Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Jalan Garis Subroto SM Suwarno Wisetrotomo
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 1, No 14: September-Desember 2011
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i14.135

Abstract

Ini sekadar catatan pendek yang bermula dari pengamatan terhadap karya-karya Subroto Sm., berikut percakapan yang menyertainya. Subroto, seorang pelukis dan dosen di Fakultas Seni Rupa, almamater yang memiliki andil besar ‘membentuk’ eksistensinya, adalah sosok yang khas; baik penampilannya, cara berpikirnya, sikapnya, dan jalan keseniannya.
The Art Form of Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Angga Kusuma Dawami; Martinus Dwi Marianto; Suwarno Wisetrotomo
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5375

Abstract

Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) has become one of the most popular visual arts in Indonesia since Wedha Abdul Rasyid decided on this style in 2010. A decade later, WPAP became part of visual arts in Indonesia, used by many millennial designers, sheltered by the chapter community in regions; Jakarta chapter, Jogjakarta chapter, Surabaya chapter, etc. Visual arts-based on faces is a strong characteristic of WPAP. Only a few have achieved the WPAP form in accordance with the art form that Wedha first brought up. Economic motives became the biggest influence on the change in orientation from WPAP art to commodity. Therefore, the art form in WPAP tends to follow market trends. This paper tries to define the existing art in WPAP, with the formulation of the problem: what is the art form in WPAP in Indonesia? The formal approach to art is an important part of knowing art in WPAP. Through descriptive-analytic, an explanation of the art form in WPAP according to the Wedha’s experience is presented in this paper. The analysis is using an analysis of interactions between members of the WPAP community in several chapters which already have a "chapter" community. The art form in WPAP has almost the same characteristics as Wedha's work in the early appearance of WPAP. Wedha had a past that grapples with artwork; making illustrations, making magazine covers, making comics, and so on. The makers of WPAP in the WPAP community also have an art form in WPAP that is the same in pattern, because it is based on WPAP that was initiated by Wedha at the beginning of its appearance. The art form in WPAP has characteristics in color and line drawing. Bentuk Seni dari Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Abstrak Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) menjadi salah satu seni visual yang banyak digemari sejak Wedha Abdul Rasyid memutuskan gaya ini pada tahun 2010. Satu dekade berikutnya, WPAP menjadi bagian dari seni visual di Indonesia, digunakan oleh banyak desainer milenial, dinaungi oleh komunitas chapter yang ada di wilayah-wilayah; chapter Jakarta, chapter Jogjakarta, chapter Surabaya, dll. Seni visual berbasis pada wajah, menjadi ciri khas yang kuat pada WPAP. Hanya sedikit yang mencapai bentuk WPAP yang sesuai dengan bentuk seni yang Wedha munculkan pertama kali. Motif ekonomi menjadi pengaruh terbesar pada perubahan orientasi dari seni WPAP menjadi komoditi. Sehingga bentuk seni dalam WPAP cenderung untuk mengikuti tren pasar. Tulisan ini mencoba untuk mendefinisikan seni yang ada dalam WPAP, dengan rumusan masalah: Bagaimana bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya di Indonesia? Pendekatan formal seni menjadi bagian penting untuk mengetahui seni dalam WPAP. Melalui diskriptif-analitik, penjelasan tentang bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya disajikan dalam tulisan ini. Analisis yang digunakan adalah analisis interaksi antar anggota komunitas WPAP di beberapa chapter yang telah memiliki komunitas “chapter”. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas yang hampir sama dengan karya Wedha pada awal-awal kemunculan WPAP pertama kali. Wedha memiliki masa lalu yang bergulat dengan pekerjaan seni; membuat ilustrasi, membuat cover majalah, membuat komik, dan lain sebagainya. Pembuat WPAP di komunitas WPAP juga memiliki bentuk seni dalam WPAP yang sama secara pola, karena memang berbasis pada WPAP yang dicetuskan oleh Wedha pada awal kemunculannya. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas dalam warna, tarikan garis, pemilihan pallet, konstruksi wajah.
Tahap Inkubasi Desainer Dalam Proses Kreatif Pembuatan Desain Batik di Balai Besar Kerajinan dan Batik Kuncup Putih Kusumadhata; Timbul Haryono; Suwarno Wisetrotomo
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 38, No 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6675

