuan ini mengindikasikan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak tidak hanya mampu memperkuat identitas budaya lokal tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan daya tarik wisata budaya di Jawa Barat. Implementasi strategi ini perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata, untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan pengembangan kesenian ini sebagai aset wisata yang bernilai tinggi. Dengan demikian, Kaulinan Barudak memiliki potensi untuk menjadi ikon wisata budaya Jawa Barat yang mampu menarik minat wisatawan serta mempromosikan kearifan lokal ke panggung global.Developing Kaulinan Barudak as a Cultural Attraction Based on Traditional Music to Enhance West Java TourismAbstractKaulinan Barudak is a traditional children’s game from West Java that incorporates elements of traditional music and local songs. This cultural art form not only represents local wisdom but also holds significant potential in strengthening cultural identity and enhancing tourism appeal. However, its existence is currently declining due to a lack of innovation, decreasing public interest, and insufficient efforts to package it as a cultural tourism attraction. Therefore, this study aims to develop Kaulinan Barudak as a cultural tourism attraction based on traditional music to enhance the appeal and value of tourist destinations in West Java. This research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with cultural practitioners, local artists, and tourism managers, as well as literature studies to explore the historical, aesthetic, and commercial potential of this traditional art. Data analysis was carried out using a descriptive-interpretative approach to understand how the revitalization of Kaulinan Barudak can be integrated into sustainable cultural tourism development strategies. The findings indicate that the revitalization of Kaulinan Barudak can be achieved through several strategic approaches, including the organization of annual cultural festivals involving local communities, interactive training programs for younger generations, workshops on traditional music and games, and the use of social media as a platform for publication and promotion. Furthermore, creatively packaging the attraction—such as combining Kaulinan Barudak with more dynamic traditional music performances—can add significant appeal for both domestic and international tourists. These results suggest that revitalizing Kaulinan Barudak not only strengthens local cultural identity but also significantly contributes to enhancing cultural tourism appeal in West Java. Implementing this strategy requires the involvement of various stakeholders, including local governments, cultural communities, and tourism actors, to ensure the sustainability and success of this art form as a high-value tourism asset. Thus, Kaulinan Barudak has the potential to become a cultural tourism icon of West Java, attracting tourists while promoting local wisdom on the global stage.Keywords: Kaulinan Barudak; traditional music; cultural tourism; revitalization of art; cultural identity; West Java
Kritik Pertunjukan pada Sonata Biola Ysaÿe ‘Obsession’ Melalui Teori Kritik Seni Feldman Pinta, Egaputra Tweeda; Wisetrotomo, Suwarno; Garibaldi, Pipin
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13431

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penilaian dalam bentuk kritik pada pertunjukan (Permainan) Sonata Ysaÿe nomor dua ‘Obsession’ sebagai karya musik yang virtuoso. Sonata ‘Obsession’ dipengaruhi oleh karya Bach yaitu Partita E mayor Prelude. Permasalahan yang disoroti adalah perbedaan interpretasi oleh lima pemain biola pada praktik pertunjukan sonata ‘Obsession’, pada konser musik biola skala internasional dari video media sosial YouTube. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik seni Feldman. Tahapan penelitian yaitu studi literatur, observasi tidak langsung, dan dokumentasi  dari audio-visual.  Analisis data menggunakan kerangka kritik seni Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan penilaian. Hasil penelitian yang diperoleh dari lima pemain biola pada konser skala internasional menunjukkan, walaupun karya Sonata Ysaÿe ‘Obsession’ mengandung ritme tempo cepat (virtuos), tetapi secara musikal memikat, menunjukkan unsur ekspresif, estetik, dalam bentuk musik bebas.Performance Critic on Ysaÿe's Violin Sonata 'Obsession' Through Feldman's Art Critic TheoryAbstractThis article aims to provide an assessment in the form of criticism on the Performance (Play) of Ysaÿe's Sonata Number Two 'Obsession' as a virtuoso piece of music. Bach's Partita E Major Prelude influences the' Obsession' sonata. The problem highlighted is the difference in interpretation by five violinists regarding the practice of performing the sonata 'Obsession' at an international scale violin music concert from a YouTube social media video. This research is qualitative research with Feldman's art criticism approach. The research stages are literature study, indirect observation, and audio-visual documentation. Data analysis uses Feldman's art criticism framework, which includes stages of description, formal analysis, interpretation and assessment. The results of research obtained from five violinists at international scale concerts show that, although Ysaÿe's Sonata 'Obsession' contains fast tempo rhythms (virtuosic), it is musically very captivating, showing expressive, aesthetic elements in the form of free music.Keywords: critic, Obsession sonata, Eugene Ysaÿe, Feldman art critic
Dinamika Ekosistem Seni Paduan Suara Voice of Bali dalam Perspektif Pierre Bourdieu Syahrian, Alfin; Sariada, I Ketut; Mudra, I Wayan
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.14360

