cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
Jogja Fashion Week Carnival Costume in The Context of Locality Setiawan, Deni
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 15, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v15i2.4567

Abstract

Jogja Fashion Week Carnival (JFWC) is held in order to promote the development of costume creative industry in Indonesia, especially in Yogyakarta. Woven and batik (Javanese traditional fabric) as products of Indonesia is reproduced into art costumes. It may add the value of both the product and the price of the product itself as the core of the continuity of the creative industry economy in Indonesia. The eastern value of the costume design worn during the carnival may reflect the traditional value of society. The concept of the costume making is rooted from Indonesia folklores, legends and myths that are still being developed in present society. Throughout the event, exploration done by the artists is seen as a genuine attempt to support the Government in promoting costume industry both in national and international scale. Costumes worn in JFWC were analysed using aesthetic theory by adopting the point of view of DeWitt Henry Parker. The point of view comprises three main aesthetic principles, i.e.: an intact unity, thematic principle, as well as balance principle. Those three concepts can be used to find out the basic locality value of a costume that later can be used as the art education’s source of material. Finally, it is concluded that the theme of JFWC costume creation concept is sourced from the rich tradition of Indonesian society. 
TARI SEBAGAI TERAPI BIMBIN6AN BAGI ANAK CACAT MENTAL Jazuli, m
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v1i1.836

Abstract

Cacat mental merupakan keadaan kemampuan mental di bawah normal yang tidak dapat disembuhkan, tetapi bias diperingan melalui pendidikan, bimbingan, latihan, dan perlakuan-perlakuan khusus. Apabila secara wajar seni tari dimengerti sebagai pelajaran inti dan penuh dengan perencanaan, maka dapat berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan seseorang dan sebagai penyatu banyak disiplin, termasuk pemberian perlakuan khusus seperti tersebut di atas. Tari dapat dimanfaatkan sebagai alat sekaligus sebagai proses dan produkpendidikan dalam kesatuan totalitas dari kehidupan manusia. Tari dapat merupakan metode yang relative ideal untuk mencapai keseimbangan daya tahan dan kontrol tubuh, serta pembentukan jiwa melalui pengalaman emosi imajinatif dan ungkapan kreatif. Semua itu barangkali sangat dibutuhkan oleh anak manusia, tidak terkecuali anak penyandang cacat mental. Persoalannya mungkin hanva terletak pada bagaimana strategi, metode, dan esensi tari sebagai materi bimbingan bagi anak pengandang cacat mental.
Makna Tari Canthangbalung dalam Upacara Gunungan di Kraton Surakarta (The Meaning of Canthangan Dance in Gunungan Ceremony in Surakarta Castel) Wahyudiarto, Dwi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i3.739

Abstract

Dalam upacara gerebeg gunungan di Surakarta dan Yogyakarta Canthangbalung merupakan penaridi barisan paling depan yang bertindak sebagai pemimpin upacara. Berbagai atribut, rias busanayang unik serta gerak-gerik yang lucu, membuat orang menjadi gembira. Sebagai pemimpinupacara, Canthangbalung tidak saja memimpin rombongan secara fisik, akan tetapi jugabertanggungjawab keselamatan semua rombongan. Dalam budaya Jawa bertugas untuk nyingkirkegodho rencana dan sarap sawan, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Kehadirantari Canthangbalung dalam gerebeg gunungan memiliki makna ganda yaitu disamping sebagaihiburan, juga penjaga keselamatan serta makna-makna yang sangat filosofis, berkait denganmasyarakatnya. Simbol sebagai fenomena fisik, terlihat dalam bentuk fisik dari tariCanthangbalung dengan berbagai atribut gerak dan asesorinya. Pemaknaan simboliknya dipahamioleh masyarakat pendukung sudah diyakini semenjak jauh generasi sebelumnya.Kata Kunci : makna tari, Canthangan, gunungan, gerebeg,
SIGNIFICANT INFLUENCES OF VIOLIN EXTRACURRICULAR ACHIEVEMENT TO EMOTIONAL INTELLIGENCE Salafiyah, Nafik
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i1.2786