Abstract

Teori-teori akademis tentang tahapan dalam proses kreatif memiliki banyak jenis dan alternatif, namun memiliki satu tahap yang cukup konsensual dan hampir selalu mempunyai tempat di dalam teori-teori yang bermacam-macam tadi. Tahap inkubasi dalam proses kreatif seorang desainer memberikan keluaran berupa gagasan yang dibutuhkan untuk mencipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk aktivitas yang berlangsung dalam tahap inkubasi pada proses kreatif seorang desainer batik. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif studi kasus, menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara, serta pengamatan langsung dan partisipatoris. Penelitian ini menemukan dukungan data lapangan terhadap teori tentang tahap inkubasi dalam proses kreatif. Tahap inkubasi yang dialami desainer batik terbagi menjadi dua jenis, jenis pertama adalah inkubasi melalui aktivitas-aktivitas kontemplasi dan relaksasi, dan jenis kedua adalah inkubasi melalui aktivitas-aktivitas distraksi dari fokus permasalahan yang sedang dikerjakan.
Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik Suwarno Wisetrotomo; Pradani Ratna Pramastuti
PANGGUNG Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.208 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i2.2118

Abstract

Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia 1965 merupakan tragedi politik sejarah gelap bangsa Indonesia, yang masih menyisakan pengalaman traumatis pada sebagian warga bangsa. Tak terkecuali, kalangan seniman, banyak yang terseret, karena keterlibatannya di sanggar seni atau Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Mereka yang terlibat diburu, ditangkap, dan dipenjara. Salah seorang di antaranya adalah Djokopekik, pernah aktif di Sanggar Bumi Tarung. Ia berupaya lari dari Yogyakarta ke Jakarta, dan akhirnya tertangkap, kemudian dipenjara di Benteng Vredeburgh dan Wirogunan. Djokopekik menuai sukses setelah karyanya dipamerkan pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS, 1990/1991). Tema karyanya sekitar persoalan kemanusiaan dan keadilan. Tiga karya (trilogi) memiliki narasi panjang terkait dirinya adalah Lintang Kemukus (2003), Sirkus September (2016), dan Indonesia Berburu Celeng (2009) yang menjadi fokus penelitian ini. Metode menggunakan pendekatan kajian budaya dan media, utamanya kajian kritis ekonomi politik, serta bersifat deskriptif. Karya-karya Djokopekik dapat dimaknai sebagai penyembuhan (healing) dari trauma kekerasan politik.Kata kunci: drama politik, penyembuhan trauma, pameran KIAS, kajian budaya, Orde Baru
Drama Politik dalam Ingatan dan Visualisasi Seorang Pelukis Kajian Kritis Terhadap Trilogi Lukisan Karya Djokopekik Suwarno Wisetrotomo; Pradani Ratna Pramastuti
PANGGUNG Vol 32 No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i2.2118

Abstract

Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia 1965 merupakan tragedi politik sejarah gelap bangsa Indonesia, yang masih menyisakan pengalaman traumatis pada sebagian warga bangsa. Tak terkecuali, kalangan seniman, banyak yang terseret, karena keterlibatannya di sanggar seni atau Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Mereka yang terlibat diburu, ditangkap, dan dipenjara. Salah seorang di antaranya adalah Djokopekik, pernah aktif di Sanggar Bumi Tarung. Ia berupaya lari dari Yogyakarta ke Jakarta, dan akhirnya tertangkap, kemudian dipenjara di Benteng Vredeburgh dan Wirogunan. Djokopekik menuai sukses setelah karyanya dipamerkan pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS, 1990/1991). Tema karyanya sekitar persoalan kemanusiaan dan keadilan. Tiga karya (trilogi) memiliki narasi panjang terkait dirinya adalah Lintang Kemukus (2003), Sirkus September (2016), dan Indonesia Berburu Celeng (2009) yang menjadi fokus penelitian ini. Metode menggunakan pendekatan kajian budaya dan media, utamanya kajian kritis ekonomi politik, serta bersifat deskriptif. Karya-karya Djokopekik dapat dimaknai sebagai penyembuhan (healing) dari trauma kekerasan politik.Kata kunci: drama politik, penyembuhan trauma, pameran KIAS, kajian budaya, Orde Baru
Kritik Pertunjukan pada Sonata Biola Ysaÿe ‘Obsession’ Melalui Teori Kritik Seni Feldman Pinta, Egaputra Tweeda; Wisetrotomo, Suwarno; Garibaldi, Pipin
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13431

