cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
PERANCANGAN KOMIK ‘SANG SURYA’ UNTUK MENUMBUHKAN RASA BANGGA BERTANI PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN Friska Pravita Ningroom
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.630

Abstract

Padi adalah salah satu elemen pembentuk lambang sila ke-5 Pancasila. Padi atau nasi merupakan makanan pokok sebagian besar masyararakat Indonesia. Dari kedua fakta ini, eksistensi padi di Indonesia adalah mutlak. Di samping nyata secara materiil, eksistensi tersebut juga harus tertanam dalam hati dan pikiran masing-masing insan Pancasila. Tetapi pada kenyataannya, cocok tanam padi yang merupakan akar dari eksistensi tersebut mulai ditinggalkan generasi muda Indonesia masa kini. Ini merupakan permasalahan pelik. Misi utama penciptaan komik buku ini adalah menumbuhkan rasa bangga bertani pada anak usia 10 hingga 12 tahun sehingga peduli dengan eksistensi padi (dan pertanian, pada umumnya) di masa depan. Kata kunci : Padi, Pertanian, Anak-anak, Buku Komik
1 KOMPOSISI TANAH KARO DALAM SIMFONI Andi Alexander
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.631

Abstract

Karo tribe is a part of Batak tribes family which settled down in middle and west part of the Province of North Sumatra, Indonesia. The other tribes of  Batak tribes family are Angkola, Mandailing, Toba, Dairi/Pak-pak, dan Simalungun tribe. Like the other Indonesian traditional music, Karonese traditional music has a distinctive characteristic like the musical unsure and instrumentation. Karonese traditional music has a potential to be develop into another nuance or form. The work Tanah Karo Dalam Simfoni (Karo Land in Symphony) is a piece that combine the musical principles of western music, like form, harmony, and orchestration with the principles of Karonese traditional music like scale, ornamentation, and rhythm. This work has the symphony form that consist of three movements. The first movement has brilliance nuance in tempo Allegro, the second movement has sad nuance in tempo adagio, and third or last movement has happy and cheerful nuance with more Karonese traditional music influence in tempo allegro. This work is be played by orchestra and Karonese traditional music ansamble.   Keywords: Karo Land, Symphony, Orchestra
Penciptaan Program Feature "Push Your Adrenaline" Dengan Gaya Performative Dalam Episode "Offroad Trail" Ahmad Prihano Yuniawan
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.632

Abstract

Penciptaan program Feature Push Your Adrenaline dengan gaya performative dalam episode trail, ini berisi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan penciptaan karya seni program feature yang mengangkat obyek olahraga offroad trail dengan gaya performative. Obyek olahraga offroad trail dipilih karena olahraga baru berkembang di Indonesia dan dalam olahraga ini merupakan olahraga dengan menggunakan motor yang berbeda dengan motor pada umumnya dari segi lintasan yang digunakan, bentuk kedaraan, ban motor dan kelengkapan keselamatan lainnya. Kemudian dalam olahraga trail ini terdapat jenis motor yang berbeda dan mempunyai kelebihan dan kekurangan yang belum banyak dikenal oleh masyarakat. Maksud dan tujuan dari penciptaan karya seni ini adalah membuat program feature dengan gaya performative dengan obyek olahraga offroad trail serta memberikan informasi tentang persiapan sebelum melakukan adventure, sejarah tentang komunitas, kerjasama antar anggota, instruksional atau tips dan trik, dan jenis motor trail. Konsep estetik penciptaan karya seni ini menggunakan gaya performative. Gaya penyajian ini dapat menarik perhatian penonton pada aspek ekspresi dari film itu sendiri. Aspek penciptaan tersebut bertujuan untuk menggambarkan subjek atau peristiwanya secara lebih subjektif menurut pandangan dari masing-masing penontonnya, lebih ekspresif dalam aktivitas objek yang diangkat, lebih stylistik dalam visualnya.   Kata kunci:  offroad trail, Feature, Performative.
ANALISIS PERBANDINGAN STRUKTUR AKTAN VERSI FILM DAN VERSI SINETRON ‘SURAT KECIL UNTUK TUHAN’ Maria Ulfa
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.633

Abstract

Penelitian tentang Analisis Perbandingan Struktur Aktan Versi Film dan Sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan versi film dan sinetron “Surat Kecil untuk Tuhan” dari perspektif struktur aktan. Perbandingan dilakukan untuk menemukan cara masing-masing versi media memperlakukan atau menyajikan cerita “Surat Kecil untuk Tuhan”. Penelitian ini menggunakan teori struktur aktan dari AJ. Greimas yang terdiri dari enam elemen aktansial yaitu pengirim, penerima, subjek, objek, penolong dan penentang. Berdasarkan hasil kajian dapat diambil kesimpulan bahwa perbandingan versi sinetron lebih mengeksplorasi struktur aktan dibandingkan versi film. Konsep serialisasi dan durasi adalah penyebab cara masing-masing versi berbeda dalam memperlakukan cerita Surat Kecil untuk Tuhan.   Kata Kunci: Film Surat Kecil untuk Tuhan, Sinetron Surat Kecil untuk Tuhan, Aktan, Perbandingan
Perancangan City Branding Kota Bukittinggi Sebagai Pembentuk Indentitas Kota Raudhul Rizky
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.634

