cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 1,394 Documents
PEMBUATAN PANGAN TERNAK LELE ORGANIK BERBAHAN BAKU PROTEIN DARI BULU AYAM DENGAN METODE FERMENTASI BIO Azis Andre Dwi Alamsyah; Joddy Christyawan; Agnes Priska Tiarasukma; Vita Paramita
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan pakan lele organik dengan bahan baku bulu ayam ditujukan untuk meningkatkan kadar protein, mengurangi biaya produksi pakan lele, mempercepat pertumbuhan ikan lele dan membuat pakan lele alternatif. Pada pembuatan pakan lele dengan bahan baku bulu ayam ini menggunakan perlakuan fisik dan kimiawi, seperti pemanasan, pengeringan, hidrolisis, grinding, dan fermentasi BIO. Perlakuan tersebut digunakan untuk mengubah protein kasar pada bulu ayam menjadi protein yang dapat dicerna oleh ikan lele. Kadar protein setelah proses perlakuan fisik dan kimiawi akan di analisa kenaikan kadar proteinnya. Dengan kadar protein yang tinggi akan membantu proses pertumbuhan lele menjadi lebih singkat dan lebih cepat panen. Untuk mengetahui kadar protein pada penelitian ini menggunakan metode kjeldahl.Hasil pakan lele berbahan bulu ayam ini akan diujikan langsung pada ikan lele untuk membandingkan perbedaan penambahan pakan lele biasa dengan penambahan pakan lele berbahan baku bulu ayam.Pada penelitian ini kadar yang paling baik pada penambahan NaOH adalah 0,4N dengan kadar protein 74,09% dan dari rantai polimer yang terpotong sangat cocok untuk pembuatan pangan lele sebelum dijadikan pelet lele.Kata kunci: bio, lele, organik, pangan, protein
PERAN DAN TANTANGAN PERENCANAAN RUANG PUBLIK SEBAGAI PERUBAHAN KEHIDUPAN MASYARAKAT Riche Maya Hapsari; Eko Nursanty
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka (open space) merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga lingkungan tersebut baik secara individu atau secara kelompok. Ruang yang di rencanakan karena kebutuhan akan tempat pertemuan, aktivitas berupa kegiatan rekreasi, olahraga , jalan-jalan dan santai bersama di udara terbuka. Ruang terbuka yang berada di ruang luar ruang dapat menjadi terbuka aktif yang didalamya banyak terjadi kegiatan, berupa bermain, olahraga, upacara, acara santai dan bahkan dapat di gunakan untuk rekreasi.Ruang terbuka ini dibutuhkan oleh masyarakat guna mewadahi aktivitas seperti tempat berkumpul keluarga dan tempat sosialisasi antar masyarakat. Tetapi sekarang ruang terbuka sekarang menjadi susah untuk di akses karena transportasi yang padat, sehingga susah untuk menyeberang. Lalulalang transportasi yang tidak dapat di hentikan bila menyebrang jalan sehingga masyarakat merasa kesulitan menuju ke ruang terbuka.Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan kenyamanan di dalam ruang terbuka hijau untuk akses ke ruang terbuka, sehingga masyarakat dapat melakukan aktivitas di ruang terbuka dengan nyaman, tidak terkendala dengan transportasi yang padat.Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah survey lapangan , melakukan interview kepada pengunjung melalui quisioner yang ada, pemotretan terhadap aktivitas yang ada pada waktu di lapangan, pemetaan penyebrangan pengunjung yang datang ke ruang terbuka dan pintu masuk untuk akses ke ruang terbuka.Hasil dari penelitian ini yaitu ruang terbuka ini belum memenuhi standart yang ada di ruang terbuka karena akses masih sulit sehingga masyarakat untuk melakukan aktivitas di ruang terbuka ini kurang nyaman.Kesimpulan dari penelitian ini dapat di simpulkan bahwa untuk akses ke ruang terbuka yang berada di kawasan kota sangat sulit karena padatnya transportasi yang ada.Kata kunci: open space, tantangan open space.
IMPLIKASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOTA HIJAU (P2KH) TERHADAP PEMENUHAN LUASAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PERKOTAAN Yohanes Dicky Ekaputra; Margareta Maria Sudarwani
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya kebutuhan lahan untuk pembangunan perkotaan, menyebabkan beralih fungsinya kawasan-kawasan yang sangat berpotensi sebagai kawasan lindung menjadi kawasan terbangun, berdampak pada berkurangnya areal Hijau, tidak saja di kawasan perkotaan, tetapi juga di sebagian wilayah perdesaan,Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang secara tegas mengamanatkan 30% dari wilayah kota berwujud Ruang Terbuka Hijau (RTH), 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Pengalokasian 30% RTH ini ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang RTRW Kota dan RTRW Kabupaten.Selaras dengan hal tersebut, perlu diwujudkan suatu bentuk pengembangan kawasan perkotaan yang mengharmonisasikan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan. Upaya untuk membangkitkan kepedulian masyarakat dan mewujudkan keberlangsungan tata kehidupan kota, antara lain dapat dilakukan dalam bentuk perwujudan Kota Hijau.Kota Hijau merupakan kota yang dibangun dengan terus menerus memupuk semua aset kota meliputi manusia, lingkungan terbangun, sumber daya alam, lingkungan dan kualitas prasarana perkotaan. Kota Hijau juga merupakan kota yang melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Pengembangan Kota Hijau juga berarti pembangunan manusia kota yang berinisiatif dan bekerjasama dalam melakukan perubahan dan gerakan bersama. Pengembangan Kota Hijau di Indonesia memerlukan gerak bersama seluruh unsur pemangku kepentingan kota. Pengembangan Kota Hijau juga memerlukan perubahan/inovasi/prakarsa mendasar (dari praktek hingga nilai-nilai) dan masif.Kata Kunci : Kota Hijau, Ruang Terbuka Hijau, Atribut Hijau.
PERBEDAAN WAKTU FERMENTASI DALAM PEMBUATAN TEH KOMBUCHA DARI EKSTRAK TEH HIJAU LOKAL Arraca Kiara, Arraca Yabukita, Pekoe DAN Dewata SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL UNTUK ANTI OKSIDAN Agustine Susilowati
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fermentasi teh kombucha selama 1 dan 2 minggu pada suhu ruang dengan konsentrasi starter kombucha 5% (v/v substrat) dan sukrosa 10% (b/v) menggunakan ekstrak teh hijau local Camellia sinensis grade Arraca Kiara dan Arraca Yabukita dan Camellia assamica grade Pekoe dan Dewata dengan pembanding teh hitam komersial, menghasilkan teh kombucha dengan komposisi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu fermentasi optimal pada 4 jenis ekstrak teh hijau untuk anti oksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu fermentasi terbaik dicapai selama 2 minggu oleh Arraca Kiara yang menghasilkan teh kombucha dengan total polyfenol, L-theanine, total padatan, total asam dan gula reduksi berturut-turut sebesar 8,06 % (b.k), 1,2951% (b.k), 11,841%, 0,395 % dan 7,5 mg/mL. Pada kondisi ini ekstrak teh hijau Arraca Kiara , Arraca Yabukita, Pekoe, Dewata menghasilkan total polyfenol berturut-turut sebesar 8,006, 2,165, 2,521 dan 3,271 % (berat kering) atau lebih tinggi berturut-turut sebesar 893% atau 8,93x, 151% atau 15,14x, 193% atau 19,3x dan 280% atau 28x, dibandingkan total polyfenol hasil teh kombucha dari teh komersial (0,861%).Kata kunci : teh hijau, kombucha, fermentasi, ekstrak, polifenol.
ALTERNATIF ENZIM INULINASE DARI KAPANG ENDOFIT HASIL ISOLASI KULIT UMBI DAHLIA MERAH (Dahlia spp) LOKAL DAN APLIKASINYA SEBAGAI SUMBER ENZIM INULINASE UNTUK PEROLEHAN SERAT INULIN Agustine Susilowati
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umbi dahlia merah (Dahlia sp.) dari Sukabumi merupakan sumber mikroba penghasil enzim inulinase diantaranya adalah kapang endofit yang diisolasi dari kulitnya setelah dilayukan beberapa waktu (74-6 hari). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kapang endofit hasil isolasi kulit umbi dahlia merah (Dahlia spp) yang berpotensi sebagai penghasil enzim inulinase melalui perbedaan media selektif dan aktifitas inulinase optimum. Isolasi dilakukan melalui pertumbuhan kapang pada media PDA, koloni dominan selanjutnya ditumbuhkan pada media PDA yang diperkaya dengan inulin 1% pada suhu 30ºC selama 72 jam untuk memperoleh kultur stock. Aplikasinya dalam pembuatan enzim inulinase dilakukan dengan menggunakan media selektif sebagai media A, B, C dan D selama 72 jam pada suhu 30ºC disertai agitasi 160 rpm. Hasil penelitian menunjukkan diperolehnya 4 jenis kapang endofit dominan dengan aktifitas inulinase optimum pada media yang berbeda yaitu kapang Scopulariopsis sp-CBS1 pada media A, Acremonium sp-CBS3 pada media D, kelas Deuteromycetes sp-CBS4 pada media D dan Aspergillus sp-CBS5 pada media D. Aplikasinya dalam pembuatan enzim inulinase kasar melalui inkubasi pada suhu 30ºC selama 72 jam, pH 5 menghasilkan aktifitas inulinase berturut-turut sebesar 0,0872, 0,1843, 0,00463 dan 0,0268 U/mL. Dalam hidrolisisnya pada suhu 30°C selama 120 jam, pH 5 dengan konsentrasi 12% (v/b inulin kering) untuk perolehan serat inulin, enzim inulinase kasar dari Acremonium sp-CBS3 sebagai jenis inulinase terbaik mampu meningkatkan SDF (Solouble Dietary Fiber) sebesar 86,04% dari SDF inulin (1,84% b.k) menjadi SDF pada hidrolisat inulin (13,182% b.k).Kata-kata kunci: inulinase, Scopulariopsis sp-CBS1, Acremonium sp-CBS3, Kelas Deuteromycetes-CBS4 , Aspergillus sp-CBS5 .