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penilaian dalam bentuk kritik pada pertunjukan (Permainan) Sonata Ysaÿe nomor dua ‘Obsession’ sebagai karya musik yang virtuoso. Sonata ‘Obsession’ dipengaruhi oleh karya Bach yaitu Partita E mayor Prelude. Permasalahan yang disoroti adalah perbedaan interpretasi oleh lima pemain biola pada praktik pertunjukan sonata ‘Obsession’, pada konser musik biola skala internasional dari video media sosial YouTube. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik seni Feldman. Tahapan penelitian yaitu studi literatur, observasi tidak langsung, dan dokumentasi  dari audio-visual.  Analisis data menggunakan kerangka kritik seni Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan penilaian. Hasil penelitian yang diperoleh dari lima pemain biola pada konser skala internasional menunjukkan, walaupun karya Sonata Ysaÿe ‘Obsession’ mengandung ritme tempo cepat (virtuos), tetapi secara musikal memikat, menunjukkan unsur ekspresif, estetik, dalam bentuk musik bebas.Performance Critic on Ysaÿe's Violin Sonata 'Obsession' Through Feldman's Art Critic TheoryAbstractThis article aims to provide an assessment in the form of criticism on the Performance (Play) of Ysaÿe's Sonata Number Two 'Obsession' as a virtuoso piece of music. Bach's Partita E Major Prelude influences the' Obsession' sonata. The problem highlighted is the difference in interpretation by five violinists regarding the practice of performing the sonata 'Obsession' at an international scale violin music concert from a YouTube social media video. This research is qualitative research with Feldman's art criticism approach. The research stages are literature study, indirect observation, and audio-visual documentation. Data analysis uses Feldman's art criticism framework, which includes stages of description, formal analysis, interpretation and assessment. The results of research obtained from five violinists at international scale concerts show that, although Ysaÿe's Sonata 'Obsession' contains fast tempo rhythms (virtuosic), it is musically very captivating, showing expressive, aesthetic elements in the form of free music.Keywords: critic, Obsession sonata, Eugene Ysaÿe, Feldman art critic
Revitalizing local wisdom values in Nandong Smong musical: Strengthening educational materials in Gen Z Hakim, Putri Rahmah Nur; Pabbajah, Mustaqim; Wisetrotomo, Suwarno; Andiko, Benny; Sari, Intan Permata
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 26, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v26i1.15451

Abstract

This study explores the cultural and educational significance of Nandong Smong, a traditional oral literature form from Simeulue Island, Indonesia, which functions as both a disaster narrative and a medium of intergenerational knowledge transfer. The objective of this research is to analyze the lyrical content and sociocultural meaning embedded in the Smong song to understand its role in tsunami preparedness and collective memory among Simeulue communities. The study employed a qualitative approach, with data collected through direct observation in Simeulue and in-depth interviews with several local elders, who were asked to interpret the meanings and messages of the Smong lyrics. These primary data sources were supported by secondary data obtained from YouTube, where Smong songs were transcribed and examined word-by-word for textual analysis. The results reveal that Nandong Smong is not merely an artistic expression but a crucial oral tradition rooted in the island’s historical experience of the 1907 tsunami. The lyrics contain warnings, survival strategies, and moral teachings that emphasize local wisdom, memory, and collective responsibility. Furthermore, the discussion highlights the effectiveness of oral literature in shaping communal resilience and transmitting indigenous knowledge through non-formal education. The conclusion emphasizes the need to preserve Nandong Smong as both an intangible cultural heritage and an alternative model for disaster education. This research implies that integrating local narratives into disaster risk reduction strategies may enhance community preparedness in disaster-prone areas. Therefore, it is recommended that policymakers and educators consider incorporating oral traditions such as Nandong Smong into formal educational curricula and community-based disaster awareness programs.
Tahap Inkubasi Desainer Dalam Proses Kreatif Pembuatan Desain Batik di Balai Besar Kerajinan dan Batik Kusumadhata, Kuncup Putih; Haryono, Timbul; Wisetrotomo, Suwarno
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6675

Abstract

Teori-teori akademis tentang tahapan dalam proses kreatif memiliki banyak jenis dan alternatif, namun memiliki satu tahap yang cukup konsensual dan hampir selalu mempunyai tempat di dalam teori-teori yang bermacam-macam tadi. Tahap inkubasi dalam proses kreatif seorang desainer memberikan keluaran berupa gagasan yang dibutuhkan untuk mencipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk aktivitas yang berlangsung dalam tahap inkubasi pada proses kreatif seorang desainer batik. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif studi kasus, menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara, serta pengamatan langsung dan partisipatoris. Penelitian ini menemukan dukungan data lapangan terhadap teori tentang tahap inkubasi dalam proses kreatif. Tahap inkubasi yang dialami desainer batik terbagi menjadi dua jenis, jenis pertama adalah inkubasi melalui aktivitas-aktivitas kontemplasi dan relaksasi, dan jenis kedua adalah inkubasi melalui aktivitas-aktivitas distraksi dari fokus permasalahan yang sedang dikerjakan.
MENAFSIR PAGAR, MENGGUGAT KUASA: CRUSH ME#2 OLEH ENTANG WIHARSO MELALUI ANALISIS FORMAL Usmanto, Usmanto; Wisetrotomo, Suwarno; Sucitra, I Gede Arya
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v11i2.15540

