cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MEMBANGUN INDUSTRI KREATIF DI MALUKU MELALUI PENDIDIKAN SENI Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2213

Abstract

Bagian Timur Indonesia khususnya kepulauan Maluku terdiri dari banyak pulau, sementara orang-orangnya juga dianugerahi dengan musikalitas yang luar biasa, dilihat dari keterampilannya dalam menyanyi, perbendaharaan folksong besar, dan kekayaan aktivitas sehari-hari yang bersentuhan dengan musik. Namun, keberkahan bakat sejauh ini sudah dianggap sebagai seni yang memiliki tujuan, dimana orang-orang Maluku dengan gembira melakukan kehidupan estetika mereka hanya untuk tujuan mereka sendiri. Pendidikan seni formal telah didirikan di Maluku, di mana kemauan politik pemerintah daerah untuk mencapai seni dengan akulturasi dan metamorfosis nampak belum terpenuhi. Sekarang, waktunya bahwa orang Maluku harus memberdayakan budaya yang kaya mereka terutama kemampuan luar biasa mereka di dunia seni dengan memproduksi seniman-seniman lokal terpadu, yang tidak hanya profesional di bidangnya, tetapi juga mungkin dapat mencari nafkah melalui karya mereka sendiri. Oleh karena itu, pembentukan sebuah sekolah seni formal di Maluku adalah penting, tidak hanya untuk tujuan melestarikan dan menyebarluaskan kearifan lokal Maluku, tetapi juga untuk meningkatkanpengembangan Provinsi Maluku dalam mepromosikan sektor industri kreatif secara ekonomis. The Eastern part of Indonesian archipelago particularly Maluku province consisted of many islands, while its people are also blessed with their incredible musicality, seen from the skillful ability in singing, vast folksongs repertory, and the enrichment of daily activities with musical touch. However, such a talented gift has been so far considered as the art by destination, where Maluku people are happily conducting their esthetical life only for their own purposes. Formal arts education has been scarcely established in Maluku, in which the political will of local government to attain the art by acculturation and metamorphosis seems not in conformity as yet. Now, the time has come that Maluku ethnic people must empower their rich culture especially their outstanding ability in the art world by producing the integrated local artists, who are not only professional in their fields, but may also be able to earn living through their own works. Therefore, the establishment of a formal arts school in Maluku is of important, not only for the purpose of preserving and disseminating Maluku local wisdoms, but also to enhance the development of Maluku province in economically promising sector of the creative industry.
Pengembangan Model Pembelajaran Seni Berbasis Kompetensi Pada Anak Usia Dini (The Development of Competency Based Art Learning Model on the Early-Childhood Children) Hartono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.796

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripikan (1) Kemampuan guru dalam mengidentifikasi isikurikulum; (2) Tingkat pola interaksi antara guru dan anak, (3) metode pengajaran yangdigunakan, (4) Pola-pola pemanfaatan potensi alam sekitar sekolah; (5) Tingkat kesulitananak Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.Lokasi di Jawa Tengah. Analisis data dilakukan dengan metode interaktif dari Milles danHubermann. Temuan penelitian menunjukkan (1) Kemampuan guru dalam mengidentifikasiisi kurikulum, Menyusun program pembelajaran mingguan maupun program pembelajaranharian mengacu enam aspek perkembangan.. Program Perencaaan Harian disesuiakandengan kondisi dan situasi di setiap TK masing-masing. Rancangan Satuan KegiatanMingguan, yang berkaitan dengan seni menunjukkan bahwa materi seni musik, seni tari, senidrama, dan seni rupa belum adanya saling keterkaitan dan kesinambungan pada setiap tatapmuka. (2) Tingkat pola intereaksi antara guru dengan anak dalam kegiatan pembelajaran seniterjalin sejak anak sebelum memasuki ruang kelas. (3) Pemilihan metode pengajaran seni,guru kurang memadukan dari beberapa metode. (4) Pemaksimalan pemanfaat potensi alamsekitar dalam pembelajaran seni, masih dimungkinkan untuk ditingkatkan. (5) Tingkatkesulitan anak dalam memahami konsep-konsep seni yang diajarkan oleh guru sangatberagam. (6) terumuskan model pembelajaran seni untuk AUD. Saran-saran yangdisampaikan dalam penelitian ini (1) Perlu pendalam materi seni bagi guru-guru TK. (2)guru di setiap TK perlu ditambah, (3) harus lebih berani danlebih kreatif dalam melaksanakan pembelajaran seni.Kata kunci : Anak Usia Dini, Pembelajaran, Seni, Kompetensi
MAKNA DALAM BUSANA DRAMATARI ARJA DI BALI (Meaning in the Arja Dance Drama Costume in Bali) Astini, Siluh Made
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i2.849

Abstract

Busana yang dikenakan oleh penari atau yangs ering disebut denganbusana tari, disamping mempunyai maksud untuk membungkus badanpenari juga dimaknai lain oleh pengamat atau penonton lewat tanda-tandayang ada pada busana tersebut. Adapun tanda-tanda yang terlihat sepertiwarna, disain, yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkanantara satu dengan yang lainnya dalam busana tari. Warna dapatmemberikan kesan khususkepada penon ton dalam membedakan keraslembutnya masing-masing peran. Disain, disamping dapat membedakanperan putra dan putri, juga dapat dipersepsikan sebagai tanda daribeberapa organ-organ tubuh manusia. Berbagai macam motif atau ragamhias yang dikenakan pada manusia memberi kesan yang sangat dinamispada kesenian Bali khususnya pada Dramatari Arja.Kata Kunci : Semiotik, warna, desain, ragam hias.
Ketahanan Budaya melalui Kesenian dalam Wujud Prinsip Aransemen Musik Anak (Cultural Endurance through Art in Shape of Children Music Arangement Principles) Santoso, Budi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i1.748

Abstract

Kebudayaan secara utuh sebenarnya meliputi pola pikir atau mindset suatu masyarakattentang segala peri kehidupannya dahulu, sekarang, dan juga yang akan dating. Polapikir yang sehat dan mempunyai daya saing tinggi, kekuatannya dapat tercermin darisejauh mana keberadaan kebudayaan suatu masyarakat tumbuh dan berkembangnya(sehat, sakit, mati dsb). Aneka ragam dan aneka dimensi kesenian merupakan salahsatu wadah dominant untuk mengartikulasikan kebudayaan. Melalui kesenian mampumentransformasikan diri sebagai milik bersama dan kebanggaan bersama, menjadisebuah daya hidup untuk menopang kelangsungan ketahanan budaya yang sekaligusketahanan nasional. Tindakkan konkrit karya aransemen musik anak, denganmenerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip yang disesuaikan dengan pakem, metodeyang benar, maka dapat dikatakan menjadi salah satu pilar penyangga ketahananbudaya sekaligus ketahanan nasionalKata Kunci : Ketahanan Budaya, Aransemem Musik Anak
Dolanan Anak Dance Learning for Children in “Mekarsari” Kindergarten Cahyaningrum, Nilam
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i2.3289

Abstract

Taman Kanak- kanak Mekarsari (Mekarsari Kindergarten) is a school that choses dolanan anak dance lesson which is taught using demonstration methods. This study aims to find, understand, and describe the process and learning outcomes of dolanan anak dance in Mekarsari Kindergarten, Kandeman District of Batang. This study uses qualitative research methods with a phenomenological approach to research sites in Mekarsari Kindergarten, Kandeman District of Batang. Data collection techniques used were observation, interview techniques, and technical documentation. Data analysis were using data reduction, data presentation, drawing conclusions, and verification. The validity test were using triangulation of data sources, techniques, and time. Dolanan anak dance learning in Mekarsari Kindergarten consists of several components, namely teaching and learning activities, goals, teachers, students, materials, methods, media, tools and learning resources, and evaluation. Dolanan dance learning was using demonstration method implemented through three stages: pre-development activities, core activities, and closing activities. The learning outcomes of dolanan anak dance learning in Mekarsari kindergarten were categorized into three aspects, namely cognitive, affective, and psychomotor. Cognitive aspects can be seen from the students’ ability to remember, memorize and understand the dance. Affective aspects include familiar levels, namely learning to know friends and dance movements, respond the movements amomg friends, and appreciate the teacher’s explanation given to each student. Psychomotor aspects can be seen from the students’ ability to imitate the dance movements, use the concept of doing the movements and precision of movements, weave movement and exercise appropriately.
PENDIDIKAN SENI TARI MELALUI PENDEKATAN EKSPRESI BEBAS, DISIPLIN ILMU, DAN MULTIKULTURAL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA Kusumastuti, Eny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v10i2.61

Abstract

The problem of the study is how the process of the implementation of dance education through the approach of free expression, disciplines and multicultural as an effort to increase students' creativity. The study employed qualitative approach with the researcher herself as the research instrument. Data collection techniques included focused interviews, participant observation, and study documentation. Data analysis was done by reducing, clarifying, describing, concluding, and interpreting all the information selectively. The results show the process of implementation of dance education is inseparable from the teaching-learning process, which covers: curriculum, objectives, teaching materials, methods of teaching and learning activities, facilities and infrastructure, and evaluation. Free expression approach in learning the art of dance is done by providing opportunities for students to develop movements, done through observing objects, image and music. The implementation process of learning the art of dance through discipline approach is done by giving the subject matter theoretically based on scientific viewpoint. The implementation process of learning the art of dance through a multicultural approach is done by introducing, practicing, and doing reformation to the students about the diversity of cultural arts of their homeland. Kata Kunci: pendidikan seni tari, pendekatan ekspresi bebas, multikultural, kreativitas
PROSES PEMBELAJARAN SENI MUSIK BAGI SISWA TUNANETRA Saputri, Dias Rizki
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 1 (2013): June 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i1.2531

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendiskripsikan, dan menganalisis metode dan pelaksanaan pembelajaran musik bagi siswa tunanetra kelas VIII SMP Di SLB Negeri 1 Pemalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan menunjukan bahwa metode pembelajaran siswa tunanetra hampir sama dengan metode pembelajaran pada siswa awas pada umumnya, yaitu sama-sama menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab, metode demonstrasi, dan metode pemberian tugas. Namun cara penyampaian dan pelaksanaannya berbeda dengan siswa awas. Ada 3 tahap proses pembelajaran, yaitu: tahap perencanaan yang meliputi penentuan alokasi waktu, persiapan materi dan buku pembelajaran, juga persiapan media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar Tahap pelaksanaan meliputi penyajian materi dengan menggunakan metode ceramah, metode tanya jawab, metode demonstrasi, dan metode pemberian tugas. Tahap evaluasi meliputi waktu pemberian ujian, dan pelaksanaan evaluasi. Remedial tidak dilaksanakan. The goals of this research are to find out, describe, and analyze methods and implementation of music learning for the visually impaired students of VIII class at I Public Junior High School for the Physically Impaired at Pemalang. This research used qualitative approach. The finding shows that learning method of the visually impaired students is almost the same with that of regular public secondary schools, by means of lecturing, interview, demonstration method, task-assigning method. However, the deliverance and implementation of the learning is different from those of the regular students. Among the three stages of learning process include: planning which includes time allocation, material preparation, and learning materials, as well as media preparation for the learning and teaching process. The implementation stage includes topic presentation by lecturing, interview, demonstration and task-assigning methods. The evaluation stage includes time allocation for tests and evaluation implementation. Remedial test is not conducted.
Tinjauan Idiom Musik Timur oleh Barat (A Review of Eastern Music Idiom by Western) Santoso, Y.C. Budi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 3 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i3.818

Abstract

Dalam sejarah musik telah dikenal adanya musik Barat dan non Barat (atau sering diistilahkan dengan musik Timur). Realitas Barat dan Timur ini telah menjadi wacana yang universal sejak pihak Barat dalam masa Penjajahannya mampu menguasai dunia ilmu pengetahuan dan seni. Kemampuan Barat atas ilmu pengetahuan dan seni inilah yang akhirnya mampu menguasai geografi maupun wacana dunia Timur. Dunia Timur menjadi objek kajian oleh Barat. Kejenuhan Barat akan dirinya sendiri membual Barat mencoba mencari sumber-sumber imajinasi yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar bagi karya-karyanya. Idiom musik Timur telah menggelitik Barat menjelang akhir abad ke-19. Kekuatan musikal Timur yang, menurut Barat, penuh dengan muatan-muatan mistis dan estetika yang eksostis telah mampu memberikan nuansa musikal 'yang lain' daripada musik Barat. Banyak komposer Barat pergi keluar dari wilayah geografi maupun budayanya, terutama ke Timur, untuk melakukan kontemplasi atas eksotisme musikal Timur guna bahan baku dasar musiknya. Realitas inilah yang akhimya menimbulkan perkawinan antara musik Barat dan Timur.   Kata kunci: Musik ,Timur, Barat, Budaya, Idiom.
CAMPURSARI MANTHOUS : ANTARA MUSIK JENIS BARU DAN FENOMENA SOSIAL MASYARAKAT PENDUKUNG -, W a d i y o; Haryono, Timbul; Soedarsono, R.M.; Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2204

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah hubungan fenomena Campursari Manthous sebagai ‘jenis musik Jawa baru/kreasi’ dengan fenomena kondisi sosial budaya masyarakat pendukung. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian, Gunung Kidul, Klaten, Boyolali, dan Semarang. Hasil penelitian menunjukkan, Campursari Manthous merupakan paduan antara musik diatonik gamelan dengan musik non diatonik utamanya langgam dan pop. Basik  garapan Campursari Manthous ada tiga, yakni berbasis gending,  langgam, dan  pop. Melalui fenomena Campursari Manthous yang dijadikan sebagai sarana berkesenian sehari-hari oleh masyarakat pendukung dapat diketahui aspek kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Aspek kondisi sosial budaya masyarakat tersebut dikaitkan dengan aspek mentalitas. Dalam konteks ini masyarakat pendukung Campursari Manthous adalah masyarakat yang bukan kategori masyarakat  tradisional murni tetapi juga bukan masyarakat yang murni modern. The problem in this research is focused on the relationship between Campursari Manthous as a new Javanese music and social phenomena of its supporting community. This research uses sociological approach by means of descriptive-qualitative method. It was located in Gunung Kidul, Klaten, Boyolali and Semarang. The result shows that Campursari Manthous harmonizes the diatonic traditional Javanese musical instrument and non-diatonic music such as langgam and pop. The basic instruments of Campursari Manthous are three, namely gending, langgam, and pop. The phenomena of Campursari Manthous used as daily musical media by its supporting community could reveal the socio-cultural aspects of its community. These are related to mentality aspect. In consideration of this latter aspect, the community does not either characterize a purely traditional community or a purely modern one.
Kethoprak Humor: Kajian Kerja Sama dalam Dialog Antarpemain dalam Membentuk Cerita Ketoprak Gobyok H.M. Syakirun Lakon "Jaka Kendhil" (Humour Ketoprak: Joint Reseachn in Inter Player Dialogue in Forming Kethoprak Gebyok H.M Syakiran Tittle "Joko Kendil") Lanjari, Restu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i2.785

Abstract

Di tengah maraknya jenis hiburan modern seperti sinetron, ketoprak sebagai salah satubentuk kesenian tradisional tak pelak harus bersaing dengan jenis hiburan moderntersebut untuk memperoleh perhatian di hati masyarakat. Terutama karena adanyaperubahan selera masyarakat terhadap kesenian tradisional semacam ketoprak Keseniantradisional memang harus berkompromi dan beradaptasi agar bisa bertahan. Ketoprak Humor,Ketoprak Canda, Ketoprak Jampi Stres, atau Ketoprak Plesetan relatif berhasil melakukannyamelalui televisi. Agar tontonan ini tidak cepat membosankan, maka pihaknyamembalutnya dengan humor segar. Apa yang dilakukan Kethoprak Humor ini menjadiinspirasi bagi Kethoprak Gobyok pimpinan H.M. Syakirun, yakni mengemas kethoprakdengan menonjolkan sisi humor, hanya saja Kethoprak Gobyok masih memakai bahasaJawa sebagai media penyampai pesannya. Kethoprak sebagai sebuah teater tradisionalterikat oleh hukum panggung. Hukum panggung ini menyangkut bagaimana akting diahirsecara baik dan bagaimana dialog mampu menjadi sarana untuk menyampaikan lakonkepada penonton. Agar dialog dapat benar-benar hadir secara baik sehingga penontondapat menikmati cerita secara uttth perlu ada kerjasama yang baik antarpemain. Namundemikian pada praktiknya Prinsip Kerja Sama yang terjaUn bagus dalam kethoprak padaumumnya, dalam konteks kethoprak humor justru sering dilanggar. Hal ini dilakukanuntuk menciptakan efek humor, penciptaan efek humor ini dilakukan dengan caramelanggar kebenaran dan melanggar kelaziman. Namun demikian, meski menonjolkansisi humor, Kethoprak Gobyok masih berusaha menjaga agar alur cerita tidakmenyimpang, dan humor yang dilontarkan tidak mengganggu dialog antarpemain. Hal inimembuktikan bahwa kerjasama sangat penting untuk dipatuhi dalam membentuk ceritakethoprak, sementara itu pelanggaran dilakukan untuk memberi sentuhan-senUihan humordalam rangka menarik minat penonton.Kata Kunci: dialog, kethoprak gobyok, pelanggaran, pematuhan, prinsip kerja sama

Page 41 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue