cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 1,394 Documents
ANALISIS PAHAT INSERT BERMATA POTONG GANDA UNTUK MENGURANGI KEAUSAN PAHAT PADA MESIN BUBUT Didik Nurhadiyanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan analisis ini, adalah memunculkan ide penggunaan pahat insert bermata potong ganda guna mengurangi keausan pahat pada mesin bubut berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, baik yang dilakukan oleh penulis maupun peneliti yang lain, penulis menganalisis penggunaan pahat insert bermata potong ganda. Sebagai bahan referensi, penulis menggunakan bahan pustaka yang ada untuk dijadikan acuan. Analisis ini dibatasi pada modifikasi pahat menjadi bermata potong ganda, kekentalan pendingin, pemampatan tebal geram, dan keausan pahat bermata potong ganda bila dibandingkan dengan pahat bermata potong tunggal. Beberapa penelitian yang dilakukan menggunakan bahan benda kerja yang dibubut adalah VCN 150 ø 1,75 inchi dengan panjang penyayatan 200 mm. Karena diameter awal benda kerja tetap maka putaran spindel dibuat konstan sebesar 265 RPM. Untuk kedua jenis pahat menggunakan pendingin dan semua sudut- sudut pahat yang sama. Variabel yang diubah-ubah adalah kedalaman potong. Kedalaman potong untuk pahat bermata potong tunggal dirumuskan diameter awal dikurangi diameter akhir dibagi dua, demikian juga kedalaman potong untuk bermata potong ganda sama dengan pahat bermata potong tunggal. Keausan pahat modifikasi diambil keausan yang terbesar dari masing-masing mata potong untuk dibandingkan dengan pahat bermata potong tunggal. Masing-masing pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali yang kemudian diambil rata-ratanya. Membandingkan keausan yang diperoleh pada pembubutan menggunakan pahat bermata potong tunggal dan ganda. Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan terjadi pengurangan keausan pada pahat bermata potong ganda bila dibandingkan dengan pahat bermata potong tunggal. Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan pahat insert bermata potong ganda memang layak digunakan untuk mengurangi keausan pahat. Kata kunci : pahat insert, mata potong ganda, dan keausan pahat
PENGARUH PUTARAN DAN KECEPATAN TOOL TERHADAP SIFAT MEKANIK SAMBUNGAN TUMPUL LAS FSW TAK SEJENIS ANTARA AL 2024-T3 DENGAN AL 1100 . Hariyanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminium 2024-T3 merupakan jenis aluminium paduan yang banyak digunakan untuk struktur seperti konstruksi pesawat terbang, kapal dan mobil, karena mempunyai banyak keunggulan seperti kekuatan tarik relatif tinggi, sifat mampu bentuk (formability) baik, tahan korosi dan merupakan logam ringan. Namun demikian salah satu kelemahan Al 2024-T3 adalah sifat mampu las (weldability) rendah yang ditandai dengan terjadinya retak panas (solidification cracking ) saat pengelasan menggunakan las busur listrik . Pengelasan tak sejenis antara Al 2024-T3 dan Al 1100 mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi akibat perbedaan metalurgi dan sifat fisika logam seperti konduktifitas termal, koefisien muai termal dan masa jenis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik penyambungan logam tak sejenis antara Al 2024-T3 dengan Al 1100 dengan menggunakan las FSW. Proses FSW dilakukan pada sambungan tumpul (butt Joint ) tak sejenis antara pelat aluminium paduan Al 2024-T3 dengan Al 1100 dan ukuran pelat 160 x 110 x 4,3 mm dengan arah las sepanjang 110 mm. Parameter las yang digunakan adalah putaran tool 1450, 1850 dan 2250 rpm dengan kecepatan maju 6 mm/min dan 12 mm/min Selanjutnya dilakukan pengujian yang meliputi pengamatan uji tarik dan uji fatik Hasil penelitian menunjukan bahwa pada kecepatan maju 6 mm/min, peningkatan putaran tool dari 1450 rpm ke 1850 rpm menyebabkan kenaikan kekerasan dan tegangan tarik dan selanjutnya terjadi penurunan jika putaran dinaikan menjadi 2250 rpm. Kecenderungan yang sama terjadi kecepatan maju 12 mm/min . Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai optimum putaran tool terjadi pada 1850 rpm ditandai dengan kekerasan, tegangan tarik dan ketahanan terhadap laju perambatan retak yang paling baik. Kata kunci : FSW, aluminium, putaran dan kecepatan.