Abstract

Tulisan ini mengkaji karya instalasi yang berjudul Crush Me#2 karya Entang Wiharso sebagai representasi visual atas realitas kuasa dan identitas dalam konteks sosial-politik di indonesia. Melalui pendekatan kritik seni formalistik, penelitian menganalisis bentuk visual, struktur teknis, serta kontuksi simbolik pagar sebagai metafora kompleks. Karya dibedah dari aspek komposisi, ekplorasi material, arsitektur domestik sebagai simbol kekuasaan serta ikonografi tubuh. Temuan menunjukan bahwa pagar dimetaforkan sebagai narasi hegemonik, domestifikasi kekuasaan dan memori simbolik atas kekerasan simbolik. Penempatan karya dalam ruang pamer bersekala nasional menunjukan bahwa institusi negara turut serta dalam membaca kritik institusional terhadap wacana representasi dan legetimasi dalam senirupa kontemporer. penelitian dapat disimpulkan kartya tersebut merefleksikan strategi visual dalam membongkar ulang narasi kekuasaan melalui bentuk simbolik yang multi sematik dan berlapis.  
Makna dalam Ketidakjelasan: Kajian Kritik Atas Karya Fotografi Abstrak Daisuke Yokota Maulana, Riki; Wisetrotomo, Suwarno; Sucitra, I Gede Arya
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15527

Abstract

Kajian kritik seni ini bertujuan untuk menelaah visual karya fotografi dari Daisuke Yokota yang melepaskan narasi, bentuk, dan visual fotografi secara konvensional. Permasalahan utama yang dikaji terdapat pada bagaimana makna dapat muncul ketika bentuk visual tidak jelas bahkan dihapuskan. Kritik ini mengarah pada penelusuran kemungkinan terwujudnya pengalaman secara perasaan, emosi, atau sikap yang bersifat individual dalam wahana visual yang bermakna ganda. Dengan menggunakan metode kritik yang menggabungkan observasi visual, interpretasi teoretis, dan refleksi kritis, kajian ini memetakan hubungan antara kekosongan visual, respons, dan intensitas emosional yang muncul terhadap karya. Kajian dilakukan pada beberapa karya visual Yokota yang direpresentasikan melalui suasana, emosi, atau kesan yang tidak jelas dan efek pada residu kimia yang digunakan sebagai medium pengganti dalam representasi. Hasil dan kesimpulan pada kajian kritik ini menunjukkan bahwa karya Daisuke Yokota tidak mewujudkan makna secara langsung, tetapi membuka peluang untuk membentuk sebuah ruang wahana yang melibatkan perasaan dan emosional penikmat karya.  Ketiadaan bentuk dan makna secara konvensional pada karya justru memberi ruang untuk melibatkan batin penonton agar dapat direfleksikan dan membentuk makna baru secara personal.Meaning in Ambiguity: A Critical Study of Daisuke Yokota's Abstract PhotographyABSTRACTThis art critique aims to examine the visual aspects of Daisuke Yokota's photographic works, which depart from conventional narratives, forms, and visual photography. The main issue explored is how meaning can emerge when visual forms are unclear or even eliminated. This critique leads to an exploration of the possibility of realizing individual experiences, emotions, or attitudes in a visual medium that has multiple meanings. Using a critical method that combines visual observation, theoretical interpretation, and critical reflection, this study maps the relationship between visual emptiness, response, and the emotional intensity that arises in relation to the work. The study was conducted on several of Yokota's visual works, which are represented through ambiguous atmospheres, emotions, or impressions and the effects of chemical residues used as a substitute medium in representation. The results and conclusions of this critical study show that Daisuke Yokota's works do not directly convey meaning but open up opportunities to create a space that involves the feelings and emotions of the viewer. The absence of conventional form and meaning in the work provides space for the viewer's inner self to be involved in reflecting on and forming new personal meanings.