Abstract

Perancangan city branding ini digunakan untuk membangun suatu identitas untuk kota Bukittinggi dan mempromosikan kota Bukittinggi, sehingga memberikan suatu gambaran pikiran, perasaan, asosiasi dan ekspetasi yang datang dari benak seseorang ketika seseorang tersebut melihat atau mendengar nama atau kata Bukittinggi. Kota yang dipilih adalah Bukittinggi karena kota Bukittinggi dianggap cukup layak untuk jadikan brand kota karena kekayaan potensi alam dan wisatanya. Dengan perancangan city branding Kota Bukittinggi ini diharapkan terciptanya suatu identitas yang sangat lekat dengan kota Bukittinggi sehingga memberikan perasaan bangga terhadap masyarakat yang tinggal di Bukittinggi.   Kata kunci: City Branding, identitas, Bukittinggi
Perancangan Komunikasi Visual City Branding Kabupaten Batang 2014 Ginanjar Setyo Hartono
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.635

Abstract

Di era modern sekarang ini sangat mungkin terjadinya persaingan antar daerah. Seperti halnya beberapa kota yang ada di Indonesia yang saling berlomba-lomba untuk mengembangkan wilayah sebagai destinasi yang dapat meningkatkan pendapatan daerah. Maka hal tersebut menjadi sebuah cambuk untuk Kabupaten Batang sendiri supaya menjadi kota destinasi yang menawarkan kekayaan yang dimiliki. Dari dasar tersebut maka dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengangkat posisioning dalam sebuah perancangan city branding dari Kabupaten Batang, Jawa tengah, Indonesia. Dari perancangan tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah ide yang dapat menyajikan keunikan dan juga kekayaan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Batang. Potensi alam dan kuliner Kabupaten batang menjadi salah satu cara menyampaikan pesan yang disajikan dalam nuansa klasik nusantara dan natural. Unsur klasik tersebut merupakan pendekatan utama dalam menyampaikan pesan yang akhirnya nanti diintegrasikan kepada media. Dari gaya desain tersebut akan diselaraskan dengan konsep modern yang elegan tapa mengurangi nuansa tradisionalnya, sehingga diharapkan memiliki daya tarik dan daya saing yang tinggi dengan city branding yang lain. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa dalam perancangan city branding ini digunakan pendekatan potensi alam dan kuliner yang merupakan salah satu aset yang menarik perhatian masyarakat. Dengan pendekatan klasik nusantara diharapkan dapat menjadi branding yang memiliki daya saing tinggi dengan daerah lain.   Kata kunci: City branding, Batang, Alam and Kuliner
Perancangan Maduranesia Typeface terinspirasi dari ragam hias motif sulur pada ukiran tradisional Sumenep Madura Naufan Noordyanto
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.636

Abstract

Perancangan typeface yang mengadaptasi karakter visual ragam hias motif sulur ukiran tradisional Sumenep pada dasarnya merupakan respon kreatif yang dilakukan dalam ranah Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat dengan mengenalkan intangible heritage berupa ragam hias ukir khas dari kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, yang kaya historis, filosofis, dan pengaruh dari berbagai kebudayaan masa lampau, namun selama ini sedikit diketahui. Pendekatan pemecahan masalah melalui eksplorasi Tipografi ini bermaksud membuat tradisi ornamentasi ukir tradisional Sumenep menjadi akrab di keseharian dalam medium yang berbeda, yaitu berupa perancangan typeface baru jenis display type dan text type hasil eksplorasi bentuk karakter motif ukir tersebut ke dalam anatomi bentuk huruf latin yang kemudian diberi nama Maduranesia Typeface. Eksplorasi Tipografi dipilih sebagai strategi solutif karena medium Tipografi sangat akrab dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari serta sifatnya yang aplikatif-implementatif sesuai dengan konsumsi masyarakat modern yang erat serta dekat dengan budaya komunikasi verbal dan visual saat ini, serta dapat dinikmati dalam jangka waktu yang tak terbatas. Dalam konteks yang lebih besar, Maduranesia typeface dihadirkan dalam rangka menawarkan solusi alternatif untuk mengatasi krisis identitas budaya serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada budaya sendiri yang merepresentasikan muatan budaya seni ukir Sumenep sebagai bagian kekayaan budaya nasional yang mencerminkan kepribadian dan keluhuran budaya Indonesia, sekaligus memunculkan citra Sumenep (Madura) sebagai daerah penghasil ukiran di Indonesia yang bersaing. Sehingga unsur budaya yang ditunjukkan dan dipresentasikan dalam huruf dapat semakin populer, bahkan semakin mendapat pengakuan di mata dunia, dan identitas kebangsaan Indonesia tetap terjaga. Perancangan typeface bernuansa kearifan lokal ini bukan bermaksud mengedepankan rasa kedaerahan, namun sentuhan kearifan lokal (berbasis kekhasan daerah) justru digunakan untuk memunculkan kekuatan nusantara dalam mengekspresikan karakter bangsa melalui eksplorasi Tipografi. Hasil perancangan typeface dengan sentuhan lokal tersebut sekaligus diharapkan dapat memperkaya dan menginspirasi pengekplorasian aksara latin yang memunculkan kekuatan budaya Indonesia.   Kata kunci: Ukir, Sumenep, Madura, typeface, Tipografi
PERANAN TUNGKU PERAPIAN DALAM AKTIVITAS MANUSIA DI RUMAH TINGGAL DI DESA TIENG WONOSOBO Berlin Dwi Prasona
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.637