OPTIMALISASI BESARNYA SUDUT POTONG PAHAT PADA PROSES ROUGHING AISI 1040 MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA . Paryanto; . Rusnaldy; Yusuf Umardani; Norman Iskandar
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pemesinan dengan gaya pemotongan yang kecil akan menurunkan pemakaian daya listrik, meningkatkan kualitas produk dan menurunkan laju keausan pahat. Salah satu cara yang dilakukan untuk menurunkan gaya pemotongan adalah dengan mengoptimasi besarnya sudut potong pahat. Selama proses roughing gaya pemotongan relatif tinggi, dan umumnya menggunakan sudut potong pahat negatif. Pada makalah ini dibahas pengaruh besarnya sudut potong pahat negatif pada proses bubut tehadap gaya pemotongan, dengan tujuan untuk mengetahui besarnya sudut potong pahat yang paling optimal. Metode penelitian dilakukan dengan pemodelan menggunakan sofware Finite Element Method (FEM) dan material yang digunakan adalah baja AISI 1040. Simulasi dilakukan pada sudut potong -15° sampai 0°. Hasil dari simulasi kemudian dibandingkan dengan hasil empirik berdasarkan pendekatan dari Kienzle dan hasil eksperimental oleh Günay, M., dkk (2005). Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa gaya pemotongan akan menurun sebanding dengan pergerakan sudut potong pahat dari -15⁰ sampai 0⁰, sedangkan perbedaan hasil simulasi FEM dengan hasil empirik adalah 12,94% dan dengan hasil eksperimen adalah 16,10%. Kata kunci: sudut potong pahat, gaya pemotongan, FEM, roughing, bubut.
ANALISIS KECACATAN PRODUK AIR MINUM DALAM KEMASAN SEBAGAI UPAYA PERBAIKAN KUALITAS DENGAN METODE DMAIC Ratnanto Fitriadi; Much Djunaidi; . Chodariyanti
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT.Tirta Investama merupakan salah satu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menempatkan kualitas sebagai salah satu bagian dari strategi perusahaan. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi perusahaan diantaranya masalah kualitas pada produk air minum dalam kemasan merek AQUA kemasan 240 ml yang tidak memenuhi spesifikasi pada proses filling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cacat yang terjadi, menemukan penyebab terjadinya cacat, menganalisa pengaruh yang paling signifikan dari suatu kegagalan, dan memberikan usulan perbaikan. Dengan menggunakan pendekatan metode (DMAIC) Define, Measure, Analize, Improve, Control diharapkan perbaikan kualitas dapat dicapai. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan diketahui bahwa proses yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap kecacatan produk merek AQUA dengan kemasan 240 ml yaitu proses filling. Dengan menggunakan diagram pareto maka dapat diketahui critical to quality (CTQ) kunci yaitu cacat lid, cacat cup, cacat volume. Setelah itu dengan FMEA (Failure Mode Effect Analize) diketahui faktor yang paling berpengaruh menyebabkan cacat yaitu pemberhentian mesin saat produksi, untuk menanggulangi permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya perbaikan yaitu dengan penambahan tambatan pada body mesin dan upaya pengendalian berupa pembuatan form analisis masalah untuk memantau jalannya produksi dan menganalisa setiap masalah yang ada dilantai produksi oleh semua operator yang terlibat. Kata kunci: Kualitas, Air Minum Dalam Kemasan, DMAIC, FMEA
PERANCANGAN ALAT BANTU KERJA PADA PEKERJAAN MANUAL MATERIAL HANDLING (MMH) UNTUK MEMPERBAIKI SIKAP KERJA DAN BEBAN KERJA BURUH ANGKUT (Studi Kasus di Pasar Gede Surakarta) Taufiq Rochman; Irwan Iftadi; Rangga Romadhan