Abstract

Voice of Bali adalah komunitas paduan suara yang mengelola interaksi antara modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik dengan struktur ranah seni paduan suara untuk menciptakan praktik sosial yang mendukung keberlanjutan, inovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam arena seni, meskipun menghadapi keterbatasan modal ekonomi dan tantangan adaptasi ditengah dinamika global. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunitas paduan suara Voice of Bali mengelola interaksi antar struktur modal, habitus, arena, praproduksi dan pasca produksi serta manajemen event untuk menjadi contoh bagi kelompok lain dalam mengembangkan paduan suara di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mengkontekstualisasikan teori Pierre Bourdieu untuk menganalisis bagaimana interaksi antara habitus, modal, serta arena yang menghasilkan praktik sosial untuk mendukung keberlanjutan, invovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam ekosistem seni paduan suara.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Voice of Bali tidak hanya aktif dalam kompetisi nasional maupun internasional, namun juga aktif dalam kegiatan event dan aktif menjadi ruang eksplorasi bagi anggotanya untuk memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan ekosistem paduan suara di Indonesia. Simpulan penelitian ini mengaskan pentingnya membangun profil yang kuat untuk menjadi kelompok seni yang kompeten dan inovatif, dengan reputasi nasional dan internasional. Melalui ekosistemnya Voice of Bali menggabungkan seni, budaya, dan jejaring sosial melalui kolaboratif kreatif, pengelolaan sumber daya yang strategis, serta dedikasi pada kualitas artistik. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada kajian akademik tentang paduan suara, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi komunitas seni dalam mengelola modal dan menghadapi tantangan industri seni di era global.The Dynamics of the Choral Art Ecosystem: A Bourdieusian Analysis of Voice of BaliAbstractVoice of Bali is a choral community that manages the interaction between cultural, social, economic, and symbolic capital with the structure of the choral art domain to create social practices that support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the art arena, despite facing limited economic capital and adaptation challenges amid global dynamics. This research aims to explain how the Voice of Bali choir community manages interactions between capital structures, habitus, arena, pre-production and post-production, and event management to become an example for other groups developing choirs in Indonesia. This research uses a qualitative approach, data collection methods with observation, interviews and documentation by contextualizing Pierre Bourdieu's theory to analyze how the interaction between habitus, capital, and arena produces social practices to support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the choral art ecosystem. The research results show that Voice of Bali is active in national and international competitions and event activities and as an exploration space for its members to significantly contribute to developing the choral ecosystem in Indonesia. The conclusion of this research emphasizes the importance of building a strong profile to become a competent and innovative arts group with a national and international reputation. Through its ecosystem, Voice of Bali combines art, culture and social networking through creative collaboration, strategic resource management and dedication to artistic quality. This research not only contributes to the academic study of choirs but also provides practical guidance for the arts community in managing capital and facing the challenges of the arts industry in the global era.Keywords: Voice of Bali; Choir; Pierre Bourdieu; Habitus; Cultural Capital
Pengembangan Model Pembelajaran Dambus Berbasis Notasi Gitar untuk Pelestarian Musik Tradisional Bangka Susanto, Hadi; Indrawan, Andre
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.15682

Abstract

Dambus merupakan alat musik tradisional khas Bangka Belitung yang menunjukkan perkembangan signifikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, banyak perajin Dambus tersebar di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memproduksi instrumen ini hingga dipasarkan ke luar negeri. Sementara itu, secara kuantitas, jumlah pembuat, pemain, komunitas, dan penikmat musik Dambus juga terus meningkat. Namun, perkembangan ini belum diimbangi dengan sistem pelestarian yang memadai. Selama ini, pembelajaran Dambus dilakukan secara lisan, seperti halnya tradisi musik tradisional pada umumnya, sehingga berpotensi punah seiring waktu. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pembelajaran Dambus berbasis notasi tertulis sebagai upaya pelestarian dan dokumentasi. Model yang dikembangkan mengadaptasi metode pembelajaran gitar, namun disesuaikan dengan karakteristik khas instrumen Dambus. Rancangan pembelajaran disusun secara bertahap, dimulai dari teknik dasar, notasi, hingga latihan-latihan fundamental. Diharapkan, sistem pembelajaran berbasis notasi ini dapat memperkuat eksistensi musik Dambus dan mendorong lahirnya karya-karya baru yang terdokumentasi dengan baik.Developing a Dambus Learning Model Based on Guitar Notation for the Preservation of Bangka Traditional MusicAbstractDambus is a traditional musical instrument native to the Bangka Belitung Islands that has shown significant development in both quality and quantity. In terms of quality, numerous Dambus craftsmen are spread across the Bangka Belitung Province, producing instruments that are even marketed internationally. Quantitatively, the number of makers, performers, communities, and enthusiasts of Dambus music continues to grow. However, this progress has not been matched by an adequate preservation system. Until now, Dambus learning has been conducted orally, as is common in traditional music practices, making it vulnerable to extinction over time. This study aims to design a written notation–based learning system for Dambus as a means of preservation and documentation. The model developed adapts guitar teaching methods but is modified to suit the distinctive characteristics of the Dambus instrument. The instructional framework is structured gradually, beginning with basic techniques, notation, and fundamental exercises. It is expected that this notation-based learning system will help strengthen the existence of Dambus music and encourage the creation of new, well-documented musical works.Keywords:  Traditional music of Bangka; instrumental music pedagogy; music notation system; Dambus

Page 1 of 1 | Total Record : 6