Abstract

This research aims to find out (1) whether there is an influence between student’s achievements of learning violin toward their emotional intelligence, (2) whether there is a correlation between student’s achievement of learning violin and their emotional intelligence, and (3) how much contribution of student’s achievement of learning violin to their emotional intelligence. It is a qualitative research which is defined as a research method based on positivism philosophy which is used to study particular sample and population. The sample and population are drawn randomly using research instruments to collect data, and the data are analyzed statistically. This aims to examine the hypothesis defined. The finding shows that there is a significant influence between student’s achievement of learning violin and their emotional intelligence about 76.1%, while the rest of it 23.9% is influenced by other factors which are not studied in this research. It proves that learning violin influences student’s emotional intelligence very much and emotional intelligence is influential in increasing student’s achievement. From the data, it shows that most of the students participating in violin extracurricular are able to increase their learning achievement.
Fungsi dan Ciri Khas Kesenian Rebana di Pantura Jawa Tengah (Function and Characteristic of Rebana in the Beach Region of Central Java) Sinaga, Syahrul Syah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i3.736

Abstract

Kesenian Rebana merupakan salah satu kesenian yang bernafaskan Islam keberadaannya sangatmelekat pada pola kehidupan masyarakat di Pantai Utara Jawa Tengah mulai dari pedasaan sampaiperkotaan. Melekatnya aktifitas rebana tidak terlepas dari fungsi kesenian rebana bagi masyarakatpendukungnya serta dukungan dari tokoh masyarakat dan para alim ulama. Sebagai salah satumedia dakwah, aktifitas kesenian rebana hadir dari berbagai kegiatan kelompok pengajian, kegiatanperingatan hari besar islam, tasyakuran, walimatul Urusy, Walimatul Khitan, Walimatul Hamli,maupun perayaan yang lain. Bentuk penampilan kesenian rabana dapat dikategorikan dalam bentuktradisional maupun modern. Perbedaan rebana tradisi terletak pada peralatan musik yang digunakanyaitu berupa alat musik terbang dan lagu-lagu yang dibawakan umumnya diambil dari kitab albarjanzi,kitab dziba, kitab simbud durror, dan kitab kuning lainnya, sementara rebana modernterdapat penambahan peralatan musik yang bertangga nada diatonis seperti key board dalammengiringi lagu-lagu mulai dari musik pop, musik dangsut, musik campur sari dan lainya, denganmenggunakan teks lagu dengan bahasa Arab, bahasa Jawa, dan Bahasa Indonesia yang semuanyamenggunakan seperangkat alat musik rebana sebagai rirngan lagu. Bentuk penampilan rebanatradisional maupun modern, masing-masing mempunyai wilayahnya sendiri-sendiri yang menjadiciri- khas dari daerahnya seperti salafudin Pekalongan, Semarangan, dan Demak.Kata kunci: Walimatul Urusy, Walimatul Khitan, Walimatul Hamli, fungsi
BARONG KET SATU BENTUK PENOMENA TRANSFORMASI BUDAYA  DARI SAKRAL KE PROFAN DI BALI (Barong Jet a Fenomena Culture Trnasformation Form Sakral to Profan in Bali) Arsana, I Nyoman Cau
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i1.706