Abstract

Keberadaan tungku perapian di dalam rumah telah memberikan peranan pentingnya dalam kehidupan manusia di dalam ruang. Fungsi dan peranan tungku perapian pada masa kini tidak hanya diperlihatkan dan dipertahankan sebagai tradisi dalam kehidupan masyarakat tradisional saja namun juga menjadi sarana yang dapat memenuhi suatu kebutuhan yang masih belum dapat tergantikan fungsinya dengan peralatan yang lainnya. Masyarakat desa Tieng yang mayoritas bekerja sebagai petani kentang dan tembakau serta buruh tani telah menunjukkan bahwa kehidupan masyarakatnya menjadikan tungku sebagai bagian dari kehidupan mereka di dalam rumah tinggal. Peranan dan fungsi dari tungku perapian juga mengikuti kebutuhan dari manusia yang menggunakannya yaitu sebagai alat masak, sumber hangat, pengawet kayu dan bambu, serta sarana perekonomian. Aktivitas manusia, tata letak, sosial ekonomi masyarakat, dan perkembangan teknologi juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada pergeseran fungsi tungku di masa sekarang. Kata kunci : tungku, aktivitas, rumah tinggal
GAYA PERFORMATIF DALAM FEATURE “KAPAN KE JOGJA LAGI?” Novanda Fibrianti
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.638

Abstract

Television is the most effective one way communication media to deliver a message. A television is not only a communication tool, but also as an entertainment, education, and information‘s media. In this case, much of television station offering an interest program for the audiences, but not all of the programs has an education value.The creation of program ―Kapan Ke Jogja Lagi?‖ have a purpose to give an alternative choices‘s program for audiences which have an education value, information, and entertainment. This program is not only offering a narative concept but also an interesting visual concept at the same time.The object creation of this artwork is Dagadu, by taking it‘s style and characteristic, which in a design‘s context, have a pop art and modern style and use ‗plesetan ‘ language at the same time, this object then, packaged on a feature form. The aesthetic‘s concept of this artwork creation is performative style, that delivered with videography technic, editing, artistic layout, and script.Keywords: Feature, Dagadu, Pop art, Plesetan , Performative
KOMPARASI ELEMEN PROGRAM DOKUMENTER JEJAK PETUALANG TRANS 7 DAN 100 HARI KELILING INDONESIA KOMPAS TV PADA EPISODE RAJA AMPAT Wahyudi .
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.639

Abstract

Penelitian berjudul “Komparasi Elemen Program Dokumenter Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV Pada Episode Raja Ampat” bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan, serta alasan terjadinya persamaan dan perbedaan pada  program Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV episode Raja Ampat ditinjau dari gaya, bentuk bertutur, dan struktur penuturan. Penelitian ini menggunakan metode gabungan atau mix method antara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, persamaan program dokumenter Jejak Petualang Trans 7 dan 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV pada episode Raja Ampat tampak pada penggunaan gaya, yaitu sama-sama menggunakan gaya atau tipe eksposisi (expository documentary) dan bentuk bertuturnya laporan perjalanan. Perbedaan kedua program tersebut pada episode Raja Ampat adalah program 100 Hari Keliling Kompas TV Indonesia mengkombinasikan gaya eksposisi (expository documentary) dengan gaya performatif (performative documentary) sedangkan program Jejak Petualang Trans 7 hanya menggunakan gaya eksposisi (expository documentary). Selain itu, program Jejak Petualang Trans 7 menggunakan struktur penuturan tematis sedangkan program 100 Hari Keliling Indonesia menggunakan struktur penuturan kronologis. Program dokumenter 100 Hari Keliling Indonesia Kompas TV episode Raja Ampat sebagai sebuah dokumenter dengan gaya hibriditas. Penggabungan gaya dokumenter merupakan bentuk kreativitas dalam mengemas program televisi. Kreativitas dalam mengemas program dokumenter menjadi tuntutan bagi para kreator program dalam menghadapi fenomana ketatnya persaingan program antar stasiun televisi di Indonesia.   Kata Kunci: program dokumenter, gaya dokumenter, bentuk bertutur,   struktur penuturan