ADSORPSI LOGAM BERAT Pb DALAM LARUTAN MENGGUNAKAN SENYAWA XANTHATE JERAMI PADI Zahroh El Baidho; Tisa Lazuardy; Sofa Rohmania; Indah Hartati
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan modifikasi adsorben terxanthasi untuk menjerap logam berat Pb dengan biomassa jerami padi. Berbeda dengan adsorben biomassa pada umumnya yang tanpa reaksi xanthasi, kapasitas adsorpsi dan afinitasnya rendah terhadap logam berat. Proses modifikasi adsorben terxantasi merupakan proses yang cukup baik, karena dapat meningkatkan performa dari adsorben (afinitas dan kapasitas adsorpsi dapat meningkat hingga tiga kali lipat) dan memiliki kestabilan yang tinggi saat membentuk kompleks dengan logam. Proses pembuatan adsorben organik xanthateini yaitu dengan cara mereaksikan biomassa dengan gugus pembawa sulfur (karbon disulfide) dalam suasana basa. Biomassa dikontakan dengan larutan Pb dalam erlenmeyer yang diaduk dengan magnetik strirer dengan berbagai variasi pH 2, 4, 6 dan variasi bobot adsorben 0,4 g, 0,5 g, 0,7 g dan 1 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas biosorpsi maksimum dapat dicapai sebesar 7,16 mg/g pada pH4 dan bobot adsorben 0,4 g.Kata Kunci: Adsorpsi, Timbal, Xanthate, Jerami Padi
PENGARUH POST-WELD HEAT TREATMENT DAN ARAH PENGELASAN TIG TUNGSTEN INERT GAS) TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA PENYAMBUNGAN ALUMINIUM PADUAN 6061 Sofyan Abdillah; Gunawan Dwi Hariyadi; AP. Bayuseno; Seon Jin Kim
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arah pengelasan  pada material  biasanya longitudinal  terhadap arah pengerolan material ( isotrop  ). Pada pemakaian untuk desain, tidak jarang arah beban membentuk sudut tertentu terhadap  arah pengelasan. Maka  pada penelitian ini akan  dikaji    pengelasan TIG pada Aluminium  paduan  6061 dengan arah longitudinal  dan  45o terhadap arah pengerolan material  .    Hasil pengelasan dilakukan  post-weld heat treatment  ( PWHT )  yang akan berpengaruh  terhadap sifat mekanik dan strukutr mikro.  Pengujian yang dilakukan  : uji komposisi kimia, uji kekerasan,  uji  SEM ( Scanning Electron Microscopy ), uji tarik.  Base metal diuji komposisi kimia, kemudian dilakukan pengelasan TIG dengan arah longitudinal dan 45o terhadap arah pengerolan. Sebagian spesimen langsung diuji kekerasan, uji tarik dan uji SEM. Sebagian spesimen yang lain di lakukan  post-weld  heat  treatment ( PWHT ) , kemudian diuji kekerasan, uji tarik dan uji SEM. Hasil pengujian  didapatkan  pada PWHT, sifat mekanik dan struktur mikronya berubah dibandingkan  tanpa PWHT yaitu % elongation naik 28.81 %  sampai 48.66%  ( ductility / keuletan meningkat ), ditandai  dengan perubahan struktur mikro yang halus. Kata kunci : aluminium paduan, PWHT, SEM, TIG.
PENGEMBANGAN E-KULINER KOTA KUPANG Yermias J.I Leuhoe; Alb. Joko Santoso; Eduard Rusdianto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wisata kuliner saat ini menjadi sebuah jenis wisata yang sangat banyak dampaknya bagi perkembangan sebuah daerah  .  Salah satu nilai pentingnya adalah  menumbuhkembangkan potensi makanan asli daerah yang sepertinya sudah mulai tergeser oleh produk-produk asing ataupun berorientasi makanan asing. Untuk itu perlu dibuat sebuah usaha untuk meningkatkan potensi ekonomis ini dengan memberikan sentuhan atau  dukungan untuk dapat menarik wisatawan lokal atau asing dalam menikmati kuliner asli daerah. Pemanfaatan teknologi informasi yang saat ini berkembang, merupakan sebuah strategi yang tepat dalam rangka memperkenalkan potensi kuliner suatu daerah. Rancang bangun berbasis web dan mempergunakan visualisasi produk dan lokasi (peta) akan mempermudah masyarakat dan wisatawan dalam mencari dan menjangkau lokasi kuliner dengan memanfaatkan teknologi Google Map dapat menjawab kebutuhan tersebut.  Pengembangan e-kuliner kota kupang memberikan sebuah aplikasi web yang menampung dan mempublikasikan informasi pusat-pusat kuliner  di Kupang.  User bisa menentukan lokasi tempat wisata kuliner berdasarkan jenis makanan, harga, jarak dan anggaran yang dimiliki, sistem akan memberikan beberapa alternatif rumah makan yang menyediakan jenis makanan yang dipilih berserta lokasinya. Informasi yang ditampilkan dalam bentuk peta memberikan kemudahan pengguna dalam mencari informasi dan selanjutnya akan semakin mendorong minat untuk mengunjungi lokasi. Selain itu juga pengusaha (pemilik rumah makan) dapat mempromosikan jenis makanannya dengan registrasi terlebih dahulu Kata Kunci : Google Map, Informasi Kuliner, Metode Tsukamoto, Rangcang Bangun
APLIKASI SENSOR PASSIVE INFRARED (PIR) UNTUK PENDETEKSIAN MAKHLUK HIDUP DALAM RUANG Bustanul Arifin
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keamanan menjadi faktor utama dalam kehidupan manusia. Ada beberapa alat atau sensor yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga keamanan tempat tinggal. Salah satunya adalah sensor gerak yang menggunakan inframerah secara pasif atau yang lebih dikenal dengan PIR (Passive Infra Red). Alat ini akan mendeteksi gelombang inframerah yang ditimbulkan oleh makhluk hidup yang berada dalam jangkauannya dan akan mengeluarkan suatu output yang dapat dimanfaatkan. Dalam penelitian ini diteliti bagaimana cakupan pendeteksian sensor, posisi sensor yang dapat menjangkau cakupan terluas, serta makhluk hidup atau benda apa saja yang bisa dideteksi oleh sensor ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Laboratorium Mikroprosesor Teknik Elektro Unissula dengan menggunakan 4 buah sensor PIR KC7783R didapatkan hasil bahwa sensor dapat menjangkau cakupan terluas ketika diletakkan diketinggian 200 cm dari lantai dengan sudut kemiringan 750. Jarak 500 cm merupakan titik terjauh untuk mendeteksi manusia, sedangkan untuk mendeteksi tikus maksimal 180 cm, kucing 230 cm dan nyala api lilin 210 cm. Perubahan suhu udara di laboratorium senilai 220C sampai dengan 310C tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendeteksian sensor. Kata kunci: sensor PIR, sudut kemiringan sensor, suhu
SHARING DATA ANTARA LINUX DAN WINDOWS DENGAN JARINGAN PEER TO PEER Sari Noorlima Yanti; Dharmayanti Dharmayanti; Muhamad Ikbal
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sharing data adalah proses dimana suatu resource pada suatu computer dapat digunakan oleh computer lain dengan syarat kedua computer tersebut sudah tersambung dalam sebuah jaringan komunikasi. Untuk menyiasati permasalahan pemindahan data pembuatan sebuah jaringan peer  to peer akan sangat menguntungkan bagi pengguna Linux dan pengguna Windows. Dengan adanya proses sharing data pada jaringan ini maka proses pengiriman bisa lebih cepat dan akan hemat biaya. Dalam sebuah ruangan terdapat beberapa notebook / computer dengan  Sistem  Operasi yang berbeda, yaitu Windows Seven dengan Linux Ubuntu. Untuk memudahkan proses sharing data diantara kedua sistem operasi tersebut maka akan dirancang sebuah jaringan peer to peer sebagai jaringan komunikasi. Perbedaan platform pada sistem  operasi yang digunakan bukanlah sebuah halangan besar agar dua komputer tersebut dapat saling terkoneksi, dengan bantuan software Samba dan beberapa pengaturan sederhana pada kedua komputer maka Windows Seven dan Linux Ubuntu dapat saling berkomunikasi satu sama lain, sehingga proses sharing data dapat dilakukan dengan mudah. Kata kunci: Sharing Data, Linux, Windows, Peer to peer

Page 30 of 140 | Total Record : 1394