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap kerja tidak alamiah pada aktivitas manual material handling dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara fasilitas kerja dengan penggunanya, sehingga berdampak pada kecelakaan kerja terutama postur kerja dan beban kerja. Faktor inilah yang terjadi pada aktivitas pekerja buruh angkut di Pasar Gede Surakarta. Pada kondisi aktual, terutama aktivitas manual material handling oleh pekerja buruh angkut di Pasar Gede rata – rata 55 kg tanpa menggunakan alat bantu pengangkatan. Model penelitian dilakukan menjadi beberapa tahap. Tahap pertama penyebaran kuisioner nordic body map, digunakan untuk mengenali penyebab keluhan musculoskeletal. Tahap kedua perhitungan postur kerja metode Rapid Entire Body Assesment (REBA). Tahap ketiga perhitungan fisiologi kerja menggunakan metode energy expenditure dan enery cost tujuannya untuk mengetahui tingkat beban kerja dan menghitung energi yang dikeluarkan oleh pekerja. Tahap keempat pada perancangan alat bantu kerja menggunakan metode anthropometri guna menentukan dimensi handtruck yang dirancang dan memperoleh hasil rancangan secara ergonomi. Perancangan alat bantu kerja manual material handling (MMH) telah di uji coba terhadap 24 sampel pekerja buruh angkut. Hasil uji coba menurut perhitungan metode REBA, terjadi penurunan level resiko cidera musculosceletal. meliputi aktivitas loading menjadi level resiko 2 (sedang) dan untuk aktivitas unloading, turun menjadi level resiko 2 (sedang). Perhitungan fisiologi kerja dengan metode energy expenditure terjadi penurunan tingkat beban kerjameliputi enam belas responden tergolong kategori light work, delapan responden tergolong moderate work. Sedangkan perhitungan metode energy cost didapatkan dua puluh satu responden tergolong kategori moderate work, tiga responden lainnya heavy work. Perancangan handtruck sebagai alat bantu kerja di desain secara ergonomis dengan penambahan fasilitas berupa handle dan penggunaan roda yang berjumlah tiga roda guna mengakomodasi kebutuhan pekerja buruh angkut. Kata kunci: manual material handling (MMH), metode REBA, energy expenditure, ergonomi.
PENGUKURAN BULLWHIP EFFECT DENGAN MODEL AUTOREGRESSIVE Tita Talitha
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya informasi dapat menimbulkan distorsi informasi dimana salah satu akibatnya adalah variansi permintaan yang terjadi pada saluran supply chain. Bahkan variabilitas tersebut cenderung meningkat dari arah hilir ke hulu yang dinamakan fenomena bullwhip effect. Salah satu permasalahan dalam supply chain management yaitu bagaimana mengurangi pengaruh dari bullwhip effect tersebut. Dalam penelitian ini, pengukuran bullwhip effect dikembangkan dalam model autoregressive, AR(1). Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa koefisien autoregressive dan lead time menimbulkan tumbukan yang cukup besar pada bullwhip effect. Kata Kunci : supply chain, bullwhip effect, AR(1)
STUDI KOMPARASI KUALITAS PRODUK PENGELASAN SPOT WELDING DENGAN PENDINGIN DAN NON-PENDINGIN ELEKTRODA Muh Alfatih Hendrawan
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelasan spot welding merupakan jenis pengelasan yang banyak digunakan pada industri otomotif, khususnya untuk penyambungan bodi. Pengelasan ini memanfaatkan tahanan listrik yang timbul akibat dua material yang digabungkan dan dialiri arus listrik. Pada penelitian ini menggunakan design eksperimen 33 factorial design dengan variable bebas yaitu parameter pengelasan; arus listrik, waktu pengelasan dan diameter ujung elektroda. Sedangkan variable terukurnya adalah kekuatan geser sambungan yang menunjukkan kualitas produk pengelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus listrik, waktu pengelasan dan diameter ujung elektroda dengan interval kepercayaan 95 % mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kekuatan geser sambungan. Kekuatan sambungan terbesar pada pengelasan spot welding dengan elektroda yang didinginkan yaitu 41,4 kg/mm2 adalah lebih besar dibandingkan dengan hasil pengelasan tanpa pendingin elektroda, 30,8 kg/mm2 Kata kunci: spot welding, elektroda, factorial design
SIMULASI PROSES PEMESINAN MENGGUNAKAN UDARA-DINGIN DENGAN TABUNG VORTEK . Paryanto; . Rusnaldy; Yusuf Umardani; Norman Iskandar
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pemesinan dengan menggunakan pendinginan udara merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya produksi dan menerapkan proses pemesinan yang ramah lingkungan. Dalam rangka memperbesar efektivitas proses pendinginan, udara yang digunakan harus bersuhu rendah. Hal ini dimaksudkan untuk memperbesar margin temperatur antara udara pendingin dan permukaan pahat/benda kerja, sehingga laju pendinginan menjadi lebih besar. Pada proses pemesinan, udara-dingin ini dapat diperoleh menggunakan tabung vortek. Pada makalah ini dibahas penggunaan udara-dingin pada proses pemesinan dengan tujuan untuk mengetahui besarnya penurunan temperatur pahat. Metode penelitian dilakukan dengan pemodelan proses pemesinan bubut menggunakan software finite element method (FEM). Simulasi dilakukan pada temperatur udara pendingin -55°C dan 20°C dengan tekanan penyemprotan 0,5–6 bar. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa efektifitas pendinginan menggunakan udara-dingin lebih tinggi dibandingkan dengan pendinginan dengan udara temperatur lingkungan. Kata kunci: tabung vortek, udara-dingin, FEM, pemesinan ramah lingkungan.
PENGARUH FILLER DAN ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT FISIK- MEKANIK SAMBUNGAN LAS GMAW LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA KARBON DAN J4 Petrus Heru Sudargo; . Triyono; Kuncoro Diharjo
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Material J4 sering diaplikasikan sebagai pengganti baja tahan karat karena harganya lebih murah dan pada kasus tertentu harus disambung dengan baja karbon. Material J4 dan baja karbon mempunyai perbedaan sifat fisik, mekanik, termal dan metalurgi sehingga karakteristik sambungan las antara keduanya perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis filler dan arus listrik las Gas Metal Arc Welding (GMAW) terhadap sifat fisik mekanik sambungan las J4 dengan baja karbon rendah. J4 disambung dengan baja karbon rendah (ST 37) masing-masing dengan tebal 1,8 mm, menggunakan las GMAW dengan variasi filler ER309 L dan ER70S, dan arus pengelasan 60A dan 80A. Hasil sambungan dikarakterisasi dengan pengujian tarik, kekerasan, dan struktur mikro. Pengujian tarik menggunakan standar JIS Z2202. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sambungan las dengan filler ER 309 L dan menggunakan arus sebesar 80 A mempunyai kekuatan tarik tertinggi yaitu 314,58 MPa, sedangkan sambungan las dengan filler ER 70 S dan menggunakan arus sebesar 60 A mempunyai kekuatan tarik terendah yaitu 281,83 MPa. Pada daerah HAZ baja karbon dan J4 mengalami perubahan struktur mikro yang signifikan dan peningkatan nilai kekerasan dari masing-masing base metal. Kata kunci: sambungan las logam tak sejenis, J4, uji tarik,baja karbon rendah, GMAW.
MEKANISME PEMBENTUKAN KERUTAN PADA PROSES PENEKUKAN PIPA Sigit Iswahyudi
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengerutan dan perubahan geometri penampang merupakan hal yang menyebabkan kegagalan pada proses penekukan pipa. Untuk menghindari kegagalan proses, perlu diketahui mekanisme proses pembentukan kerutan, perubahan geometri penampang dan batasan- batasannya. Pada tulisan ini dibahas mekanisme pembentukan kerutan melalui pendekatan mekanisme buckling pada penekukan pipa. Pengaruh rasio tebal pipa-diameternya dan rasio tebal pipa-radius penekukan terhadap stabilitas geometri pipa dihitung. Kata kunci: penekukan, pipa, buckling, kerutan

Page 21 of 140 | Total Record : 1394