Abstract

Bagi masyarakat Bali, Barong dianggap sebagai binatang mitologi yang mempunyai kekuatan gaib dan dianggap sebagai binatang pelindung masyarakat Bali dan mara bahaya. Dengan kekuatan ini, barong didudukkan sebagai benda sakral. Kesakralannya di samping dilegitirnosioleh   adanya mitos-mitos yang ada dalam masyarakat, juga   proses pembuotan hingga terbentuknya barong yang tidak terlepas dari hal-hal sakral. Barong diekpresikan dalam bentuk tari bebali yang amat angker. Dengan semakin terbukanya masyarakat Ball dalam menerima pengaruhbudaya dari luar, menyebabkan terjadinya perubahan polo pikir masyarakat, khususnya bagi   sang   seniman. Borong yang tadinya dianggap sebagai benda   sakral, sekarang dijadikan sebagai sumber ide dan   sarana pengungkapan emosional estetis. Barong tidak hanya dipentaskan dalam rangkaian upacara ritual sakral, namun juga di luar konteks ritual, seperti untuk kepentingan pariwisata, dengan cara membuat tiruan dari barong asli. Sudah barang tentu konsep pertunjukan yang menyangkut estetika, waktu, pemain, dan lain sebagainyo disesuaikan dengan kepentingan wisata.Kata Kunci: Barong, Transformasi, Sakral, Profan.
KOLABORASI ANTARA JARAN KEPANG DENGAN CAMPURSARI: SUATU BENTUK PERUBAHAN KESENIAN TRADISIONAL Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.1497

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mediskripsikan bentuk dan materi pertunjukan kesenian Kuda Kepang Turanggasari. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai daya tarik dari sisi pertunjukan, menjadi tari dan musik. Selain materi pertunjukan, perubahan juga terjadi pada unsur-unsur pendukung pertunjukan yang meliputi peraga, tata rias, tata busana, musik, tata suara dan tempat pentas. Perubahan yang terjadi adalah penonton yang semula pasif sekarang menjadi penonton aktif. Artinya, mereka memiliki kontribusi dalam pertunjukan.   Collaboration between Jaran Kepang (Plated Horse Play) and Campursari: an Inovation of Traditional Art Abstract The purpose of this study was to describe  the form and material art performance of a group of dancers, Kuda Kepang Tutanggasari at Tambahsari Village, Limbangan district, Regency of Kendal. The research method used was qualitative descriptive. The results showed that to make the performance attractive, the dancers bring campursari in Jaran Kepang performance. The change is discernible in performer or its audience. In view of the performer, the performance topics changed, from the former dance to the latter dance and music. Besides, the change also appears in the supporting properties of  the performance including visual aids, make-up, costume, music, sound effects and stage. The change in the audience was that the audience no longer became passive but participating spectators. It means that they has given some contributions to the performance. Keywords: jaran kepang, campursari, bentuk perubahan, kesenian tradisional
PERJALANAN HIDUP DAN UPAYA MEMBANGKITKAN KEMBALI SENI OPERA BATAK TILHANG SERINDO Siburian, Esra Parmian Talenta
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.776

Abstract

Suatu fenomena menarik yang ada di tanah Batak Sumatera Utara, yaitu keberadaankesenian tradisional Opera Batak yang pernah mengalami kejayaannya dan kini hampirmengalami kepunahan. Kesenian ini mengalami masa surutnya, bahkan jarang terdengarsejak tahun 1980-an. Kesenian Tradisional Batak ini muncul pada tahun 1925 yang saatkejayaaannya sering dipentaskan secara berkeliling dari desa ke desa bahkan dari kota kekota. Masyarakat Batak pada masa itu selalu mengharapkan kehadiran Opera ini untukdipentaskan di desanyaOpera Batak adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang terdapat dalam masyarakatBatak yang mempunyai nilai-nilai tradisi dan memiliki unsur seni musik, tari, vokal dandrama. Kondisi masyarakat Batak pada saat itu tidak memiliki seni pertunjukan, kecualiyang menyatu dalam upacara dan yang mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakatnya.Opera adalah karya musik panggung yang besar yang didasarkan sesuatu cerita drama,atau suatu drama yang dimusikkan. Opera Batak Tilhang Serindo memiliki hubungan eratdengan masyarakat Batak itu sendiri, yaitu masyarakat yang kokoh memegang adat dankepercayaan nenek moyang. Pertunjukan seni Opera Batak sangat digemari olehpendukungnya, pertumbuhannya tidak hanya subur di daerah asalnya namun merambah kedaerah-daerah sekitarnya serta sering mengadakan pertunjukan keliling ke berbagai daerahantara lain Tapanuli, Sumatera Timur, perbatasan Aceh, bahkan pernah diundang ke IstanaNegara pada masa Presiden Soekarno, dan tidak jarang Opera ini di tampilkan padapertemuan-pertemuan berskala internasional.Namun sekitar tahun 1970-an pertunjukan Opera Batak ini mengalami kemunduranyang drastis. Munculnya industri-industri rekaman, siaran radio, dan televisi yangmenyuguhkan cerita-cerita menarik yang mampu menyerap daya tarik penonton sehinggaOpera Batak ini kehilangan para pendukungnya. Marsius Sihotang sebagai pengarah lakonOpera Batak Dosroha tidak pernah lagi melakukan pertunjukan sejak tahun 1981.Kata Kunci : Opera Batak, Tilhang Serindo, Revitasisasi.
Aesthetic Value of Wahyu Manggolo’s Kethoprak Performance Presenting Mahesa Jenar Series Alap-Alap Jentik Manis -, Pujiati
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 15, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v15i1.3726

Abstract

The purposes of this research are (1) to find out the aesthetic value of Wahyu Manggolo’s kethoprak performances presenting Mahesa Jenar series Alap-alap Jentik Manis in the village of Tanjungsari, Jakenan in Pati Regency and (2) to depict the kethoprak performance there. This study uses a qualitative method depicting the aesthetic elements and the forming elements of the value in Wahyu Manggolo’s kethoprak. The techniques of data collection are an interview, an observation, and a documentation. The results showed that there are five elements as parts of an aesthetic value in the performance. Those elements are shape, story, character, content, and characteristic, while seven elements to form the value are unity, complexity, intensity, stimulation or determinant, consequents as a means of recording emotional levels, moods, and characters.
Ruwatan (Merti Desa) Masyarakat Gunungkidul Pasca Gempa Bumi Tektonik di Daerah Istimewa Yogyakarta (Ruwatan of Gunungkidul Society After Tectonic Earthquake In Special Province of Yogyakarta Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i3.726

Abstract

  Merti Desa merupakan salah satu upacara ritual yang sudah mentradisi pada masyarakat Jawa khususnya. Merti Desa sebagai bentuk upacara ritual oleh masyarakat Gunungkidul dilaksanakan pada setiap tahun sekali, sebagai tradisi dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Merti Desa juga merupakan ritual untuk mengucapkan terimakasih atas hasil panen yang telah diterimanya, serta sebagai wahana melestarikan budaya nenek moyang yang dilaksanakan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya kepada nenek yang berujud ritus sosial masyarakat. Merti Desa dilaksanakan dalam berbagai rangkaian acara seperti upacara yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dipimpin oleh Pemerintah daerah pada wilayah desa tertentu, diikuti oleh warga masyarakat setempat, oleh pemerintah atau pamong Desa upacara Merti Desa juga sekaligus dapat digunakan sebagai wahana mengajak masyarakat melestarikan dan nguri-uri tradisi warisan nenek moyang serta mengajak masyarakat mengambil hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara tradisi Merti Desa. Diharapkan masyarakat dapat menikmati hiburan atau tontonan serta mendapat tuntunan dan mengambil nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, diantaranya manusia harus selalu eling lan waspodho, mengingat dan mengucapkan terimakasih kepada Bumi yang telah memberi segalanya untuk kebutuhan kehidupan manusia. Gempa Bumi yang telah terjadi tidak menghalangi warga masyarakat Gunungkidul untuk menyelenggarakan Upacara Ruwatan Desa. Ruwatan Desa dilaksanakan dengan pertunjukan wayang kulit purwa sebagai upacara tradisi masyarakat yang perlu dilestarikan, terutama konsep Merti Desa.   Kata kunci: ruwatan, ritus, wayang kulit purwa

Page 42 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue